Anda di halaman 1dari 8

HUKUM BISNIS

PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN HUKUM BISNIS DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT


EKONOMI ASEAN

Disusun Oleh:
Rima Siti Rahmah
NPM 41152010130115
VI-A3 Manajemen
Fakultas Ekonomi
Universitas Langlangbuana
2015-2016

LATAR BELAKANG

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salahsatu
bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini merupakan agenda utama ASEAN 2020. Adapun
visi dari ASEAN tersebut adalah aliran barang bebas (free flow of goods) dimana perdagangan
dapat dilakukan secara bebas tanpa mengalami hambatan, baik tarif maupun nontarif.
Dengan hadirnya MEA ini, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan skala
ekonomi dalam negeri sebagai basis memperoleh keuntungan. Namun demikian, Indonesia
masih memiliki banyak tantangan dan risiko-risiko yang akan muncul apabila MEA telah
diimplementasikan. Salahsatunya yang menjadi tantangan adalah dalam bidang hukum
bisnis. Bagaimana agar hukum bisnis dapat ditegakkan dan tetap berjalan dengan
semestinya serta terus berkembang dalam era ekonomi bebas seperti MEA 2015 ini.

PEMBAHASAN
Hukum Bisnis memiliki pengertian
perangkat kaidah hukum yang
tentang tata cara pelaksanaan
kegiatan dagang, industri
yang dihubungkan dengan
pertukaran barang atau
menempatkan uang
dalam risiko

Suatu
mengatur
urusan atau
atau keuangan
produksi atau
jasa dengan
dari para entrepreneur
tertentu dengan usaha tertentu
dengan motif (dari entrepreneur tersebut) adalah untuk mendapatkan keuntungan tertentu.
(Munir Fuadi, Pengantar Hukum Bisnis : 2)
Dalam pengertian Hukum Bisnis tersebut, tentunya dengan perkataan lain bahwa segala
urusan atau kegiatan bisnis harus memiliki pengaturan yang jelas, termasuk pada era
perdagangan bebas seperti sekarang. Jika hukum yang berlaku tidak sesuai dengan UUD
1945 yang merupakan sumber dari segala sumber hukum di Indonesia, maka tidak menutup
kemungkinan bahwa pada era MEA ini akan memberikan dampak atau pengaruh yang
merugikan terhadap bangsa Indonesia.

PEMBAHASAN
1. Perkembangan Sumber Hukum Bisnis di

Indonesia
Sumber-sumber hukum bisnis di Indonesia sangat
beragam mengingat kajian Hukum Bisnis sendiri
berbeda dengan Hukum Dagang dan Hukum
Perniagaan yang lebih sempit daripada Hukum
Bisnis karena pelakanaannya kedua hukum tersebut
dianggap Tradisional. Sedangkan untuk Hukum
Ekonomi kajiannya lebih luas daripada Hukum Bisnis
sendiri karena kajiannya itu menyangkut Ekonomi
secara Makro dan Ekonomi secara Mikro.
Terdapat sumber hukum yang berasal dari
peninggalan belanda yang sudah dikodifikasikan
setelah kemerdekaan, kemudian sampai kepada
pembuatan perundang-undangan yang baru
berkenaan dengan kegiatan bisnis dan tidak
termasuk kedalam KUH Dagang dan KUH Perdata.

Dalam perkembangannya sumber-sumber hukum bisnis terbagi kedalam beberapa


kelompok diantaranya adalah:
a.

Hukum Tertulis

b.

Kebiasaan

c.

Yurisprudensi

d.

Perjanjian Internasional

e.

Perjanjian yang dibuat para pihak

f.

Doktrin

PEMBAHASAN
2. Pentingnya Hukum Bisnis dalam Menghadapi MEA
Dalam menghadapi MEA atau salahsatu dari dampai globalisasi Ekonomi, Indonesia tentunya
harus memiliki kecakapan dalam menghadapinya. Kecakapan yang dimaksud disini ialah
kesiapan Hukum Bisnis yang berkaitan dengan Kejahatan Bisnis. Karena dengan adanya
kesiapan Hukum Bisnis di Indonesia sendiri, itu akan menimbulkan keuntugan sendiri dimana
pada pencapaian tujuan (keuntungan) berbisnis, para pelaku bisnis yang beritikad baik akan
merasa terlindungi dan mendapatkan hak-haknya.
Dengan perkataan lain dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang kemungkinan
akan terjadinya kegiatan bisnis dalam skala atau cakupan yang luas antar negara Asia
Tenggara. Maka, perlu kiranya adanya Hukum Bisnis yang dapat melindungi hak-hak dan
kewajiban para pelaku bisnis yang mempunyai itikad baik, terutama masyarakat Indonesia
sendiri.

PEMBAHASAN

3. Tantangan Dalam Menghadapi MEA


Kebanyakan negara Asia memiliki masalah dalam membuat peraturan perundang-undangan
dan juga dalam mengimplementasikan. Di Indonesia contohnya belum semua perjanjian
internasional ditingkat ASEAN diimplementasikan/diterjemahkan ke dalam produk Nasional.
Kalaupun sudah sosialisasi ke instansi dan dunia usaha belum dilakukan secara baik. Masalah
lain yang muncul adalah peraturan perundang-undangan hasil terjemahan belum
terimplementasikan secara baik (masih dalam tataran sekedar menjalankan apa yang
disepakati). Oleh karena itu, ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk
membenahi peraturan perundang-undangan atau hukum bisnis yang berlaku di Indonesia.
Agar pelaksaan MEA dapat berjalan dengan baik dan menghindari terjadinya kejahatan bisnis.

KESIMPULAN
Dalam rangka menyongsong hadirnya masyarakat ekonomi ASEAN, Indonesia harus segera
mempersiapkan diri dan juga warga negaranya terutama sekali sarjana-sarjana yang
diharapkan dapat secara langsung terjun sebagai pelaku usaha di berbagai bidang. Kesiapan
Indonesia untuk mendukung AEC itu bukan hanya dari harmonisasi terhadap ketentuan
perundang-undangan yang telah ada. Namun juga mempersiapkan skill para sarjana untuk
dapat bersaing dengan tenaga kerja asing dilingkungan ASEAN. Peluang bagi warga Negara
Indonesia akan semakin besar dengan adanya AEC, namun juga tidak tertutup kemungkinan
bagi adanya kemunduran bagi Indonesia, hal ini mengingat system pendidikan dan keahlian
yang dimiliki oleh generasi sarjana itu belum memadai. Sementara itu lulusan para sarjana
dari luar Indonesia (ASEAN) jauh diatas rata-rata sehingga ini dapat mengakibatkan
penguasaan pasar oleh tenaga kerja asing yang mengakibatkan menyempitnya lahan
pekerjaan bagi lulusan universitas di Indonesia.

CLOSING