Anda di halaman 1dari 48

ANALISIS SWOT SMA N JAYALOKA

1.
1.1

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Dalam persaingan bebas kita seharusnya berorientasi pada kebutuhan dan


harapan konsumen atau pelanggan (customers). Jika produk/layanan hasil kinerja
kita tidak bermutu, maka customers akan meninggalkan kita, karena ada
alternatif lain yang bisa dipilih oleh mereka. Jika penghasil produk/jasa ingin
tetap berlangsung usahanya (dipakai oleh customers), maka ia harus menjaga
mutu bahkan meningkatkan mutu produk/jasa layanannya seiring dengan
tuntutan kebutuhan dan harapan customers termasuk di organisasi (sekolah).
Salah satu strategi manajerial yang dikembangkan untuk menjamin sebuah
organisasi (sekolah) memiliki daya tahan dan daya hidup dari masa sekarang
dan berkelajutan sampai masa yang akan datang yaitu dengan melakukan
analisis SWOT.
Analisis SWOT adalah indentifikasi beberapa faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (Strenghts) dan peluang (Opportunities), namun
secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman
(Threats).
Analisis SWOT secara sederhana dipahami sebagai pengujian terhadap kekuatan
dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan dan ancaman
lingkungan eksternalnya. SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan
digunakan sebagai langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan
sebagai perencanaan strategis dalam berbagai terapan (Johnson, dkk., 1989;
Bartol dkk., 1991).
Langkah pertama dalam analisis SWOT adalah membuat sebuah lembaran kerja
dengan jalan menarik sebuah garis persilangan yang membentuk empat
kuadran, keadaan masing-masing satu untuk kekuatan, kelemahan,
peluang/kesempatan, dan ancaman. Secara garis besar lembaran kerja tersebut
diperlihatkan dalam lembar-1. Langkah berikutnya adalah membuat daftar item
spesifik yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi di bawah topik
masing. Dengan membatasi daftar sampai 10 poin atau lebih sedikit, untuk
menghindari generalisasi yang berlebihan (Johnson, et al., 1989).
Bentuk pendidikan di Indonesia terdiri dari tiga yaitu: Pedidikan Formal, Non
Formal dan Informal. Suatu pendidikan formal sudah tentu merupakan suatu
organisai yang berdasarkan legalitas hukum dan peraturan-peraturan yang
terkait dalam rangka pelaksanaannya. Pendidikan formal ini terdiri dari tiga
jenjang yaitu Jenjang SD, SMP dan SMA. Terbentuknya suatu organisasi itulah
salah satu pelaksanan pendidikan formal berjenjang tersebut. Banyak hal yang

harus dipertimbangkan, dukungan dari berbagai pihak, sebuah sistem manajerial


untuk mengatur berbagi hal, serta kebijakan yang relevan dalam rangka
peningkatan mutu pendidikan formal yang berjenjang.
SWOT merupakan singkatan dari Strength (S), Weakness (W), Opportunities(O),
dan Threats (T) yang artinya kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman atau
kendala, dimana yang secara sistematis dapat membantu dalam
mengidentifikasi faktor-faktor luar (O dan T) dan faktor didalam perusahaan (S
dan W).
Salah satu upaya yang dilakukan untuk perencanaan pendidikan yang matang
dalam melaksanakan pendidikan sebagai suatu sistem ialah dengan melakukan
analisis SWOT pada SMA Negeri Jayaloka. Analisis SWOT ini merupakan
perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman pada SMA Negeri Jayaloka. Sejauh mana
tingkat keberhasilan pencapaian tujuan serta hal-hal apa saja yang menjadi
hambatan dan bagaimana solusi untuk mengatasinya. Sehingga harapannya
tingkat keberhasilan tujuan organisasi mampu diukur sebelum pelaksanaan
perencanaan pendidikan tersebut. Oleh karena itu, penulis mencoba melakukan
analisis SWOT di tempat penulis mengajar. Adapun judul dari makalah ini adalah
Analisis SWOT SMA Negeri Jayaloka.

1.2

Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini adalah:
1.
Apakah faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan SMA Negeri
Jayaloka?
2.
Apakah faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman SMA Negeri
Jayaloka?
3.
Apakah faktor-faktor yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan di SMA Negeri Jayaloka?

1.3

Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penulisan makalah ini
adalah:
1.
Untuk Mengetahui faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan
kelemahanSMA Negeri Jayaloka
2.
Untuk Mengetahui faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancamanSMA
Negeri Jayaloka

3.
Untuk Mengetahui faktor-faktor yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri Jayaloka

2.
2.1

PEMBAHASAN
Definisi Perencanaan, Manajemen, dan Pendidikan

Definisi Perencanaan Menurut Para Ahli


1)
Garth N. Jone Mendefinisikan Perencanaan adalah suatu proses
pemilihan dan pengembanngan dari pada tindakan yang paling baik untuk
pencapaian tugas.
2)
M. Farland Mendefinisikan Perencanan adalah suatu fungsi dimana
pimpinan kemungkinan mengunakan sebagian pengaruhnya untuk mengubah
daripada wewenangnya.
3)
Kaufman Mendefinisikan Perencanaan adalah suatu proyeksi tentang
apa yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan secara sah dan berdaya
guna.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam
menyusun perencanaan perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan
masa depan, adanya kegiatan, proses yang sistematis, hasil dan tujuan tertentu.

Definisi Manajemen Menurut Para Ahli


1)
Koontz and Donnel (1972) management is getting thing done
through the efforts of other people (manajemen adalah terlaksananya
pekerjaan melalui orang-orang lain )
2)
Millet (1954) management is the process of directing and fasilitating
the work of people organized informal group to achieve a desire goal
(manajemen adalah proses memimpin dan melancarkan pekerjaan dari orangorang yang terorgasisir secara formal sebagai kelompok untuk memperoleh
tujuan yang diinginkan
3)
any

Davis (1951) management is the fuction of the executive leadership

where (manajemen adalah fungsi dari setiap kepemimpinan eksecutif


dimanapun)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen mutlak diperlukan dalam setiap


bidang kegiatan usaha yang melibatkan 2 orang atau lebih untuk mencapai
tujuan tertentu dengan melalui kerja sama serta dengan memanfaatkan sumbersumber lain.

Definisi Pendidikan Menurut Para Ahli


1)
Berdasarkan UU RI No. 20 Thn 2013 Tentang SISDIKNAS Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat dan bangsa.
2)
John Dewey Mendefinisikan Pendidikan adalah suatu proses
pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam
pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin
pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan
kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan
dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
3)
M.J. Longeveld Mendefinisikan Pendidikan merupakan usaha, pengaruh,
perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak agar tertuju kepada
kedewasaannya, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap
melaksanakan tugas hidupnya sendiri.
Berdasarkan Uraian definisi menurut para ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa esensi pendidikan (usaha sadar) mengandung makna suatu proses
transaksional yang intensional, terjadi dilingkungan (sosial budaya) berstruktur
yang disebut sekolah atau sejenisnya. Pendidikan sebagai salah satu bagian
penting dari proses pembangunan nasional merupakan salah satu sumber
penentu dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

2.2

Definisi Perencanaan Pendidikan

Definisi Perencanaan Pendidikan Menurut Para Ahli


1)
Berdasarkan Definisi Departemen Pendidikan Nasional
(2006)Perencanaan pendidikan sebagai suatu proses penyusunan gambaran
kegiatan pendidikan di masa depan dalam rangka untuk mencapai
perubahan/tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Pada definisi tersebut
dinyatakan bahwa perencanaan ditujukan untuk merubah masa depan. Masa
depan pendidikan yang diinginkan adalah pendidikan berkualitas yang disiasati

secara terstruktur dan terprogram melalui perencanaan sejak awal sehingga


masa depan bukanlah hasil dari kebetulan semata.
2)
Menurut Coombs (1982) Perencanaan pendidikan merupakan kegiatan
rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan
agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien.
3)
Menurut Albert Waterston (1975) Perencanaan pendidikan
merupakan suatu bentuk investasi pendidikan yang dapat dijalankan dan
kegiatan-kegiatan pembangunan yang didasarkan kepada pertimbangan
ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan
pendidikan adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam
menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan
keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang
berhubungan secara sistematis dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai,
sumber-sumber yang diberdayakan, dan teknik/metode yang dipilih secara tepat
untuk melaksanakan tindakan selama kurun waktu tertentu agar
penyelenggaraan sistem pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif, efisien,
dan bermutu.

Definisi Manajemen Pendidikan


1.
Menurut Menurut H. A. R. Tilaar manajemen pendidikan adalah suatu
kegiatan yang mengimplementasikan perencanaan atau rencana pendidikan.
2.
Menurut Made Pidarta Manajemen Pendidikan diartikan sebagai
aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha
mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.
3.
Menurut Biro Perencanaan Depdikbud Manajemen pendidikan ialah
proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga
pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan,
mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu
manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti
yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan
kebangsaan.

2.3

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Secara leksikal, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata, yaitu
manajemen, berbasis, dan sekolah. Manajemen adalah proses menggunakan
sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Berbasis memiliki kata

dasar basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah adalah lembaga untuk belajar
dan mengajar, serta tempat menerima dan memberikan pelajaran. Berdasarkan
makna leksikal tersebut maka Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat
diartikan sebagai penggunaan sumber daya yang berasaskan pada sekolah itu
sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran. Condoli memandang
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagai alat untuk menekan sekolah
mengambil tanggung jawab apa yang terjadi terhadap anak didiknya. Dengan
kata lain, sekolah mempunyai kewenangan untuk mengembangkan program
pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak didik di sekolah tersebut.
Sedangkan pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menurut E. Mulyasa
adalah pemberian otonomi luas pada tingkat sekolah agar sekolah leluasa
mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai
dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap dengan kebutuhan setempat.
Dalam konteks manajemen menurut Manajemen Berbasis Sekolah (MBS),
berbeda dari manajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari
pemerintah pusat. Sebaliknya, manajemen pendidikan model Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) ini berpusat pada sumber daya yang ada di sekolah itu
sendiri. Dengan demikian, akan terjadi perubahan paradigma manajemen
sekolah, yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luar sekolah menuju
pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itu sendiri.

Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


Menurut Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, tujuan Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) dengan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis
Sekolah (MPMBS) adalahpertama meningkatkan mutu pendidikan melalui
kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber
daya yang tersedia. Kedua, meningkatkan kepedulian warga sekolah dan
masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan
bersama. Ketiga, meningkatkan tanggung jawab kepala sekolah kepada
sekolahnya.Keempat, meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang
mutu pendidikan yang akan dicapai.

2.4

Analisis SWOT

Analisis SWOT mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk


merumuskan strategi dan memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta
meminimalkan kelemahan dan ancaman. Analisis SWOT dibuat pertama kali oleh
Albert Humprhey pada tahun 1960-an di Universitas Stanford. Analisis SWOT
(singkatan bahasa Inggris dari
"kekuatan" (strengths), "kelemahan" (weaknesses),
"kesempatan" (opportunities), dan ancaman" (threats) adalah metode

perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan,


kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu spekulasi
bisnis.
Analisis SWOT menyediakan para pengambil keputusan organisiasi akan
informasi yang dapat menyiapkan dasar dan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan dan tindakan. Jika keputusan itu diterapkan secara efektif akan
memungkinkan sekolah mencapai tujuannya.
Analisis lingkungan adalah studi tentang kekuatan dan kelemahan sebagai
elemen internal, peluang dan tantangan sebagai elemen eksternal suatu
organisasi, masa kini, dan berpotensi diperkirakan akan muncul di masa depan,
sebagai data/bahan untuk menetapkan dan menyusun perencanaan strategis
organisai masa depan (Theresia, 2003).
Komponen-komponen yang terdapat di dalam analisis SWOT adalah kekuatan
(Strength), kelemahan (Weaknes), Peluang (oportunitis), dan Tantangan
(treats). Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis
untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisa ini didasarkan pada logika yang
dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun
secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman
(Threats). Perencanaan strategis (strategic planner) suatu perusahaan harus
menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang,
dan ancaman) pada kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut dengan Analisis
Situasi atau popular disebut Analisis SWOT. Kemudian dilakukan pembandingan
antara faktor internal yang meliputi Strength dan Weakness dengan faktor
luarOpportunity dan threat.
Setelah melakukan analisis SWOT, kita bisa melakukan strategi alternatif untuk
dilaksanakan. Strategi yang dipilih merupakan strategi yang paling
menguntungkan dengan resiko dan ancaman yang paling kecil. Selain pemilihan
alternatif analisis SWOT juga bisa digunakan untuk melakukan perbaikan dan
improvisasi. dengan mengetahui kelebihan (Strength dan Opportunity) dan
kelemahan kita (Weakness dan Threat), maka kita melakukan strategi untuk
melakukan perbaikan.
2.5
2.5.1

Profil Sekolah
Nama dan Alamat Sekolah

Nama Sekolah

: SMA Negeri Jayaloka

NIS

: 301110601037

Nilai Akreditasi : B
Alamat Sekolah : Jalan Sunan Manjuran Kampung 6 Desa Purwodadi
Kecamatan

: Jayaloka

Kabupaten

: Musi Rawas

Provinsi

: Sumatera Selatan

Luas Lahan

: 2.5 Ha

Jumlah Rombel

: 13 Rombel

2.5.2

Status Sekolah

SMA Negeri Jayaloka berstatus Negeri di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten


Musi Rawas.

2.5.3

Nomor Surat Keputusan Pendirian

SMA Negeri Jayaloka didirikan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Musi Rawas
Nomor: 377/ KPTS/ Diknas/ 2004, tentang Penetapan SMA Negeri di Kabupaten
Musi Rawas, tanggal 16 Desember 2004.

2.5.4

Visi dan Misi Sekolah

Visi Sekolah:
Jati diri yang teguh sebagai manusia, kompetitif dalam penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi, terampil dan arif dalam menjawab tantangan masa
depan
Misi Sekolah:

Melaksanakan pembinaan-pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang


Maha Esa.

Melaksanakan kegiatan pembelajaran yang efektif

Mengembangkan potensi dan kompetensi peserta didik

Memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola


lingkungan hidup yang bermanfaat bagi kelestarian sumber daya alam.

2.5.5

Tujuan Sekolah

Menumbuhkan dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap


Tuhan Yang Maha Esa.

Menumbuhkan rasa patriotisme dan cinta tanah air.

Menumbuhkembangkan kepribadian yang sanggup menghadapi


tantangan masa depan.

Menciptakan sikap mandiri dan jiwa wira usaha.

Mempersiapkan lulusan yang dapat memasuki dunia kerja dan dunia


usaha.

Menciptakan lulusan yang siap dan mampu mengikuti pendidikan tinggi.

2.5.6
1.

Data Sekolah
Data Siswa 3 (Tiga) Tahun Terakhir
Jml
Pendaft
ar

Th.
Pelajara
n

2.

(Cln
Siswa
Baru)

Jumlah
Kelas X

Kelas XI

Kelas XII

Jml
Sisw
a

Jml
Romb
el

Jml
Sisw
a

Jml
Romb
el

Jml
Sisw
a

Jml
Romb
el

Sisw
a

Romb
el

2011/20
12

322

133

123

81

337

10

2012/20
13

335

134

119

115

368

12

2013/20
14

356

162

129

116

407

13

Kepemilikan Tanah

Status Tanah

: Pemerintah
: Hibah

Luas Lahan/ Tanah

: 2,5 Ha

Luas Tanah Terbangun

: 1 Ha

Luas Tanah Siap Bangun

: 2 Ha

3.

(Kls. X+ XI +
XII)

Angka Kelulusan dan Melanjutkan

No.

Tahun Ajaran

1.

2011/2012

2.

2012/2013

2.6

Analisis SWOT SMA Negeri Jayaloka

Tabel Analisis SWOT SMA Negeri Jayaloka


Analisis Faktor Internal

Bobot

Peringk
at

Bobot x
Penilaia
n

Kondisi sekolah yang kondusif


dan lahan yang luas

0,05

0,20

Etos kerja

0,05

0,15

Kualitas Tenaga Pendidik yang


berkompeten

0,15

0,60

Hubungan baik antar tenaga


pendidik, tenaga kependidikan,
komite sekolah, masyarakat
dan peserta didik.

0,15

0,30

Kualitas peserta didik

0,15

0,75

N
o

Faktor Penilaian

Kekuatan (Strength)

Total kekuatan

Kelemahan (Weakness)

2,00

Lokasi sekolah yang kurang


strategis

0,10

0,20

Tidak Semua guru mampu


memfasilitasi pembelajaran
berbasis TIK

0,10

0,40

Belum banyak ruang kelas


dilengkapi sarana
pembelajaran berbasis TIK

0,10

0,30

Sarana dan Prasarana sekolah

0,05

0,28

Kurangnya tenaga pendidik

0,10

0,30

Total kelemahan

1,48

Total Kekuatan-Total Kelemahan = 0,52

1,00

Analisis Faktor Eksternal

Bobot

Peringk
at

Bobot x
Peringk
at

Dukungan dari Orang Tua

0,15

0,60

Dukungan pemerintah daerah


dan pusat dalam melengkapi
sarana dan prasarana

0,10

0,30

Budaya Masyarakat

0,10

0,40

Hubungan Kerjasama Dengan


Universitas

0,10

0,30

Tuntutan masyarakat terhadap


lulusan yang berkualitas

0,10

0,20

N
o

Faktor Penilaian

Peluang (Opportunity)

A
B

Total peluang

1,80

Tantangan (Threat)

Banyaknya calon siswa SMA N


Jayaloka yang mendaftar

0,15

0,60

Persaingan memasuki PTN

0,10

0,40

Akses menuju sekolah

0,05

0,15

Kualitas lulusan

0,15

0,60

Bantuan tenaga pendidik dari


pemerintah

0,05

0,20

Total tantangan

1,95

Total Peluang-Total Tantangan = - 0,15

1,00

Dari hasil analisis SWOT di atas, dapat disimpulkan bahwa sekolah berada di
Kuadran II (positif, negatif). Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang kuat
namun menghadapi tantangan yang besar. Rekomendasi strategi yang diberikan
adalah Diversifikasi Strategi, artinya organisasi dalam kondisi mantap namun
menghadapi sejumlah tantangan berat sehingga diperkirakan roda organisasi
akan mengalami kesulitan untuk terus berputar bila hanya bertumpu pada
strategi sebelumnya. Oleh karenya, organisasi disarankan untuk segera
memperbanyak ragam strategi taktisnya.

Keterangan:
Analisis Faktor Internal
Strength (kekuatan) :
1.
Kondisi sekolah yang kondusif karena jauh dari kebisingan lalu lintas serta
memiliki lahan yang luas 2.5 Ha

2.

Etos Kerja

Meskipun 80% Tenaga Pendidik dan Kependidikan bertempat tinggal di luar


daerah namun tingkat kedisiplinan dari keterlambatan datang tinggi. Karena
diperkirakan waktu tempuh yang diperlukan untuk sampai ke SMA Negeri
Jayaloka adalah 1.30 jam. Biasanya pendidik berangkat dari rumah sekitar pukul
6 pagi.
3.
Kualitas tenaga pendidik yang berkompeten (daftar jumlah guru
terlampir). Meskipun Guru di SMA Negeri Jayaloka hanya berjumlah 22 orang,
minimal mempunyai kualifikasi pendidikan S1. 20 orang kualifikasi S2 (1 orang
bidang kependidikan), 1 orang sedang mengikuti pendidikan S2 di bidang
kependidikan. Dengan jumlah guru 22 orang dengan rombel yang ada berjumlah
13 memang dirasakan kurang, namun para guru mampu mengemban
pembagian tugas mengajar yang telah ditetapkan dan tetap dapat memberikan
pengajaran yang maksimal. Selain itu Guru mendapatkan pembinaan
kompetensi guru melalui MGMP dan Diklat untuk semua mata pelajaran,
kaderisasi guru untuk jabatan Kepala Sekolah melalui pembinaan dan diklat,
pembinaan guru dan pegawai melalui jalur pemilihan guru berprestasi, dan
pembinaan pegawai pendidikan dan latihan.
Jumlah guru dengan tugas mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan
(keahlian)

No.

Guru

1.

Biologi

2.

Fisika

3.

Kimia

4.

Matematika

5.

Bahasa Indonesia

6.

Bahasa Inggris

7.

Pendidikan Agama

8.

Geografi

9.

Sejarah

10.

Ekonomi

11.

Penjasorkes

12.

Seni Budaya

13.

PKn

14.

KWU

15.

TIK/Keterampilan

16.

BK

17.

Lainnya: B.ARAB
Jumlah

4.
Hubungan baik antar tenaga pendidik, tenaga kependidikan, komite
sekolah, masyarakat dan peserta didik. Hal ini ditandai dengan kerjasama dalam
bentuk gotong royong dalam setiap kegiatan yang diperuntukkan bagi
kepentingan bersama yang merupakan suatu budaya yang harus dikembangkan
dikalangan peserta didik.
5.
Kualitas peserta didik. Prestasi yang diukir peserta didik SMA Negeri
Jayaloka tidak hanya di bidang pendidikan, melainkan di bidang ekstrakurikuler.
Diantaranya bulan Oktober lalu ektrakurikuler PMR meraih juara ke-II di tingkat
Kabupaten, ekstrakurikuler PRAMUKA mendapat juara ke-III di tingkat Propinsi,
sedangkan di bidang olahraga yaitu LOMPAT JAUH mendapat juara pertama di
tingkat kabupaten dan TAEKWONDO mendapat juara pertama di tingkat Propinsi.
Perolehan Kejuaraan/Prestasi Non Akademik

No.

Nama Lomba

PRAMUKA

TAEKWONDO

PMR

LOMPAT JAUH

Weakness (kelemahan) :
1.
Lokasi sekolah yang kurang strategis. Akses menuju SMA Negeri Jayaloka
Jauh dari keramaian, jalan yang dilalui memiliki 2 jalur ada yang masih
berupa hotmix dan ada yang sudah di aspal. Selain itu kiri kanan jalan masih
berupa perkebunan karet dan rawan terjadinya tindakan penodongan yang
mengakibatkan pada keselamatan diri.
2.
Tidak semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK.
Dewasa ini TIK menjadi hal yang wajib digunakan oleh pendidik dalam proses
pembelajaran, dan penilaian oleh sebab itu sangat disayangkan apabila masih
ada guru yang tidak memanfaatkan TIK sebagai media pembelajaran karena
dapat membantu siswa untuk dapat lebih banyak dan lebih cepat menyerap
materi pembelajaran sehingga dapat mengefisiensikan waktu sehingga
pembelajaran dapat lebih efektif.
3.
Belum banyak ruang kelas dilengkapi sarana pembelajaran berbasis TIK.
Hal ini menyebabkan Tidak semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran
berbasis TIK padahal tuntutan zaman yang kini telah menggunakan teknologi
berbasis komputer.
4.
Sarana dan Prasarana sekolah. Seperti jumlah ruang praktik laboratorium
beserta peralatan dan perlengkapannya, jaringan internet
5.
Kurangnya tenaga pendidik. Diharapkan dapat menambah tenaga
pendidik karena jumlah rombel yang tiap tahunnya mengalami kenaikan
sehingga dirasakan tidak cukup dalam pembagian mengajar. Khususnya tenaga
laboran dan lain sebagainya.

Oportunity (peluang):
1.
Dukungan dari orang tua. Suatu peluang bagi lembaga SMA Negeri
Jayaloka bahwa masyarakat menginginkan kemajuan kesejahteraan baik
ekonomi, pendidikan maupun kesehatan, perlu didukung dengan upaya
pemberian kesempatan pendidikan yang layak sehingga dapat membina pola
fikir yang lebih maju dan mengolah sumber daya alam yang ada secara
maksimal, hal ini dapat dilihat dari antusias masyarakat pada pendaftaran calon
siswa ke SMA Negeri Jayaloka.
2.
Dukungan pemerintah daerah dan pusat dalam melengkapi sarana dan
prasarana. Hal ini terlihat dari bantuan yang datang dari pemerintah pusat dan
daerah pada tahun ini (2013), yakni bantuan pembuatan 3 lokal untuk ruang
belajar.
3.
Budaya Masyarakat. Masyarakat Jayaloka terdiri dari penduduk asli dan
pendatang (transmigran) asal Jawa yang telah bermukim sejak tahun 1980-an.
Kehidupan masyarakat yang rukun memungkinkan melakukan akselerasi
(percepatan) pembangunan. Salah satu indikasi adanya kerukunan warga adalah
belum pernah terjadinya perselisihan yang mengakibatkan perkelahian dan
keributan secara missal yang menyebabnya terhambatnya kegiatan
pembangunan. Kultur masyarakatnya yang suka kerjasama dalam bentuk gotong
royong dalam setiap kegiatan yang diperuntukkan bagi kepentingan bersama
maupun perorangan yang merupakan suatu budaya yang harus dikembangkan
dikalangan peserta didik.
4.
Hubungan Kerjasama Dengan Universitas. Terdapatnya beberapa
Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia seperti UNIB, UNSRI, UNNES yang
melakukan proses penseleksian mahasiswa melalui program bidik misi, PMDK
kepada siswa SMA kelas XII SMA Negeri Jayaloka.
5.
Tuntutan masyarakat terhadap lulusan yang berkualitas. Masyarakat
mengharapkan setelah selesai menempuh pendidikan di SMA Negeri Jayaloka ini
diharapkan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan
menjadi outcome berkualitas. Dengan adanya penambahan mata pelajaran
Kewirausahaan di maksudkan agar siswa mampu menganalisa dan
memanfaatkan peluang usaha yang ada, sehingga para lulusan diharapkan
mampu mengembangkan diri di bidang kewirausahaan dan menciptakan
lapangan kerja sendiri dan mengurangi ketergantungan lulusan terhadap
lowongan kerja yang semakin sedikit yang tersedia.
Threat (tantangan):
1.
Banyaknya calon siswa SMA N Jayaloka yang mendaftar. Dari data
keadaan murid SD/MI dan SMP/MTS tahun 2012/2013 di Kecamatan Jayaloka
dapat diproyeksikan perkembangan jumlah siswa SMA Negeri sampai tahun 2016
masih terus meningkat sehingga hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang

SMA Negeri Jayaloka yang harus disiasati dalam Rencana Strategi Perkembangan
Sekolah dan Program-program kerja jangka panjang, jangka menengah, dan
jangka pendek (tahunan).
Proyeksi Perkembangan Jumlah Siswa SMA Negeri Jayaloka Sampai Dengan
Tahun 2016
Jumlah
Kelas X

Kelas XI

Kelas XII

Jml
Sisw
a

Jml
Romb
el

Jml
Sisw
a

Jml
Romb
el

Jml
Sisw
a

Jml
Romb
el

Sisw
a

Romb
el

2012/20
13

173

143

123

439

12

2013/20
14

176

164

136

476

12

2014/20
15

171

167

156

496

12

2015/20
16

215

162

159

536

13

Th.
Pelajara
n

(Kls. X+ XI +
XII)

2.
Persaingan memasuki PTN. Terbatasnya kuota yang tersedia pada setiap
PTN mengakibatkan Persaingan masuk SMPTN menjadi diidolakan, sehingga
memotivasi sekolah untuk meningkatkan berbagai kebijakan yang berpihak pada
siswa.
3.
Akses menuju sekolah yang dirasakan jauh, masih sepi dan kurang
strategis menyebabkan kesempatan tindakan penodongan yang mengakibatkan
pada keselamatan diri.
4.
Kualitas lulusan. Yang menjadi tantangan disini adalah lulusan yang
melanjutkan studi hingga perguruan tinggi tidaklah 100%. Perekonomian
orangtua yang masih menengah ke bawah, memicu lulusan berfikiran untuk
segera bekerja sehingga dapat membantu perekonomian orang tua nya.
Angka Kelulusan dan Melanjutkan
No.

Tahun Ajaran

1.

2011/2012

2.

2012/2013

Alasan lulusan SMA Tidak Melanjutkan Ke Perguruan Tinggi


No

Alasan tak melanjutkan

Perguruan Tinggi yang ada terlalu jauh/tak terjangkau

Tidak mampu membiayai

Transportasi sulit/mahal

Kondisi geografis (medan sulit)

Daerahnya terpencil

Pendidikan dipandang kurang penting

Bekerja

Menikah

Lain-lain, sebutkan: malas

5.
Bantuan tenaga pendidik dari pemerintah. Karena masih minimnya jumlah
guru yang ada saat ini diharapkan pemerintah dapat memberikan bantuan
kepada sekolah untuk menyediakan tenaga pendidik baik PNS maupun Honorer.

Analisis Visi
Visi adalah pernyataan tentang kondisi yang diinginkan yang dapat dicapai
dalam kurun waktu tertentu. Visi harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1.

Specific (mengacu/fokus)

2.

Measurable (dapat diukur)

3.

Achievable (dapat dicapai)

4.

Realistic (realistis/nyata)

5.

Timeframe (mempunyai jangka waktu)

Dari data yang didapat mengenai visi SMA Negeri Jayaloka hendak memberikan
penegasan terhadap jangka waktu untuk pencapaian kondisi yang diinginkan.

3.
3.1

PENUTUP
Simpulan

Dari kegiatan analisis SWOT di SMA Negeri Jayaloka, dapat disimpulkan bahwa
perumusan manajemen strategi di SMA Negeri Jayaloka masuk pada kategori
baik. Hal ini terlihat pada hasil analisis meskipun menunjukkan SMANegeri
Jayaloka berada pada kuadran II. Posisi ini menandakan sebuah organisasi yang
kuat namun menghadapi tantangan yang besar. Rekomendasi strategi yang
diberikan adalah Diversifikasi Strategi, artinya organisasi dalam kondisi
mantap namun menghadapi sejumlah tantangan berat sehingga diperkirakan
roda organisasi akan mengalami kesulitan untuk terus berputar bila hanya
bertumpu pada strategi sebelumnya. Oleh karena itu, organisasi disarankan
untuk segera memperbanyak ragam strategi taktisnya.

3.2

Saran

Dari hasil analisis visi/ misi sekolah, pengukuran jangka waktu dalam pencapaian
kondisi yang akan dicapai masih menjadi kekurangan dan hendaknya jangka
waktu (timeframe) sangat perlu diperhatikan karena merupakan salah satu
syarat perumusan visi.

DAFTAR PUSTAKA

Hakim, el Naufal. 2013. Pengertian dan Definisi Pendidikan Menurut Para


Ahli.http://kumpulanilmu2.blogspot.com/2013/03/pengertian-dan-definisipendidikan.html. Diunduh tanggal 13 September 2013 Pukul 16:10.
Ivan, Kusala. 2012. Definisi Mengenai Perencanaan, Pendidikan, dan
Perencanaan Pendidikan. http://kusalaivan.blogspot.ca/2012/09/definisimengenai-perencanaan.html. Diunduh tanggal 15 September 2013 Pukul 17:05.
Mindrawan, Gegex. 2012. Perencanaan
Pendidikan. http://mindrawan.blogspot.com/2012/11/perencanaanpendidikan.html. Diunduh tanggal 13 September 2013 Pukul 16.30.
Prihantoro, Resza. 2010. Arti Perencanaan Menurut
Para Ahli.http://h0404055.wordpress.com/2010/04/02/arti-perencanaan-menurutpara-ahli/. Diunduh tanggal 13 September 2013 Pukul 16.20.
Yasinta, Ika Umaya. 2012. Pendidikan. http://umayaika.wordpress.com/. Diunduh
tanggal 13 September 2013 Pukul 16.00.
Badan, Awak. 2012. Pengertian Manajemen Pendidikan Menurut Para
Ahlihttp://mbegedut.blogspot.com/2012/06/pengertian-manajemen-pendidikanmenurut.html. Diunduh tanggal 26 November 2013 Pukul 13.30.

ANALISIS SWOT DALAM


PENDIDIKAN
04/01/2014 AFID BURHANUDDIN 3 COMMENTS

Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki peran


besar dalam pengembangan kemampuan akademiknon akademik dan
bahkan moral para siswa yang berada di dalamya. Sekolahpun menjadi
salah satu ujung tombak bagi perkembangan dan kelangsungan sebuah
negara. Karena itulah keberadaan sebuah sekolah yang memiliki kualitas
dan kredibilitas yang baik dalam berbagai aspek mutlak diperlukan bagi
segenap anak Indonesia.Ditambah lagi jika menilik tujuan pendidikan
Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahwa.. inilah salah satu alasan
betapa pendidikan yang berkualitas memang berhak diterima oleh setiap
tingkatan pendidikan anak Indonesia. Meskipun demikian, pencapaian
kualitas yang diharapkan ini tidak semua sekolah maupun lembaga
pendidikan mampu meraihnya. Bahkan secara umum, sistem pendidikan
Indonesia masih perlu dilakukan perbaikan secara menyeluruh dan
kontinyu untuk mencapai kebaikan dalam tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan juga dituntut dapat mempersiapkan sumber daya manusia
yang kompeten agar mampu bersaing dan juga kooperatif di dunia global.
Untuk memenuhi hal tersebut diperlukan lulusan yang unggul dalam baik
sisi akademis, humanis, hingga moral. Agar lulusan pendidikan nasional
memiliki kompetitif tidak bisa terlepas dari kualitas manajemen
pendidikan, baik dalam hal efektivitas dan efisiensi proses ke arah
peningkatan mutu pendidikan. Pemerintah dalam mengatasi
permasalahan mutu pendidikan telah banyak berbuat melalui programprogram peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Tantangan
dalam dunia pendidikan khususnya bagi para pelaksana perencanaan dan
manajemen, pengambil kebijakan urusan pendidikan dalam hal ini
pemerintah, harus memiliki alat atau piranti untuk mengevaluasi sampai
sejauh mana pembangunan pendidikan terutama kinerja layanan
pendidikan bagi masyarakat dapat tercapai secara optimal. Salah satu
strategi manajerial yang dikembangkan untuk menjamin sebuah
organisasi (sekolah) memiliki daya tahan dan daya hidup dari masa

sekarang dan berkelajutan sampai masa yang akan datang yaitu dengan
melakukan analisis SWOT.

PEMBAHASAN
Sistem adalah sebuah komponen yang terdiri dari beberapa elemen dan
subelemen yang terintegrasi, saling berinteraksi dan saling
mempengaruhi satu sama lain. Dalam sebuah konsep sistem, ada
berbagai perilaku dan gejala sosial, ekonomi, politik, hukum, dan
keamanan, dengan berbagai sistem yang lebih luas maupun dengan
subsistem yang tercakup di dalamnya. Sebagai contoh adalah interaksi
antar komponen dalam sekolah disebut sebagai sistem, sedangkan
komponen di sini dapat disebut dengan warga sekolah (siswa, guru, TU,
karyawan, dan orangtua). Interaksi di dalam kelas pada sekolah
disebut subsistem, dan interaksi antar sekolah sederajat
merupakan suprasistem. Dengan sistem yang tersusun dengan baik,
sebuah organisasi, dalam hal ini adalah lembaga pendidikan seperti
sekolah dapat mencapai tujuan yang telah ditargetkan. Oleh karena itu,
sistem sangat urgen dan vital keberadaannya demi keberhasilan sebuah
program kerja, apalagi jika tersusun secara sistematis dan dilaksanakan
penuh kredibilitas, tanggung jawab, dan kedisiplinan.
Analisis SWOT merupakan salah satu metode analisis situasional yang
menitikberatkan pada identifikasi beberapa faktor secara sistematis untuk
merumuskan strategi perusahaan, organisasi, atau lembaga. SWOT
sendiri merupkan akronim
dari Strengths(kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluan
g), danThreats (ancaman).Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (Strenghts) dan peluang (Opportunities),
namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses)
dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu
berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategis harus
menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan, organisasi, atau lembaga
tersebut dalam kondisi yang ada pada saat ini. Hal ini disebut analisis
situasi. Berikut ini definisi lebih rinci tentang elemen SWOT:

Strength (Kekuatan); faktor internal atau dalam yang cenderung memiliki


efek positif (atau menjadi mampu untuk) mencapai tujuan suatu lembaga
pendidikan

Weakness (Kelemahan); faktor internal atau dalam yang mungkin memiliki


efek negatif (atau menjadi penghalang untuk) mencapai tujuan suatau
lembaga pendidikan

Opportunity (Peluang); faktor eksternal atau luar yang cenderung memiliki


efek positif pada pencapaian atau tujuan sekolah, atau tujuan yang
sebelumnya tidak dipertimbangkan

Threat (Ancaman); faktor eksternal atau kondisi yang cenderung memiliki


efek negatif pada pencapaian tujuan suatu lembaga pendidikan, atau
membuat tujuan absurd atau malah sulit dicapai.

Jika analisis SWOT digunakan pada pendidikan maka dimungkinkan bagi


sebuah sekolah untuk mendapatkan sebuah gambaran menyeluruh
mengenai situasi sekolah itu sendiri baik dalam hubungannya dengan
masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan yang lain, dan lapangan
industri yang akan dimasuki oleh para siswanya, bahkan sampai situasi
internaal sekolah itu sendiri. Untuk pemahaman mengenai faktor-faktor
eksternal, (terdiri atas ancaman dan peluang), yang digabungkan dengan
suatu pengujian mengenai kekuatan dan kelemahan akan membantu
dalam mengembangkan sebuah visi tentang masa depan. Perkiraan
seperti ini diterapkan dengan mulai membuat program yang kompeten
atau mengganti program-program yang tidak relevan serta berlebihan
dengan program yang lebih inovatif dan relevan, sesuai dengan kondisi
sekolah itu sendiri.
Beberapa contoh lingkungan internal lembaga pendidikan;
1. Tenaga kependidikan dan staf adminstrasi
2. Ruang kelas, laboratorium, dan fasilitas sarana prasarana (lingkungan
belajar).
3. Para siswa
4. Anggaran operasional
5. Program riset dan pengembangan IPTEK

6. Organisasi atau dewan lainnya dalam sekolah


7. Kurikulum yang digunakan.
Beberapa contoh lingkungan eksternal lembaga pendidikan :
1. Tempat kerja yang prospektif bagi lulusan
2. Orang tua dan keluarga siswa
3. Lembaga pendidikan pesaing lainnya
4. Sekolah atau lembaga pendidikan tinggi sebagai persiapan lanjutan
5. Demografi sosial dan ekonomi penduduk
6. Badan-badan penyandang dana.

Selain itu, jika dilihat dari segi obyek analisis, analisis SWOT memiliki dua
jenis, yaitu:
1)

Model Kuantitatif

Analisis jenis ini menggunakam teknik penilaian, yang mana penilaian


tersebut dilakukan dengan cara memberikan skor pada masing-masing
subkomponen, dimana satu subkomponen dibandingkan dengan
subkomponen yang lain dalam komponen yang satu atau mengikuti lajur
vertikal. Sebuah asumsi dasar dari model ini adalah kondisi yang
berpasangan antara S dan W, serta O dan T. Kondisi berpasangan ini
terjadi karena diasumsikan bahwa dalam setiap kekuatan selalu ada
kelemahan yang tersembunyi dan dari setiap kesempatan yang terbuka
selalu ada ancaman yang harus diwaspadai. Ini berarti setiap satu
rumusan Strength (S), harus selalu memiliki satu
pasangan Weakness (W) dan setiap satu rumusanOpportunity (O) harus
memiliki satu pasangan satu Threat (T). Standar penilaian di buat
berdasar kan kesepakatan bersama untuk mengurangi kadar subyektifitas
penilaian.
2)

Model Kualitatif

Analisa jenis ini tidak jauh berbeda dengan jenis analisis kuantitatif,
perbedaan yang mendasar adalah pada penggunaan penilaian yang
memadukan komponen kekuatan (kelebihan) dengan kekurangan,
cenderung pada hasil yang berupa wujud bukan jumlah nominal yang
dihasilkan. Umumnya bentuk anaisisnya berupa uraian deskriptif.
Jika dianalogikan, analisis SWOT itu seumpama sebuah peta, juga
berfungsi sebagai panduan pembuatan peta. Ketika telah berhasil
membuat peta, langkah tidak boleh berhenti karena peta tidak
menunjukkan kemana harus pergi, tetapi peta dapat menggambarkan
banyak jalan yang dapat ditempuh jika ingin mencapai tujuan tertentu.
Sebuah peta baru akan berguna jika tujuan telah ditetapkan dan si
pemegangnya telah merumuskan jalan mana yang harus diambil untuk
mencapai tujuan tersebut.
Dalam kerangka berpikir manajemen strategik, tujuan merupakan targettarget yang bersifat kuantitatif dari suatu organisasi. Pencapaian tujuan
merupakan tolak ukur dari keberhasilan kinerja atas faktor-faktor kunci
keberhasilan suatu organisasi. Oleh karena itu tujuan merupakan bagian
yang penting dalam sistem strategi manajerial yang di dalamnya
mengandung usaha untuk melaksanakan suatu tindakan. Untuk itu tujuan
harus menegaskan tentang apa (what) yang secara khusus harus dicapai
dan kapan (when).
Selanjutnya, setelah sasaran atau tujuan telah ditentukan barulah
dirumuskan program kerja utuk mencapai tujuan tersebut. Program ini
dapat dijabarkan targetnya, segmentasinya dan strategi yang akan
digunakan. Sebuah program kerja dapat dikatakan sebagai sebuah
program yang lengkap apabila telah mampu menerangkan visi, misi,
tujuan serta gambaran pelaksanaan yang berupa target, segmentasi dan
strategi yang dipilih.
Pelaksanaan akan diikuti dengan proses evaluasi. Yang perlu
digarisbawahi disini adalah peran analiss SWOT dalam melakukan
penilaian kesesuaian konsep dan pelaksanaan program saat program
berjalan maupun di akhir program sehingga dapat diambil sebuah
kesimpulan penilaian yang obyektif dan berkesinambungan. Analisis
SWOT itu digunakan sebagai dasar untuk menerjemahkan visi, misi, dan
tujuan sehingga menjadi program kegiatan yang lebih operasional.

Secara sederhana, analisis SWOT dipahami sebagai pengujian terhadap


kekuatan dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan
dan ancaman lingkungan atau eksternalnya. SWOT adalah perangkat
umum yang didesain dan digunakan sebagai langkah awal dalam proses
pembuatan keputusan dan sebagai perencanaan strategis dalam berbagai
terapan. Penafsiran kekuatan dan kelemahan dapat dilakukan melalui
survei, kelompok-kelompok fokus, wawancara dengan murid dan alumni,
dan sumber-sumber lain yang dapat dipercaya. Begitu kelemahan dan
kekuatan telah diketahui, maka akan memungkinkan untuk
mengkonfirmasi hal-hal tersebut. Gambaran eksternal bersifat
komplementer terhadap self-study internal di dalam analisis SWOT.
Pengaruh-pengaruh nasional dan regional seperti masalah-masalah lokal
dan negara dan penerapan kurikulum adalah yang paling penting dalam
memutuskan program baru apa saja yang perlu ditambah atau program
yang sudah ada dan perlu dimodifikasi atau diganti.
Ada empat tahapan utama dalam melakukan analisis SWOT, dalam hal ini
adalah untuk lembaga pendidikan, yaitu:
1.

Tahap Observasi

Dalam tahapan ini, pengamat akan membuat dan menyusun substansi


dalam matriks SWOT untuk memudahkn drafting data. Ia akan
mengamati, menemukan, dan memasukkan hal-hal yang merupakan
komponen SWOT dalam matriks yang telah dibuat, yang mana merupakan
data aktual yang ditemukannya di lapangan, di lembaga pendidikan yang
ditelitinya.
2.

Tahap Analisa

Selanjutnya, peneliti akan melakukan mendalami dan menentukan


kelompok-kelompok data yang telah didapatnya ke dalam elemen yang
tepat, apakah data A termasuk
kategori Strengths atauWeaknesses atau Opportunities, atau Threats,
data B, dan seterusnya.
3.

Tahap Penentuan Kebijakan

Peneliti akan menentukan langkah-langkah kebijakan yang diambil untuk


memperbaiki atau memperkuat sistem pendidikan. Kebijakan tersebut

diambil dari menggabungkan dua faktor, dengan ketentuan sebagai


berikut:

Mengambil kebijakan dengan menggabungkan kekuatan (Strengths) dan


peluang (Opportunities)

Mengambil kebijakan dengan menggabungkan kelemahan (Weaknesses)


dan peluang (Opportunities)

Mengambil kebijakan dengan menggabungkan kekuatan (Strengths) dan


ancaman (Threats)

Mengambil kebijakan dengan menggabungkan kelemahan (Weaknesses)


dan ancaman (Threats).

4.

Tahap Pembuatan Laporan

Setelah kebijakan telah ditentukan, tugas pengamat atau penganalisa


SWOT adalah membuat laporan dari penelitian yang telah dilakukannya.
Laporan ini berfungsi sebagai rekaman data secara deskriptif tentang
penelitian yang dilakukan. Selain itu laporan ini menjadi bukti resmi akan
penelitian yang tentunya diperoleh berdasarkan kondisi aktual, kebijakan
yang dipilih setelah melakukan analisa mendalam dan dapat diaplikasikan
dalam konteks nyata, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Hasil analisis SWOT yang telah dirumuskan tersebut selanjutnya dapat
digunakan sebagai acuan untuk menentukan langkah-langkah untuk ke
depannya dalam upaya memaksimalkan kekuatan dan memanfaatkan
peluang, serta secara bersamaan berusaha untuk meminimalkan
kelemahan dan mengatasi ancaman.

Kesimpulan
Analisis SWOT merupakan salah satu metode analisa yang bersifat
situasional yang digunakan dalam rangka mendalami kondisi internal
maupun eksternal sebuah lembaga, dalam hal ini adalah lembaga
pendidikan. Dengan mengetahui lebih dalam tentang kedua kondisi
tersebut, diharapkan lembaga pendidikan tersebut akan mampu
mengintrospeksi diri atas daa-data yang telah didapatkan dalam

penelitian SWOT. Analisis SWOT yang dilakukan ini dapat menjadi


cerminan atau refleksi dari lembaga pendidikan itu sendiri sehingga dapat
mengetahui sisi baik maupun sisi buruk yang dimilikiya dan dapat
menemukan cara untuk memperbaiki diri dari mengetahui hal-hal
tersebut. Analisis SWOT dapat pula menjadi peta, karena setelah masingmasing faktor ditemukan, kebijakan-kebijakan yang akan diambil untuk
perbaikan di kemudian hari telah pula ditentukan, sehingga yang harus
dilakukan lembaga pendidikan tinggal melaksanakannya dengan penuh
komitmen, disiplin, dan tanggung jawa demi terwujudnya lembaga
pendidikan yang berkualitas, berintegritas, dan menghasilkan siswa-siswa
yang kelak menjadi sumber daya manusia yang tak hanya unggul dalam
segi akademik, tapi juga moral, agama, dan sosial.

CONTOH ANALISIS SWOT SMP NEGERI 2 SIDAMULIH


Written By Wahyu Munazat on Senin, 24 Juni 2013 | 08.46

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Salah

satu

ciri

sekolah

yang

bermutu

adalah

dapat

merespon

kepercayaan masyarakat artinya, bagaimana pihak sekolah mampu memberikan


pelayanan yang terbaik bagi putra-putrinya sehingga menghasilkan anak-anak
yang bermutu dalam segala hal. Mengingat perkembangan dunia IPTEK serta era
globalisasi di depan mata maka tujuan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai
dengan tuntutan masyarakat maka pihak sekolah perlu melakukan pembenahanpembenahan dalam hal sumber daya manusia yang profesional, manajemen
yang handal, kegiatan belajar-mengajar yang berkualitas, adanya akses terhadap
lembaga pendidikan tinggi baik dalam maupun luar negeri bermutu serta
ketersediaan

sarana-prasana

yang

setaraf

dengan

pendidikan

bertaraf

internasional. Tantangan yang semakin ketat dalam dunia pendidikan khususnya


bagi para pelaksana perencanaan dan manajemen, pengambil kebijakan urusan
pendidikan dalam hal ini pemerintah, harus memiliki alat atau peranti untuk
mengevaluasi sampai sejauh mana pembangunan pendidikan terutama kinerja
layanan pendidikan bagi masyarakat dapat tercapai secara optimal. Salah satu
strategi manajerial yang dikembangkan untuk menjamin sebuah organisasi
(sekolah) memiliki daya tahan dan daya hidup dari masa sekarang dan
berkelajutan sampai masa yang akan datang yaitu dengan melakukan analisis
SWOT.
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor faktor sistematis
untuk merumuskan strategi sebuah organisasi baik perusahaan bisnis maupun
organisasi sosial. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan
kekuatan (Strength), dan Peluang (opportunities), Namun secara bersamaan
dapat meminimalkan kelemahan (weaknessess) dan ancaman (threats). Proses
pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan visi,
misi, tujuan, dan kebijakan program program sebuah organisasi. Dengan
demikian perencana strategis (Strategic planner) harus menganalisis faktor
faktor strategis organisasi (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam
kondisi yang ada saat ini. Model yang paling populer saat ini adalah analisis
SWOT.
Obyek organisasi penelitian yang dipilih oleh pemakalah dalam kajian
makalah ini adalah SMP Negeri 2 Sidamulih. Model analisis SWOT di atas

digunakan untuk menganalisis kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses),


Opportunity (Kesempatan), dan Threats (ancaman) dari Sekolah tersebut.
Sebagai bahan pertimbangan pemilihan sekolah ini adalah melihat sejauh mana
nilai PLUS yang terdapat di sekolah tersebut dan bagaimana kondisi dan situasi
dari sekolah tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut :

Apakah definisi analisis SWOT?

Bagaimana penerapan analisis SWOT di SMP Negeri 2 Sidamulih?

Bagaimana perhitungan analisis SWOT di SMP Negeri 2 Sidamulih?

1.3 Tujuan
Mengetahui definisi analisis SWOT
Mengetahui bagaimana penerapan analisis SWOT di SMP Negeri 2 Sidamulih
Mengetahui dan membahas perhitungan analisis SWOT di SMP Negeri 2
Sidamulih
1.4 Manfaat

Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang analisis SWOT, cara


penerapan dan perhitungan analisis SWOT di organisasi sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi SMP Negeri 2 Sidamulih


2.1.1 Profil Sekolah
NAMA SEKOLAH

: SMP NEGERI 2 SIDAMULIH

ALAMAT
KECAMATAN

: JL. CIJULANG KM 7 CIKANGKUNG


: SIDAMULIH

KABUPATEN
PROVINSI
TELEPON/FAX
e-mail

: CIAMIS
: JAWA BARAT
: (0265) 630925
:-

2.1.2 Visi dan Indikator Visi Sekolah


Visi :
Membentuk Siswa yang Sukses Edukatif Hasil Aktivitas Tuntas.
Visi tersebut mencerminkan profil dan cita-cita sekolah sebagai berikut :
1.

Semua warga sekolah memiliki perilaku yang sesuai dengan norma-norma


agama

2.

berorientasi ke depan dengan memperhatikan potensi kekinian

3.

ingin mencapai keunggulan dalam bidang akademik dan non akademik

4.

mendorong semangat dan komitmen seluruh warga sekolah

5.

mendorong adanya peningkatan ke arah yang lebih baik di bidang Imtaq dan
Ipteks

6.

mengarahkan langkah-langkah strategis (misi) sekolah


Untuk mewujudkannya, sekolah menentukan langkah-langkah strategis yang
dinyatakan dalam misi berikut.

2.1.3 Misi Sekolah


1.

Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan

2.

Meningkatkan kualitas pendidikan

3.

Meningkatkan prestasi siswa sesuai dengan bakat, minat dan kreativitas

4.

Mengembangkan diri sejalan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan


teknologi

5.

Meningkatkan, memelihara, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan


sebagai wujud meningkatnya layanan pendidikan

6.

Mengembangkan dan memacu profesional personal sehingga memperoleh SDM


yang berkualitas.

7.

Meningkatkan disiplin semua personal dan meningkatkan kinerja

8.

Meningkatkan hubungan kerja sama antara sekolah , komite, orang tua siswa
dan masyarakat

9.

Mewujudkan sekolah sebagai wawasan wiyata mandala

10. Meningkatkan kesejahteraan personal


11. Meningkatkan akuntabilitas dan keterbukaan.
12. Mendorong dan membantu anak didik meraih prestasi sesuai dengan potensi
yang dimiliki
13. Menanamkan disiplin semua personil terkait
14. Meningkatkan kegiatan ekstrakurikuler
2.1.4 Strategi
1. Meningkatkan profesionalisme guru
2. Melengkapi sarana dan prasarana
3. menciptakan sekolah sebagai lingkungan belajar

4. Meningkatkan peran steakholder

2.1.5 Tujuan Sekolah Dalam 4 (Empat) Tahun


Pada

tahun

pelajaran

2012/2013 sampai

dengan

tahun

pelajaran

2016/2017 diharapkan :
1.

Memiliki lulusan yang unggul dalam prestasi akademik dan non kademik

2.

Terlaksananya proses pembelajaran yang variatif dan inovatif

3.

Memiliki administrasi kurikulum yang lengkap.

4.

Terwujudnya komitmen dan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan


yangprofesional.

5.

Terwujudnya pengelolaan pendidikan partisipatif, transparan, dan akuntabel. .

6.

Memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan relevan dalam
mendukung PBM

7.
8.

Memiliki sumber dana yang memadai, memenuhi kegiatan sekolah.


Memiliki sistem penilaian beragam (multiaspek) untuk semua mata pelajaran
dan semua jenjang kelas.

9.

Memiliki lingkungan sekolah yang kondusif, tertib, bersih, indah, ramah.

2.1.6 Program Strategis


Dalam rangka mewujudkan program sekolah, maka program strategis
yang dicanangkan diarahkan pada delapan standar nasional pendidikan yang
terkandung di dalam PP No. 19 Tahun 2005. Adapun program strategis yang
dicanangkan adalah sebagai berikut:
Pengembangan kompetensi lulusan di sekolah SMP Negeri 2 Sidamulih sesuai
dengan SNP..

1.

Pengembangan kurikulum yang merupakan penjabaran dari standar isi dan


kurikulum nasional .

2.

Pengembangan

proses

pembelajaran

secara

aktif,

inovatif,

kreatif,

efektif, danmenyenangkan.
3.

Pengembangan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan sesuai SNP

dan

tuntutan global.
4.

Pengembangan sarana dan prasarana atau fasilitas sekolah sesuai dengan


kebutuhan.

5.

Pengembangan dan implementasi pengelolaan/manajemen sekolah sesuai


dengan SNP

6.

Pengembangan dan penggalian sumber dana pendidikan dan implementasinya

7.

Pengembangan dan implementasi sistem penilaian untuk semua mata pelajaran


dan jenjang kelas.

8.

Pengembangan lingkungan sekolah yang kondusif, bersih, indah, dan ramah.


2.2 Perencanaan SWOT
Suatu kegiatan akan dapat dilaksanakan dengan baik dan mencapai
sasaran jika sebelumnya dilakukan suatu perencanaan yang matang. Tidak
terkecuali dalam dunia pendidikan, di mana menyusun perencanaan sebagai
langkah awal akan cukup diperhitungkan guna mencapai tujuan yang ingin
dicapai (Sanjaya, 2009). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai
sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya
masing-masing.
Satu hal yang harus diingat oleh para pengguna analisa SWOT, bahwa
analisa SWOT adalah semata-mata sebuah alat analisa yang ditujukan untuk
menggambarkan situasi yang sedang dihadapi atau yang mungkin akan dihadapi
oleh organisasi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang mampu memberikan
jalan keluar yang tepat bagi masalah masalah yang dihadapi oleh organisasi.
Analisa SWOT bertujuan untuk menemukan aspek-aspek penting dari kekuatan,

kelemahan, peluang dan ancaman pada suatu lembaga sehingga mampu


memaksimalkan kekuatan, meminimalkan kelemahan, mereduksi ancaman dan
membangun peluang.

2.3 Definisi Analisis SWOT


SWOT

adalah

singkatan

dari

Strengths

(kekuatan),

Weakness

(kelemahan), Opportunities (peluang), Threats (tantangan). Analisa SWOT adalah


alat yang digunakan untuk mengidentifikasi isu-isu internal dan eksternal yang
mempengaruhi kemampuan kita dalam memasarkan event kita. Analisa SWOT
adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif
(memberi gambaran).
Analisa ini terbagi atas empat komponen dasar yaitu :
S =

Strength, adalah situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan dari organisasi
atauprogram pada saat ini.
W = Weakness,.adalah situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan dari
organisasi
atau program pada saat ini.

= Opportunity, adalah situasi atau kondisi yang merupakan peluang

di

luar organisasi dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi di masa


depan.
T = Threat, adalah situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang datang
dari luarorganisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa depan.
Dalam dunia pendidikan analisis ini digunakan untuk mengevaluasi fungsi
pengembangan kurikulum, fungsi perencanaan dan evaluasi, fungsi ketenagaan,
fungsi keuangan, fungsi proses belajar mengajar, fungsi pelayanan kesiswaan,
fungsi pengembangan iklim akademik, fungsi hubungan sekolah dengan
masyarakat dan sebagainya dilibatkan. Maka untuk mencapai tingkat kesiapan
setiap fungsi dan faktor-faktornya dilakukanlah analisis SWOT (Depdiknas, 2002)

Analisis SWOT dilakukan dengan maksud untuk mengenali tingkat


kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi sekolah yang diperlukan untuk
mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Berhubung tingkat kesiapan fungsi
ditentukan oleh tingkat kesiapan masing-masing faktor yang terlibat pada setiap
fungsi, maka analisis SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap
fungsi, baik faktor internal maupun eksternal (Depdiknas, 2002).
2.4 Tahap Tahap Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah bagian dari tahap tahap perencanaan strategis
suatu organisasi yang terdiri dari tiga tahap yaitu : tahap pengumpulan data,
tahap analisis, dan tahap pengambilan keputusan.
2.4.1 Tahap pengumpulan data
Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan
data, tetapi juga merupakan suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra analisis
data. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua yaitu data eksternal dan
data internal.
Data eksternal dapat diperoleh dari lingkungan di luar sekolah seperti:
Peran masyarakat
Donatur
Pemerintah
Data internal dapat diperoleh dari dalam sekolah itu sendiri, antara lain:
Laporan keuangan sekolah
Administrasi sekolah
Kegiatan Belajar mengajar
Keadaan guru dan siswa
Fasilitas dan prasarana sekolah
Administrasi guru dan lain lain

Pada tahap ini digunakan 2 model matriks pengumpulan data yaitu:


matriks faktor strategi eksternal dan matriks faktor strategi internal.
Langkah Langkah Menyusun Matriks Faktor Strategi Eksternal (EFAS)
Matriks Faktor Strategi Internal (IFAS)
1.

Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman serta


Kekuatan dan Kelemahan)

2.

Beri bobot masing masing faktor dalam kolom 2, mulai dari 1,0 (sangat
penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting).

3.

Hitung rating (di dalam kolom 3) untuk masing masing faktor dengan
memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) berdasarkan pengaruh faktor
tersebut terhadap kondisi sekolah yang bersangkutan. Pemberian nilai rating
untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating
+4 tetapi jika peluangnya kecil diberi rating +1), sedangkan pemberian rating
untuk ancaman adalah kebalikan dari pemberian rating peluang.

4.

Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating kolom 3 untuk memperoleh faktor
pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing
masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4,0 (outsatnding) sampai 1,0
(poor).

5.

Gunakan kolom 5 untuk memberikan komentar atau catatan mengapa faktor


faktor tersebut dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung.

6.

Jumlahkan

skor

pembobotan

(pada

kolom

4),

untuk

memperoleh

skor

pembobotan bagi sekolah yang bersangkutan. Nilai total ini akan menunjukkan
bagaimana sekolah dalam hal ini SMP Negeri 2 Sidamulih bereaksi terhadap
faktor faktor strategis eksternalnya.
Tabel 1. Perhitungan EFAS SMP Negeri 2 Sidamulih
Faktor Faktor
strategi Eksternal

Bob
ot

Rati
ng

Bobo
t X
Ratin
g

Komentar

PELUANG (O)
1.Dukungan
0,10
pemerintah
daerah
dalam
melengkapi
sarana dan prasarana

0,30

Sekolah
dapat
mengajukan
prososal ke Pemerintah Daerah
Tingkat I dan Tingkat II perlu
dilakukan
untuk
melengkapi
sarana dan prasarana sekolah

2.Kesesuaian
sarana 0,15
dan prasarana sekolah
dengan
tuntutan
potensi daerah dan
per-kembangan IPTEK
serta IMTAK

0,60

Karena sarana dan prasarana


merupakan kekuatan artinya
kerjasama pengadaan sarana
dan prasarana dan pemanfaatan
yang ada harus di kembangkan
terus.

3.Tuntutan
0,15
masyarakat terhadap
lulusan
yang
berkualitas

0,45

Masyarakat
mengharapkan
setelah
selasai
dari SMP ini
diharapkan
dapat melanjutkan
kejenjang yang lebih tinggi dan
berkualitas

4.Sponsor/perusahaan/
yayasan

0,10

0,30

Bantuan
sponsor
guna
pengembangan
sekolah tidak
ada.

5.Dukungan orang tua 0,10


tinggi

0,30

Terbukti
dengan orang
tua
yang mendaftarkananaknya test
masukSMP
Negeri
2
Sidamulih sangat banyak

Faktor Faktor
strategi Eksternal

Bobo
t

Ratin
g

Bobot
X
Ratin
g

ANCAMAN (T)
1.Lembaga pendidikan
sejenis

0,10

0,30

2.Lingkungan sosial
sekolah

0,10

0,30

Komentar

Banyak SMP-SMP lainnya


yang juga di favoritkan di
sekitar lingkungan SMP
Negeri 2 Sidamulih
Memiliki lapangan olah
raga yang belum begitu
memadai dan tempat
parkir yang tidak
cukup luas

3.Pusat Berbagai
kegiatan
4.Persaingan masuk SMP
negeri

0,05

0,15

0,10

0,30

5.Kemajuan Teknologi
Komputer dan
Informatika

0,05

0,15

JUMLAH TOTAL O + T

1,00

Belum banyak kegiatan


yang dipusatkan di SMP ini
Banyak Persaingan lulusan
yang terjadi antar SMPSMP yang di minati dalam
tes masuk SMP negeri
Belum terlalu maksimal
karena belum ada guru
Khusus mengajar TIK di
sekolah ini jadi kemapuan
dalam bersaing dengan
SMP lainnya akan sulit.

3,15

Kesimpulan:
Dapat dilihat dari butir peluang sarana dan prasarana adalah peluang
yang paling besar yang dimiliki oleh SMP Negeri 2 Sidamulih walaupun ini
peluang ini masih jauh dari sekali tertinggi. tetapi haruslah dimanfaatkan secara
maksimal dengan kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan pihak diluar
sekolah, dimana peluang ini akan memperkecil ancaman pada butir lima yaitu
persaingan dalam bidang TIK yang belum begitu baik. Ancaman ini dapat
diminimalisir dengan peluang tersebut dengan cara tidak hanya infrastruktur
saja yang di pehatikan tapi tenaga pengajar yang mumpuni juga harus di penuhi.
Tabel 2. Perhitungan IFAS SMP Negeri 2 Sidamulih
Faktor Faktor
strategi Internal

Bobo
t

Ratin
g

Bobot
X
Ratin
g

Komentar

0,15

0,45

Motivasinya tinggi dengan


mampu mengembangkan
metode pembelajaran dan
siswanya cukup antusias
dalam pembelajaran dan
ekstrakurikuler.

KEKUATAN (S)
1. Motivasi guru dan
siswa

2.
Fasilitas
perpustakaan danloborat
orium

0,15

0,45

Selain kondusif,
kelengkapan buku, dan
alat praktik yang
dimanfaatkan siswa
tersedia dengan cukup
baik

3.
Hubungan yang
baik antara guru dengan
guru ataupun guru
dengan siswa

0,10

0,30

Sangat kondusif baik


dalam kegiatan
ektrakurikuler ataupun
pembelajaran, terutama
dukungan positif siswa

4.
Pendekatan,
metode mengajar guru
yang bervariasi

0,10

0,30

Guru menggunakan
pendekatan, metode
pembelajaran yang
bervariasi

5.

0,10

0,30

Orang tua siswa memiliki


kemampuan membayar
biaya yang relatif mahal

1. Rekrutmen guru
dan staf

0,15

0,45

Rekrutmen guru dan staf


yang terkadang tidak
sesuai dengan kebutuhan
dan sarat dengan unsur
kekeluargaan

2.

0,10

0,30

Sebagian besar
tenagaguru masih
berstatus Honorer
dan mengajar ditempat
lain

Pembiyaan

KELEMAHAN (W)

Keadaan guru

3. Penerimaan siswa
Baru/pindahan

4.

5.

0,10

0,30

Jamsostek

Gedung sekolah

0,10

0,30

0,10

0,30

Peneriman siswa dengan


test, transparan tetapi
masihadanya titipan dari
berbagai pihak.
Tidak adanya
jamsostekbagi guru guru
terutama Guru Honorer.
Sudah banyak
membutuhkan perbaikan

perbaikan.
JUMLAH S + W

1,00

3,45

Kesimpulan :
Dilihat dari bobot masing masing butir Kekuatan dan kelemahan yang
ada pada matrik diatas dapat disimpulkan bahwa antara kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki SMP Negeri 2 Sidamulih ini seimbang baik dari skor dan
rating. Hal ini bisa dijadikan pelajaran untuk pihak sekolah bahwa kekuatan yang
ada kurang begitu dimaksimalkan untuk meminimalisir kelemahan yang ada.
Diharapkan dengan analisis ini sekolah akan terus berusaha dan meningkatkan
kekuatan sekolah dengan seoptimal mungkin agar kelemahan yang ada dapat
teratasi.
2.4.2 Tahap Analisis Data SWOT
Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap
kelangsungan

sekolah,

tahap

selanjutnya

adalah

memanfaatkan

semua

informasi tersebut dalam model model kuantitatif perumusan strategi. Ada


beebrapa Model yang dapat digunakan dalam menyusun analisis SWOT antara
lain:
1.

Matriks TOWS atau Matrik SWOT

2.

Matriks BCG (Boston Consultinfg Group) atau dikenal dengan Growth/Share


Matriks

3.

Matriks Internal Eksternal

4.

Matriks SPACE

5.

Matriks Grand Strategy


Dalam makalah ini penulis akan menggunakan Matriks TOWS atau SWOT,
karena matrik ini akan menggambarkan sevara jelas bagaimana peluang,
ancaman eksternal yang dihadapi sekolah dapat disesuaikan dengan kekuatan
dan kelemahan yang dimilikinya.
Diagram 1 Matrik SWOT

IFAS

STRENGTHS (S)

WEAKNESSES (W)

Motivasi guru dan siswa

Rekrutmen guru
dan staf

Fasilitas
perpustakaandan laborat
orium

EFAS

Hubungan yang baik


antara guru dengan guru
ataupun guru dengan
siswa

Keadaan Guru

Penerimaan siswa
Baru/pindahan

Jamsostek

Gedung Sekolah

Pendekatan, metode
mengajar guru yang
bervariasi
Pembiyaan
OPPORTUNITY (O)

STRATEGI SO

STRATEGI WO

Dukungan pemerintah
daerah dalam
melengkapi sarana dan
prasarana

Terus memotivasi guru


dan siswa dalam KBM
dengan Dukungan
pemerintah dalam
melengkapi sarana
prasarana

Diharapkan kepada
pemerintah untuk tidak
hanya memperhatikan
sarana dan prasarana
tetapi pengadaan
tenaga pengajar yang
Mumpuni juga.

Kesesuaian sarana
dan prasarana sekolah
dengan tuntutan
potensi daerah dan perkembangan IPTEK serta
IMTAQ
Tuntutan
masyarakat terhadap
lulusan yang berkualitas
Sponsor/perusahaan/y
ayasan
Dukungan orang tua
tinggi

Terus melanjutkan
hubungan baik guru dan
siswa di iringi dengan
IMTAQ dan IPTEK .
Terus melakukan
pendekatan dan metode
mengajar yang
bervariasi dan berinovasi
dalam mengajar agar
terus akan menghasilkan
lulusan yang berkualitas.

Adanya kemampuan
orang tua siswa untuk
pembiyaaan sekolah
yang lumayan mahal
dapat dijadikan
donatur dalam hal
perbaikan perbaikan
gedung sekolah

THREATS (T)

STRATEGI ST

STRATEGI WT

Lembaga pendidikan
sejenis

Selalu berusaha dan


bekerja keras untuk
menjadi yang terbaik di
segala bidang baik itu
guru, siswa dalam
rangka persaingan

Menerima tenaga
guru dengan fair
melalu tes masuk jika
ingin bersaing dengan
dunia luar, baik segi
TIK, lulusan dan

Lingkungan sosial
sekolah
Pusat Berbagai

kegiatan

dengan sekolah lain.

Persaingan masuk
SMP negeri

Terus berkreatifitas
dan berinovasi dalam
KBM .

Kemajuan Teknologi
Komputer dan
Informatika

ekstrakurikuler,
skarean kualitas guru
adalah cerminan
kualitas Siswa.

2.5 Tahap Perhitungan Analisis SWOT SMP Negeri 2 Sidamulih


Penentuan Posisi SMP Negeri 2 Sidamulih

Dengan mempergunakan tabel Faktor Internal-Eksternal, dan skala


sangat tinggi, tinggi, sedang, dan rendah, maka kedudukan SMP Negeri 2
Sidamulih apabila dianalisis dengan diagram Cartesius, maka posisinya dapat
diketahui sebagai perhitungan berikut:
IFAS

3,60

EFAS

3,15

Total Skor Kekuatan (S)

1,80

Total Skor peluang (O)

1,95

Total Skor Kelemahan (W)

1,65

Total Skor Ancaman


(T)

1,20

S W (1,80 1,65)

0,15

OT

0,75

Berdasarkan tabel di atas maka nampak bahwa titik koordinat posisi SMP Negeri
2 Sidamulih pada titik-titik sumbu kekuatan 0,15 dan sumbu peluang 0,75. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat dalam diagram cartesius sebagaimana berikut:
Daerah ST

Strengths (S) 1,80

Daerah SO

Threats (T)1,20

DaerahWO

Opportunity(O)1,95

Daerah WT

Weaknesses (W) 1,65

KETERANGAN
AFI

= 3,60 , dengan (S = 1.80) dan (W = 1,65) , jadi (S W =1,80

1,65 = 0,15)
AFE

= 3,15 , dengan (O = 1,95) dan (T = 1,20) , jadi (O P = 1,95 1,20 =

0,75)
Penjelasan:

Dari perhitungan diatas dapat diuraikan beberapa hal yang berhubungan


dengan SWOT diSMP Negeri 2 Sidamulih ini bisa dikatakan memiliki kekuatan
yang masih kurang baik terbukti dari AFI (analisis faktor internal)

berupa

kekuatan dengan poin 1,80 dari skala 1 s/d 4 (1,80) adalah angka yang masih
kurang untuk kategori kekuatan

Poin kelemahan 1,65 adalah angka yang sangat besar untuk kategori
kelemahan. Selisih S dan T ini tidak jauh hanya 0,15. Hal ini dapat dijadikan
acuan bagi pihak sekolah untuk menetapkan kebijakan kebijakan yang baru dan
lebih kreatif guna meningkatkan poin kekuatan sekolah sehingga jauh diatas poin
kelemahan sekolah.

Pada analisis AFE (analisis faktor eksternal) SMP Negeri 2 Sidamulih ini
mempunyai poin peluang 1,95 angka ini jika dilihat dari skala 1 4 masih belum
bisa dikatakan cukup.. Hal ini adalah dapat dijadikan pelajaran bagi sekolah ini

untuk lebih cerdas dalam memanfaaatkan peluang dan mencari peluang lain
dalam rangka memajukan sekolah

Pada poin ancaman 1,20 poin ini adalah angka yang melebihi standar skala
untuk kategori ancaman yaitu jika poin 1 maka ancaman tersebut besar. Dengan
demikian antara peluang dan ancaman hanya beselisih 0,75 masih banyak hal
hal yang harus diusahakan sekolah agar poin peluang bisa lebih besar daripada
poin ancaman.

Keadaan SMP Negeri 2 Sidamulih ini belum bisa dikatakan baik setelah
dilakukan analisis SWOT masih banyak hal hal yang harus di perbaiki guna
memperoleh keadaan yang stabil sehingga dapat mengambil keputusan yang
tepat untuk kemajuan sekolah.
Berikut Skala yang biasa digunakan dalam menganalisis SWOT skala angka 1-4
(Dalam Rangkuti, 2008 : 22 25)
Kekuatan: Poin 1 = Kecil
Poin 4 = Besar
Peluang :

Poin 1 = Kecil
Poin 4 = Besar

Kelemahan : Poin 1 = Besar


Poin 4 = Kecil
Ancaman:

Poin 1 = Besar
Poin 4 = Kecil

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan dan perhitungan analisis SWOT di SMP Negeri 2


Sidamulih diatas dapat disimpulkan:
1.

Analisis SWOT adalah didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan


kekuatan (Strength), dan Peluang (opportunities), namun secaran bersamaan
dapat meminimalkan kelemahan (weaknessess) dan ancaman (threats). Proses
pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan visi,
misi, tujuan, dan kebijakan program program sebuah organisasi.

2.

Analisis SWOT di SMP Negeri 2 Sidamulih dilakukan dengan teknik EFAS dan
IFAS yaitu analisis faktor eksternal dan Faktor Internal sekolah. Kemudian
dijabarkan ke dalam matrik analisis SWOT dan dihitung dengan perhitungan AFE
dan IFE yaitu analisis faktor eksternal dan analisis faktor internal.

3.

Hasil dari tahap analisis tersebut diperoleh hasil sebagai berikut: (S = 1.80) dan
(W = 1,65) , (O = 1,95) dan (T = 1,20). Dan poin poin angka ini masih sangat
jauh dari skala tertinggi SWOT dengan Kriteria :
Kekuatan: Poin 1 = Kecil

Kelemahan : Poin 1 = Besar

Poin 4 = Besar

3.2

Poin 4 = kecil

Ancaman: Poin 1 = Besar

Peluang: Poin 1 = Kecil

Poin 4 = Kecil

Poin 4 = besar

Saran
Diharapkan kepada pihak sekolah SMP Negeri 2 Sidamulih untuk selalu
bekerja keras dalam meningkatkan kekuatan sekolahnya dengan memanfaatkan
peluang peluang yang ada. terus berinovasi, membangun, memperbaiki diri dan
administrasi agar dapat meningkatkan kualitas sekolah ini lebih baik lagi

FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN PRESTASI


MENENGAH ATAS DI KABUPATEN SLEMAN

BELAJAR

SISWA

SEKOLAH

Penulis 1 : Qodriathi Dg Bau (07701251015)


Penulis 2 : Djemari Mardapi
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar siswa Sekolah Menengah Atas
(SMA) di Kabupaten Sleman yang meliputi: (1) pendidikan orang
tua, (2) penghasilan orang tua, (3) perhatian orang tua (4)
motivasi belajar siswa, dan (5) kemampuan mengajar
guru.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif bersifat non
eksperimental dengan meto-de espos fakto (ex post facto).
Teknik cluster sampling digunakan untuk menentukan sekolah
dan simple random sampling digunakan untuk penentuan jumlah
siswa. Populasi penelitian ini seluruh sis-wa kelas XI SMA di
Kabupaten Sleman. Instrumen pengumpulan data yang digunakan
adalah tes dan angket. Validitas instrumen dilakukan
melaluiexpert judgement dan koefisien reliabilitas instrumen
dihitung dengan menggunakan Alpha Chronbach. Teknik analisis
data menggunakan statistik deskrip-tif dan analisis regresi
linear.Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa prestasi belajar
siswa pada kategori sangat tinggi 49%, tinggi 38,46%, sedang
7,69%, rendah 4,56%, dan sangat rendah 0,28%. Hasil analisis
regresi linear menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,793
dengan Rsquare 0,452 yang dapat diartikan bahwa sumbangan
pendidikan orang tua, penghasilan orang tua, perhatian orang
tua, motivasi belajar siswa, dan kemampuan mengajar guru
terhadap prestasi belajar siswa sebesar 45,2 %. Persamaan garis
regresi: = 493,726 + 0,915X1 - 0,059X2 - 0,467X3 + 0,133X4 +
0,586X5. Ber-dasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar sis-wa kelas XI
Sekolah Menengah Atas di Kabupaten Sleman adalah pendidikan
orang tua , motivasi sis-wa, dan kemampuan mengajar guru
sedangkan penghasilan dan perhatian orang tua pada penelitian
ini tidak mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Kata Kunci
prestasi belajar, sekolah menengah atas, analisis regresi
Abstract

This research aims to explore the factors affecting students


achievement in Sleman District which include: (1) parents
education, (2) parents income, (3) parents concern (4) students
learning motivation, and (5) teachers teaching capability.This
non-experimental quantitative research used research ex post
facto method. The population includes all grade XI students of
senior high schools in Sleman District. The cluster sampling
technique was used to determine the schools and the simple
random sampling was used to determine number of students. To
collect data, tests and questionnaires were used. Expert
judgment was used to test the validity of the instruments and
Chronbachs Alpha was used to calculate reliability coefficient of
the instrument. Meanwhile, descriptive statistics and linear
regression analysis were used for data analysis.The descriptive
analysis indicates that the students academic achievement is
categorized into very high 49%, high 38.46%, fair 7.69%, low
4.56%, and very low 0.28%. The linear regression analysis reveals
that there is correlation coefficient of 0.793 with 0.452 R square
which suggests that parents education, parents income, parents
concern, students motivation, and teachers teaching capability
have contributed to the students achievement by 45.2%. The
regression line equation = 493,726 + 0,915X1 - 0,059X2 0,467X3 + 0,133X4 + 0,586X5. The results suggest that the factors
affecting the academic achievement of grade XI senior high
school students in Sleman District are parents education,
students motivation, and teachers teaching capability, while the
factors such as parents income and parents concern do not give
significant effects on the afore-mentioned achievement.

Anda mungkin juga menyukai