Anda di halaman 1dari 6

4.2.

2 Pengujian Jamur pada Gudang Bawah Tanah

4.2.2.1 Pengujian Kultur Botol


4.2.2.1.1 Bahan
a) Potongan kayu
1) Potongan kayu sebaiknya normal tanpa kerusakan dan potongan kayu yang digunakan
untuk pengujian harus berasal dari kayu kering.
2) Potongan kayu harus memiliki urat kayu yang lurus bercabang dua, dan diselesaikan
secara halus dan akurat dengan planing.
3) Jumlah lingkaran tahunan antara 3 sampai 5 per 10mm dan kepadatan kayu ketika dalam
keadaan kering antara 0.25 gr/cm3 dan 0.32 g/cm3.
4) Ukuran kayu sebaiknya 20 mm x 20 mm dan tebal 10 mm. Dengan pertimbangan luas
dan tebal sebaiknya 0.5 mm.
5) Keringkan potongan kayu dengan pengering pada suhu 60o C 2o C selama 48 jam,
tempatkan pada desiccator selama kurang lebih 30 menit, kemudian timbang massanya
dengan ketelitian 0.01 g lalu letakkan didalam desiccator sehingga kayu tidak lembab.
b) Tanah
1) Tanah yang digunakan dalam pengujian sebaiknya tanah hutan strata A atau tanah liat.
Tanah yang diambil dapat lolos ayakan berukuran 4 mm untuk menghilangkan akar
vegetasi, bebatuan, dll.
2) pH (H2O) tanah sebaiknya antara 5.0 hingga 8.0
3) jumlah simpanan air maksimum pada tanah sebaiknya sesuai berikut ini.
letakkan kertas filter kelas 2, diameter 55mm sesuai JIS P 3801 ke corong Buchner
dengan ukuran pas, letakkan tanah pada kertas filter, tepukkan corong Buchner diatas
meja tiga kali, kemudian buang tanah yang berlebihan dan ratakan dengan mikrospatula
pada ujung corong. Tempatkan corong Buchner berisi tanah kedalam gelas kimia 300ml,
tuangkan air deionisasi, A2, yang dijelaskan dalam JIS K 0557 kedalam gelas kimia
sehingga tinggi air menjadi lebih tinggi dibanding posisi kertas filter, dan simpan pada
suhu kamar selama 12 jam. Isap corong Buchner yang telah diambil dari gelas kimia
menggunakan aspirator selama 15 menit dan letakkan pada selembar kain basah.
Sesegera, ambil kira-kira 15 g tanah lembab dan letakkan kedalam gelas kimia 100 ml.
Keringkan dengan pengering pada suhu 105o C 3o C selama 24 jam, tinggalkan di dalam
desiccator selama kurang lebih 30 menit, lalu timbang massa nya dengan ketelitian 0.01
g.
a) Hitung jumlah simpanan air maksimum pada tanah berdasarkan rumus (5), dan
angka hasilnya dibulatkan menjadi bilangan bulat.

H=

m 9m10
X 100 (5)
m10

Dimana,

jumlah maksimum simpanan air (%)

m9

massa tanah sebelum pengeringan (g)

m1o

massa tanah setelah pengeringan (g)

b) Cocokkan kelembaban tanah apakah equivalen dengan nilai maksimum air


simpanan.

c) Kultur Botol
Kultur botol sebaiknya berbentuk silinder botol berlubang dengan sumbatan, dasar botol
100 cm2 dan kapasitas keseluruhan 900 ml (volume).
d) Tanah tempat tinggal jamur
Letakkan tanah kedalam kultur botol yang banyaknya sekitar setengah dari kapasitas botol,
semprotkan air steril dan kocok secukupnya sedemikian sehingga mencapai nilai maksimum
air simpanan, ratakan tanah dan ketuk botol tiga kali di atas meja untuk menghilangkan
kotoran pada tanah sebanyak mungkin.

4.2.2.1.2 Bahan Pengujian (Spesimen)


Spesimen sebaiknya dipisahkan menjadi dua bagian yakni Spesimen yang diperlakukan dan Spesimen
tanpa perlakuan, dan sebaiknya sesuai beberapa poin berikut ini berturut-turut.
a) Spesimen yang diperlakukan
Spesimen sebaiknya seperti berikut ini :
1) Letakkan potongan kayu pada gelas kimia kedalam vacum desiccator dan berikan
tekanan. Pulihkan ke tekanan normal dengan menyerap sampel, dan biarkan untuk
sementara waktu seperti itu. Kemudian lepaskan potongan kayu dari sampel. Bersihkan.
Dan sesegera menimbang massanya dengan ketelitian 0,01g.
2) Hitung tingkat penyerapan sampel sepotong kayu berdasarkan rumus
(6), dan hasilnya, bulatkan bilangan desimalnya menjadi bilangan bulat.

A 2=

m12m11
X 100 (6)
m11

Dimana,

A2

tingkat absorpsi sampel (%)

m9

massa Spesimen 4.2.2.1.1 a) 5) (g)

m1o

massa Spesimen 4.2.2.1.2 a) (g)

3) Pilih untuk mengambil jumlah tertentu bahan yang diperlakukan dari (250 10)% di
tingkat penyerapan sampel sepotong kayu untuk air larut atau sampel emulsi, atau (200
10)% dalam tingkat penyerapan sampel sepotong kayu untuk yang berbasis minyak atau
sampel berbasis minyak larut, dan biarkan pada suhu kamar selama 20 hari
atau lebih.
b) Spesimen tanpa perlakuan, potongan kayu yang ditentukan dalam 4.2.2.1.1 a) dan digunakan
untuk penilaian aktivitas kultur jamur dalam operasi antibakteri.
c) Jumlah Spesimen, Jumlah spesimen sebaiknya 9 di sejumlah pengulangan
per satu sampel untuk spesimen diperlakukan dan spesimen non-diobati.

4.2.2.1.3 Pengujian
Operasi pelapukan sebaiknya dilakukan pada bahan per, sehingga operasi antibakteri harus
dilakukan.
a) Operasi pelapukan
Ambil 9 keping setiap spesimen sebagai satu set, masukkan ke dalam gelas kimia 500 ml
berurutan, tambahkan air deionisasi, A2, ditentukan dalam JIS K 0557 sebanyak 10 kali
jumlah volume spesimen, tenggelamkan spesimen ke bawah permukaan air. Setelah
mengagitasi selama 8 jam dengan memutar rotor 400 r.p.m. sampai 450 r.p.m.
pada 25 C 3 C dengan menggunakan pengaduk magnetik dan eluviat-kan (yang
berarti untuk melarutkan sampel air larut dari spesimen, selanjutnya disebut sebagai
"eluviation".) spesimen. segera hilangkan air pada permukaan spesimen. Berturut-turut,
letakkan dengan hati-hati di mesin pengering pada 60 C 2 C selama 16 jam, dan
uapkan. Ulangi operasi yang disebutkan di atas 10 kali.
Setelah mengeringkan spesimen dengan operasi ,pelapukan diselesaikan dalam sirkulasi
pengering pada suhu 60 C 2 C suhu selama 48 jam, tinggalkan di desikator sekitar
30 menit seperti itu, dan timbang massanya dengan ketelitian 0,01 g.
b) Spesimen dengan operasi pelapukan diselesaikan
Keringkan spesimen dengan operasi pelapukan diselesaikan dalam pengering pada 60 C
2 C selama 48 jam, tinggalkan dalam desikator selama kurang lebih 30 menit, dan
timbang massa dengan ketelitian 0,01 g.
c) Operasi antibakteri
tanam spesimen diperlakukan dan spesimen tanpa-perlakuan di kedalaman sekitar 10 mm
dari tanah berjamur sesuai dengan metode yang ditetapkan dalam 4.2.2.1.1 d) setiap 3
buah untuk masing-masing botol kultur, dan tempatkan botol kultur di tempat bersuhu 26
C 2 C dan Setidaknya 70% kelembaban relatif selama 1 tahun. pasok kelembaban
yang hilang dengan air steril ke botol kultur setiap bulan sehingga dapat menjaga
kelembaban tidur jamur tanah.
d) Spesimen dengan operasi antibakteri diselesaikan
Setelah finishing operasi antibakteri, keluarkan spesimen, hilangkan permukaan tanah,
dan cuci ringan dengan air. setelah dikeringkan di udara selama kurang lebih 24 jam,
keringkan dengan pengering pada 60 C 2 C selama 48 jam, simpan di desikator
selama kurang lebih 30 menit, dan timbang massanya dengan ketelitian 0,01 g.
4.2.2.1.4 Perhitungan
Tingkat penurunan massa masing-masing spesimen dihitung menurut rumus (7) dan nilai ratarata akan diperoleh.
Perhitungan rata-rata (x) dan standar deviasi (8) dari penurunan massa Tingkat harus
dilakukan sesuai dengan JIS Z 9041-1, dan harus dibulatkan ke bilangan bulat.

L2 =

m13m14
X 100 (7)
m 13
L2

Dimana,

tingkat pengurangan massa (%)

m13

massa Spesimen 4.2.2.1.3 b) 5) (g)

m14

massa Spesimen 4.2.2.1.3 d) (g)

4.2.2.1.5 Tes Efektivitas


Ketika tingkat penurunan massa rata-rata Spesimen-tanpa perlakuan diuji dengan spesimendengan perlakuan pada saat yang sama di 4.2.2.1.3 dan hasilnya berada di bawah 10%, maka
pengujian sebaiknya dilakukan lagi.

4.2.2.2 Pengujian Wadah Lapuk


4.2.2.2.1 Bahan
a) Potongan kayu
1) Potongan kayu sebaiknya normal tanpa kerusakan dan ... dan potongan kayu yang
digunakan untuk pengujian harus berasal dari kayu kering.
2) Potongan kayu harus memiliki urat kayu yang lurus bercabang dua, dan diselesaikan
secara halus dan akurat dengan planing.
3) Jumlah lingkaran tahunan antara 3 sampai 5 per 10 mm dan kepadatan kayu ketika dalam
keadaan kering antara 0.25 gr/cm3 dan 0.32 g/cm3.
4) Ukuran kayu sebaiknya 20 mm x 20 mm dan tebal 10 mm. Dengan pertimbangan luas
dan tebal sebaiknya 0.5 mm.
5) Potongan kayu ditimbang massanya dengan ketelitian 0,1 g di udara kering.
b) Tanah
1) tanah yang akan digunakan untuk pengujian harus disiapkan dengan mencampur
Kagutsuchi (7) atau vermiculite (8) dengan tanah liat menurut 4.2.2.1.1 b) 1) atau pasir
laut(2).
2) Kadar air tanah diatur ke (50 5)% dari maksimum retensi air yang diperoleh di 4.2.2.1.1
b) 3).
Catatan

(7) Kagutsuchi sebaiknya butiran halus untuk hortikultura.


(8) Vermiculites sebaiknya yang ditentukan dalam JIS A 5009 atau
hortikultura yang setara dengan ini.

c) Wadah lapuk
Wadah lapuk sebaiknya terbuat dari plastik atau beton, dilengkapi pembuangan, tidak cacat
selama periode pengujian dan tidak mengandung bahan kimia apapun yang dapat
mempengaruhi tanah yang akan digunakan untuk pengujian. Wadah lapuk sebaiknya harus
berukuran lebar 0,6 m, dan panjang 0,8 m dan ketinggian 0,5 m dalam dimensi minimum,
dan memiliki ruang yang cukup mampu menerima spesimen pada saat yang sama.

Untuk tujuan mengendalikan kelembaban tanah, permukaan wadah lapuk sebaiknya


dibungkus dengan menggunakan film plastik dan lain-lain.
d) Tanah tempat tinggal jamur
Untuk tujuan memfasilitasi penggantian kelebihan air pada wadah lapuk, kerikil berdiameter
10 mm sampai 20 mm, diletakkan hingga ketinggian setidaknya sekitar 30 mm dari bawah
wadah, tanah disesuaikan pada 4.2.2.2.1 b) diletakkan pada bagian atas lapisan hingga
ketinggian minimal 0,3 m dan permukaan tanah harus dihaluskan. Hal ini memungkinkan
untuk menjaga aktivitas pembusukan Jamur dengan menambahkan kayu busuk, tanah humus
dan lain-lain diambil dari lapangan.
4.2.2.2.2 Spesimen
Spesimen harus dipisahkan menjadi dua kelas yakni spesimen-dengan perlakuan dan
spesimen-tanpa perlakuan, dan sesuai aturan berikut.
a) Spesimen yang diperlakukan
Spesimen sebaiknya seperti berikut ini :
1) Letakkan potongan kayu pada gelas kimia kedalam vacum desiccator dan berikan
tekanan. Pulihkan ke tekanan normal dengan menyerap sampel, dan biarkan untuk
sementara waktu seperti itu. Kemudian lepaskan potongan kayu dari sampel. Bersihkan.
Dan sesegera menimbang massanya dengan ketelitian 0,01g.
2) Hitung tingkat penyerapan sampel sepotong kayu berdasarkan rumus
(8), dan hasilnya, bulatkan bilangan desimalnya menjadi bilangan bulat.

C1 =

m16m15
(8)
V 1 X 1000

Dimana,

C1

jumlah absorpsi sampel (kg/m3)

m16

massa Potongan kayu pada 4.2.2.2.1 a) 5) (g)

m16

massa Spesimen-dengan perlakuan 4.2.2.2.2 a) 1) (g)

V1

Volume potongan kayu 4.2.2.1.1 a) 4) (m3)

3) Pilih untuk mengambil spesimen-dengan perlakuan dari 700 kg/m3 atau lebih dalam
jumlah sampel terserap dari potongan kayu untuk air larut atau sampel emulsi, atau
560 kg / ms atau lebih dalam jumlah sampel terserap dari potongan kayu untuk berbasis
minyak atau sampel yang larut dalam minyak, dan biarkan pada suhu kamar selama 20
hari atau lebih.
b) Spesimen-tanpa perlakuan, potongan kayu yang ditentukan dalam 4.2.2.2.1 a) dan digunakan
untuk penilaian aktivitas jamur tanah dalam percobaan wadah lapuk.
c) Jumlah Spesimen, Jumlah spesimen sebaiknya 5 di sejumlah pengulangan
per satu sampel untuk spesimen-dengan perlakuan dan spesimen-tanpa perlakuan.

4.2.2.2.3

Pengujian

Setelah operasi pelapukan dilakukan pada spesimen, Operasi antibakteri harus dilakukan.
a) Operasi pelapukan
Lima buah dari setiap spesimen dibuat satu set, dan ditempatkan dalam gelas kimia
2000ml. tambahkan air deionisasi, A2, ditentukan dalam JIS K 0557 sebanyak 10 kali
jumlah volume spesimen, tenggelamkan spesimen ke bawah permukaan air. Setelah
mengagitasi selama 8 jam dengan memutar rotor 400 r.p.m. sampai 450 r.p.m.
pada 25 C 3 C dengan menggunakan pengaduk magnetik dan eluviat-kan (yang
berarti untuk melarutkan sampel air larut dari spesimen, selanjutnya disebut sebagai
"eluviation".) spesimen. segera hilangkan air pada permukaan spesimen. Berturut-turut,
letakkan dengan hati-hati di mesin pengering pada 60 C 2 C selama 16 jam, dan
uapkan. Ulangi operasi yang disebutkan di atas 10 kali.
Setelah mengeringkan spesimen dengan operasi ,pelapukan diselesaikan dalam sirkulasi
pengering pada suhu 60 C 2 C suhu selama 48 jam, tinggalkan di desikator sekitar
30 menit seperti itu, dan timbang massanya dengan ketelitian 0,01 g.
b) Operasi antibakteri
tanam spesimen diperlakukan dan spesimen tanpa-perlakuan berdampingan di kedalaman
sekitar 80 mm secara mendalam secara vertikal di membujur arah spesimen di jamur
tanah wadah lapuk yang telah diatur pada suhu 25 C hingga 30 C. Tambahkan air pada
permukaan tanah dengan merata agar tidak kering berlebihan selama periode operasi ini,
dan menjaga (50 5)% dalam jumlah retensi air maksimum seperti yang ditunjukkan
pada 4.2.2.2.1 b) 2) .
c) Pengujian Kadar Pembusukan
Spesimen dengan-perlakukan dan tanpa-perlakuan secara berkala diambil setidaknya dua
kali setahun, dan kondisinya di dalam tanah akan diamati dan dievaluasi sesuai dengan
standar berikut ini
0: Suara
1: Sebagian kecil membusuk
2: Sepenuhnya sedikit busuk
3: busuk sebagian parah pada kondisi di 2
4: busuk seluruhnya parah
5: bentuk yang hancur disebabkan oleh pembusukan
4.2.2.1.4 Perhitungan
Nilai rata-rata kadar pembusukan spesimen dengan-perlakuan dan spesimen tanpa-perlakuan
diperoleh pada saat pengamatan berkala. Ketika kadar pembusukan rata-rata spesimen
dengan-perlakuan melebihi 2.5, tahun yang berlalu seharusnya diambil sebagai tahun awet
spesimen.
4.2.2.1.5 Tes Efektivitas
Ketika rata-rata tingkat kehancuran di bawah 2.5, bahkan jika dua tahun telah berlalu dari
waktu pemasangan spesimen tanpa-perlakuan, pengujian sebaiknya dilakukan lagi.