Anda di halaman 1dari 16

PEKI4202

Kimia Dasar 2
Marheni, dkk
3 sks / modul 1-9: ill.; 21 cm
ISBN : 9796897369
DDC : 540
Copyright (BMP) Jakarta: Universitas Terbuka, 2007
Tinjauan Mata Kuliah
Mata kuliah Kimia Dasar 2 merupakan kelanjutan dari Kimia Dasar 1. Seperti
halnya Kimia Dasar 1, mata kuliah ini diajarkan untuk memberi bekal
pengetahuan, sikap, dan keterampilan kepada Anda, sehingga Anda mampu
belajar lebih lanjut dalam bidang sains dan mengajarkan sains pada tingkat
sekolah menengah pertama dan pada tingkat sekolah umum (SMU).
Mata kuliah ini mempunyai bobot 3 sks dan terdiri dari sembilan modul, yaitu.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul
Modul

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Larutan
Kinetika Kimia
Kesetimbangan Kimia
Kesetimbangan Larutan Dalam Air
Koloid
Elektrokimia
Kimia Unsur
Kimia Inti
Hidrokarbon: Alkohol, Eter, Aldehida Dan Keton

Supaya memudahkan Anda mempelajari mata kuliah ini, modul-modul yang ada
pada Kimia Dasar 1 perlu dikuasai. Untuk dapat dengan mudah Anda
mempelajari kesembilan modul dalam Kimia Dasar 2 ini, kami menyarankan
kepada Anda untuk menyimak materi yang disajikan secara berurutan, mulai
modul pertama sampai modul terakhir.
Belajar melalui modul memerlukan kemandirian, kedisiplinan, keteguhan hati
dan kejujuran Anda. Apabila Anda belum menguasai separuhnya, perlu Anda
ulangi bagian yang belum dikuasai itu, sehingga dasar belajar Anda lebih
mantap.
Dalam mempelajari modul ini Anda diharapkan:
1. membaca dan meresapi uraian dengan cermat.
2. mengerjakan latihan yang dikerjakan.
3. mendiskusikan hasil kerja latihan ini dengan teman yang mengambil mata
kuliah yang sama atau dengan tutor yang membimbing mata kuliah ini.
4. mendiskusikan pokok materi dengan teman peserta . e. mengerjakan tes
formatif.
Selain informasi yang ada dalam modul ini, Anda diharapkan membaca pula
buku yang ada dalam daftar pustaka yang tercantum disetiap akhir modul.
Pergunakanlah waktu Anda sebaik mungkin sehingga dapat selesai pada
waktunya. Selamat belajar, semoga sukses!
MODUL 1: Larutan
Kegiatan Belajar 1: Larutan
Rangkuman
Secara fisik campuran ada yang homogen dan heterogen. Campuran yang
homogen disebut larutan. Komponen larutan yang jumlahnya sedikit disebut zat
terlarut, dan komponen yang jumlahnya lebih banyak disebut pelarut. Bila
jumlah zat yang dilarutkan (zat terlarut) banyak dikatakan larutan pekat, sedang
bila zat terlarutnya sedikit disebut larutan encer. Air disebut pelarut universal
sebab air dapat melarutkan bermacam-macam zat.
Sifat melarutnya zat-zat dikenal dengan sebutan "partikel sejenis melarutkan
partikel sejenis atau like dissolves like", artinya pelarut yang polar akan lebih
mudah melarutkan zat yang polar, sedangkan pelarut yang nonpolar lebih
mudah melarutkan zat yang nonpolar juga. Larutan-larutan padat seperti aliase
dibuat karena sifat-sifatnya yang menguntungkan diantaranya titik leburnya,
kekerasan, hantaran listrik dan tahan korosi.
Kegiatan Belajar 2: Konsentrasi Larutan
Rangkuman
1. Molaritas (M) = jumlah mol zat telarut dalam 1 liter larutan

2. Molalitas ( m) = jumlah mol zat terlarut dalam 1000 g pelarut


3. Persen massa = jumlah gram zat terlarut tiap 100 gram larutan
4. Persen volumeume = jumlah mL zat terlarut dalam 100 mL larutan
Kegiatan Belajar 3: Sifat Koligatif Larutan
Rangkuman

Daftar Pustaka
* Brady, J.E.. (1990). General Chemistry. 5th.ed. New York : John Willey & Sons.
* Brown, Theodore L ; LeMay H,Eugene ; Bursten , BE (1997). Chemistry : The
Central Science. 7 th ed. Int. Ed. London : Prentice-Hall International, Inc.
* Chang, Raymond. (1991). Chemistry. 4th.ed. New York : McGraw Hill Inc.
* Harvey, David. (2000). Modern Analytical Chemistry. Boston. McGraw Hill Co.
* Oxtoby, D.W.; Gillis H.P.; Nachtrieb NH. (2001). Prinsip-Prinsip Kimia Modern.
Edisi 4 jilid 1. Alih bahasa Suminar S. Achmadi. Jakarta : Erlangga
* Sastrawijaya, T dkk. (1999). Kimia Dasar II. PIPA 3334. Jakarta : Universitas
Terbuka.
* Sastrohamidjojo, H. (2001). Kimia Dasar. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
* Silberberg, Martin S. (2003). Chemistry: The Molecular Nature of Matter an
Change. 3rd ed.New York McGraw Hill Co.

MODUL 2: Kinetika Kimia


Kegiatan Belajar 1: Laju Reaksi
Rangkuman
Laju reaksi adalah ukuran dari laju berkurangnya konsentrasi pereaksi atau laju
terbentuknya hasil reaksi (produk). Ada 2 macam laju reaksi yaitu laju rata-rata
yaitu laju reaksi dalam interval waktu tertentu dan laju sesaat yaitu laju pada
saat tertentu. Laju reaksi sesaat tidak sama besar dari waktu ke waktu, pada
awal reaksi laju ini paling besar dan selama reaksi berlangsung terus berkurang
sampai akhirnya mencapai harga nol di akhir reaksi.
Ada beberapa cara untuk menentukan laju reaksi yang tidak terlampau cepat.
Analisis kimia secara volumetri merupakan cara yang paling sederhana baik dari
segi prosedur maupun peralatannya. Persamaan laju reaksi ditentukan dengan 2
cara yaitu cara laju awal dan cara integral.
Orde reaksi merupakan bilangan yang menyatakan hubungan konsentrasi
dengan laju reaksi. Reaksi yang umum dan sederhana biasanya mempunyai orde
pertama, selain itu kita kenal reaksi orde kedua dan ketiga dan beberapa reaksi
yang berorde nol bahkan orde pecahan.

Kegiatan Belajar 2:Waktu Paruh Reaksi


Rangkuman
Waktu paruh yaitu waktu yang diperlukan agar konsentrasi pereaksi berkurang
menjadi setengah dari semula. Untuk reaksi orde pertama waktu paruhnya tidak
ditentukan oleh konsentrasi awal zat pereaksi tetapi untuk reaksi yang berorde
dua, tiga dan sebagainya ditentukan oleh konsentrasi awal pereaksi.
Reaksi kimia umumnya melalui beberapa tahap, dimana setiap tahap disebut
reaksi elementer yang merupakan akibat tumbukan atom, ion atau molekul. Laju
reaksi elementer sama dengan hasil kali konsentrasi pereaksi dipangkatkan
koefisiennya. Mekanisme reaksi merupakan perincian serangkaian reaksi
elementer. Mekanisme reaksi rantai terdiri dari tiga rangkaian reaksi elementer,
yaitu tahap inisiasi, tahap propagasi dan tahap terminasi.
Kegiatan Belajar 3:Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
Rangkuman
Dasar teoritis dari kinetika kimia (laju reaksi, mekanisme reaksi dan sebagainya)
mencakup pemikiran penting yaitu reaksi kimia terjadi sebagai akibat tumbukan
antara molekul-molekul pereaksi. Hanya tumbukan yang mempunyai energi yang
cukup efektif menghasilkan reaksi.
Peningkatan suhu reaksi dapat meningkatkan fraksi molekul yang mempunyai
energi aktivasi sehingga reaksi dipercepat. Untuk mempercepat terjadinya reaksi
dapat juga dilakukan dengan meningkatkan konsentrasi dari pereaksi dan
penambahan katalis.
Katalis dalam peranannya sebagai pemercepat reaksi dapat menurunkan energi
aktivasi, selain itu katalis juga berperan dalam menyajikan reaksi alternatif
sesuai dengan yang diharapkan terutama dalam industri-industri. Katalis yang
dapat memperlambat terjadinya suatu reaksi, katalis semacam ini dinamakan
inhibitor.
Daftar Pustaka
* Alberty RA dan Daniels F., 1984. Kimia Fisika, Alih bahasa NM Surdia dkk, Jilid 2
Edisi 5, Jakarta : Erlangga,.
* Atkins P.W., 1986. Physical Chemistry, Oxford University Press,
* Brady, Gerard E.H., 1986. General Chemistry: Principles and Structure, 4th
edition, New York : John Willy and Son,
* Bucat, 1984. Elements of Chemistry, Vol. 2, : Australia Academy of Science,
Camberra City.
* Hiskia dkk, 1987. Materi Pokok Kimia II, Jakarta : Karunika,
* Houston, Paul L., 2003. Chemical Kinetics and Reaction Dynamics, Singapore :
McGraw-Hill Book Co.,
* Keenan, 1984. Kimia Untuk Universitas, Jilid 1, Jakarta : Erlangga,
* Lavine, Ira N., 2003. Physical Chemistry, 5th edition, Singapore : McGraw-Hill
Book Co.,

* Oxtoby, Gills, Nachtrieb, 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern, Jakarta : Erlangga,


* Petrucci Ralph H., 1987. Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan Modern, alih bahasa
Suminar, Jilid 2 Edisi 4, Jakarta : Erlangga
* Sastrawijaya, Tresna dkk., 1999. Kimia Dasar II PIPA 3334, Jakarta : Penerbit
Universitas Terbuka,
* Silberberg, Martin S., Chemistry : The Molecular Nature of Matter and Change,
3rd edition, New York : McGra

MODUL 3: Kesetimbangan Kimia


Kegiatan Belajar 1: Keadaan dan Hukum Kesetimbangan Kimia
Rangkuman
Kegiatan Belajar 2: Asas Le Chatelier dan Sistem Kesetimbangan dalam Industri
Rangkuman
Daftar Pustaka
* Alberty RA dan Daniels F., 1984. Kimia Fisika, Alih bahasa NM Surdia dkk, Jilid 2
Edisi 5, Jakarta : Erlangga.
* Atkins P.W., 1987. Principles of Physical Chemistry, London : Longman.
* Brady, Gerard E.H., 1986. General Chemistry: Principles and Structure, 4th
edition, New York : John Willy and Son.
* Keenan, 1984. Kimia Untuk Universitas, Jilid 1, Jakarta : Erlangga.
* Oxtoby, Gills, Nachtrieb, 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern, Jakarta : Erlangga.
* Petrucci Ralph H., 1987. Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan Modern, alih bahasa
Suminar, Jilid 2 Edisi 4, Jakarta : Erlangga.
* Syukri S., 1999. Kimia Dasar, Jilid III, Bandung : Penerbit ITB.

MODUL 4: Kesetimbangan Larutan Dalam Air


Kegiatan Belajar 1: Larutan Asam dan Larutan Basa
Rangkuman

Kegiatan Belajar 2: Hidrolisis


Rangkuman

Kegiatan Belajar 3: Kesetimbangan Kelarutan


Rangkuman

Kegiatan Belajar 4: Titrasi Asam Basa


Rangkuman
1. Titrasi adalah prosedur untuk menentukan kadar suatu zat dengan
pengukuran volume larutan zat kedua yang konsentrasinya sudah diketahui
(larutan standar). Titik ekivalen adalah keadaan dimana jumlah mol asam sama
dengan jumlah mol basa titik akhir titrasi : keadaan dimana terjadi perubahan
warna indikator yang menjadi tanda berakhirnya titrasi tersebut.
2. Indikator asam basa adalah zat yang dapat memberikan perubahan warna
dalam suasana asam maupun basa. Rentang antara 2 nilai pH dimana terjadi
perubahan warna indikator disebut trayek pH indikator.
3. Dalam titrasi meskipun reaksinya merupakan reaksi penetralan tetapi hasil
reaksi tidak selalu merupakan larutan yang netral. Larutan akan bersifat basa
bila yang bereaksi adalah asam lemah dan basa kuat. Demikian juga sebaliknya
larutan akan bersifat asam bila yang bereaksi adalah asam kuat dengan basa
lemah.
Daftar Pustaka
* Agus,Akhril. 1984. Mengerti Kimia.Bandung : Bumi Siliwangi Mengabdi.
* Brady, J.E.. 1990. General Chemistry. 5th.ed. New York : John Willey & Sons.
* Brown, Theodore L ; LeMay H,Eugene ; Bursten , BE : 1997. Chemistry : The
Central Science. 7 th ed. Int. Ed. London : Prentice-Hall International, Inc.
* Chang, Raymond. 1991. Chemistry. 4th.ed. New York : McGraw Hill Inc.
* Harvey, David. 2000. Modern Analytical Chemistry. Boston. McGraw Hill Co.
* Oxtoby, D.W.; Gillis H.P.; Nachtrieb NH. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Edisi
4 jilid 1. Alih bahasa Suminar S. Achmadi. Jakarta : Erlangga
* Sastrawijaya, T dkk. 1999. Kimia Dasar II. PIPA 3334. Jakarta : Universitas
Terbuka.
* Sastrohamidjojo, H. 2001. Kimia Dasar. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
* Silberberg, Martin S. 2003. Chemistry: The Molecular Nature of Matter an
Change. 3rd ed.New York McGraw Hill Co.

MODUL 5: Koloid
Kegiatan Belajar 1:Koloid dan Sifatnya
Rangkuman
Berdasarkan ukuran partikelnya, dikenal tiga macam sistem yaitu (a) larutan, (b)
koloid dan (c) suspensi. Fase dispersi adalah zat/ partikel-partikel yang sangat
halus yang menyebar keseluruh medium dispersinya.
Beberapa sifat fisik dari koloid adalah luas permukaan, gerak Brown, efek
Tyndall, adsorbsi dan muatan listrik sistem koloid.

Gerak Brown adalah gerakan yang disebabkan tumbukan antara partikel-partikel


dalam sistem koloid.
Efek Tyndall adalah gejala pemantulan dan penghamburan cahaya oleh sistem
koloid.
Adsorbsi adalah peristiwa penyerapan suatu molekul atau ion pada permukaan
suatu zat.
Kegiatan Belajar 2:Penggolongan Koloid
Rangkuman
Berdasarkan wujud fasa dispersi dan mediumnya, ada delapan macam sistem
koloid (bukan 9), karena semua gas bisa bercampur dengan gas membentuk
campuran yang homogen atau larutan. Sol adalah sistem koloid dimana fasa
dispersi-nya berupa zat padat dan mediumnya berbentuk cair. Ada dua macam
sol yaitu sol liofob dan sol liofil. Liofob artinya tidak suka cairan medium
sedangkan liofil suka cairan mediumnya. Bila medium yang dipakai adalah air
dinamakan hidrofob dan hidrofil.
Aerosol adalah sistem koloid yang berkenaan dengan gas sebagai salah satu
komponennya.
Kegiatan Belajar 3:Pembuatan dan Pemurnian Koloid
Rangkuman
Pembuatan koloid ada dua macam yaitu cara kondensasi dan cara dispersi.
Cara kondensasi dilakukan dengan cara mengubah partikel yang kecil menjadi
partikel yang berukuran koloid. Sedangkan cara dispersi dilakukan dengan
menghaluskan partikel-partikel yang besar menjadi partikel yang berukuran
koloid.
Ada 3 macam pembuatan koloid dengan cara kondensasi adalah reaksi
pengendapan, reaksi hidrolisis dan reaksi redoks
Yang termasuk cara dispersi adalah cara mekanik, peptisasi dan cara Bredig.
Pemurnian koloid dilakukan dengan mengambil ion yang berlebih yang disebut
dialisis. Untuk mempercepat proses pemurnian dilakukan dengan proses
elektrodialisis.
Daftar Pustaka
* Brady, JE. 1990. General Chemistry. 5th ed. New York: John Wiley & Sons.
* Chang, Raymond. 1991. Chemistry. 4th ed. New York : Mc Graw Hill Inc.
* Masrun, Rio Sunarya. Ilmu Pengetahuan Alam : Sistem Koloid. Bandung : Proyek
Balai Pendidikan Guru.
* Petrucci,Ralph H. 1987. Kimia Dasar : Prinsip dan Terapan Modern, Edisi ke 4,

jilid 2 alih bahasa Suminar Achmadi. Jakarta: Erlangga


* Sastrawijaya, A.Tresna dkk. 1999. Kimia Dasar II. PIPA 3334. Jakarta: Universitas
Terbuka.

MODUL 6: Elektrokimia
Kegiatan Belajar 1: Penyetaraan Persamaan Reaksi Redoks
Rangkuman
Dalam reaksi redoks, reaksi oksidasi dan reduksi terjadi bersamaan. Reaksi
redoks terdiri dari dua reaksi yaitu oksidasi dan reduksi yang masing-masing
disebut setengah reaksi. Pada reaksi oksidasi selalu terjadi pelepasan elektron
yang diikuti dengan kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan pada reaksi reduksi
terjadi penerimaan elektron yang diikuti dengan penurunan bilangan oksidasi.
Apabila pada reaksi redoks unsur yang mengalami oksidasi sekaligus juga
mengalami reduksi maka reaksi redoks itu disebut reaksi autoredoks atau
disproporsionasi.
Penyetaraan persamaan redoks terdiri dari dua macam setengah reaksi, yang
diselesaikan melalui 6 tahap. Tahap terakhir merupakan penjumlahan dari kedua
setengah reaksi dengan cara menghilangkan jumlah elektron pada kedua
setengah reaksi.
Bobot satu ekivalen oksidator atau reduktor adalah jumlah banyaknya zat
tersebut yang dapat menerima atau melepaskan 1 mol elektron. Dalam reaksi
redoks 1 ekivalen oksidator bereaksi dengan 1 ekivalen reduktor.
Kegiatan Belajar 2: Sel Elektrokimia
Rangkuman
Ada 2 jenis sel elektrokimia, yaitu :
1. Sel Galvani atau sel Volta, pada sel ini terjadi perubahan dari energi kimia
menjadi energi listrik.
2. Sel Elektrokimia, pada sel ini terjadi perubahan dari energi listrik menjadi
energi kimia.
Sel elektrokimia mempunyai dua elektroda yaitu anoda dan katoda, anoda
tempat berlangsungnya reaksi oksidasi dan katoda tempat berlangsungnya
reaksi reduksi.
Pada sel Volta, anoda adalah elektroda negatif dan katoda adalah elektroda
positif. Sel Volta yang menggunakan elektroda Zn-Cu disebut sel Daniel.
Listrik terjadi karena adanya aliran elektron. Pada sel Volt, elektron dapat
mengalir karena adanya perbedaan potensial listrik antara kedua elektroda.
Jembatan garam pada sel Volta berfungsi untuk menyetimbangkan muatan

listrik.
Potensial elektroda yang diukur pada suhu 25C dan konsentrasi larutan 1 Molar
disebut Potensial Elektroda Standar. Ada 2 jenis potensial elektroda yaitu
potensial Oksidasi dan potensial Reduksi. Untuk setiap harga dari E oksidasi =
E reduksi.
Potensial listrik yang dihasilkan oleh suatu sel disebut potensial sel atau GGL
(Gaya Gerak Listrik). Untuk mengukur GGL suatu sel dapat dilakukan dengan
menggunakan Voltmeter dan Potensiometer. Pengukuran potensial sel atau GGL
suatu sel dengan potensiometer dapat dilakukan dengan menggunakan sel
weston sebagai sel standar. Suatu reaksi redoks dapat berlangsung apabila
harga E sel positif.
Elektrolisis adalah peristiwa penguraian suatu elektrolit oleh arus listrik searah.
Berbeda dengan sel Volta, pada sel elektrolisis anoda adalah elektroda positif
dan katoda adalah elektroda negatif. Reaksi yang terjadi pada katoda dan anoda
pada sel elektrolisis tergantung pada jenis elektroda dan jenis kation dan anion
yang terdapat dalam larutan elektrolit.
Hubungan antara massa zat yang terjadi dan jumlah listrik yang mengalir dalam
larutan selama elektrolisis dinyatakan dengan hukum Faraday :
1. Massa zat yang terbentuk pada katoda berbanding lurus dengan jumlah listrik
yang digunakan dalam sel elektrolisis.
2. Massa zat yang dihasilkan oleh arus listrik yang sama dari beberapa sel yang
berbeda sebanding dengan bobot ekivalen masing-masing zat.
Aspek termodinamika terdapat hubungan antara energi bebas Gibbs dengan
potensial sel dan kespontanan proses dalam elektrokimia. Dari energi bebas
Gibbs dapat diturunkan persamaan Nernst dan dapat ditentukan tetapan
kesetimbangan elektrolit.
Kegiatan Belajar 3: Aplikasi Elektrokimia
Rangkuman
Dalam sel elektrokimia dapat terjadi perubahan energi listrik menjadi energi
kimia dan perubahan dari energi kimia menjadi energi listrik. Pada prinsipnya
ada dua model sel yaitu sel primer dan sel sekunder.
Sel primer yaitu sel yang bersifat tidak reversibel, artinya zat-zat yang digunakan
untuk menghasilkan listrik tidak dapat dibentuk kembali menghasilkan zat
semula sehingga sel tidak dapat digunakan lagi, misalnya baterai dan sel
merkuri.
Sel sekunder yaitu sel yang bersifat reversibel, artinya zat-zat yang digunakan
untuk menghasilkan listrik dapat dibentuk kembali sehingga sel dapat digunakan
kembali, misalnya sel aki (sel timbal dan sel nikel kadmium).

Proses penyepuhan menggunakan prinsip elektrolisis, terjadi pemindahan atom


logam dari anoda ke katoda. Untuk melapisi benda dengan logam yang
diinginkan, maka sebagai anoda dipakai logam tersebut dan sebagai elektrolit
adalah larutan garamnya.
Daftar Pustaka
* Fremantle, M.H., Tidy J.G., 1988. Essential Science Chemistry, London : Oxford
University.
* Hiskia Akhmad, 1990. Elektro Kimia, Bandung : Jurusan Kimia FMIPA, ITB.
* ---------------, 1983. Elemets of Chemistry, Vol.1, Bucat : Superising Editor,
Australia Academy of Science,
* James E. Brady, Gerard E. Humiston, 1986. General Chemistry, 4th Edition,
Singapore : John Willy & Sons.
* Oxtoby, Gills, Nachtrieb, 1999. Prinsip-prinsip Kimia Modern, Edisi 4 / Jilid 1,
Jakarta : Erlangga.
* Ralph H. Peltrucci - Suminar, 1989. Kimia Dasar Prinsip Dan Terapan Modern,
Edisi 4 / Jilid III, Jakarta : Erlangga,

MODUL 7: Kimia Unsur


Kegiatan Belajar 1: Kimia Logam
Rangkuman
Logam alkali sangat reaktif, jadi tidak terdapat dalam keadaan bebas di alam,
sangat lunak dan mudah diiris. Logam alkali bereaksi dengan oksigen
membentuk tiga macam oksida yaitu oksida normal, peroksida, dan superoksida.
Semua logam alkali bereaksi hebat dengan air dan merupakan reduktor kuat.
Logam alkali tanah kurang reaktif jika dibandingkan dengan logam alkali, dapat
bereaksi dengan air dan asam dan garamnya memberikan reaksi nyala.
Penting untuk diketahui bahwa tidak semua logam terdapat dalam keadaan
bebas di alam, tetapi dalam bentuk senyawa logam. Untuk memperoleh logam
dari senyawa logam (bijih logam) perlu diolah sehingga didapatkan logam yang
murni. Ada empat tahap yang penting dalam pemurnian logam, yaitu proses
pemekatan, pemanggangan, reduksi dan pemurnian dengan cara destilasi atau
dengan cara elektrolisis. Campuran dua macam logam atau lebih yang telah
menjadi satu mempunyai sifat logam berubah dari sifat dasar penyusun logam
tersebut dinamakan paduan logam atau alloy.
Kegiatan Belajar 2: Kimia NonLogam
Rangkuman
Oksigen merupakan unsur yang amat penting bagi kehidupan. Reaksi oksigen
dengan unsur/zat dikenal dengan reaksi oksidasi. Oksigen merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan terjadinya api. Api terjadi karena adanya bahan,

panas dan oksigen, ketiga faktor dari segitiga api ini merupakan prinsip
pemadam kebakaran. Bentuk alotrop dari oksigen adalah ozon, berguna untuk
menyaring sinar ultra violet dari sinar matahari.

Belerang mempunyai dua bentuk alotrop yaitu belerang rombik dan monoklin.
Belerang dipergunakan sebagai bahan obat, proses vulkanisasi karet dan
pembuatan asam sulfat.

Gas mulia helium, neon, argon, kripton dan xenon terdapat di udara dalam kadar
yang sangat kecil. Gas mulia sukar bereaksi dengan unsur lain, pada umumnya
digunakan untuk mengisi lampu listrik. Radon digunakan sebagai salah satu
radiasi untuk pengobatan kanker.
Kegiatan Belajar 3: Kimia Unsur Transisi
Rangkuman
Unsur-unsur transisi adalah unsur-unsur yang mempunyai subkulit d yang belum
terisi oleh elektron, mempunyai sifat-sifat khusus yang berbeda dengan logam
alkali dan alkali tanah. Besi memegang peranan penting dalam industri, salah
satu jenis besi yang terkenal adalah baja. Besi mudah mengalami korosi. Kobalt,
nikel dan tembaga banyak digunakan dalam pembuatan paduan logam seperti
alnico, monel, kuningan dan perunggu. Senyawa Cu yang penting adalah terusi,
mempunyai sifat dapat mematikan kuman. Seng merupakan logam yang tahan
karat, karena itu dipergunakan sebagai pelapis besi untuk mencegah korosi. ZnS
bersifat antiseptik karena itu dipakai sebagai bahan penggunaan salep. Logam
Hg berupa cairan pada suhu biasa mudah menguap, uapnya bersifat racun,
dapat membentuk amalgama dengan berbagai logam. Logam perak, emas dan
platina banyak dipergunakan untuk perhiasan. Platina dipergunakan terutama
sebagai katalis pada proses pengapian kendaraan bermotor (busi).
Daftar Pustaka
* Brady, J.E. , Humiston, G.E. 1982. General Chemistry, John Wiley and Sons, New
York.
* Cotton dan Wilkinson, 1989. Kimia Anorganik Dasar, Terjemahan, Sahati
Suharto, Universitas Indonesia , UI Press, Jakarta.
* Cotton Albert F., Geoffrey Wilkinson, Paul l. Gaus, 1995. Basic Inorganic
Chemestry, Third Edition, by Yhon Weley & Sons, Inc Singapore,
* Freemantle, N.H. , Tidy J.G. 1988. Essential Science Chemistry, Oxford
University, London
* Martin S. Silberberg, 2003Chemistry The Moleculer Nature of Matter and
Change, Third Edition, Published by Mc Graw-Hill, a business unit of the Mc GrawHill Companies Inc., New York,

MODUL 8: Kimia Inti


Kegiatan Belajar 1: Kestabilan Inti
Rangkuman

Kegiatan Belajar 2: Keradioaktifan dan Peluruhan Radioaktif


Rangkuman

Kegiatan Belajar 3: Reaksi Inti dan Penggunaan Radioisotop


Rangkuman

Daftar Pustaka
* Brady, J.E.. 1990. General Chemistry. 5th.ed. New York : John Willey & Sons.
* Brown, Theodore L ; LeMay H,Eugene ; Bursten , BE : 1997. Chemistry : The
Central Science. 7th ed. Int. Ed. London : Prentice-Hall International, Inc.
* Chang, Raymond. 1991. Chemistry. 4th.ed. New York : McGraw Hill Inc.
* Irfan Anshory dan Hiskia Achmad, 1998. Acuan Pelajaran Kimia SMU, Jakarta:
Erlangga
* Oxtoby, D.W.; Gillis H.P.; Nachtrieb NH. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Edisi
4 jilid 1. Alih bahasa Suminar S. Achmadi. Jakarta : Erlangga
* Petrucci,Ralph H. 1987. Kimia Dasar : Prinsip dan Terapan Modern, Edisi ke 4,
jilid 2 alih bahasa Suminar Achmadi. Jakarta: Erlangga
* Sastrawijaya, A.Tresna dkk. 1999. Kimia Dasar II. PIPA 3334. Jakarta :
Universitas Terbuka.
* Silberberg, Martin S. 2003. Chemistry: The Molecular Nature of Matter an
Change. 3rd ed.New York McGraw Hill Co.

MODUL 9: Hidrokarbon: Alkohol, Eter, Aldehida dan Keton


Kegiatan Belajar 1: Senyawa Hidrokarbon : Alkana, Alkena dan Alkuna
Rangkuman

Kegiatan Belajar 2: Senyawa Karbon yang Mengandung Oksigen


Rangkuman

Kegiatan Belajar 3: Senyawa Hidrokarbon : Aldehida dan Keton


Rangkuman

Tata nama aldehida dan keton menurut IUPAC pada prinsipnya sama dengan tata
nama pada hidrokarbon (alkana) sebagai induk dengan mengganti akhiran 'na'
pada alkana dengan 'nal' bagi aldehida dan 'non' untuk keton. Aldehida dapat
digunakan sebagai bahan dasar untuk menghasilkan senyawa organik lainnya
karena aldehida dan keton dapat mengalami bermacam-macam reaksi seperti
reaksi adisi dengan air dan pereaksi Grignard, reaksi oksidasi, reaksi reduksi dan
aldolkondensasi. Aldehida dan keton secara besar-besaran dapat diperoleh
melalui oksidasi alkohol primer menghasilkan aldehida dan oksidasi alkohol
sekunder menghasilkan keton. Aldehida banyak sekali digunakan dalam industri
sehingga dibuat secara besar-besaran di laboratorium.
* formaldehida dibuat melalui oksidasi metanol dengan menggunakan katalis
logam Ag pada temperatur 600-700oC
* etanol dibuat dengan mengoksidasi etene menggunakan katalis logam
Paladium dan Tembaga pada temperatur 100-300oC
* aceton dihasilkan dari oksidasi 2-propanol atau oksidasi propena dengan katalis
Paladium dan Tembaga.
Beberapa contoh aldehida dan keton yang banyak digunakan adalah :
* Formalin larutan 40% formaldehida digunakan untuk pengawet specimen.
* Paraformaldehida yang merupakan polimer formaldehida dengan fenol untuk
bahan insulator listrik.
* Etanal (asetaldehida) adalah bahan dasar untuk menghasilkan asam asetat.
* Aseton adalah senyawa keton yang penggunaannya cukup luas seperti pelarut
resin, plastik dan lak.
Daftar Pustaka
* Hart, H. 1987. Kimia organik, suatu kuliah singkat. Edisi ke-6. Terj. S.Achmad,
Penerbit Erlangga,Jakarta, 414 hlm.
* Meislich, E.K., H. Meislich, J. Sharefkin, 1993. 3000 solved problems in organic
chemistry, Vol 1 & 2. McGraw-Hill, New York, 687 & 687 hlm.
* R.J. Fessenden, J.S. Fessenden, 1990. Kimia organik. Edisi ke-3, Jilid 1 & 2. Terj.
A.H.Pujaatmaka, Penerbit Erlangga, Jakarta, 590 hlm.
* Brady, J.E., & G.E.Humiston, 1986. General Chemistry, principle and structure.
John Willey & Sons, New York, 897hlm.
* Redmore, F.H., 1979. Fundamentals of organic chemistry, Prentice Hall, New
Yersey, 686 hlm.
* Petrucci, R.H., 1989. Kimia dasar, prinsip dan terapan modern. Edisi ke-4. Terj.
S. Achmad, Penerbitan Erlangga, Jakarta, 365.

Latar Belakang
Banyak cara untuk menentukan kadar senyawa yang terkandung dalam suatu bahan.
Salah satu cara adalah dengan proses titrasi. Dalam titrasi itu sendiri ada bermacam-macam,
salah satunya adalah asidimetri dan alkalimetri.
Titrasi asam basa ini sangatlah berguna dalam bidang industri. Contoh
penggunaannya adalah dalam bidang pertanian, untuk pembuatan pupuk kalium klorida yang
dalam pembentukkannya diperlukan MgO yang dihitung kadarnya sebagai penguji dengan
proses titrasi. Dalam industri makanan digunakan untuk penentuan kadar iodium, sakarin,
kadar Zn dan Fe dalam tahu yang dibungkus dengan plastik dan dalam industri kosmetika
yaitu dalam penentuan kadar zat warna AZO yang berbahaya.
Mengingat banyaknya fungsi aplikasi dari percobaan ini, sudah seharusnya
percobaan ini dilakukan. Percobaan ini dapat meningkatkan keahlian praktikan sebagai
mahasiswa Teknik Kimia yang akan berhubungan langsung dengan bahan industri. Jadi,
keahlian dalam penentuan kadar suatu bahan dengan titrasi harus dikuasai praktikan.
1.2 Dasar Teori
Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah satu dari empat
golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis titrimetri. Asidimetri dan
alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam
yang berasal dari asam lemah dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas
atau asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah dengan suatu
basa standar (alkalimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan bersenyawanya ion hydrogen dan ion
hidroksida

untuk

membentuk

air

(Basset, 1994).
Suatu larutan standar adalah larutan yang mengandung eagensia dengan bobot yang
diketahui dalam suatu volume tertentu suatu larutan. Larutan standar primer adalah suatu
larutan yang konsentrasinya dapat langsung ditentukan dari berat bahan sangat murni yang
dilarutkan dan volume yang terjadi, suatu zat standar primer harus memenuhi persyaratan,
yaitu sebagai berikut:
1. Zat harus mudah diperoleh, mudah dimurnikan dan juga mudah dikeringkan (sebaiknya
pada suhu 1100+- 1200C).
2. Zat harus tidak berubah dalam udara selama penimbangan. Kondisi-kondisi ini
mengisyaratkan bahwa zat tidak boleh higroskopis, tidak pula dioksidasi udara atau

dipengaruhi karbon dioksida. Standar ini juga harus dijaga agar komposisinya tidak berubah
saat penyimpanan.
3. Zat harus dapat diuji terhadap zat pengotor dengan uji-uji kualitatif atau uji-uji lain yang
kepekaannya diketahui (jumlah total zat-zat pengotor, umumnya tidak boleh melebihi 0, 01-0,
02 ).
4. Zat harus mempunyai ekivalen yang tinggi, sehingga sesatan penimbangan dapat
diabaikan.
5. Zat harus mudah larutpada kondisi-kondisi dalam mana ia digunakan.
6. Reaksi dengan larutan standar itu harus soikiometri dan praktis sekejap. Sesatan titrasi
harus dapat diabaikan atau mudah ditetapkan dengan cermat dengan
eksperimen.
Zat-zat yang biasa digunakan sebagai standar primer adalah reaksi asam basa natrium
karbonat (Na2CO3), natrium tetrabonat (Na2B4O7), kalium hydrogen iodat KH(IO3)2, asam
klorida bertitik didih konstan. Sedangkan standar sekunder adalah zat yang dapat digunakan
untuk standarisasi dan yang kandungan zat aktifnya telah ditemukan dengan pembandingan
dengan suatu standar primer (Basset, 1994).
Dalam suatu titrasi larutan yang harus dinetralkan misalnya, asam yang dimasukkan
kedalam wadah atau tabung. Larutan lain, yaitu basa, dimasukkan kedalam buret kemudian
kedalam asam mula-mula cepat kemudian tetes demi tetes sampai titik setara dari titrasi
tersebut dicapai. Salah satu usaha untuk mencapai titik setara adalah dengan melalui
perubahan warna dari indicator asam basa. Titik pada titrasi dimana indicator berubah warna
dinamakan dengan titik akhir indicator. Yang diperlukan adalah memadankan titik akhir
indicator dengan titik akhir penetralan. Ini dapat dicapai apabila kita dapat menemukan
indicator yang sesuai dengan perubahan warnanya terjadi dalam selang pH yang sesuai
dengan titik setara (Petrucci, 1987).
Indikator asam basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk flouresen
atau kekeruhan pada suatu range atau trayek pH tertentu. Indikator asam basa terletak pada
titik ekivalen dan ukuran dari pH. Zat-zat indicator dapat berupa asam ataupun basa-larut,
stabil dan menunjukkan perubahan warna yang kuat serta biasanya juga adalah zat-zat
organic. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer electron. Berbagai indicator
mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada
range atau trayek pH yang berbeda (Khopkar, 1990).
Metil jingga adalah garam Na dari suatu asam sulponic dimana didalam suatu larutan
banyak terionisasi dan dalam lingkungan alkali anionnya memberikan warna kuning

sedangkan suasana asam metal jingga bersifat sebagai basa lemah dan mengambil ion H +,
terjadi suatu perubahan struktur dam memberikan warna merah dari ion-ionnya.
Indikator adalah suatu zat yang warnanya berbeda-beda sesuai dengan konsentrasi ion
hydrogen. Asam atau basa indicator yang tidak terdisosiasi mempunyai warna yang berbeda
dengan hasil disosiasinya. Contohnya fenolftalein yang tergolong asam yang sangat lemah,
dalam keadaan yang tidak terionisasi tersebut tidak berwarna. Jika dalam lingkungan basa,
fenolftalein akan terionisasi lebih banyak dan memberikan warna yang terang karena adanya
anionnya
(Keenan, 1994).
Indikator fenolftalein yang sudah dikenal merupakan asam diprotik dan tidak
berwarna. Indicator ini terurai dahulu menjadi bentuk tidak berwarnanya dan kemudian,
dengan hilangnya proton kedua, menjadi ion dengan system terkonjugat, menghasilkan warna
merah. Metal oranye, indicator lainnya yang banyak digunakan, merupakan basa dan
berwarna kuning dalam molekulnya. Penambahan proton menghasilkan kation yang berwarna
merah muda (Underwood, 1998).
Pemilihan indicator untuk titrasi, harus diingat bahwa titik ekivalen titrasi yang mana
anda memiliki campuran dua zat yang perbandingannya tepat sama, anda tidak pelak lagi
membutuhkan pemilihan indicator yang perubahan warnanya mendekati titik ekivalen.
Indicator yang dipilih bervariasi dari satu titrasi ke titrasi yang lainnya.
Asam kuat vs Basa kuat
Jika anda menggunakan fenolftalein, anda akan menitrasi sampai fenolftalein tak
berwarna (pada pH 8, 8) karena itu adalah titik terdekat untuk mendapatkan titik ekivalen
(Anonim, 2008).

1.3

Metodologi Percobaan

1.3.1

Alat dan Deskripsi Alat


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adala:

Erlemeyer 250mL dan 100mL


Neraca Analitik
Buret asam basa 50mL
Labu Ukur 250mL
Corong
Pipet gondok 10mL
Gelas Arloji

- Sudip
- Gelas Ukur 50mL
- Pipet Tetes
- Gelas Beker 250, 500, dan 1000mL
- Kompor listrik
- Statip
- Propipet