Anda di halaman 1dari 14

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/282243381

UJI KETELITIAN DATA KEDALAMAN PERAIRAN


MENGGUNAKAN STANDAR IHO SP-44 DAN UJI
STATISTIK (Studi Kasus : Daerah Pantai Barat
Aceh)
CONFERENCE PAPER SEPTEMBER 2014

READS

234

5 AUTHORS, INCLUDING:
Nadya Oktaviani
Badan Informasi Geospasial
3 PUBLICATIONS 0 CITATIONS
SEE PROFILE

Available from: Nadya Oktaviani


Retrieved on: 23 February 2016

UJI KETELITIAN DATA KEDALAMAN PERAIRAN MENGGUNAKAN STANDAR IHO SP-44


DAN UJI STATISTIK
(Studi Kasus : Daerah Pantai Barat Aceh)

N. Oktaviani1, J. Ananto2, B. J. Zakaria3, L. R. Saputra4, M. Fatimah5


1

Alumni Teknik Geodesi UGM


Staff Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai, Badan Informasi Geospasial
nadya.oktaviani@big.go.id
2,3,4,5
Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai, Badan Informasi Geospasial
Jl.Raya Jakarta Bogor km 46 Cibinong 16911 Bogor

ABSTRAK
Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai BIG merupakan salah satu wadah yang berwenang
dalam menyajikan peta dasar, salah satunya Peta Lingkungan Pantai (LPI). Salah satu elemen data yang
harus tersaji dalam peta tersebut berupa data kedalaman laut. Data kedalaman hasil survei batimetri
merupakan data yang utama untuk mengetahui bentuk topografi dasar laut. Kedudukan peta LPI yang
menjadi peta dasar tentunya menjadi hal yang sangat penting dilihat dari ketelitian data yang digunakan.
Kajian ini dilakukan untuk menguji ketelitian data pengukuran yang dilakukan PKLP-BIG. Data yang
digunakan adalah survei batimetri untuk pembuatan Peta LPI skala 1:25.000 di daerah Pantai Barat
Aceh tahun 2011. Pengujian dilakukan dengan menggunakan perhitungan dari standar IHO sp-44 dan
menggunakan uji nilai t-student berdasarkan hitungan statistik terhadap nilai pengukuran pada lajur
utama dan lajur silang survei batimetri. Hasilnya, uji pertama menggunakan standar IHO, sebanyak 95%
data kedalaman tersebut baik sesuai batasan toleransi kesalahan. Uji kedua menggunakan perhitungan
statistik dengan mencari nilai t didapatkan data keseluruhan masuk ke dalam toleransi. Kesimpulan yang
diperoleh akusisi data kedalaman di daerah tersebut mempunyai hasil perolehan data yang baik.

Kata kunci: Peta LPI, Batimetri, IHO-sp44

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Seiring perkembangan zaman, kebutuhan akan data spasial kelautan semakin besar. Hal ini
karena kegiatan perencanaan pembangunan dan pengambilan keputusan tidak hanya
berkonsentrasi di wilayah darat, melainkan sudah mejalar hingga wilayah perairan. Oleh karena
itu pemetaan batimetri menjadi keperluan mendasar guna tersedianya informasi spasial di bidang
kelautan (Soeprapto, 2001).
Berdasarkan amanat pada UU IG No. 4 Tahun 2011, BIG memiliki kewenangan penuh dalam
menyediakan informasi geospasial dasar termasuk informasi dasar mengenai kelautan dan pantai.
Penyajian Informasi Geospasial Dasar di Bidang kelautan dilimpahkan kepada Pusat Pemetaan
Kelautan dan Lingkungan Pantai. Hal ini mewajibkan penyediaan peta-peta tersebut harus baik
Conference on Geospatial Information Science and Engineering
Yogyakarta, 20 September 2014

dan dapat dipertanggung jawabkan. Peta yang baik dihasilkan dari data yang baik pula. Untuk itu
perlu adanya uji ketelitian hasil akusisi data yang didapatkan ketika survei hidrografi yang
dilakukan. Sampai saat ini survei hidrografi dan pembuatan Peta LPI dan LLN baru mencakup
hingga skala 1:25.000 pada beberapa wilayah tertentu. Salah satu kegiatan survei hidrografi yang
utama adalah survei batimetri. Kegiatan tersebut untuk mengetahui kedalaman suatu perairan
sehingga dapat menggambarkan bentuk permukaan dasar perairan wilayah yang di survei. Survei
hidrografi dapat dilakukan dengan beberapa metode dan teknologi. Penerapan teknologi akustik
di perairan terus dikembangkan dengan tujuan ilmiah seperti untuk penentuan posisi di dasar
perairan dan tingkat keakuratan nilai pengukuran. Hydro-acoustic merupakan suatu teknologi
pendeteksian bawah air dengan menggunakan perangkat akustik seperti echosounder.
Kegiatan survei hidrografi untuk pembuatan peta LPI dan LLN yang dilaksanakan di Pusat
Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai selama ini menggunakan perangkat akustik
echosounder singlebeam (SBES). Perangkat ini biasanya telah dilengkapi dengan GPS internal
yang digunakan untuk penentuan posisi dan display yang menampilkan profil dasar perairan
yang dikonversi dari data kedalaman. Salah satu yang mempengaruhi ketelitian pengukuran
kedalaman adalah kerapatan titik sounding. Informasi kedalaman yang salah mengakibatkan
informasi yang salah pada kontur peta laut dan bila digunakan pihak lain akan merugikan. Uji
ketelitian dilakukan menggunakan data olahan hasil akusisi batimetri dan data pendukung
lainnya kemudian dikaitkan dengan orde pengukuran yang digunakan. Dari hasil perbandingan
toleransi ketelitian dan hasil olahan dapat diketahui data yang digunakan termasuk baik atau
tidak.
Dalam pembuatan peta LPI dan LLN perlu mengikuti suatu standar yang telah ada agar data
yang didapatkan dapat dipertanggung jawabkan. Salah satu standar yang digunakan untuk survei
hidrografi adalah Special Publikasi 44 oleh International Hydrography Organization (IHO) dan
SNI 7646-2010. Didalamnya terdapat standar ketelitian berdasarkan jenis orde pengukuran yang
digunakan. Dengan begitu dapat diuji data dari survei hidrografi apakah mencapai standar
ketelitiannya atau tidak.

I.2. Tujuan

Conference on Geospatial Information Science and Engineering


Yogyakarta, 20 September 2014

Menguji ketelitian kedalaman hasil pemeruman sesuai dengan standar IHO yang terdapat
didalam Kerangka Acuan Kerja teknis di PKLP. Uji ketelitian ini menggunakan persamaan pada
IHO SP-44 yang dibandingkan dengan uji statistik menggunakan rentang deviasi dengan tingkat
kepercayaan 95%.

II.

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:


1. Studi literatur
2. Uji Ketelitian menggunakan metode standar deviasi statistik.

Conference on Geospatial Information Science and Engineering


Yogyakarta, 20 September 2014

Mulai

Survey Batimetri

Data kedalaman
(Batimetri)

Reduksi Data Kedalaman


(Pasut, sifat fsis air laut,
SVP, dll)

Data
kedalaman
terkoreksi

Sampel data
kedalaman

Uji Ketelitian menurut IHO


SP-44 2008
a2 + (b x d)2

Error
value

Uji ketelitian data menggunakan


menggunakan kurva normal 2
sigma

best
value

best
value

Error
value

Analisis
perbandingan

Kesimpulan

Selesai

Gambar II.1. Diagram alir pekerjaan

II.1. Studi Pustaka


II.1.1. Pengukuran Kedalaman (posisi vertikal)
Batimetri berasal dari bahasa Yunani yakni Bathy- yang berarti kedalaman dan metry- yang
berarti ilmu ukur sehingga batimetri/bathimetry diartikan sebagai ilmu pengukuran dan pemetaan
topografi dasar laut. Pada awalnya pengukuran kedalaman dilakukan secara konvensional yakni

Conference on Geospatial Information Science and Engineering


Yogyakarta, 20 September 2014

menggunakan rambu penduga. Namun metode ini hanya mampu mencapai kedalaman tertentu
selain itu nilai hasil pengukuran yang didapat belum cukup akurat.
Seiring kemajuan teknologi maka kegiatan survei laut terutama untuk pemeruman semakin
mudah. Prinsip kerja alat pemeruman yakni menggunakan prinsip getaran yang menghasilkan
gelombang bunyi (Gambar 1.).

Gambar II.2. Geometri waktu tranduser (Djunarsjah, 2005)

Berdasarkan persamaan berikut, kedalaman merupakan fungsi dari selang waktu:


(II.1)
dimana:
h

= kedalaman yang diukur

= cepat rambat gelombang akustik dalam air (1500 m/s)

= waktu tempuh gelombang akustik saat dipancarkan dan dipantulkan kembali hingga

diterima oleh tranduser.

II.1.2. Hal-hal yang mempengaruhi kedalaman air


b.1. Sound Velocity Probe
SVP didapat dari penggunaan alat SVS sensor yang memiliki keterkaitan dengan 5
parameter, yaitu: kedalaman laut (m), kecepatan suara (m/s), temperatur (C),
Conference on Geospatial Information Science and Engineering
Yogyakarta, 20 September 2014

salinitas (0/00) dan konduktivitas (mmho/cm) dengan mengabaikan parameter yang


lain (tekanan, densitas dll). Kegiatan ini dilakukan sebelum melakukan kalibrasi dan
pemeruman dengan pengamatan sifat fisis air laut. Kesalahan pada kedalaman hasil
ukuran terjadi karena perambatan gelombang mengalami rintangan sehingga
harus dikoreksi.
b.2. Sifat fisik air laut
Suhu dan salinitas dipengaruhi oleh perubahan kedalaman, sehingga densitasnya pun
mengalami perubahan dengan semakin dalam kedalamannya maka semakin
besar densitasnya.

Akibatnya

dari

perubahan

densitas

ini

maka

terjadi

perubahan cepat rambat gelombang akustik, sehingga pada saat gelombang akustik
melintasi lapisan-lapisan air laut maka gelombang tersebut mengalami pemantulan
dan pembiasan .
b.3. Pasang surut air laut
Pengamatan pasut bertujuan untuk mencatat atau merekam gerakan vertikal
permukaan air laut yang terjadi secara periodic. Gerakan periodic ini disebabkan oleh
gaya tarik menarik benda lagit yang berada disekitar bumi seperti matahari dan bulan
(Djunarsah, 2005). Mengukur permukaan air sesaat akan membantu dalam
perhitungan untuk menentukan tinggi permukaan air rata-rata yang akan dijadikan
referensi kedalaman (Chart Datum), serta dapat mengkoreksi hasil pengukuran
kedalaman yang mengacu pada bidang referensi vertikal.
b.4. Pergerakan kapal
Posisi kapal pada saat berada di permukaan air laut tidaklah stabil. Hal ini karena air
laut bersifat dinamis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Untuk menentukan nilai
kedalaman hasil pengukuran, tentunya perlu melakukan koreksi terhadap besarnya
nilai pergerakan kapal. Adapun bentuk pergerakan kapal adalah berupa pergerakan
roll yang bergerak pada sumbu x, pitch berupa gerakan rotasi kapal pada sumbu y,
sedangkan yaw merupakan gerakan kapal sepanjang sumbu Z. untuk mendeteksi
pergerakan kapal ini biasanyan menggunakan alat Motion Reference Unit (MRU).

II.1.3. Pengukuran posisi Horizontal


Conference on Geospatial Information Science and Engineering
Yogyakarta, 20 September 2014

Survei batimetri pada pekerjaan ini tidak hanya menghasilkan nilai kedalaman, akan
tetapi juga menghasilkan posisi horizontal dari nilai kedalaman tersebut yang
direpresentatifkan dalam koordinat X,Y,Z.
Ada beberapa metode dalam penetuan posisi horizontal (X,Y) titik-titik pemeruman. Pada
survei ini metode pengukuran GPS yang digunakan adalah metode GPS Absolut.

Gambar II.3. Penentuan posisi secara absolute (Abidin, 2007)


Penentuan posisi absolut menggunakan data pseudorange yang berisi 4 parameter yang
harus ditentukan yaitu paramaeter X, Y, Z dan parameter kesalahan jam receiver GPS.
Meskipun penentuan posisi ini belum cukup teliti, namun untuk pemetaan skala besar
hingga skala sedang metode ini cukup ideal digunakan dalam menentukan posisi.

II.1.4. Pemeruman
Salah satu kegiatan survei hidrografi dalam pembuatan peta LPI dan LLN adalah
pemeruman. Sebelum pelaksanaan pemeruman harus dibuat rencana lajur utama dan lajur
silang. Lajur utama sedapat mungkin harus tegak lurus garis pantai dengan interval
maksimal satu cm pada skala survey. Lajur silang diperlukan untuk memastikan ketelitian
posisi pemeruman dan reduksi pasut. Jarak antar lajur silang adalah 10 kali lebar lajur
Conference on Geospatial Information Science and Engineering
Yogyakarta, 20 September 2014

utama dan membentuk sudut antara 600 sampai 900 terhadap lajur utama. Lajur silang
tambahan bisa ditambahkan pada daerah yang direkomendasikan atau terdapat keraguraguan. Jika terdapat perbedaan yang melebihi toleransi yang ditetapkan (sesuai dengan
ordenya) harus dilakukan uji lanjutan dalam suatu analisis secara sistematik terhadap
sumber- sumber kesalahan penyebabnya, (SNI Survei Hidrografi).

Tabel II.1. Ketelitian pengukuran parameter survei hidrografi.


(IHO Standards for Hydrographics Surveys 5th Edition, 2008. Special Publication No. 44)
Kelas

No

Deskripsi

Akurasi horisontal

Orde Khusus
2m

Alat bantu navigasi tetap


dan kenampakan
berhubungan

Orde 1

Orde 2

Orde 3

5 m + 5% dari

20 m + 5% dari

150 m + 5%

kedalaman

kedalaman rata-

dari kedalaman

rata-rata

rata

rata-rata

2m

2 m

5m

5m

10 m

20 m

20 m

20 m

10 m

10 m

20 m

20 m

10 m

10 m

20 m

20 m

a = 0,25 m

a = 0,5 m

a = 1,0 m

a = 1,0 m

b = 0,0075

b = 0,013

b = 0,023

b = 0,023

yang
dengan

navigasi.
3

Garis pantai

Alat

bantu

navigasi

terapung
5

Kenampakan topografi

Akurasi Kedalaman

Catatan:
1. a dan b adalah variabel yang digunakan untuk menghitung ketelitian kedalaman.
2. alat pemeruman harus dikalibrasi sebelum digunakan.

Batas toleransi kesalahan antara kedalaman titik fix perum pada lajur utama dan lajur
silang dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
(II.2)
dimana :
Conference on Geospatial Information Science and Engineering
Yogyakarta, 20 September 2014

a = kesalahan independen (jumlah kesalahan yang bersifat tetap)


b = faktor kesalahan kedalaman dependen (jumlah kesalahan yang bersifat tidak tetap)
d = kedalaman terukur
(b x d) = kesalahan kedalaman yang dependen (jumlah semua kesalahan kedalaman yang
dependen)

II.1.5. Distribusi normal


Distribusi normal merupakan salah satu alat dalam membuat analisis. Grafiknya
disebut dengan kurva normal. Kurva normal merupakan suatu polygon yang dlicinkan
dimana sumbu ordinatnya menunjukkan nilai frekuensi dan sumbu absisnya
menunjukkan nilai variabel. Bentuk kurva normal adalah simetris, sehingga luas rata- rata
ke kanan dan ke kiri masing- masing mendekati 50 %.
Daerah kurva normal merupakan ruangan yang dibatasi daerah kurva dengan
absisnya. Luas daerah kurva normal biasa dinyatakan dalam persen atau proporsi. Dengan
kata lain luas daerah kurva normal adalah seratus persen, apabila dinyatakan dalam
persen, dan apabila dinyatakan dengan proporsi, luas daerah kurva normal adalah satu
(Sudjana, 2005)

Gambar II.4. Kurva normal dengan distribusi nilai pada area kurva

Adapun bentuk distribusi kurva normal ditentukan oleh tiga variable, yaitu:
1.

x, yakni nilai dari distribusi variable


Conference on Geospatial Information Science and Engineering
Yogyakarta, 20 September 2014

2.

, yakni mean dari nilai-nilai distribusi variable

3.

/s, standar deviasi dari nilai-nilai distribusi variable


untuk mendapatkan nilai standar deviasi dapat menggunakan persamaan dibawah ini:
(II.3)

Keterangan :
s = standar deviasi
xi = nilai x ke-i
= rata-rata
n = ukuran sampel

Sifat-sifat yang membentuk distribusi normal:


a. Simetris yaitu mean distribusi terletak ditengah dengan luas bagian sebelah kiri sama
dengan bagian sebelah kanan (berbentuk lonceng) sehingga total daerah di bawah kurva
sebelah kiri = total daerah di bawah kurva sebelah kanan = 0,5
b. 68% populasi terletak diantara 1s (satu standard deviasi)
c. 95% populasi terletak diantara 1,96s (dua standard deviasi)
d. 99,9% populasi terletak diantara 3s (tga standard deviasi)

II.2. Pengambilan Data


Data pemeruman diambil pada saat survey batimetri menggunakan alat echosounder
yang sesuai dengan SNI 7646-2010. Survei dilakukan pada tahun 2011 disekitar pantai
Barat Aceh. Data yang digunakan sebagai analisis uji ketelitian diambil 55 sampel data
yang terdapat pada lajur utama dan lajur silang pemeruman. Adapun data pemeruman ini
digunakan untuk pemetaan LPI skala 1:25.000.

Conference on Geospatial Information Science and Engineering


Yogyakarta, 20 September 2014

Gambar : Lokasi data pemeruman

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


a. Analisis menggunakan persamaan uji ketelitian pada IHO SP 44 Tahun 2008 dan SNI
7646-2010 dengan tingkat kepercayaan 95%.
Dengan formula

menghasilkan nilai toleransi rata-rata 1,195 meter.

Sehingga ada dua nilai yang tidak masuk toleransi yakni pada data ke-33 dan data ke-54
dengan selisih masing-masing sebesar 2,000 meter dan 2,010 meter.
b. Analisis dengan persamaan statistik memperhitungkan standar deviasi.
c. Data selisih lajur utama dan lajur silang menghasilkan nilai rata- rata -0,0703 m dan
standard deviasi sebesar 0,56 m. Data tersebut kemudian dibuat enam kelas interval dan
menghasilkan kurva normal yang ditunjukkan pada Gambar III.1. Dengan menggunakan
pembatas daerah kurva normal sebesar dua sigma atau setara dengan tingkat kepercayaan
95% terdapat dua data yang harus tidak masuk rentang standar deviasi, yaitu data dengan
selisih -2 m dan 2,01 m.

Conference on Geospatial Information Science and Engineering


Yogyakarta, 20 September 2014

Tabel III.1. Kelas Interval


Nomor

kelas interval

frekuensi

-2

-1,33167

-1,33167

-0,66333

-0,66333

0,005

30

0,005

0,673333

16

0,673333

1,341667

1,341667

2,01

Jumlah

Gambar III.1. Kurva Normal

55

Tabel III.2. Hasil pembatasan daerah kurva normal


Tingkat kepercayaan

max

min

Data terbuang

satu sigma

68%

0,496806

-0,637533

10

dua sigma

95%

1,0639755

-1,204703

tiga sigma

99.80%

1,6311451

-1,771872

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel data pengukuran Batimetri wilayah
pantai Barat Aceh 2011, maka didapat kesimpulan bahwa:
1. Data hasil survey memiliki tingkat error yang kecil dilihat dari hasil data yang diterima
sesuai dengan standar pengukuran menggunakan tingkat kepercayaan 95%.
2. Data yang tidak masuk batas toleransi pengukuran sebanyak dua data dari 55 data
sampel yang digunakan.
3. Uji statistik hanya dapat dilakukan hingga pengujian standar deviasi, karena tidak
adanya nilai yang dijadikan acuan pembanding pada penelitian ini.
4. Sampling rate akuisisi data yang dihasilkan echosounder, mempengaruhi nilai uji
ketelitian pengukuran.

Conference on Geospatial Information Science and Engineering


Yogyakarta, 20 September 2014

TERIMAKASIH
Terimakasih kepada Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai telah mengijinkan
penggunaan data sounding wilayah pantai Barat Aceh sebagai bahan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, H. Z, 2007, GPS Positioning, Bahan Ajar, Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika ITB,
Bandung
Dewantoro, A, 2012, Analisis Ketelitian Hasil Pemeruman Perairan Dangkal Menggunakan
Multibeam Echosounder, Jurusan Teknik Geodesi UNDIP, Semarang
Djunarsah, E., Poerbandono. (2005). Survei Hidrografi.Bandung: Refika Aditama
Soeprapto, 2001, Survey Hidrografi, Buku Ajar, Jurusan Teknik Geodesi UGM, Yogyakarta
Sudjana, 2005, Metode Statistika, Bandung:Tarsito
_______. 2014. Kerangka Acuan Kerja Survei Hidrografi dan Pembuatan Peta Lingkungan
Pantai (LPI) skala 1:25.000, Cibinong
_______. 2008. IHO Standards for Hydrographics Surveys 5th Edition, 2008. Special
Publication No. 44, Monaco.
_______.2010. SNI Survei Hidrografi menggunakan singlebeam echosounder, SNI 7646:2010,
Jakarta

Conference on Geospatial Information Science and Engineering


Yogyakarta, 20 September 2014