Anda di halaman 1dari 3

1

INSPEKSI LAS

BAB 1 PENDAHULUAN

Inspeksi las adalah kegiatan inspeksi pada sambungan las baik pada peralatan yang masih dalam tahap instalasi ( pemasangan ) , konstruksi ( pembuatan ) maupun fabrikasi ( perakitan ) , atau peralatan yang telah purna instalasi / konstruksi / fabrikasi namun belum pernah dioperasikan , maupun pada sambungan las dari peralatan yang sedang atau telah pernah dioperasikan atau peralatan lama yang diperbaiki atau dirubah , untuk menentukan apakah suatu tingkat mutu atau kondisi suatu sambungan las telah memenuhi persyaratan spesifikasi , desain dan standard yang diacu .

Judul diatas terdiri dari dua suku kata Inspeksi dan las yang masing masing artinya dapat dirinci dibawah ini .

INSPEKSI

Adalah langkah langkah untuk menentukan apakah suatu tingkat mutu atau kondisi bahan , peralatan , instalasi , konstruksi dan fabrikasi telah memenuhi persyaratan spesifikasi , desain , atau standard yang diacu . Inspeksi meliputi langkah langkah :

a. pemeriksaan , yang terdiri dari :

1) survei ( observasi , pemantauan ) yakni penilaian ( qualitative ) secara menyeluruh dan garis besar suatu bentuk , kondisi bahan atau peralatan serta situasi kerja atau pengoperasian , 2) pemeriksaan secara visual.

b.

Penyelidikan ( investigasi ) untuk mengungkap ketidak sesuaian yang tersamar / tertutup,

c.

penyidikan ( deteksi ) berupa pengukuran ( cek dimensi ), yang terdiri dari :

1) pengukuran secara presisi , 2) secara optik , dan 3) secara electronik , untuk menentukan besaran , jumlah , bentuk dan orientasi ketidak sesuaian ,

d.

pengumpulan data ( data collecting ) yang terdiri dari : pencatatan , pengarsipan , pengabadian kelainan , ketidak sesuaian , atau gejala kerusakan , kerusakan fisik , pengumpulan sisa / limbah operasi dan serangan karat , dan lain lain ,

e.

analisa ( secara kimiawi untuk menentukan komposisi bahan atau cara lainnya untuk mengungkap sebab kerusakan atau akibat pengoperasian ) ,

f.

pengujian / testing ( untuk mengetahui tingkat mutu pengerjaan dan integritas / kekuatan konstruksi bahan atau peralatan , dan untuk meyakinkan bahwa bahan / peralatan sesuai dengan spesifikasi dan standard yang diacu ) . Pengujian terdiri dari : 1) uji merusak , 2) uji tanpa merusak dan 3) uji hydrostatis

g.

pelaporan ( reporting ) , dan

h.

pengarsipan dan penyimpanan data ( recording ).

2

Langkah Inspeksi las dapat dibagi menjadi dua tahap , yakni 1) Tahap Quality Control ( QC ) dan 2) Tahap Quality Assurance ( QA ) .

1) QUALITY CONTROL ( Q.C. )

Adalah langkah langkah inspeksi pada sambungan las yang bersifat operasional dilapangan , dengan menggunakan peralatan pemeriksaan , pengujian , dan lain lain , untuk menentukan / mengendalikan dan menguji suatu tingkat mutu sambungan las , untuk menentukan bahwa pelaksanaan pengelasan telah memenuhi persyaratan spesifikasi ( WPS / PQR ) , desain dan standard yang disepakati antara pihak pelaksana dengan pihak pemilik / pemesan . Langkah QC pada inspeksi las terdiri dari : inspeksi visual dan cek dimensi dari kelainan atau cacat permukaan untuk menentukan :

1. dapat diterima atau ditolak berdasarkan criteria penerimaan pada standard yang diacu , 2. untuk menentukan langkah pengujian lebih lanjut untuk menentukan keberadaan , jumlah , ukuran dan lokasi cacat internal atau non visual ( tersamar ) , serta kemudian menentukan apakan cacat tersebut dapat diterima atau harus ditolak berdasarkan kriteria penerimaan pada standard yang diacu .

2) QUALITY ASSURANCE ( Q.A.)

Adalah langkah langkah managerial untuk meyakinkan atau memverifikasi langkah langkah QC yang dilaksanakan oleh pihak lain , dalam rangka mewakili kepentingan perusahan tempat mereka bekerja atau untuk perusahaan yang menyewa jasanya , guna memberikan jaminan kepada pimpinan bahwa langkah QC tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan persyaratan spesifikasi ( WPS / PQR ) , desain dan standard yang telah ditentukan . Langkah QA pada inspeksi las terdiri dari :

a) mereview laporan QC , hasil pengujian tanpa merusak bahan ( NDT ) atau pengujian dengan merusak bahan ( DT ) , mereview prosedur dan kualifikasi prosedur las ( WPS dan PQR ) yang diacu ,

b) mendesain WPS berikut pemilihan material untuk bahan las yang sesuai dengan bahan baku yang ditentukan dan menyaksikan pembuatan PQR oleh badan yang berwenang / diakui ,

c) menguji juru dan operator las sesuai persyaratan standard yang diacu , dan

d) ikut menentukan spesifikasi , desain dan standard las yang diacu .

LAS Adalah cara penyambungan dua benda padat melalui pencairan dan perpaduan dengan menggunakan panas . Berdasarkan terminologi tersebut diatas , maka berlaku dua syarat yang menentukan dalam pengelasan , yakni :

1) bahan yang disambung harus dapat mencair oleh panas , dan

3

2) bahan yang disambung harus cocok ( compatible ) satu dengan lainnya . 3) penyambungan dua buah bahan yang tidak cocok harus menggunakan bahan antara yang cocok bagi kedua bahan yang akan disambung tersebut .

Sumber panas diambil antara lain dari : busur listrik , campuran gas bakar ( hydro carbon ) dan oksigen , tahanan listrik , sinar laser , gabungan busur listrik dan gas lindung ( Argon , Helium ) , getaran ultra , gesekan ( friction ), pengeboman electron ( electron bombardment ) , ledakan thermal , getaran ultrasonic , dll. Dari jenis sumber panas tersebut diciptakan jenis jenis las antara lain seperti :

OAW ( oxy acetylene weld ) atau lazim disebut las karbid , SMAW ( shielded metal arc welding ) atau las listrik busur terlindung , GTAW ( gas tungsten arc welding ) atau tungsten inert gas welding ( TIG ) atau lazim disebut las Argon karena menggunakan gas pelindung berupa gas Argon atau Helium , GMAW ( gas metal arc welding ) atau MIG (metal inert gas welding ) / MAG ( metal active gas welding ) , SAW ( submerged arc welding ) atau disebut las listrik busur terpendam , ERW ( electric resistance weld ) atau las tahanan listrik , EBW ( electron bombardment weld ) , dan EW ( explosion weld ) atau lazim disebut CAD weld , dan lain lain.

BAB 2 INSPEKSI VISUAL Inspeksi visual pada sambungan las dimaksudkan untuk menentukan tingkat mutu sambungan las sesuai dengan persyaratan spesifikasi , desain dan standard yang telah ditentukan . Inspeksi visual hanya menggunakan kekuatan dan ketajaman mata untuk mengetahui kelainan kelainan , ketidak sesuaian dan cacat cacat permukaan pada sambungan las. Oleh karena itu diperlukan persyaratan yang ketat bagi inspector visual untuk dapat melaksanakan pekerjaannya dengan professional dan benar seperti : kesehatan mata ( tidak buta warna dan tidak rabun ) , pengalaman yang luas tentang cacat permukaan las khususnya dan tehnologi las pada umumnya . Hal ini penting mengingat inspeksi visual menentukan dapat diterima atau ditolaknya suatu sambungan las secara langsung , dan menentukan juga langkah langkah tindak lanjut yang diperlukan untuk dapat mengetahui lebih lanjut tentang kondisi internal sambungan las tersebut , untuk kemudian mengambil langkah langkah penanggulangan yang tepat sesuai persyaratan standard yang diacu sehubungan dengan kondisi internal sambungan las yang dapat diungkapkan. Kompetensi inspector las mutlak diperlukan karena inspeksi visual biasanya tidak menggunakan peralatan NDT , semata mata hanya mengandalkan pada pengetahuan ( knowledge ) , pengetahuan praktik ( know how ) dan pengalaman ( experience ) nya tentang tehnologi las yang luas dan mendalam.

Dibawah ini diuraikan tentang jenis jenis cacat las , baik cata permukaan ( visual / surface ) , cacat akar ( non visual / root ) dan cacat internal yang memerlukan peralatan NDT guna mengungkapnya.

Menyusul inspeksi visual biasanya dilaksanakan pengukuran dimensi menggunakan peralatan presisi , optic maupun electronic , dan jika diperlukan diteruskan dengan langkah pengujian tanpa merusak bahan ( non destructive