Anda di halaman 1dari 8

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL ALAT OPTIK BERBASIS

MACROMEDIA FLASH UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR DAN


PEMAHAMAN SISWA

Disusun Oleh:
Beta Devita (3215130840)

Pendidikan Fisika Bilingual

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2016

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan di Bab I, maka tujuan yang hendak
dicapai pada penelitian ini antara lain :
1. Mengetahui kelayakan media pembelajaran berbasis macromedia flash pada materi alat
optik.
2. Mengetahui pengaruh media pembelajaran berbasis macromedia flash pada materi alat
optik terhadap peningkatan minat belajar dan kemampuan siswa.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas X SMA Negeri 13 Jakarta yang beralamat di Jalan
Seroja No.1, Rawa Badak Utara, Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara.. Penelitian ini dilakukan
di tempat tersebut dengan pertimbangan mudah dijangkau. Waktu penelitian adalah pada
semester genap tahun pelajaran 2016/2017, yang secara garis besar terbagi menjadi tiga
tahap, yaitu:
a. Tahap persiapan, meliputi: pengajuan judul penelitian, permohonan pembimbingan,
pembuatan proposal, survei ke sekolah yang digunakan untuk penelitian, permohonan
ijin penelitian, dan penyusunan instrumen penelitian.
b. Tahap penelitian dan pengembangan, meliputi: pengembangan media pembelajaran, uji
coba instrumen, dan pelaksanaan pengambilan data respon siswa dan guru.
c. Tahap penyelesaian, meliputi: analisis data, Pembahasan dan penyusunan laporan
penelitian serta penggandaan.

C. Karakteristik Modul yang Dikembangkan


Penelitian ini berfokus pada pengembangan media pembelajaran berupa media
pembelajaran audiovisual berbasis macromedia flash pada materi alat optik. Media fisika
yang akan dikembangkan tersebut dirancang dan disusun sedemikian rupa agar memiliki

karakteristik yang diperlukan untuk membantu siswa dalam meningkatkan minat dan
pemahaman siswa.
Media pembelajaran ini memuat penjelasan yang dilengkapi dengan gambar-gambar alat
optik beserta penjelasan suara yang membuat siswa tertarik untuk belajar dan dapat
menggunakan media ini untuk belajar sendiri di rumah. Karakteristik media pembelajaran
audio visual yang dibuat ini dibuat sedemikian rupa dengan bahasa yang mudah dicerna oleh
siswa sehingga siswa diharapkan lebih paham.
D. Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian pengembangan media pembelajaran audio visual dengan
mengadopsi pendekatan research and development Metode Penelitian dan Pengembangan
atau dalam bahasa Inggrisnya Research and Development adalah metode penelitian yang
digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tertentu.
Untuk dapat menghasilkan produk tertentu digunakan penelitian yang bersifat analisis
kebutuhan dan untuk menguji keefektifan produk tersebut supaya dapat berfungsi
dimasyarakat luas, maka diperlukan penelitian untuk menguji keefektifan produk tersebut.
Jadi penelitian dan pengembangan bersifat longitudinal.
Penyusunan model dan pengembangannya dikemukakan oleh Hoge, Tondora, & Marrelli
(2005:533-561). Ada 7 langkah yang harus dilalui, dimana setiap langkah memiliki hubungan
keterkaitan antara satu dan lainnya, langkah tersebut adalah:
1. Menetapkan tujuan (Defining the Obyectives), termasuk dalam langkah ini adalah
tujuan penyusunan model, alat untuk menganalisa model, siapa yang akan
mengaplikasikan model, dan apakah model tersebut cocok untuk dilaksanakan saat
ini;
2. Mencari dukungan sponsor (Obtain the Support of a Sponsor), kegiatan ini
menyangkut masalah pendanaan dalam rangka penyusunan model, selain itu juga
mencari orang-orang yang akan terlibat dalam penyusunan dan pengembangan
model;

3. Mengembangkan dan mengimplementasikan komunikasi dan rencana pendidikan


(Develop and Implement a Communication and Education Plan), tahap ini adalah
mengembangkan komunikasi dengan berbagai pihak yang akan terlibat dalam
penyusunan dan juga merencanakan pengetahuan tentang model melalui studi teori
dan studi model yang telah dikembangkan;
4. Perencanaan metode (Plan the Methodology), yaitu menyusun metode yang akan
digunakan untuk menyusun model;
5. Mengidentifikasikan model dan menyusun model (Identify the model and Create the
Model), hal ini mencakup pengumpulan data yang diperlukan dalam penyusunan
model dengan terlebih dahulu mengidentifikasikan unsur, prosedur dan tujuan akhir
dari penyusunan model;
6. Mengaplikasikan model

(Apply

the Model), tujuan dalam tahapan ini adalah

menguji model yang sudah disusun, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan;
7. Evaluasi dan memperbaiki model (Evaluate and Uptodate the Model), dari hasil
pengaplikasian model perlu dinilai apakah model yang sudah dikembangkan bisa
diaplikasikan, dan mungkin perlu ada penambahan dan pengurangan agar model lebih
baik, dan jika sudah diidentikasi kekurangan dan kelebihannya, maka model perlu
diperbaiki sebagai produk akhir.
Sedangkan menurut Draganidis, Fotis dan Gregoris Mentzas (2006:51-64) pengembangan
model memiliki 9 langkah yaitu:
1. Membentuk tim penyusun model (Creation of Model Sistems Team (CST), terdiri dari
orang-orang yang akan mendalami bagaimana dalamnya suatu pekerjaan yang ada
dalam model tersebut, biasanya terdiri dari eksekutif, manajer, dan pemilik dan mereka
bertanggungjawab secara keseluruhan;

2.

Identifikasi metrik kinerja dan memvalidasi sampel (Identification of performance


Metrics and Validation Sample), menentukan skala untuk menentukan tingkat superior,

menengah dan terbatas untuk pekerjaan dalam model;


3. Mengembangkan daftar kebutuhan tentatif (Development of Tentative Needs List), CST
mengembangkan daftar kompetensi awal yang akan digunakan sebagai dasar
membentuk

model,

pengembangan

daftar

kebutuhan

akan

sukses

dengan

mempertimbangkan organisasi lain yang sudah membuat dan dipadukan sencana strategi
organisasi;
4. Menentukan kompetensi dan indikator perilaku (Definition of Models and Process
Indicators),

tahap ini mengumpulkan informasi tentang komponen model yang

dibutuhkan untuk menyusun model dengan diskusi kelompok, survey lapangan


5.
Mengembangkan inisial model (Development of an Initial Model),

CST

mengembangkan initial kebutuhan model berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan
telah dianalisa secara kuantitatif dan analisa isi sesuai dengan topik interview dan hasil
diskusi kelompok;
6. Mengadakan pengecekan pada initial model (Cross-Check of Initial Model), sangat
perlu untuk mengadakan cek ulang dengan mewawancarai pelaksana atau membuat
tambahan kelompok diskusi dengan orang yang tidak terlibat pada model yang telah
dilaksanakan sebelumnya;
7. Pensortiran model (Model Refinement), dengan menggunakan analisa yang sama yang
telah digunakan pada tahap pengembangan inisial model untuk menyeleksi model;
8. Validasi model (Validation of the Model), mulai melaksanakan validasi model yang telah
dikembangkan untuk mendapat pengukuhan;
9. Menyempurnakan model (Finalize the Model), menyingkirkan sejumlah komponen dan
proses yang tidak ada hubungannya dengan tujuan model.
E. Langkah Langkah Pengembangan Modul
1. Penelitian Pendahuluan

Penelitian tahap pertama ini merupakan langkah analisis atau assesmen


kebutuhan untuk mengidentifikasi masalah (kebutuhan) dan melakukan analisis tugas
(task analyze).Selain itu untuk melihat sejauh mana suatu kompetensi perlu
dikembangkan kemudian menyusun produk awal.
Langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah dengan mengadakan observasi
langsung kelapangan. Observasi dilakukan dengan cara melihat proses pembelajaran
dan berkomunikasi langsung dengan peserta didik dan guru. Observasi tidak hanya
mengamati kegiatan siswa pada proses pembelajaran tapi observasi juga dilakukan
terhadap ketersediaan perangkat pembelajaran, bahan ajar, model, strategi, dan metode
pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran fisika.
Setelah melakukan observasi, maka diperoleh informasi bahwa pemahaman
konsep dan hasil belajar fisika siswa SMA Negeri 13 Jakarta masih relatif rendah.Ini
dapat dilihat dari nilai hasil ulangan fisika masih banyak yang jelek dan harus
diremidial. Selain itu, siswa banyak yang masih bermain-main atau mengobrol saat
pelajaran. Hal ini memperlihatkan bahwa minat belajar fisika siswa masih rendah.
2. Perencanaan Pengembangan
Pada perancangan pengembangan media pembelajarn audio visual berbasis
macromedia flash pada materi alat optik ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap
desain dan tahap pengembangan.
Tahap pertama adalah tahap desain (design) tahap ini dikenal dengan istilah
membuat rancangan (blue print) atau rancang bangun. Dalam penelitian ini yang akan
dikembangkan adalah suatu media pembelajaran, sehingga yang didesain adalah
kerangka media pembelajaran yaitu berupa tujuan kegiatan pembelajaran, materi pokok
alat optik. Rancangan ini disesuaikan dengan need assessment yang telah dilakukan.
Artinya, rancangan desain modul pembelajaran ini disesuaikan dengan karakteristik
peserta didik dan tujuan pembelajaran.Selain itu pada tahap desain juga dilakukan

perancangan desain fisik modul pembelajaran agar lebih menarik dan dapat memotivasi
siswa untuk belajar.
Tahap kedua adalah tahap pengembangan (development) yang merupakan
proses mewujudkan blue print alias desain tadi menjadi kenyataan. Artinya, pada tahap
ini segala sesuatu yang dibutuhkan atau yang akan mendukung proses pengembangan
semuanya harus disiapkan. Dalam penelitian yang ditujukan untuk mengembangkan
suatu media pembelajaran maka pengembangan disini dilakukan pada kerangka media
audio visual hasil desain
Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji coba atau evaluasi
sebelum diimplementasikan. Lebih tepatnya evaluasi formatif atau validasi oleh
ahli.Pengembangan modul dinilai atau divalidasi berdasarkan kelayakan isi, penyajian,
dan bahasa oleh dosen dan guru.
Instrumen pengumpulan data pada penelitian yaitu instrumen tes, angket, dan
lembar observasi.Tes digunakan untuk memperoleh data keterampilan berpikir kritis
siswadengan menggunakan metode pretest dan posttes.Kemudian pengisian angket
untukmemperoleh data analisis kebutuhan, analisis kinerja dan data sikap.Sedangkan
lembarobservasi digunakan sebagi konfirmasi kesesuaian data yang diberikan siswa
daripengisian angket sikap.
3. Validasi, Evaluasi, dan Revisi Model
Pada tahap ini modul yang telah dirancang dan disusun, berupa draft I,
kemudian dilakukan uji kelayakan pada validator terdiri dari: dosen fisika ahli
pengembangan dan guru fisika.Validator melakukan uji kelayakan isi modul,
sistematika penyajian modul, dan bahasa yang digunakan pada modul.
Konsultasi ini dilakukan untuk mendapatkan masukan tentang desain produk
modul. Dosen fisika ahli pengembangan diminta masukannya berkaitan dengan
relevansi atau ketepatan tujuan penelitiandan output modul yang telah dirancang, serta

ketepatan isi materi pembelajaran yang digunakan. Guru fisika diminta masukannya
berkaitan dengan relevansi atauketepatan isi modul dan kesesuaian dengan kondisi atau
karakteristik peserta didik. Setelah berkonsultasi dengan validator, modul direvisi
sehingga didapatkan modul draft II.
Setelah itu, selanjutnya dilakukan uji coba modul di sekolah dengan skala kecil
atau kelompok kecil (uji coba terbatas).Uji coba modul merupakan proses penyediaan
dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam
rangka meningkatkan kualitas modul. Uji coba bertujuan untuk mengumpulkan data
apakah modul yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa.