Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM TEKNIK MATERIAL


MODUL E

POLIMER TERMOSET
Oleh:

Kelompok

: 2 (DUA)

Anggota (NIM)

: SEPTIAN DWI PUTRA

(123.13.002)

R IMAM FADLY S

(123.13.016)

NICO FEBRY R

(123.12.017)

N ANNISA WIDANINGSIH (123.13.022)


EVA GUSNIDA

(123.12.029)

Tanggal Praktikum

: 23 April 2016

Nama Asisten (NIM)

: RANGGA PRADIFTA (123.12.002)

LABORATORIUM METALURGI
PROGRAM STUDI TEKNIK MATERIAL
FAKULTAS TEKNIK MESIN DAN DIRGANTARA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Polimer termoset merupakan salah satu jenis polimer yang memiliki ketahanan termal
yang baik apabila dibandingkan dengan polimer termoplastik. Dalam pemanfaatannya,
umumnya polimer

termoset sering digunakan sebagai salah satu bahan penyusun pada

material komposit karena viskositasnya yang rendah, serta sifat mekaniknya yang baik.
Namun dalam proses pembentukannya, polimer termoset harus ditambahkan dengan suatu
zat (curing agent dan/katalis) agar dapat membentuk suatu material yang solid. Namun
penambahan zat tersebut tidak boleh secara sembarang karena dapat mempengaruhi
karakteristik dari material tersebut. Dalam percobaan ini akan diamati pengaruh penambahan
zat katalis didalam resin poliester.
B. Tujuan

Menganalisa terjadinya crosslinking pada resin polyester

Menganalisa pengaruh penambahan curing agent pada resin polyester.

BAB II
TEORI DASAR
Polimer
Polimer atau kadang-kadang disebut sebagai makromolekul, adalah molekul besar yang
dibangun oleh pengulangan kesatuan kimia yang kecil dan sederhana. Kesatuan-kesatuan
berulang itu setara dengan monomer, yaitu bahan dasar pembuat polimer.
Ikatan dalam polimer dapat dibedakan dalam 2 kelompok yaitu ikatan primer dan iktan
sekunder. Ikatan primer dari suatu polimer adalah ikatan kovalen, yaitu iktan antar atom yang
digunakan secra bersamaan. Ikatan sekunder dalam suatu polimer adalah ikatan ion, hidrogen,
dan wander waals. Ikatan primer kovalen merupakan ikatan atom yang sangat kuat dibanding
ikatan atom sekunder, 10 hingga 100 kalinya.

Berdasarkan jenis strukturnya, polimer dapat dibedakan menjadi:

Polimer linear

Polimer jenis ini terbentuk saat monomer-monomer bergabung


menjadi satu ranta yang panjang, lurus dan teratur. Struktur linear
seperti ini menyebabkan polimer memiliki titik leleh, kekuatan,
dan densitas yang tinggi. Contoh dari polimer ini seperti: polivinil
klorida dan polietena

Polimer bercabang

Polimer bercabang merupakan polimer linear yang memiliki


cabang berbeda panjang dari rantai utamanya. Akibat adanya
cabang tersebut membuat sifat mekanik dan sifat fisik polimer
jenis ini lebih rendah daripada sifat polimer linear. Contoh dari
polimer bercabang adalah: glikogen

Polimer Cross-Linked

Polimer jenis ini terbentuk akibat penggabungan polimer-polimer


linear sehingga membentuk jaringan tiga dimensi rantai silang.
Sifat polimer ini sangat keras, kaku dan rapuh. Contoh dari polimer
jenis ini seperti bakelit.

Termoset
Pada termoset hubungan crosslinking sangat tinggi. Termoset dikenal kaku kuat, keras dan
getas karena ditopang tanpa batas oleh sejumlah segmen rantai yang relatif. Berbeda dengan
termoplastik, mobilitas hampir tidak ada. Contoh termoset yang banyak digunakan adalah
fenol-formaldehid, resin poliester, dan resin epoksi.
Pemanfaatan termoset mencakup dua tahap reaksi kimia. Pada tahap pertama dihasilkan cairan
atau bentuk prapolimer padat atau prekursor yang secara fisik mampu dicetak atau dibentuk.
Contoh dari tahap pertama ini adalah resin. Resin adalah bahan dengan polimerisasi-parsial
yang memerlukan perlakuan lebih lanjut. Struktur terdiri dari molekul linier dan potensial
reaktif dan memiliki umur simpan tertentu. Pada tahap kedua bergantung pada jenis polimer,
maka dilakukan crosslinking dengan pemanasan, tekanan atau penambahan curing agent.
Crosslinking yang dihasilkan memiliki kekakuan dan kekuatan yang dikehendaki. Bila
dipanaskan, struktur ini tidak menampilkan viskoelastik dan karena stabil dari segi kimia dan
fisika, maka tidak mengalami perubahan serta tetap keras hingga mencapai temperatur
dekomposisi. Pembentukan termoset disebut proses irreversible.
Sifat sifat khusus Thermoset
eras dan kaku (tidak fleksibel)
Jika dipanaskan akan mengeras.
tuk ulang (sukar didaur ulang).
elarut apapun.

Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa
mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri (lihat pula katalisis). Suatu katalis
berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk.
Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada suhu
lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi.
Katalis yang digunakan pada percobaan kali ini adalah MEKP (Metil Etil Keton Peroxide)
dengan gambar struktur seperti dibawah ini

Curing Agent
Curing agent merupakan suatu zat yang ditambahkan untuk mendapatkan polimer yeng
memiliki kekerasan baik. Zat ini bereaksi dengan polimer dan bergabung dalam struktur akhir.
Contoh dari curing agent adalah: komponen amina yang bereaksi dengan epoxy untuk
membentuk perekat yang kering.

BAB III
DATA PERCOBAAN
Resin Poliester

: 10 g

Katalis

: MEKP (Metil Etil Keton Peroxide)


No

Penambahan
Katalis (%)

Waktu Curing
(menit)

Waktu mulai
panas (menit)

1
2
3
4
5
6

3
4
5
6
7
8

40.25
40.23
40.23
42.41
42.32
44.23

20
23
25
26
26.3
27

Waktu Mulai
Perubahan warna
(menit)
5.6
5.3
5.2
4.7
4.5
4.4

Waktu (Menit)

Tabel 1. Hasil percobaan

50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

Curing
Perubahan Panas
Perubahan Warna

10

Katalis (%)
Grafik 1. Grafik Waktu Percobaan terhadap Katalis

Mechanical
Properties

Katalis (%)

UTS (MPa)
Elongasi (%)
Modulus (MPa)

1
39.19475563
6.264094233
2159.813997

2
43.14641
2.640956
2407.084

4
47.40152
2.723762
3108.015

5
47.31992
4.260074
2774.452

Dimensi
Panjang
Lebar
Tebal

161.2
12.5
5.475

161.98
12.77
5.44

161.75
13.00
5.73

161.5
12.50
5.80

Tabel 2. Hasil Pengujian dan Dimensi

UTS (MPa)

Mechanical Properties
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
0

KATALIS (%)
Grafik 2. Grafik UTS terhadap Katalis

Mechanical Properties
MODULUS (MPa)

3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
0

KATALIS (%)
Grafik 3. Grafik Modulus Elastisitas terhadap Katalis

BAB IV
ANALISIS
Nama : N Annisa Widaningsih
NIM : 12313022
Penambahan katalis pada resin poliester mengakibatkan terbentuk ikatan cross-link pada resin
sehingga resin poliester yang merupakan termoplas berubah menjadi termoset. Reaksi yang
terjadi saat poses cross-linking pada resin poliester adalah reaksi eksotermis sehingga
menimbulkan panas saat katalis dan reisn direaksikan. Adanya crosslinking mengakibatkan
ikatan pada resin polyester tidak mudah terputus ketika diberi energy thermal. Hal tersebut

Waktu (Menit)

merupakan alasan termoset tidak dapat meleleh seperti hal nya termoplastik.

50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

Curing
Perubahan Panas
Perubahan Warna

10

Katalis (%)

Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin banyak kadar katalis yang ditambahkan maka
waktu curing dan waktu perubahan panas juga semakin lama. Namun untuk waktu perubahan
warna dengan kadar yang semakin meningkat maka perubahan warnanya semakin cepat. Jika
kadar katalis ditambahkan terlalu banyak maka akan mengalami retak dan warnanya semakin
kuning, hal ini disebabkan karena panas yang dihasilkan dari reaksi terlalu tinggi sehingga resin
retak dan sebagian resin terdegradasi. Tapi pada percobaan yang dilakukan penambahan kadar
katalis yang paling banyak yaitu 8% sehingga tidak terjadi retak pada resin karena 8% masih
dalam batas rendah sehingga tidak terdegradasi.
Perubahan warna yang dihasilkan yaitu semakin rendah kadar katalis yang ditambahkan maka
semakin pudar warna yang dihasilkan karena pengaruh dari temperatur. Semakin tinggi
7

temperatur (kadar katalis tinggi) maka akan menyebabkan katalis membentuk senyawa lain
yang bereaksi dengan resin sehingga mengakibatkan perubahan warna. Pada hasil akhir
terdapat void yang timbul diduga karena pada saat pengadukan yang tidak hati-hati sehingga
ada gelembung udara yang terperangkap didalamnya.
Pada proses crosslinking, semakin banyak curing agent yang ditambahkan maka semakin
banyak terjadinya ikatan baru. Semakin banyak ikatan baru maka semakin banyak tumbukan
yang terjadi sehingga menimbulkan panas dan mengakibatkan resin polyester mengeras lebih
cepat. Resin polyester merupakan salahsatu contoh termoset. Termoset mengalami solidifikasi
ketika dipanaskan sehingga saat panas timbul, terjadi solidifikasi pada resin polyester dan
penambahan curing agent yang menentukan lama nya resin polyester mengeras.

Semakin bertambah kadar katalis : tensile strength semakin bertambah sampai dicapai kondisi
maksimum pada kadar 4% dan kemudian sedikit menurun pada kadar 5%. Tensile strength
berbanding lurus dengan modulus elastisitas, dimana semakin tinggi kadar katalis semakin
tinggi pula modulus elastisitas dan Tensile Strength. Sesuai dengan persamaan :
=

Keterangan : E = Modulus Elastisitas

= Tensile Strength
= Elongasi

Namun sama seperti tensile strength, nilai modulus elastisitas pada kadar katalis 5% terjadi
penurunan. Selain itu nilai modulus elastisitas berbanding terbalik dengan elongasi, tapi pada
data yang diperoleh dapat dilihat nilai elongasi menurun drastis pada kadar 2% saja, selebihnya
nilai elongasi semakin bertambah seiring bertambahnya kadar katalis.
Besarnya nilai modulus elastisitas dapat dinyatakan bahwa semakin banyak ikatan silang (cross
link) yang terbentuk. Sehingga mengakibatkan produk atau campuran yang dihasilkan semakin
kaku atau keras. Selain itu dimensi yang didapat (panjang, lebar, dan tinggi) dari hasil
pengujian yaitu berbanding lurus dengan UTS dan Modulus.

Nama : Nico Febry Ramadhan


NIM : 12313017
Dari hasil praktikum kali ini saya mendapatkan hasil analisa diantaranya demikian
Salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada percobaan kali ini yaitu waktu dan tempratur
yang dapat mempengaruhi curring agent, semakin cepatnya waktu yang dibutuhkan oleh
polimer untung curring dapat mengakibatkan sedikitnya atau kurangnya ikatan crosslingking
yang akan terbentuk
Semakin banyak curring agent yang ditambahkan dapat menyebabkan polyester akan cepat
mengeras selain itu juga reaksi yang terjadi dapat menyebabkan panas. Semakin banyak katalis
yang kita tambahkan akan semakin membuat tempratur menjadi tinggi pada polimer tersebut
Terjadi perubahan warna pada saat kami melakukan percobaan, pada polyester yang sudah
diberi tambahan curring agent memiliki warna yang lebih gelap di bandingkan pada polyester
yang belum di beri tambahan curring agent yang cenderung memiliki warna yang jauh lebih
cerah

Nama : R Imam Fadly Saputra


NIM : 12313016

No

Penambahan Katalis (%)

Waktu (menit)

1.

40:25

2.

40:23

3.

40:23

4.

42:41

5.

42:32

6.

44:23

Dari data diatas, didapatkan bahwa semakin besar komposisi katalis yang ditambahkan
pada resin akan memperlambat proses curring nya. Penggunaan katalis akan meningkatkan laju
suatu reaksi, yang mengakibatkan perubahan temperature. Namun, kenaikan temperatur ini
dapat mempengaruhi jumlah produk yang terbentuk, bergantung pada jenis reaksi tersebut
(eksoterm atau endoterm). Oleh karena itu, diperlukan suatu optimasi untuk mencapai hasil
yang diinginkan. Semakin besar komposisi katalis yang di tambahkan akan semakin banyak
jumlah produk yang dihasilkan, dan mengakibatkan semakin lama nya proses curring tersebut.

Setelah pengujian uji tarik pada resin polyester:

10

UTS (MPa)

Mechanical Properties
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
0

KATALIS (%)

Dapat disimpulkan dari grafik diatas, didapatkan bahwa semakin tinggi persentase
katalis yang ditambahkan pada resin, akan besar nilai UTS dari produk tersebut. Dikarenakan
semakin banyak katalis akan membentuk rantai cross-link yang lebih banyak, seperti yang kita
tau cross-link merupakan rantai terkuat jika dibandingkan dengan linear dan bercabang. Jadi
akan semakin besar juga nilai tegangan maksimal dari suatu produk tersebut.

Mechanical Properties
MODULUS (MPa)

3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
0

KATALIS (%)

Dapat disimpulkan dari grafik diatas, didapatkan bahwa semakin tinggi persentase
katalis yang ditambahkan pada resin, akan besar nilai modulus elastisitas dari produk tersebut,
hal ini disebabkan kemungkinan-kemungkinan akibat tidak presisi nya praktikan dalam
penambahan katalis ke dalam resin.
Seharusnya pada uji tarik ini semakin tinggi persentase katalis yang di tambahkan, akan
mengakibatkan modulus elastisitas nya rendah (kaku) karena seperti sifat rantai cross-link yaitu
kuat. Dan akan memiliki kekakuan yang lebih tinggi.

11

Mechanical

Katalis (%)

Properties
1

Panjang

161.2

161.98

161.75

161.5

Lebar

12.5

12.77

13.00

12.50

Tebal

5.475

5.44

5.73

5.80

Dimensi

Dari data diatas didapatkan bahwa semakin tinggi persentase katalis yang ditambahkan
pada resin, akan membuat dimensi semakin luas. Hal ini disebabkan ketika persentase katalis
lebih besar maka akan mempengaruhi jumlah volume dari suatu produk. Oleh karena itu, ketika
dicampurkan dengan resin akan memiliki dimensi yang lebih besar.

Terjadi nya perubahan warna diakibatkan terjadi nya perubahan temperature (semakin
panas sebelum terjadi nya curring yang sempurna) yang mengakibatkan produk terbakar dan
berubah menjadi warna kuning kecoklatan yang diakibatkan oleh panas tersebut.

12

Nama : Eva Gusnida


NIM : 12313029
Data yang diperoleh dari praktikum ini menunjukkan bahwa semakin banyak %katalis yang
ditambahkan ke dalam resin maka semakin lama proses curing namun semakin cepat
terbentuknya panas dan perubahan warna. Berdasarkan teori seharusnya menjelaskan bahwa
penambahan katalis berbanding lurus dengan waktu mulai panas dan perubahan warna namun
berbanding terbalik dengan waktu curing. Hal ini dapat terjadi karena semakin banyak katalis
yang ditambahkan maka akan semakin cepat terbentuknya ikatan crosslink. Ikatan crosslink ini
yang menyebabkan resin menjadi mengeras, menaikkan suhu dan terjadi perubahan warna
selama proses crosslink ini terbentuk.
Penambahan katalis meningkatkan UTS dan modulus namun menurunkan %elongasi.
Dari data didapat hubungan yang linear antara penambahan katalis dan sifat mekanik. Ini dapat
disebabkan karena semakin banyak jumlah katalis maka akan semakin banyak crosslink yang
terbentuk sehingga dibutuhkan energy yang sangat besar untuk dapat memutuskan ikatannya.
Namun pada saat penambahan katalis sebesar 5%, data yang didapat tidak sesuai dengan
prediksi. Hal ini dapat terjadi akibat kejenuhan katalis sehingga pada penambahan dengan
komposisi tertentu, katalis melebihi batas maksimum jumlah ikatan yang dapat terbentuk.
Untuk dimensi, semakin banyak katalis yang ditambahkan maka semakin besar dimensi
produk yang dihasilkan. Ini terjadi karena semakin banyak katalis maka akan semakin besar
volume resin yang terbentuk sehingga dapat membentuk dimensi produk yang lebih besar.

13

Nama : Septian Dwi Putra


NIM : 12313002
Sesuai dengan data percobaan, nilai Ultimate Tensile Strength didapat adalah ( 39.19 , 43.14 ,
47.4 dan 47.3 ) , nilai Modulus Elastisitas didapat adalah (2159.81 , 2407.08 , 31011.01,
2774.45) dan sudah diketahui bahwa UTS dan modulus Elastisitas tertinggi adalah saat katalis
yang diberkan 4% .
Lalu hubungan yang dapat dianalisa terhadap dimensi (panjang, lebar, tebal) dr hasil
UTS dan mod. Elastisitas adalah :

Panjang

: Dari segi nilai panjang, nilai tertinggi didapat saat katalis 2%, yaitu

161.98, sedangkan dr segi perubahan panjang yang signifikan adalah saat katalis 1%
dan saat katalis 2% yang nilainya mencapai 0.7.

Lebar

: Dari segi nilai lebar, nilai tertinggi didapat saat katalis 4%, yaitu 13.00,

artinya untuk lebar berbanding lurus dengan data UTS dan mod. Elastisitas yaitu data
tertinggi didapat saat katalis 4%, sedangkan dr segi perubahan lebar yang signifikan
adalah saat katalis 4% dan saat katalis 5% yang nilainya mencapai 0.5.

Tebal

: Dari segi nilai tebal, nilai tertinggi didapat saat katalis 5%, yaitu 5.80,

artinya untuk ketebalan, semakin banyak % katalis maka semakin tebal juga produk
dihasilkan, sedangkan dr segi perubahan tebal yang signifikan adalah saat katalis 2%
dan saat katalis 4% yang nilainya mencapai 0.29.

Akibat yang ditimbulkan dr penambahan katalis adalah berat molekul polyester semakin
tinggi, pada dasarnya penambahan katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi polimerisasi
polyester yang nantinya tentu akan menghasilkan panas, nah panas inilah yang membuat
polyester mengalami ekspansi termal.
Saat itu juga rantai polimer termoset yang ikatan antar backbone-nya berupa ikatan
primer mulai terdegradasi, sehingga didapat bila semakin banyak katalis ditambahkan maka
akan mempercepat pula reaksi dan membuat polyester makin cepat terdegradasi dengan salah
satu efek-nya adalah perubahan warna yang terjadi.

14

Patah yang terjadi adalah patah getas juga adalah salah satu efek karena polimer
termoset ikatan antar backbone-nya adalah ikata primer, yang apabila terurai maka artinya juga
saat itu polimer mulai terdegradasi.

15

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :

Penambahan katalis pada resin poliester mengakibatkan terbentuk ikatan cross-link


pada resin sehingga resin poliester yang merupakan termoplas berubah menjadi
termoset.

Semakin banyak kadar katalis yang ditambahkan maka semakin lama waktu curing dan
waktu perubahan warna serta dapat meningkatkan modulus elastisitas dan Ultimate
Tensile Strength.

B. Saran

Kadar katalis yang ditambahkan harus disesuaikan dengan jumlah resinnya, jangan
terlalu sedikit maupun terlalu banyak agar mendapatkan hasil yang maksimal

Saat praktikum lebih diperhatikan lagi waktu setiap terjadi perubahan temperatur,
warna maupun kekerasan.

16

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Ahvenainen, Raija.; et al. (2003). Modern Plastics Handbook, 1st, Woodhead


Publishing Limited., 24.1.

Prima Widi Hatmi, Sukartini, Dody AW, Pengaruh katalis pada Glass Reinforced
polyester terhadap Sifat Mekaniknya , Serpong, 1998

Richard.T., Linard.S.; Properties of Thermosetting Polymers During Cure;


Wisconsin-Madison; Wisconsin-sout

17

BAB VII
LAMPIRAN
Tugas Setelah Praktikum
1. Mengapa pada penambahan katalis dengan jumlah tertentu dapat menyebabkan
resin berubah warna ?
Penambahan katalis dengan jumlah tertentu dapat menyebabkan perubahan warna
karena panas yang dihasilkan akan membentuk senyawa lain, katalis teruarai menjadi
senyawa lain yang akan bereaksi dengan resin menghasilkan warna-warna tertentu.

2. Mengapa polimer thermoset umumnya bersifat kaku?


Polimer termoset pada umumnya bersifat kaku karena termoset memiliki ikatan yang
kuat antar backbone nya yaitu ikatan primer. Selain itu juga free volume yang
terbentuk sedikit sehingga antar rantainya dapat berikatan dengan kuat.

3. Mengapa penambahan katalis pada polyester dapat mengubah viskositas dari


polyester?
Penambahan katalis semakin banyak maka viskositasnya semakin tinggi karena jika
katalis yang tambahkan banyak maka akan semakin banyak pula crosslink yang
terbentuk.

18

Foto Kegiatan Selama Praktikum

19