Anda di halaman 1dari 4

NAMA

: SYAHFITRI

NPM

: 1201 0902

PRODI

: BIMBINGAN DAN KOSELING

MK

: PENGEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING

DOSEN

: CICI LESTARI , M.Psi

TUGAS MID KARAKTERISTIK KONSELOR PROFESIONAL


CIRI CIRI KONSELOR YANG EFEKTIF
Kecenderungan yang ada sekarang adalah penekanan pada hal yang dipercaya oleh
konselor dan perilaku konselor.Banyak sumber pendidikan konseling yang memberi tekanan
pada kemampuan terapis untuk bisa melihat, memahami, dan menerima keberadaan diri
mereka dan diri orang lain. Kualitas hubungan antara klien dan konselorlah yang nampaknya
paling bisa menciptakan pertumbuhan hubungan antara keduanya.
Menurut Combs ( 1986 ) melihat adanya perbedaan yang jelas antara ciri ciri penolong
yang efektif dan yang tidak efektif. Yang ternyata menjadi ciri perbedaan itu adalah hal yang
dipercaya penolong tentang empati, diri, naluri manusia, dan tujuan tujuan si penolong itu
sendiri. Menurut Combs kajian itu menyiratkan bahwa keyakinan keyakinan berikut ini ada
kaitannya dengan sukses, yaitu : konselor yang efektif terutama menaruh perhatian pada
wajah dunia ini yang nampak dari sisi yang menguntungkan di mata kliennnya. Ia
memandang positif pada diri manusia, menaruh kepercayaan pada mereka, menganggap
mereka semua mampu, bisa dipegang kata katanya dan ramah. Para konselor yang sukses
mempunyai pandangan positif terhadap diri mereka sendiri dan mempercayai kemampuan
mereka. Sebagai konselor, intervensi yang mereka lakukan berdasarkan pada nilainya. Dalam
pelaksanaan konseling unsur konselor adalah pemegang peranan penting, sehingga perlu
adanya karakteristik tertentu yang diharapkan untuk dimiliki oleh seorang konselor.
Karakteristik dalam kepribadian konselor sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses
konseling,

disamping

pengetahuan

dan

ketrampilan

ketrampilan

profesional.

Belking dalam bukunya Practical Counseling in the School melukiskan dalam karakteristik
konselor yang baik akan mempunyai arti penting dalam memberikan layanan pada clien.
Belkin menggambarkan karakteristik-karakteristik yang baik mampu menumbuh
kembangkan kemampuan klien. Klien akan mempunyai arah yang jelas dan mampu
memecahkan masalahnya sendiri, bagaikan tumbuhan yang mendapatkan siraman air sejuk

yang menjadikan tumbuhan tersebut menjadi segar dengan bunganya yang berkembang.
Bagaimana siramannya? Digambarkan oleh Belkin sebagai berikut :
Sembilan karakteristik seorang konselor itulah yang akan mampu membantu klien
untuk mengembangkan dirinya, sehingga mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.
Kesembilan karakteristik itu adalah :
1. Konfrontasi : berarti menghadapkan persoalan kepada klien, yang saat ini sedang
dihadapi.Dengan konseling itu klien sadar terhadap persoalannya dan berusaha untuk
memecahkan sendiri dengan bantuan konselor.
2. Tulus : dapat juga dikatakan

ikhlas, berarti

melakukannya tanpa

syarat,

sehingga tidak ada tawar menawar. Pelaksanaan konseling tidak dibenarkan memakai syarat.
Konselor harus secara tulus dan ikhlas menolong klien tanpa mengajukan persyaratan.
3. Jujur : maksudnya tidak berbohong, mengatakan apa sebenarnya, lahir sesuai
dengan batin. Secara jujur mau mengakai apabila mempunyai kekurangan atau kelemahan.
Tidak suka menipu.
4. Hangat : adanya resonansi psikologis yang dapat memberikan kepuasan dua belah
pihak. Kehangatan ini sangat dibutuhkan oleh setiap manusia dalam berhubungan dengan
orang lain. Kehangatan dibentuk dalam suatu interaksi, dan ini akan dirasakan oleh yang
bersangkutan. Untuk menciptakan diperlukan adanya hubungan yang akrab. Keakraban akan
menimbulkan kehangatan.
5. Empati : turut merasakan apa yang dihayati oleh klien dan klien tahu kalau
konselor memahami dirinya.
6. Jelas : dalam memberikan konseling janganlah seperti bentuk teka-teki, jangan
samar samar kalau berbicara atau memberikan pengarahan maka sebaiknya konselor
menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti oleh klien.
7. Polos : artinya tanpa prasangka, kalau sudah ada prasangka terhadap klien,
misalnya memberikan cap kepada klien, ini berarti sudah ada prasangka, dan berarti tak
polos lagi. Dalam

Client

Centered Counseling diperlukan konselor

yang

polos,

menghindari adanya diagnosis, mendiagnosis berarti sudah memberikan merk kepada


klien, berarti ada prasangka, dan tidak polos lagi.
8. Hormat : memberikan penghargaan kepada klien, memberikan kebebasan, klien
dibiarkan tumbuh berkembang, dan mengembangkan bahkan potensinya. Klien dihargai
sebagai manusia yang memiliki harga diri, dan memiliki potensi. Klien dihormati
sebagaimana adanya.

9. Positive Regard : penghargaan

terhadap

klien secara

positip. Konselor

yakin bahwa klien mempunyai kemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Tidak


ada dugaan terhadap klien secara negatif, misalnya bahwa klien adalah orang yang
lemah, yang tidak mempunyai kemampuan untuk menolong dirinya, orang yang sangat
tergantung, dsb. Untuk melengkapi ciri ciri apa saja yang diharapkan bagi seorang
konselor dibawah ini dikutipkan matriks kualitas konselor dari Belkin, agar dapat
dikrtauhi oleh para konselor dan calon konselor.
KONSELOR SEBAGAI SEORANG PROFESIONAL
Instrumen yang paling penting adalah diri konselor sendiri sebagai pribadi dan bahwa teknik
yang paling ampuh adalah kemampuan konselor mencontohkan daya hidup dan dunia nyata
kepribadian konselor. Maka menjaga agar diri kita tetap penuh daya hidup adalah hal yang
esensial. Kita perlu bekerja menangani faktor faktor yang merupakan ancaman tersedotnya
daya hidup kita dan membiarkan kita tidak berdaya. Mencari cara bagaimana kita bisa
mengapliksasikan yang akan dipelajari untuk meningkatkan kualitas hidup sehingga
menuju profesionalisme itu sendiri.

SUMBER
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya
Remaja.
Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan
Tenaga
Akdemik
Dirjen
Dikti
Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.
Pujosuwarno S.DR. 1992. Petunjuk Praktis Pelaksanaan Konseling, Yogyakarta : Menara
Mas
Offset
Corey Gerald. 1995. Teori dan Praktek Dari Konseling dan Psikoterapi, Semarang : IKIP
Semarang Press