Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM TEKNIK MATERIAL


MODUL F BIOPLASTIK PATI

Oleh:
Kelompok

: II (Dua)

Anggota (NIM)

: Septian Dwi Putra (123.13.002)


R. Imam Fadly

(123.13.016)

Nico Febry R

(123.13.017)

N. Annisa W

(123.13.022)

Eva Gusnida

(123.13.029)

Tanggal Praktikum

: 23 April 2016

Tanggal Penyerahan

: 7 Mei 2016

Nama Asisten (NIM)

: Ikhsan Purnomo

(123.12.013)

LABORATORIUM METALURGI
PROGRAM STUDI TEKNIK METALURGI DAN MATERIAL
FAKULTAS TEKNIK DAN DESAIN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Plastik merupakan salah satu material yang setiap hari digunakan untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Plastik bersentuhan dengan manusia mulai dari peralatan kebersihan di kamar
mandi, peralatan makan di dapur, hingga komponen-komponen elektronik dan kendaraan yang
setiap hari melengkapi kebutuhan kita. Plastik menjadi salah satu material primadona diera
sekarang ini karena sifatnya yang ringan, fleksibel dan murah. Plastik yang beredar di pasaran saat
ini merupakan polimer sintetik yang terbuat dari minyak bumi yang sulit terurai di alam. Akibatnya
semakin banyak yang menggunakan plastik, akan semakin meningkat pula pencemaran
lingkungan. Penggunaan plastic ini juga menimbulkan polemik tersendiri kepada lingkungan
sekitar seperti penurunan kualitas air dan tanah menjadi tidak subur. Plastik menimbulkan sampah
permanen yang tidak dapat di degradasi oleh alam sehingga penggunaan yang sudah berlebih
seperti sekarang ini membuat penumpukan sampah di Indonesia. Untuk menanggulangi
permasalahan tersebut, sebagian kelompok mulai memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini.
Contohnya seperti pemerintah yang mulai menerapkan diet kantong plastik atau plastik berbayar
untuk setiap penggunaan plastic saat belanja, kelompok pecinta lingkungan yang memanfaatkan
sampah plastik untuk dijadikan barang yang memiliki nilai seni dan bernilai jual hingga kelompok
industri yang me-recycle limbah plastik untuk dijadikan bahan utama pembuatan material plastic
baru. Oleh sebab itu sebagian kelompok lain mulai melakukan penelitian guna menemukan sebuah
material yang dapat digunakan seperti plastic namun dapat terdegradasi oleh alam dan bersifat
renewable. Penelitian ini membuahkan hasil sehingga mulai dilakukannya pengembangan tentang
material plastic yang biodegradable. Salah satu bahan yang digunakan dalam pengembangan
material ini adalah pati. Pati merupakan salah satu polimer alam yang sangat melimpah didunia.
Pati dapat diperoleh dari bahan makanan seperti nasi, jagung, singkong atau umbi-umbian lainnya
yang mengandung karbohidrat. Namun agar dapat dimanfaat sebagai bahan pembuatan plastik,
pati harus diproses dahulu agar didapatkan struktur yang diinginkan dan memenuhi standar sebagai
material plastik.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

B. TUJUAN

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:


1. Mengetahui polimerisasi dari plastik biodegradable
2. Dapat membandingkan sifat dari plastik hasil blending dengan plastik hasil penambahan
aditif.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

BAB II
TEORI DASAR
Polimer adalah molekul yang sangat besar yang tersusun oleh unit unit mer yang lebih kecil
yang mengalami polmerisasi. Polimer berdasarkan reaksi polimerisasi dapat dibedakan menjadi
2, yaitu adisi dan kondensasi. Polimer Adisi adalah polimer hasil polimerisasi yang disertai
dengan pemutusan ikatan rangkap yang kemudian diikuti oleh adisi monomernya, cirinya
monomer memiliki ikatan rangkap (C=C) (Chain-Growth Polymerization), contoh: PS, PP dan
PVC. Sedangkan polimer kondensasi adalah polimer hasil polimerisasi yang disertai dengan
pembentukan molekul kecil (H2O dan CH3OH). Monomernya memiliki 2 grup fungsional yang
reaktif, dan hampir semua polimer alam bereaksi dengan cara kondensasi (Step-Growth
Polymerization), contoh: pati dan nylon.
Polimer alam dapat dijadikan bahan dasar pembuatan plastik biodegradable. Plastik
biodegradable merupakan sebuah material yang baru dikembangkan dalam bidang plastik dan
memiliki sifat yang dapat terurai alami oleh alam. Plastik ini dapat dibuat dari senyawa-senyawa
yang terdapat di alam seperti selulosa, kolagen, kasein, protein yang berasal dari tanaman, atau
lipid yang berasal dari hewan.
Plastik pati berbahan dasar tepung juga dapat digolongkan kedalam plastik biodegradable
karena dapat terdegradasi alami oleh alam. Plastik ini dapat diuraikan akibat terputusnya ikatan
primer antar rantai polimer menjadi monomer-monomernya oleh bakteri Pseudomonas dan
Bacillus. Senyawa-senyawa hasil degradasi polimer selain menghasilkan karbon dioksida dan air,
juga menghasilkan senyawa organik lain seperti asam organik dan aldehid yang tidak berbahaya
bagi lingkungan.
Plastik biodegradable dapat terdegradasi lebih cepat dari pada plastik konvensional.
Sebagai perbandingan, plastik konvensional membutuhkan waktu sekitar 50 tahun agar dapat
terdekomposisi di alam, sedangkan plastik biodegradable dapat terdekomposisi 10 hingga 20 kali
lebih cepat. Hasil degradasi plastik ini dapat digunakan sebagai makanan hewan ternak atau
sebagai pupuk kompos. Plastik biodegradable yang terbakar juga tidak menghasilkan senyawa
kimia berbahaya. Kualitas tanah akan meningkat dengan adanya plastik biodegradable, karena
hasil penguraian mikroorganisme meningkatkan unsur hara dalam tanah.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

Pati merupakan polimer alam yang terbentuk akibat kondensasi karena di dalam gugus
fungsinya terdapat gugus aktif (OH-H), Pati terdiri dari:
a. Amilosa

: 25% (rantai linear)

b. Amilopektin: 75% (rantai bercabang)


Pada polimer pati dapat terjadi proses gelatinasi. Gelatinasi adalah perubahan yang terjadi pada
granula pati pada waktu mengalami pembengkakan yang luar biasa akibat penyerapan air dan tidak
dapat kembali ke bentuk semula. Peristiwa ini juga dapat disebut dengan koagulasi koloid yang
mengakibatkan terperangkapnya air pada suhu tertentu. Temperatur saat gelatinasi berbeda untuk
setiap jenis polimer, namun untuk pati suhu gelatinasi adalah sekitar 69oC. Pada temperatur itulah
amilosa (akibat rantai yang lurus) mudah keluar dari granula dan pada saat itu juga molekul H 2O
berdifusi ke granula akibat adanya perbedaan temperature antara lingkungan dengan granula.
Gambar A. susunan amilosa dan
amilopektin dalam satu granula
pati.
Gambar B. amilosa keluar dari
granula pati
Gambar C. proses retrogradasi

Setelah proses gelatinasi, pada saat pendinginan akan terjadi proses retrogradasi. Retrogradasi
adalah proses penyusunan amilosa saat setelah gelatinasi disekitar granula.
Polimer pati harus ditambahkan dengan bahan lain seperti gliserol atau PVA untuk
mendapatkan struktur dan sifat seperti plastik,
Gliserol merupakan sebuah komponen utama dari semua lemak dan minyak, dalam bentuk
ester yang disebut gliserida. Molekul trigliserida terdiri dari satu molekul gliserol dikombinasikan
dengan tiga molekul asam lemak. Gliserol memiliki gugus reaktif OH pada struktur kimianya.
Pada suhu rendah, gliserol kadang-kadang membentuk kristal yang cenderung meleleh pada
17,9C. Gliserol cair mendidih pada 290C di bawah tekanan atmosfer normal. Berat jenis 1.26
dan berat molekul adalah 92,09.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

Sedangkan PVA (Polivynil Alcohol) adalah polimer yang terbentuk bukan karena adisi atau
kondensasi, melainkan hasil dari reduksi PVAC (Polivynil Asetat). PVA juga memiliki gugus
reaktif OH dan memiliki rantai utama yang panjang. Pada suhu kamar, PVA berbentuk padatan.
Titik leleh dari PVA adalah 120-140oC dengan titik didih ~280 oC dan densitasnya 1.18-1.31
kg/m3.

Struktur kimia PVA

Struktur kimia Gliserol

Degradasi pada polimer dapat disebabkan oleh beberapa factor, seperti sinar UV, thermal,
hydrolytic, mikroorganisme, dan pembebanan mekanik. Oleh sebab itu dalam pembuatannya,
polimer ditambahkan zat aditif guna mengatasi berbagai factor penyebab degradasi tersebut.
Berikut adalah gambar yang menunjukkan proses degradasi polimer dialam.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

Penggunaan plastik biodegradable memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah


menurangi permintaan bahan bakar fosil. Ini terjadi karena plastik jenis ini dibuat dari bahan alam
yang mudah didapat disekitar kita sehingga proses ini mengurangi permintaan minyak mentah dan
bahan bakar fossil lainnya. Keuntungan lain dari plastik biodegradable adalah dapat mengurangi
volume sampah kota. Hal ini terjadi karena sifat degradasinya yang cukup cepat. Polimer ini juga
dapat dikomposkan dengan cara mengumpulkannya bersama dengan sisa makanan atau limbah
pekarangan lainnya dan dialihkan ke tumpukan kompos yang akhirnya dapat dimanfaatkan sebagai
pupuk tanaman. Selain memiliki kelebihan, plastik biodegradable juga memiliki kekurangan
seperti proses produksi yang lebih mahal dibandingkan dengan pembuatan plastik konvensional.
Bioplastic juga memiliki kekurangan dibidang kekuatan dan daya tahan mekanik dibandingkan
dengan plastik konvensional.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

BAB III
PENGOLAHAN DATA

Melalui praktikum ini didapat data sebagai berikut:


a. Kekuatan Tarik Pati - Gliserol
No.

Berat Gliserol (g)

Kekuatan Tarik (MPa)

% Elongasi

10.5

25

0.5

9.5

27

8.5

40

1.5

6.7

60

5.8

90

b. Hasil pengujian mekanik plastik campuran pati tapioka/PVA


Modulus

Komposisi

Berat PVA

Kekuatan

Pertambahan

PVA (%)

(g)

Tarik (MPa)

Panjang (%)

16.98

1.51

1396.13

15

1.5

15.21

2.07

1126.25

30

12.66

6.1

882.75

37.5

3.75

11.98

9.44

709.95

45

4.5

11.06

12.78

487.93

50

10.23

26.29

365.79

100

10

7.88

190

117.765

No.

Elastisitas
(MPa)

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

c. Hasil uji degradasi plastik pati tapioka/PVA dalam air


PVA

1 hari

1.5 hari

2 hari

2.5 hari

3 hari

3.5 hari

4 hari

15

30

37.5

45

50

100

(%)

Keterangan: x: berat larut, +: larut

d. Berat plastik yang tidak terurai pada uji degradasi


PVA (%)

Waktu
degradasi

15

30

37.5

45

50

100

0 hari

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

1 hari

92.76%

78.91%

69.73%

50.78%

41.30%

37.80%

1.5 hari

91.85%

68.87%

60.53%

34.76%

2 hari

90.63%

58.12%

48.89%

2.5 hari

89.60%

47.47%

38.79%

3 hari

79.87%

30.12%

3.5 hari

73.36%

4 hari

62.74%

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

e. Kurva uji degradasi plastik pati/PVA dalam air pada berbagai komposisi PVA

120%

Komposisi PVA (%)

100%
80%

0PVA
15PVA
30PVA
37.5PVA
45PVA
50PVA
100PVA

60%
40%
20%
0%
0

Waktu Degradasi (hari)

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

BAB IV
ANALISIS DATA
Septian Dwi Putra (123.13.002)
Mana yang lebih baik? Polimer blending pati dan PVA atau polimer pati ditambah gliserol sebagai
aditif ?
Jawabannya tentu adalah polimer blending, selain karna polimer blending adalah salah satu
cara yang efisien dan mudah untuk mendapatkan rekayasa sifat tertentu terhadap polimer, sifat
mekanis polimer hasil polimer blending juga akan lebih baik tentunya dibanding polimer + aditif.
Bisa dilihat dari data di tabel, kekuatan tarik polimer blending jauh lebih unggul dibanding polimer
yang ditambah dengan zat aditif gliserol.
Dalam pengujian degradasi di dalam air, dari data yang didapat, semakin banyak
PVAlkohol ditambahkan maka semakin cepat plastik terdegradasi di dalam air, begitu juga
sebaliknya semakin sedikit %PVA maka semakin lama terdegradasi di dalam air, itu dikarenakan
sifat reaktif monomer alkohol yang mudah bereaksi dengan air dan molekul air bisa dengan mudah
memutus ikatan antar rantai PVAlkohol tersebut yang akan berimbas pada sifat polimer hasil
blending tersebut pula.
Gelatinasi adalah perubahan yang terjadi pada granula pati pada waktu mengalami
pembengkakan yang luar biasa dan tidak dapat kembali ke tempat semula. Atau peristiwa
koagulasi koloid yang mengakibatkan terperangkapnya air pada suhu tertentu. Temperatur saat
gelatinasi adalah 69 oC. Pada temperatur itulah amilosa, akibat rantai yang lurus mudah keluar dan
dimanfaatkan. Disaat itu juga molekul H2O masuk ke granula.
Sedangkan Retrogradasi adalah proses penyusunan amilosa saat setelah gelatinasi disekitar
granula.
Lalu mengapa pati (termoplast) saat diberi panas tidak melalui fasa leleh dulu sebelum
terdegradasi?
Itu dikarenakan ikatan hidrogen didalam granula sangat banyak jumlahnya, sehingga
belum sempat polimer mencapai Temperatur Meltingnya dan panas masuk ke inti granula,
pinggiran granula sudah hitam terlebih dulu sehingga yg terlihat adalah degradasinya dulu
dibanding fasa meltingnya.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

10

R. Imam Fadly Saputra (123.13.016)

a. Hasil pengujian kekuatan uji tarik plastik campuran Pati - Gliserol


No.

Berat Gliserol (g)

Kekuatan Tarik (MPa)

% Elongasi

10.5

25

0.5

9.5

27

8.5

40

1.5

6.7

60

5.8

90

b. Hasil pengujian kekuatan uji tarik plastik campuran Pati - PVA


Modulus

Komposisi

Berat PVA

Kekuatan

Pertambahan

PVA (%)

(g)

Tarik (MPa)

Panjang (%)

16.98

1.51

1396.13

15

1.5

15.21

2.07

1126.25

30

12.66

6.1

882.75

37.5

3.75

11.98

9.44

709.95

45

4.5

11.06

12.78

487.93

50

10.23

26.29

365.79

100

10

7.88

190

117.765

No.

Elastisitas
(MPa)

Seperti yang kita lihat dari data yang didapatkan pada kedua tabel diatas, bahwa baik pada
bioplastik dengan penambahan Gliserol ataupun PVA, ketika diberikan plastisizer dengan
komposisi yang terus bertambah, akan membuat kekuatan tarik nya terus menurun, namun
elongasi nya terus bertambah.
Perbedaanya adalah jika menggunakan PVA maka akan didapat kekuatan tarik yang lebih
tinggi dan elongasi yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena PVA adalah polimer sehingga
lebih banyak membentuk ikatan sekunder dan lebih kuat.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

11

Maka akan didapatkan hasil plastik dari pencampuran Pati-PVA yang lebih bagus
dibandingkan dengan Pati-Gliserol karena bisa dilihat dari sifat mekanik yang didapatkan pada
tabel diatas, plastik Pati-PVA lebih bagus dibandingkan dengan plastik Pati-Gliserol
Plastik jenis ini dapat meningkatkan sifat mekanik, karena mudah terurai pada alam. Dan
dapat berfungsi sebagai penghalang gas terutama oksigen, karbon dioksida dan lemak.

c. Hasil uji degradasi plastic pati plastic/PVA dalam air


PVA

1 hari

1.5 hari

2 hari

2.5 hari

3 hari

3.5 hari

4 hari

15

30

37.5

45

50

100

(%)

Keterangan: x: berat larut, +: larut

d. Berat plastic yang tidak terurai pada uji degradasi


PVA (%)

Waktu
degradasi

15

30

37.5

45

50

100

0 hari

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

1 hari

92.76%

78.91%

69.73%

50.78%

41.30%

37.80%

1.5 hari

91.85%

68.87%

60.53%

34.76%

2 hari

90.63%

58.12%

48.89%

2.5 hari

89.60%

47.47%

38.79%

3 hari

79.87%

30.12%

3.5 hari

73.36%

4 hari

62.74%

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

12

e. Kurva uji degradasi 13lastic pati/PVA dalam air pada berbagai komposisi PVA

120%

Komposisi PVA (%)

100%
80%

0PVA
15PVA
30PVA
37.5PVA
45PVA
50PVA
100PVA

60%
40%
20%
0%
0

Waktu Degradasi (hari)

Dari tabel dan grafik yang didapatkan diatas, semakin banyak penambahan PVA pada
pembuatan 13lastic tersebut, akan semakin cepat terdegradasi (biodegredeble). Hal ini dikarenakan
PVA 13lastic yang dapat menyerap air jauh lebih banyak daripada massanya sendiri. Monomer
penyusunnya berupa vinilasetat (CH2=CHOH).

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

13

Nico Febry Ramadhan (123.13.017)


Data dari tabel hasil percobaan didapatkan data bahwa pada bioplastik dengan komposisi
penambahan PVA ataupun gliserol, pada saat diberikan plastisizer dengan komposisi yang terus
bertambah, akan mengakibatkan kekuatan tarik nya akan terus mengalami penurunan, tetapi
elongasi nya terus bertambah.
Namun terdapat sebuah perbedaan yaitu, perbedaanya adalah apabila menggunakan PVA
maka akan menghasilkan kekuatan tarik yang lebih tinggi dan juga elongasi yang lebih besar.
fenomena ini disebabkan oleh PVA karena PVA adalah polimer sehingga dapat membentuk ikatan
sekunder yang lebih banyk dan akan lebih kuat

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

14

Neneng Annisa Widaningsih (123.13.022)


Pati merupakan salah satu jenis polimer alam yang melimpah dialam. Pati memiliki sifat
mudah terdegradasi karena pati merupakan karbohidrat yang disukai oleh bakteri sehingga tidak
perlu waktu yang lama untuk terurai. Karena sifatnya yang mudah terdegradasi pati menjadi salah
satu bahan yang dapat dijadikan sebagai plastik dan menjadi solusi dari masalah plastik yang saat
ini telah terjadi. Pati mengandung amilosa 25% dan amilopektin 75%. Pati akan mengalami
gelatinasi, ketika suhu dipanaskan sampai ke temperatur gelatinasi akan memutuskan ikatan
hidrogen antara amilosa dan amilopektin, air akan masuk ke dalam granula dan amilosa akan
keluar. Lalu amilosa yang keluar akan akan menyusun diantara granular atau biasa disebut
retrogradasi. Ketika kadar air dalam pati hilang maka akan terbentuk plastik. Untuk meningkatkan
fleksibilitas dapat dilakukan dengan penambahan plasticizer (gliserol) dan blending (pati+PVA).
Pada percobaan pati yang ditambah gliserol, semakin banyak berat gliserol yang
ditambahkan maka kekuatan tarik nya akan menurun namun persen elongasinya bertambah.
Plasicizer merupakan bahan tambahan pada pembuatan film dari polimer. Plasicizer akan
mengurangi gaya intermolekul yang dapat menyebabkan peningkatan ruang molekul dan mobilitas
dari biopolimer. Penurunan nilai kekuatan tarik dikarenakan dengan penambahan volume gliserol
akan menurunkan kemampuan dispersi dari padatan sehingga menghasilkan sifat fisik yang lemah.
Penambahan gliserol menyebabkan penurunan gaya tarik antar molekul sehingga menyebabkan
ketahanan terhadap perlakuan mekanis film bioplastik tersebut akan semakin menurun. Namun
dengan penambahan gliserol yang terus meningkat akan menurunkan gaya intermolekul antar
rantai, menyebabkan gerakan rantai lebih bebas sehingga fleksibilitas mengalami peningkatan
(semakin elastis).
Pada percobaan pati yang ditambahkan PVA kekuatan tariknya akan lebih tinggi jika
dibandingkan dengan kekuatan tari dengan penambahan gliserol hal ini dipengaruhi oleh ikatan
hidrogen antar molekuler semakin tinggi maka titik didihnya juga semakin tinggi sehingga nilai
kuat tarik bioplastik tinggi karena bioplstik pada saat putus memerlukan energi besar. Semakin
tinggi konsentrasi polivinil alkohol yang ditambahkan menyebabkan larutan menjadi sangat kental
dan rantai menjadi panjang, semakin panjang rantai polimer pada sampel menyebabkan pelepasan
rantai monomer yang tidak mudah sehingga mempunyai elastisitas yang tinggi. Persen elongasi

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

15

semakin besar seiring bertambahnya kadar PVA yang ditambahkan karena terjadi Entanglement
atau proses kusut pada rantai.
Dengan kadar penambahan PVA yang tinggi akan menurunkan kekuatan tarik dan modulus
elastisitas namun akan menaikan persen elongasi, sesuai dengan persamaan :

Keterangan: E = Modulus Elastisitas


= Tensile Strength
= Elongasi

Semakin banyak kadar PVA yang ditambahkan maka akan semakin mudah larut, polivinil
alkohol memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengembang di dalam air atau mempunyai sifat
hidrofilik.
Semakin bertambahnya polivinil alkohol (PVA) dan pati maka bioplastik pada uji
degradasi ini memiliki hasil yaitu semakin terdegradasi oleh mikroorganisme karena pati dan
polivinil alkohol (PVA) bersifat hidrofilik sehingga mudah terdegradasi oleh mikroorganisme.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

16

Eva Gusnida (123.13.029)


Data yang didapat dari percobaan ini adalah kekuatan tarik dan uji degradasi dalam air.
Hasil uji tarik pada tabel a dan b menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah gliserol atau PVA
yang ditambahkan pada pati maka kekuatan tariknya semakin menurun dan elongasi semakin
bertambah. Hal ini terjadi karena saat ditambahkan, gliserol/PVA akan menyusup diantara
backbone pati yang menyebabkan jarak antar rantai bertambah sehingga hanya dibutuhkan sedikit
energy untuk dapat menggerakkan dan melepaskan ikatan ini. Jadi semakin banyak gliserol/PVA
yang menyusup diantara backbone maka semakin banyak jarak antar backbone yang melebar
sehingga kekuatan menurun.
Dengan komposisi yang sama, pati yang ditambahkan PVA memiliki kekuatan tarik yang
lebih tinggi dibandingkan dengan pati yang ditambahkan gliserol. Ini terjadi akibat dari struktur
kimia PVA yang memiliki rantai lebih panjang daripada gliserol. PVA tergolong kedalam jenis

Gliserol

PVA

polimer yang memiliki rantai cenderung dapat terus tumbuh hingga membentuk rantai panjang
dengan n yang besar. Akibatnya adalah semakin panjang rantai maka semakin banyak ikatan
hydrogen yang dapat terbentuk antara PVA dengan gugus pati sehingga untuk dapat memutuskan
semua ikatan hydrogen yang telah terbentuk antara keduanya dibutuhkan energy yang besar.
Sedangkan gliserol tidak dapat digolongkan ke dalam jenis polimer karena hanya memiliki struktur
molekul kecil dan tidak dapat terus tumbuh. Sehingga saat pati ditambahkan gliserol hanya dapat
terbentuk sedikit ikatan hydrogen.
Data selanjutnya menunjukkan hasil uji degradasi plastik PVA didalam air. Data tersebut
menjelaskan bahwa semakin banyak %PVA yang ditambahkan kedalam pati maka semakin cepat
proses degradasi plastik tersebut didalam air. Hal ini terjadi karena PVA merupakan molekul
hidrofilik yang sangat mudah menyerap air. Akibatnya semakin banyak jumlah PVA yang
ditambahkan maka semakin banyak dan cepat dalam menyerap air. Fenomena ini menyebabkan
terjadinya perbedaan konsentrasi antara granula pati dengan lingkungannya sehingga molekul

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

17

PVA yang telah menyerap air akan berdifusi ke dalam granula pati dan membuat granula
membengkak. Semakin banyak jumlah air yang masuk maka volume granula semakin membesar
hingga suatu saat granula ini pecah dan menyebabkan molekul amilosa keluar. Proses ini yang
membuat plastic terdegradasi. Oleh sebab itu semakin banyak PVA yang ditambahkan maka akan
semakin mudah menyerap air dan semakin cepat terjadinya difusi sehingga semakin cepat granula
mengalami pembengkakan dan degradasi.
Berat plastik yang tidak terurai pada uji degradasi berbanding terbalik dengan jumlah PVA
yang ditambahkan. Semakin sedikit komposisi PVA dalam suatu polimer maka akan semakin
banyak plastic yang tidak terurai.
Berdasarkan sruktur rantai, kita dapat mengetahui bahwa polimerisasi yang terjadi antara
pati dengan PVA adalah reaksi kondensasi yang menghasilkan produk samping berupa air.

Semakin banyak PVA yang ditambahkan maka akan semakin banyak molekul air yang terbentuk.
Hingga suatu saat ketika dipanaskan, akan terjadi proses gelatinase yaitu membengkaknya granula
akibat masuknya molekul air. Proses ini memutuskan ikatan hydrogen antara amilosa dengan
amilopektin sehingga menyebabkan molekul amilosa dengan mudah keluar dari granula akibat
rantainya yang lurus. Selama pendinginan molekul-molekul akan menyusun kembali namun tidak
dapat kembali ke bentuk awal. Amilosa yang telah keluar akan menyusun diri disekitar granula.
Proses ini yang disebut dengan retrogradasi.
Pati terbentuk dari molekul amilosa dan amilopektin. Antar dua komponen ini membentuk
ikatan hydrogen dalam jumlah besar karena banyaknya gugus fungsi yang reaktif. Ikatan hydrogen
ini menyebabkan sifat mekanik semakin meningkat. Oleh sebab itu pati mempunyai sifat yang
getas karena ikatan yang terbentuk adalah ikatan hydrogen.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

18

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Melalui praktikum ini kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Plastik biodegradable dapat dibuat melalui proses kondensasi antara pati dengan
gliserol atau pati dengan PVA.
2. Plastik hasil blending antara pati+PVA memiliki sifat mekanik yang lebih baik dari
pada plastik hasil penambahan aditif seperti pati+gliserol.

B. SARAN
Pada praktikum ini diharapkan praktikan mengikuti semua proses percobaan agar
mereka mengetahui bagaimana proses data tersebut diperoleh sehingga lebih memudahkan
dalam menganalisa data.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

19

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1. Strong, Brent. 2006. Plastics Materials and Processing. Ohio: Brigham Young University.
2. Rahayu, A. 2016. Gelatinasi. Academia, (Online),
(https://www.academia.edu/16579273/GELATINISASI)
3. Sari, Anindhya. 2016. BAB II Tinjauan Pustakaa. IPB, (Online),
(https://www.academia.edu/5188973/BAB_II_Tinjauan_Pustakaa).

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

20

LAMPIRAN
A. PERTANYAAN SETELAH PRAKTIKUM
1. Sebutkan kelebihan dan kekurangan penambahan gliserol dan PVA didalam
bioplastic pati!
Jawab:
No.

Perbedaan

PVA

Gliserol

Kekuatan tarik

Sangat kuat

Tidak kuat

Elongasi

Kecil

Besar

Sifat fisik

Kaku dan keras

Lentur

Warna

Bening dan trasparan

Bening dan translucent

2. Jelaskan pengaruh plasticizer terhadap struktur plastik!


Jawab:
Penambahan plasticizer menyebabkan bertambahnya jarak antar backbone akibat adanya
molekul plasticizer yang masuk diantara ikatan sekunder antar rantainya. Oleh sebab itu
ikatan intermolekul semakin melemah sehingga menyebabkan mudah untuk mengalami
deformasi dan hanya membutuhkan sedikit energy untuk dapat memutuskan ikatan
intermolecular ini agar plastik dapat berubah bentuk (fleksibel).

3. Apabila anda harus membuat kantong plastik dari pati, mana yang lebih anda sukai,
anda tambahkan dengan gliserol atau PVA?
Jawab:
Menurut pendapat kami, jika hanya untuk pembuatan kantong plastik, penambahan gliserol
lebih baik untuk dilakukan. Pertimbangannya adalah kantong plastik tidak membutuhkan
sifat mekanik yang terlalu tinggi karena pembebanan pada kantong plastik cukup kecil.
Disamping itu juga dibutuhkan sifat lentur dan fleksibel agar mudah dalam proses
pengangkutan barang.

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

21

B. FOTO HASIL KEGIATAN

Gambar 3. Bahan dan alat yang


digunakan dalam percobaan

Gambar 1. Proses pemanasan pati

Gambar 4. Penimbangan pati

Gambar 2. Proses pengadukan


pati+PVA

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL F KELOMPOK 2

22