Anda di halaman 1dari 14

1

KOMPOSISI MAKROFAUNA TANAH


Berliyana Indrasari
Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Sebelas Maret
Laboratorium KKC, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret
Email : berliyana_indra@student.uns.ac.id
Abstrak
Praktikum yang berjudul Komposisi Makrofauna Tanah bertujuan untuk : 1) Mengkoleksi makrofauna tanah
dengan menggunakan metode pitfall trap (perangkap jabakan sumur); 2) Mengetahui pengaruh faktor
lingkungan fisik terhadap makrofauna tanah; 3) Menghitung keanekaragaman makrofauna tanah. Praktikum
dilaksanakan pada tanggal 8-10 April 2016 di lokasi LPPM Universitas Sebelas Maret Surakarta. Praktikum
ini memerlukan alat antara lain alat penggali, gelas plastik, patok kayu, terpal plastik, botol jam, botol koleksi,
kertas label, pinset, soil tester, termometer, gelas ukur, pH meter, alat tulis, dan kamera. Bahan yang digunakan
dalam praktikum adalah detergen, aquades, alkohol 70%, gliserin, dan formalin 4%. Berdasarkan hasil analisis
kuantitatif perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener data angkatan, diperoleh indeks
keanekaragaman komposisi makrofauna tanah di lokasi kampus UNS Kentingan sebesar 2,98292. Indeks
keanekaragaman di lokasi kampus UNS Kentingan termasuk dalam kategori sedang dikarenakan berada
diantara 1,5-3,5. Hasil analisis kuantitatif perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener di lokasi
LPPM UNS, diperoleh indeks keanekaragaman komposisi makrofauna tanah sebesar 1.61029. Indeks
keanekaragaman di lokasi kampus UNS Kentingan termasuk dalam kategori sedang dikarenakan berada
diantara 1,5-3,5. Indeks keanekaragaman sedang menunjukkan produktivitas sedang, tekanan sedang dan
ekosistem dikatakan stabil. Komposisi makrofauna tanah yang ditemukan di LPPM yaitu Araneus diademantus,
Dolichoderus sp., Drosophila melanogaster, Oechophylla sp., Pheidole sp., dan Pheidole thoracicus.

Kata kunci : makrofauna tanah, pitfall trap, indeks keanekaragaman Shannon-Weiner


PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Populasi dapat didefinisikan sebagai sekelompok organisme dari speses yang
sama yang menduduki ruang atau waktu tertentu dengan pola tertentu pula. Teknik
dan penentuan indeks kelimpahan itu banyak sekali macamnya tergantung dari spesies
hewan berikut kekhasan perilakunya serta macam habitat yang ditempatinya. Salah
satu metode penentuan indeks kelimpahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum
ini adalah Metode Perangkap Jebak (pitfall trap). Metode pitfall traps merupakan
metode penangkapan hewan dengan sistem perangkap, khususnya untuk hewan yang
hidup di permukaan tanah. Jelaslah bahwa hewan yang hidup dipermukaan tanah
merupakan bagian yang menysusun ekosistem tanah, sehingga kehidupan hewan
tanah tersebut dapat ditentukan oleh habitatnya. Dengan kata lain keberadaan dan
kepadatan suatu populasi suatu jenis hewan di suatu daerah sangat tergantung dari
faktor lingkungan, yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik penyusun habitat
tersebut. Adanya faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan suatu makhluk
hidup, maka hal ini dapat menimbulkan kemampuan adaptif dan interaksi. Pada studi

ekologi, hewan yang hidup di tanah, pengukuran faktor lingkungan abiotik penting
dilakukan karena faktor abiotik mampu mempengaruhi keberadaan dan kepadatan
populasi kelompok hewan ini. Pengukuran faktor lingkungan abiotik, dapat
memberikan informasi besarnya pengaruh faktor tersebut terhadap keberadaan dan
kepadatan populasi hewan yang di teliti. Pengukuran faktor lingkungan abiotik antara
lain adalah pengukuran suhu dan pH tanah.
Oleh karena itu, tujuan metode pitfall trap adalah untuk menjebak binatangbinatang permukaan tanah agar jatuh ke dalamnya sehingga bisa dilakukan
identifikasi atau untuk mengoleksi jenis binatang permukaan tanah yang berada pada
lingkungan perangkap dengan disertai pengukuran faktor lingkungan abiotik yang
meliputi pengukuran suhu dan pH tanah. Akan tetapi metode pitfall traps tidak dapat
digunakan untuk mengukur besarnya populasi namun dari data yang diperoleh bisa
didapatkan cerminan komunitas binatang tanah dan indeks diversitasnya
B. Kajian teori
Makrofauna tanah merupakan organisme yang hidup di permukaan tanah, celahcelah tanah, dan tanah di dekat akar pohon (Ruiz, 2008) Makrofauna tanah bagian
dari biodiversitas yang berukuran 2 mm 20 mm. (G, 1993) Makrofauna tanah
memiliki peran dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah melalui proses
imobilisasi dan humifikasi. Makrofauna merupakan kelompok binatang yang
kebanyakan tergolong dalam jenis insecta, crustaceae, diplopoda, dan mollusca.
Dalam dekomposisi bahan organik, makrofauna tanah banyak berperan pada proses
fragmentasi (comminusi) serta memberikan fasilitas lingkungan (mikrohabitat) yang
lebih baik untuk proses dekomposisi yang dilakukan kelompok mesofauna dan
makrofauna tanah serta berbagai jenis bakteri dan fungi. (Lavelle P, 1994) Peran lain
makrofauna tanah adalah merombak materi tumbuhan dan hewan yang mati,
mengangkut materi organik dari permukaan ke dalam tanah, perbaikan struktur tanah
dan proses pembentukan tanah. Maktrofauna tanah berperan aktif dalam menjaga
kesuburan tanah. (Adianto, 1993)
Menurut Krebs (1989), populasi hewan yang hidup ditanah baik di dalam maupun
diatas tanah seperti cacing tanah, semut, kelompok arcarina, kumbang, bekicot dan
beberapa jenis lainnya mampu hidup pada pH sekitar 6-7. Odum (1994)
menambahkan hewan mesobiota tanah antara lain adalah cacing, cacing oligochaea,
enchytracida, larva serangga yang lebih kecil dan mikro arthropoda, seperti acarina
dan collembola serta mikrobiota yang juga meliputi serangga yang lebih besar seperti
cacing tanah, jangkrik, kecoa, kumbang tanah dan lainya.

Metode pitfall trap merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui
kerapatan atau kemelimpahan makrofauna tanah. Pit fall trap merupakan metode yang
paling baik untuk menjebak serangga aktif di atas permukaan tanah ( Darma,
dkk.2013:758).
Indeks keragaman untuk setiap spesies satu dengan yang lainnya akan berbeda
karena indeks keragaman spesies bergantung pada jumlah spesies tersebut.(Leksono,
2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi indeks diversitas makrofauna tanah adalah :
a) Suhu tanah
Sulandjari (2005) menyatakan bahwa peningkatan suhu udara akan
menurunkan indeks diversitas makrofauna tanah dan suhu udara dipengaruhi
radiasi cahaya matahari yang diterima bumi. Semakin tinggi intensitas cahaya
maka suhu udara semakin tinggi. Menutut Kevan dalam Sugiyarto (2007) suhu
yang terlalu tinggi akan mempengaruhi metabolisme dan pada akhirnya akan
mempengaruhi keanekaragaman yang ada pada makrofaunan tanah.
b) Ph tanah
Suin (1997) menyatakan bahwa peningkatan pH akan meningkatkan indeks
diversitas makrofauna permukaan tanah, begitu sebaliknya. Adianto (1993) yang
menjelaskan bahwa kisaran pH 6,5 makrofauna permukaan tanah dapat hidup. pH
sangat penting dalam ekologi fauna tanah karea keberadaan dan kepadatan fauna
sangat bergantung dengan derajat keasaman tanah.
c) Intensitas cahaya dan suhu udara
Sugiyarto (2000) menyatakan bahwa intensitas cahaya ini dipengaruhi oleh
adanya kanopi yang menutupi tanahm, dengan adanya kanopi yang menaungi
tanah, apabila semakin rapat kanopi yang menutupi tanah maka semakin sedikit
cahaya yang dapat menembus tanah dan semakin banyak makrofauna yang dapat
hidup.
d) Kelembapan Udara
Menutrut Sugiyarto,2000 peningkatan kelembapan relatif udara akan
menyebabkan peningkatan diversitas makrofauna tanah, adanya kelembapan
relatif udara yang rendah/menurun akan menyebabkan diversitas makrofauna
tanah juga menurun. Kelembapan udara ini masih berhubungan erat dengan
kanopi tegakan yang menutupi area tersebut. Pada umunya, semakin banyak
kanopi semakin tinggi kelembapan udaranya.
e) Bahan organik tanah
Sugiyarto (2007) menyatakan bahwa semakin tinggi dekomposisi residu
organik maka semaik tinggi deversitas makrofauna tanahnya. Hal tersebut terjadi
karena bahan organik tinggi yang berguna sebagai pelindung makrofauna tanah.
f) Jenis vegetasi tanaman

Sugiyarto (2000) menyatakan bahwa semakin tinggi jenis vegetasi tanah yang
ada maka keaanekaragaman makrofauna akan semakin tinggi, hal ini terjadi
karena jenis vegetasi yang tinggi akan mempengaruhi ketersediaan nutrisi bagi
makrofauna yang ada, terutama bagi jenis makrofauna yang hidup di dalam tanah.
C. Rumusan masalah
1) Bagaimana komposisi makrofauna tanah dengan menggunakan metode pitfall trap
(perangkap jabakan sumur)?
2) Bagaimana pengaruh faktor lingkungan fisik terhadap makrofauna tanah?
3) Bagaimana menghitung keanekaragaman makrofauna tanah?
D. Tujuan
1) Mengkoleksi komposisi makrofauna tanah dengan menggunakan metode pitfall trap
(perangkap jabakan sumur);
2) Mengetahui pengaruh faktor lingkungan fisik terhadap makrofauna tanah;
3) Menghitung keanekaragaman makrofauna tanah.
BAHAN DAN METODE
Praktikum dilaksanakan di lokasi LPPM Universitas Sebelas Maret Surakarta. Alat
yang digunakan dalam kegiatan pengamatan komposisi makrofauna yang ada di lokasi
pengamatan adalah alat penggali (sekop, linggis), gelas plastik, patok kayu, terpal plastik, tali
rafia, botol koleksi, kertas label, pinset, soil tester, dan termometer. Bahan yang digunakan
dalam kegiatan pengamatan makrofauna tanah yang ada di lokasi pengamatan adalah
detergen, air, alkohol 70%, dan formalin 4 %.
Larutan atractan yang dibuat untuk satu angkatan dengan cara memasukan 100 ml
detergen cair ke dalam 300 ml air, dilanjutkan dengan memasukkan 150 ml gliserin ke dalam
larutan detergen, kemudian memasukan 200 ml alkohol 70% ke dalam larutan, dan mengaduk
larutan detergen, gliserin, alkohol, air. Selanjutnya membagi larutan ke dalam 12 botol jam.
Pemasangan jebakan dengan pitfall trap (perangkap jabakan sumur) dilakukan dengan
mekanisme sebagai berikut : mengisi gelas air mineral yang akan dibuat penampungan
dengan larutan formalin 4% setinggi 2 cm, kemudian ditambah dengan detergen dan alkohol
70% sampai setinggi permukaan gelas, kemudian dipasang pelindung pada bagian atas
cawan jebakan. Jebakan dibenamkan di dalam tanah dengan permukaan tanah. perangkap
dipasang pagi hari dan diambil sore harinya (hewan diurnal), sedangkan pemasangan sore
diambil pagi hari (hewan nocturnal). Pengkoleksian dengan menggunakan botol flakon yang
berisi larutan formalin untuk kemudian diidentifikasi. Berikut gambar pemasangan pitfall
trap (perangkap jabakan sumur) :

Gambar 1.

Pemasangan pitfall trap

(perangkap jabakan

sumur) di

lokasi pengamatan

Pengamatan spesies makrofauna tanah pada percobaan komposisi makrofauna di


lokasi LPPM dilakukan dengan mencatat kondisi lokasi penelitian (faktor klimatik : suhu,
kelembaban, pH, tanah, tekstur tanah, jenis tanah, vegetasi diatas tanah dan pendayagunaan
lahan yang digunakan untuk eksperimen).
Data yang diperoleh berupa jumlah individu makrofauna tanah pada lokasi LPPM
yang

dianalisis

dengan Indeks

Keanekaragaman

Shannon-Weiner. Rumus

Keanekaragaman Shannon-Weiner sebagai berikut :


H = (ni/N) ln (ni/N)
Keterangan :
H = Indeks Keanekaragaman Shannon-Weiner
ni = jumlah individu jenis i
N = jumlah total individu seluruh jenis

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisa Kuantitatif
Perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Weinner Lokasi LPPM
Tabel 1. Perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Weinner Lokasi LPPM
1. Araneus diademantus
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (1/29) ln (1/29)
H = - (0,034483) (-3,3673)
H = 0,11611
3. Drosophila melanogaster
H = - (ni/N) ln (ni/N)

2. Dolichoderus sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (6/29) ln (6/29)
H = - (0,206897) (-1,57554)
H = 0,32597
4. Oechophylla sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)

Indeks

H = - (2/29) ln (2/29)
H = - (8/29) ln (8/29)
H = - (0,068966)(-2,67415)
H = - (0,275862) (-1,28785)
H = 0,18442
H = 0,35527
5. Pheidole sp.
6. Pheidole thoracicus
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (4/29) ln (4/29)
H = - (8/29) ln (8/29)
H = - (0,137931) (-1,981)
H = - (0,275862) (-1,28785)
H = 0,27324
H = 0,35527
Pada lokasi LPPM hanya ditemukan 6 spesies makrofauna tanah yang
meliputi Araneus diademantus, Dolichoderus sp., Drosophila melanogaster,
Oechophylla sp., Pheidole sp., dan Pheidole thoracicus.
Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener Lokasi 5:
H = (ni/N) ln (ni/N)
H = 0,11611+0,32597+0,18442+0,35527+0,27324+0,35527
H = 1.61029
Sehingga diperoleh total Indeks Keanekaragaman Shannon-Weiner sebesar 1.61029

Tabel 2. Perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Weiner lokasi LPPM, FH, FK,


Stadion, GOR, dan FT
1. Acheta domesticus
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (2/528) ln (2/528)
H = - (0.003788) (-5.57595)
H = 0.02112
3. Araneus diademantus
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (1/528) ln (2/528)
H = - (0.001894) (-6.2691)
H = 0.01187
5. Camponotus caryae
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (20/528) ln (20/528)
H = - (0.037879) (-3.27336)
H = 0.12399
7. Camponotus nigriceps
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (4/528) ln (4/528)
H = - (0.007576)( -4.8828)
H = 0.03699
9. Dolichoderus sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (16/528) ln (16/528)
H = - (0.030303) (-3.49651)
H = 0.10595
11. Drosophila sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)

2. Anoplolepis sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (57/528) ln (57/528)
H = - (0.107955) (-2.22605)
H = 0.24031
4. Calosoma imbricatum
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (18/528) ln (18/528)
H = - (0.034091) (-3.37872)
H = 0.11518
6. Camponotus herculeanus
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (34/528) ln (34/528)
H = - (0.064394) (-2.74274)
H = 0.17662
8. Collembola sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (1/528) ln (2/528)
H = - (0.001894) (-6.2691)
H = 0.01187
10. Drosophila melanogaster
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (25/528) ln (25/528)
H = - (0.047348 (-3.05022)
H = 0.14442
12. Forficula auricularia
H = - (ni/N) ln (ni/N)

H = - (10/528) ln (10/528)
H = - (0.018939)( -3.96651)
H = 0.07512
13. Gryllus assimilis
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (4/528) ln (4/528)
H = - (0.007576)( -4.8828)
H = 0.03699
15. Labiopa sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (31/528) ln (31/528)
H = - (0.058712) (-2.83511)
H = 0.16646
17. Nolicholerus thloracicus
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (6/528) ln (6/528)
H = - (0.0011364) (-4.47734)
H = 0.05088
19. Ogcodes
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (2/528) ln (2/528)
H = - (0.003788) (-5.57595)
H = 0.02112
21. Ordo oconra
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (2/528) ln (2/528)
H = - (0.003788) (-5.57595)
H = 0.02112
23. Pheidole sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (6/528) ln (6/528)
H = - (0.0011364) (-4.47734)
H = 0.05088
25. Photuris lucicrescens
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (1/528) ln (1/528)
H = - (0.001894) (-6.2691)
H = 0.01187
27. Polichoderus sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (17/528) ln (17/528)
H = - (0.032197) (-3.43588)
H = 0.11063
29. Staphylinus erythopterus
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (1/528) ln (1/528)
H = - (0.001894) (-6.2691)
H = 0.01187
31. Thrips parvispinus
H = - (ni/N) ln (ni/N)

H = - (59/528) ln (59/528)
H = - (0.111742)( -2.19156)
H = 0.24489
14. Harpalus sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (31/528) ln (31/528)
H = - (0.058712) (-2.83511)
H = 0.16646
16. Lastoderma serricorne
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (36/528) ln (36/528)
H = - (0.068182) (-2.68558)
H = 0.18311
18. Oechophylla sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (9/528) ln (9/528)
H = - (0.017045) (-4.07187)
H = 0.06941
20. Opisthopsis sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (3/528) ln (3/528)
H = - (0.005682) (-5.17048)
H = 0.02938
22. Periplaneta sp
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (4/528) ln (4/528)
H = - (0.007576) (-4.8828)
H = 0.03699
24. Pheidole thoracicus
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (8/528) ln (8/528)
H = - (0.015152) (-4.18965)
H = 0.06348
26. Phyllophaga sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (35/528) ln (35/528)
H = - (0.066288) (-2.71375)
H = 0.17989
28. Polyrhachis sp.
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (35/528) ln (35/528)
H = - (0.066288) (-2.71375)
H = 0.17989
30. Staphylinus olens
H = - (ni/N) ln (ni/N)
H = - (12/528) ln (12/528)
H = - (0.022727) (-3.78419)
H = 0.086
32. Xerolycosa miniata
H = - (ni/N) ln (ni/N)

H = - (37/528) ln (37/528)
H = - (1/528) ln (1/528)
H = - (0.070076) (-2.65818)
H = - (0.001894) (-6.2691)
H = 0.18627
H = 0.01187
Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener Data Angkatan:
H = (ni/N) ln (ni/N)
H = 2.98292

Tabel 3. Hasil pengukuran suhu tanah di lokasi LPPM


Hari,tanggal
Jumat, 8 April 2016
Sabtu, 9 April 2016
Minggu, 10 April 2016
Rata-rata

Waktu
Pagi
Sore
Pagi
Sore
Pagi
Sore

Suhu (oC)
28,3
28,6
27,8
28,2
28,2
28,5
28,3

Analisa Kualitatif
Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi LPPM diperoleh total 29 spesies dengan 6
jenis spesies yang berbeda yaitu Araneus diademantus, Dolichoderus sp., Drosophila
melanogaster, Oechophylla sp., Pheidole sp., dan Pheidole thoracicus. Masing-masing
spesies yang ditemukan pada lokasi LPPM memiliki indeks keanekaragaman yang berbeda
antar satu spesies dengan spesies lainnya. Spesies Oechophylla sp. dan Pheidole thoracicus
masing-masing berjumlah 8 spesies. Menurut Leksono (2007) Indeks keanekaragaman setiap
spesies dapat berbeda-beda bergantung pada jumlah spesies tersebut. Berikut deskripsi
singkat mengenai spesies yang ditemukan di lokasi LPPM :
Tabel 3. Deskripsi spesies makrofauna tanah di lokasi LPPM
No
1.

Nama spesies
Dolichoderus sp.

Deskripsi
Merupakan anggota semut. Habitat Dolichoderus sp. yaitu
pada bagian bawah daun-daun kering di tanah, pada buah
kakao yang hitam dan kering, dan pada buah kakao yang
terinfestasi P. crotonus. Dolichoderus sp. mempunyai tiga
kasta yaitu ratu, prajurit dan pekerja. Prajurit bersayap,
berumur pendek dan mati setelah kawin. Pekerja adalah

betina-betina mandul dan tidak bersayap. Dari deskripsi


tersebut, lokasi penjebakan sesuai dengan habitat asli dari
semut Dolichoderus sp, dimana di lokasi penjebakan
2.
3.

Araneus diademantus
Drosophila

terdapat banyak daun daun kering yang berserakan.


Laba-laba merupakan famili Arachnoidea.
Habitat : pada tempat-tempat yang lembab dan berbau

melanogaster

busuk, seperti pada buah-buahan yang matang sampai


busuk, dan di tempat sampah.termasuk diurnal dan

4.

Oechophylla sp.

nocturnal. Suhu : 25-280C. pH:4-6,5


Semut ini termasuk ke dalam genus Oecophylla karena
memiliki ciri-ciri sebagai berikut : memiliki warna merah
kehitaman (Orange dengan abdomen bergaris kehitaman)
dan memiliki ukuran tubuh panjang 1-2 cm yang
dilengkapi dengan protonom yang melebar. Tubuh dari
jenis ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, thorax
dan abdomen. Bentuk abdomen bulat 4 segmen dan
bentuk mulut runcing serta memiliki tipe mulut penghisap
dan penggigit. Pada bagian kepala terdapat sepasang
antenna yang variable dan matasitor dan mulut. Mulut
berfungsi sebagai alat untuk mengunyah dan menjilat.
Metamorfosis pada jenis ini adalah metamorfosis yang
sempurna.. Makanan dari jenis ini sebagian besar adalah

5.

Pheidole sp

berasal dari insecta kecil lainnya, dan juga nektar.


Jenis ini mirip dengan jenis P. knowlesi dan P. wilsoni
namun memiliki karakter yang berbeda, dengan kepala
yang besar dan tubuh yang lebih kecil, mata dan rahang
tidak bercabang atau tidak menyatu karena adanya lobus
frontal dan lobus frontal memiliki bercak-bercak gelap.
Umumnya banyak tersebar pada tanah yang lembab atau

6.

Pheidole thoracicus

di kayu mati dan diantara serakan dedaunan.


Termasuk dalam subfamili Mymicinae.

Pheidole

thoracicus merupakan serangga agresif yang memiliki


sengat. Karakteristik: antena terdiri dari 12 segmen
termasuk scape; basal margin dari mandibula tidak
memiliki dua lobes; front margin dari clypeus tidak

10

memiliki sepasang gigi; palp formula 2:2 atau 3:2; toraks


dilihat dari bagian samping, bagian dorsal

dari

propodeum lebih rendah dari

Hasil analisa kuantitatif diperoleh Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener di lokasi


LPPM yang disajikan pada Tabel 1 sebesar 1,61029. Menurut Suin dalam Hasni Ruslan.
(2009) indeks keanekaragaman dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu :

H < 1,5 : keanekaragaman rendah


H 1,5-3,5 : keanekaragaman sedang
H > 3,5 : keanekaragaman tinggi
Berdasarkan analisa indeks keanekaragaman Shannon-Wiener di lokasi LPPM tesebut

dapat dikategorikan bahwa indeks keanekaragamannya dapat dikategorikan dalam


keanekaragaman sedang (H = 1,5-3,5). Indeks keanekaragaman pada lokasi LPPM dapat
dipengaruhi faktor lingkungan di lokasi LPPM. Faktor lingkungan abiotik yang dapat
mempengaruhi indeks keanekaragaman antara lain a) Suhu; b) pH tanah; c) Intensitas cahaya;
d) Kelembapan Udara; e) Bahan organik tanah serta f) Jenis vegetasi tanaman. Pada kegiatan
praktikum faktor lingkungan abiotik, suhu dan pH tanah yang hanya diukur. Berdasarkan
hasil pengukuran dapat diketahui bahwa suhu rata-rata tanah di lokasi LPPM sebesar 28,3 OC
dengan pH tanah sebesar 6,1. Kondisi lingkungan serta kualitas lingkungan akan berpengaruh
pada keanekaragaman makrofauna tanah. Suhu tanah berpengaruh terhadap proses-proses
metabolisme dalam tanah, seperti mineralisasi, respirasi mikroorganisme dan akar serta
penyerapan air dan hara oleh tanaman. Pengukuran suhu di pagi hari dan sore hari terjadi
perbedaan yang tidak signifikan. Fluktuasi suhu tanah bergantung pada kedalaman tanah.
Karena pola tingkah laku perambatan panas tersebut, maka fluktuasi suhu tanah akan tinggi
pada permukaan dan akan semakin kecil dengan bertambahnya kedalaman. Suhu tanah
umumnya rata-rata lebih besar daripada suhu daripada suhu di atmosfer sekelilingnya. Hal ini
disebabkan oleh penyimpanan panas di tanah lebih lama daripada di udara (Ratriningsih,
2003). Suin (2007) menambhakan bahwa suhu tanah dapat menentukan tingkat dekomposisi
material organik tanah.
Pada kondisi lingkungan, pH tanah berkisar antara 4,81-7,52 menunjukkan kondisi
tanah yang bersifat asam hingga netral. Perihal kontribusi derajat keasaman
kehadiran

dan

kelimpahan

hewan tanah, Adianto (1983) dalam

terhadap

Manurung (2009)

menyatakan secara umum tanah yang baik bagi hewan tanah adalah tanah yang mempunyai

11

pH netral yakni sekitar 6,5. Manurung (2009) menambahkan bahwa lingkungan yang
mendukung keberlangsungan makhluk hidup suhu dengan kisaran 20oC sampai 250C.
Menurut Arif (2001) dalam Iwan Hilwan (2013) keberadaan dari makrofauna
bergantung pada kesediaan energi dan sumber makanan untuk melangsungkan hidupnya
seperti bahan organik dan biomassa hidup. Arif (2001) menambahkan bahwa, adanya
ketersediaan energi dan hara akan terjadi timbal balik, dengan begitu aktifitas dan
perkembangan makrofauna akan berlangsung baik serta dapat memberikan dampak positif
bagi kesuburan tanah. Hal ini didukung oleh Anderson (1994) yang menyatakan peran
makrofauna tanah sangat besar seperti proses dekomposisi, aliran karbon, redistribusi unsur
hara, siklus unsur hara, bioturbasi dan pembentukan struktur tanah. Krebs (1978) dalam
Tambunan (2013) menambahkan bahwa ada faktor lain yang

menentukan fluktuasi

keanekaragaman jenis, yaitu a) waktu, b) heterogenitas ruang, c) kompetisi, d) pemangsaan,


dan e) kestabilan iklim.
Lingkungan tanah merupakan lingkungan yang terdiri dari lingkungan abiotik dan
lingkungan biotik dimana kedua lingkungan ini menghasilkan suatu wilayah yang dapat
dijadikan sebagai habitat bagi beberapa jenis makhluk hidup (Rao, 1994 dalam Rahmawaty,
2004). Tanah merupakan suatu bagian dari ekosistem terrestrial yang di dalamnya dihuni
oleh banyak organisme yang disebut sebagai biodiversitas tanah (Hagvar, 1998).
Di dalam tanah terdapat berbagai jenis biota tanah, antara lain mikroba (bakteri, fungi,
aktinomisetes, mikroflora, dan protozoa) serta fauna tanah. Fauna tanah merupakan hewan
yang hidup di tanah, baik permukaan atau di dalam tanah. Berdasarkan ukuran tubuhnya
fauna tanah dibedakan menjadi 3 yaiu mikrofauna, mesofauna, dan makrofauna
(Wallwork,1970 dalam Sugiyarto, 2002). Makrofauna tanah merupakan bagian dari
biodiversitas tanah yang berperan penting dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah
melalui proses imobilisasi dan humifikasi. Dalam proses dekomposisi bahan organik,
makrofauna tanah lebih banyak berperan dalam proses fragmentasi (comminusi) serta
memberikan fasilitas lingkungan (mikro habitat) yang lebih baik bagi proses dekomposisi
lebih lanjut yang dilakukan oleh kelompok mesofauna dan mikro fauna tanah serta berbagai
jenis bakteri dan fungi. (Sugiyarto.2000).
Makrofauna tanah merupakan organisme yang hidup di permukaan tanah, celah-celah
tanah, dan tanah di dekat akar pohon (Ruiz, 2008) Makrofauna tanah bagian dari
biodiversitas yang berukuran 2 mm 20 mm. (G, 1993) Makrofauna tanah memiliki peran
dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah melalui proses imobilisasi dan
humifikasi. Dalam dekomposisi bahan organik, makrofauna tanah banyak berperan pada

12

proses fragmentasi (comminusi) serta memberikan fasilitas lingkungan (mikrohabitat) yang


lebih baik untuk proses dekomposisi yang dilakukan kelompok mesofauna dan makrofauna
tanah serta berbagai jenis bakteri dan fungi. (Lavelle P, 1994) Peran lain makrofauna tanah
adalah merombak materi tumbuhan dan hewan yang mati, mengangkut materi organik dari
permukaan ke dalam tanah, perbaikan struktur tanah dan proses pembentukan tanah.
Maktrofauna tanah berperan aktif dalam menjaga kesuburan tanah. (Adianto, 1993).
Keanekaragaman makrofauna tanah dan fungsi ekosistem menunjukkan hubungan yang
kompleks dan belum banyak diketahui serta perhatian untuk melakukan konservasi terhadap
keanekaragaman makrofauna tanah masih terbatas. Sistem pengelolaan lahan merupakan
faktor kunci konservasi makrofauna tanah. Pengalihan lahan hutan dapat menurunkan
biodiversitas makrofauna tanah. (Lavelle P, 1994).
Berdasarkan penerapan metode pitfall trap untuk mengetahui komposisi makrofauna di
lokasi LPPM, beberapa serangga yang diidentifikasi dapat digolongkan dalam serangga
nocturnal/diurnal. Penggolongan ini didasarkan pada aktivitas/perilaku serangga terhadap ada
tidaknya gelombang cahaya. Serangga dapat dibedakan dalam berbagai jenis menurut
kemampuan adaptasi terhadap faktor fisik, salah satunya adalah cahaya. Beberapa aktivitas
serangga dipengaruhi oleh responnya terhadap cahaya sehingga timbul jenis serangga yang
aktif pada pagi, siang, sore atau malam hari. Cahaya matahari dapat mempengarui aktifitas
dan distribusi lokalnya. Cahaya mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan,
perkembangannya dan tahan kehidupannya serangga baik secara langsung maupun tidak
langsung. Cahaya mempengaruhi aktifitas serangga, cahaya membantu untuk mendapatkan
makanan, tempat yang lebih sesuai. Setiap jenis serangga membutuhkan intensitas cahaya
yang berbeda untuk aktifitasnya (Sugiyarto, 2007). Berdasarkan hal tersebut, maka serangga
dapat digolongkan menjadi :
a. Serangga diurnal yaitu serangga yang membutuhkan intensitas cahaya tinggi aktif pada
siang hari.
b. Serangga nokturnal adalah serangga yang membutuhkan intensitas cahaya rendah aktif
pada malam hari
Berdasarkan hasil kegiatan praktikum dapat diketahui bahwa terdapat beberapa serangga
yang tergolong dalam serangga nokturnal dan diurnal, yaitu Drosophila melanogaster,
Dolichoderus sp.,dan Oechophylla sp.
KESIMPULAN

13

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa : 1) Komposisi makrofauna tanah


dengan menggunakan metode pitfall trap (perangkap jabakan sumur) di lokasi LPPM
meliputi Araneus diademantus, Dolichoderus sp., Drosophila melanogaster, Oechophylla sp.,
Pheidole sp., dan Pheidole thoracicus. Komposisi makrofauna tanah dengan menggunakan
metode pitfall trap (perangkap jabakan sumur) di lokasi 6 lokasi berbeda meliputi : Acheta
domesticus, Anoplolepis sp., Araneus diademantus, Calosoma imbricatum, Camponotus
caryae, Camponotus herculeanus, Camponotus nigriceps, Collembola sp., Dolichoderus sp.,
Drosophila melanogaster, Drosophila sp., Forficula auricularia, Gryllus assimilis, Harpalus
sp., Labiopa sp., Lastoderma serricorne, Nolicholerus thloracicus, Oechophylla sp., Ogcodes
sp., Opisthopsis sp., Ordo oconra, Periplaneta sp., Pheidole sp., Pheidole thoracicus,
Photuris lucicrescens, Phyllophaga sp., Polichoderus sp.,Polyrhachis sp., Staphylinus
erythopterus, Staphylinus olens, Thrips parvispinus, dan Xerolycosa miniata. 2) Faktor
lingkungan fisik yang diukur pada kegiatan praktikum meliputi suhu dan pH tanah yang
mampu mempengaruhi keanekaragaman makrofauna tanah di lokasi LPPM. Hasil
pengukuran suhu dan pH tanah di lokasi LPPM yaitu 28,3OC dan 6,1. 3) Analisa kuantitatif
keanekaragaman makrofauna tanah di lokasi LPPM dengan rumus indeks keanekaragaman
Shannon-Wiener (H) diperoleh hasil sebagai berikut : Araneus diademantus (0,11611),
Dolichoderus sp.( 0,32597), Drosophila melanogaster (0,18442), Oechophylla sp.( 0,35527),
Pheidole sp.( 0,27324), dan Pheidole thoracicus (0,35527). Kategori indeks keanekaragaman
Shannon-Wiener (H) makrofauna tanah yang ditemukan di lokasi LPPM paling tinggi adalah
spesies Pheidole thoracicus dan Oechophylla sp. serta

paling rendah adalah Araneus

diademantus.

DAFTAR PUSTAKA
Adianto. (1993). Biologi Pertanian Pupuk Kandang, Pupuk Organik dan Insektisida.
Bandung: Alumni..
G, G. M. (1993). Methods in Soil Zoology. Polish Scientific: Warszama.
Hagvar, S. 1998. The relevance of the Rio-convention on biodiversity to conserving the
biodiversity of soils. Appl. Soil Ecol. 9: 1-7.
Krebs, C. J. 1989. Ecological Methodology. Harper and Row Publishing. New York.
Lavelle P, M. D.-h. (1994). The Relationship between Soil Macrofauna and Tropical Soil
Fertility. The Biological Management of Tropical Soil Fertility , 237-240.
Melbourne, B. A. (1999). Bias in the effect of habitat structure on pitfall traps: An
experimental evaluation. Australian Journal of Ecology , 228-239.
Mirsadiq, L. (2013). Laporan Praktikum Biologi dan Kesehatan Tanah. Surakarta:
Agoreknologi Fakultas Pertanian.

14

Odum, E. P. 1994. Dasar Dasar Ekologi. UGM-Press. Yogyakarta.


Rahmawaty. 2004. Studi Keanekaragaman Mesofauna Tanah di Kawasan Hutan Wisata
Alam Sibolangit (Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Daerah Tingkat II
Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara). e-USU Repository. Jurusan Kehutanan,
Program Studi Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Ratriningsih, Rahayu. 2003. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Surabaya. JP books
Ruiz. (2008). Soil Macrofauna Field Manual. Rome: Food And Agriculture Organization of
The United Nations..
Sugiyarto. 2000. Keanekaragaman Makrofauna Tanah pada Berbagai Umur Tegakan Sengon
di RPH Jatirejo, Kabupaten Kediri.. Jurnal Biodiversitas. Vol 1 No 2 Halaman: 47 - 53
Sugiyarto.2007. Preferensi Berbagai Jenis Makrofauna Tanah Terhadap Sisa Bahan Organik
Tanaman pada Intensitas Cahaya Berbeda. Jurnal Biodiversitas. Vol: 7 Hal 96-100
Tambunan. (2013). Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanamana Kelapa Sawit
(Elaeis guineensis Jacq) di Kebun Helventia PT. PERKEBUNAN NUSANTARA II.
Jurnal Online Agroekoteknologi , 4.
Tobing, I. S. (2008). Teknik Estimasi Ukuran Populasi Suatu Spesies Primata. Vis Vitalis .
Williams B.K, J. N. (2001). Analysis and Management of Animal Populations. New York:
Academic Press.

LAMPIRAN
1. Laporan sementara
2. Dokumentasi