Anda di halaman 1dari 12

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS

REFLEKSI KASUS
I.

KASUS
CATATAN DOKTER PENGANTAR PASIEN DIRAWAT INAP
A. IDENTITAS

Nama Pasien
TTL
Jenis Kelamin
Umur
Alamat lengkap
Masuk ke Unit
Tanggal masuk

: An. A.A.R
: 15 Juli 2014
: Laki-laki
: 8 bulan
: Danunegaran MJ 3/1097 RT 63 RW 17 Mantrijeron, yogyakarta
: Anak
: 03 April 2015 Pukul 00.15

1. Riwayat Penyakit Positif (data dari UGD)


KU: BAB cair
RPS: Pasien BAB cair sejak tadi pagi jam 11.00 lebih dari 10x, terus-menerus, lendir (+), darah (-),
demam (+), muntah (-). Makan/minum sedikit. BAK terakhir ? Karena pasien menggunakan
pampers. Riwayat post mondok karena Dengue Fever (baru pulang kemaren) tetangga di bangsal
ada yang diare.
2.

Pemeriksaan Fisik

BB
= 7.5 kg
T
=38.2 C
N
= 170x/menit
KU
= CM
Kep
= CA (-/-) SI (-/-) mata cowong (-/-) air mata (-/-)
Leher
= Inn ttb
Toraks
= Pulmo: vesikuler (+/+) cor : S1-S2 murni, bising (-)
Abdomen = Supel (+), tympani, peristaltik (+) N, hepar/lien ttb, TE (+)N
Ekstremitas = Akral hangat nadi kuat
3. Diagnosis Kerja
GEA disentriform tanpa dehidrasi
4. Pengobatan yang diberikan di UGD
Infus RL 4 cc/kgBB/jam ~ 30 tpm mikro
5. Usul pengobatan di bangsal perawatan
Infus RL 4 cc/kgBB/jam ~ 30 tpm mikro
RM.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
Oral

: Cefixime 2 x 25 mg
Parasetamol 80 mg
Lacto B 2 x 1 sach
Zink 1 x 1

6. Pengobatan yang sudah diberikan di Emergency : Infus RL 4 cc/kgBB/jam ~ 30 tpm mikro


II.

PERMASALAHAN
Apakah data tersebut di atas sudah cukup lengkap untuk mendiagnosis suatu penyakit?
Bagaimanakah cara pengisian data admission yang baik dan benar sehingga kita dapat
mendiagnosis dan memberikan terapi yang sesuai? Dan apakah terapi yang telah dilakukan di
IRD sudah tepat?

III. PEMBAHASAN
Semua anak sakit harus diperiksa secara menyeluruh dan teliti mulai dari anamnesis,
pemeriksaan fisik maupun penunjang. Sehingga tidak ada yang terlewati. Walaupun, memang
seringnya anamnesis dilakukan dengan cara menganamnesis orangtuanya atau keluarganya
(alloanamnesis) karena terkadang anak kurang kooperatif. Memang kita akan mendapatkan
informasi yang lengkap tetapi kita tetap perlu waspada oleh informasi yang berlebihan
sehingga membuat rancu. Maka dari itu, untuk melengkapi hasil anamnesis maka perlu
dilakukan pemeriksaan fisik yang cermat untuk menegakkan diagnosis.
1. Anamnesis
Pada seorang pasien, terutama pasien anak, sebagian terbesar data yang diperlukan untuk
menegakkan diagnosis (diperkirakan tidak kurang dari 80%) diperoleh dari anamnesis.
Bahkan dalam beberapa keadaan tertentu, anamnesis dapat mempermudah diagnosis, baik
yang disebabkan faktor biomedis, psikososial, lingkungan ataupun ketiganya.
Berdasarkan anamnesis sering dapat ditentukan sifat dan beratnya penyakit dan
terdapatnya factor risiko yang menjadi latar belakang penyakit, sehingga dapat membantu
untuk memutuskan terapi apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Selain itu, pada saat anamnesis jangan sampai terlewatkan untuk memeriksa
apakah ada tanda bahaya umum (berdasarkan MTBS) yang meliputi:
a. Apakah anak bisa minum atau menyusu?
b. Apakah anak selalu memuntahkan semuanya?
c. Apakah anak menderita kejang?
d. Lihat apakah anak tampak letargis atau tidak sadar?
RM.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
Karena seorang anak dengan tanda bahaya umum memerlukan penanganan segera,
sehingga dapat dilakukan penangan segera dan rujukan tidak terlambat.
Pada data admission di atas kita bisa lihat, dokter belum lengkap menanyakan
riwayat penyakitnya, dan hanya berfokus kepada keluhan utama saja, padahal seperti yang
sudah di jelaskan di atas, bahwa dalam anamnesis harus bisa mencakup kedaan biomedis,
psikososial ataupun lingkungannya, dan dalam anamnesis juga jangan sampai terlewatkan
untuk menanyakan apakah ada tanda bahaya umum pada anak tersebut.
Pada kasus ini, keluhan utama pasien adalah BAB cair dan muntah, maka
sebaiknya hal-hal yang ditanyakan lewat anamnesis berkaitan dengan hal itu adalah:
a. Lama diare berlangsung, frekuensi diare sehari, warna dan konsistensi tinja, ada
lendir dan/atau darah?
b. Ada muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, BAK terakhir,
demam, sesak, kejang, kembung.
c. Jumlah cairan yang masuk selama diare
d. Jenis makanan dan minuman yang diminum sebelum dan selama diare, atau mungkin
mengonsumsi makanan yang tidak biasa.
e. Penderita diare sekitarnya dan sumber minum.
Anamnesis selain menanyakan keluhan utama juga sebaiknya menanyakan keluhan
lain yang menyertai dan juga faktor resiko atau perkiraan penyebab penyakit tersebut
seperti kebiasaan sehari-harinya apakah sering cuci tangan sebelum makan, makanmakanan yang cukup nutrisinya, atau mungkin tanyakan lingkungannya yang
sekiranya akan mempengaruhi seperti kebersihan lingkungan atau sumber air
minumnya. Tanyakan pula riwayat penyakit keluarganya apakah ada yang mengalami
gejala serupa atau penyakit keturunan yang mungkin berhubungan dengan penyakit
yang sekarang dialami oleh pasien.
Kesimpulan anamnesis untuk kasus di atas adalah pada admission, yang tidak ada
dalam anamnesis apakah pasien rewel/lemah, kesadaran menurun, sesak, kejang,
kembung, jumlah cairan yang masuk selama diare, jenis makanan dan minuman yang
diminum sebelum dan selama diare, atau mungkin mengonsumsi makanan yang tidak
biasa, penderita diare sekitarnya dan sumber air minum pasien, serta tidak
menanyakan MTBS tanda bahaya umum: seperti kejang, muntah terus menerus
(dalam kasus ini anak tidak muntah), tidak mau minum/menyusu, penurunan

RM.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
kesadaran. Serta Entry point: sesak, demam (sudah ditanyakan), diare (sudah
ditanyakan), nyeri telinga.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisis harus selalu dimulai dengan penilaian keadaan umum pasien yang harus
mencakup minimal 3 hal: kesan keadaan sakit, termasuk fasies dan posisi pasien,
selanjutnya kesadaran pasien dan yang terakhir kesan status gizi.
Pada data admission bisa kita lihat dokter hanya mencantumkan salah satu unsur
saja, yaitu dokter hanya menilai keadaan umum secara keseluruhan baik, ini masih dinilai
kurang karena untuk keadaan umum harus minimal mencakup ketiga hal yang sudah
disebutkan di atas. Karena, dengan mengetahui keadaan umum pasien ini akan dapat
memperoleh kesan apakah pasien dalam keadaan distress akut yang memerlukan
pertolongan segera, ataukah pasien dalam keadaan yang relatif stabil sehingga pertolongan
dapat diberikan setelah dilakukan pemeriksaan fisik yang lengkap.
Setelah keadaan umum, hal kedua yang dinilai adalah tanda utama, yang
mencakup: nadi, tekanan darah, pernafasan, dan suhu.
1. Nadi
Tanda utama yang pertama yang harus dinilai adalah nadi, dimana idealnya harus
diukur pada keempat ekstremitas. Dalam menilai nadi harus meliputi frekuensi, irama
dan isi atau kualitas serta ekualitas nadi.
Pada data admission di atas dokter sudah menilai frekuensi nadi namun tidak dituliskan
irama, isi, atau kualitas dan ekuilitas nadi.
2. Tekanan darah
Idealnya, pada tiap pasien harus diukur tekanan darah pada keempat ekstremitas.
Pemeriksaan pada satu ekstremitas dibolehkan dengan catatan apabila palpasi teraba
denyut nadi yang normal pada keempat ekstremitas. Pada pengukuran tekanan darah
hendaknya dicatat keadaan pasien waktu tekanan darah diukur (duduk, berbaring
tenang, tidur, menangis), karena keadaan pasien dapat mempengaruhi hasil dan
penilaiannya.
Pada data admission diatas tidak kita temukan data tekanan darah pasien, hal ini dapat
dimaklumi dikarenakan pada anak bayi sulit untuk mengukur tekanan darah sistolik
dan diastolik dengan auskultasi sehingga kita dapat mengukur nadi sebagai
penggantinya.
3. Pernafasan
RM.04.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
Tanda utama yang ketiga yang perlu dinilai adalah pernafasan pasien, dimana harus
mencakup laju pernafasan, irama dan keteraturan serta kedalaman dan tipe atau pola
pernafasan.
Pada data admission di atas tidak menilai frekuensi pernapasannya, padahal pernafasan
penting dinilai sebagai tanda bahaya terjadinya syok pada kasus diare.
4. Suhu
Pada setiap pasien pengukuran suhu tubuh harus selalu dilakukan. Dimana idealnya
informasi lokasi tempat pengukuran suhu juga perlu diberi keterangan.
Pada data admission di atas informasi lokasi pengukuran suhu tidak diberi keterangan,
padahal setiap lokasi pengukuran memiliki selisih suhu tersendiri. Pada aksila 1 derajat
celcius lebih rendah dari suhu rektum, sedangkan mulut 0,5 derajat celcius lebih rendah
dari suhu rektum. Dalam keadaan normal suhu aksila adalah antara 36,5-37,5 derajat
celcius.
Pemeriksaan selanjutnya dalah pemeriksaan khusus yaitu pemeriksaan fisik
lengkap dari ujung rambut sampai ujung kaki (head to toe examination), dimana minimal
harus ada mengarah kepada diagnosis banding kita sebagai dokter.
Pada data admission diatas informasi yang diberikan sudah cukup, karena sudah diperiksa
tanda-tanda dehidrasinya seperti mata cowong dan air mata sehingga dokter yang di
bangsal ada gambaran keadaan pasien sebelumnya. Namun dokter perlu memeriksa lebih
lanjut tanda-tanda dehidrasi yang belum tercantum seperti:
Kepala: mukosa bibir, mulut, lidah basah/kering, tampak kehausan/tidak
Toraks: cukup baik
Abdomen: peristaltik seharusnya dihitung berapa kali bunyi peristaltik selama 1 menit,
dan sebaiknya dikonfirmasi oleh pihak lain karena menurut teori, diare ditandai dengan

peristaltik usus yang meningkat


Ekstremitas: seharusnya dokter juga memeriksan Capillary Refill Time

3. PENATALAKSANAAN
Menurut diagnosa masuk di IRD, pasien tersebut mengalami GEA disentriform tanpa dehidrasi,
menurut derajat dehidrasi yang terdapat dalam anamnesis : anak rewel, mata cowong (-/-) air
mata (-/-). Simpulan: Ada 1 dari 4 tanda dehidrasi tak berat, maka pasien didiagnosa GEA
disentriform tanpa dehidrasi sudah tepat dan diberikan terapi sebagai berikut:
1. Beri cairan tambahan (sebanyak anak mau)
2. Tunjukan pada ibu cara mencampur dan memberikan oralit
RM.05.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
3. Beri tablet zinc selama 10 hari untuk anak < 6 bulan: tablet per hari. untuk anak > 6
bulan 1 tablet per hari.
4. Tunjukan pada ibu berapa cairan termasuk oralit yang harus diberikan sebagai
tambahan:
1. < 2 tahun 50 sampai 100 ml setiap kali BAB
2. > 2 tahun 100 sampau 200 ml setiap BAB
Diet
Bujuk ibu untuk meneruskan ASI
Untuk anak >6 bulan, tunda pemberian makan selama 3 jam kecuali ASI dan oralit.
Asupan nutrisi juga diperhatikan, berikan ASI dengan makanan pendamping bubur tempe
+ sop wortel. Makanan diberikan sedikit-sedikit namun sering ( 6x sehari) dan makanan
harus rendah serat.
Monitoring:
KU/TTV/Tanda-tanda dehidrasi
Intake
Urin output
Pemeriksaan penunjang:
Pemeriksaan feses
Planning Edukasi
Edukasi ibu tentang cara pemberian oralit anak
Edukasi ibu untuk terus memberikan ASI
Segera lapor ke petugas kesehatan jika:

Muntah terus menerus

Tidak mau menyusu

Penurunan kesadaran

Nafas cepat

Terdapat keluhan pada BAK


Preventif yaitu dengan menjaga kebersihan (sanitasi dan hygine) lingkungan maupun
perseorangan dengan menerapkan Prinsip Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Kekurangan pada admission diatas adalah:
RM.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
Penulisan tetesan infus pada data admission di atas adalah Inf. RL mikro 24 tpm
(~4cc/kgBB/jam) dengan BB pasien 7,5 kg. Seharusnya dengan BB 7,5 kg dan infus 4
cc/kgBB/jam pasien mendapatkan 30 tpm.
Dokter belum memberikan edukasi kepada orang tua tentang tanda bahaya pada anak
Dokter belum memberikan edukasi kepada orang tua pemberian oralit pada anak
Dokter belum memberikan edukasi kepada orang tua agar tetap memberikan ASI pada
anak.
IV. PEMBAHASAN
Diare akut adalah buang air besar > 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan
berlangsung kurang dari 1 minggu. Penyebab kematian anak < 5 tahun 28% nya
dikarenakan diare. Diare biasanya 80 % disebabkan oleh rotavirus (Hospital surveillance at
sardjito hospital by ministry of health & NAMRU 2 research 2005)
Penyebab diare akut adalah sebagai berikut ini (Mansjoer, 2000 ; & Sunoto,1991) :
1. Infeksi : virus, bakteri, dan parasit.
A. Infeksi Enteral yang disebabkan oleh:
a. Golongan virus : Rotavirus, Adenovirus, Virus Norwalk, Astrovirus, Calicivirus,
Coronavirus, Minirotavirus.
b. Golongan bakteri : Shigella spp., Salmonella spp., Escherecia coli, Vibrio cholera,
Vibrio parahaemoliticus, Aeromonas hidrophilia, Bacillus cereus, Campylobacter jejuni,
Clostridium difficile, Clostridium perfringens, Staphylococcus aureus, Yersinia
enterocolitica.
c. Golongan parasit, protozoa :Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli,
Ascariasis, Trichuris truchiura, Strongiloides stercoralis, Candida spp.
B. Infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan yaitu:
a. OMA
b. Tonsilofaringitis
c. Bronchopneumonia
d. Enchepalitis
2.
a.
b.
c.
3.

Malabsorbsi
Karbohidrat : yang terpenting dan tersering yaitu intoleransi laktosa
Lemak
Protein
Makanan
RM.07.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
4. Imunodefisiensi
5. Psikologis : rasa takut dan cemas
Cara penularan diare bisa melalui fekal-oral. Perilaku khusus yang dapat meningkatkan
risiko diare antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tidak memberikan ASI secara eksklusif pada bayi 4-6 bulan


Pemberian susu botol
Menyimpan makanan matang pada suhu ruang
Penggunaan air minum yang terkontaminasi
Tidak cuci tangan sesudah BAB, sebelum makan dan sebelum mengolah makanan
Tidak mengelola feses secara higienis

Patogenesis Diare
1. Diare sekretorik
Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus,
menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare
dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun
dilakukan puasa makan/minum (Simadibrata, 2006).
2. Diare osmotik
Diare tipe ini disebbkan meningkatnya tekanan osmotik intralumen dari usus halus yang
disebabkan oleh obat-obat/zat kimia yang hiperosmotik (antara lain MgSO4, Mg(OH)2),
malabsorpsi umum dan defek dalam absorpsi mukosa usus missal pada defisiensi
disakaridase, malabsorpsi glukosa/galaktosa (Simandibrata, 2006).
3. Malabsorpsi asam empedu dan lemak
Diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan /produksi micelle empedu dan
penyakit-penyakit saluran bilier dan hati (Simandibrata, 2006).
4. Defek system pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit
Diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transportaktif NA+K+ATPase di
enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal (Simandibrata, 2006).
5. Motilitas dan waktu transit usus yang abnormal
Diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga
menyebabkan absorpsi yang abnormal di usus halus. Penyebabnya antara lain: diabetes
mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid (Simandibrata, 2006).
6. Gangguan permeabilitas usus
Diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya kelainan
morfologi membrane epitel spesifik pada usus halus (Simandibrata, 2006).
7. Diare inflamasi
RM.08.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada beberapa keadaan.
Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction, tekanan hidrostatik dalam
pembuluh darah dan limfatik menyebabkan air, elektrolit, mucus, protein dan seringkali
sel darah merah dan sel darah putih menumpuk dalam lumen. Biasanya diare akibat
inflamasi ini berhubungan dengan tipe diare lain seperti diare osmotic dan diare
sekretorik (Juffrie, 2010).
8. Diare infeksi
Infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut kelainan usus,
diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif dan invasive (merusak mukosa). Bakteri noninvasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresikan oleh bakteri tersebut
(Simandibrata, 2006).
Diagnosis
A. Anamnesis
- Lama diare berlangsung, frekuensi diare selama 24 jam, warna dan konsistensi
-

tinja, lender dan/darah dalam tinja.


Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buang air kecil

terakhir, demam, sesak, kejang, kembung.


Jumlah cairan yang masuk selama diare
Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare, mengonsumsi

makanan yang tidak biasa.


- Penderita diare di sekitarnya.
- Sumber air minum.
B. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum, kesadaran, dan tanda utama.
- Tanda utama: keadaan umum gelisah/cengeng atau lemah/letargi/koma, rasa
-

haus, turgor kulit abdomen menurun


Tanda tambahan : UUB besar, kelopak mata cowong/tidak, air mata, mukosa

bibir, mulut dan lidah.


Berat badan
Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti nafas cepat dan
dalam (asidosis metabolic), kembung (hypokalemia), kejang (hipo atau
hypernatremia)

Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria berikut:


a. Tanpa Dehidrasi (kehilangan cairan < 5% berat badan)
Tidak ditemukan tanda utama dan tambahan
Keadaan umum baik, sadar
RM.09.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
UUB besar tidak cekung, mata tidak cowong, air mata (+/+), mukosa
mulut dan bibir basah
TE baik, peristaltic normal
Akral hangat
b. Dehidrasi ringan-sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)
Ada 2 tanda utama ditambah > 2 tanda tambahan
Keadaan umum gelisah/rewel
UUB sedikit cekung, mata sedikit cowong, air mata berkurang, mukosa
mulut dan bibir sedikit kering
TE menurun, akral hangat
c. dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)
ada 2 tanda utama ditambah > 2 tanda tambahan
keadaan umum lemah, letargi atau koma
UUB sangat cekung, mata sangat cowong, air mata tidak ada, mukosa
mulut dan bibir sangat kering
TE sangat menurun dan akral dingin
C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pada diare akut
Yang perlu dinilai pada pemeriksaan tinja:
Makroskopis : konsistensi, warna, lender, darah, dan bau
Mikroskopis : leukosit, eritrosit, parasite, bakteri
Kimia : pH, elektrolit
D. Tata Laksana
Lintas diare:
1. Terapi cairan menurut derajat dehidrasi
2. Seng/zing : usia < 6 bulan: 10 mg/hari, usia > 6 bulan: 20 mg/hari
3. Nutrisi: menu seperti biasa dimakan, diberikan sedikit-sedikit tapi sering
4. Antibiotik jika ada indikasi seperti disentri atau kolera
5. Edukasi high hygiene dan memperhatikan asupan nutrisi dan kesadaran umum.

V.

KESIMPULAN
Pengisian informasi data admission yang lengkap dapat membantu mendiagnosis dan
mengetahui keadaan pasien secara menyeluruh. Untuk kasus diare, terapi cairan sangatlah
penting karena sangat mempengaruhi terjadinya dehidrasi. Terapi tiap derajat dehidrasi
berbeda-beda, jadi sangat membutuhkan kecermatan pemantauan.

RM.010.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS
VI. DAFTAR PUSTAKA
Matondang, Corry S. Prof.Dr. dkk. (2009). Diagnosis Fisis Pada Anak Edisi ke-2. C.V Sagung Seto:
Jakarta
World Health Organization. (2009). Buku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Pedoman
Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota.
IDAI. 2010. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Irwanto, dr.Sp.A.dkk. 2008. Ilmu Penyakit Anaj Diagnosa & Penatalaksanaan.

Yogyakarta, 15 April 2015

Dr. Sri Aminah, Sp.A

RM.011.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

REFLEKSI KASUS

REFLEKSI KASUS
Gastroenteritis Akut Tanpa Dehidrasi

Diajukan kepada :
dr. Sri Aminah, Sp.A.
Disusun oleh :
Nungky Kescandra
20100310122

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD JOGJA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

RM.012.