Anda di halaman 1dari 19

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
PRESENTASI KASUS
BNO PADA VESICOLITHIASIS
Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat dalam Mengikuti Kepaniteraan Klinik
Bagian Radiologi
RSUD Kota Jogja

Diajukan kepada:
dr. M.A. Budi Prawati, Sp.Rad
Disusun oleh:
Yeni Kurniawati
20100310117

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
BAGIAN RADIOLOGI RSUD JOGJA
2016

A. IDENTITAS
Nama

: Tn. W

Usia

: 53tahun

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
No RM

: 672092

Alamat

: Mantrijeron, Yogyakarta

Pekerjaan

: Montir

Pendidikan

: SMA

Status

: Menikah

Agama

: Islam

Tanggal Masuk : 15 Januari 2016


Pemeriksaan

: 15 Januari 2016

SUBYEKTIF AUTOANAMNESA
Keluhan utama

: Nyeri pada pinggang bawah

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien pria usia 53 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan nyeri
pada pinggang bawah sejak 6 bulan yll, nyeri hilang timbul, nyeri memberat terutama
dari posisi duduk ke posisi berdiri. Keluhan tambahan berupa BAK terasa panas, nyeri
BAK (+), warna kencing kuning keruh, pasien merasa sulit menahan kencing
terkadang mengompol,volume kencing biasa, anyang-anyang (-), BAK disertai
batu/pasir (-), darah (-), demam (-). Pasien sebelumnya mempunyai kebiasaan
menahan kencing (+) dan setiap hari mengkonsumsi kopi.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat keluhan serupa sebelumnya (-), Riwayat darah tinggi sebelumnya (-),
diabetes melitus (-), batu ginjal (-), infeksi saluran kencing (-), riwayat operasi (-).

Riwayat Penyakit Keluarga :

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keluarga seperti darah tinggi,
DM, asma dan batu ginjal, dandikeluarga pasien tidak ada yang memiliki gejala sama
seperti pasien.
Anamnesis system
Sistem saraf pusat

: penurunan kesadaran (-), kejang (-), pusing (-),demam (-),


menggigil (-), nyeri kepala (-)

Sistem kardiovaskuler

: nyeri dada (-), berdebar-debar (-), mimisan (-), gusi


berdarah(-)

Sistem respirasi

: sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)

Sistem pencernaan

: mual (-), muntah (-), diare (-), nyeri ulu hati (-), sulit BAB
(-), BAB disertai darah (-)

Sistem urogenital

: sulit BAK(-), berwarna keruh(+), nyeri kemih(+), anyanganyangen(-), sering berkemih(-), hematuria(-), terasa panas
saat berkemih (+), susah menahan kencing (+)

Sistem muskuloskletal

: gerakan terbatas (-), nyeri otot (-), nyeri sendi (-), nyeri
tulang (-), bengkak sendi (-)

Obyektif
KU= CM, tampak kurus, tak tampak sesak, GCS E4V5M6.
Vital sign:

TD: 110/70 mmHg


N: 100 x/menit
T: 36,8C
R : 24 x/menit

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan kulit
Kepala

: persebaran warna kulit merata

Mata : konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), mata cowong (-/-)
Hidung: bentuk hidung tidak ada kelainan, septum nasi di tengah, lendir (-),
sumbatan (-)
Mulut : mukosa lembab, sianosis (-), faring hiperemi (-)
3

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS

Leher
Tampak simetris, limfonodi tidak teraba, JVP tidak meningkat, massa (-)

Thorak
- Inspeksi

: bentuk dada simetris, gerak dada simetris, tidak terdapat

- Palpasi

retraksi intercostal.
: fremitus fokal paru simetris, nyeri tekan (-), massa (-),

- Perkusi
- Auskultasi

pembesaran kelenjar getah bening (-).


: sonor
: suara nafas vesikuler (+/+), ronkhi basah kasar (-/-) di
kedua lapang paru, wheezing (-/-).

Jantung
- Inpeksi : iktus kordis tampak di SIC V LMC sinistra
- Palpasi : iktus kordis teraba pada SIC V LMC sinistra
- Perkusi :
batas kanan atas jantung
: SIC II LPS dextra
batas kiri atas jantung
: SIC II LPS sinistra
batas kanan bawah jantung : SIC IV LPS dextra
batas kiri bawah jantung
: SIC V LPS sinistra
- Auskultasi : bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
- Kesan jantung: tidak terdapat pembesaran jantung.

Abdomen
- Inspeksi

: dinding perut = dinding dada, massa (-), bekas luka

- Auskultasi
- Perkusi
- Palpasi

(-), peradangan (-).


: peristaltik usus (+) dalam batas normal.
: timpani pada semua lapang abdomen (+).
:nyeri
tekan
abdomen(-),
hepatomegali(-),splenomegali

(-).

Nyeri

ketok

pinggang (-)

Ekstremitas
Superior

: sianosis (-/-), udem (-/-), akral hangat, perfusi baik, CRT

Inferior

<2
: sianosis (-/-), udem (-/-), akral hangat, perfusi baik, CRT
<2.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS

Radiologi
Tanggal 15-1-2016

BNO :
- Vesicolithiasis sebesar telur ayam
- Skoliosis dengan spondiloarthrosis lumbalis

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
DASAR TEORI
A. VESICOLITHIASIS
1. Definisi
Vesicolithiasis adalah masa yang berbentuk kristal yang terbentuk atas material mineral
dan protein yang terdapat pada urin. Batu vesika urinaria terutama mengandung kalsium
atau magnesium dalam kombinasinya dengan fosfat, oksalat, dan zat-zat lainnya.
2. Anatomi
a. Ginjal
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terdapat sepasang (masingmasing satu di sebelah kanan dan kiri vertebra) dan posisinya retroperitoneal.
Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah (kuranglebih 1 cm) dibanding ginjal kiri,
hal ini disebabkan adanya hati yang mendesak ginjal sebelah kanan. Kutub atas
ginjal kiri adalah tepi atas iga 11 (vertebra T12), sedangkan kutub atas ginjal kanan
adalah tepi bawah iga 11atau iga 12. Adapun kutub bawah ginjal kiri adalah
processus transversusvertebra L2 (kira-kira 5 cm dari krista iliaka) sedangkan kutub
bawah ginjal kanan adalah pertengahan vertebra L3. Dari batas-batas tersebut dapat
terlihat bahwa ginjal kanan posisinya lebih rendah dibandingkan ginjal kiri.Secara
umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian:

Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari


korpusrenalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus

proksimal dan tubulus kontortus distalis.


Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulusrektus,

lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus colligent).


Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal
Processus renalis, yaitu bagian pyramid/medula yang menonjol ke arah korteks
Hilus renalis, yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut saraf atau

duktus memasuki/meninggalkan ginjal.


Papilla renalis, yaitu bagian yang menghubungkan antara duktus pengumpuldan

calix minor.
Calix minor, yaitu percabangan dari calix major.
Calix major, yaitu percabangan dari pelvis renalis.
Pelvisrenalis, disebut juga piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan antara
calix major dan ureter.
6

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS

Ureter, yaitu saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria

Unit fungsional ginjal disebut nefron. Nefron terdiri dari korpusrenalis/ Malpighi
(yaitu glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortusproksimal, lengkung
Henle, tubulus kontortus distal yang bermuara pada tubulus pengumpul. Di
sekeliling tubulus ginjal tersebut terdapat pembuluh kapiler,yaitu arteriol (yang
membawa darah dari dan menuju glomerulus) serta kapiler peritubulus (yang
memperdarahi jaringan ginjal) Berdasarkan letakya nefron dapat dibagi menjadi:
(1) nefron kortikal, yaitu nefron dimana korpus renalisnya terletak di korteks yang
relatif jauh dari medula serta hanya sedikit saja bagian lengkung Henle yang
terbenam pada medula, dan (2)nefron juxta medula, yaitu nefron di mana korpus
renalisnya terletak di tepi medula, memiliki lengkung Henle yang terbenam jauh ke
dalam medula dan pembuluh-pembuluh darah panjang dan lurus yang disebut
sebagai vasa rekta.
Ginjal diperdarahi oleh a/v renalis. A. renalis merupakan percabangan dari aorta
abdominal, sedangkan v.renalis akan bermuara pada vena cavainferior. Setelah
memasuki ginjal melalui hilus, a.renalis akan bercabang menjadi arteri sublobaris
yang akan memperdarahi segmen-segmen tertentu pada ginjal, yaitu segmen
superior, anterior-superior, anterior-inferior, inferiorserta posterior.
Ginjal memiliki persarafan simpatis dan parasimpatis. Untuk persarafan simpatis
ginjal melalui segmen T10-L1 atau L2, melalui n.splanchnicus

major,
7

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
n.splanchnicus imus dan n.lumbalis. Saraf ini berperan untuk vasomotorik dan
aferen viseral. Sedangkan persarafan simpatis melalui n.vagus.
b. Ureter
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil penyaringan
ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica urinaria.
Terdapat sepasang ureter yang terletak retroperitoneal, masing-masing satu untuk
setiap ginjal. Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan
m.psoas major, lalu menyilangi pintu atas panggul dengan a.iliaca communis.
Ureter berjalan secara postero-inferior di dinding lateral pelvis, lalu melengkung
secara ventro-medial untuk mencapai vesica urinaria. Adanya katup uretero-vesical
mencegah aliran balik urine setelah memasuki kandung kemih.Terdapat beberapa
tempat di mana ureter mengalami penyempitan yaitu peralihan pelvis renalis-ureter,
fleksura marginalis serta muara ureter kedalam vesica urinaria. Tempat-tempat
seperti ini sering terbentuk batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis, a.iliaca communis,
a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan persarafan ureter melalui
segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis, pleksus aorticus, serta pleksus
hipogastricus superior dan inferior.

c. Vesica urinaria
Vesica urinaria, sering juga disebut kandung kemih atau buli-buli, merupakan
tempat untuk menampung urine yang berasal dari ginjal melalui ureter, untuk

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
selanjutnya diteruskan ke uretra dan lingkungan eksternal tubuh melalui
mekanisme relaksasi sphincter. Vesica urinaria terletak di lantai pelvis (pelvic
floor), bersama-sama dengan organ lain seperti rektum, organ reproduksi,bagian
usus halus, serta pembuluh-pembuluh darah, limfatik dan saraf.
Dalam keadaan kosong vesica urinaria berbentuk tetrahedral yang terdiri atastiga
bagian yaitu apex, fundus/basis dan collum. Serta mempunyai tiga permukaan
(superior dan inferolateral dextra dan sinistra) serta empat tepi(anterior, posterior,
dan lateral dextra dan sinistra). Dinding vesica urinaria terdiri dari otot m.detrusor
(otot spiral, longitudinal, sirkular). Terdapat trigonum vesicae pada bagian
posteroinferior dan collum vesicae. Trigonumvesicae merupakan suatu bagian
berbentuk mirip-segitiga yang terdiri dari orifisium kedua ureter dan collum
vesicae, bagian ini berwarna lebih pucat dan tidak memiliki rugae walaupun dalam
keadaan kosong.Vesicae urinaria diperdarahi oleh a.vesicalis superior dan inferior.
Namun pada perempuan, a.vesicalis inferior digantikan oleh a.vaginalis.
Sedangkan persarafan pada vesica urinaria terdiri atas persarafan simpatis dan
parasimpatis. Persarafan simpatis melalui n.splanchnicus minor, n.splanchnicus
imus, dan n.splanchnicus lumbalis L1-L2. Adapun persarafan parasimpatis melalui
n.splanchnicus pelvicus S2-S4, yang berperan sebagai sensorik dan motorik.
d. Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria menuju
lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita. Uretra
pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai organ seksual
(berhubungan dengan kelenjar prostat), sedangkan uretra pada wanita panjangnya
sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna
(otot polos terusan dari m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa
(di uretra pars membranosa, bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya
memiliki m.sphincter externa (distal inferior dari kandung kemih dan bersifat
volunter).
Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars
membranosa dan pars spongiosa.

Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae dan aspek
9

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot m.sphincter urethrae
internal yang berlanjut dengan kapsul kelenjar prostat. Bagian ini disuplai oleh

persarafan simpatis.
Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus kelenjar

prostat. Bagian ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar disbanding bagian lainnya.
Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan tersempit.
Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju bulbus penis melintasi diafragma
urogenital. Diliputi otot polos dan di luarnya oleh m.sphincter urethrae eksternal

yang berada di bawah kendali volunter(somatis).


Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang, membentang dari
pars membranosa sampai orifisium di ujung kelenjar penis. Bagian ini dilapisi oleh
korpus spongiosum di bagian luarnya.

Sedangkan uretra pada wanita berukuran lebih pendek (3.5 cm) dibanding uretra
pada pria. Setelah melewati diafragma urogenital, uretra akan bermuara pada
orifisiumnya di antara klitoris dan vagina (vagina opening). Terdapat m.spchinter
urethrae yang bersifat volunter di bawah kendali somatis, namun tidak seperti uretra
pria, uretra pada wanita tidak memiliki fungsi reproduktif.
3. Komposisi Batu

10

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium oksalat atau kalsium
fosfat, asam urat, magnesium ammonium fosfat, xanthin, sistein, silikat dan senyawa
lainnya. Data mengenai kandungan atau komposisi batu sangat penting untuk pencegahan
timbulnya batu yang residif.
a. Batu Kalsium
Batu ini merupakan batu yang paling banyak ditemukan yaitu sekitar 70- 80% dari
seluruh batu saluran kemih. Adapun kandungannya adalah kalsium oksalat, kalsium
fosfat atau campuran keduanya. Faktor terjadinya batu oksalat adalah sebagi berikut:
Hiperkalsiuri merupakan kenaikan kadar kalsium dalam urin yang melebihi 250300mg/24jam, disebabkan oleh peningkatan absorbsi kalsium melalui usus,
gangguan reabsorbsi kalsium oleh ginjal, dan peningkatan reabsorbsi tulang
karena hiperparatiroid atau tumor paratiroid.
Hiperoksaluri merupakan peningkatan ekskresi oksalat melebihi 45 gram/ hari,
keadaan ini banyak diderita oleh penderita yang mengalami kelainan usus karena
post operasi dan diet kaya oksalat, misalnya teh, kopi instant, minuman soft
drinks, kokoa, jeruk, sitrun, dan sayuran yang berwarna hijau terutama bayam.
Hiperurikosuri merupakan kadar asam urat di dalam urin melebihi 850mg/ 24 jam.
Asam urat yang berlebihan dalam urin bertindak sebagai inti batu terhadap
pembentukan batu kalsium oksalat. Sumber asam urat dalam urin berasal dari
makanan yang mengandung banyak purin maupun berasal dari metabolisme
endogen.
Hipositraturia merupakan sitrat berikatan dengan kalsium di dalam urin sehingga
calsium tidak lagi terikat dengan oksalat maupun fosfat, karenanya merupakan
penghambat terjadinya batu tersebut. Kalsium sitrat mudah larut sehingga hancur
dan dikeluarkan melalui urin.
Hipomagnesia, magnesium juga merupakan penghambat seperti halnya sitrat.
Penyebab tersering dari hipomagnesia adalah inflamasi usus yang diikuti
gangguan absorbsi. Penyebab tersering hipomagnesuria ialah penyakit inflamasi
usus (inflammatory bowel disease) yang diikuti dengan gangguan malabsorbsi.
b. Batu struvit disebut juga sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini karena
proses infeksi pada saluran kemih. Hal ini disebabkan karena infeksi yang sebagian
11

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
besar karena kuman pemecah urea, sehingga urea yang menghasilkan suasana basa
yang mempermudah mengendapnya magnesium fosfat, ammonium, karbonat.
Kuman tersebut diantaranya adalah Proteus spp, Klebsiella, Enterobacter,
Pseudomonas, dan stafilokokus.
c. Batu Asam urat merupakan batu yang terjadi pada 5-10% kasus batu. 75- 80%
adalah batu asam urat murni dan sisanya merupakan campuran dengan asam oksalat.
Batu ini banyak diderita oleh pasien dengan gout, penyakit mieloproliferatif, pasien
yang mendapat terapi antikanker, dan banyak menggunakan obat urikosurik
diantaranya tiazid, salisilat, kegemukan, peminum alkohol, diet tinggi protein.
Adapun faktor predisposisi terjadinya batu asam urat adalah urin yang terlalu asam,
dehidrasi atau konsumsi air minum yang kurang dan tingginya asam urat dalam
darah.
d. Batu jenis lain diantaranya batu sistin, batu santin, dan batu silikat sangat jarang
dijumpai. Batu sistin didapatkan karena kelainan metabolisme yaitu kelainan
absorbsi sistin di mukosa usus. Pemakaian antasida yang mengandung silikat
berlebihan dalam jangka waktu yang lama dapat memungkinkan terbentuknya batu
silikat.
4. Pemeriksaan Klinis
Pasien yang mempunyai batu buli sering asimtomatik, tetapi pada anamnesis biasanya
dilaporkan bahwa penderita mengeluh nyeri suprapubik, disuria, gross hematuri terminal,
perasaan ingin kencing, sering kencing di malam hari, perasaan tidak enak saat kencing,
dan kencing tiba-tiba terhenti kemudian menjadi lancar kembali dengan perubahan posisi
tubuh. Gejala lain yang umumnya terjadi dalam menyertai nyeri yaitu nyeri menjalar dari
ujung penis, scrotum, perineum, punggung dan panggul, perasaan tidak nyaman tersebut
biasa bersifat tumpul atau tajam, disamping sering menarik-narik penisnya pada anak lakilaki dan menggosok-gosok vulva pada anak perempuan. Rasa sakit diperberat saat pasien
sedang beraktivitas, karena akan timbul nyeri yang tersensitisasi akibat batu memasuki
leher vesika. Pasien anak dengan batu buli sering disertai dengan priapism dan disertai
ngompol.

12

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
Pada pemeriksaan fisik didapatkan vesika urinaria tampak penuh pada inspeksi, ketika
dipalpasi didapatkan blader distended pada retensi akut. Adapun tanda yang dapat dilihat
adalah hematuri mikroskopik atau bahkan gross hematuri, pyuria, bakteri yang positif pada
pemeriksaan kultur urin.
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan urin
Pemeriksaan urin sering dilakukan karena tidak mahal dan hasilnya dapat
menggambarkan jenis batu dalam waktu yang singkat. Pada pemeriksaan dipstick,
batu buli berhubungan dengan hasil pemeriksaan yang positif jika mengandung
nitrat, leukosit esterase dan darah. Batu buli sering menyebabkan disuri dan nyeri
hebat, oleh sebab itu banyak pasien sering mengurangi konsumsi air minum
sehingga urin akan pekat. Pada orang dewasa, batu buli akan menyebabkan urin
asam. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya sel darah merah dan
pyuria( leukosit), dan adanya kristal yang menyusun batu buli. Pemeriksaan urin
juga berguna untuk memberikan antibiotik yang rasional jika dicurigai adanya
infeksi.
b. Pemeriksaan Imaging

Urografi
Pemeriksaan radiologis yang digunakan harus dapat memvisualisasikan saluran
kemih yaitu ginjal, ureter dan vesika urinaria (KUB). Tetapi pemeriksaan ini
mempunyai kelemahan karena hanya dapat menunjukkan batu yang radioopaque.
Batu asam urat dan ammonium urat merupakan batu yang radiolucent. Tetapi
batu tersebut terkadang dilapisi oleh selaput yang berupa calsium sehingga
gambaran akhirnya radioopaque. Pelapisan adalah hal yang sering, biasanya
lapisan tersebut berupa sisa metabolik, infeksi dan disebabkan hematuri
sebelumnya.

13

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS

Cystogram/ intravenous pyelografi


Jika pada pemeriksaan secara klinik dan foto KUB tidak dapat menunjukkan
adanya batu, maka langkah selanjutnya adalah dengan pemeriksaan IVP. Adanya
batu akan ditunjukkan dengan adanya filling defek.

Ultrasonografi (USG)
Batu buli akan terlihat sebagai gambaran hiperechoic, efektif untuk melihat batu
yang radiopaque atau radiolucent.

14

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS

CT scan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk banyak kasus pada pasien yang nyeri perut,
massa di pelvis, suspect abses, dan menunjukkan adanya batu buli- buli yang
tidak dapat ditunjukkan pada IVP. Batu akan terlihat sebagian batu yang keruh.

MRI
Pemeriksaan ini akan menunjukkan adanya lubang hitam yang semestinya tidak
ada pada buli yang seharusnya terisi penuh, ini diassosiasikan sebagai batu.

Sistoskopi
Pada pemeriksaan ini dokter akan memasukkan semacam alat endoskopi melalui
uretra yang ada pada penis, kemudian masuk kedalam blader.

6. Penatalaksanaan
a. Konservatif
Terapi ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5 mm, karena diharapkan
batu dapat keluar spontan. Memberikan minum yang berlebihan disertai diuretik.
Dengan produksi air kemih yang lebih banyak diharapkan dapat mendorong batu
keluar dari saluran kemih.

Pengobatan simptomatik mengusahakan agar nyeri,

khususnya kolik, yang terjadi menghilang dengan pemberian simpatolitik. Dan


berolahraga secara teratur.
Adanya batu struvit menunjukkan terjadinya infeksi saluran kemih, karena itu
diberikan antibiotik. Batu strufit tidak dapat dilarutkan tetapi dapat dicegah
pembesarannya bila diberikan pengobatan dengan pengasaman urin dan pemberian
15

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
antiurease, seperti Acetohidroxamic acid. Ini untuk menghambat bakteri urease dan
menurunkan kadar ammonium urin.
Pengobatan yang efektif untuk pasien yang mempunyai batu asam urat pada saluran
kemih adalah dengan alkalinisasi supaya batu asam yang terbentuk akan dilarutkan.
Pelarutan batu akan terjadi apabila pH urin menjadi lebih tinggi atau berjumlah 6,2.
Sehingga dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai dengan makanan alkalis,
batu asam urat diharapkan larut. Potasium Sitrat (polycitra K, Urocit K) pada dosis
60 mEQ dalam 3-4 dosis perhari pemberian digunakan untuk terapi pilihan. Tetapi
terapi yang berlebihan menggunakan sediaan ini akan memicu terbentuknya deposit
calsium pospat pada permukaan batu sehingga membuat terapi tidak efektif lagi.
Atau dengan usaha menurunkan produksi kadar asam urat air kemih dan darah
dengan bantuan alopurinol, usaha ini cukup memberi hasil yang baik. Dengan dosis
awal 300 mg perhari, baik diberikan setelah makan.
b. Litotripsi
Pemecahan batu telah mulai dilakukan sejak lama dengan cara buta, tetapi dengan
kemajuan tehnik endoskopi dapat dilakukan dengan cara lihat langsung. Untuk batu
kandung kemih, batu dipecahkan dengan litotriptor secara mekanis melalui sistoskop
atau dengan memakai gelombang ultrasonic atau elektrohidrolik. Makin sering
dipakainya gelombang kejut luar tubuh (ESWL = Extracorporeal Shock Wave
Lithotripsy) yang dapat memecahkan batu tanpa perlukaan ditubuh sama sekali.
Gelombang kejut dialirkan melalui air ke tubuh dan dipusatkan di batu yang akan
dipecahkan. Batu akan hancur berkeping-keping dan keluar bersama kemih.
c. Terapi pembedahan
Terapi bedah digunakan jika tidak tersedia alat litotriptor, alat gelombang kejut atau
bila cara non bedah tidak berhasil. Walaupun demikian kita harus memerlukan suatu
indikasi. Misalnya apabila batu kandung kemih selalu menyebabkan gangguan miksi
yang hebat sehingga perlu diadakan tindakan pengeluarannya. Litotriptor hanya
mampu memecahkan batu dalam batas ukuran 3 cm kebawah. Batu diatas ukuran ini
dapat ditangani dengan batu kejut atau sistolitotomi.
1. Transurethral Cystolitholapaxy: tehnik ini dilakukan setelah adanya batu
ditunjukkan dengan sistoskopi, kemudian diberikan energi untuk membuat nya
16

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
menjadi fragmen yang akan dipindahkan dari dalam buli dengan alat sistoskopi.
Energi yang digunakan dapat berupa energi mekanik (pneumatic jack hummer),
ultrasonic dan elektrohidraulik dan laser.
2. Percutaneus Suprapubic cystolithopaxy: tehnik ini selain digunakan untuk dewasa
juga digunakan untuk anak- anak, tehnik percutaneus menggunakan endoskopi
untuk membuat fragmen batu lebih cepat hancur lalu dievakuasi.sering tehnik ini
digunalan bersama tehnik yang pertama denagn tujuan stabilisasi batu dan
mencegah irigasi yang ditimbulkan oleh debris pada batu.
3. Suprapubic Cystostomy: tehnik ini digunakan untuk memindah batu dengan
ukuran besar, juga di indikasikan untuk membuang prostate, dan diverculotomy.
Pengambilkan prostate secara terbuka diindikasikan jika beratnya kira- kira 80100gr. Keuntungan tehnik ini adalah cepat, lebih mudah untuk memindahkan batu
dalam jumlah banyak, memindah batu yang melekat pada mukosa buli dan
kemampuannya untuk memindah batu yang besar dengan sisi kasar. Tetapi
kerugian penggunaan tehnik ini adalah pasien merasa nyeri post operasi, lebih
lama dirawat di rumah sakit, lebih lama menggunakan kateter.
B. BNO (Blass Nier Overzicht)
1. Definisi
BNO merupakan satu istilah medis dari bahasa Belanda yang merupakan kependekan
dari Blass Nier Overzicht (Blass = Kandung Kemih, Nier = Ginjal, Overzicht =
Penelitian). Dalam bahasa Inggris, BNO disebut juga KUB (Kidney Ureter Blass).
BNO adalah suatu pemeriksaan didaerah abdomen / pelvis untuk mengetahui kelainankelainan pada daerah tersebut khususnya pada sistem urinaria.
2. Perbedaan BNO dengan Foto Polos Abdomen
Foto BNO diawali dengan persiapan sedangkan foto polos abdomen dapat dilakukan

tanpa persiapan.
Foto BNO berusaha untuk menampilkan traktus urinarius dari ginjal hingga kandung
kencing, maka luas eksposure harus mencakup itu semua. oleh Karena saluran
kencing radiolusen dan tidak tampak dalam foto polos (setelah disuntikkan kontras
akan tampak), maka digunakan tulang sebagai skeletopi (penanda). Dalam foto BNO
harus tampak/ dibatasi bidang: batas sisi atas adalah setinggi vertebra thorax X,
batas sisi lateral adalah kedua alae ossis ilii harus tervisualisasi sempurna dan batas
17

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS
bawah adalah 2 cm dibawah simfisis pubis. Sedangkan foto polos abdomen tidak
perlu seluas itu
3. Persiapan Pasien
a. Sehari sebelum pemeriksaan, pasien harus makan makanan yang tidak berserat
(lembek), misalnya bubur kecap.
b. Puasa makan dan minum minimal 6 jam sebelum pemeriksaaan
c. Pasien diberikan 4 butir dulcolac tablet sekaligus 6 jam sebelum pemeriksaan dan
d.
e.
f.
g.

dulcolac suppositorial (1 BUTIR) 2 Jam sebelum pemeriksaan


Pasien dilarang minum 8 jam sebelum pemeriksaan.
Puasa sampai dilakukan pemeriksaan radiografi
Tidak boleh banyak bicara dan merokok
Sebelum pasien naik ke meja pemeriksaan, pasien diminta untuk Buang Air Kecil
(miksi) terlebih dulu.

18

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS

DAFTAR PUSTAKA
Basler,

J.

2007.

Bladder

Stones.

Emedicine

Journal.

Sited

by

http://www.emedicine.com.
de Jong, W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:EGC
Purnomo, B. B. 2007. Dasar-dasar Urologi. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya.
Reksoprojo, S. 1995. Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara
Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., dan Setiati, S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

19