Anda di halaman 1dari 10

HUBUNGAN KEPATUHAN MINUM OBAT TERHADAP PENGGUNAAN TERAPI ALTERNATIF DAN

KOMPLEMENTER PADA PASIEN HIPERTENSI DI POLIKLINIK JANTUNG RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG
Oleh:
Ratih Dwi Lestari , Retty Ratnawati2, Laily Yuliatun2
1

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya


2
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya
*Alamat korespondensi
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono 171 Kampus Sumbersari Malang 65145
HP: 085 815 550 402, Email: rara.dwi.9@gmail.com

ABSTRAK
Hipertensi merupakan faktor risiko utama kematian di seluruh dunia dan disebut sebagai the silent killer. Pasien
yang sudah terdiagnosa hipertensi, akan diberikan pengobatan secara terus menerus untuk mengontrol tekanan
darahnya. Kepatuhan minum obat yang tepat, akan didapatkan hasil tekanan darah yang terkontrol dan dapat
mencegah timbulnya komplikasi. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi kepatuhan minum obat adalah penggunaan
terapi alternatif dan komplementer. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum obat
terhadap penggunaan terapi alternatif dan komplementer pada pasien hipertensi. Rancangan penelitian ini
menggunakan pendekatan cross sectional. Sebanyak 164 responden diambil secara purposive sampling diantara
seluruh pasien hipertensi rawat jalan yang mengunjungi poliklinik jantung RSUD dr. Saiful Anwar Malang. Pengambilan
data menggunakan kuesioner skala kepatuhan minum obat Morisky dan kuesioner penggunaan terapi alternatif dan
komplementer. Analisa data menggunakan uji statistik korelasi Spearman Rank dengan program SPSS 17.0 for
Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat terhadap
penggunaan terapi alternatif dan komplementer pada hipertensi (p<0.05 dengan koefisien korelasi -0.322). Dapat
disimpulkan, semakin rendah kepatuhan minum obat pasien hipertensi maka cenderung semakin tinggi penggunaan
terapi alternatif dan komplementer. Disarankan untuk penelitian selanjutnya meneliti faktor yang mempengaruhi
penggunaan terapi alternatif dan komplementer secara rinci, misalnya pengetahuan tentang pengobatan hipertensi.
Kata Kunci

: Kepatuhan Minum Obat, Terapi Alternatif dan Komplementer, Hipertenssi

ABSTRACT
Hypertension is a worldwide major risk factor for death and is referred to as the silent killer. Patients who have
been diagnosed with hypertension, will be treated continuously to control their blood pressure. Appropriate medication
adherence, will be obtained controlled blood pressure and can prevent the complication. One of the things that can affect
medication adherence is the use of alternative and complementary therapies. The aim of this study is to determine the
relation between medication adherence with the use of alternative and complementary therapies in hypertensive patient.
The design of this study used cross sectional approach. A total of 164 respondents taken in purposive sampling among
patient with hypertension visited to dr. Saiful Anwar outpatient clinic. The data were collected using questionnaires
Morisky Medication Adherence Scale and questionnaire the use of alternative and complementary therapies. Spearman
Rank correlation was applied to this study using SPSS 17.0 Programs for Windows. There were significant correlations
between the use of alternative and complementary therapies with medication adherence in hypertensive patient (p<0.05
with correlation coefficient -0.322). The conclusion of this study, the lower medication adherence in hypertensive patients
tend to be higher then the use of alternative and complementary therapies. It is recommended for next research to
explore specifically about the influences factor of use of alternative and complementary therapies, for example
knowledge about hypertension treatment.
Keywords

: Medication Adherence, Alternative and Complementary Therapy, Hypertension

PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan faktor risiko utama
kematian di seluruh dunia (Ezzati M. et al., 2005).
Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena
merupakan penyakit mematikan tanpa gejala terlebih
dahulu (Theodore & Kotchen, 2006). Jumlah penderita
penyakit hipertensi di dunia semakin meningkat dari
tahun ke tahun. Lebih dari 40% orang dengan usia 4564 tahun dan 70% dengan usia lebih dari 65 tahun
terkena hipertensi (Keenan & Rosendorf, 2011).
Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit nomor
satu penyebab kematian di Indonesia dan sekitar 6,7%
dari kematian tersebut disebabkan hipertensi
(Riskesdas, 2007). Jumlah kematian akibat hipertensi
di Indonesia meningkat selama tahun 2004-2008 dari
18,9% menjadi 43,8% (WHO, 2011). Di Indonesia, di
antara pasien hipertensi yang datang ke poliklinik,
hanya 39.3% yang mencapai target tekanan darah
(Rohman et al., 2008). Penelitian lain di RSUD dr.
Saiful Anwar Malang, diperoleh hanya 20.8% pasien
hipertensi yang datang ke poliklinik jantung yang
mencapai tekanan darah target (Lukitasari et al., 2011).
Kondisi patologis hipertensi memerlukan
penatalaksanaan non farmakologi dan farmakologi
(Copstead & Jacquelyn, 2005; Lewis et al., 2000).
Penatalaksanaan non farmakologi harus diberikan
kepada semua pasien hipertensi dengan tujuan
penanganan awal sebelum penambahan obat-obatan
hipertensi, menurunkan tekanan darah dan
mengendalikan faktor risiko serta penyakit penyerta
lainnya (Sudoyo, et al., 2006). Penatalaksanaan
hipertensi primer setelah modifikasi gaya hidup yaitu
dengan farmakologis. Penatalaksanaan farmakolgi
pada pasien hipertensi ini sangat penting untuk
mengontrol tekanan darah, mencegah komplikasi,
menurunkan morbiditas dan mortalitas (Chobanian et
al., 2003).
Pasien yang sudah terdiagnosa hipertensi,
akan diberikan pengobatan secara terus menerus
untuk mengontrol tekanan darahnya. Jika pasien tidak
berhasil mengontrol tekanan darah, akan menimbulkan
peningkatkan risiko kasus penyakit kardiovaskuler
bahkan kematian (Manfredini, et al., 2009). Hipertensi
yang tidak terkontrol dan terdeteksi dapat
menyebabkan terjadinya serangan jantung, stroke, dan
gagal ginjal (Theodore & Kotchen, 2006). Salah satu
hal yang dapat berkontribusi besar terhadap tekanan
darah yang tidak terkontrol adalah kepatuhan minum
obat hipertensi yang rendah (Hein et al., 2011; KrouselWood et al., 2011).

Kepatuhan minum obat yang tepat untuk


hipertensi akan didapatkan hasil tekanan darah yang
terkontrol dan dapat mencegah terjadinya komplikasi
(Morisky et al., 2008). Menurut WHO (2003a),
menyatakan kepatuhan minum obat yang baik
berhubungan dengan peningkatan kontrol tekanan
darah dan penurunan komplikasi hipertensi. Tingkat
kepatuhan pasien hipertensi terhadap minum obat
tergolong rendah, yaitu antara 50-70% dan lebih dari
50% pasien dengan terapi farmakologi mengalami drop
out pada tahun pertama (WHO, 2003a).
Ketidakpatuhan pasien dalam menjalankan terapi
mencapai 20-80 % (Kjeldsen, et al., 2011). Dalam studi
lain, menunjukkan prosentasi kepatuhan minum obat
pasien hipertensi yang rendah sebesar 31-58%,
melakukan kontrol rutin 16-84%, dan mengikuti diet
yang direkomendasikan sebesar 13-76% (Albert,
2008).
Faktor yang menjadi alasan pasien memiliki
kepatuhan minum obat yang rendah yaitu merasa tidak
puas dengan pengobatan konvensional karena merasa
tidak efektif atau efek samping yang tidak
menyenangkan (Bishop et al., 2007). Faktor lain yang
dilaporkan terkait pengaruh negatif terhadap kepatuhan
minum obat termasuk depresi, pengetahuan yang
kurang tentang hipertensi dan pengobatan, kerumitan
regimen obat, persepsi pasien tentang sistem
pelayanan kesehatan, efek samping obat, dan kualitas
hidup yang rendah (Morisky et al., 2008). Dalam
penelitian Krousel-Wood et al. (2010), dilaporkan
adanya tingkat kepatuhan minum obat hipertensi yang
rendah pada pasien yang menggunakan terapi
alternatif dan komplementer.
Terapi alternatif dan komplementer merupakan
sebuah kelompok dari bermacam-macam sistem
pengobatan dan perawatan kesehatan, praktek dan
produk yang secara umum tidak menjadi bagian dari
pengobatan konvensional (NCCAM, 2006). Terapi
alternatif merupakan penggunaan terapi pengganti dari
pengobatan
konvensional.
Sedangkan
terapi
komplementer adalah terapi yang digunakan secara
bersama-sama dengan terapi lain atau sebagai
pelengkap (NCCAM, 2006). Frekuensi penggunaan
terapi alternatif dan komplementer di seluruh dunia
meningkat, dan tercatat pada populasi di afrika dan
dunia sekitar 20-80% (Krousel-Wood et al., 2010).
Menurut WHO, negara di Afrika, Asia, dan Amerika
Latin menggunakan obat herbal sebagai pelengkap
pengobatan primer yang diterima pasien. Bahkan di
Afrika, sebanyak 80% dari populasi menggunakan obat

herbal untuk pengobatan primer (WHO, 2003b). Di


United States, penggunaan pada pasien dengan
hipertensi sangat tinggi yaitu sebesar 69,5% (Bell et
al., 2006). Di Nigeria, prevalensi penggunaan terapi
alternatif dan komplementer sekitar 29,1 % dan bentuk
paling umum yaitu herbal (63%) dan bawang putih
(21%) (Osamor & Owumi, 2010). Penggunaan terapi
alternatif dan komplementer tersebut meningkat karena
bersifat alami (Amira & Okubadejo, 2007). Dari uraian
di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat di dunia
sudah mulai menggunakan terapi alternatif
komplementer untuk menangani penyakit hipertensi.
Menurut penelitian Krousel-Wood et al. (2010),
faktor yang berhubungan dengan penggunaan terapi
alternatif dan komplementer pada pasien hipertensi
yaitu sosiodemografi, tingkat pendidikan, kebudayaan,
kepercayaan dan ekonomi. Alasan beralihnya pasien
dari pengobatan konvensional ke terapi alternatif dan
komplementer dikarenakan pengobatan medis semakin
mahal, adanya efek samping pemakaian obat kimiawi
dalam jangka waktu panjang, serta kesembuhan
melalui cara medis yang tidak 100% khususnya untuk
penyakit kronis (Haryana, 2006). Penelitian Barnes P.
M. et al (2004), beralihnya masyarakat dari pengobatan
konvensional ke terapi alternatif dan komplementer
dikarenakan ketidakpuasan terhadap pengobatan
medis dalam menyembuhkan dan mengurangi gejala
dari penyakit. Selain itu, merasa khawatir atau takut
dengan efek samping pengobatan medis (59%) dan
hanya 5,4% yang menginformasikan kepada dokter
(Shafiq et al., 2003).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik
melakukan penelitian Hubungan Kepatuhan Minum
Obat terhadap Penggunaan Terapi Alternatif dan
Komplementer pada Pasien Hipertensi di Poliklinik
Jantung RSUD dr. Saiful Anwar Malang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh kepatuhan minum obat terhadap
penggunaan terapi alternatif dan komplementer pada
pasien hipertensi di Poliklinik Jantung RSUD dr. Saiful
Anwar Malang. Penelitian ini bermanfaat baik secara
teoritis maupun praktis. Secara teoritis dapat menjadi
sumber referensi bagi kepentingan penelitian. Secara
praktis dapat sebagai bahan masukan dalam
pemberian asuhan keperawatan, dimana perawat
diharapkan dapat memberikan edukasi dan konseling
tentang minum obat pada pasien hipertensi dan
ketentuan dalam penggunaan terapi alternatif dan
komplementer khususnya pada pasien hipertensi.

METODE PENELITIAN
Penelitian
ini
menggunakan
metode
observasional-analitik dengan rancangan cross
sectional (Notoatmojo, 2012). Penelitian dilaksanakan
di Poliklinik Jantung RSUD dr. Saiful Anwar Malang
pada bulan Maret sampai April 2014. Populasi dalam
penelitian ini adalah pasien rawat jalan penderita
hipertensi yang berada di Poliklinik Jantung RSUD dr.
Saiful Anwar kota Malang dengan rata-rata populasi
dalam 3 bulan terakhir sebanyak 493 pasien. Besar
sampel didapatkan sebesar 164 responden dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria
inklusi yaitu Pasien yang didiagnosa oleh dokter
mengalami hipertensi dan sedang melakukan rawat
jalan secara rutin selama 3 bulan terakhir, bersedia
menjadi responden penelitian, pasien yang diberikan
obat hipertensi oleh dokter, pasien yang berusia lebih
dari sama dengan 18 tahun, dan tidak mengalami
gangguan bicara maupun pendengaran.
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini
menggunakan
kuesioner
MMAS-8
(Morinsky
Medication Adherence Scale) sebanyak 8 item yang
dikembangkan oleh Morinsky D. E. dan telah
mengalami revisi dari MMAS-4 menjadi MMAS-8 pada
tahun 2008 (Morinsky, et al., 2008). Sedangkan
kuesioner penggunaan terapi alternatif dan
komplementer, diadaptasi dari jurnal Krousel-Wood et
al (2010).
Untuk mengetahui hubungan antar dua
variabel kepatuhan minum obat pada dengan
penggunaan terapi alternatif dan komplementer pasien
hipertensi. Analisis bivariat dalam penelitian ini diuji
dengan bantuan SPSS (Software Product and Service
Solution) versi 17.0, menggunakan uji analisa korelasi
Spearmen Rank, dengan nilai kemaknaan p < 0,05,
yang berarti terdapat hubungan bermakna antara
variable independen dengan variabel dependen.
HASIL PENELITIAN
Distribusi data demografi responden pada
penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, pekerjaan, lama menderita hipertensi,
diberikan edukasi efek samping obat hipertensi, dan
jumlah obat hipertensi yang diresepkan disajikan dalam
bentuk tabel sebagai berikut:
a. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
No
1.
2.
3.

Usia
30-50
51-70 tahun
> 70 tahun

Frekuensi
14
108
42

%
8.5
65.9
25.6

Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa usia


responden yang paling banyak adalah responden yang

berusia 51-70 tahun yaitu sebanyak 108 responden


(65,9%) yang menderita hipertensi.

responden bekerja sebagai kuli bangunan dan 1


responden berkerja sebagai tukang parkir).

b. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis


Kelamin

e. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama


Menderita Hipertensi

Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis


Kelamin
No
1.
2.

Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan

Frekuensi
88
76

Tabel 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama


Menderita Hipertensi

%
53.7
46.3

No
1.
2.

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa


karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin,
jumlah responden laki-laki lebih banyak daripada
perempuan. Terdapat 88 responden (53,7%) dengan
jenis kelamin laki-laki dan 76 responden (46,3%)
perempuan

f.

Frekuensi
1
24
29
60
50

%
0.6
14.6
17.7
36.6
30.5

1.
2.

Diberikan Edukasi
Efek Samping Obat
Hipertensi
Diberikan Edukasi
Tidak Diberikan
Edukasi

Frekuensi

38
126

23.2
76.8

g. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah


Obat Hipertensi yang Diresepkan

Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan


Pekerjaan
Frekuensi
85
14
13
9
41
2

72
28

Tabel 6 di atas menunjukkan bahwa responden


yang diberikan edukasi oleh tenaga kesehatan tentang
efek samping dari obat anti hipertensi sebanyak 38
responden (23,2%) dan yang tidak diberikan edukasi
yaitu 76,8% (126 responden).

d. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan
Pensiunan
PNS
Swasta
Wiraswasta
Tidak Bekerja
Lain-lain

118
46

Karakteristik Responden Berdasarkan Diberikan


Edukasi Efek Samping Obat Hipertensi

No

Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa tingkat


pendidikan responden dengan frekuensi tertinggi yaitu
SMA sebanyak 60 responden (36,6%).

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tabel 6. Karakteristik Responden Berdasarkan


Diberikan Edukasi Efek Samping Obat Hipertensi

Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat


Pendidikan
Tingkat Pendidikan
Tidak Tamat SD
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi

Frekuensi

Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa frekuensi


tertinggi berdasarkan lama menderita hipertensi pada <
10 tahun yaitu 118 responden (72%).

c. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat


Pendidikan

No
1.
2.
3.
4.
5.

Lama Menderita
Hipertensi
< 10 Tahun
> 10 Tahun

Tabel 7. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah


Obat Hipertensi yang Diresepkan

%
51.8
8.5
7.9
5.5
25
1.2

No
1.
2.
3.
4.

Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa dari 164


responden yang diteliti, 85 responden (51,8%)
pensiunan, 41 responden (25%) tidak bekerja (37
responden sebagai ibu rumah tangga dan 4 responden
tidak bekerja dikarenakan sudah tua), 14 responden
(8,5%) PNS, 13 responden (7,9%) swasta, 9 responden
(5,5%) wiraswasta, dan 2 responden (1,2%) lain-lain (1

Jumlah Obat
Hipertensi yang
Diresepkan
1 Jenis
2 Jenis
3 Jenis
> 4 Jenis

Frekuensi

16
37
57
54

9.8
22.5
34.8
32.9

Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa dari 164


responden yang diteliti, 16 responden (9,8%) dengan
jumlah obat yang diresepkan 1 jenis, 37 responden
(22,5%) dengan 2 jenis, 57 responden (34,8%) dengan
3 jenis, dan 54 responden (32,9%) dengan jumlah obat
yang diresepkan > 4 jenis.

h. Gambaran Kepatuhan Minum Obat pada Pasien


Hipertensi

ANALISIS DATA
Analisis statistik menggunakan SPSS 17 for
windows. Data dianalisis menggunakan uji Spearmen
Rank. Hasil uji korelasi Spearmen Rank didapatkan
nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Dengan
demikian hipotesa (H1) diterima, artinya semakin
rendah kepatuhan minum obat pasien hipertensi maka
cenderung semakin tinggi penggunaan terapi alternatif
dan komplementer.

Tabel 8. Gambaran Kepatuhan Minum Obat pada Pasien


Hipertensi di Poliklinik Jantung RSUD dr. Saiful Anwar
Malang
No
1.
2.
3.

Kepatuhan Minum
Obat
Kepatuhan Rendah
Kepatuhan Sedang
Kepatuhan Tinggi

Frekuensi

55
57
52

33.5
34.7
31.8

PEMBAHASAN
1. Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Hipertensi
di Poliklinik Jantung RSUD dr. Saiful Anwar
Malang
Hasil penelitian mengenai tingkat kepatuhan
minum obat pada pasien hipertensi di poliklinik jantung
RSUD dr. Saiful Anwar Malang didapatkan hasil bahwa
dari 164 responden, 52 responden (31,8%) memiliki
tingkat kepatuhan minum obat yang tinggi, 57
responden (34,7%) kepatuhan sedang, dan sebanyak
55 responden (33,5%) kepatuhan rendah.
Hasil uji analisis usia dan tingkat kepatuhan
minum obat menunjukkan tidak terdapat hubungan
antara usia responden dengan kepatuhan minum obat.
Menurut Niven (2002) bahwa seseorang yang memiliki
usia muda lebih patuh dari pada usia tua. Hasil
penelitian Gryglewska (2005) menyatakan tidak
terdapat hubungan antara penurunan kepatuhan
dengan peningkatan usia, dengan kata lain semakin
bertambahnya usia semakin tinggi pula tingkat
kepatuhannya. Berdasarkan data dan uraian di atas,
dapat disimpulkan bahwa usia bukan merupakan salah
satu faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
minum obat pada pasien hipertensi.
Hasil uji analisis jenis kelamin dan tingkat
kepatuhan minum obat menunjukkan tidak terdapat
hubungan. Hal ini bertolak belakang dengan penelitian
Marentette et al (2002) yang melaporkan tingkat
kepatuhan minum obat yang rendah terdapat pada
jenis kelamin laki-laki. Hal ini dapat dikaitkan dengan
ketersediaan waktu dan kesempatan bagi perempuan
untuk datang berobat ke pelayanan kesehatan lebih
banyak dibandingkan laki-laki. Selain itu, wanita akan
lebih taat untuk minum obat sesuai petunjuk yang
diberikan, mengingat ketersediaan waktu di rumah
lebih banyak di bandingkan laki-laki.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan
tingkat kepatuhan minum obat yang tinggi baik lebih
banyak pada responden dengan tingkat pendidikan
SMA dibandingkan dengan responden yang

Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa kepatuhan


minum obat pasien hipertensi yang paling banyak
adalah memiliki kepatuhan sedang sebanyak 57
responden (34,7%), sedangkan yang paling sedikit
tingkat kepatuhan minum obat yang tinggi sebanyak 52
orang (31,8%).
i.

Gambaran Penggunaan Terapi Alternatif dan


Komplementer pada Pasien Hipertensi
Tabel 9. Gambaran Penggunaan Terapi Alternatif dan
Komplementer pada Pasien Hipertensi di Poliklinik
Jantung RSUD dr. Saiful Anwar Malang
No
1.
2.

Penggunaan Terapi
Alternatif dan
Komplementer
Ya
Tidak

Frekuensi

46
118

28
72

Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa responden


yang menggunakan terapi alternatif dan komplementer
untuk mengatasi hipertensi sebanyak 46 responden
(28%). Dari 46 responden tersebut, 4 responden
menggunakan sebagai terapi alternatif dan 42
responden sebagai terapi komplementer (pelengkap).
Tabel 10. Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan
Penggunaan Terapi Alternatif dan Komplementer pada
Pasien Hipertensi
Penggunaan
Terapi Alternatif
dan
Komplementer
Ya
Tidak

Kepatuhan Minum Obat


Tinggi
Sedang
Rendah
F
%
F
%
F
%
6
46

3,8
28

14
43

8,5
26,2

26
29

15,7
17,8

Tabel 10 di atas menunjukkan bahwa dari 164


responden terdapat 26 responden (15,7%) yang
memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang rendah
serta menggunakan terapi alternatif dan komplementer.

berpendidikan lebih tinggi. Hal tersebut menunjukkan


bahwa tingkat pendidikan tidak mempengaruhi
kepatuhan minum obat pasien hipertensi. Hal ini sesuai
dengan penelitian Yuliarti (2007) yang menyatakan
sbahwa tingkat pendidikan tidak ada hubungan pada
pasien hipertensi. Hal ini disebabkan tidak selamanya
pasien yang berpendidikan dasar memiliki tingkat
pengetahuan tentang penyakit hipertensi rendah.
Tetapi, tidak semuanya pasien yang berpendidikan
menengah ke atas tingkat pengetahuannya tinggi.
Faktor informasi yang diperoleh dari penyuluhan atau
media dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang
tanpa latar belakang pendidikan. Seringnya terpapar
informasi baik berupa leaflet, atau penyuluhan
kesehatan
seseorang
dapat
meningkatkan
pengetahuan.
Hasil uji analisis pekerjaan dan tingkat
kepatuhan minum obat menunjukkan tidak terdapat
hubungan yang signifikan. Hal ini di karenakan bahwa
pekerjaan bukan penghalang seseorang untuk datang
dan memeriksakan kesehatan ke pelayanan
kesehatan. Hal ini sejalan dengan penelitian Yuliarti
(2007) juga menyatakan tidak ada hubungan antara
pekerjaan dengan hipertensi pada usia lanjut dengan
kepatuhan minum obat.
Durasi lama menderita hipertensi memiliki
hubungan dengan tingkat kepatuhan minum obat. Hasil
uji analisa data didapatkan p = 0.044 (p < 0.05) dengan
koefisien korelasi 0.192. Menurut penelitian Jin (2008)
dan Chung et al (2006) yang menyatakan bahwa pada
pasien dengan penyakit kronis, durasi penyakit yang
lebih lama menghasilkan kepatuhan terapi yang baik.
Kepatuhan akan meningkat disebabkan sikap
penolakan pasien terhadap penyakitnya akan menurun
dan akan menerima pengobatan setelah lama
menderita penyakit. Walaupun tidak semua pasien
meningkat kepatuhannya berdasarkan lama menderita
hipertensi.
Pasien yang diberikan edukasi efek samping
obat hipertensi dengan yang tidak diberikan memiliki
hubungan yang signifikan dengan tingkat kepatuhan
minum obat. Hasil uji analisis didapatkan p=0.047
(p<0.05) dengan koefisien korelasi 0.155. Jadi, pasien
yang diberikan edukasi terkait efek samping obat
hipertensi maka semakin tinggi tingkat kepatuhan
minum obatnya. Hal ini sesuai dengan konsep Rantucci
(2007) bahwa faktor komunikasi antara pasien dengan
tenaga kesehatan terkait informasi risiko dan efek
samping obat dapat mempengaruhi kepatuhan minum
obat pasien.

Hasil uji analisis jumlah obat hipertensi yang


diresepkan dengan tingkat kepatuhan minum obat
menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan (p=
0.042 dan koefisien korelasi 0.593). Hal ini didukung
oleh Iskedjian (2002) yang menyebutkan bahwa
semakin banyak obat yang diresepkan maka
kepatuhan minum obat menjadi menurun.
2. Penggunaan
Terapi
Alternatif
dan
Komplementer pada Pasien Hipertensi di
Poliklinik Jantung RSUD dr.Saiful Anwar
Malang
Hasil penelitian tentang penggunaan terapi
alternatif dan komplementer pada pasien hipertensi di
poliklinik jantung RSUD dr. Saiful Anwar Malang
didapatkan hasil dari 164 responden, sebanyak 46
responden (28%) menggunakan terapi alternatif dan
komplementer dan sebanyak 118 responden (72%)
tidak menggunakan. Dalam penelitian ini, penggunaan
terapi alternatif dan komplementer pada pasien
hipertensi di poliklinik jantung RSUD dr. Saiful Anwar
Malang cukup tinggi dari penelitian sebelumnya.
Menurut penelitian Mahfudz & Chan (2005) di Malaysia,
pada pasien hipertensi yang menggunakan terapi
alternatif dan komplementer hanya sekitar 27%.
Hasil uji analisis usia dengan penggunaan
terapi alternatif dan komplementer menunjukkan tidak
terdapat hubungan yang signifikan. Menurut penelitian
Kretchy et al (2014) menunjukkan bahwa tidak terdapat
hubungan antara penggunaan terapi alternatif dan
komplementer dengan usia. Jenis kelamin dengan
penggunaan terapi alternatif dan komplementer
menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan.
Dari 164 responden, 23 responden (14%) berjenis
kelamin laki-laki dan 23 responden (14%) berjenis
kelamin perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian
Gohar et al (2008) menyatakan bahwa penggunaan
terapi alternatif dan komplementer tidak ada perbedaan
yang signifikan dengan jenis kelamin.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan
penggunaan terapi alternatif dan komplementer lebih
banyak pada responden dengan pendidikan SMA
sebanyak 17 responden (10,3%) dan perguruan tinggi
sebanyak 17 responden (10,3%). Hasil uji analisa
menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara tingkat pendidikan dengan
penggunaan terapi alternatif dan komplementer. Hal ini
sesuai penelitian Gohar et al (2008) yang menyatakan
bahwa penggunaan terapi alternatif dan komplementer

tidak ada hubungan yang signifikan dengan tingkat


pendidikan yang tinggi.
Pekerjaan seseorang dengan penggunaan
terapi alternatif dan komplementer menunjukkan tidak
memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini sesuai
dengan penelitian Kretchy et al (2014) menunjukkan
bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
penggunaan terapi alternatif dan komplementer dengan
pekerjaan. Sedangkan durasi lama menderita
hipertensi memiliki hubungan dengan penggunaan
terapi alternatif dan komplementer (p = 0.038 dengan
koefisien korelasi 0.246). Hal ini dapat disimpulkan
bahwa proses pengobatan yang terlalu lama
menyebabkan penderita bosan sehingga pasien
berusaha mencari alternatif pengobatan lain yang
mempercepat proses penyembuhannya. Hal ini
berbeda dengan penelitian Kretchy et al (2014)
menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan penggunaan terapi alternatif dan
komplementer dengan lama menderita hipertensi.
Pasien yang diberikan edukasi efek samping
obat hipertensi memiliki hubungan yang signifikan
dengan penggunaan terapi alternatif dan komplementer
(p = 0.020 dengan koefisien korelasi -0.182). Hal ini
dapat disimpulkan bahwa akan semakin sedikit pasien
yang menggunakan terapi alternatif dan komplementer
jika diberikan edukasi efek samping obat. Hasil uji
analisis jumlah obat hipertensi yang diresepkan dengan
penggunaan terapi alternatif dan komplementer
menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan.
Semakin banyak jumlah obat yang diresepkan kepada
pasien, semakin banyak yang beralih dari pengobatan
konvensional ke terapi yang lain.
Berdasarkan fakta yang diperoleh dari hasil
wawancara didapatkan bahwa jenis terapi alternatif dan
komplementer yang paling banyak digunakan
responden adalah obat herbal (35%). Hasil dari
penelitian ini, responden paling banyak menyatakan
penggunaan terapi alternatif dan komplementer lebih
dari 12 bulan yaitu sebanyak 56,5% (26 responden)
dengan 58,7% responden menggunakan dengan
frekuensi beberapa kali. Sedangkan, 8,7% (4
responden) berhenti minum obat medis saat
menggunakan terapi alternatif komplementer dan
91,7% (42 responden) tidak berhenti minum obat
medis. Sebanyak 84.8% responden menyatakan tidak
mendiskusikan ke tenaga kesehatan tentang
penggunaan terapi alternatif dan komplementer untuk
mengontrol atau menurunkan tekanan darah. Selain itu,
73,9% menyatakan penggunaan terapi alternatif dan

komplementer dapat berpengaruh terhadap penurunan


tekanan darah dan 63% masih menggunakan terapi
alternatif dan komplementer. Penentuan seseorang
untuk melanjutkan terapi dapat dipengaruhi oleh aspek
manfaat dan keberhasilan. Hasil dari wawancara
didapatkan, sumber informasi yang terbanyak terkait
penggunaan terapi alternatif dan komplementer yaitu
dari teman, keluarga, dan media massa. Hal ini dapat
disimpulkan peran sosial dapat mempengaruhi perilaku
seseorang dalam mengambil keputusan dalam
menentukan jenis terapi yang akan digunakan.
Berdasarkan data dari responden, alasan
menggunakan terapi alternatif dan komplementer
meliputi lebih alami dari obat medis, takut dengan efek
samping yang dapat timbul dari obat medis, hanya
mencoba hal yang dapat mengontrol atau menurunkan
tekanan darah, dan dapat mengurangi masalahmasalah kesehatan yang timbul. Responden merasa
takut mengkonsumsi obat medis dalam jangka waktu
lama, karena sepengetahuan responden dapat
menggangu organ tubuh lain. Hal ini dapat disimpulkan
bahwa pengetahuan terkait efek samping obat medis
masih sangat rendah. Jika pasien diberikan edukasi
terkait efek samping dan manfaat mengkonsumsi obat,
maka kepatuhan minum obat akan meningkat dan tidak
akan beralih ke terapi alternatif dan komplementer. Hal
ini sependapat dengan penelitian Amira et al (2007)
yang menyatakan bahwa sebagian besar pasien
hipertensi memilih terapi alternatif dan komplementer
dengan alasan kealamiahan terapi, dan tidak adanya
efek samping dari terapi tersebut. Penelitian Wayne B.
J (2001) juga menyatakan bahwa pasien yang
menggunakan terapi alternatif dan komplementer
menerima hasil yang positif dan percaya dapat bekerja
dalam penyembuhan penyakit. Beberapa pasien
percaya jika pengobatan konvensional tidak dapat
membantu penyembuhan penyakit dan khawatir
dengan efek samping obat medis konvensional.
3. Hubungan Kepatuhan Minum Obat Terhadap
Penggunaan
Terapi
Alternatif
dan
Komplementer pada Pasien Hipertensi di
Poliklinik Jantung RSUD dr. Saiful Anwar
Malang
Hasil analisa data untuk mengetahui
hubungan antara kepatuhan minum obat dengan
penggunaan terapi alternatif dan komplementer pada
pasien hipertensi di Poliklinik Jantung RSUD dr. Saiful
Anwar Malang menggunakan uji korelasi Spearman
Rank. Didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p <

0,05) dengan koefisien korelasi -0.322 artinya H1


diterima dan memiliki hubungan yang cukup berarti
dengan arah hubungan negatif. Jadi, semakin rendah
kepatuhan minum obat pasien hipertensi maka
cenderung semakin tinggi penggunaan terapi alternatif
dan komplementer. Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan Kretchy et al (2014) yang menyatakan
bahwa terdapat hubungan bermakna antara kepatuhan
minum obat dengan penggunaan terapi alternatif dan
komplementer pada pasien hipertensi.
Dari hasil tabulasi silang kepatuhan minum
obat dengan penggunaan terapi alternatif dan
komplementer, dari 46 responden (28%) yang
menggunakan terapi alternatif dan komplementer,
sebanyak 26 responden (15,7%) memiliki kepatuhan
minum obat yang rendah. Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa responden dengan kepatuhan
minum obat yang rendah cenderung menggunakan
terapi alternatif dan komplementer. Hal ini sesuai
dengan penelitian Gohar et al (2008) yang
menunjukkan penggunaan terapi alternatif dan
komplementer berhubungan dengan berkurangnya
kepatuhan minum obat untuk pasien perempuan.
Penelitian Jernewall et al (2005) pada pasien laki-laki
dengan HIV positif yang menggunakan terapi alternatif
dan komplementer memiliki pengaruh dengan
kepatuhan minum obat, ditemukan bahwa pasien yang
menggunakan terapi alternatif dan komplementer
cenderung tidak patuh dalam minum obat. Sebaliknya,
pasien yang tidak menggunakan terapi alternatif dan
komplementer cenderung patuh dalam minum obat.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 15
responden (9,2%) dengan kepatuhan minum obat yang
rendah, menggunakan terapi alternatif dan
komplementer serta tidak tahu pengobatan hipertensi
dilakukan seumur hidup. Maka dari itu, pengetahuan
berperan penting dalam menentukan kepatuhan minum
obat seseorang. Sebanyak 2 responden (1,2%)
memiliki kepatuhan minum obat yang tinggi, tahu jika
pengobatan hipertensi seumur hidup, tetapi
menggunakan terapi alternatif dan komplementer. Hal
ini dapat dikarenakan responden hanya mencoba halhal yang dapat menurunkan atau mengontrol tekanan
darah dan responden menggunakan terapi tersebut
hanya sebagai pelengkap.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 23
responden (14,1%) dengan kepatuhan minum obat
yang rendah, menggunakan terapi alternatif dan
komplementer serta merasa bosan dengan pengobatan
hipertensi. Hal ini dikarenakan semakin banyak obat

medis yang diresepkan, maka semakin rendah


kepatuhan minum obat yang dimiliki, serta akan
mencoba mencari hal yang dapat membantu
menurunkan atau mengontrol tekanan darah seperti
menggunakan terapi alternatif dan komplementer.
Selain itu, hal yang membuat responden merasa bosan
dengan pengobatan hipertensi dikarenakan harus
diminum terus menerus dan seumur hidup. Dari hasil
penelitian, 18 responden (11%) memiliki kepatuhan
minum obat yang rendah, tidak bosan dengan
pengobatan hipertensi, dan tidak menggunakan terapi
alternatif dan komplementer. Kepatuhan minum obat
yang rendah tersebut dikarenakan responden memiliki
pengetahuan tentang penyakit hipertensi dan
pengobatannya yang kurang. Responden hanya
meminum obat hipertensi jika tekanan darahnya di atas
normal. Namun, saat tekanan darahnya turun atau
dalam batas normal, maka responden akan berhenti
minum obat yang diberikan
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan,
dapat diambil kesimpulan:
1. Hasil uji korelasi Spearman Rank didapatkan nilai
signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05) dengan
koefisien korelasi -0.322. Sehingga H1 diterima
yang artinya semakin rendah kepatuhan minum
obat pasien hipertensi maka cenderung semakin
tinggi penggunaan terapi alternatif dan
komplementer.
2. Tingkat kepatuhan minum obat pada pasien
hipertensi di poliklinik jantung RSUD dr. Saiful
Anwar Malang, sebanyak 57 responden (34,7%)
kepatuhan sedang, 55 responden (33,5%)
kepatuhan rendah, dan 52 responden (31,8)
kepatuhan minum obat tinggi.
3. Frekuensi penggunaan terapi alternatif dan
komplementer pada pasien hipertensi di poliklinik
jantung RSUD dr. Saiful Anwar Malang dari 164
responden yang diteliti didapatkan 46 responden
(28%) menggunakan terapi alternatif dan
komplementer.
4. Terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat
yang rendah dengan penggunaan terapi alternatif
dan komplementer pada pasien hipertensi

SARAN
8

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian


diatas, maka dapat diajukan saran sebagai berikut:
1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait faktor
yang mempengaruhi penggunaan terapi alternatif
dan komplementer secara rinci misal
pengetahuan pasien terkait penyakit serta
pengobatan pada hipertensi. Selain itu, juga
membedakan pasien yang menggunakan terapi
alternatif, terapi komplementer, dan secara
bersamaan menggunakan terapi alternatif dan
komplementer.
2. Bagi pasien hipertensi, hendaknya perlu
ditingkatkan kepatuhan dalam melaksanakan
pengobatan hipertensi dan selalu mendiskusikan
ke tenaga kesehatan terkait penggunaan terapi
alternatif dan komplementer..

Patients With Heart Failure. Journal of Cardiac


Failure Elsevier.
Copstead, L. E. C., & Jacquelyn, L. B. (2005).
Pathophysiology Third Edition, St. Louis:
Missouri Elsevier Saunders.
Departemen Kesehatan RI. (2008). Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2007: Laporan Nasional
2007. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Depkes RI.
Ezzati, M., Lopez, A. D., Rodgers, A., Hoorn, S. V.,
Murray, C. J. L., & the Comparative Risk
Assessment Collaborating Group. (2005).
Selected major risk factors and global and
regional burden of disease. The Lancet, Vol.
360:13471360.
Gohar, F., Greenfield, S. M., Beevers, D. G., Lip, G. Y.
H., and Jolly, K. (2008). Self-care and
adherence to smedication: a survey in the
hypertension
outpatient
clinic.
BMC
Complementary and Alternative Medicine
2008, 8:4. Doi:10.1186/1472-6882-8-4.
Haryana, A. (2006). 812 Resep untuk Mengobati 236
Penyakit. Jakarta : Penebar Swadaya.
Hein, A. W. Van Onzenoort, Menger, F. E., Neef, C.,
Verberk, W. J., Kroon, A. A., de Leeuw, P. W.,
& van der Kuy, P. H. M. (2011). Participation in
a Clinical Trial Enhances Adherence and
Persistence to Treatment: A Retrospective
Cohort Study. American Heart Association;
Hypertension,
58:
573-578.
doi:
10.1161/HYPERTENSIONAHA.111.171074.
Jernewall, N., Zea, M. C., Reisen, C. A., Poppen, P. J.
(2005). Complementary and alternative
medicine and adherence to care among HIVpositive Latino gay and bisexual men. AIDS
Care 2005, 17:601-609.
Jin, Jing., Sklar, G, E., Oh, V, M, S., & Li, S, C. (2008).
Factor Affecting Therapeutic Compliance: A
Review from the Patients Perspective.
Therapeutics and Clinical Risk Management
2008:4(1) 269286.
Keenan, N. L., & Rosendorf, K. A. (2011). Prevalence of
hypertension and controlled hypertension
United States, 20052008. Morbidity and
Mortality Weekly Report; 60:9497.
Kretchy, I. A., Owusu-Daaku, F., & Danquah S. (2014).
Patterns and determinants of the use of
complementary and alternative medicine: a
cross-sectional study of hypertensive patients
in Ghana. BMC Complementary and
Alternative Medicine 2014.14:14. doi:
10.1186/1472-6882-14-44.
Krousel-Wood, M. A., Muntner, P., Joyce, C. J., Islam,
T., Stanley, E., Holt, E. W., Morisky, D. E., He,
J., & Webber, L. S. (2010). Adverse effects of
Complementary and Alternative Medicine Use
on Antihypertensive Medication Adherence:

DAFTAR PUSTAKA
Albert, N. M. (2008). Improving medication adherence
in chronic cardiovascular disease. Critical
Care Nurse, 28 (52), 54-64.
Amira, O. C., & Okubadejo, N. U. (2007). Frequency of
complementary and alternative medicine
utilization in hypertensive patients attending an
urban tertiary care centre in Nigeria. BMC
Complementary and Alternative Medicine,
7:30. 1472-6882/7/30.
Barnes, P. M., Powell-Greiner, E., Mc Fann, K., &
Nahin, R. L. (2004). Complementary and
Alternative Medicine Use Among Adults:
United States, 2002. Advance Data From Vital
and Health Statistic, Number 343, May 27.
Bell, R. A., Suerken C. K., Grzywacz J. G., Lang W.,
Quandt S. A., & Arcury T. A. (2006). CAM Use
Among Older Adults Age 65 or Older with
Hypertension in the United States: General
Use and Disease Treatment. J Alternative
Compl Med, 12(9):903909.
Bishop, F. L., Yardley, L., & Lewith, G. T. (2007). A
Systematic Review of Beliefs Involved in the
Use of Complementary and Alternative
Medicine. Journal of Health Psychology, Vol.
12
(6)
851-867.
Doi:
10.1177/1359105307082447.
Chobanian, A. V., Bakris, G. L., Black, H. R., Cushman,
W. C., Gren, L. A., Izzo, J. L., Jones, D. W.,
Materson, B. J., Oparil, S., Wright, J. T.,
Rocella, E. J., & the National High Blood
Pressure Education Program Coordinating
Committee. (2003). The Seventh Report of the
Joint National Committee (JNC). Journal of
the American Heart Association, 42, 12061252.
Chung Misook, L. (2006). Gender Differences in
Adherens to Sodium-Restrictied Diet in
9

Findings from CoSMO. J Am Geriatr Soc.


January; 58 (1): 54-61. doi:10.1111/j.15325415.2009.02639.x.
Krousel-Wood, M., Joyce, C., Holt, E., Muntner, P.,
Wbber, L. S., Morisky, D. E., Frohlich, E. D., &
Re, R. N. (2011). Predictors of Decline in
Medication Adherence : Results From the
Cohort Study of Medication Adherence Among
Older Adults. Hypertension, 58:804-810. doi:
10.1161/HYPERTENSIONAHA.111.176859.
Lewis, S. M., Heitkemper, M. M., & Dirksen, S. R.
(2000). Medical Surgical Nursing Assesment
and Management of Clinical Problems Vol. 1.
St. Louis, Missouri: Mosby Inc.
Lukitasari, M., Rohman, S., & Hendrawan, D. (2011).
Achievement of Blood Pressure Target with
Angiotensin Blockade Based Therapy in Out
Patient Clinic.
Mahfudz, A. S., & Chan, S. C. (2005). Use of
Complementary
Medicine
Amongst
Hypertensive Patients in a Public Primary Care
Clinic in Ipoh. Med J Malaysia Vol. 60
No.4:454-9.
Manfredini, F., Malagoni, A. M., Mandini, S., Boari, B.,
Felisatti, M., Zamboni, P., & Manfredini, R.
(2009). Sport Therapy for Hypertensive: Why,
How, and How Much? Angiology, Vol. 60, No.
2. DOI: 10.1177/0003319708316012.
Marentette MA, Gerth WC, Billings DK, Zarnke KB.
(2002). Antihypertensive persistence and drug
class. Can J Cardiol 2002;18:649656.
[PubMed: 12107422]
Morisky., D. E., Ang, A., Krousel-Wood, M., & Ward, H.
J. (2008). Predictive Validity of a Medication
Adherence Measure in an Outpatient Setting.
The Journal of Clinical Hypertension (ISSN
1524-6175). Vol. 10 No. 5. : 348354.
NCCAM. (2006). Complementary, Alternative, or
Integrative Health: Whats In a Name? The
National Center for Complementary and
Alternative Medicine.
Niven, N. (2002). Psikologi Kesehatan Pengantar untuk
Perawat dan Profesional Kesehatan Lain edisi
2. Jakarta: EGC.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Osamor, P. E., & Owumi, B. E. (2010). Complementary
and Alternative Medicine in The Management
of Hypertension in an Urban Nigerian
Community. BMC Complementary and
Alternative Medicine, 10:36.
Rantucci., M. J. (2007). Pharmacists talking to patients.
(Ed. Ke-2). Baltimore:: Lippincot Williams dan
Wilkins.
Shafiq, N., Gupta, M., Kumara, S., & Pandhi, P. (2003).
Prevalence and Pattern of Use of
Complementary and Alternative Medicine

(CAM) in Hypertensive Patients of Tertiary


Care Center in India. International Journal
Clinical Pharmacology Therapy, 41(7): 294298.
Sudoyo, A. W., Setyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.,
& Setiati, S. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Theodore, A., & Kotchen, J. M. (2006). Nutrition, Diet,
and Hypertension. In: Shils ME. Modern
Nutrition In Health and Disease tenth edition.
Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.
Wayne, B. J. (2001). The evidence house: How to build
an inclusive base for complementary medicine.
West J Med 2001;175:79-80.
World Health Organization. (2003a). Adherence to
Long-Term Therapies: Evidence for Action.
Geneva: World Health Organization. 107-114.
World Health Organization. (2003b). Traditional
Medicine. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2011). Hypertension.
Geneva: World Health Organization.
Yuliarti. 2007. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Hipertensi Pada Usia Lanjut Di
Posbindu Kota Bogor Tahun 2007.Tesis.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia.
Telah disetujui oleh
Pembimbing 1,

Dr. dr. Retty Ratnawati, M.Sc


NIP. 19550201 198503 2 001

10