Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMETAAN KEBENCANAAN (GKP 0110)


ACARA 2
IDENTIFIKASI PARAMETER PETA BAHAYA

DISUSUN OLEH:
Nama

: Lilik Andriyani

NIM

: 13/348106/GE/07576

Jadwal Praktikum

: Kamis, 09.00 11.00 WIB

Asisten

: 1. Dian Resti Mawarni


2. M. Radito Pratomo

LABORATURIUM KARTOGRAFI DIGITAL


FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

ACARA 2
IDENTIFIKASI PARAMETER PETA BAHAYA
I.

LANGKAH KERJA
Data

Kejadian Longsor Lahan (Hipotetik)

Batas Administrasi tingkat Kecamatan dan Kabupaten Kulon Pr

nggunaan lahan, curah hujan, kerapatan kekar, kemiringan lereng, kedalaman pelapukan, bentuklahan

Plotting titik longsor


Plotting titik tidak longsor

Atribut longsor

Atribut tidak longsor

Overlay
Skoring
Analisis Regresi dan Korelasi
Tabel Regresi dan Korelasi

Peta titik sampel lokasi longsor di sebagian Kabupaten Kulon Progo


Input

II.

Proses

Output

HASIL PRAKTIKUM
1. Tabel 2.1 Hasil Analisis Regresi Enam Parameter Longsor dan Titik Sampel
(terlampir)
2. Tabel 2.2 Hasil Analisis Korelasi Enam Parameter Longsor dan Titik Sampel
(terlampir)
3. Peta titik sampel lokasi longsor di sebagian Kabupaten Kulon Progo (terlampir)

III.

PEMBAHASAN
Kondisi fisik suatu wilayah akan mempengaruhi karakteristik lahan yang ada.
Indonesia sebagai wilayah yang mempunyai topografi beragam mempunyai potensi
kebencanaan yang berbeda-beda pula (Widjonarko dan Wijaya, 2014). Bencana alam
yang terjadi hampir di setiap di wilayah Indonesia adalah bencana banjir dan tanah
longsor. Tanah longsor adalah suatu peristiwa geologi dimana terjadi pergerakan
permukaan tanah (Crozier, 1999 dalam Widjonarko dan Wijaya, 2014) seperti jatuhnya
bebatuan atau gumpalan besar tanah. Peristiwa tanah longsor atau dikenal sebagai
gerakan masa tanah, bebatuan, atau kombinasinya, sering terjadi pada lereng-lereng
alam maupun buatan, dan sebenarnya merupakan suatu fenomena alam.
Perhitungan terhadap kerawanan bencana longsor di suatu wilayah dapat
menggunakan data yang bersifat kuantitatif. Data-data tersebut berisi informasi
karakteristik fisik wilayah yang akan diperkirakan dapat mengalami kejadian longsor.
Salah satu lokasi kajian bencana longsor adalah Kabupaten Kulon Progo. Sebagian
Kecamatan Samigaluh, Kecamatan Kokap, dan Kecamatan Girimulyo merupakan
daerah yang rawan longsor. Parameter yang digunakan untuk mengetahui penyebab
terjadinya longsor di kecamatan tersebut yaitu curah hujan, kemiringan lereng,
permeabilitas, penggunaan lahan, kerapatan kekar, dan kedalaman pelapukan. Analisis
yang digunakan untuk identifikasi hubungan parameter tersebut dengan kejadian
longsor yaitu korelasi dan regresi.
Analisis regresi digunakan untuk mencari hubungan enam parameter terhadap
peristiwa longsor. Analisis dilakukan terhadap 20 titik sampel longsor dan 20 titik
sampel tidak longsor. Tabel ANOVA memperlihatkan nilai F hitung sebesar 8,246. Nilai
F hitung tersebut jauh lebih besar dibanding nilai F tabel (0,05), sehingga dapat
dikatakan enam parameter yang diuji berpengaruh signifikan terhadap longsor. Nilai
Significance F atau yang lebih dikenal dengan p-value menunjukkan nilai 0,000017.
Nilai Significance F yang lebih kecil daripada nilai taraf nyata (0,05) menunjukkan
bahwa keenam parameter secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
longsor.
Tabel koefisien regresi yang ada setelah tabel ANOVA menunjukkan rincian dari
enam parameter. Nilai t-hitung ditunjukkan oleh kolom t-Stat dan apabila nilai t-Stat ini
lebih besar dibanding t tabel (0,05) maka parameter tersebut berpengaruh secara
signifikan. Hasil menunjukkan bahwa parameter curah hujan (4,51), kemiringan (0,11),
dan kerapatan kekar (0,63) berpengaruh secara signifikan terhadap peristiwa longsor.
Parameter pelapukan (-0,32) dan penggunaan lahan (-1,88) kurang berpengaruh
terhadap peristiwa longsor. Parameter permeabilitas mengalami error dan tidak dapat
menggambarkan pengaruhnya terhadap peristiwa longsor karena titik sampel longsor
yang dipilih memiliki skor permeabilitas yang sama, yaitu permeabilitas rendah.
Curah hujan dapat menjadi faktor penyebab longsor. Saat musim hujan, air
hujan akan masuk ke bagian retakan tanah yang timbul muncul karena penguapan air
dalam jumlah besar saat musim kemarau. Air yang masuk menyebabkan tanah cepat
merekah dan bila tanah menjadi jenuh karena air tersebut akan menimbulkan longsor
dengan gerakan lateral. Kemiringan lereng yang tinggi akan semakin memperbesar
gaya dorong dan mempercepat terjadinya longsor. Titik sampel longsor yang terpilih
umumnya memiliki kemiringan yang lebih besar dari 25% sehingga mudah longsor.
Analisis korelasi dilakukan untuk melihat hubungan antar parameter longsor.
Parameter yang memiliki hubungan berbanding lurus yaitu curah hujan dengan
pelapukan, kemiringan, kerapatan kekar, dan penggunaan lahan. Keempat parameter
tersebut memiliki nilai positif dan berbanding lurus, artinya bila nilai curah hujan
tinggi, maka nilai keenam parameter tersebut juga meningkat. Kekuatan korelasi dari

curah hujan dengan empat parameter tersebut lemah, karena hanya berkisar 0,2 hingga
0,47. Parameter pelapukan berbanding lurus dengan kemiringan dan kerapatan kekar,
namun berbanding terbalik dengan penggunaan lahan. Hubungan pelapukan dengan
kemiringan lemah (0,46), namun hubungan pelapukan dengan kerapatan kekar sangat
kuat (0,96). Parameter penggunaan lahan (-0,10) memiliki hubungan yang tidak
berbanding lurus dengan pelapukan, artinya ketika tingkat pelapukan tinggi, seharusnya
digunakan untuk hutan dengan kerapatan vegetasi yang tinggi untuk mencegah longsor,
namun pada titik sampel longsor justru digunakan untuk perkebunan, tegalan, sawah,
bahkan perumahan. Ketidaksesuaian tersebut menyebabkan perkebunan, tegalan,
sawah, bahkan perumahan menjadi rentan terhadap longsor.
Parameter kemiringan memiliki hubungan yang lemah dan berbanding lurus
dengan kerapatan kekar (0,40), sedangkan hubungannya dengan penggunaan lahan (0,11) tidak berbanding lurus dan lemah. Parameter kerapatan kekar dengan penggunaan
lahan (-0,05) memiliki hubungan berbanding terbalik dan hampir tidak memiliki
korelasi. Hubungan parameter permeabilitas dengan parameter lainnya tidak dapat
didefinisikan karena seluruh titik sampel longsor memiliki skor permeabilitas yang
sama yaitu permeabilitas rendah.
Hasil analisis korelasi dapat menunjukkan bahwa parameter curah hujan
memiliki banyak pengaruh terhadap parameter yang lainnya. Curah hujan yang tinggi
akan sangat berpengaruh terhadap beberapa parameter penyebab longsor dan dapat
menyebabkan bencana longsor, terutama pada 20 titik sampel longsor. Pepohonan atau
vegetasi di permukaan tanah dapat mencegah longsoran karena air hujan akan diserap
oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga sangat berfungsi sebagai pengikat tanah. Hal
tersebut menandakan bahwa pada daerah rawan longsor, khususnya di sebagian
Kecamatan Samigaluh, Kecamatan Kokap, dan Kecamatan Girimulyo sangat
membutuhkan reboisasi/penghijauan lahan.
IV.

KESIMPULAN
1. Hasil analisis regresi menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan dari
parameter curah hujan, pelapukan, kemiringan, kerapatan kekar, permeabilitas, dan
penggunaan lahan terhadap 20 titik sampel longsor.
2. Hasil analisis korelasi menunjukkan parameter curah hujan memiliki hubungan
yang paling banyak dengan parameter lainnya dan rata-rata hubungannya
berbanding lurus.

DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.

Widjonarko dan H.B. Wijaya. 2014. Pemetaan Potensi Bencana Longsor di Kelurahan
Kembang Arum. Jurnal Geoplaning, 1(2), hal. 93101.

TUGAS

1. Arti dari istilah risiko, kerentanan, bahaya, dan kerawanan yaitu:


a. Risiko adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu
wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa
terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta,
dan gangguan kegiatan masyarakat. , akibat kombinasi dari bahaya, kerentanan,
dan kapasitas dari daerah yang bersangkutan.
b. Kerentanan adalah rangkaian kondisi yang menentukan apakah bahaya (baik
bahaya alam maupun bahaya buatan) yang terjadi akan dapat menimbulkan
bencana (disaster) atau tidak.
c. Bahaya adalah suatu kejadian yang mempunyai potensi untuk menyebabkan
terjadinya kecelakaan, cedera, hilangnya nyawa atau kehilangan harta benda.
d. Kerawanan adalah kondisi atau karakteristik geologis, hidrolohis, biologis,
klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada
suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan
mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan
menanggapi dampak buruh bahaya tertentu (UU No. 24 Tahun 2007 Tentang
Penanggulangan Bencana)
2. Data penginderaan jauh yang diperoleh dari satelit adalah teknik yang baik dalam
pemetaan daerah bencana yang menggambarkan distribusi spasial pada suatu periode
tertentu. Banyak satelit dengan perbedaan sistem sekarang ini, dengan karakteristik
resolusi spasial, temporal, dan spektral tertentu. Pengaruh konsep ketiga resolusi
tersebut dalam pemetaan kebencanaan adalah terhadap kualitas informasi spasial yang
dihasilkan.
a. Resolusi spasial
Citra dengan resolusi spasial tinggi sangat cocok untuk kajian bencana di
wilayah yang relatif sempit dan untuk menunjukkan wilayah dengan detail,
sebaliknya resolusi spasial yang rendah cocok untuk kajian bencana yang luas.
Misalnya untuk bencana longsor sangat cocok menggunakan citra dengan
resolusi spasial yang tinggi agar wilayah longsor terlihat jelas.
b. Resolusi temporal
Resolusi temporal sangat cocok untuk pembuatan peta series/multitemporal.
Citra dengan resolusi temporal yang tinggi dapat digunakan untuk merekam
bencana dengan waktu perekaman berbeda-beda, misalnya untuk bencana
gunungapi/gunung meletus.
c. Resolusi spektral
Resolusi spektral digunakan untuk memperjelas informasi karakteristik
bencana. Citra dengan resolusi spektral yang tinggi dapat digunakan untuk
melihat karakteristik seperti kandunga racun dari meletusnya gunungapi, dan
sebagainya.
Penggunaan citra untuk pemetaan kebencanaan harus disesuaikan dengan tujuan
pembuatan peta serta jenis peta yang akan dihasilkan nantinya, sehingga dapat
mempertimbangkan resolusi spasia, spektral, dan temporal yang dibutuhkan pembuat
peta.