Anda di halaman 1dari 34

BATAS KAWASAN HUTAN,

PERKEBUNAN DAN PERTANIAN


Wachid Nuraziz Musthafa
15112043
Prodi Magister Teknik Geodesi dan Geomatika

Outline
1.

Batas Kawasan Hutan


a.
b.
c.

Definisi
Jenis
Alur Penetapan

Batas Kawasan Perkebunan


3. Batas Kawasan Pertanian
2.

BATAS KAWASAN HUTAN

DEFINISI
Berdasarkan UU RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan:
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan
lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi
pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang
satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Kawasan Hutan adalah wilayah tertentu yang ditetapkan
oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya
sebagai hutan tetap

BATAS KAWASAN HUTAN


Berdasarkan Permenhut No.P.44/Menhut-II/2012
tentang Pengukuhan Kawasan Hutan :
Batas Luar Kawasan Hutan :
Batas antara kawasan hutan dengan bukan
kawasan hutan.
Batas Fungsi Kawasan Hutan :
Batas yang memisahkan antar fungsi kawasan
hutan

JENIS BATAS KAWASAN HUTAN


Batas Alam :
Batas luar atau batas fungsi kawasan hutan yang
batasnya bersekutu dengan tanda-tanda alam
seperti tepi sungai, tepi danau, tepi laut atau tepi
jalan raya yang jelas terdapat di peta dan di
lapangan.
Batas Buatan :
Batas luar atau batas fungsi kawasan hutan yang
bukan batas alam.

PENGUKUHAN KAWASAN HUTAN


Berdasarkan Permenhut No.P.44/Menhut-II/2012
tentang Pengukuhan Kawasan Hutan :
Penunjukan kawasan hutan
Penataan batas kawasan hutan
Penetapan kawasan hutan

TAHAPAN PENGUKUHAN KAWASAN HUTAN


1.
2.
3.

4.

Penunjukan dengan Keputusan Menteri;


Pelaksanaan tata batas;
Pembuatan Berita Acara Tata Batas Kawasan
Hutan yang ditandatangani oleh Panitia Tata
Batas atau pejabat yang berwenang; dan
Penetapan dengan Keputusan Menteri.

PENUNJUKAN KAWASAN HUTAN


Penunjukan suatu kawasan/wilayah/areal tertentu baik secara
parsial atau dalam wilayah provinsi dengan Keputusan Menteri
Kehutanan sebagai kawasan hutan dengan fungsi pokok
tertentu, luas perkiraan, dan titik-titik koordinat batas yang
dituangkan dalam bentuk peta kawasan hutan skala tertentu
atau minimal skala 1 : 250.000 sebagai dasar penataan batas
untuk ditetapkan sebagai kawasan hutan.

Peta penunjukan kawasan hutan dan peta kawasan


hutan dilakukan penyempurnaan dengan menambah
informasi yang berasal dari:
1.
citra penginderaan jauh resolusi tinggi skala 1:50.000
atau skala lebih besar yang telah mengindikasikan
adanya hak-hak pihak ketiga dan detail bentang alam
lainnya;
2.
pelaksanaan tata batas; atau
3.
orientasi lapangan.

PENATAAN BATAS KAWASAN HUTAN


Kegiatan yang meliputi pembuatan peta trayek batas,
pemancangan batas sementara, pengumuman hasil
pemancangan batas sementara, inventarisasi, identifikasi
dan penyelesaian hak-hak pihak ketiga, pembuatan dan
penandatanganan berita acara tata batas sementara dan
peta lampiran tata batas, pemasangan tanda batas dan
pengukuran batas, pemetaan hasil penataan batas,
pembuatan dan penandatanganan berita acara tata batas
dan peta tata batas.

1.

2.

3.

4.

Wilayah tertentu secara parsial yang ditunjuk sebagai


kawasan hutan dan perubahannya dilakukan penataan
batas.
Penyelenggaraan penataan batas dilakukan oleh
Panitia Tata Batas.
Penataan batas dilakukan terhadap:
a. batas luar kawasan hutan;
b. batas fungsi kawasan hutan; dan
c. batas kawasan konservasi perairan. => Undangundang
Pelaksanaan tata batas (LKH & FKH) dilaksanakan oleh
Balai Pemantapan Kawasan Hutan.

5.

6.

Pemasangan tanda batas dan pengukuran batas kawasan


hutan dilakukan oleh:
a. Balai Pemantapan Kawasan Hutan secara swakelola; atau
b. Rekanan pelaksana yang mempunyai kompetensi di bidang
pengukuran tanah dan pemetaan.
Kegiatan dalam pelaksanaan tata batas yang dilaksanakan
oleh rekanan pelaksana terdiri dari:
a. pengukuran batas;
b. pembuatan rintis batas;
c. pembuatan lorong/parit batas;
d. pembuatan tanda batas; dan
e. pemasangan tanda batas.

NO
.

KEGIATAN TATA BATAS LKH


(Ps. 15)

NO.

KEGIATAN TATA BATAS FKH (Ps.


30)

Pembuatan peta trayek


batas

Pembuatan peta trayek batas

Pemancangan batas
sementara

Pengukuran batas dan


pemancangan tanda batas

Pengumuman hasil
pemancangan batas
sementara

Inventarisasi, identifikasi
dan penyelesaian hak-hak
pihak ketiga

Berita acara pembahasan


dan persetujuan hasil
pemancangan batas
sementara

Pengukuran batas dan


pemasangan tanda batas

Pemetaan hasil penataan


batas

Pembuatan dan
penandatanganan BATB dan

Pemetaan hasil penataan batas


3

Pembuatan dan
penandatanganan BATB dan
peta tata batas
Pelaporan kepada Menteri

Peta
Penunjuka
n Kawasan
Hutan

Peta
Dasar &
Citra
Resolus
i Tinggi

Peta
Proyeksi
Batas
Data/Peta :
- Batas-batas
kawasan hutan
yang telah
dikukuhkan/ditata
batas
- Peta hasil tata
batas perizinan di
bidang kehutanan
- Hak-hak atas
tanah yang sah
- Pemukiman dalam
desa definitif
- Areal yang masih
berhutan yang
memungkin sbg
KH

BA Pengukuran
& Pemancangan
Batas
Sementara (BS)

BA Pembahasan
Dan Persetujuan
Hasil
Pemancangan BS

Rapat Panitia
Tata Batas
(PTB)

Peta Kerja Tata


Batas

Inv. & Identifikasi


Hak-hak Pihak
Ketiga
Pengumuman
Hasil
Pemancangan
BS

Pedoman/
Instruksi Kerja

Pemancangan
Batas
Sementara (BS)
Peta Trayek
Batas

Pemasangan
Tanda Batas &
Pengukuran
Batas
Uji Petik dan
Rapat oleh PTB

Rapat PTB
Peta Rencana
Trayek Batas

BATB & Peta


Tata Batas

diutamakan
pada trayek
batas kawasan
hutan yang
rawan
perambahan
dan areal yang
berbatasan
langsung
dengan Hak-hak
Pihak Ketiga

PENETAPAN KAWASAN HUTAN


1.Kawasan hutan yang telah ditata batas temu gelang

ditetapkan dengan Keputusan Menteri.


2.Dalam hal penataan batas kawasan hutan temu gelang
masih terdapat hak-hak pihak ketiga yang belum
diselesaikan, maka kawasan hutan tersebut ditetapkan
oleh Menteri dengan memuat penjelasan hak-hak yang
ada di dalamnya untuk diselesaikan oleh Panitia Tata
Batas yang bersangkutan.
3.Penetapan kawasan hutan dilakukan terhadap hasil tata
batas luar dan/atau batas fungsi.
4.Perubahan penetapan kawasan hutan ditetapkan dengan
Keputusan Menteri.

Dapat digunakan dengan kombinasi batas berupa:


1. Batas alam
2. Batas pelepasan kawasan hutan
3. Batas izin pemanfaatan hutan
4. Batas izin penggunaan kawasan hutan
5. Batas kawasan hutan dengan tujuan khusus
6. Batas adminitrasi pemerintahan

BATAS KAWASAN
PERKEBUNAN

DEFINISI
Berdasarkan UU RI Nomor 39 Tahun 2014 tentang
Perkebunan:
Perkebunan adalah segala kegiatan pengelolaan sumber
daya alam, sumber daya manusia, sarana produksi, alat dan
mesin, budi daya, panen, pengolahan, dan pemasaran
terkait Tanaman Perkebunan.

Berdasarkan Permentan No. 98/ Permentan/ OT.140/ 9/


2013 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan:
Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan
tanaman tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh
lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan
memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut,
dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
permodalan serta manajemen untuk mewujudkan
kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan
masyarakat.

JENIS USAHA PERKEBUNAN


1.
2.

3.

Usaha Budidaya Tanaman Perkebunan;


Usaha Industri Pengolahan Hasil Perkebunan;
dan
Usaha Perkebunan yang terintegrasi antara
budidaya dengan industri pengolahan hasil
perkebunan

PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN


1. Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B) adalah

izin tertulis dari pejabat yang berwenang dan wajib


dimiliki oleh perusahaan perkebunan yang melakukan
usaha budidaya perkebunan;
2. Izin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P)
adalah izin tertulis dari pejabat yang berwenang dan
wajib dimiliki oleh perusahaan perkebunan yang
melakukan usaha industri pengolahan hasil perkebunan
3. Izin Usaha Perkebunan (IUP) adalah izin tertulis dari
pejabat yag berwenang dan wajib dimiliki oleh
perusahaan perkebunan yang melakukan usaha
budidaya perkebunan dan terintegrasi dengan usaha
industri pengolahan hasil perkebunan.

IZIN USAHA PERKEBUNAN UNTUK


BUDIDAYA (IUP-B)
Batasan luasan tanah tertentu yang diwajibkan untuk

mendapatkan IUP-B adalah yang dengan luas lebih dari


25 hektar. (Ps. 8)
Sedangkan untuk yang luasnya kurang dari luas tersebut

akan dilakukan pendaftaran oleh bupati/walikota. (Ps. 5)


Usaha budidaya tanaman kelapa sawit dengan luas

1.000 hektar atau lebih, teh dengan luas 240 hektar atau
lebih dan tebu dengan luas 2.000 hektar atau lebih wajib
terintegrasi dalam hubungan dengan usaha industri
pengolahan hasil perkebunan, sehingga diwajibkan
memiliki IUP. (Ps. 10)

Batas

paling luas pemberian IUP-B untuk 1 (satu)


perusahaan atau kelompok perusahaan perkebunan adalah:
Tanaman

Batas Paling Luas (ha)

Kelapa

40.000

Karet

20.000

Kopi

10.000

Kakao

10.000

Jambu mete

10.000

Lada

1.000

Cengkeh

1.000

Kapas

20.000

IZIN USAHA PERKEBUNAN UNTUK


PENGOLAHAN (IUP-P)
Kapasitas paling rendah industri pengolahan yang
diwajibkan untuk mendapatkan IUP-P adalah
Komoditas
Kelapa Sawit

Kapasitas
5 ton TBS per jam

Produk
CPO, inti sawit, tandan
kosong, cangkang, serat,
sludge

1 ton pucuk segar per hari Teh hijau


Teh

10 ton pucuksegar per


hari

Teh hitam

Tebu

1.000 ton tebu per hari

Gula Kristal putih

Untuk industri pengolahan yang kurang dari kapasitas

tersebut hanya perlu


bupati/walikota.

dilakukan

pendaftaran

oleh

Industri pengolahan untuk mendapatkan IUP-P harus

memenuhi penyediaan bahan baku paling rendah 20%


berasal dari kebun sendiri dan kekurangannya wajib
dipenuhi dari kebun masyarakat/perusahaan perkebunan
lain melalui kemitraan pengolahan berkelanjutan. (Ps. 11)

IZIN USAHA PERKEBUNAN (IUP)


Batas paling luas pemberian IUP untuk 1 (satu) perusahaan atau
kelompok perusahaan perkebunan adalah:

PERUBAHAN LUAS LAHAN (Ps. 32)


Bagi Perusahaan Perkebunan yang memiliki IUP-B atau
IUP dan akan melakukan perubahan luas lahan melalui
perluasan atau pengurangan, harus mendapat persetujuan
dari gubernur atau bupati/walikota sesuai kewenangan,
dengan dua cara yaitu:
1.Mengajukan

permohonan secara tertulis dilengkapi


persyaratan yang sama seperti saat mengajukan izin yang
disebutkan diatas;

2.Hasil Penilaian Usaha Perkebunan berdasarkan Peraturan

Menteri Pertanian tentang Penilaian Usaha Perkebunan,


laporan kemajuan fisik dan keuangan Perusahaan
Perkebunan

BATAS KAWASAN
PERTANIAN

DEFINISI
Berdasarkan UU RI Nomor 19 Tahun 2013 tentang
Perlindungan dan Pemberdayaan Petani :
Pertanian adalah kegiatan mengelola sumber daya alam
hayati dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja, dan
manajemen untuk menghasilkan Komoditas Pertanian
yang
mencakup
tanaman
pangan,
hortikultura,
perkebunan,
dan/atau
peternakan
dalam
suatu
agroekosistem.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 56 PRP Tahun 1960


tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian :
Batas minimum : batas minimum kepemilikan tanah baik tanah
pertanian maupun tanah non pertanian oleh seorang maupun
orang-orang yang dalam penghidupannya merupakan satu
keluarga bersama-sama baik miliknya sendiri atau kepunyaan
orang lain maupun bersama kepunyaan orang lain.
Batas minimum kepemilikan tanah seluas 2 Ha (dua
hektar) => Ps. 8

BATAS KEPEMILIKAN TANAH PERTANIAN


Berdasarkan Undang-undang Nomor 56 PRP Tahun
1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian :
Batas Maksimum : batas maksimum kepemilikan tanah
baik tanah pertanian maupun tanah non pertanian oleh
seseorang
maupun
orang-orang
yang
dalam
penghidupannya merupakan satu keluarga bersama-sama
baik miliknya sendiri atau kepunyaan orang lain maupun
bersama-sama kepunyaan orang lain.

Batas maksimum kepemilikan tanah pertanian:

DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang RI Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Permenhut No.P.44/Menhut-II/2012 tentang Pengukuhan Kawasan

Hutan
Perdirjen Planologi Kehutanan No.P.6/VII-KUH/2011
Perdirjen Planologi Kehutanan No. P.9/VII-SET/2012 tentang
Petunjuk
Pelaksanaan
Penataan
Batas
Kawasan
Hutan
Menggunakan GPS
Undang-undang RI Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan
Permentan No. 98/ Permentan/ OT.140/ 9/ 2013 tentang Pedoman
Perizinan Usaha Perkebunan
Undang-undang RI Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan
Pemberdayaan Petani
Undang-undang Nomor 56 PRP Tahun 1960 tentang Penetapan Luas
Tanah Pertanian
PerMenhut Nomor P.33/Menhut-II/2010 jo. Nomor P.17/MenhutII/2011 jo. Nomor P.44/Menhut-II/2011