Anda di halaman 1dari 25

TUBERKULOSIS

PENDAHULUAN
TBC adalah suatu penyakit menular yang paling sering
(80%) terjadi di paru-paru.
Penyebab : suatu basil Gram positif (+) tahan asam
dengan pertumbuhan sangat lamban, yaitu :
Mycobacterium tuberculosis (Yun.mycos = dinding
selnya bersifat sebagai lilin) (dr. Robert Koch, 1882)

PENYEBAB
Beberapa Spesies, yaitu : M. Tuberkulosis (u/ manusia);
M. Africanum dan M. Bovis (u/ sapi).

GEJALA
Batuk kronis, demam, berkeringat waktu malam,
keluhan pernapasan, perasaan letih, malaise, hilang
nafsu makan, turunnya berat badan, rasa nyeri di
bagian dada.
Dahak penderita berupa lendir mucoid, purulent
(bernanah), disertai mengandung darah.

INFEKSI PRIMER
Setelah infeksi di saluran pernapasan, di alveoli timbul
benjolan-benjolan kecil (tuberkel).
Seringkali imun tubuh yang sehat dapat memberantas
basil dengan menyelubunginya menggunakan jaringan
pengikat.
Infeksi primer ini pada umumnya menjadi abses
(terselubung) in capsulated dan berlangsung tanpa
gejala, hanya kadang disertai batuk dan napas
berbunyi.

INFEKSI PRIMER
Mereka yang sistem imunnya lemah (anak-anak,
manula, pasien AIDS) dapat timbul radang paru hebat.
Basil TB memperbanyak diri di dalam makrofag dan
benjolan-benjolan bergabung menjadi infiltrat yang
akhirnya menimbulkan rongga (caverna) di paru-paru.
Bila kemudian terjadi hubungan antara paru-paru dan
cabang bronchi maka akan terjadi TB terbuka
(tuberculosis cavernosus) dengan adanya bacil di
dahak.
Walaupun hanya bericirikan Batuk kronis, tetapi bersifat
sangat menular.

INFEKSI PRIMER
Pasien dengan kondisi ini merupakan sumber penularan
di masyarakat
Tetapi hanya terjadi pada 10% dari semua infeksi

PENYEBARAN INFEKSI
Infeksi dapat menyebar melalui darah dan limfe ke
organ lain dari tubuh, yaitu
Saluran pencernaan : TB selaput perut yang
menimbulkan ascites merupakan TB lambung kedua
yang paling umum.
Ginjal dan juga bagian sistem urogenital (penyebab
kemandulan pada wanita)
Susunan saraf pusat, penyebab radang selaput otak
pada anak-anak.
Kerangka tubuh, mengakibatkan osteomyelitis (radang
sumsum tulang).

REAKTIVASI
Kadang-kadang dalam waktu setahun atau lebih infeksi
primer, akibat proses reaktivasi penyakit lama atau
kadangkala karena re-infeksi dengan kuman tuberkel
yang menyebar melaui saluran darah
Berkembang menjadi TB-miliar (sebesar padi) yang
pada umumnya berakibat fatal.
Re-aktivasi terutama dapat timbul bila daya tahan
tubuh menurun, misalnya pada manula, pengidap HIV,
dan pasien yang menjalani terapi imunosupresiva
(dengan kortikosteroid).

Mycobacteria lain
Pengidap AIDS semakin sering dihinggapi infeksi
berbagai jenis Mycobacteria lain seperti Mycobacterium
avium intracellulare (MAI) yang terdapat di air dan
tanah.
Mikroorganisme ini umumnya bersifat resisten terhadap
obat-obat TB, sehingga menjadi masalah serius bagi
penderita AIDS.
Infeksi MAI tidak dapat menular dari manusia ke
manusia.

Mycobacteria lain
Penularan juga dapat terjadi akibat minum susu sapi
yang terinfeksi Mycobacterium bovis, tetapi jarang
sekali terjadi.
Infeksi ini dapat dihindari dengan melakukan
pasteurisasi susu.

PENYEBARAN
Penyakit TB tersebar di seluruh dunia, disamping
banyak kasus baru 8 juta pertahun dengan angka
kematian meningkat sampai 2-3 juta manusia pertahun.
Setiap 18 detik di seluruh dunia terdapat seorang yang
meninggal akibat penyakit ini.
Tb adalah penyakit infeksi tunggal yang paling
mematikan dan merupakan penyebab kematian nomor
dua, setelah penyakit jantung.

PENYEBARAN
Prevalensinya sangat tinggi di negara-negara Asia dan
Afrika, dimana 60%-80% dari anak-anak di bawah usia
14 tahun sudah terinfeksi.
Di Filipina prevalensi positif 0,40%; artinya 40 orang
diantara 10.000 orang mengidap TB.
Di negara-negara berkembang infeksi timbul pada masa
anak-anak dan sampai sekarang masih merupakan
pembunuh utama, yang diantaranya diakibatkan oleh
resistensi terhadap antiibiotik.

PENYEBARAN
Di Indonesia prevalensi positifnya adalah 0.22%
(laporan WHO 1998).
Jumlah penderita di Indonesia menduduki peringkat
ketiga terbesar setelah India dan Cina, dengan angka
kematian sebesar 140.000 jiwa pertahun.
Lebih dari 500.000 kasus baru per tahun yang
merupakan tingkat infeksi ketiga tertinggi di dunia.
Pada setiap 100.000 penduduk ada 125 penderita
tuberkulosis yang menular.

PENYEBARAN
Menurut WHO, di Indonesia setiap 4 menit satu orang
meninggal atau ekivalen dengan 400 kematian setiap
hari akibat TB yang merupakan kematian setiap hari
akibat TB yang merupakan penyebab kematian kedua
bagi orang dewasa di Indonesia.
Di negara barat TB hampir punah seluruhnya setelah
dilakukan pengobatan dan vaksinasi intensif pada tahun
1950-an.
Pada dasawarsa terakhir timbul bersamaan dengan
meningkatnya pengidap HIV serta terjadinya resistendi
obat TB, antara lain disebabkan antibiotika.

PENYEBARAN
Bentuk yang paling serius adalah TB multidrug resisten.
Jenis TB dengan mortalitas tinggi ini disebabkan kumankuman yang resisten terhadap dua obat utama
(rifampisin dan isoniazida) dan sangat sukar
pengobatannya.

PENULARAN
Penyakit TB ditularkan dari orang ke orang terutama
melalui saluran pernapasan dengan menghisap atau
menelan percikan ludah/ dahak (droplet infection) yang
mengandung basil dan dibatukkan penderita TB
terbuka.
Juga karena adanya kontak antara tetes ludah/ dahak
dan luka di kulit.
Dalam percikan ludah kuman dapat hidup beberapa jam
dalam udara panas dan lembap, dalam nanah bahkan
beberapa hari.
Untuk membatasi penyebaran, perlu dilakukan
pemeriksaan sekali pada semua anggota keluarga

PENCEGAHAN
Salah satu caranya adalah menutup mulut atau hidung
saat batuk dan bersin denga saputangan atau tissu.
Menjaga jarak bila berbicara dengan seorang penderita.
Anak-anak di bawah usia satu tahun perlu diberi
vaksinasi BCG, sebagai pencegahan. Vaksin BCG
diberikan intradermal 0.1 ml bagi anak-anak dan orang
dewasa; bayi 0.05ml.

PENGOBATAN
Mycobacterium lambat sekali pertumbuhannya dan
sangat ulet, karena dinding selnya mengandung
kompleks lipida-glikolipida serta lilin (wax), yang dulit
ditembus zat kimia.
Mycobacterium tidak mengeluarkan enzim ekstraseluler
maupun toksin.
Penyakit berkembang karena kuman mampu
memperbanyak diri di dalam sel-sel fagosit dan
terhadap enzim-enzim pencernaan.

PENGOBATAN
Sekarang sudah menggunakan tuberkulostatika pada
terapi modern.
Pasien dapat dirawat jalan dan dapat bekerja
sebagaimana biasanya.
Biasanya setelah 4-6 minggu tidak ada bahaya infeksi
lagi, walaupun seringkali dalam sputum masih terdapat
basil TB.
Ada 2 kelompok obat TB yaitu : first line anti-TB, seperti
isoniazid, pirazinamid, rifampisin, etambutol, dan
streptomisin.
Obat firstline yang baru (masih dalam penelitian

PENGOBATAN
Obat-obat first line lebih efektif dan penerimaannya
lebih baik dari obat-obat kelompok second line seperti
amikasin, kanamisin, dan kapreomisin.
Obat-obat ini baru diberikan apabila obat-obat first line
menimbulkan resistensi atau penderita tidak tahan
terhadap obat-obat ini.
Resistensi terutama akan timbul pada penggunaan dari
hanya satu jenis obat TB. Tetapi peluang timbul
resistensi lebih kecil bila digunakan lebih dari 2 jenis
obat.
Oleh karena itu, dianjurkan penggunaan multi drug
untuk mempersingkat waktu pengobatan.

Fase Intensif
Fase ini merupakan terapi dengan isoniazid yang
dikombinasi dengan rifampisin dan pirazinamida selama
2 bulan. Untuk menghindari resistensi ditambahkan
pula etambutol.

Fase pemeliharaan
Fase ini menggunakan isoniazida bersama rifampisin
selama 4 bulan lagi, sehingga seluruh masa pengobatan
mencakup 6 bulan.
Untuk mengurangi efek samping dari isoniazida
(neuropati) juga diberikan piridoksin (10-50mg sehari),
terutama bagi lansia, penderita gizi buruk, wanita hamil
dan penderita diabetes untuk menghindari timbulnya
gangguan saraf (neurological toxicity).

KESETIAAN MINUM OBAT


Faktor terpenting adalah kesetiaan terapi dari penderita
secara teratur dan terus meminum obat selama 6
bulan.
Seringkali penderita yang sudah separuh jalan sudah
merasa sembuh sehingga mengabaikan kewajiban
menyelesaikan masa pengobatan.
Kurangnya patient compliance merupakan sebab utama
gagalnya pengobatan bagi 5% jumlah penderita.
Hal ini juga mengakibatkan basil TB kebal terhadap
obat.

KESETIAAN MINUM OBAT


Untuk meningkatkan kepatuhan minum obat telah
didirikan klinik-klinik khusus.
Program ini disebut Directly Observed Theraphy Short
Course (DOTS) dan telah diterapkan di Indonesia sejak
tahun 1995.