Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Vertigo merupakan kasus yang sering ditemui. Secara tidak langsung kitapun pernah
mengami vertigo ini. Kata vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya
memutar. Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai
pusing, pening, sempoyangan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik.
Kasus vertigo di Amerika adalah 64 orang tiap 100.000, dengan presentasi wanita lebih
banyak daripada pria. Vertigo juga lebih sering terdapat pada Usia yang lebih tua yaitu
diatas 50 tahun.
Vertigo merupakan salah satu kelainan yang dirasakan akibat manifestasi dari
kejadian atau trauma lain. Misalnya adanya cidera kepala ringan. Salah satu akibat dari
kejadian atau trauma tersebut ialah seseorang akan mengalami vertigo. Kasus ini
sebaiknya harus segera ditangani, karena jika dibiarkan begitu saja akan menggangu
system lain yang ada di tubuh dan juga sangat merugikan klien karena rasa sakit atau
pusing yang begitu hebat. Terkadang klien dengan vertigo ini sulit untuk membuka mata
karena

rasa

pusing

seperti

terputar-putar.

Ini

disebabkan

karena

terjadi

ketidakseimbangan atau gangguan orientasi.


Oleh karena itu, pembelajaran mengenai vertigo beserta asuhan keperawatannya
dirasa sangat penting dan perlu. Dengan memiliki pengetahuan yang baik beserta
pemberian asuhan keperawatan yang benar, maka diharapkan agar kasus vertigo ini
dapat berkurang dan masyarakat bisa mengetahui akan kasus vertigo ini dan bisa
mengantisipati akan hal tersebut.

BAB II
1

PEMBAHASAN
2.1. SKENARIO
PUSING BERPUTAR
Seorang perempuan 30 tahun diantar keluarganya ke RS dengan keluhan pusing
sejak 2 hari yang lalu. Pusing dirasakan seperti berputar. Keluhan dirasakan muncul tibatiba saat pasien beranjak dari posisi duduk-berdiri. Pusing kemudian berkurang setelah
pasien tidur dan mata ditutup. Pusing dirasakan kembali sejak 1 hari yang lalu. Pusing
dirasakan seperti berputar secara tiba-tiba saat kepala pasien menoleh terutama ke
sebelah kanan dalam keadaan berbaring. Pusing dirasakan selama 10 menit. Pasien
mengatakan ruangan/lingkungan sekitar terasa seperti berputar. Keluhan lain disertai
mual, muntah dan tubuh dirasakan lemas. Muntah tidak menyemprot. Muntahan berupa
makanan dan minuman yang dimakan. BAB dan BAK dalam batas normal. Keluhan rasa
tebal atau kesemutan disekitar bibir disangkal.
Pasien mengaku mengalami keluhan yang sama 1 tahun yang lalu. Riwayat
trauma kepala (+) 1,5 tahun yang lalu, otitis (-), sinusitis (-), sakit gigi (-)/gigi
berlubang (-), hipertensi (-), DM (-). Keluarga pasien tidak ada yang menderita keluhan
yang sama dengan pasien. Pasien adalah pekerja yang cukup sibuk dengan jam kerja 810 jam sehari, kebiasaan merokok dan minum alcohol disangkal.
Hasil pemeriksaan vital sign dalam batas normal, pemeriksaan fisik Manuver
Hallpike (+), didapatkan nistagmus < 2 detik, Romberg test (+).
2.2. TERMINOLOGI

Manuver Hallpike
Pasien diposisikan di meja pemeriksaan yang datar, kepala diekstensikan melalui
ujung meja. Jika kacamata Frenzel tersedia, gunakan, tapi biasanya tidak digunakan.
Pasien kemudian digerakkan dengan cepat dengan posisi kepala tergantung. Jika
pasien tidak pusing atau nistagmus yang terjadi setelah 20 detik, pasien didudukkan.
Kepala kemudian diposisikan 45o ke kanan dan pasien ditidurkan dengan posisi
supinasi dengan kepala ke kanan. Setelah 20 detik, pasien duduk kembali dan
prosedur diulang ke kiri ( posisi kepala ke kiri). Serangan nistagmus dapat
diprovokasi dengan posisi kepala ke kanan dan ke kiri. Nistagmus tipe BPPV (kanal
posterior) bergerak ke atas dan mempunyai komponen berputar, gerakan bola mata
ke bawah ketika pasien duduk. Ada beberapa jenis BPPV dengan arah berbeda. Jenis
2

BPPV kanal lateral dikaitkan dengan nistagmus horizontal yang kuat yang berubah
arah kepala kiri dan kanan. Jenis kanal anterior dihubungkan dengan nistagmus ke
bawah

degan

Dix

Hallpike.

Selanjutnya

tes

nistagmus

membutuhkan kacamata frenzel video.


Nistagmus
Nistagmus menunjukkan gangguan telinga bagian dalam, otak, dan otot okuler.
Evaluasi nistagmus yang optimal memerlukan kacamata Frenzel, dimana kacamata
ini dipakai oleh pasien dan mngaburkan penglihatan pasien, namun memeperjelas
munculan nistagmus. Dari dua jenis kacamata Frenzel yang ada, optikal dan
video, kacamata frenzel

video

jauh

lebih

unggul.

Nistagmus

Spontan.

Dengan kacamata frenzel mata diamati untuk nistagmus spontan selama 10 detik.
Nistagmus tipikal yang dihasilkan oleh disfungsi telinga dalam adalah nistagmus
posisi primer, mata secara perlahan deviasi dari tengah dengan kemudian terdapat
sentakan cepat yang membawa bola mata kembali ke posisi tengah. Banyak
nistagmus dengan polapola lain (seperti sinusoidal, gaze evoked dan saccadic)
bersumber dari sentral. Bila kacamata frenzel tidak tersedia, tanda- tanda serupa
tentang nistagmus spontan biasanya didapat dari pemeriksaan optalmoskop yaitu
dengan memonitor gerakan balik bola mata seperti bola mata belakang bergerak ke
depan, untuk gerakan horizontal dan vertikal. Seseorang harus mengingatkan untuk
membalikkan arah nistagmus ketika membuat catatan. Fiksasi dapat dihilangkan
dengan menutup mata sebelahnya. Nistagmus yang berasal dari telinga dalam
meningkat dengan menghilangkan fiksasi.

Romberg Test
Pasien berdiri tegak kedua kaki sejajar bersentuhan dan mata lalu dipejamkan.
Apabila gangguan vestibuler pasien tidak dapat mempertahankan posisinya, ia akan
bergoyang menjauhi garis tengah dan akan kembali ke posisi duduk dan berdiri
seketika, jika ada lesi pasien akan jatuh ke sisi lesi. Test Romberg sangat berguna.
Kemampuan normal minimal dengan mata tertutup selama sekitar 6 detik. Dewasa
muda seharusnya dapat melakukannya sekitar 30 detik, dan kemampuan menurun
seiring usia. Pasien dengan gangguan vestibuler bilateral secara moderat mengalami
ataksia menjadi sangat tergantung terhadappenglihatan dan merasa tidak seimbang
apabila mata tertutup. Tidak ada pasien dengan gangguan bilateral yang dapat berdiri
dengan mata tertutup pada test Romberg selama 6 detik.

2.3. PERMASALAHAN
2.3.1. Kenapa gejala pusing berputas pada pasien berkurang saat berbaring dan menutup
mata ?
2.3.2. Bagamana mekanisme terjadinya keluhan pada pasien ?
2.3.3. Hubungan trauma kepala dengan keluhan pusing memutar ?
2.3.4. Hubungan pekerjaan dengan keluhan ?
2.3.5. Apa diagnosis differential pada skenario diatas?
2.3.6. Apa diagnosis kerja pada skenario diatas?
2.4. PEMBAHASAN
2.4.1. Manusia, karena berjalan dengan kedua tungkainya, relatif kurang stabil dibandingkan
dengan makhluk lain yang berjalan dengan empat kaki, sehingga lebih memerlukan
informasi posisi tubuh relatif terhadap lingkungan, selain itu diper-lukan juga
informasi gerakan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan sekelilingnya.
Informasi tersebut diperoleh dari sistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis
semisirkularis sebagai reseptor, serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai
pengolah infor-masinya; selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan
dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. Sistem visual,
impuls visual yang berasal dari retina dan impuls proprioseptif yang berasal dari otot
bola mata berguna dalam menetapkan jarak suatu objek dari tubuh. Impuls ini jadi
koordinasikan dengan impuls dari sistem vestibuler. Pada psien di scenario penyebab
berkurangnya gejala dengan tidur dan menutup mata karena berkurangnya reseptor
keseimbangan pada mata sehingga dapat berkurang pula gejala pusing berputar
tersebut.
2.4.2. Rasa berputar dan mual muntah pada pasien bisa dikatan vertigo dimana vertigo terjadi
adalah abnormalitas dari organ-organ vestibuler, visual, ataupun sistem propioseptif.
Labirin (organ untuk ekuilibrium) terdiri atas 3 kanalis semisirkularis, yang
berhubungan dengan rangsangan akselerasi angular, serta utrikulus dan sakulus, yang
berkaitan dengan rangsangan gravitasi dan akselerasi vertikal. Rangsangan berjalan
melalui nervus vestibularis menuju nukleus vestibularis di batang otak, lalu menuju
fasikulus medialis (bagian kranial muskulus okulomotorius), kemudian meninggalkan
traktus vestibulospinalis (rangsangan eksitasi terhadap otot-otot ekstensor kepala,
ekstremitas, dan punggung untuk mempertahankan posisi tegak tubuh). Selanjutnya,
serebelum menerima impuls aferen dan berfungsi sebagai pusat untuk integrasi antara
4

respons okulovestibuler dan postur tubuh. Apabila terjadi gangguan pada salah satu
atau ketiga organ keseimbangan ini maka akan memunculkan gejala seperti pada
scenario. Dibawah ini merupakan proses terjadinya keseimbangan.
Gambar 1.1 proses keseimbangantyh

2.4.3. Vertigo adalah gejala yang umum pada individu yang mengalami trauma tumpul
kepala, leher, danpersimpangan craniocervical. Cedera yang dihasilkan dari
kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh,penyerangan, dan olahraga kontak dapat
menyebabkan vertigo. Variabilitas yang besar dari mekanisme trauma dan pasukan dampak
menghasilkan beberapa kemungkinan tempat anatomi cedera pada sistem vestibular. Tanda-tanda,
gejala, dan modalitas pengobatan untuk vertigo pasca trauma juga bervariasi sesuai dengan struktur
anatomi yang terluka. Namun, tidak ada korelasi antara mekanisme cedera dan gangguan
vestibular tertentu telah terbukti. Paling umum kondisi patologis The vestibular
yang berhubungan dengan trauma kepala Jinak paroxysmal positional vertigo (BPPV), yang
terjadi pada sekitar 28% dari individu dengan trauma kepala. gangguan vestibular kurang
umum lain yang dihasilkan dari trauma kepala termasuk batang otak gegar otak atau saraf kedelapan
5

cedera yang kompleks, sindrom Mnire pasca trauma atau tertunda hidrops endolymphatic ,
pecahnya jendela membran bulat atau fistula perilymphatic (PLF), dan gegar otak labirin.
Trauma kepala dapat berhuungan dengan terjadinya gejala pusing berputar pada
pasien jika pada trauma kepala terjadi gangguan pada organ-organ keseimbangan
seperti serebelum dimana pada serebelum terdapat pusat keseimangan dan koordinasi
tubuh. Pada trauma kepala juga dapat terjadi kerusakan pada daera vestibular dan
visual sehingga dapat memebrikan efek reseptor yang tergangguan karena reseptor
keseimbangan tersebut terganggu. Pada bberapa kasus trauma kepala dapat
menyebabkan keadaan patologik yang merupakan vertigo tipe perifer.
2.4.4. Pekerjaan pasien yang menghabiskan wktu kerja 7-8 jam per hari dapat memicu
terjadinya stress. Stres yang menyebabkan penderita exhausted (kecapaian) dapat
menyebabkan tensi turun,secara tak langsung dapat menyebabkan vertigo. Jadi ada
hubungan tak langsung antara stress dan vertigo.
2.4.5 Diagnosis Differential (DD)
1. Vertigo
Definisi
Vertigo adalah halusinasi gerakan lingkungan sekitar serasa berputar
mengelilingi pasien atau pasien serasa berputar mengelilingi lingkungan
sekitar. Vertigo tidak selalu sama dengan dizziness. Dizziness adalah sebuah
istilah non spesifik yang dapat dikategorikan ke dalan 4 subtipe tergantung
gejala yang digambarkan oleh pasien. Dizziness dapat berupa vertigo,
presinkop (perasaan lemas disebabkan oleh berkurangnya perfusi cerebral),
light-headness, disequilibrium (perasaan goyang atau tidak seimbang ketika
berdiri).
Epidemiologi
Vertigo merupakan gejala yang sering didapatkan pada individu dengan
prevalensi

sebesar

%.

Beberapa

studi

telah

mencoba

untuk

menyelidikiepidemiologi dizziness, yang meliputi vertigo dan non vestibular


dizziness. Dizziness telah ditemukan menjadi keluhan yang paling sering
diutarakan oleh pasien, yaitu sebesar 20-30% dari populasi umum. Dari
keempat jenis dizziness vertigo merupakan yang paling sering yaitu sekitar
54%. Pada sebuah studi mengemukakan vertigo lebih banyak ditemukan
pada wanita disbanding pria (2:1), sekitar 88% pasien mengalami episode
rekuren.
Etiologi dan Patofisiologi
6

Berbagai kondisis penyakit dapat memeberikan gejala vertigo. dan menetukan


adanya ketulian atau tanda CNS, dapat memnatu mempersempit diagnosis
banding .
Seperti yang disebutkan diatas vertigo dapat disebabkan oleh sentral ataupun
perifer. Penyebab vertigo perifer yang sering adalah Benign Paroxysmal
Positional Vertigo (BPPV), Mnires disease, vestibular neuritis,. Sedangkan
penyebab sentral migraine, Vertebrobasilar insufficiency, dan tumor
intrakranial
Penyebab perifer Vertigo
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan penyebab
utama vertigo. Onsetnya lebih seriang terjadi pada usia rata-rata 51 tahun.
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

disebabkan oleh

pergerakan otolit dalan kanalis semisirkularis pada telinga dalam. Hal ini
terutama

akan mempengaruhi kanalis posterior dan menyebabkan gejala

klasik tapi ini juga dapat mengenai kanalis anterior dan horizontal.Otoli
mengandung Kristal-kristal kecil kalsium karbonat yang berasal dari utrikulus
telinga dalam . Pergerakan dari otolit distimulasi oleh perubahan posisi dan
menimbulkan manifestasi klinik vertigo dan nistagmus.
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) biasanya idiopatik tapi
dapat juga diikuti trauma kepala, infeksi kronik telinga, operasi dan neuritis
vestibular sebelumny, meskipun gejala benign Paroxysmal Positional Vertigo
(BPPV) tidak terjadi bertahun-tahun setelah episode neuronitis.
Mnires disease
Mnires disease ditandai dengan vertigo yang intermiten diikuti dengan
keluhan pendengaran (Chain, 2009). Gangguan pendengaran berupa tinnitus
(nada rendah), dan tuli sensoris pada fluktuasi frekuensi yang rendah, dan
sensasi penuh pada telinga (Swartz et Longwell, 2005). Mnires disease
terjadi pada sekitar 15% pada kasus vertigo otologik.
Mnires disease merupakan akibat dari hipertensi endolimfatik. Hal ini
terjadi karena dilatasi dari membrane labirin bersamaan dengan kanalis
semisirularis telinga dalam dengan peningkatan volume endolimfe. Hal ini

dapat terjadi idiopatik atau sekunder akibat infeksi virus atau bakteri telinga
atau gangguan metabolic.
Vestibular Neuritis
Vestibular neuritis ditandai dengan vertigo, mual, ataxia, dan nistagmus. Hal
ini berhubungan dengan infeksi virus pada nervus vestibularis. Labirintis
terjadi dengan komplek gejala yang sama disertai dengan tinnitus atau
penurunan pendengaran. Keduanya terjadi pada sekitar 15% kasus vertigo
otologik.
Penyebab Sentral Vertigo
Migraine
Selby and Lance (1960) menemukan vertigo menjadi gejala yang sering
dilaporkan pada 27-33% pasien dengan migraine.. Sebelumnya telah
dikenal sebagai bagian dari aura (selain kabur, penglihatan ganda dan
disarthria) untuk basilar migraine dimana juga didapatkan keluhan sakit
kepala sebelah.

Verigo pada migraine lebih lama dibandingkan aura

lainnya, dan seringkali membaik dengan terapi yang digunakan untuk

migraine.
Vertebrobasilar insufficiency
Vertebrobasilar insufficiency biasanya terjadi dengan episode rekuren dari
suatu vertigo dengan onset aku dsn spontan pada kebanyakan pasien
terjadi beberapa detik sampai beberapa menit. Lebih sering pada usia tua
dan pada paien yang memiliki factor resiko cerebrovascular disease.
Sering juga berhungan dengan gejala visual meliputi inkoordinasi, jatuh,

dan lemah. Pemeriksaan diantara gejala biasanya normal.


Tumor Intrakranial
Tumor intracranial jarang member manifestasi klinik vertigo dikarenakan
kebanyakan adalah tumbuh secara lambat sehingga ada waktu untuk
kompensasi sentral. Gejala yang lebih sering adalah penurunan
pendengaran atau gejala neurologis . Tumor pada fossa posterior yang
melibatkan ventrikel keempat atau Chiari malformation

sering tidak

terdeteksi di CT scan dan butuh MRI untuk diagnosis. Multipel sklerosis


pada batang otak akan ditandai dengan vertigo akut dan nistagmus
walaupun biasanya didaptkan riwayat gejala neurologia yang lain dan
jarang vertigo tanpa gejala neurologia lainnya.
Manifestasi Klinis
8

Gejala klinis pasien dengan dizziness dan vertigo dapat berupa gejala
primer, sekunder ataupun gejala non spesifik. Gejala primer diakibatkan oleh
gangguan pada sensorium. Gejala primer berupa vertigo, impulsion,
oscilopsia, ataxia, gejala pendengaran. Vertigo, diartikan sebagai sensasi
berputa. Vertigo dapat horizontal, vertical atau rotasi. Vertigo horizontal
merupa tipe yang paling sering, disebabkan oleh disfungsi dari telinga dalam.
Jika bersamaan dengan nistagmus, pasien biasanya merasakan

sensasi

pergerakan dari sisi yang berlawanan dengan komponen lambat. Vertigo


vertical jarang terjadi, jika sementara biasanya disebabkan oleh BPPV.
Namun jika menetap, biasanya berasal dari sentral dan disertai dengan
nistagmus dengan gerakan ke bawah atau ke atas. Vertigo rotasi merupakan
jenis yang paling jarang ditemukan. Jika sementara biasnaya disebabakan
BPPV namun jika menetap disebabakan oleh sentral dan biasanya disertai
dengan rotator nistagmus
Impulsi diartikan sebagai sensasi berpindah, biasanya dideskrepsikan
sebagai sensais didorong atau diangkat. Sensasi impulse mengindikasi
disfungsi apparatus otolitik pada telinga dalam atau proses sentral sinyal
otolit.
Oscilopsia ilusi pergerakan dunia yang dirovokasi dengan pergerakan
kepala. Pasien dengan bilateral vestibular loss akan takut untuk membuka
kedua matanya. Sedangkan pasien dnegan unilateral vestibular loss akan
mengeluh dunia seakan berputar ketika pasien menoleh pada sisi telinga yang
mengalami gangguan.
Ataksia adalah ketidakstabilan berjalan, biasnaya universal pada pasien
dengan vertigo otologik dan sentral.
Gejala

pendengaran

biasanya

berupa

tinnitus,

pengurangan

pendengaran atau distorsi dan sensasi penuh di telinga.


Gejala sekunder meliputi mual, gejala otonom, kelelahan, sakit kepala,
dan sensiivitas visual.
Gejala nonspesifik berupa giddiness dan light headness. Istilah ini
tidak terlalu memiliki makna pada penggunaan biasanya. Jarang dignkan
pada pasien dengan disfungsi telinga namun sering digunakan pada pasien
vertigo yang berhubungan dengan problem medic.

Suatu informasi penting yang didapatkna dari anamnesis dapat


digunakan untuk membedakan perifer atau sentral meliputi:

Karekteristk dizziness
Perlu ditanyakan mengenai sensasi yang dirasakan pasien apakah
sensasi berputar, atau sensasi non spesifik seperti giddiness atau liht
headness, atau hanya suatu perasaan yang berbeda (kebingungan)

Keparahan
Keparahan dari suatu vertigo juga dapat membantu, misalnya: pada
acute vestibular neuritis, gejala awal biasanya parah namun berkurang
dalam beberapa hari kedepan. Pada Mnires disease, pada awalnya
keparahan biasanya meningkat dan kemudian berkurang setelahnya.
Sedangakan pasien mengeluh vertigo ynag menetap dan konstan

mungkin memilki penyebab psikologis.


onset dan durasi vertigo
Durasi tiap episode memiliki nilai diagnostic yang signifikan, semakin
lama durasi vertigo maka kemungkinan kea rah vertigo sentral menjadi
lebih besar. Vertigo perifer umumnya memilki onset akut dibandingkan
vertigo sentral kecuali pada cerebrovascular attack. Perbedaan onset
dan durasi maisng-masing penyebab vertigo dapat dilihat pada table 2.
Vertigo sentral biasanya berkembang bertahap (kecuali pada vertigo
sentral yang

berasal dari vascular

misalnya CVA). Lesi sentral

biasanya menyebabkan tanda neurologis tambahan selain vertigonya,


menyebabkan ketidakseimbnagan yang parah, nystagmus murni
vertical, horizontal atau torsional dan

tidak dapat dihambat oleh

fiksasi mata pada objek.


Tabel 1. Perbedaan Durasi gejala untuk berbagai Penyebab verigo
Durasi episode
Beberapa detik

Kmeungkinan Diagnosis
Peripheral cause: unilateral loss of vestibular
function; late stages of acute vestibular
neuronitis

Detik sampai menit


Benign paroxysmal positional vertigo;
Beberapa

menit

perilymphatic fistula

sampai satu jam


Beberapa jam

Posterior transient ischemic attack;

10

perilymphatic fistula
Beberapa hari

Mnires disease; perilymphatic fistula from


trauma or surgery; migraine; acoustic neuroma

Beberapa minggu
Early acute vestibular neuronitis; stroke;
migraine; multiple sclerosis
Psychogenic

Faktor Pencetus
Faktor pencetus dan dapat mempersempit diagnosis banding pada
vertigo vestibular perifer. Jika gejala terjadi hanya ketika perubahan
posisi, penyebab yang paling mungkin adalah BPPV. Infeksi virus
yang baru pada saluran pernapasan atas kemungkinan berhubungan
dnegan acute vestibular neutritis atau acute labyrhinti. Faktor yang
mencetuskan migraine dapat menyebabkan vertigo jika pasien vertigo
bersamaan dengan migraine. Vertigo dapat disebabkan oleh fistula
perilimfatik

Fistula perimfatik dapat disebabkn oleh trauma baik

langsung ataupun barotraumas, mengejan. Bersin atau gerakan yang


mengakibatkan telinga ke bawah akan memprovokasi vertigo pada
pasien dengan fistula perilimfatik. Adanya fenomena Tullios
(nistagmus dan vertigo yang disebabkan suara bising pada frekuensi
tertentu) mengarah kepada penyebab perifer.
Stess psikis yang berat dapat menyebabkan vertigo, menanyakan
tentang stress psikologis atau psikiatri terutama pada pasien yang pada
anamsesis tidak cocok dengan penyebab fisik vertigo manapun.
Tabel 3. Perbandingan Faktor Pencetus dari masing-masing
penyebab Vertigo
Faktor pencetus
Kemungkinan diagnosis
Perubahan
posisi Acute labyrinthitis; benign positional paroxysmal
kepala

vertigo; cerebellopontine
angle tumor; multiple sclerosis; perilymphatic fistula

Spontaneous
episodes
(i.e., no consistent

Acute vestibular neuronitis; cerebrovascular


disease (stroke or transient ischemic
attack); Mnires disease; migraine;
11

provoking factors)

Recent

multiple sclerosis

upper
Acute vestibular neuronitis

respiratory
viral illness
Stress
Immunosuppression

Psychiatric or psychological causes; migraine

(e.g.,
immunosuppressive

Herpes zoster oticus

medications,
advanced
age, stress)
Changes

in

pressure,

ear
head

trauma, loud noises Perilymphatic fistula


Gejala Penyerta
Gejala penyerta berupa penurunan pendnegaran, nyeri, mual, muntah
dan gejala neurologis dapat membantu membedakan

diagnosis

peneybab vertigo. Kebanyakan penyebab vertigo dengan gangguan


pendengaran

berasal

dari

perifer,

kecuali

pada

penyakit

serebrovaskular yang mengenai arteri auditorius interna atau arteri


anterior inferior cebellar. Nyeri yang menyertai vertigo dapat terjadi
bersamaan dengan infeksi akut telinga tengah, penyakit invasive
pada

tulang temporal, atau iritasi meningeal. Vertigo sering

bersamaan dengan muntah dan mual pada acute vestibular neuronitis


dan pada meniere disease yang parah dan BPPV. Pada vertigo sentral
mual dan muntah tidak terlalu parah. Gejala neurologis berupa
kelemahan, disarthria, gangguan penglihatan dan pendengaran,
parestesia, penurunan kesadaran, ataksia atau perubahan lain pada
fungsi sensori dan motoris lebih mengarahkan diagnosis ke vertigo
sentral misalnya penyakit cererovascular, neoplasma, atau multiple
sklerosis. Pasien denga migraine biasanya merasakan gejala lain
12

yang berhubungan dengan migraine misalnya sakit kepala yang


tipikal (throbbing, unilateral, kadnag disertai aura), mual, muntah,
fotofobia, dan fonofobia. 21-35 persen pasien dengan migraine
mengeluhkan vertigo
Tabel 3. Gejala penyerta untuk berbagai penyebab vertigo
Gejala
Sensasi

Kemungikanan diagnosis
di Acoustic neuroma; Mnires disease

penuh

telinga
Nyeri

telinga

atau Acoustic neuroma; acute middle ear disease (e.g.,

mastoid

otitis media, herpes zoster oticus)

Kelmahan wajah

Acoustic neuroma; herpes zoster oticus

Temuan

deficit Cerebellopontine angle tumor; cerebrovascular

neurologis fokal

disease; multiple sclerosis (especially findings not


explained by single neurologic lesion)

Sakit kepala

Acoustic neuroma; migraine

Tuli

Mnires disease; perilymphatic fistula; acoustic


neuroma; cholesteatoma; otosclerosis; transient
ischemic attack or stroke involving anterior inferior
cerebellar artery; herpes zoster oticus

Imbalans

Acute vestibular neuronitis (usually moderate);


cerebellopontine angle tumor (usually severe)

Nistagmus

Peripheral or central vertigo

Fonofobia,fotofobia

Migraine

Tinnitus

Acute labyrinthitis; acoustic neuroma; Mnires


disease
13

Riwayat keluarga
Adanya riwayat keluarga dengan migraine, kejang, menire disease,
atau tuli pada usia muda perlu ditanyakan
Riwayat pengobatan
Beberapa obat dapat menginduksi terjadinya vertigo melipti obatobatab yang ototoksik, obat anti epilepsy, antihipertensi, dan
sedative.

Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan neurologis, pemeriksaan dan
leher dan system cardiovascular.
Pemeriksaan Neurologik
Pemeriksaan neurologic meliputi :
-

pemeriksaan nervus cranialis untuk mencari tanda paralisis nervus, tuli


sensorineural, nistagmus.
Nistagmus vertical 80% sensitive untuk lesi nucleus vestibular atau
vermis cerebellar. Nistagmus horizontal yang spontan dengan atau tanpa

nistagmus rotator konsisten dengan acute vestibular neuronitis.


- Gait test
1. Rombergs sign
Pasien dengan vertigo perifer memiliki gangguan keseimbangan namun
masih dapat berjalan, sedangkan pasien dengan vertigo sentral memilki
instabilitas yang parah dan seringkali tidak dapat berjalan. walaupun
Rombergs sign konsisten dengan masalah vestibular atau propioseptif,
hal ini tidak dapat dgunakan dalam mendiagnosis vertigo. Pada sebuah
studi, hanya 19% sensitive untuk gangguan vestibular dan tidak
berhubungan dengan penyebab yang lebih serius dari dizziness (tidak
hanya erbatas pada vertigo) misalnya drug related vertigo, seizure,
arrhythmia, atau cerebrovascular event.
2. Heel-to- toe walking test
3. Unterberger's stepping test 1 (TPasien disuruh untuk berjalan spot dengan
mata tertutup jika pasien berputar ke salah satu sisi maka pasien
-

memilki lesi labirin pada sisi tersebut).


Dix-Hallpike manoeuvre
Merupakan tes yang paling membantu pada pasien dengan keluhan
vertigo. Pasien duduk tegak pada kasur, kepala menoleh 45 derajat ke
salah satu sisi. Pasien kembali dibaringkan dnegan cepat dengan kepala
14

ditolehkan ke salah satu sisi dan periksa nistagmus. Jika terjadi latensi
(yaitu waktu antara dimulainya nistagmus setelah maneuver), arah
nistagmus dalam hubungannya dengan dikebawahkannya telinga, berapa
lama nistagmus berlangsung harus dicatat. Temuan klasik dari Hallpike
test terlihat pada BPPV yaitu nistagmus setelah latensi 2-6 detik berupa
capuran

vertigo rotatori dan horizontal, serta berhubungan dengan

vertigo dan mual, nistagmus berkurang stelah 30 detik.


Jika maneuver memprovokasi nistagmus murni vertical atau torsional
tanpa periode latent dan tidak berkurang dengan ulangan maneuver maka
mengarah ke vertigo dnegan penyebab sentral misalnya tumor atau
perdarahan fossa posterior.

Gambar 1. Dix hallpike mhnuever


-

Test hiperventilasi
Tes ini dilakukan jika pemeriksaan-pemeriksaan yang lain hasilnya
normal. Pasien diinstruksikan untuk bernapas kuat dan dalam 30 kali.
Lalu diperiksa nistagmus dan tanyakan pasien apakah prosedur ersebut
menginduksi terjadinya vertigo. Jika pasien merasakan vertigo tanpa
nistagmus maka didiagnosis sebagai sindrom hiperventilasi. Jika
nistagmus terjadi setelah hiperventilais menandakan adanya tumor pada
nervus VIII.

Pemeriksaan Kepala dan Leher


15

Pemeriksaan kepala dan leher meliputi :


-

pemeriksaan membrane timpani untuk menemukan vesikel (misalnya

herpes zoster auticus (Ramsay Hunt Syndrome)) atau kolesteaatoma.


Hennebert sign (vertigo atau nistagmus yangterjadi ketika mendorong
tragus dan meatus akustikus eksternus pada siis yang bermasalah)

mengindikasikan fistula perikimfatik.


Valsava maneuver (exhalasi dengan mulut dan hidung ditutup untuk
meningkat tekanan melawan tuba eusthacius dan telinga dalam) dapat
menyebabkan vertigo pada pasien dengan fistula perilimfatik atau
dehiscence kanalis semisirkularis anterior. Namun nilai diagnostic

berdasarkan klinis ini masih terbatas


Head impulses test
Pasien duduk tegak dengan mata terfiksasi pada objek sejauh 3 m dan
diinstruksikan untuk tetap melihat objek ketika pemeriksa menolehkan
kepala pasien. Dimulai dengan pemeriksa menolehkan kepala pasien
ke salah satu sisi pelan-pelan setelah itu pemeriksa menolehkan kepala
pasien sisi lainnya horizontal 20

dengan cepat. Pada orang yang

normal tidak ada saccades mengindikasikan pandangan mereka


terfiksasi di objek. Jika ada sakade setelahnya maka mengindikasikan
bahwa terdapat lesi pada vestibular perifer pada siis itu.

16

Gambar 2. Head impulses test

Pemeriksaan Cardiovascular
Perubahan orthostatic pada tekanan darah sistolik (misalnya turun 20 mmHg
atau lebih) dan nadi (misalnya meningkat 10 denyutan per menit) pada pasien
dengan vertigo dapat menentukan masalah dehidrasi dan disfungsi otonom.

Diagnosis Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada vertigo meliputi tes audiometric, vestibular
testing, evalusi laboratories dan evalusi radiologis,
17

Tes audiologik tidak selalu diperlukan. Tes ini diperlukan jika pasien
mengeluhkan gangguan pendengaran. Namun jika diagnosis tidak jelas maka
dapat dilakukan audiometric pada semua pasien meskipun tidak mengelhkan
gangguan pendengaran.
Vestibular testing tidak dilakukan pada semau pasieen dengan keluhan
dizziness . Vestibular testing membantu jika tidak ditemukan sebab yang jelas.
Pemeriksaan laboratories meliputi pemeriksaan elekrolit, gula darah, funsi
thyroid dapat menentukan etiologi vertigo pada kurang dari 1 persen pasien.
Pemeriksaan radiologi sebaiknya dilakukan pada pasien dengan vertigo
yang memiliki tanda dan gejala neurologis, ada factor resiko untuk terjadinya
CVA, tuli unilateral yang progresif. MRI kepala mengevaluasi struktur dan
integritas batang otak, cerebellum, dan periventrikular white matter, dan
kompleks nervus VIII.
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Sekitar 20
sampai 40% pasien dapat didiagnosis segera setelah anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Diagnosis juga dapat ditentukan berdasarkan komplek
gejala yang terdapat pada pasien.
2. Status Epileptikus
Definisi
Penyakit Meniere adalah suatu penyakit yang ditandai oleh serangan
berulang, yang etiologinya belum diketahui, danmempunyai trias gejala
yang khas, yaitu berkurangnya pendengaran secara progresif, vertigo
(perasaan berputar), tuli dan tinnitus (telinga berdenging)
Epidemiologi
Sindrom Menier biasanya lebih banyak pada perempuan dibanding laki
laki.
Etiologi
Penyebab

penyakit

Meniere

tidak

diketahui

namun

terdapat

berbagaiteori,termasuk : pengaruh neurokimiA


hormonal abnormal pada aliran darah yang menuju ke labirin
gangguan elektrolit dalam cairan labiriN
reaksi alergi
gangguan autoimun
Patofisiologi
Secara patologis, penyakit Meniere disebabkan oleh pembengkakan
pada kompartemen endolimfatik, bila proses ini berlanjut dapat terjadi ruptur

18

membran Reissner sehingga endolimfe bercampur dengan perilimfe. Hal ini


meyebabkan gangguan pendengaran sementara yang kembali pulih setelah
membrana kembali menutup dan cairan endolimfe dan perilimfe kembali
normal. Hal ini yang menyebabkan terjadinya ketulian yang dapat sembuh
bila tidak terjadinya serangan
Terjadinya Low tone Hearing Loss pada gejala awal yang reversibel
disebabkan oleh distorsi yang besar pada daerah yang luas dari membrana
basiler pada saat duktus koklear membesar ke arah skala vestibuli dan skala
timpani.
Mekanisme

terjadinya

serangan

yang

tiba-tiba

dari

vertigo

kemungkinan disebabkan terjadinya penonjolan-penonjolan keluar dari


labirin membranasea pada kanal ampula. Penonjolan kanal ampula secara
mekanis akan memberikan gangguan terhadap krista.
Tinitus dan perasaan penuh di dalam telinga pada saat serangan
mungkin disebabkan tingginya tekanan endolimfatikus.

19

Manifestasi Klinis
Meniere ditandai oleh 4 (empat) gejala :

Kehilangan pendengaran sensorineoral progresif.


Kehilangan pendengaan sensorineural progresif dan fluktuatif. Tinnitus
bisa menetap atau hilang-timbul dan semakin memburuk sebelum,

setelah maupun selama serangan vertigo.


Secara periodik, penderita merasakan telinganya penuh atau merasakan
adanya tekanan di dalam telinga.
20

Tinitus atau suara berdenging.


Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang 1 telinga dan
pada 10-15% penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga
Veritigo
Gejalanya berupa serangan vertigo tak tertahankan episodik yang sering
disertai mual dan/atau muntah, yang berlangsung selama 3-24 jam dan

kemudian menghilang secara perlahan


Diagnosis
Dasar Diagnosis Penyakit Meniere
Diagnosis penyakit meniere ditegakkan berdasarkan kombinasi dari
gejala yang ada, tes pendengaran dimana terdapat gangguan pendengaran
setelah serangan yang berangsur-angsur membaik lagi, serta setelah
pengeliminasian dari penyakit lain.
Diagnosis dipermudah dengan dibakukan kriteria diagnosis yaitu :
A. Vertigo hilang timbul
B. Fluktuasi gangguan pendengaran berupa tuli saraf
C. Menyingkirkan kemungkinan penyebab dari sentral
Bila gejala khas dari penyakit meniere pada anamnesis ditemukan maka
diagnosis penyakit meniere dapat ditegakkan.
Pemeriksaan fisik hanya diperlukan untuk menguatkan diagnosis
penyakit ini. Bila dalam anamnesis terdapat riwayat fluktuasi
pendengaran, sedangkan pada pemeriksaan terdapat tuli saraf, maka kita
sudah dapat mendiagnosa penyakit meniere. Sebab tidak ada penyakit
lain yang bisa menyebabkan perbaikan dalam tuli saraf, kecuali pada
penyakit meniere. Dalam hal yang meragukan kita dapat membuktikan
adanya hydrops dengan tes gliserin. Selain itu tes gliserin ini berguna
untuk menentukan prognosis tindakan operatif pada pembuatan shunt.
Bila terdapat hydrops, maka operasi diduga akan berhasil dengan baik.
Pemeriksaan Penunjang
Tes yang mendukung untuk pemeriksaan penyakit meniere yaitu :
1.
Tes pendengaran ( tes penala )
Pada tes penala didapatkan kesan tuli sensorineural pada penyakit
2.

meniere
Tes gliserin
Pasien diberikan minum gliserin 1,2 ml/kgBB setelah diperiksa tes
kalori dan audiogram. Setelah 2 jam diperiksa kembali dan
dibandingkan. Perbedaan bermakna menunjukkan adanya hydrops

3.

endolimfe.
Audiogram

21

Hasil

audiogram

pada

penyakit

meniere

didapatkan

tuli

sensorineural, terutama nada rendah dan selanjutnya dapat


4.

ditemukan rekrutmen.
Tes kalori
Tes ini dilakukan untuk menilai fungsi keseimbangan, Setiap
telinga dites secara terpisah, Pada telinga masing masing
disemprotkan secara bergantian air dingin dan air hangat. Setelah
beberapa saat akan timbul nistagmus yang arahnya berlawanan
dengan arah semprotan.
Tes ini cukup berarti dengan kepekaan 60% (black-1980). Tes ini
berguna untuk menentukan labirin yang hipoaktif dengan

5.
6.

gambaran grafik adanya parese dari kanal.


Electronystamography
Tes ini untuk menilai fungsi keseimbangan
Pemeriksaan radiologi
Secara rutin harus dilakukan pemeriksaan tulang temporal dan
kalau bisa dengan poli tomografi. Pada pemeriksaan ini bisa
dijumpai meatus akustikus yang menyempit, tetapi kadangkadangmelebar dan dijumpai otosklerotis dari optic kapsul.

2.4.6. Diagnosis Kerja


Dari pembahasan diatas, diagnosis pada pasien ini adalah Vertigo.
Tujuan umum penatalaksanaan

vertigo

adalah

untuk

vertigo,meningkatkan kompensasi sistem vestibuler

dan

mengeliminasi

gejala

mengontrol

gejala

neurovegetatif dan psikoafektif yang menyertai vertigo.


Secara umum prinsip penatalaksaan vertigo terdiri dari:
1.

Terapi kausal
Kebanyakan kasus vertigo tidak diketahui penyebabnya. Walaupun
demikian jika penyebabnya ditemukan, maka terapi kausal merupakan
pilihan utama. Terapi kausal disesuaikan dengan penyebab yang

2.

bersangkutan
Terapi medikamentosa
Penggunaan obat-obatan pada vertigo bersifat simptomatik. Prinsip utama
pengobatan pada vertigo mengacu kepada peran neurotransmitter pada
vestibular pathway. Ada beberapa neurotransmitter utama yang berperan
dalam proses ini. Glutamate merupakan neurotransmitter eksitator primer
pada sel-sel rambut, sinap nervus vestibuler dan nucleus vestibuler.
22

Reseptor muskarinik asetilkolin merupakan selain memiliki peranan secara


perifer, tapi juga memiliki pengaruh untuk terjadinya vertigo pada tingkat
pons, medulla oblongata dan kompleks nucleus vestibuler. Gamma
aminobutyric acid(GABA) dan glisin merupakan neurotransmitter inhibitor
utama yang ditemukan pada jalur koneksi system okulomotor dengan
sistem vestibuler. Histamin secara umum ditemukan pada stuktur vestibuler
sentral. Norepinefrin berfungsi memodulasireaksi stimulasi vestibuler
secara sentral dan dopamine mempengaruhi kompensasi vestibuler,
sedangkan serotonin berkaitan dengan gejala nausea.
Vestibular supresan dan antiemetic memainkan peranan penting dalam
terapi medikamentosa vertigo.
a. Antikolinergik bekerja mempengaruhi reseptor muskarinik dan
memiliki efek kompensasi. Peranan obat antikolinergik sentral menjadi
penting karena tidak semua obat dapat menembus sawar darah otak.
Pemberian obat antihistamin lebih efektif jika diberikan lebih awal.
Contoh obat ini adalah scopolamine dan atropin. Semua obat
antikolinergik memiliki efek samping mulut kering, dilatasi pupil dan
b.

sedasi.
Antihistamin memiliki efek sentral dalam mengurangi severitas gejala
vertigo. Secara umum, antihistamin juga memiliki efek antikolinergik
dan blok kanal kalsium. Dalam hubungannya dengan vertigo, obat

c.

antihistamin bekerja pada reseptor H2.


Benzodiazepin adalah modulator GABA yang secara sentral bekerja
mensupresi respon vestibuler. obat ini memiliki efek terapi pada dosis

kecil dan masa kerja singkat.


d. Antiemetik bekerja mempercepat pengosongan lambung. Jika gejala
mual dan muntah menonjol, dapat diberikan secara supositoria atau
e.

injeksi.
Calcium channel blocker seperti flunarizin dan sinarizin adalah terapi
yang pada saat ini sering digunakan di eropa untuk vertigo akut.
Sinarizin

juga

memiliki

efek

antihistamin,

antinorefinefrin,

antinikotindan anti angiotensin. Obat ini memiliki efek samping sedasi,


f.

menigkatkan berat badan, depresi dan parkinsonism.


Agonis histamine juga memiliki efek antivertigo. Mekanismenya
diduga dengan menigkatkan volume vena dn arteriol dan sebagai
regulator mikrosirkulasi.
23

g. Steroid dianjurkan pada pengobatan vertigo yang didasari kelainan


h.

autoimun seperti penyakit meniere dan neuritis vestibular.


Asetil-leusin. Obat ini juga termasuk vestibular supresan dan cukup

i.

banyak digunakan di prancis.


Gingko biloba. Meskipun sudah banyak digunakan, namun efektifitas
obat ini belum terbukti secara klinis dan mekanisme kerjanya belum
jelas.

3.

Terapi rehalibitatif
Terapi rehalibitasi vestibular merupakan terapi fisik yang menggunakan
latihan khusus dengan tujuan untuk meningkatkan kompensasi organ
vestibular terhadap gangguan keseimbangan.
Mekanisme kerja terapi ini adalah:
a. Adaptasi terhadap sistem visual dan somatosensori terhadap fungsi
vestibular yang terganggu.
b. Kompensasi dengan mengaktifkan kendali tonus pada inti vestibular di
serebelum, system visual dan somatosensori.
c. Habituasi terhadap posisi yang merangsang munculnya vertigo secara
bertahap akan mengurangi beratnya gejala.

Medikasi
Medikasi merupakan terapi yang paling berguna untuk megobati vertigo akut
dari beberapa jam sampai beberapa hari (table 3). Nmaun terapi medic tidak
terlalu berguna pada pasien BPPv, karena episode vertigo biasanya kurang dari
1 meni. Vertigo yang berlangsung selama lebih dari beberapa hari mengarah
ke cedera vestibular yang permanen.
Berbagai obat-obatan digunakan untuk terapi vertigo dan seringkali untuk
mual dan muntah. Obat-obatan ini dapat berupa kombinasi asetilkolin
antagonist, dopamine antagonist, dan antagonis reseptor histamine. American
Gastroenterologivcal Association merekomendasikan antikolinergik dan
antihistamin untuk terapi mual yang bersamaan dengan vertigo atau motion
sickness.
Gamma-aminobutyric acid (GABA) menghambat neurotransmitter pada
system vestibular. Bezodiazpine meningkatkat aksi GABA system saraf pusat
dan efektif menyembuhkan vertigo dan kecemasan.

24

Pada pasien yang lebih tua seringkali berkaitan dnegan efek samping dari
pengobata supresi dari vestibular (misalnya sedasi, meningkatkan resiko jatuh,
retensi urin). Pasien seperti ini juga lebih mudah terjadi interaksi obat

(misalnya efek addiktif dengan CNS depressant lainnya) (labuguen, 2006).


Latihan Rehabilitasi Vestibular
Latihan rehabilitasi vestibular seringkali dimasukkan ke dalam terapi vertigo.
Latihan ini melatih otak untuk menggunakan visual dan propioseptif
alternative untuk menjaga keseimbangan dan jalan. Hal ini penting pada
pasien yang sering mengalami vertigo berulang oleh sebab itu, otak dapat
beradaptasi ke fungsi dasar vestibular yang baru.
Terapi Spesifik

BPPV
Pada kondisi ini tidak direkomendasikan terapi bat-obatan. Vertigo dapat
membaik dengan maneuver rotasi kepala hal ini akan mmemindahkan deposit
kalsium yang bebas ke belakang vestibule,. Manuver ini meliputi reposisi
kanalit berupa maneuver epley, modifikasi maneuver epley. Pasien perlu tetap
tegak selama 24 jam setelah reposisi kanalit utnuk mencegah deposit kalsium

kembali ke kanalis semisirkularis,


Vestibular neuronitis dan Labirynthis
Terapi focus pada gejala menggunakan terapi obat-obatan yang mensipresi
vestibular yang diikuti dengan latihan vestibular. Kompensasi vestibular terjasi
lebih cepat dan lebih sempurna jika pasien mulai 2 kali sehari latihan

vestibular sesegera mungkin setelah vertigo berkurang dengan obat-obatan.


Meniere disease
Terapi dengan menurunkan tekanan endolimfatik. Walaupun diet rendah
garam dan diuretic seringkali mengurangi vertigo, hal ini kurang efektif dalam
mengobati ketulian dan tinnitus.
Pada kasus yang jarang intervensi bedah seperti dekompresi dengan shunt
endolimfatik atau cochleosacculoctomy dibutuhkan jika penyakit ini resisten

terhadap pengobatan diuretic dan diet.


Iskemik Vascular
Terap TIA dan stroke meliputi mencegah terjadinya ulangan kejadian melalui
control tekanan darah, menurunkan level kolesterol, mengurangi merokok,
menginhibisi fungsi platelet (misalnya aspirin, clopidogrel) dan terkadang
antikoagulasi (warfarin).

25

Vertigo akut yang disebabkan oleh stroke pada batang otak atau cerebellum
diobati dengan obat-oabat yang mensupresi vestibular dan meminimalisrir
pergerakan kepala pada hari pertama. Sesegera mungkin jika keluhan dapat
ditoleransi obat-oabatan harus di tapper off dan latihan rehabilitasi vestibular
harus segera dimulai.
Penempatan stent vertebrobasilar diperlukan pada pasien dengan stenosis
arteri vertebralis dan refrakter terhadap penaganan medis.
Perdarahan pada cerebellum dan batang otak member risiko kompresi
sehingga diperlukan dekompresi mellau neurosurgery.

BAB III
KESIMPULAN

3.1. KESIMPULAN

Vertigo adalah halusinasi gerakan lingkungan sekitar serasa berputar


mengelilingi pasien atau pasien serasa berputar mengelilingi lingkungan sekitar. Vertigo
tidak selalu sama dengan dizziness. Dizziness adalah sebuah istilah non spesifik yang
dapat dikategorikan ke dalan 4 subtipe tergantung gejala yang digambarkan oleh pasien.
Dizziness dapat berupa vertigo, presinkop (perasaan lemas disebabkan oleh
berkurangnya perfusi cerebral), light-headness, disequilibrium (perasaan goyang atau
tidak seimbang ketika berdiri)
Penyebab vertigo bermacam-macam. Vertigo bisa disebabkan karena adanya
gangguan pada sistem vestibular perifer (ganguan pada telinga bagian dalam). Pusing
juga bisa muncul sebagai akibat dari gangguan sistem vestibular sentral (misalnya
saraf vestibular, batang otak, dan otal kecil). Pada beberapa kasus, penyebab vertigo
tidak diketahui.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Lumbantobing, S.M. 2008. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Edisi 11.
Jakarta. Penerbit FKUI.
2. Mansjoer, A. 2009. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta: Media
Aeskulapius.

3. Perdossi. 2011. Buku Ajar Neurologi Klinis. Editor Harsono. Edisi 8. Jogjakarta. Gajah
Mada University Press.
4. Price, Sylvia, 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6.
Volume2. Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
5. Sjamsuhidajat, R dan de Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:
EGC.
6. Sudoyo, Aru W. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, E/5. Jakarta:Interna
Publishing.

27

28