Anda di halaman 1dari 18

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


BAB I
PENDAHULUAN
A. BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH)
1. DEFINISI
Benign Prostate Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran jinak dari kelenjar prostat.
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior bulibuli dan membungkus uretra posterior. Bila mengalami pembesaran, organ ini membuntu
uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urin keluar dari buli-buli.
Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa 20 gram.
2. PENYEBAB
Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, kemungkinan karena faktor umur dan
hormone androgen. Ada beberapa teori yang mengemukakan tentang BPH, diantaranya :
1. Teori Dehidrotestosteron
2. Teori Hormon, ketidakseimbangan antara estrogen -tetosteron
3. Faktor interaksi stroma dan epitel
4. Berkurangnya kematian sel prostat
3. PATOFISIOLOGI
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan
menghambat aliran urine.

Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal.

Untuk dapat menegluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan
tahanan itu. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomic buli-buli
berupa hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan divertikel bulibuli. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut, oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada
saluran kencing sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal
dengan gejala prostatismus.
Tekanan intravesikal yang tinggi keseluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada
kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik
urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko ureter. Keadaan ini jika berlangsung
terus menerus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke
dalam gagal ginjal.
1

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


4. GAMBARAN KLINIS
Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun di luar
saluran kemih.
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah.
Biasanya gejala-gejala dari pembesaran prostate jinak dikenal sebagai Lower Urinary
Tract Symptomps (LUTS) dibedakan menjadi gejala obstruktif.

Gejala iritatif : Sering miksie (frekuensi), nokturia, urgensi, disuria.

Gejala obstruktif : Pancaran melemah, rasa tidak lampias sehabis miksie, hesisteny,
straining, intermittency, waktu miksi memanjang akhirnya retensi urine
dan inkontinen karena overflow.
Tabel I.1. Skor Madsen Inversen dalam Bahasa Indonesia
Pertanyaan
Pancaran

0
Norm
al

Mengedan saat
berkemih
Harus
menunggu saat
akan kencing
BAK terputusputus
BAK tidak
lampias

Tidak

Inkontensia
Kencing sulit
untuk ditunda
Kencing malam
hari
Kencing siang
hari

1
Beru
bahubah

3
Le
ma
h

4
Menet
es

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak
tahu

Beru
bahubah

Tidak
ada
0-1

Ring
an
2

>3
jam
sekali

Tiap
2-3
jam
seka
li

Ya

1x

Ya
Seda
ng
3-4

Be
rat
>4

Seti
ap
1-2
jam
seka
li

> 1x

<1
ja
m
sek
ali

Dikutip dari Raharjo, D. Prostat, Kelainan-kelainan Jinak, Diagnosa & Penanganannya.


Jakarta : Bag. Urologi FKUI, 1999.
2

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


Gejala dan tanda pada pasien yang telah lanjut penyakitnya, misalnya gagal ginjal
dapat ditemukan uremia, kenaikan TF, RR, nadi, foetor uremik, ujung kuku yang pucat,
tanda-tanda penurunan mental serta neurografi perifer.
Pemeriksaan penis dan uretra penting untuk mencari etiologi dan menyingkirkan
diagnosis banding seperti strikur, karsinoma, stenosis meatus atau fimosis. Pemeriksaan
lain yang sangat penting adalah colok dubur.
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat penyulit prostat pada saluran kemih bagian atas berupa gejala
obstruksi antara lain nyeri pinggang,, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari
hidronefrosis) atau demam yang merupakan tanda darti infeksi atau urosepsis.
3. Gejala di luar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis
atau hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi
sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intrabdominal.
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Laboratorium
Analisa urine dan pemeriksaan mikroskopik urine penting untuk melihat adanya
sel leukosit, bakteri, infeksi. Pemeriksaan laboratorium seperti elektrolit, ureum,
creatinin, merupakan informasi dasar untuk mengetahui fungsi ginjal dan status
metabolik. Pemeriksaan PSA (Prostate Spesifik Antigen) sebagai dasar penentuan
perlunya biopsi atau deteksi dini keganasan. Nilai PSA < 4 ng/ml berarti tidak perlu
biopsi, nilai PSA 4-10 ng/ml perlu dihitung PSAD (Prostate Spesific Antigen Density).
Bila PSAD > 0.15 atau nilai PSA > 10 ng/ml biopsi prostat.
b. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan yang biasa dilakukan yaitu polos abdomen, pielografi intravena,
USG, sistoskopi.
6. PENATALAKSANAAN
3

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


a) Observasi
Observasi biasa dilakukan pada pasien dengan kelihan ringan (skor Madsen
Iversen 9). Setiap 3 bulan dilakukan kontrol keluhan (sistem skor), sisa kencing dan
pemeriksaan colok dubur.
b) Terapi Medikamentosa
1) Penghambat adregenik
Obat-obatan yang sering dipakai diantaranya prazosin, duxazosin, terazosin,
afluzosin atau yang lebih selektif tamsulosin. ( 1a). Penggunaan -1-adrenergik
secara selektif mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas
detrusor. Efek samping yang timbul adalah pusing-pusing, capek, sumbatan hidung,
rasa lemah.
2) Penghambat enzim 5- reduktase
Yang dipakai adalah finasteride (proscar), obat ini menghambat pembentukan DHT
sehingga prostat yang membesar akan mengecil.
3) Fitoterafi
c) Terapi Bedah
Indikasi absolut terapi bedah pada BPH yaitu retensio urine berulang, hematuria, tanda
penurunan fungsi ginjal, infeksi saluran kemih berulang, tanda-tanda obstruksi berat
(divertikel, hidroureter, hidrorefrosis), ada batu saluran kemih. Intervensi bedah yang dapat
dilakukan meliputi TURP Trans Urethal Resection of The Prostate), TUIP (Trans Urethal
Insicion of The Prostate), prostatektomi terbuka, prostatektomi dengan laser. Saat ini TURP masih merupakan standar emas terapi bedah pada BPH. Reseksi kelenjar prostat
dilakuakn tranuretra dengan mempergunakan cairan irigasi (pembilas) agar daerah yang
akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Cairan yang dipergunakan adalah
berupa larutan non ionic, yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat
operasi. Cairan yang dipakai dan harganya cukup murah yaitu H 2O steril (aquadest).
Indikasi dilakukan TUR-P diantaranya gejala-gejala sedang sampai berat. Volume prostat <
90 gram dan pasien cukup sehat untuk menjalani operasi. Komplikasi TUR-P jangka

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


pendek adalah perdarahan, infeksi, hipohatremia atau retensio oleh karena bekuan darah.
Komplikasi jangka panjang TUR-P adalah strikur uretra, ejakulasi retrograd, impotensi.
d) Terapi Invasif Minimal
Meliputi :
1. TUMT (Trans Urethal Microwave Thermotherapy)
2. TUBD (Dilatasi Balon Trans Urethal)
3. High Intensity Focused Ultrasound
4. TUNA (Ablasijamm Trans Urethal)
5. Stent Prostat

ANESTESI REGIONAL
Penggunaan obat analgetik lokal untuk mengangkut hantaran saraf sensorik, sehingga
impuls nyeri dari suatu bagian tubuh diblokir untuk sementara. Fungsi motorik dapat
dipengaruhi sebagaian/seluruhnya. Pasien tetap sadar, cara pemberiannya dibagi dalam
infiltrasi lokal, blok lapangan, blok saraf, analgesia permukaan, dan analgesia regional
intravena. Obat analgetikya terdiri dari golongan amide (Lignokain, bupivakain) dan golongan
eter (prokain, tetrakain). Komplikasi obat analgetik lokal bisa komplikasi lokal edema,
infeksi, nekrosis dll) dan komplikasi sistemik (depresi, penurunan tekanan darah). Menurut
tekbik cara pemeberian dibagi dalam;1) infiltrasi lokal, 2) blok lapangan, 3) Blok saraf, 4)
analgesia pernukaan, 5) analgesia regional intravena.
Analgesia spinal ialah pemberian obat anestesi lokal ke dalam ruang subaraknoid.
Anastesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikan anastetik lokal ke dalam ruang
subaraknoid. Teknik ini sederhana, cukup efektif dan mudah dikerjakan. Induksi analgesia
spinal ini adalah bedah ekstremitas bawah. Bedah panggul, tindakan sekitar rektum-perineum,
bedah obstetri-ginekologi, bedah urologi dan bedah abdomen bawah. Persiapan analgesia

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


spinal meliputi informed consent, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium anjuran (Hb,
Ht, PT (Prothrombine time), dan PTT (partial thromboplastic time).
Teknik Analgesia Spinal
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah
ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa
dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi
berlebihan dalam 30 menit pertama akan mneyebabkan menyebarnya obat.
1. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus lateral. Beri bantal
kepala, selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat pasien
membungkuk maksimal agar prosesus spinosus mudah teraba. Posisi lain ialah duduk.
2. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan tulang
punggung ialah L4 atau L5. Tentukan tempat tusukan misalnya L2-3, L3-4, atau L4-5.
tusukan pada L1-2 atau diatasnya berisiko trauma terhadap medula spinalis.
3. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol.
4. Beri Anestetik lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1,2% 2-3 ml.
5. Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar 22 G, 23 G atau 25 G
dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27 G atau 29 G, dianjurkan
menggunakan penuntun jarum (intoducer), yaitu jarum suntik biasa sepmrit 10 cc.
tusukkan introdusr sedalam kira-kira 2 cm agak sedikit kearah sefal, kemudian masukan
jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Jika menggunakan jarum tajam
(Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat durameter, yaitu pada
posisi tidur miring bevel mengarah ke atas atau ke bawah, untuk menghindari kebocoran
likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah resistensi
mengilang, mandrin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat dan
obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0.5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit, hanya untuk
meyakinkan posisi jarum tetap baik. Kalau anda yakin ujung jarum spinal pada posisi yang
benar dan likuor tidak keluar, putar arah jarum 90 biasanya likuor keluar. Untuk analgesia
spinal kontinyu dapat dimasukkan kateter.
6. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah hemoroid (wasir)
dengan anestetik hiperbarik, jarak kulit ligamentum flavum dewasa 6 cm.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


BAB II
KASUS
A. IDENTITAS
Nama lengkap
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Masuk RS tanggal
Bangsal

: Tn. SM
: 84 tahun
: Laki-laki
: Gedongtengen, Yogyakarta
: 26 Maret 2016
: Bougenville kelas III

B. DATA SUBJEKTIF (Autoanamnesis 27 Maret 2016 PUKUL 17.00 WIB) DI


BANGSAL BOUGENVILLE
1. Keluhan Utama: buang air kecil tidak lancar
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang laki laki usia 84 tahun datang dengan keluhan buang air kecil tidak lancar yang
dirasakan sejak 1 bulan SMRS. Keluhan disertai rasa anyang-anyangan setelah BAK dan nyeri
saat BAK. Pasien merasa tidak nyaman saat BAK karena merasa tidak lega. BAB baik, batuk
(-), sesak nafas (-), mual (-), muntah (-), demam (-).
3. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat DM (-)
b. Riwayat hipertensi (-)
c. Riwayat asma (-)
d. Riwayat penyakit jantung (-)
e. Alergi obat dan atau makanan/minuman(-)
f. Riwayat mondok (-)
g. Riwayat operasi sebelumnya (-)
4. Riwayat Penyakit pada keluarga
a. Riwayat keluhan serupa (-)
b. Riwayat asma atau alergi (-)
c. Riwayat hipertensi, DM (-)
5. Anamnesis Sistem
Sistem SSP

: demam (-), pusing (-)

Sistem kardiovaskuler

: nyeri dada (-), berdebar-debar (-)

Sistem respirasi

: nyeri telan (-) sesak nafas (-),batuk (-), pilek (-)


8

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


Sistem gastrointestinal
: mual (-), muntah (-),nyeri perut(-), diare (-), sembelit (-)
Sistem urogenital

: nyeri berkemih (+), anyang-anyangan (+)

Sistem integumentum

: pucat (-), kuning (-), bengkak-bengkak (-)

Sistem muskuloskeletal

: gerakan otot dan tulang bebas (+),nyeri pada kaki kanan (+), nyeri
sendi/otot (-).

C. DATA OBJEKTIF (27 Maret 2016 PUKUL 17.00 WIB) DI BANGSA L


BOUGENVILE
1. PEMERIKSAAN FISIK
a. Kesan Umum : baik, compos mentis
b. Tanda Utama : TD
: 150/70 mmHg
Nadi
: 84 x/menit, isi & tegangan cukup, teratur, simetris
Suhu
: 36,6OC (axila)
Pernapasan : 22x/menit, tipe thorakoabdominal
c. Antropometri : TB : 157 cm
BB : 49 kg
d. Pemeriksaan Umum
a. Kulit: sianosis (-), pucat (-), ikterik (-), rash (-)
b. Otot: eutrofi (+), tonus baik (+), tanda radang (-), kekuatan: 5/5/5/5
c. Tulang: tanda radang (-), deformitas (-)
d. Sendi: tanda radang (-), gerakan bebas (+)
e. Pemeriksaan Khusus dan Status Interna
1) Kepala : mesosefal, rambut: hitam, tidak mudah dicabut
- Mata: CA -/-, SI -/-, edema palpebra -/- Hidung: rhinorea -/-, epistaksis -/- Sinus: tanda peradangan (-)
- Mulut: mukosa bibir basah (+), stomatitis (-), gusi berdarah (-),
-

hiperemis faring (-), tonsil hipertrofi (-)


Telinga: ottorea - /-, tragus pain - / -

2) Leher
Simetris (+), pembesaran limfonodi (-)
3) Thorak
Cor
Inspeksi:
- Iktus kordis tidak tampak

Pulmo
Inspeksi:
- Bentuk dada simetris (+) N
- Nafas thorakoabdominal (+)
- Ketinggalan gerak (-)
9

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


- Retraksi (-)
Palpasi:
Palpasi:
- Ictus kordis tidak teraba
- Fremitus suara hemithorak dextra

Perkusi:
- Batas

jantung

tidak

mengalami pergeseran
Auskultasi:
- Suara jantung:
S1-S2 reguler, bising jantung (-),

= sinistra
- Pergerakkan dada kesan simetris
Perkusi:
- Sonor pada semua lapang paru,
- Pemeriksaan batas paru hepar
SIC V
Auskultasi:
- Suara paru: Suara dasar vesikuler
+/+, suara tambahan -/-.

gallop (-)
4)
5)

Abdomen
Inspeksi : tanda peradangan (-)
Auskultasi
: peristaltik usus (+) normal
Perkusi : timpani (+), nyeri ketok ginjal (-)
Palpasi : supel (+), nyeri tekan suprapubik (-), hepar/lien tak teraba
Ekstremitas
Pemeriksaan
Perfusi akral
Pulsasi a. Brachialis
Pulsasi a. Dorsalis Pedis
Kekuatan
Reflek fisiologis

f. Status Anestesi
1) Airway

Superior
Dextra/Sinistra
Hangat
+/+, kuat
5/5
+/+, N

Inferior
Dextra/Sinistra
Hangat
+/+, kuat
5/5
+/+, N

: jalan nafas bersih, buka mulut > 3 jari, gigi palsu (-),

pembesaran
kelenjar tiroid (-).
2) Breathing : suara dasar vesikuler +/+, wheezing -/-, ronkhi -/-, sesak (-),
ekspansi
paru simetris (+)
3) Circulation
: nadi 84 x/menit, s1-s2 reguler, bising (-), gallop (-),
akral hangat nadi
kuat dengan CRT < 2
4) Disability : GCS E4V5M6, Kesadaran kompos mentis, KU: baik
10

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


2. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 26 Maret 2016 pukul
14.52 WIB
PARAMETER

HASI

NILAI

RUJUKAN

HEMATOLOGI
Leukosit
6,0
Eritrosit
4,75
Hemoglobin
13,9
Hematokrit
41,0
MCV
86,4
MCH
29,3
MCHC
33,9
Trombosit
332
Differential Telling Mikroskopis
Neutrofil%
52,3
Lymposit%
35,1
Monosit%
7,8
Eosinofil%
4,3
Basofil%
0,5
Neutrofil#
3,16
Lymposit#
2,12
Monosit#
0,47
Eosinofil#
0,26
Basofil#
0,03
Masa Pendarahan
230
Masa Penjendalan
930
KIMIA
Glukosa Darah
104

UNIT

4.0-10
4.00-5.50
11.0-16.0
32-44
81-99
27-31
33-37
150-450

10e3/ul
10e3/ul
gr/dl
%
Fl
Pg
Gr/dl
10e3/ul

50-70
20-40
3-12
0,5-5,0
0-1
2-7
0,8-4
0,12-1,2
0,02-0,50
0-1
<6
<12

%
%
%
%
%
10e3/ul
10e3/ul
10e3/ul
10e3/ul
10e3/ul

70-140

mg/dl

Sewaktu
D. DIAGNOSIS KERJA
1. Diagnosis klinis : Benign Prostate Hyperplasia (BPH)
2. Status anestesi : ASA II
E. PLANNING DAN PERSIAPAN PRE-OPERASI
a. Puasa 8 jam sebelum induksi anestesi
b. Planning anestesi : digunakan regional anestesi / spinal
11

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


F. STATUS ANESTESI (INTRAOPERASI) tanggal 28 Maret 2016
Nama

: Tn. SM

Umur

: 84 tahun

Bangsal/ kelas

: Bougenville kelas III

Diagnosis Pra-Bedah

: Benign Prostate Hyperplasia

Rencana Tindakan

: Open Prostatektomi

Diagnosis Pasca Bedah : Benign Prostate Hyperplasia


ASA

: II

Ahli anestesi

: dr. Aryono Hendrasto, M. Si, Med, Sp. An

Ahli bedah

: dr. M. Feri Yulianto, Sp. B

Perawat anestesi

: Rokhim

Pemeriksaan Fisik

- Vital sign TD
Nadi

: 150/80 mmHg
: 82 x/menit

Suhu

: 36oC

Respiration rate

: 22x/menit

- Berat badan
: 49 kg
- Jantung dan Paru : BJ regular, bising (-), ronkhi -/-, wheezing -/Jenis anestesi: Regional Anestesi
-

Regivell 20 mg

Pemeliharaan: O2 2 liter per menit

Teknik penguasaan jalan nafas : nasal kanul


Ijin Operasi

: (+)

Tanggal Operasi

: 28 Maret 2016

Jenis Operasi

: Open Prostatektomi

Hb

: 13,9 gr/dl

GDS

: 104 mg/dl

Obat

:
12

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


Ondansetron 4 mg

Ketorolac 30 mg

Jumlah Cairan
Infus:

Maintenance
Pengganti puasa
Stres operasi besar
Pada jam I
Pada jam II/III

: 49 kg x 2 cc = 98 cc/ jam
: 8 jam x 98 cc= 784 cc/jam
: 8 x 49 kg = 392 cc/jam
: 50% (784) + 392 + 98 = 882 cc/jam
: 25% (784) + 392 + 98 = 686 cc/jam

Instruksi Pasca Bedah


a. Posisi pasien

: Supine dengan 1 bantal

b. Diet

: makan dan minum bertahap

c. Oksigenasi: Udara bebas


d. Infus

: RL 20 tpm

e. Antibiotika

: Sesuai operator

f. Analgesika: Injeksi ketorolac i.v 30 mg / 8 jam


g. Anti muntah

: Injeksi ondansetron i.v 4 mg / 8 jam (bila perlu)

h. Lain-lain : Awasi VS, injeksi efedrin i.v 10 mg jika TD Sistolik < 90, guyur RL 250 cc
G. PROGNOSIS
Dubia ad bonam
H. PEMBAHASAN

Pre-Operatif
Pasien datang dengan keluhan buang air kecil tidak lancar sejak 1 bulan yang lalu.
Pasien diputuskan dirawat di bangsal Bougenville dan pasien dipersiapkan untuk operasi
tanggal 28 Maret 2016

13

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


Sebelum dilakukan operasi, dilakukan pemeriksaan pre-op yang meliputi anamnesa,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk menentukan status fisik ASA & resiko.
Diputuskan kondisi fisik pasien termasuk ASA II serta ditentukan rencana jenis anestesi yang
dilakukan yaitu regional anestesi dengan teknik Sub Arachnoid Block.
Pasien yang akan menjalani operasi prostatektomi umumnya adalah pasien geriatri,
untuk itu penting dilakukan evaluasi ketat terhadap fungsi kardiovaskuler, respirasi dan ginjal.
Pasien-pasien ini dilaporkan mempunyai prevalensi yang cukup tinggi untuk mengalami
gangguan kardiovaskular dan respirasi, hal lain yang perlu diperhatikan pada pembedahan ini
adalah darah harus selalu tersedia karena perdarahan prostat dapat sangat sulit dikontrol,
terutama pada pasien yang kelenjar prostatnya > 40 gram.
Jenis anastesi yang dipilih adalah regional anastesi cara spinal. Anastesi regional baik
spinal maupun epidural dengan blok saraf setinggi T10 memberikan efek anastesi yang
memuaskan dan kondisi operasi yang optimal bagi prostatektomi. Dibanding dengan general
anastesi,

regional anastesi dapat menurunkan insidens terjadinya post-operative venous

trombosis.

Durante operatif
Teknik anastesi yang digunakan adalah spinal anastesi dengan alasan operasi yang
dilakukan pada bagian tubuh inferior, sehingga cukup memblok bagian tubuh inferior saja.
Obat anastesi yang diberikan pada pasien ini adalah Regivell 20 mg (Bupivacaine
Hcl 5 mg), sediaan ini dipilih karena durasi kerja yang lama. Bupivacaine Hcl merupakan
anastesi lokal golongan amida. Bupivacaine Hcl mencegah konduksi rangsang saraf dengan
menghambat aliran ion, meningkatkan ambang eksitasi elekton, memperlambat perambatan
rangsang saraf dan menurunkan kenaikan potensial aksi. Durasi analgetik pada T 10- T 12
selama 2-3 jam, dan menghasilkan relaksasi muskular yang cukup pada ekstremitas bawah
selama 2- 2,5 jam. Selain itu juga dapat ditoleransi dengan baik pada semua jaringan yang
terkena.
Sebagai analgetik digunakan Ketorolac tromethamine 30 mg sebanyak 1 ampul
disuntikan intravena. Ketorolac merupakan nonsteroid anti inflamasi (AINS) yang bekerja
14

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


menghambat sintesis prostaglandin sehingga dapat menghilangkan rasa nyeri/analgetik efek.
Ketorolac 30 mg mempunyai efek analgetik yang setara dengan 50 mg pethidin atau 12 mg
morphin, tetapi memiliki durasi kerja yang lebih lama serta lebih aman daripada analgetik
opioid karena tidak ada evidence depresi nafas pada clinical trial pemberian ketorolac dosis
pakai ketorolac untuk pasien geriatri (> 65 tahun) adalah titik lebih dari 60 mg/hari dipakai 30
mg karena ternyata bahwa 30 mg merupakan dosis yang tepat dan memberikan terapeutik
index yang lebih baik.
Semua pasien yang menghadapi pembedahan harus dimonitor secara ketat 4 aspek
yakni : monitoring tanda vital, monitoring tanda anestesi, monitoring lapangan operasi, dan
monitoring lingkungan operasi.

Post Operatif
Perawatan pasien post operasi dilakukan di RR, setelah dipastikan pasien pulih dari
anestesi dan keadaan umum, kesadaran, serta vital sign stabil pasien dipindahkan ke bangsal,
dengan anjuran untuk bedrest 24 jam, tidur terlentang dengan 1 bantal, tetap diawasi vital sign
setiap 15 menit selama 24 jam post operasi.
KESIMPULAN

1. Pada pasien ini dipilih regional anestesi dengan teknik spinal karena memberikan efek anestesi
yang lebih baik dan memberikan kondisi yaang lebih optimal bagi prostatektomi.
2. Obat-obatan yang digunakan dalam operasi ini merupakan obat-obat yang dianggap rasional
dengan efek yang paling optimal yang bisa diberikan pada pasien geriatri mengingat penurunan
fungsi organ yang terjadi kelompok pasien ini. Medikasi : Regivell 20 mg (sebagai obat anestesi
spinal), ondancetron 4 mg dan ketorolac 30 mg sebagai analgetik.
3. Penurunan fungsi organ yang terjadi pada pasien-pasien geriatri antara lain :

Kardiovaskular

: Penurunan elastisitas pembuluh darah arteri penurunan cardiac


reserve.

Sistem pernafasan : Penurunan elastisitas jaringan baru.

Ginjal

: Penurunan renal blood flow dan massa ginjal penurunan


15

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


kemampuan ginjal untuk mengekskresi obat-obatan

Sistem pencernaan : Penurunan hepatic blood flow, Penurunan kecepatan produksi


albumin & plasma kolinesterase.

System syaraf

: Penurunan sintesis neurotransmitter

Muskuloskeletal

: Atrofi kulit, Gangguan sendi lebih mudah terjadi akibat


positioning pada operasi.

16

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI


DAFTAR PUSTAKA
1. Staf Pengajar Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. Anestesiologi. FKUI, Jakarta.
1989.
2. Michael B. Dubson. Penuntut Praktis Anestesi. EGC, Jakarta. 1994.
3. Boulton, Thomas B. Anestesiologi. EGC, Jakarta. 1994.
4. Departemen Kesehatan RI Dirjen POM. Linformatorium Obat Nasional Indonesia 2000.
Sagung Seto, Jakarta. 2001.
5. Arif Mansoer, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. edisi Ketiga Media Aesculapius FKUI,
Jakarta. 2000.
6. Buku ajar Ilmu Bedah / Editor, R Sjamsuhidajat, wim de jong. Edisi 2, Jakarta : EGC. 2004.
7.

Purnomo, Basuki. Dasar-dasar urologi. Sagung seto, Jakarta. 2007

Yogyakarta, 1 April 2016


Preceptor,

dr. Aryono Hendrasto, M. Si, Med, Sp. An.


17

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2016

PRESENTASI KASUS ILMU ANESTESI

18