Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan Penulisan
1.3. Manfaat Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB III ANALISA SITUASI
3.1. Analisa Situasi Ruangan
Dilakukan pada tanggal 3 6 Mei 2016
1. Visi, Misi, dan Moto RS
1.1. Visi Rumah Sakit
International quality
Scale
Reach
Godly Compassion
1.2. Misi Rumah Sakit
The trusted destination of choice for holistic world class healthcare,
health education and research.
Nilai Rumah Sakit
Love, caring, integrity, honesty, emphaty, compassion, professionalism
2. Misi, Divisi Keperawatan
2.1.
Misi Divisi Keperawatan
Memberikan pelayanan keperawatan profesional berlandaskan cinta
1.3.

kasih yang senantiasa fokus dan tangkap terehadap kebutuhan dan


harapan pasien/keluarga untuk mencapai kesembuhan jasmani, rohani,
dan spiritual melalui praktik asuhan keperawatan terbaik berstandar
global.
3. Kebijakan Mutu
a. Customer-Oriented Service
Pelayanan berpusat kepada pelanggan
b. Aim for Continous Improvement
Peningkatan kualitas yang berkesinambungan
c. Responsive and Competent Staf
Staff yang cepat tanggap dan cakap
d. Efective & Cost-Contained Care
Pembiayaan yang efektif dan hemat
4. Sasaran Mutu Ruangan
4.1. Sasaran Mutu Ruangan
4.1.1. 90% asuhan keperawatan pasien baru terlengkapi dalam
waktu 24 jam
a. Kelengkapan Asuhan Keperawatan dalam waktu 24 jam
dengan target 85% (Januari-Juni 2015) / 90% (JuliDesember 2015) tercapai kecuali bulan Desember 2015
(82%).
4.1.2. 85% pasien pulang, setelah dua hari di rumah di hubungi
kembali melalui telpon, untuk follow up kondisi.
a. 85% pasien pulang, setelah dua hari di rumah dihubungi
kembali melalui telpon, untuk follow up kondisi, tidak

tercapai. Hasil pencapaian tahun 2015 adalah 20%-70%


dengan rata-rata persentase adalah 43,75% tiap bulannya.
4.1.3. IPSG Tahun 2015
a. IPSG 1 Ketercapaian rata-rata adalah 90% dengan target
100%.
b. IPSG 2 Monitoring feedback: Ketercapaian rata-rata 70%,
dokumen readback 94%, staff readback 94% dengan target
100%
c. IPSG3
d. IPSG 4
e. IPSG 5
f. IPSG 6 Ketercapaian rata-rata 82% dengan target 100%.
4.1.4. NSI Tahun 2015
a. Angka plebitis tahun 2015 adalah 0.20% meliputi 18 kejadian
PIVAS 2, 1 kejadian PIVAS 3, 1 kejadian PIVAS 5. Benchmark
<3.5%.
b. Angka kejadian pressure ulcer adalah 5 kejadian (0.13%).
Pressure ulcer yang terjadi adalah pressure ulcer grade 2.
c. Angka kejadian pasien jatuh adalah 14 kejadian (0.11%).
d. Angka Medication Error adalah 15 kejadian (0.12%) dengan
benchmark <5%, mengalami peningkatan dari tahun 2014
yaitu 9 kejadian (0.23%). 15 kejadian Medication Error terdiri
dari 4 kejadian obat tidak diberikan, 4 kejadian pemberian
obat terlalu cepat, 2 kejadian obat salah kirim dari farmasi, 1
kejadian

obat

jatuh

dan

pecah,

1 kejadian kesalahan

penulisan resep pulang, 1 kejadian obat keruh saat diberikan,


1

kejadian

obat

terlambat

diberikan,

kejadian

obat

kelebihan dosis. Beberapa penyebab kejadian medication


eror adalah:
Tidak melakukan prosedur double cek dengan perawat

yang lebih senior


Perawat lupa menandatangani IMR obat yang telah

diberikan sehingga obat diberikan kembali


Perawat lupa tidak memberikan obat yang ada di IMR
Farmasi salah mengirim obat/obat yang dikirim masih
ada tanda segel tetapi saat obat dibuka oleh perawat,

obat tersebut sudah rusak


Perawat kurang hati-hati saat akan mereturn obat,

obat terjatuh dan pecah


Dokter salah meresepkan obat, pada resep obat

pulang
Farmasi salah menulis dosis obat pada lebel obat dan
salah mengirim obat.

5. Pengumpulan Data ( Kapasitas tempat tidur: 44 bed)

5.1. Sumber Daya Manusia (M1-Man)


5.1.1. Struktur Organisasi

5.1.2. Jumlah Tenaga


Ruangan Bethsaida dipimpin oleh seorang Head Nurse (HN)
dengan pendidikan Strata 1 Ners yang membawahi 37 staff, yang
terdiri dari:
a. Keperawatan
No
.

Kualifikasi

1.

S1 Ners

2.

3.

S1
Keperawat
an

DIII
Keperawat

Jumla
h

Masa
Kerja

7
orang

0-1
tahun:
orang
2-5
tahun:
6-10
tahun:
11-15
tahun:
>15
tahun:
orang
6-10
tahun:
orang
>15
tahun:
orang
0-1
tahun:

5
orang

20
orang

Jenis

Pegawai
Tetap dan
Tidak
Tetap

Pegawai
Tetap dan
Tidak
Tetap

Pegawai
Tetap dan

Pelatihan
yang
diikuti
One Touch,
ACLS,
CPR,
Sepsis,
Ventilator &
Suction,
Transfussion
blood,
Cancer
Nursing,
Chemo,
CPAP,
Forkom,
Defib,
Infection
Cord, TPE, dll

an

orang
2-5
tahun: 10
orang
6-10
tahun: 2
orang
11-15
tahun: 1
orang
>15
tahun: 1
orang

Tidak
Tetap

Tenaga keperawatan yang bertugas dibagi dalam tiga tim.


Pembagian anggota tim didasarkan pada jumlah pasien di
masing-masing tim, sehingga terjadi perubahan anggota tim.
Oleh

karena

itu,

tidak

dapat

dilakukan

analisa

tenaga

berdasarkan pembagian tim.


b. Non-Keperawatan
No.

Kualifikasi

Jumlah

Jenis

1.

Health Care Assistant

2.

Runner

Pegawai
Tetap
Pegawai
Tetap

5.1.3. Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat


Tingkat ketergantungan klien di Ruang Rawat Bethsaida
dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian ketergantungan
klien menurut Orem; total, parsial, minimal care (Nursalam,
2009). Menurut Douglas, Lovevidge, dan Cunnings (1996),
klasifikasi ketergantungan pasien dibagi menjadi tiga kategori,
yaitu perawatan minimal, yang memerlukan waktu 1 2 jam per
24 jam, perawatan intermediate dengan waktu 3 4 jam per 24
jam, dan perawatan total dengan waktu 5 6 jam per 24 jam.
3 Mei 2016
Tingkat
Ketergantungan
Tk. Ktg
Jml Pasien
Minimal
8
Parsial

11

Total

17

Jumlah

36

Jumlah Kebutuhan Tenaga


PAGI
8x0,17= 1,36
11x0,27=
2,97
17x0,36=
6,12
10,45

SORE
8x0,14=
1,12
11x0,15=
1,65
17x0,36=
6,12
8,89

MALAM
8x0,07= 0,56
11x0,1= 1,1
17x0,20= 3,4
5,06

10

Total tenaga perawat:


Pagi
: 10 orang
Sore
: 9 Orang
Malam` : 5 orang
24 orang
Jumlah tenaga lepas dinas per hari adalah:
86x24 = 6,94 dibulatkan menjadi 7 orang
297
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan untuk bertugas per hari di
Ruang Bethsaida adalah
= 24 orang + 4 orang struktural (kepala ruangan dan perawat
primer) + 7 orang lepas dinas
= 35 orang
Pada tanggal 3 Mei 2016, jumlah perawat yang bertugas adalah:
Pagi
: 11 orang, terdiri dari 1 orang head nurse, 2 orang
perawat primer, 9 orang perawat asosiate.
Sore
: 10 orang, terdiri dari 1 orang in charge, 9 orang
perawat asosiate.
Malam : 5 orang, terdiri dari 1 orang in charge, 4 orang perawat
asosiate.
Jumlah tenaga lepas dinas: 12 orang, terdiri dari libur mingguan,
cuti sakit, sekolah, libur umum, cuti duka.
Jadi jumlah perawat yang bertugas per hari di Ruang Bethsaida
pada tanggal 3 Mei 2016 adalah 26 orang, sedangkan menurut
Douglas, Lovevidge, dan Cunnings (1996),jumlah perawat yang
dibutuhkan per hari adalah 28 orang.
4 Mei 2016
Tingkat
Ketergantungan
Tk. Ktg
Jml Pasien
Minimal
7
Parsial

15

Total

17

Jumlah

39

Jumlah Kebutuhan Tenaga


PAGI
7x0,17= 1,19
15x0,27=
4,05
17x0,36=
6,12
11,36
11

Total tenaga perawat:


Pagi
: 11 orang
Sore
: 9 Orang
Malam` : 5 orang
25 orang
Jumlah tenaga lepas dinas per hari adalah:
86x25 = 7,24 dibulatkan menjadi 7 orang
297

SORE
7x0,14=
0,98
15x0,15=
2,25
17x0,36=
6,12
9,35
9

MALAM
7x0,07= 0,49
15x0,1=1,5
17x0,20= 3,4
5,39
5

Jadi jumlah perawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari


di Ruang Bethsaida adalah
= 25 orang + 4 orang struktural (kepala ruangan dan perawat
primer) + 7 orang lepas dinas
= 36 orang
Pada tanggal 4 Mei 2016, jumlah perawat yang bertugas adalah:
Pagi
: 11 orang, terdiri dari 1 orang head nurse, 2 orang
perawat primer, 9 orang perawat asosiate.
Sore
: 10 orang, terdiri dari 1 orang in charge, 9 orang
perawat asosiate.
Malam : 5 orang, terdiri dari 1 orang in charge, 4 orang perawat
asosiate.
Jumlah tenaga lepas dinas: 14 orang terdiri dari libur mingguan,
cuti sakit, cuti umum, cuti tahunan, libur umum, sekolah.
Jadi jumlah perawat yang bertugas per hari di Ruang Bethsaida
pada tanggal 4 Mei 2016 adalah 26 orang, sedangkan menurut
Douglas, Lovevidge, dan Cunnings (1996),jumlah perawat yang
dibutuhkan per hari adalah 29 orang.
5 Mei 2016
Tingkat
Ketergantungan
Tk. Ktg
Jml Pasien
Minimal
5
Parsial
19
Total

14

Jumlah

38

Jumlah Kebutuhan Tenaga


PAGI
5x0,17= 0,85
19x0,27=
5,13
14x0,36=
5,04
11,02
11

SORE
5x0,14= 0,7
19x0,15=
2,85
14x0,36=
5,04
8,59
9

MALAM
5x0,07= 0,35
19x0,1=1,9
14x0,20= 2,8
5,05
5

Total tenaga perawat:


Pagi
: 11 orang
Sore
: 9 Orang
Malam` : 5 orang
25 orang
Jumlah tenaga lepas dinas per hari adalah:
86x25 = 7,24 dibulatkan menjadi 7 orang
297
Jadi jumlah perawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari
di Ruang Bethsaida adalah
= 25 orang + 4 orang struktural (kepala ruangan dan perawat
primer) + 7 orang lepas dinas
= 36 orang
Pada tanggal 5 Mei 2016, jumlah perawat yang bertugas adalah:
Pagi
: 10 orang, terdiri dari, 1 orang in charge, 9 orang
perawat asosiate.

Sore

: 9 orang, terdiri dari 1 orang in charge, 8 orang perawat

asosiate.
Malam : 5 orang, terdiri dari 1 orang in charge, 4 orang perawat
asosiate.
Jumlah tenaga lepas dinas: 14 orang terdiri dari libur mingguan,
cuti sakit, cuti umum, cuti tahunan, libur umum, sekolah.
Jadi jumlah perawat yang bertugas per hari di Ruang Bethsaida
pada tanggal 5 Mei 2016 adalah 24 orang, sedangkan menurut
Douglas, Lovevidge, dan Cunnings (1996),jumlah perawat yang
dibutuhkan per hari adalah 29 orang.
6 Mei 2016
Tingkat
Ketergantungan
Tk. Ktg
Jml Pasien
Minimal
2
Parsial

27

Total

10

Jumlah

38

Jumlah Kebutuhan Tenaga


PAGI
2x0,17= 0,34
27x0,27=
7,29
10x0,36= 3,6
11,23
11

SORE
2x0,14=
0,28
27x0,15=
4,05
10x0,36=
3,6
7,93
8

MALAM
2x0,07= 0,14
27x0,1=2,7
10x0,20= 2,0
4,84
5

Total tenaga perawat:


Pagi
: 11 orang
Sore
: 8 Orang
Malam` : 5 orang
24 orang
Jumlah tenaga lepas dinas per hari adalah:
86x24 = 6,94 dibulatkan menjadi 7 orang
297
Jadi jumlah perawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari
di Ruang Bethsaida adalah
= 24 orang + 4 orang struktural (kepala ruangan dan perawat
primer) + 7 orang lepas dinas
= 35 orang
Pada tanggal 5 Mei 2016, jumlah perawat yang bertugas adalah:
Pagi
: 10 orang, terdiri dari, 1 orang in charge, 1 orang
perawat primer, 8 orang perawat asosiate.
Sore
: 10 orang, terdiri dari 1 orang in charge, 1 orang
perawat primer, 8 orang perawat asosiate.
Malam : 5 orang, terdiri dari 1 orang in charge, 4 orang perawat
asosiate.
Jumlah tenaga lepas dinas: 14 orang terdiri dari libur mingguan,
cuti sakit, cuti umum, cuti tahunan, libur umum, sekolah.
Jadi jumlah perawat yang bertugas per hari di Ruang Bethsaida
pada tanggal 6 Mei 2016 adalah 25 orang, sedangkan menurut

Douglas, Lovevidge, dan Cunnings (1996),jumlah perawat yang


dibutuhkan per hari adalah 28 orang.
5.1.4. Implementasi berdasarkan SOP
a. Pemberian obat
Perawat tidak konsisten melakukan 5R
Tidak konsisten melakukan cuci tangan 5 moment
Tidak konsisten melakukan identifikasi pasien
Beberapa PA yang dinas pada 1 shift meninggalkan obat

oral di meja pasien


Tidak konsisten menyebutkan tujuan pemberian obat
Ada perawat yang tidak konsisten melakukan swab alkohol

sebelum dan sesudah memberikan terapi.


Ada perawat yang tidak konsisten melakukan spoeling

(pembilasan) setelah pemberian obat injeksi.


b. Penerimaan pasien baru
Dilakukan < 30 menit
Saat melakukan pengkajian perawat tidak

membawa

formulir pengkajian
Beberapa perawat tidak membawa formulir informasi pasien

baru
Tidak ada leaflet/orientasi tentang informasi selama rawat
inap (jam berkunjung, jam visit dokter, jam tindakan

keperawatan).
c. Alur permintaan obat dan alkes
Permintaan obat berasal dari resep dokter yang ditulis di
IMR dan di fax ke farmasi. Permintaan obat berasal dari resep
dokter yang ditulis di IMR dan di fax ke farmasi kemudian obat
akan diantar ke ruangan oleh pihak farmasi, ditermia oleh
administrasi dan kemudian diserahkan kepada perawat.
Suplai alat kesehatan diajukan oleh Head nurse sesuai
dengan kebutuhan ruangan. Jika ada kerusakan pada alat
kesehatan sebelum dan sesudah kalibrasi dapat dilaporkan
pada maintenace dengan mengisi formulir perbaikan alat
permintaan perbaikan dapat diajukan oleh semua pihak yang
menemukan kerusakan. Kalibrasi alat dilakukan satu tahun
sekali yang dilakukan oleh maintenance. Hasil kalibrasi dicatat
dalam list yang tertera disetiap alat dan buku kalibrasi
ruangan.
5.2. Pendanaan (M2-Money)
Sumber dana operasional

ruangan

jawabi oleh institusi rumah sakit.


5.3.
Sarana dan Prasarana (M3-Material)
5.3.1. Lokasi dan Denah Ruangan

sepenuhnya

ditanggung

a. Lokasi
Ruangan Bethsaida berada di lantai 8 Siloam Hospital Lippo
Village.

Ruangan

Bethsaida

merupakan

bangsal

yang

merawat pasien dengan kasus bedah umum dari kelas


perawatan I, II, dan III. Ruang Bethsaida berdampingan
dengan Ruang Decapolis yang merupakan bangsal Neurologi.
b. Denah Ruangan

5.3.2. Peralatan dan Fasilitas


a. Fasilitas Ruangan
b. Ruangan Bethsaida terdiri dari 18 kamar perawatan dan 44
tempat tidur yang terbagi dalam 3 kelas perawatan. Kelas I
terdiri dari 5 kamar yang dilengkapi dengan 2 tempat tidur
tiap kamar, kelas II terdiri dari 11 kamar yang dilengkapi
dengan 2 tempat tidur tiap kamar, kelas III terdiri dari 3
kamar yang dilengkapi dengan 3 atau 6 tempat tidur tiap
kamar.
c. Terdapat 1 trolley emergency yang berada di depan nurse
station dipergunakan untuk 1 bangsal.
d. Terdapat ruangan clean utility (CU) yang digunakan sebagai
ruangan tempat trolley obat, lemari linen, dan persiapan
obat. Dengan 18 lemari dan 8 laci yang digunakan untuk
menyimpan peralatan kesehatan
e. Terdapat ruangan dirty utility (DU) yang rapih dan bersih.
Dari hasil observasi, terdapat sharp box yang penuh dan
f.

belum dibuang.
Fasilitas pasien
Di setiap pintu kamar pasien terdapat denah jalur evakuasi
yang ditempatkan di belakang pintu. Terdapat sign it

pasien jatuh, penggunaan oksigen, kemandirian pasien di

pintu masuk kamar, tetapi tidak ada tanda EWS.


Setiap kamar dilengkapi tempat tidur dan TV yang

berfungsi baik.
Setiap tempat tidur terdapat hand rub yang terletak di

posisi kaki.
Terdapat tanda resiko jatuh yang di gantungkan di tembok

posisi atas tempat tidur pasien.


Setiap pasien dilengkapi dengan 1 bel dilengkapi bel

emergency.
Terdapat bel di setiap toilet pasien
g. Fasilitas Ruangan Bethsaida yang digunakan Pasien dan
Tenaga Kesehatan
No.

Nama Barang

Jumlah

Kondisi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.

Ambu Bag
Animex
Cool Pack
Monitor
Termometer
Stetoskop
Sure step
Reflex Hammer
Trolley Besar
Trolley Kecil
Troley Dressing
Trolley Obat
Tempat Sampah Besar
Tempat Sampah Kecil
Urinal/Bedpan
Kulkas Obat
Trolley Mandi
Hair Dryer
Wash Comb Mandi
Kursi Biru Meeting
Kursi Kantor Roda
Kursi Nurse Station
Telepon Kantor
Telepon Kamar Pasien
Komputer Satu Set
Meja Nurse Station
Meja Kantor
Kalkulator
White Board
Lemari Kantor
Meja Kecil
Mesin Fax
Printer Label
Rak File Kantor
Papan Mading
Perforator

1
1
2
1
9
8
1
1
3
1
1
2
2
61
2
1
5
1
30
12
3
3
4
31
1
1
1
2
2
1
2
1
1
1
1
3

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Hilang
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.

Staples
Bengkok Plastik
Botol Suction
Comode
Gelas Ukur Plastik
Gelas Ukur Plastik Kecil
Gelas Ukur Stainless
Gerusan Obat
Kasur Dekubitus
Kursi Roda
Nebulizer
Ophtalmoscope
Pat Slide
Pen Light
Regulator
Oksigen
Single
Regulator Oksigen Twin
Regulator Suction
Spuit Glicerin
Standard Infuse Mobile
Tabung Oksigen Mobile
Tabung
Oksigen
Portable
Tempat
Oksigen
Portable
Bed Pan Washer
Lampu X-Ray
ECG
Defibrilator
Timbangan Dewasa
Trolley Emergency
Timbangan Elektrik
Tensimeter Dinding

2
10
7
1
3
4
4
1
3
3
1
1
1
3
13

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

4
11
4
15
4
1

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Baik

1
1
1
1
1
1
1
44

Tempat Tidur Pasien


Meja Pasien
Lemari Pasien
Meja Makan Pasien
Jam Dinding
Kamar Mandi & WC
Pasien
Kamar Mandi Karyawan
Gudang
Ruang Kepala Ruangan
Nurse Station
Clean Utility
Dirty Utility
Pantry Pasien
Pantry Karyawan

44
44
32
44
22
20

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Beberapa
manset rusak
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

1
1
1
1
1
1
1
1

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

5.3.3. Administrasi Penunjang


a. Buku Tugas
b. Buku Hasil Gula Darah
c. Buku Pemeriksaan Laboratorium

d. Buku Urine
e. Buku Admission
f. Buku Catatan Pasien Pulang
g. Buku Komunikasi
h. Buku Permintaan Cuti
i. Buku Bank Darah
j. Buku Memandikan Pasien
k. Buku Follow Up BO
5.4. Metode Asuhan Keperawatan (M4-Method)
5.4.1. Penerapan Model MAKP
Ruang rawat Bethsaida saat ini belum menerapkan model
asuhan keperawatan yang jelas. Model keperawatan yang
diterapkan adalah gabungan/kombinasi antara MPKP dan tim.
Pembagian tugas setiap shift belum dilakukan sesuai dengan
metode MPKP, seperti jumlah perawat yang bertugas tidak
sesuai dengan jumlah pasien yang dirawat berdasarkan tingkat
ketergantungan pasien. Saat dokter visit, seharusnya sudah
dilakukan sosialisasi tentang siapa yang mendampingi saat visit
dokter, yaitu perawat primer. Akan tetapi, kelompok masih
mendapatkan beberapa dokter yang visit ditemani oleh head
nurse atau perawat asosiate. Peran dan tanggung jawab
masing-masing perawat masih belum optimal sesuai standar
MPKP.
5.4.2. Sistem Operasional Ruangan
Kombinasi metode MPKP dan tim yang diterapkan di
Ruangan Bethsaida terbagi menjadi 3 tim, yang terdiri dari:
PP : 3 orang (S1 Keperawatan & S1 Ners)
PA : 28 orang (S1 Ners, S1 Keperawatan, DIII Keperawatan)
5.4.3. Jam Kerja
a. Dinas Pagi : 07.00 14.30 WIB
b. Dinas Siang
: 13.00 20.30 WIB
c. Dinas Malam
: 20.00 08.00 WIB
5.4.4. Timbang Terima
Prosedur timbang terima selama ini sudah dilakukan pada
setiap pergantian shift, namun cara pencapaian isi timbang
terima belum terungkap secara komprehensif, meliputi: isi
timbang terima (masalah keperawatan pasien lebih fokus pada
diagnosa

medis),

didokumentasikan

tidak
dalam

semua
lembar

rencana

hand

over,

tindakan
melainkan

dilakukan secara lisan, dan hal-hal penting masih ada yang


terlewati untuk disampaikan kepada shift berikutnya. Sehingga,
mekanisme timbang terima belum sesuai dengan standar baku.
5.4.5. Ronde Keperawatan
Selama ini, belum pernah dilakukan ronde keperawatan
karena masih merupakan hal yang baru bagi sebagian besar

staf

keperawatan.

Perawat

menganggap

bahwa

ronde

keperawatan identik dengan timbang terima yang merupakan


salah satu kendala pelaksanaan ronde.
5.4.6. Pengelolaan Sentralisasi Obat
Pengelolaan sentralisasi obat seluruhnya dikelola oleh
farmasi rumah sakit. Akan tetapi, beberapa pasien masih
merasakan belum adanya penjelasan secara rinci tentang obatobat yang dikelola. Mekanisme penyimpanan obat sudah
dilakukan dengan baik dan sesuai instruksi farmasi, yaitu
disimpan oleh perawat di dalam lemari obat atau kulkas obat.
Format permintaan obat sudah disusun secara baku, tetapi
pengisian IMR masih belum lengkap, seperti pengisian kolom
alergi obat, berat badan, dan kamar perawatan.
5.4.7. Supervisi
Acuan yang dipakai adalah protap yang sudah ditentukan
direksi

rumah

sakit.

Kepala

ruangan

memiliki

instrumen

supervisi, yaitu buku Kinerja Penilaian Individu (KPI). Supervisi


keperawatan dilaksanakan oleh kepala ruangan secara rutin
dengan

frekuensi

1xseminggu.

Setelah

supervisi,

kepala

ruangan memberikan 3F, yaitu Fair,Feed back, dan Follow up.


5.4.8. Discharge Planning
Discharge planning sudah dilaksanakan, tetapi dijalankan
hanya apabila pasien akan pulang. Selain itu, tidak semua aspek
di dalam discharge planning terisi dengan lengkap, yaitu seperti
tidak

diisinya

edukasi

pasien

setelah

pulang,

diagnosa

keperawatan selama pasien dirawat, observasi tanda-tanda vital


saat pulang, tingkat mobilisasi pasien saat pulang.
5.4.9. Dokumentasi Keperawatan
Sistem pendokumentasian yang berlaku saat ini adalah
SOR (Source Oriented Record), yaitu sistem pendokumentasian
yang berorientasi pada lima komponen (lembar penilaian per isi
biodata, lembar order dokter, lembar riwayat medis/penyakit,
catatan perawatan, catatan, dan laporan). Selama ini catatan
keperawatan

berisi

jawaban

tentang

nasehat

dokter

dan

tindakan keperawatan mandiri perawat, tetapi belum semua


didokumentasikan.

Sedangkan,

dokumentasi

asuhan

keperawatan tidak dilaksanakan segera setelah pasien masuk,


atau terjadi masalah keperawatan. Akan tetapi, kadang-kadang
dilengkapi pada saat pasien mau pulang, atau apabila keadaan
ruangan memungkinkan bahkan ada juga yang tidak dilengkapi.
Sehingga, catatan perkembangan kurang berkesinambungan

dan kurang lengkap. Dokumentasi keperawatan belum lengkap


dan belum akurat.
5.5. Pemasaran (M5-Market)
5.5.1. Jumlah Pasien Per Bulan
Jumlah pasien per bulan rata-rata adalah 320 orang.
5.5.2. Jumlah Kasus Terbanyak
Pada tahun 2015, 10 kasus terbesar di Ruang Bethsaida
adalah febris (viral infection) dengan total kasus 371 kasus
(13%), dispepsia 299 kasus (11%), diabetes mellitus 283 kasus
(10%), GEA 279 kasus (10%), CAD 251 kasus (9%), appendiksitis
238 kasus (8%), CKD 212 kasus (8%), DHF 189 kasus (7%),
vertigo 109 kasus (4%), dan CVD 82 kasus (3%). Adapun
rumusan penghitungan penyakit terbesar tiap bulannya adalah:
X 100%
Jumlah 1 kasus pasien perbulan
Jumlah semua kasus pasien perbulan
5.5.3. Jumlah Hari Rawat Inap
ALOS rata-rata pasien pada tahun 2015 adalah 3 hari
dengan jumlah hari rawat inap pasien per bulannya adalah ratarata 1025 hari.
5.5.4. BOR
Berdasarkan hasil pengkajian pada hari Selasa dan Rabu,
tanggal 3 4 Mei 2016, didapatkan gambaran kapasitas tempat
tidur ruang rawat Bethsaida, yaitu 44 tempat tidur dengan
rincian sebagai berikut:
3 Mei 2016
Jumlah pasien adalah 36 orang dengan kapasitas 44 tempat
tidur. Jadi BOR= 36/44 x 100%= 81,81%
4 Mei 2016
Jumlah pasien adalah 39 orang dengan kapasitas 44 tempat
tidur. Jadi BOR= 39/44 x 100%= 88,64%. Jadi BOR sesuai target
(80%).
3.1.2. PENGKAJIAN MELALUI KUESIONER
Kepala Ruangan
I.

Perencanaan
1. Kepala ruangan (KaRu) melibatkan staf dalam membuat jadwal dinas.
2. KaRu membuat jadwal dinas dengan mempertimbangkan hari raya, hari
libur, cuti, dan hamil/melahirkan.
3. KaRu menyampaikan jadwal dinas kepada staf sebelum disampaikan ke
supervisor keperawatan.
4. KaRu merencanakan pengendalian

tenaga

keperawatan

melalui

penilaian Komite Kerja dalam bentuk supervisi secara langsung atau


tidak langsung.
5. KaRu merencanakan rotasi atau mutaasi staf di ruangan.

6. KaRu membuat renana penambahan kepegawaian sesuai dengan


kebutuhan di ruangan.
7. KaRu membuat rencana pengembangan staf sesuai dengan kebutuhan
peningkatan kompetensi staf formal/non formal di ruangan.
8. KaRu merencanakan cuti tahunan staf di ruangan.
9. KaRu merencanakan pertemuan ruangan secara periodik dalam bentuk
harian melalui pre dan post conference dan ronde keperawatan, rapat
bulanan antara kepala ruangan dan staf, presentasi kasus khusus.
10. Ruangan memiliki Standa Operasional Prosedur (SOP).
11. Ruangan memiliki Standar Asuhan Keperawatan (SAK). KaRu terlibat
dalam pembuatan SOP dan SAK.
12. SOP dan SAK disahkan oleh Divisi Keperawatan.
13. SOP dan SAK tidak disediakan dalam bentuk tertulis.
14. SOP mudah dijangkau oleh seluruh staf.
15. SOP diketahui oleh semua perawat di ruangan. SAK dalam bentuk baku
dan diberikan kepada staf untuk dibaca.
16. KaRu membuat rencanan untuk memonitor pelaksanaan SOP dan SAK.
17. KaRu
merencanakan
pengawasan
dan
pengendalian
asuhan
keperawatan berdasarkan SOP melalui supervisi askep secara langsung
atau tidak langsung, pre & post conference, ronde keperawatana,
inventarisasi alat.
18. KaRu membuat askep sesuai dengan SOP jika Ketua Tim/Perawat Primer
tidak ada.
19. KaRu menyusun kegiatan berdasarkan manajemen waktu.
20. KaRu mendorong staf untuk menyususn rencana kinerja tahunan
individu.
II. Pengorganisasian
1. Ruangan memiliki struktur organisasi.
2. Ruangan memiliki uraian tugas dan analisa kerja.
3. Uraian tugas dan analisa kerja telah disosialisasikan dengan staf.
4. KaRu mendelegasikan tugas kepada staf.
5. KaRu mendelegasikan tugas disertai surat tugas kepada staf yang
6.
7.
8.
9.

mendapatkan tugas.
KaRu mengevaluasi tugas yang telah didelegasikan.
KaRu menentukan staf yang tepat untuk mendapat tugas delegasi.
KaRu menerima laporan dari staf mengenai tugas yang didelegasikan.
KaRu memberikan penghargaan kepada staf yang telah menyelesaikan

tugas yang didelegasikan.


10. KaRu melakukan orientasi kepada perawat baru di ruangan.
III. Pengarahan
1. Masalah-masalah yang sering ditemukan di ruangan adalah masalah
Askep, masalah perawat dengan tim kesehatan lain, dan masalah alat
penunjang kesehatan.
2. KaRu segera membicarakan masalah-masalah yang terjadi dengan staf
3.
4.
5.
6.

yang berkaitan.
KaRu memberikan bimbingan atas penyelesaian masalah yang terjadi.
KaRu melibatkan staf atas penyelesaian masalah yang terjadi.
KaRu mengevaluasi masalah yang telah teratasi.
KaRu memberikan pengawasan khusus kepada staf yang tidak disiplin.

7. KaRu mengikuti pertemuan yang diselenggarakan Komite Keperawatan


maupun Divisi Keperawatan dan Unit Kerja terkait.
8. KaRu melakukan bimbingan pada perawat baru di ruangan.
9. Bimbingan diberikan 1 x seminggu.
IV. Pengawasan & Pengendalian
1. KaRu melakukan supervisi terhadap staf keperawatan sesuai dengan
perencanaan yang telah dibuat.
2. KaRu melakukan pengawasan terhadap pendokumentasian asuhan
keperawatan.
3. KaRu melakukan penilaian dalam pelaksanaan tugas perawat di ruangan
berdasarkan SOP.
4. KaRu melakukan pengawasan terhadap SAK pada saat pergantian dinas.
5. KaRu melakukan pelaporan tentang pelayanan keperawatan secara
periodik.
6. Pelaporan disampaikan oleh supervisor keperawatan.
7. KaRu menjalankan hukuman/sanksi kepada staf sesuai dengan kategori
kesalahan.
8. KaRu memberikan penghargaan kepada staf yang menunjukkan prestasi.
9. KaRu mengevaluasi sasaran kerja individu.
Perawat Primer (PP)
I.

Perencanaan
1. PP menyusun pengkajian keperawatan pada setiap pasien baru.
2. PP menyusun diagnosa keperawatan berdasarkan analisa masalah pada
setiap pasien baru.
3. PP membuat prioritas masalah sesuai SAK.
4. PP membuat rencana keperawatan sesuai kebutuhan pasien.
5. PP mendokumentasikan rencana asuhan keperawatan yang

II.

dilakukan di ruangan.
6. PP merencanakan pre dan post conference.
7. PP merencanakan ronde keperawatan.
8. PP merencanakan operan di ruangan.
Pengorganisasian
1. PP melakukan pengkajian terhadap klien

baru

atau

akan

melengkapi

pengkajian yang sudah dilakukan PA pada sore, malam, atau hari libur.
2. PP menetapkan rencana asuhan keperawatan berdasarkan analisis
standar renpra sesuai dengan hasil pengkajian.
3. PP menjelaskan renpra yang sudah ditetapkan kepada PA yang
bertanggungjwab kepada pasien.
4. PP membina hubungan terapeutik kepada pasien baru dan pasien lama.
5. PP melaksanakan orientasi kepada PA>
6. PP melakukan kegiatan serah terima pasien di bawah tanggung jawab
PA.
7. PP mendampingi dokter visit klien.
8. PP mengatur dan mengkoordinasikan

seluruh

kegiatan

asuhan

keperawatan kepada pasien kelolaan.


9. PP melakukan koordinasi dengan tim kesehatan lain dalam pelaksanaan
tugas.
10. PP membantu dan memfasilitasi terlaksananya kegiatan PA.
11. PP mengatur pelaksanaan konsul dan pemeriksaan laboratorium.

12. PP menetapkan PA yang bertanggung jawab pada setiap pasien setiap


kali shift.
13. PA memiliki kriteria dalam menentukan orang yang tepat untuk
mendaptt tugas delegasi.
14. PP melakukan tugas yang didelegasikan kepadanya yang disertai surat
tugas.
III. Pengarahan
1. PP memberikan pengarahan/bimbingan dan umpan balik anggota tim
tentang pelaksanaan tugas.
2. PP memberikan penghargaan

kepada

anggota

tim

yang

telah

menyelesaikan tugas.
3. PP memberikan teguran kepada anggota tim yang melakukan kesalahan
baik secara langsung/tidak langsung.
4. PP memberikan pengawasan khusus kepada anggota tim yang kurang
disiplin.
5. PP melaporkan mengenai tugas yang didelegasikan.
6. PP menerima penghargaan dari KaRu atas tugas yang didelegasikan.
7. PP melakukan penyuluhan kesehatan kepada pasien yang menjadi
tanggung jawab PP.
8. PP menghadiri pertemuan rutin ruangan.
9. PP memonitor dokumentasi yang dilakukan oleh PA.
10. PP melakukan bimbingan dan evaluasi PA dalam melakukan tindakan
keperawatan sesuai SOP.
11. PP melibatkan anggota tim dari awal sampai akhir kegiatan asuhan
IV.

keperawatan.
Pengawasan & Pengendalian
1. PP mengawasi pemberian asuhan keperawatan pada pasien yang
merupakan tanggung jawab PP.
2. PP mengawaasi kelengkapan dokumentasi askep.
3. PP melakukan evaluasi tindakan askep sesuai dengan SAK.
4. PP mengawasi pelaksanaan praktik keperawatan yang dilakukan oleh
peserta didik di ruangan.
5. PP membuat perencanaan pulang
6. PP memperhatikan aspek legal dan etik dari pelaksanaan asuhan
keperawatan.
Perawat Asosiate (PA)

I.

II.

Perencanaan
1. 100%
PA

menyiapkan

formulir

yang

dipergunakan

untuk

mencata/mendokumentasikan tindakan keperawatan yang PA lakukan.


2. 100% PA melaksanakan rencana askep.
3. 100% PA mengikuti ronde keperawatan.
4. 95% PA mengikuti operan dinas bersama PP.
5. 100% PA melaksanakan pembagian tugas yang diberikan oleh PP.
6. 100% PA menyiapkan keperluan untuk melaksanakan askep.
Pengorganisasian
1. 100% PA membaca renpra yang telah ditetapkan PP.
2. 95% PA melakukan tindakan keperawatan kepada klien berdasarkan
renpra.
3. 100% PA mengikuti visit dokter apabila PP tidak ada di tempat.

4. 100%

PA

menyiapkan

pasien

untuk

pemeriksaan

diagnostik

laboratorium, pengobatan, dan tindakan.


5. 95% PA memeriksa kerapian dan kelengkapan status keperawatan.
6. 100% PA membuat laporan pendokumentasian atas tindakan
keperawatan yang dilakukan kepada klien yang menjadi tanggung jawab
PA
7. 100% PA membantu pelaksanaan tindakan keperawatan tim lain yang
membutuhkan.
8. 100% PA mensosialisasikan kepada pasien tentang perawatan yang akan
diberikan.
9. 100% PA membina hubungan terapeutik selama pasien dirawat.
10. 89% PA melakukan tindakan keperawatan sesuai SAK.
11. 100% PA melaksanakan tugas sesuai dengan jadwal shift yang
ditetapkan bersama dengan PP dan kepala ruangan.
12. 95% PA melakukan perawatan pada pasien menjelang ajal.
13. 95% PA melakukan persiapan pasien pulang sesuai SOP.
III. Pengarahan
1. 100% PA memberikan penjelasan dengan kata-kata dan komunikasi
teraputik dalam memberikan pelayanan keperawatan.
2. 84% PA memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga.
3. 100% PA berupaya meningkatkan kerja sama dengan tim kesehatan lain
agar tercipta keharmonisan.
4. 84% PA menghadiri pertemuan rutin ruangan.
5. 100% PA mengkomunikasikan kepada PP bila menemukan masalah yang
IV.

perlu diselesaikan.
Pengawasan & Pengendalian
1. 100% PA melakukan evaluasi tindakan asuhan keperawatan sesuai
dengan perencanaan dan SAK.
2. 100% PA mendokumentasikan

kemajuan

pasien

pada

catatan

perkembangan pasien.
3. 100% PA memperhatikan aspek legal dan etik saat melakukan tindakan
keperawatan.
4. 100% PA memperhatikan respon pasien saat melakukan tindakan
keperawatan.
3.2. Analisa SWOT
3.2.1. Sasaran Mutu 85% pasien pulang, setelah dua hari di rumah
dihubungi kembali melalui telpon, untuk follow up kondisi, tidak tercapai.
Hasil pencapaian tahun 2015 adalah 20%-70% dengan rata-rata persentase
adalah 43,75% tiap bulannya.
STRENGTH
Ruangan Bethsaida
memiliki 3 unit telepon
yang dapat dignunakan
untuk menghubungi
pasien pulang.

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.2. IPSG Tahun 2015 IPSG 2 Monitoring feedback: Ketercapaian rata-rata


70%, dokumen readback 94%, staff readback 94% dengan target 100%.

STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.3. NSI Tahun 2015 Angka kejadian pasien jatuh adalah 14 kejadian
(0.11%), Angka Medication Error adalah 15 kejadian (0.12%).
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.4. Ketenagaan Pembagian anggota tim tidak sesuai dengan MAKP, yaitu
didasarkan pada jumlah pasien di masing-masing tim, sehingga terjadi
perubahan anggota tim. Jumlah perawat yang bertugas tidak sesuai atau
kurang

dari

kebutuhan

tenaga

perawat

berdasarkan

tingkat

ketergantungan pasien.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.5. Pemberian obat Perawat tidak konsisten melakukan 5R, tidak


konsisten melakukan cuci tangan 5 moment, tidak konsisten melakukan
identifikasi pasien, beberapa PA yang dinas pada 1 shift meninggalkan obat
oral di meja pasien, tidak konsisten menyebutkan tujuan pemberian obat,
ada perawat yang tidak konsisten melakukan swab alkohol sebelum dan
sesudah memberikan terapi, ada perawat yang tidak konsisten melakukan
spoeling (pembilasan) setelah pemberian obat injeksi.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.6. Penerimaan pasien baru Saat melakukan pengkajian perawat tidak


membawa formulir pengkajian, Beberapa perawat tidak membawa formulir
informasi pasien baru, Tidak ada leaflet/orientasi tentang informasi selama
rawat inap (jam berkunjung, jam visit dokter, jam tindakan keperawatan).
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.7. Fasilitas pasien tidak ada tanda EWS.


STRENGTH

WEAKNESS

3.2.8. Penerapan model MAKP Pembagian tugas setiap shift belum dilakukan
sesuai dengan metode MPKP, seperti jumlah perawat yang bertugas tidak
sesuai

dengan

jumlah

pasien

yang

dirawat

berdasarkan

tingkat

ketergantungan pasien. Saat dokter visit, seharusnya sudah dilakukan


sosialisasi tentang siapa yang mendampingi saat visit dokter, yaitu perawat
primer.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.9. Timbang terima cara pencapaian isi timbang terima belum terungkap
secara komprehensif.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.10. Ronde keperawatan Selama ini, belum pernah dilakukan ronde


keperawatan karena masih merupakan hal yang baru bagi sebagian besar
staf keperawatan.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.11. Pengelolaan sentralisasi obat pengisian IMR masih belum lengkap,


seperti pengisian kolom alergi obat, berat badan, dan kamar perawatan.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.12. Discharge planning Discharge planning sudah dilaksanakan, tetapi


dijalankan hanya apabila pasien akan pulang, tidak lengkap, form edukasi
tidak diisi.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.13. Dokumentasi Keperawatan Dokumentasi asuhan keperawatan tidak


dilaksanakan

segera

setelah

pasien

masuk,

atau

terjadi

masalah

keperawatan, dokumentasi belum lengkap.


STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.14. Karu SOP dan SAK tidak disediakan dalam bentuk tertulis.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT

3.2.15. PA
95% PA mengikuti operan dinas bersama PP.
95% PA melakukan tindakan keperawatan kepada klien berdasarkan

renpra.
95% PA memeriksa kerapian dan kelengkapan status keperawatan.
89% PA melakukan tindakan keperawatan sesuai SAK.
95% PA melakukan perawatan pada pasien menjelang ajal.
95% PA melakukan persiapan pasien pulang sesuai SOP.
84% PA memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan
keluarga.
84% PA menghadiri pertemuan rutin ruangan.
STRENGTH

WEAKNESS

OPPORTUNITY

THREAT