Anda di halaman 1dari 6

PENGUKURAN MAS ALAH MALARIA

Penyakit Malaria masih endemis di Indonesia, namun tidak seluruh provinsi dan
kabupaten memiliki masalah malaria. Masyarakat yang sering
bepergian/melancong perlu mengetahui apakah wilayah yang akan
dikunjunginya merupakan daerah berisiko/endemis malaria atau tidak, untuk itu
dapat dilihat pada daftar daerah risiko malaria. Bagi para Akademisi dan
Petugas Kesehatan yang akan melakukan intervensi di suatu daerah malaria,
dengan mengetahui tingkat risiko saja mungkin belum cukup, perlu diketahui
pula seberapa besar masalah malaria di wilayah tersebut. Untuk dapat
mengetahui ukuran besarnya masalah malaria yang terdapat pada sekelompok
manusia (populasi) di suatu wilayah dengan tepat, ada 2 hal pokok yang harus
dilakukan yaitu: menemukan penyakit malaria (disebut juga penemuan
penderita) di masyarakat dan melakukan pengukuran atas penyakit tersebut.
Penemuan Penderita Malaria di Masyarakat
Penemuan penderita adalah suatu upaya untuk menemukan penderita malaria
secara dini agar dapat segera diobati secara tepat.
Untuk menemukan penderita malaria di masyarakat, ada 3 jenis kegiatan yang
dapat dilakukan yaitu: Active Case Detection (ACD), Pasive Case Detection
(PCD), dan survei malaria.
1. Active Case Detection (ACD)
Penemuan penderita malaria secara aktif melalui kunjungan ke rumah-rumah
penduduk yang menderita malaria klinis (tersangka malaria) oleh petugas
terlatih, dengan cara pengambilan sediaan darah tebal (untuk diperiksa di
Puskesmas) dan memberikan pengobatan kepada penderita malaria yang
ditemukan.
2. Pasive Case Detection (PCD)
Penemuan penderita malaria secara pasif dengan cara menunggu kunjungan
penderita di Unit Pelayanan Kesehatan.
3. Survei Malaria
Kegiatan survei malaria terdiri dari:
a. Malariometric Survey (MS)
Malariometric survey adalah suatu kegiatan pemeriksaan sediaan darah jari dan
limpa pada penduduk kelompok usia 0-9 tahun untuk melihat tingkat
endemisitas dan prevalensi malaria di suatu wilayah pada waktu tertentu.
Ada dua macam MS sesuai dengan tujuannya, yaitu :

1. Survei Malariomerik Dasar (MSD).


2. Survei Malariometrik Evaluasi (MSE).
Survei Malariometrik Dasar (MSD)
Suatu MS yang dilakukan untuk mengukur tingkat endemisitas di suatu daerah
dengan cara memeriksa pembesaran limpa pada populasi anak golongan umur 2
9 tahun dan mengetahui prevalensi malaria dengan cara memeriksa sediaan
darah pada populasi anak golongan umur 0 9 tahun.
Survei Malariometrik Evaluasi (MSE)
Suatu MS yang dilakukan untuk mengukur tingkat prevalensi malaria di suatu
daerah dengan cara memeriksa sediaan darah pada populasi anak golongan
umur 0 9 tahun.
b. Mass Fever survey (MFS)
Merupakan salah satu upaya penemuan penderita malaria melalui survei yang
ditujukan pada seluruh penduduk di suatu wilayah yang mempunyai gejala
demam.
c. Mass Blood Survey (MBS)
Suatu kegiatan penemuan penderita dalam waktu yang singkat, dilakukan
melalui pemeriksaan sediaan darah terhadap semua penduduk di desa/dusun
endemis malaria tinggi yang penduduknya tidak menunjukkan gejala malaria
klinis yang nyata. Pengobatan radikal diberikan kepada seluruh penderita positif
malaria yang ditemukan.
Parameter yang dikumpulkan pada survei malariometrik adalah:
a. Parasite Rate (PR)
Parasite Rate adalah persentase penduduk kelompok usia 0-9 tahun yang
darahnya mengandung parasit malaria pada saat tertentu. PR untuk kelompok
usia bayi (0-1 tahun) disebut Infant Parasite Rate (IPR). Bila IPR bernilai nol
selama 3 tahun berturut-turut, dapat dianggap tidak adanya transmisi lokal
asalkan survei dilakukan setiap tahun dan cukup banyak sediaan darah yang
diambil dan diperiksa.
b. Spleen Rate (PR)
Spleen Rate adalah persentase penduduk kelompok usia 0-9 tahun yang
limpanya teraba membesar.
Besarnya limpa dinyatakan berdasarkan klasifikasi Hacket sebagai berikut:
- H.0 : Limpa tidak teraba pada inspirasi (menarik nafas) maksimal.
- H.1 : Limpa teraba pada inspirasi maksimal.
- H.2 : Limpa teraba tetapi proyeksinya tidak melebihi garis horizontal yang

diterik melalui pertengahan arcus costae (lengkung tulang iga) dan umbilicus
(pusar) pada garis mamilaris (garis yang melalui puting susu) kiri.
- H.3 : Limpa teraba di bawah garis horizontal melalui umbilicus.
- H.4 : Limpa teraba di bawah garis horozontal pertengahan antara umbilicus
dan symphisis pubis (tulang kemaluan).
- H.5 : Limpa teraba di bawah garis H.4.

Gambar derajat pembesaran limpa menurut klasifikasi Hacket.


Sumber: http://en.impact-malaria.com/
Ukuran Penyakit Malaria
Ada beberapa macam ukuran yang dapat digunakan untuk menggambarkan
besarnya masalah malaria (endemisitas) pada di suatu daerah, yang sering
digunakan di Indonesia adalah: Annual Malaria Incidence (AMI) dan Annual
Parasite Incidence (API). Sebelum tahun 2007, AMI sebagai ukuran tingkat
kesakitan malaria masih banyak dipakai di luar pulau Jawa dan Bali pada
daerah-daerah yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan laboratorium di tingkat
Puskesmas, sehingga masih mengandalkan gejala klinis dalam mendiagnosis
penyakit malaria. Pada masa kini, yang dipakai adalah ukuran API karena pada
umumnya Puskesmas sudah memiliki fasilitas pemeriksaan laboratorium
malaria.

a. Annual Malaria Incidence (AMI)


Annual Malaria Incidence adalah angka kesakitan malaria (malaria berdasarkan
gejala klinis) per 1000 penduduk dalam 1 tahun yang dinyatakan dalam permil
().
Rumus: Jumlah penderita malaria klinis
Jumlah penduduk

X 1000

Keterangan:
Yang dimaksud jumlah penderita malaria klinis adalah jumlah kasus malaria
klinis yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah
(Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) selama 1 tahun. Yang dimaksud jumlah
penduduk adalah jumlah penduduk (seluruh kelompok umur) yang tinggal di
wilayah tersebut pada pertengahan tahun (bulan juni).
Kegunaan AMI: untuk mengetahui insiden malaria klinis pada satu
daerah tertentu selama satu tahun.
b. Annual Parasite Incidence (API)
Annual Parasite Incidence adalah angka kesakitan malaria (berdasarkan hasil
pemeriksaan laboratorium) per 1000 penduduk dalam 1 tahun dinyatakan dalam
permil ().
Rumus:

Jumlah penderita positif malaria


Jumlah penduduk

X 1000

Keterangan:
Yang dimaksud jumlah penderita positif malaria adalah jumlah kasus malaria
yang dikonfirmasi positif melalui pemeriksaan mikroskopik (Sediaan Darah
Malaria) maupun tes diagnostik cepat / Rapid Diagnostic Test
(RDT) yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah
(Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) selama 1 tahun. Yang dimaksud jumlah
penduduk adalah jumlah penduduk (seluruh kelompok umur) yang tinggal di
wilayah tersebut pada pertengahan tahun (bulan juni).
Kegunaan API: untuk mengetahui insiden penyakit malaria pada satu
daerah tertentu selama satu tahun.
c. Annual Blood Examination Rate (ABER)

Annual Blood Examination Rate adalah jumlah rata-rata pemeriksaan sediaan


darah malaria dibandingkan dengan jumlah penduduk dalam 1 tahun yang
dinyatakan dalam persen (%).
Rumus:

Jumlah sediaan darah malaria yang diperiksa


Jumlah penduduk

X 100 %

Keterangan:
Yang dimaksud jumlah sediaan darah malaria yang diperiksa adalah jumlah
sediaan darah (slide) malaria yang diambil dan diperiksa yang ditemukan
melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah (Kecamatan, Kabupaten,
Provinsi) selama 1 tahun. Yang dimaksud jumlah penduduk adalah jumlah
penduduk (seluruh kelompok umur) yang tinggal di wilayah tersebut pada
pertengahan tahun (bulan juni).
Kegunaan ABER: untuk mengukur efisiensi operasional dan menilai API.
Penurunan API semakin bermakna bila disertai peningkatan ABER. Oleh karena
itu adanya penurunan API yang disertai penurunan ABER belum dapat diartikan
sebagai penurunan insiden malaria. Untuk daerah endemis malaria, WHO
merekomendasikan jumlah Sediaan Darah (slide) Malaria yang diperiksa
perbulan minimal 1% dari jumlah penduduk di daerah tersebut.
d. Slide Positivity Rate (SPR)
Slide Positivity Rate adalah persentase sediaan darah (slide) malaria yang
dikonfirmasi positif dibandingkan dengan jumlah seluruh slide yang diperiksa
di suatu daerah yang dinyatakan dalam persen (%).
Rumus:

Jumlah slide malaria positif


Jumlah slide malaria yang diperiksa

X 100 %

Keterangan:
Yang dimaksud jumlah slide malaria positif adalah jumlah sediaan darah (slide)
malaria yang dikonfirmasi positif yang ditemukan melalui kegiatan ACD dan
PCD di suatu wilayah (Kecamatan, Kabupaten, Provinsi) selama 1 bulan atau 1
tahun. Yang dimaksud jumlah slide malaria yang diperiksa adalah jumlah
seluruh slide malaria yang diambil dan diperiksa dari penduduk yang ditemukan
melalui kegiatan ACD dan PCD di suatu wilayah (Kecamatan, Kabupaten,
Provinsi) selama 1 bulan atau 1 tahun.
Kegunaan SPR: untuk menilai API. Peningkatan SPR biasanya diikuti
peningkatan API. Angka SPR lebih bermakna bila ABER tinggi.
e. Parasite Formula (PF)

Parasite Formula adalah proporsi setiap parasit malaria di suatu daerah.


Ada empat jenis spesies parasit malaria di dunia yang dapat menginfeksi sel
darah merah manusia dan menyebabkan jenis penyakit malaria yang berbeda,
yaitu: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan
Plasmodium ovale. Lihat disini.
Spesies malaria yang mempunyai PF tertinggi di suatu wilayah disebut spesies
dominan untuk wilayah tersebut.
Endemisitas Malaria
Besarnya masalah dan tingkat transmisi malaria di berbagai daerah di Indonesia
sangat bervariasi. Untuk membedakan besarnya tingkat transmisi malaria di
suatu wilayah (misal: Provinsi, Kabupaten/kota, Puskesmas, Desa) di tanah air,
dibuat pembagian berdasarkan besarnya angka API atau AMI daerah tersebut,
yaitu:
- Daerah endemis rendah: daerah dengan angka API <1 atau AMI <25 .
- Daerah endemis sedang: daerah dengan angka API 1-5 atau AMI 25-50 .
- Daerah endemis tinggi: daerah dengan angka API >5 atau AMI >50 .