Anda di halaman 1dari 9

pembahasan untuk talang ( IRIGASI )

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Sistem irigasi di Indonesia telah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu atau bahkan sejak
lebih dari 1000 tahun yang lalu. Van Setten van der Meer (1979) mengatakan bahwa masyarakat
petani di Jawa Barat telah mengenal sistem hidraulika sejak abad ke-5, sehingga dapat
membangun suatu saluran pengelak banjir sepanjang kurang lebih 10 km di muara Sungai
Citarum dekat Jakarta. Dengan pengenalan teknik hidraulika tersebut tentunya juga masyarakat
telah mengenal sistem jaringan irigasi yang teratur.Sistem irigasi telah dikenal di Jawa Tengah
sejak abad ke-9 sedangkan di Jawa Timur diperkirakan ada sistem irigasi sejak abad ke-8.saat ini
diperkirakan luas sawah beririgasi di Indonesia sekitar 6 juta ha, tersebar di seluruh Indonesia.
Dari fakta sejarah tersebut terbukti bahwa Indonesia pun terbukti masih membutuhkan
sistem irigasi meskipun terletak di kawasan beriklim tropis basah dengan karakteristik hujan
yang tinggi pada beberapa bulan di musim penghujan dan bulan-bulan kering.Mengapa orang di
daerah tropis seperti Indonesia masih membutuhkan irigasi?Dan apakah sebetulnya yang disebut
irigasi tersebut?
Irigasi dibutuhkan orang untuk beberapa fungsi.Fungsi pertama adalah untuk menambaha
air atau lengas tanah ke dalam tanah untuk memasok kebutuhan air bagi pertumbuhan tanaman.
Kemudian air irigasi juga dipakai untuk menjamin ketersediaan air/lengas apabila terjadi betatan
(dry spell), menurunkan suhu tanah, pelarut garam-garam dalam tanah, untuk mengurangi
kerusakan karena frost (jamur upas), untuk melunakkan lapis keras tanah (hard pan) dalam
pengolahan tanah.
Apabila disebutkan tentang sistem irigasi bayangan orang selalu dibawa pada suatu
bangunan fisik berupa bendung, dam, Rawa ataupun saluran yang membawa air untuk mengairi
tanaman.Namun orang selalu lupa bahwa agar bangunan tersebut dapat beroperasi dengan benar
maka diperlukan pula manusia yang mengoperasikan pintu-pintu, membersihkan sampah dari
dalam saluran, atau membagikan air dengan adil pada saat kekuarangan air. Oleh sebab itu perlu
ditakrifkan apa arti irigasi dan sistem irigasi itu.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Maksud dari penilisan Tugas ini adalah dalam rangka penyebarluasan ilmu pengetahuan
dan pengalaman teknik hidrolik khususnya bangunan irigasi, dan desiminasi hasil penelitian dan
pengembangan bangunan keairan. Seperti diketahui buku juga merupakan salah satu kunci untuk
melepasan diri dari ketinggalan pengetahuan dan teknologi yang terus tumbuh dan berkembang.
Penulisan buku ini di maksudkan pula sebagai penyediaan.
1.2.2 Tujuan.
1. Untuk memenuhi kredit sesuai dengan kurikulum yang telah di tetapkan oleh Universitas
Muhammadiya Mataram Jurusan Teknik Sipil.
2. Dengan menbuat tugas wajib ini :
Kita bisa mengetahui jenis jenis bangunan irigasi.
Kita bisa memahami bagaimana cara cara menghitung bangunan bangunan irigasi.
Kita bisa merencanakan jenis jenis bangunan banguna irigasi.
1.2.3 Maksud Pembangunan Jaringan Irigasi.
Salah satu faktor dari usaha peningkatan produksi pangan khususnya padi adalah
tersedianya air irigasi di sawah sawah sesuai dengan kebutuhan. Jika penyediaan air irigasi di
lakukan dengan tepat dan benar maka dapat menunjang peningkatan produksi padi sehingga
kebutuhan pangan nasional dapat terpenuhi. Untuk itu jaringan irigasi, baik saluran pembawa
maupun salauran pembuang dan bangunan irigasinya harus dapat beroperasi dengan baik.
Semua jaringan irigasi ini terdiri dari bangunan utama dan saluran baru. Jaringan irigasi
ini adalah yang menjadi utama didalam desain pekerjaan bangunan dan saluran, maka dengan
diadakan inspeksi lapangan secara terinci, maka didapat :
Panjang semua saluran induk/sekunder.
Rencana lining (pasangan batu kali) pada saluran yang dianggap perlu.
Sebagaimana halnya penduduk dunia yang meningkat terus, kebutuhan makanan dan
bahan-bahan sandang untuk masyarakat juga akan meningkat. Masyarakat yang mempunyai
pengetahuan tentang irigasi akan ditantang untuk mencari penyelesaian masalah kebutuhan
makanan dan bahan-bahan sandang tersebut. Air harus harus disediakan untuk tanah yang lebih

luas, tanah yang tandus menjadi sangat produktif apabila ada air irigasi.Produktifitas tanah yang
sekarang menghasilkan makanan dan bahan-bahan sandang yang mengandalkan curah hujan
alamiah secara umum dapat ditingkatkan secara bermakna dengan pemakaian air irigasi.
Irigasiadalah kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan usaha mendapatkan air untuk
sawah, ladang, perkebunan dan lain-lain usaha pertanian, dan dalam tujuan irigasi dibahas tujuan
irigasi secara langsung adalah membasahi tanah dan tujuan irigasi secara tidak langsung
mencakup antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

mengatur suhu
membersihkan
memberantas hama
mempertinggi permukaan air tanah
penggelontoran
kolmatasi.
Dalam kaitan saluran irigasi dengan saluran drainase disini dibahas tentang fungsisaling
menunjang dan berkaitan tetapi di dalam proses perencanaannya ditentukan olehfaktor atau dasar
asumsi yang berbeda. Satuan air kolam irigasi dibahas tentang tebal air, volume air, debit air dan
satuan air yang digunakan oleh negara lain. Pembagian daerah irigasi disini membahas tentang
pembagian suatu daerah irigasi dari petak-petak yang lebih besar ke petak-petak yang lebih kecil
seperti : petak primer yang merupakan petak terbesar, petak sekunder, petak tersier sampai petak
kwarter yang merupakan petak terkecil.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Tujuan Irigasi
2.1.1 Pengertian Irigasi
Yang dimaksud dengan istilah irigasi adalah kegiatan - kegiatan yang bertalian
denganusaha mendapatkan air untuk sawah, ladang, perkebunan dan lain-lain usaha pertanian,
rawa - rawa, perikanan.
Usaha tersebut terutama menyangkut pembuatan sarana dan prasarana untuk membagibagikan air ke sawah-sawah secara teratur dan membuang airkelebihan yang tidak diperlukan
lagi untuk memenuhi tujuan pertanian. Masih sering kita jumpai istilah irigasi ini diganti dengan

istilah "Pengairan". Untuk sementara istilah irigasi kita anggap punya pengertian yang sama
dengan istilah pengairan.
2.1.2 Tujuan Irigasi
Tujuan irigasi dibedakan menjadi dua yaitu tujuan irigasi secara langsung dan secara tidak
langsung.
a. Tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah, agar dicapai suatu kondisi tanah yang
baik untuk pertmbuhan tanaman dalam hubungannya dengan prosentase kandungan air dan udara
diantara butir-butir tanah. Pemberian air dapat juga mempunyai tujuan sebagai pengangkut
bahan-bahan pupuk untuk perbaikan tanah.
b. Tujuan irigasi secara tidak langsung adalah pemberian air yang dapat menunjang usaha pertanian
melalui berbagai cara antara lain :
Mengatur suhu tanah, misalnya pada suatu daerah suhu tanah terlalu tinggi dantidak sesuai
untuk pertumbuhan tanaman maka suhu tanah dapat disesuaikan dengan cara mengalirkan air
yang bertujuan merendahkan suhu tanah.
Membersihkan tanah, dilakukan pada tanah yang tidak subur akibat adanya unsu-runsur racun
dalam tanah. Salah satu usaha misalnya penggenangan air di sawah untuk melarutkan unsur

unsur berbahaya tersebut kemudian air genangan dialirkan ketempat pembuangan.


Memberantas hama, sebagai contoh dengan penggenangan maka liang tikus bisa direndam dan

tikus keluar, lebih mudah dibunuh.


Mempertinggi permukaan air tanah, misalnya dengan perembesan melalui dinding-dinding
saluran, permukaan air tanah dapat dipertinggi dan memungkinkan tanaman untuk mengambil air

melalui akar-akar meskipun permukaan tanah tidak dibasahi.


Membersihkan buangan air kota (penggelontoran), misalnya dengan prinsip pengenceran karena
tanpa pengenceran tersebut air kotor dari kota akan berpengaruh sangat jelek bagi pertumbuhan

tanaman.
Kolmatasi, yaitu menimbun tanah-tanah rendah dengan jalan mengalirkan air berlumpur dan
akibat endapan lumpur tanah tersebut menjadi cukup tinggi sehingga genangan yang terjadi
selanjutnya tidak terlampau dalam kemudian dimungkinkan adanya usaha pertanian.

2.2 Pembagian Daerah Irigasi


Pembagian suatu daerah irigasi ke dalam petak-petak lebih kecil.
a. Petak Primer adalah saluran induk yang mengambil air langsung dari bangunan penangkap air,
misalnya bendung pada sungai. Daerah pengairan yang dilayani saluran induk ini merupakan

suatu kesatuan daerah irigasi yang disebut petak primer. Saluransaluran sekunder mengambil air
dari saluran induk (saluran primer) dan melayani sebagian daerah petak primer.
b. Petak Sekunder adalah petak irigasi yang mengambil / memperoleh air dari saluran sekunder.
c. Petak Tersier adalah petak irigasi yang lebih kecil dari petak sekunder yang mengambil air dari
bangunan bagi pada saluran sekunder maupun pada saluran.
d. Petak kwarter adalah cabang-cabang saluran tersier ini merupakan saluran-saluran kwarter dan
melayani petak-petak kwarter. Dalam suatu daerah irigasi, pembagian daerah ke dalam petak petak lebih kecil dengan makdud mencapai pembagian daerah yang ideal untuk menunjang
pengelolaan air yang efektif tidak selalu mudah berhubung keadaan daerah yang sudah punya
batas-batas alam dan kerap kali batas-batas alam tersebut kurang teratur. Maka untuk maksud
pembagian daerah secara baik kerap kali dibuat saluran sub sekunder yang melayani petak sub
sekunder, saluran sub tersier yang melayani petak sub tersier dan saluran sub kwarter yang
melayani petak sub kwarter. Saluran kwarter dalam pembicaraan irigasi bering juga disebut
saluran distribusi. Pengelolaan air pada tingkat tersier pada umumnya dilakukan oleh petani
sendiri, dan kontrol yang dilakukan pemerintah umumnya masih terbatas pada saluran sekunder
keudik, meliputi saluran primer dan bangunan penangkap airnya.
Pada beberapa petek tersier percontohan pemerintah membantu petani mengatur
penggunaan air pada tingkat tersier dengan maksud hasil-hasil yang baik dapat ditiru di tempat
lain. Demikian pula untuk beberapa daerah pemerintah telah membuat perencanaan teknis
sampai tingkat tersier.
2.3 Jaringan Irigasi
Jaringan Irigasi merupakan suatu kesatuan saluran dan bangunan yang dipergunakan
untuk mengalirkan air dari sungai ke sawah berdasarkan besarnya kebutuhan air pada petak petak kuarter, besarnya kebutuhan akan air dipetak kuarter untuk Irigasi ini akan mempengaruhi
kapasitas saluran kuarter. Besarnya kapasitas saluran pada petak kuarter akan mempengaruhi
besarnya kapasitas saluran di saluran tersier, besarnya, kapasitas saluran tersier akan berpengaruh
pada kapasitas saluran sekunder kemudian akan berpengaruh terhadap kapasitas saluran primer
dan bangunan utama (Headworks).
Dalam suatu jaringan irigasi dapat dibedakan adanya empat unsur pokok yaitu :
a. Bangunan utama (Headworks), dimana air diambil dari sumbernya (Sungai, Waduk, dll).
b. Jaringan pembawa, berupa saluran yang mengalirkan air irigasi ke petak petak Tersier.

c. Petak Tersier, dengan sistem pembagian air dan sistem pembuangan kolektif ; airirigasi dibagi bagi dan dialirkan kesawah - sawah dan kelebihan air ditampung didalam suatu sistern
pembuangan didalam petak tersier.
d. Sistem pembuang, yang ada diluar daerah irigasi untuk membuang kelebihan air kesungai atau
kesaluran - saluran alamiah.
Jaringan Irigasi dibagi atas :
1. Jaringan Irigasi Sederhana
Jaringan irigasi sederhana adalah suatu jaringan irigasi yang biasanya tidak mempunyai
bangunan pengambilan permanen biasanya berupa pengambilan bebas (Free Intake), biasanya

a.
b.
c.
d.

saluran irigasinya terbuat dari tanah.


Klasifikasi jaringan irigasi sederhana
Pembagian air irigasi tidak diatur atau diukur, air lebih akan mengalir ke saluran pembuang.
Saluran irigasi dan saluran pembuang tidak pisah.
Pemakai air dari satu kelompok sosial yang sama.
Kemiringan daerah biasanya dari sedang sampai curam. laringan irigasi terletak pada daerah
yang tinggi sehingga air yang terbuang tidak selamanya mencapai daerah yang rendah yang lebih
subur.Persediaan air biasanya berlimpah. Terdapat banyak penyadapan yang memerlukan lebih
banyak biaya dari penduduk setempat.
Gambar jaringan irigasi sederhana

2. Jaringan Irigasi Semi Teknis


Jaringan irigasi semi teknis adalah suatu jaringan irigasi yang biasanya sudah mempunyai
bangunan pengambilan berupa bendung, akan tetapi belum sepenuhnya terdapat pemisahan
antara saluran irigasi dan saluran pembuang.
Klasifikasi Jaringan Irigasi Semi Teknis
a. Bendungnya terletak disungai lengkap dengan pengambilan dan bangunan pengukur di hilirya.
b. Terdapat beberapa bangunan permanen dijaringan saluran. Daerah layanan irigasi semi teknis
lebih besar dari dari irigasi sederhana. Diperlukan keterlibatan Pemerintah dalam pemeliharaan
dan pengelolaan bangunan pengambilan.
c. Terdapat pemisahan antara saluran irigasi dan saluran pembuang tetapi tidak semuanya.
Gambar jaringan irigasi semi Teknis
3. Jaringan irigasi teknis

Jaringan irigasi teknis adalah salah satu model jaringan yang didasarkan atas cara pembagian air
yang paling effisien dengan mempertimbangkan waktu merosotnya air sertakebutuhan kebutuhan pertanian.
Klasifikasi Jaringan irigasi Teknis:
a. Terdapat bangunan pengambilan yang permanen.
b. Pemanfaatan air lebih ekonomis dengan biaya pembuatan saluran lebih rendah karenasaluran
pembawa dapat dibuat lebih pendek dengan kapasitas yang lebih kecil.
c. Jaringan irigasi teknis memungkinkan dilakukannya pengukuran aliran, pembagian airirigasi dan
pembuangan air lebih efisien. Terdapat pemisahan antara jaringan irigasi dan jaringan pembuang.
d. Saluran irigasi mengalirkan air kesawah-sawah dan saluran pembuang mengalirkan air lebih dari
sawah-sawah ke selokan-selokan atau saluran pembuang alamiah yang kemudian membuangnya
ke laut.
e. Petak tersier menduduki posisi sentral dalam jaringan irigasi teknis, luas petak 50 100ha
kadang - kadang dapat mencapai 150 ha.
f. Biaya eksploitasi dan pemeliharaan lebih murah.
Gambar Jaringan irigasi Teknis
2.4 Pengklasifikasian Saluran Irigasi
a. Saluran Air Tertutup

Drainase Bawah Tanah Tertutup, yaitu saluran yang menerima air limpasan dari daerah yang
diperkeras maupun yang tidak diperkeras dan membawanya ke sebuah pipa keluar di sisi tapak
(saluran permukaan atau sungai), ke sistem drainase kota.

Drainase Bawah Tanah Tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, dimana drainase ini
mampu menampung air limpasan dengan volume dan kecepatan yang meningkat tanpa
menyebabkan erosi dan kerusakan pada tapak.
b. Saluran Air Terbuka
Merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan bebas.Pada saluran air
terbuka ini jika ada sampah yang menyumbat dapat dengan mudah untuk dibersihkan, namun
bau yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut asalnya, saluran dibedakan
menjadi :
o Saluran Alam (natural), meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil dan sungai besar sampai saluran
terbuka alamiah.

o Saluran Buatan (artificial), seperti saluran pelayaran, irigasi, parit pembuangan, dan lain-lain.
Saluran terbuka buatan mempunyai istilah yang berbeda-beda antara lain :
Saluran (canal) : biasanya panjang dan merupakan selokan landai yang dibuat di tanah, dapat
dilapisi pasangan batu/tidak atau beton, semen, kayu maupu aspal.
Talang (flume) : merupakan selokan dari kayu, logam, beton/pasangan batu, biasanya
disangga/terletak di atas permukaan tanah, untuk mengalirkan air berdasarkan perbedaan tinggi
tekan.
Got miring (chute) : selokan yang curam.
Terjunan (drop) : seperti got miring dimana perubahan tinggi air terjadi dalam jangka pendek.
Gorong-gorong ( box culvert) : saluran tertutup (pendek) yang mengalirkan air melewati jalan
raya, jalan kereta api, atau timbunan lainnya.
Terowongan Air Terbuka (open-flow tunnel) : selokan tertutup yang cukup panjang, dipakai
untuk mengalirkan air menembus bukit/gundukan tanah.
o Saluran Air Kombinasi, dimana limpasan air terbuka dikumpulkan pada saluran drainase
permukaan, sementara limpasan dari daerah yang diperkeras dikumpulkan pada saluran drainase
tertutup.
2.5 Pengertian Talang
Talang adalah saluran buatan yang dibuat dari pasangan beton bertulang , kayu atau baja
maupun beton ferrocement , didalamnya air mengalir dengan permukaan bebas, dibuat melintas
lembah dengan panjang tertentu (umumnya dibawah 100 m ) , saluran pembuang, sungai, jalan
atau rel kereta api,dan sebagainya. Dan saluran talang minimum ditopang oleh 2 (dua ) pilar atau
lebih dari konstruksi pasangan batu untuk tinggi kurang 3 meter ( beton bertulang pertimbangan
biaya ) dan konstruksi pilar dengan beton bertulang untuk tinggi lebih 3 meter.
2.5.1
Potongan melintang Talang yaitu :
Potongan melintang bangunan tersebut ditentukan oleh nilai banding b/h, dimana b
adalah lebar bangunan dan h adalah kedalaman air. Nilai-nilai banding berkisar antara 1 sampai 3
yang menghasilkan potongan melintang hidrolis yang lebih ekonomis.
2.5.2

Kecepatan yang dipakai di dalam perencanaan Talang

Kecepatan di dalam bangunan lebih tinggi daripada kecepatan dipotongan saluran biasa.
Tetapi, kemiringan dan kecepatan dipilih sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kecepatan
superkritis atau mendekati kritis, karena aliran cenderung sangat tidak stabil. Untuk nilai banding
potongan melintang pada pasal 5.6.1, ini memberikan kemiringan maksimum I = 0,002.

2.5.3

Tinggi jagaan untuk air yang mengalir pada talang

Tinggi jagaan untuk air yang mengalir dalam talang atau flum didasarkan pada debit,
kecepatan dan faktor-faktor lain. Harga-harga tinggi jagaan dapat diambil dari KP - 03 Saluran,
pasal 4.3.6 Saluran Pasangan.
Untuk talang yang melintas sungai atau pembuang, harus dipakai harga-harga ruang bebas
berikut:
- Pembuang intern Q5 + 0,50 m
- Pembuang ekstern Q25 + 1,00 m
- Sungai: Q25 + ruang bebas bergantung kepada keputusan perencana, tapi tidak kurang dari 1,50
m. Perencana akan mendasarkan pilihannya pada karakteristik sungai yang akan dilintasi, seperti
kemiringan, benda - benda hanyut, agradasi atau degradasi.
2.5.4

Penentuan tempat talang irigasi

Penentuan tempat talang ditentukan oleh kegunaannya untuk mengalirkan air pada
saluran irigasi dan meneruskan air irigasi yang terhalang oleh sungai. Talang dapat ditempatkan
pada sungai dan disamping jembatan guna untuk membawa air ke lahan daerah irigasi. Dan
dapat dilihat pada gambar dibawah untuk letak talang.