Anda di halaman 1dari 24

A.

DEFINISI
Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguan
terhadap absorbsi, pencernaan, dan penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan,
perkembangan dan aktivitas.Malnutrisi merupakan kekurangan konsumsi
pangan secara relatif atau absolute untuk periode tertentu. (Bachyar Bakri,
2002)
Malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak mendapat asupan gizi
yang cukup, malnutrisi dapat juga disebut keadaaan yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan di antara pengambilan makanan dengan kebutuhan gizi
untuk mempertahankan kesehatan. Ini bisa terjadi karena asupan makan
terlalu sedikit ataupun pengambilan makanan yang tidak seimbang. Selain itu,
kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat terjadinya malabsorpsi makanan
atau kegagalan metabolik (Oxford medical dictionary, 2007).
WHO dalam Medscape (2014) mendefinisikan malnutrisi sebagai
ketidakseimbangan seluler antara suplai nutrisi dan energi dan kebutuhan
tubuh untuk pertumbuhan, pertahanan, dan fungsi-fungsi spesifik lainnya.
Malnutrisi merupakan faktor resiko yang paling utama untuk penyakit dan
kematian pada anak, dengan menyebabkan lebih dari setengah kematian
anak di dunia. Jenis yang paling banyak menyebabkan penyakit, khususnya
di negara berkembang, adalah malnutrisi protein-energi (PEM).
Menurut UNICEF (2004) malnutrisi berarti lebih dari sekedar perasaan
lapar atau tidak mempunyai cukup makanan untuk dimakan. Ketidakcukupan
makanan ini meliputi asupan protein (penting untuk mempertahankan
kesehatan tubuh dan membentuk otot), kalori (ukuran kebutuhan energi
tubuh), besi (untuk fungsi sel darah), dan nutrien lain yang menyebabkan
berbagai tipe malnutrisi. Jika tubuh tidak menerima energi yang dibutuhkan
dalam makanan, maka kehilangan berat badan akan terjadi.
B. KLASIFIKASI
Kurang Energi Protein (KEP)
Penyebab KEP dapat dibagi kepada dua penyebab yaitu malnutrisi primer
dan malnutrisi sekunder. Malnutrisi primer adalah keadaan kurang gizi yang
disebabkan oleh asupan protein maupun energi yang tidak adekuat.
Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi yang terjadi karena kebutuhan yang

meningkat, menurunnya absorpsi dan/atau peningkatan kehilangan protein


maupun energi dari tubuh (Kleigmen et al, 2007).
Secara klinis, KEP dapat dibagikan kepada tiga tipe yaitu, kwashiorkor,
marasmus,

dan

marasmik-kwashiorkor.

Marasmus

terjadi

karena

pengambilan energi yang tidak cukup sementara kwashiorkor terjadi


terutamanya karena pengambilan protein yang tidak cukup. Sementara tipe
marasmik kwashiorkor yaitu gabungan diantara gejala marasmus dan
kwashiorkor (Kleigmen et al, 2007).
Klasifikasi KEP menurut Depkes RI (1999)
Kategori

Status

BB/U
(%Baku WHO-NCHS, 1983)

KEP I (KEP Ringan)


KEP II (KEP Sedang)
KEP III (KEP Berat)

Gizi Sedang
Gizi Kurang
Gizi Buruk

70 % 79,9 % Median BB/U


60 % 69,9 % Median BB/U
< 60 % Median BB/U

Klasifikasi KEP menurut WHO


Klasifikasi
Malnutrisi Sedang
Malnutrisi Berat
Edema
Tanpa edema
Dengan edema
BB/TB
-3SD s/d -2 SD
< -3 SD
TB/U
-3SD s/d -2 SD
< -3 SD
Secara klinis, KEP dapat dibagikan kepada tiga tipe yaitu, kwashiorkor,
marasmus, dan marasmik-kwashiorkor. (Kleigmen et al, 2007).
1. Marasmus (Atrofi infantile, kelemahan, insufisiensi

nutrisi

bayi

(athrepesia))
Marasmus terjadi karena pengambilan energi yang tidak cukup
2. Malnutrisi protein (Malnutrisi protein-kalori (PCM), kwashiorkor)
Kwashiorkor merupakan sindroma klinis akibat dari malnutri protein berat
(MEP berat) dan masukan kalori tidak cukup. kwashiorkor terjadi
terutamanya karena pengambilan protein yang tidak cukup.
3. Marasmik-Kwashiorkor

Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik


kwashiorkor

dan

marasmus.

Makanan

sehari-hari

tidak

cukup

mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal.


Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan < 60% dari
normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan
rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula
(Depkes RI, 2000)

Dalam FAO (2011) disebutkan bahwa ada 2 tipe malnutrisi :


1. Protein Energy Malnutrition (PEM) = malnutrisi yang disebabkan oleh
defisiensi beberapa atau semua nutrient baik makronutrien atau
mikronutrien.
2. Micronutrient Deficiency Disease (MDDS) = malnutrisi yang terjadi
sebagai hasil dari defisiensi mikronutrien spesifik (vitamin atau mineral
tertentu)
C. ETIOLOGI
Penyabab langsung:
a. Kurangnya Asupan Makanan: kurangnya asupan makanan sendiri
dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan,
kurangnya kualitas makanan yang diberikandan cara pemberian
makanan yang salah.
b. Adanya Penyakit: terutama penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah
asupan makanan dan penggunaan nutrient oleh tubuh. Infeksi apapun
dapat memperburuk keadaan gizi, malnutrisi walaupun masih ringan
mempunyai pengaruh negatifpada daya tahan tubuh terhadap infeksi.

Penyebab tidak langsung:


a. Kurangnya Ketahanan Pangan Keluarga: keterbatasan keluarga untuk
menghasilkan atau mendapatkan makanan. Penyakit kemiskinan
malnutrisi merupakan problem bagi golongan bawah masyarakat
tersebut.
b. Kualitas Perawatan Ibu Dan Anak.
c. Buruknya Pelayanan Kesehatan.
d. Sanitasi Lingkungan Yang Kurang.
e. Faktor Keadaan Penduduk.

a. Marasmus
Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut:
1. Pemasukan kalori yang tidak cukup. Marasmus terjadi akibat masukan
kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan
yang dianjurkan akibat dari ketidak tahuan orang tua si anak.
2. Kebiasaan makan yang tidak tepat. Seperti mereka yang mempunyai
hubungan orang tua-anak terganggu.
3. Kelainan

metabolik.

Misalnya:

renal

asidosis,

idiopathic

hypercalcemia,galactosemia, lactose intolerance.


4. Malformasi kongenital. Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit
Hirschprung,

deformitas

palatum,

palatoschizis,

micrognathia,

stenosispilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pankreas.


b. Kwashiorkor
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang
berlangsung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan kwashiorkor antara
lain :
1. Pola makan Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat
dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake
makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan
mengandung protein/asam amino yang memadai. Bayi yang masih menyusui
umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya, namun bagi
yang tidak memperoleh ASI protein dari sumber-sumber lain (susu,
telur, keju, tahu dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya
pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting

terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI


kemakanan pengganti ASI.
2. Faktor sosial. Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk
yang tinggi, keadaan sosial dan politik tidak stabil ataupun adanya
pantangan

untuk

menggunakan

makanan

tertentu

dan

sudah

berlangsung turun-turun dapat menjadi hal yang menyebabkan


terjadinya kwashiorkor.
3. Faktor ekonomi. Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak
dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak
tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi
kebutuhan proteinnya.
4. Faktor infeksi dan penyakit lain. Telah lama diketahui bahwa adanya
interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat
memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP,walaupun dalam
derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi.
c. Marasmic Kwashiorkor
Penyebab marasmic kwashiorkor dapat dibagi menjadi dua penyebab yaitu
malnutrisi primer dan malnutrisi sekunder. Malnutrisi primer adalah keadaan
kurang gizi yang disebabkan oleh asupan protein maupun energi yang tidak adekuat.
Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi yang terjadi karena kebutuhan yang
meningkat, menurunnya absorbsi dan/atau peningkatankehilangan protein
maupun energi dari tubuh.

D. EPIDEMIOLOGI
World Food Programme (WFP) memperkirakan 13 juta anak di
Indonesia menderita malnutrisi. Ada beberapa wilayah di Indonesia, yang
sekitar 50% bayi dan anak-anak mempunyai berat badan rendah. Survei yang
dipublikasi oleh Church World Service (CWS), pada suatu studi kasus di 4
daerah wilayah Timor Barat (Kupang, Timur Tengah Selatan (TTS), Timur
Tengah Utara (TTU), dan Belu) menunjukkan sekitar 50% dari bayi dan anakanak adalah underweight sedang dan/atau underweight berat. Bersama
dengan Helen Keller International dan UNICEF, CWS West Timor survei

menyimpulkan 13,1% dari seluruh anak di bawah usia 5 tahun menderita


malnutrisi akut, sedangkan 61,1% dari bayi baru lahir sampai umur 59 bulan
menderita malnutrisi kronik (Church World Service (CWS), 2008).
Berdasarkan Riskesdas 2007:
Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang
diatas prevalensi nasional, yaitu :
Nanggroe

Aceh

Darussalam

Kalimantan Timur (19,2%)


Sulawesi Tengah (27,6%)
Sulawesi Tenggara (22,7%)
Gorontalo (25,4%)
Sulawesi Barat (16,4%)
Maluku (27,8%)
Maluku Utara (22,8%)
Papua Barat (23,2%)
Papua (21,2) (Riskesdas, 2007).

(26,5%)
Sumatera Utara (22,7%)
Sumatera Barat (20,2%)
Riau (21,4%)
Jambi (18,9%)
Nusa Tenggara Barat (24,8%)
Nusa Tenggara Timur (33,6)
Kalimantan Barat (22,5%)
Kalimantan Tengah (24,2%)
Kalimantan Selatan (26,6%)
Namun terjadi penurunan di Sumatera Barat dari (20,2%) di tahun 2007 ke
14,4% di tahun 2011.
E. FAKTOR RESIKO
Secara garis besar sebab-sebab Marasmus ialah sebagaiberikut:
1. Masukan makanan yang kurang
Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit,pemberian makanan
yang tidak sesuai dengan yang dianjurkanakibat dari ketidaktahuan orang tua
si anak; misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.
2. Infeksi
Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus,terutama infeksi enteral
misalnya infantil gastroenteritis,bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis
kongenital.
3. Kelainan struktur bawaan
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung,deformitas palatum,
palatoschizis, micrognathia, stenosispilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic
fibrosis pancreas.
4. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus

Pada

keadaan-keadaan

tersebut

pemberian

ASI

kurangakibat

reflek

mengisap yang kurang kuat.


5. Pemberian ASI
Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang
cukup.
6. Gangguan metabolik
Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose
intolerance.
7. Tumor hypothalamus
Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang lain telah
disingkirkan.
8. Penyapihan
Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberianmakanan yang kurang
akan menimbulkan marasmus.
9. Urbanisasi
Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisiuntuk timbulnya
marasmus; meningkatnya arus urbanisasidiikuti pula perubahan kebiasaan
penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan
susu yang terlaluencer akibat dari tidak mampu membeli susu; dan bila
disertaidengan infeksi berulang, terutama gastro enteritis akanmenyebabkan
anak jatuh dalam marasmus.
Kwashiorkor
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang
berlansung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersbut diatas antara
lain :
1. Pola makan
Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk
tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori
yang cukup, tidak semua makanan mengandung protein/ asam amino yang
memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari
ASI yang diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein
adri sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dan lain-lain) sangatlah
dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi

anak berperan penting terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa


peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.
2. Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan
sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya

pantangan untuk

menggunakan makanan tertentu dan sudah berlansung turun-turun dapat


menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor.
3. Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak
terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan
proteinnya.
4. Faktor infeksi dan penyakit lain
Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan
infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan
sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan
imunitas tubuh terhadap infeksi.
Faktor resiko lain
a. Pendidikan ibu yang rendah
Kurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan
pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia.
Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan
faktor penting dalam masalah kurang gizi.Salah satu faktor yang
menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang rendah.
Adanya pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan seseorang kurang
mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupan.35
Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam
keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi
pangan yang merupakan penyebab langsung dari ekurangan gizi pada
anak balita.Tingkat pendidikan terutama tingkat pendidikan ibu dapat
mempengaruhi derajat kesehatan karena pendidikan ibu berpengaruh
terhadap kualitas pengasuhan anak
b. Pengetahuan ibu

Ibu merupakan orang yang berperan penting dalam penentuan konsumsi


makanan dalam keluaga khususnya pada anak balita. Pengetahuan yang
dimiliki ibu berpengaruh terhadap pola konsumsi makanan keluarga.
Kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi menyebabkan keanekaragaman
makanan yang berkurang. Keluarga akan lebih banyak membeli barang
karena pengaruh kebiasaan, iklan, dan lingkungan. Selain itu, gangguan
gizi juga disebabkan karena kurangnya kemampuan ibu menerapkan
informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari.
c. Penyakit penyerta
Diare Persisten
Tuberkulosis
HIV AIDS
Penyakit tersebut di atas dapat memperjelek keadaan gizi melalui
gangguan masukan makanan dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi
esensial tubuh. Terdapat hubungan timbal balik antara kejadian penyakit
dan gizi kurang maupun gizi buruk.Anak yang menderita gizi kurang dan
gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan
terhadap penyakit.
d. BBLR
Gizi buruk dapat terjadi apabila BBLR jangka panjang.Pada BBLR zat anti
kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit
terutama penyakit infeksi. Penyakit ini menyebabkan balita kurang nafsu
makan sehingga asupan makanan yang masuk kedalam tubuh menjadi
berkurang dan dapat menyebabkan gizi buruk.
e. Kelengkapan imunisasi
Sistem kekebalan tersebut yang menyebabkan balita menjadi tidak
terjangkit sakit. Apabila balita tidak melakukan imunisasi, maka kekebalan
tubuh balita akan berkurang dan akan rentan terkena penyakit. Hal ini
mempunyai dampak yang tidak langsung dengan kejadian gizi.
F. PATOFISIOLOGI (terlampir)

G. MANIFESTASI KLINIS
Adapun menurut Kementerian RI (2011) menyebutkan:
1) Gizi Buruk Tanpa Komplikasi
a. BB/TB: < -3 SD dan atau;
b. Terlihat sangat kurus dan atau;
c. Adanya Edema dan atau;

d. LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan


2) Gizi Buruk dengan Komplikasi
Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah satu atau
lebih dari tanda komplikasi medis berikut:
a. Anoreksia
b. Pneumonia berat
c. Anemia berat
d. Dehidrasi berat
e. Demam sangat tinggi
f. Penurunan kesadaran
Menurut Ngastiyah (1997) penderita kekurangan energi protein akan
memberikan gambaran klinik berupa:
a. Pertumbuhan terganggu meliputi berat badan dan tinggi badan.
b. Perubahan mental berupa cengeng dan apatis.
c. Adanya cederm ringan atau berat karena penurunan protein plasma.
d. Jaringan lemak dibawah kulit menghilang, kulit keriput dan tanus otot
menurun.
e. Kulit bersisik
f. Anemia
g. Carzy pavemen permatosisis (bercak-bercak putih dan merah muda
dengan tepi hitam).
h. Pembesaran hati

Tanda gejala penyakit berdasarkan tipe KEP , antara lain

Secara umum telah disepakati bahwa tanda yang khas pada kwashiorkor
adalah bila ditemukanya pitting edema sedangkan tanda utama yang
ditemukan pada anak dengan marasmus adalah berat badan yang sangat
kurang dari yang seharusnya, apabila pada seorang anak ditemukan kedua
keadaan ini kita sebut sebagai marasmus kwashiorkor

Marasmus
Ciri dari marasmus menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2004) antara lain:
a. Penampilan wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
b. Perubahan mental
c. Kulit kering, dingin dan kendur
d. Rambut kering, tipis dan mudah rontok
e. Lemak subkutan menghilang sehingga turgor kulit berkurang
f. Otot atrofi sehingga tulang terlihat jelas
g. Sering diare atau konstipasi (berupa bercak hijau tua yang terdiri dari
sedikit lendir dan sedikit tinja.)
h. Kadang terdapat bradikardi
i. Tekanan darah lebih rendah dibandingkan anak sehat yang sebaya
j. Kadang frekuensi pernafasan menurun
Vena superfisialis akan terlihat jelas, ubun-ubun besar cekung, tulang
pipi dan dagu menonjol dan mata tampak besar dan dalam. Perut tampak
membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas dan tampak atropi
(Hassan et al, 2005).
Kwarsiorkor
Ciri dari Kwashiorkor menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2004) antara
lain

a. Perubahan mental sampai apatis


b. Sering dijumpai Edema. Biasanya dimulai dari tungkai yang menyebar
luas sampai ke lengan, tangan dan wajah.
c. Atrofi otot
d. Gangguan sistem gastrointestinal (anoreksia dan diare.)
e. Perubahan kulit (kering dengan menunjukkan garis-garis yang lebih
mendalam dan lebar ) crazy pavement dermatosis yang merupakan
bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi hitam dan ditemukan
pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan dan disertai
kelembapan
f. Perubahan rambut (Rambut kepala penderita kwashiorkor senang
dicabut tanpa rasa sakit, kusam, kering, halus, jarang dan berwarna
putih)
g. Pembesaran hati, kenyal, permukaan licin, dan pinggiran tajam Karena
adanya Infiltrasi lemak hati
h. Anemia (kadar albumin serum yang rendah dan kadar globulin yang
normal atau sedikit meninggi )

i. Gagal tumbuh. tinggi badan akan lebih pendek dari anak normal, kecuali
berat badan, berat badan akan lebih dari normal disebabkan karena
adanya edema.
j. Diare: frekuensi BAB yang meningkat , sulit untuk ditahan , dan terdiri
dari partikel makanan yang belum dicerna , terkadang mempunyai bau
yang menyengat, dapat berupa air dan bercampur darah.
k. Moonface : pipi akan terlihat membengkak berisi jaringan lemak atau
cairan yang dikenal dengan istilah moon face (wajah seperti bulan)

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
A.

Malnutrisi Kwasiorkor
a.
Anamnesis
a) Identitas pasien dan keluarga
b) Keluhan utama
1.
Berat badan yang kurang
c) Keluhan tambahan
1.
Anak tidak mau makan (anoreksia)
2.
Anak tampak lemas dan menjadi lebih pendiam
3.
Sering menderita sakit yang berulang
d) Riwayat makanan:

1. Nutrisi : pola kebiasaan makanan meliputi jenis


makanan, frekuensi, porsi/jumlah, dll
e) Riwayat keluarga
b.

Pemeriksaan fisik
Yang dapat dijumpai pada pemeriksaan fisik antara lain:
1. Inspeksi
a)
Edema
b)
Kurus
c)
Pucat
d)
Moo face
e)
Kelainan kulit (hiperpigmentasi)
f)
Crazy pavement dermatosis
2. Palpasi
a)
Hepatomegali
3. Pengukuran antoprometri (BB, TB, lingkaran kepala atas, dan
lengan lipatan kulit)
4. Pemeriksaan penunjang
5. Pemeriksaan laboratorium
a)
Tes darah(hb, glukosa, protein serum, albumin)
b)
Kadar enzim pencernaan
c)
Biopsy hati, biasanya ditemukan perlemakan ringan
sampai berat,finrosis,nekrosis. Pada perlemakan berat
d)

B.
a.

Malnutrisi Marasmus
Anamnesis
1.
2.
3.
4.

b.

hamper semua sel hati mengandung vakuol lemak besar


Pemeriksaan tinja dan urin

Keluhan utama
a. Kurus(perubahan BB)
b. Tampak seperti orang tua
Keluhan tambahan
Riwayat makanan
Kebiasaan makan

Pemeriksaan fisik
1. Mengukur TB dan BB
2. Menghitung indeks masa tubuh, yaitu BB(dalam kg) dibagi
dengan TB(dalam meter)
3. Mengukur ketebalan kulit dilengan atas sebelah belakang
(lipatan trisep) ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak
dibawah kulitnyadapat diukur, biasanya dengan menggunakan
jangka lengkung (kapiler). Lemak dibawah kulit banyaknya

adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25
cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.
4. Status gizi juga diperoleh dengan mengukur LLA untuk
memperkirakan jumlah oto rangka dalam tubuh (lead body
massa)
c.

Pemeriksaan penunjang
1.
2.
3.
4.
5.

C.

Hb
Ht
Albumin
Serum ferritin
Elektrolit

Malnutrisi Marasmus Kwasiorkor


a.
Anamnesis
1.

2.

3.

b.

Keluhan utama:
a. Berat badan berkurang
b. Kurus
c. Tampak seperti orang tua
Keluhan tambahan:
a. Rambut tipis, pirang dan mudah dicabut
b. Anak tampak lemas dan menjadi pendiam
c. Sering menderita sakit yang berulang
Riwayat keluarga :
a. Lingkunga rumah
b. Pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga
c. Hubungan anggota keluarga
d. Perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan

Pemeriksaan fisik
1. Pengukuran antoprometri (BB, TB, lingkaran kepala atas, dan
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

lengan lipatan kulit)


Malise
Kulit keriput
Asites
Edema
Pucat
Moon face
hiperpigmentasi

c. Pemeriksaan penunjang
1. Pada pemeriksaan laboraturium, anemia selalu ditemukan karena
asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan
absorbs.
2. Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk
kelainan pada paru

menemukan adanya

Beberapa parameter biokimia perlu dinilai:


1) Serum albumin, mempunyai waktu paruh yang panjang yaitu 21 hari.
Kadar albumin < 3.5 g/dL menunjukkan pasien mempunyai risiko
malnutrisi.
2) Bila Total lymphocyte count, < 1,500 cells per milimeter kubik juga dapat
sebagai indikator mempunyai risiko malnutrisi.
3) Serum transferrin, waktu paruh 7 hari. Pada beberapa pasien mempunyai
kadar transferin < 140 mg/dL, pasien dapat dinyatakan berrisiko
malnutrisi.
4) Serum pre-albumin (transthyretin), waktu paruh 3 hari. Dikatakan berrisiko
malnutrisi bila kadarnya <17 mg/dL.
5) Total iron-binding capacity (TIBC) dikatakan normal bila kadarnya antara
250 and 450 mcg/dL.
6) Kadar Kolesterol juga dapat digunakan untuk menilai status gizi, bila
kadarnya < 150 mg/dL, menunjukkan ada peningkatan risiko gangguan
status gizi.
Oleh karena tidak ada parameter tunggal untuk Diagnosis status gizi:
Saat ini > 90 % diagnosis malnutrisi dapat ditegakkan melalui
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dikenal sebagai Subjective Global
Assessment (SGA).
Penilaian status gizi secara SGA merupakan cara yang sederhana.
Sepanjang penilai telah terlatih, SGA dapat merupakan diagnosis gizi yang
reliable dan merupakan prediktor akurat untuk menilai adanya peningkatan
risiko komplikasi seperti infeksi dan penymbuhan luka yang terhambat.
Pada SGA akan diperoleh informasi tentang:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Perubahan berat badan


Perubahan asupan makanan
Gejala-gejala gastrointestinal
Kapasitas fungsional
Hubungan antar penyakit dengan kebutuhan nutrisi.
Pemeriksaan fisik yang difokuskan aspek gizi

Pemeriksaan Diagnostik antropometri:


Dalam WHO (2014) :

Keterangan :
MUAC : mid-upper arm circumference
WFH/L : weight for height/ length
RUTF : ready-to-use therapeutic foods

I. PENATALAKSANAAN MEDIS
Untuk PEM berat, penatalaksanaan melibatkan penggunaan tindakan
untuk memenuhi kekurangan cairan dan elektrolit, serta mencukupkan
protein, kalori, dan mikronutrien sesuai dengan berat aktual individu yang
membutuhkan. Pemberian vitamin dan mineral secara bersamaan juga
dibutuhkan.

Jalur

enteral

maupun

parenteral

dapat

digunakan.

Penatalaksanaan harus dilakukan dengan perlahan untuk menghindari


komplikasi.

Pemberian

air

dan

sodium

dengan

karbohidrat

dapat

mengakibatkan jantung yang telah lemah akibat malnutrisi, mengalami


overload dan menghasilkan CHF. Pemberian makan melalui enteral dapat
mengakibatkan gejala malabsorpsi karena abnormalitas dalam saluran GI.

Edema yang merupakan hasil dari reabsorpsi sodium renal dan integritas
pembuluh darah dan kulit yang buruk, dapat diatasi dengan elevasi area yang
terkena dan pembatasan sodium dalam jumlah sedang. Diuretik dinyatakan
tidak efektif dan mungkin dapat memperberat defisiensi elektrolit. (Porth,
2011)
Menurut Medscape (2014), penelitian mencatat bahwa micronutrient
powder (MNPs), yang dipaket dengan dosis tunggal mengandung banyak
vitamin dan mineral dalam bentuk bubuk untuk ditabur dalam makanan
semisolid. MNP dapat mengurangi anemia dan defisiensi zat besi dengan
efektif pada anak usia 6-23 bulan.
Penatalaksanaan secara medis
Prinsip pengobatan adalah makanan yang mengandung banyak protein
bernilai tinggi, banyak cairan, cukup vitamin dan mineral, masing-masing
dalam bentuk yang sudah dicerna dan diserap. Karena toleransi makanan
masih rendah pada permulaan, maka makanan jangan diberikan sekaligus
banyak, tetapi dinaikkan bertahap setiap hari. Diperlukan makanan yang
mengandung protein 3-4 gram/ kg BB/ hari 150-175 kalori. Antibiotik diberikan
jika terdapat infeksi penyakit penyerta marasmus. Antibiotik efektif harus
diberikan parenteral selama 5-10 hari.
Untuk dehidrasi ringan sampai sedang, cairan diberikan secara oral atau
dengan pipa nasogastrik. Bayi ASI harus disusui sesering ia menghendaki.
Untuk dehidrasi berat, cairan intravena diperlukan. Jika cairan intravena tidak
dapat diberikan, infuse intraosseus (sumsum tulang) atau intaperitoneal 70
ml/ kg larutan Ringer Laktat setengah kuat dapat menyelamatkan jiwa.
Penatalaksanaan Keperawatan

Pasien yang menderita defisiensi gizi tidak selalu dirawat di rumah sakit
kecuali yang menderita malnutrisi berat, kwashiorkor/ marasmik kwashiorkor
atau melnutrisi dengan komplikasi penyakit lainnya. Masalah pasien yang
perlu diperhatikan ialah memenuhi kebutuhan gizi, bahaya terjadi komplikasi,
gangguan rasa aman dan nyaman/ psikososial, dan kurangnya pengetahuan
orang tua pasien mengenai makanan anak.

Penanganan

masalah

Kurang

Energi

Protein

(KEP)

dilakukan

berdasarkan berat/ringannya KEP. Pada keadaan ringan atau sedang, anak


cukup diperlakukan rawat jalan, sedangkan bila menderita KEP berat dengan
komplikasi atau tanpa komplikasi sebaiknya dirawat inap di rumah sakit.

Penanganan KEP pada anak berdasarkan berat/ringannya KEP adalah


sebagai berikut:
a. Penanganan Gizi Anak KEP Ringan
Penyulihan gizi dan nasehat pemberian makanan di rumah.
Pemberian ASI diteruskan.
Pasien KEP ringan yang dirawat karena penyakit lain, diberikan
makanan sesuai penyakitnya untuk mencegah KEP sedang dan
berat.
b. Penanganan Gizi Anak KEP Sedang

Anak KEP sedang yang dirawat jalan perlu dipantau kenaikan berat
badannya.

Anak KEP sedang yang dirawat inap perlu dilakukan:

Pemberian makanan tinggi energi dan tinggi protein. Kebutuhan


energi 20-50% di atas kebutuhan yang dianjurkan dan diet sesuai
penyakitnya.

Pemantauan berat badan setiap hari.

Penyuluhan gizi.

c. Penanganan Gizi Anak KEP Berat


Syarat pemberian diet pada KEP berat adalah sebagai berikut:

Melalui 3 fase yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi.

Fase Stabilisasi
Diberikan makanan formula 75 (F-75) dengan asupan gizi 80-100
KKal/kgBB/hari dan protein 1-1,5 g/KgBB/hari. ASI tetap diberikan

pada anak yang masih mendapatkan ASI.


Fase Transisi Pada fase transisi ada perubahan pemberian
makanan dari F-75 menjadi F-100. Diberikan makanan formula 100
(F-100) dengan asupan gizi 100-150 KKal/kgBB/ hari dan protein

2-3 g/kgBB/hari.
Fase Rehabilitasi
Diberikan makanan seperti pada fase transisi yaitu F-100, dengan
penambahan makanan untuk anak dengan BB < 7 kg diberikan
makanan bayi dan untuk anak dengan BB > 7 kg diberikan

makanan anak. Asupan gizi 150-220 KKal/kgBB/hari dan protein


4-6 g/kgBB/hari.

Kebutuhan energi mulai dari 100 sampai 200 kkal/kg BB/hari.

Kebutuhan protein mulai 1-6 gram/kg BB/hari.

Pemberian suplementasi vitamin dan mineral bila ada defisiensi.

Jumlah cairan 150-200 ml/kg BB/hari.

Cara pemberian per oral atau lewat pipa nasogastrik.

Porsi makanan kecil dan frekuensi makanan sering.

Terus memberikan ASI

Makanan fase stabilisasi harus hipoosmolar dan rendah laktosa,


rendah serat.

J. KOMPLIKASI
Bahaya komplikasi pada pasien malnutrisi energi protein sangat mudah
mendapat infeksi karena daya tahan tubuhnya rendah terutama sistem
kekebalan tubuh. Infeksi yang paling sering ialah bronkopneumonia dan
tuberkulosis. Adanya atrofivili usus menyebabkan penyerapan terganggu
mengakibatkan pasien sering diare. Melihat komplikasi tersebut sukar untuk
dicegah yang perlu diperhatikan adalah kebersihan mulut, kulit, diare dan
hipotermia. (Ngastiyah, 264:2005)
Adapula komplikasi yang lain, yaitu
- Hipotermi
- Hipoglikemi.
- Infeksi
- Diare dan Dehidrasi
- Syok
Penyebab Hipotermi
- Tidak/kurang/jarang diberi makan
- Menderita Infeksi
- Paparan angin :
a. Genting bocor
b. Dinding berlubang
c. Tidur dekat pintu
d. Selimut dan topi kurang rapat
- Menempel benda yang dingin:
a. Tidur dilantai
b. Mandi terlalu lama

c. Popok basah tidak segera diganti(ngompol,Diare)


Penyebab Hipoglikemi
- Tidak dapat/kurang/jarang dapat makan
- Penyakit Infeksi
Gejala : - Hipotermi (<35c)
- Lemah
- Penurunan kesadaran
K. PENCEGAHAN
Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat pertama mencakup promosi kesehatan dan perlindungan
khusus dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan kepada
masyarakat terhadap hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kekurangan
gizi. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat pertama :
a. Hanya memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai
b.
c.
d.
e.

umur 6 bulan.
Memberikan MP-ASI setelah umur 6 bulan.
Menyusui diteruskan sampai umur 2 tahun.
Menggunakan garam beryodium
Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A, tablet Fe)

kepada anak balita.


f. Pemberian imunisasi dasar lengkap.
Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Pencegahan tingkat kedua lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan
dan deteksi dini untuk menemukan kasus gizi kurang di dalam populasi.
Pencegahan tingkat kedua bertujuan untuk menghentikan perkembangan
kasus gizi kurang menuju suatu perkembangan ke arah kerusakan atau
ketidakmampuan. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat kedua:
a. Pemberian makanan tambahan pemulihan (MP-ASI) kepada
balita gakin yang berat badannya tidak naik atau gizi kurang.
b. Deteksi dini (penemuan kasus baru gizi kurang) melalui bulan
penimbangan balita di posyandu.
c. Pelaksanaan pemantauan wilayah setempat gizi (PWS-Gizi).
d. Pelaksanaan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi
buruk.
e. Pemantauan Status Gizi (PSG)
Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan tingkat ketiga ditujukan untuk membatasi atau menghalangi
ketidakmampuan, kondisi atau gangguan sehingga tidak berkembang ke arah
lanjut yang membutuhkan perawatan intensif. Pencegahan tingkat ketiga juga

mencakup

pembatasan

terhadap

segala

ketidakmampuan

dengan

menyediakan rehabilitasi saat masalah gizi sudah terjadi dan menimbulkan


kerusakan. Tindakan yang termasuk dalam pencegahan tingkat ketiga :
a. Konseling kepada ibu-ibu yang anaknya mempunyai gangguan
pertumbuhan.
b. Meningkatkan

pengetahuan

dan

keterampilan

ibu

dalam

memberikan asuhan gizi kepada anak.


c. Menangani kasus gizi buruk dengan perawatan puskesmas dan
rumah sakit.
d. Pemberdayaan keluarga untuk menerapkan perilaku sadar gizi.

REFERENSI

Anonim-2. Deteksi Dini Anak Gizi Buruk Dan Tindak Lanjutnya. 2009,
Available www.ypha.or.id/files/Lingkaran_setan.pdf
Anonim-4. Terapi Gizi Pada Anak Gizi Buruk. 2009. Available www.
Mat.Inti 5 Tatalaksana Gizi Buruk-Aceh.pdf.
Barnes Lewis, Curran John. Nutrisi. Dalam: Wahab S, editor. Nelson
Ilmu Kesehatan Anak jilid 1 Edisi 15. Jakarta: EGC. 2000;179 232
Departemen

Kesehatan

RI

Direktorat

Jenderal

Bina

KesehatanMasyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Pedoman Respon


Cepat Penanggulanngan Gizi Buruk , 2008
Kementerian Kesehatan RI. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi
Anak.Jakarta: Direktorat Bina Gizi; 2011.
Nelson, WE.2007. Malnutrition.In Nelson WE.(ed) Mitchel Nelson Text
Book of Pediactrics 5thed. WB Saunders Co. Philadelphia & London.
Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit edisi 2. Jakarta: EGC. 2005;258 66
Nuchsan .A., 2002, Penatalaksanaan busung lapar pada balita, cermin
dunia kedokteran no. 134,2002:10-11
Prihastari, L. 2013. Malnutrisi. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Diunduh dari https://www.academia.edu/9858871/Malnutrisi

TUGAS PJBL
MALNUTRISI

Untuk Memenuhi Tugas pada Blok Sistem Disgestif

Disusun Oleh:
Kelompok 3 dan 4 Kelas II
Amar Husni Yunji

135070201131007

Ana Zerlina Fitria

135070207131007

Azka Qothrunnadaa

135070201131004

Dewi Resti Nazully Qiran

135070201131006

Fitria Marina Sandy

135070218113021

Hanifah Irma Ritmadiani

135070207113011

Hardika Aurum Pratiwi

135070207113013

Insaninmauludiyah

135070201131009

Lintang Diah Yuniarti

135070218113029

Nuril Laili Fajriatussholiha

135070207113016

Petrisia Ristantini

135070201131008

Reny Hidayah

135070201131007

Ryharti Amaliatus Sholeha

135070201131005

Yulia Rochmawati

135070218113027

Asih Hutami Rudy Arsinta

135070207131009

Desy Rachma Putri

135070218113012

Ila Nurul Lutfiati

135070207131013

Juliatusholihah

135070201131014

Wiwid Suryadi

135070201131010

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016