Anda di halaman 1dari 12

16

PENDAHULUAN
Buku Standar asuhan keperawatan pasien ini dirancang sebagai model untuk panduan bagi
perawatan dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman, efektif dan berkualitas.
Buku SAK ini terdiri dari beberapa bagian yaitu :
I.

Konsep dasar : Definisi, patofisiologi, komplikasi.

II.

Pengkajian meliputi :
a. Data subjektif
b. Data objektif
c. Data laboratorium
d. Data pemeriksaan diagnostik.

III.

Penatalaksanaan medik.

IV.

Diagnosa keperawatan, hasil yang diharapkan dan rencana tindakan :


a. Sebelum operasi.
b. Sesudah operasi.

V.

Implikasi keperawatan, terdiri dari :


a.Pemeriksaan Diagnostik
b.

pemeriksaan laboratorium

c. obat-obatan meliputi : Pemakaian umum, cara kerja, kontra indikasi, perhatian, implikasi
keperawatan.
VI. Pengetahuan meliputi : Kondisi dan prosedur, diet, obat, aktifitas perawatan diri.

17

FRAKTUR
I.

Konsep Dasar
Definisi
Fraktur adalah perlukaan traumatik pada tulang dimana kontinuitas jaringan tulang terpotong
atau terganggu.
Hal-hal yang dapat menyebabkan fraktur :

Benturan langsung (Paling sering terjadi pada tulang tepat pada bagian yang terkena
benturan).

Gerakan kontraksi otot yang kuat dan secara tiba-tiba (contohnya patah tulang iga dapat
disebabkan batuk yang kuat).

Patah tulang karena letih. Patah karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti
berjalan terlalu lama.

Kondisi Patologi : Kekurangan mineral sampai batas tertentu pada tulang dapat
menyebabkan patah tulang : contoh osteoporosis, tumor tulang (tumor yang menyerap
kalsium tulang).

Macam-macam Fraktur :
1. Fraktur compound atau fraktur terbuka : patah dengan tulang keluar menembus kulit.
2. Fraktur simple (sederhana) atau fraktur tertutup : patah dengan kulit tetap utuh.
3. Fraktur lengkap : patah tulang yang terjadi secara sempurna dan tulang mungkin
berpindah tempat.
4. Fraktur tidak lengkap : terjadi hanya pada sebagian tulang.
PATOFISIOLOGI
Setiap trauma dapat mengakibatkan cedera pada tulang. Pada umumnya patah tulang tidak
merupakan keadaan yang kritis, kecuali diikuti dengan perdarahan atau syok atau keduanya.
Tulang mempunyai kekuatan dan kekerasan yang optimal, serta kemampuan untuk sembuh
dengan cepat. Pada umumnya hanya benturan yang sangat keras yang dapat mematahkan
tulang. Bila hal ini terjadi, maka timbul kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak yang
mengelilingi, periosteum terkelupas dari tulang.
Bila terjadi ruptur pembuluh darah didalam tulang, periosteum akan membentuk hematom
disekeliling tempat fraktur, dan darah keluar keotot-otot sekitarnya disertai pembengkakan
dalam berbagai tingkatan. Kerusakan tersebut akan menimbulkan nyeri deformitas, bengkak,
krepitasi, perubahan pada suhu dan warna kulit, sehingga bila pertolongan terlambat dapat
menyebabkan mal union (tulang tidak dapat menyatu).

18

Tanda dan gejala :


a. Deformitas : Perubahan bentuk.
b. Hilang keterbatasan fungsi mobilisasi.
c. Kripitasi : Tulang bergeser.
d. Nyeri tekan.
e. Paralisis : Kelumpuhan atau hilangnya kemampuan untuk bergerak.
f. Pucat.
g. Nyeri.
h. Bengkak dan edema.
i. Perubahan suhu tubuh.
j. Perubahan warna kulit.
k. Perdarahan.
l. Syok akibat cedera berat, kehilangan darah dan nyeri hebat.
m. Terbukti fraktur lewat foto rontgen.
Komplikasi :
1. Syok dan perdarahan pada saat terjadi cedera atau sesudah operasi.
2. Komplikasi immobilitas terutama pada usia lanjut antara lain :
a. Pneumonia.
b. Tromboplebilitis.
c. Embai pulmonal.
d. Atelektosis.
e. Kejang otot.
f. Infeksi saluran kemih.
3. Penekanan pada saraf.
4. Tromboemboli.
5. Fiksasi yang kuat setelah operasi dapat menimbulkan pengeseran pada tulang.
6. Mal-union, Non-union, delayed union.
7. Infeksi.
8. Kerusakan pada kulit, pembuluh darah, saraf, tendon, organ dalam.
9. Kekuatan sendi.
10. Pemendekan.

19

II. Pengkajian
a. Data Subjetif.
-

Faktor usia.

Riwayat kecelakaan.

Tidak kuat menopang badan karena berat badan berlebihan.

Jenis pekerjaan yang dilakukan : mekanik, bangunan, banyak berdiri.

Lokasi nyeri.

b. Data Objektif.
-

Mengkomsumsi makanan rendah kalsium.

Pekerjaan atau aktivitas dan olah raga.

Kehilangan fungsi tubuh.

Keterbatasan mobilisasi.

Cepat lelah, lemas.

Nyeri hebat disekitar permukaan atau daerah fraktur.

Luka fraktur.

Kesemutan pada ektremitas yang mengalami fraktur.

Bengkak pada jaringan atau hematoma pada derah luka.

Neuro sensasi :

Kehilangan pergerakan atau rasa perabaan.

Parestesia (Kesemutan).

Deformitas (Kelainan bentuk).

Mati rasa.

c. Data Laboratorium.
-

Hemoglobin darah menurun.

Lekositosis.

Masa perdarahan dan pembekuan memanjang.

d. Data Pemeriksaan Diagnostik.


Tomografi atau scanning dan sinar X : tulang. menunjukan adanya kelainan pada tulang.

20

III. PENATALAKSANAAN MEDIK.


Ada empat prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur (disebut
empat R) yaitu :
a. Rekognisi.
Pengenalan riwayat kecelakaan : Patah atau tidak, menentukan perkiraan tulang yang
patah. Kebutuhan pemeriksaan yang spesifik, kelainan bentuk tulang dan ketidakstabilan.
Tindakan apa yang harus cepat dilaksanakan misalnya pemasangan bidai.
b. Reduksi.
Usaha dan tindakan untuk memanifulasi fragmen tulang yang patah sedapat mungkin
kembali seperti letak asalnya.
Cara pengobatan fraktur secara reduksi :
1. Pemasangan gips
Untuk mempertimbangkan posisi fragmen fraktur.
2. Pemasangan traksi.
Menanggulangi efek dari kejang otot serta meluruskan atau mensejajarkan ujung
tulang yang fraktur.
3. Reduksi tertutup.
Digunakan traksi dan memanipulasi tulang itu sendiri dan bila keadaan membaik
maka tidak perlu diadakan pembedahan.
4. Reduksi terbuka.
Beberapa fraktur perlu pengobatan dengan pembedahan secara reduksi terbuka.
Adapun alat-alat yang dipakai adalah logam pengikat, skrup, plat, prothesa. Alat ini
akan diangkat kembali setelah jangka waktu 1-12 bulan dengan cara pembedahan.
c. Retensi Reduksi.
Mempertahankan reduksi seperti melalui pemasangan gips atau traksi.
d. Rehabilitasi.
Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk mengembalikan kefungsi
normal.

21

IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN, HASIL YANG DIHARAPKAN DAN RENCANA


TINDAKAN.
A. Diagnosa Keperawatan Sebelum operasi.
Diagnosa Keperawatan 1.
Nyeri berhubungan dengan spasme otot dan kerusakan sekunder pada fraktur.
Hasil yang diharapkan :

Pasien mendemonstrasikan bebas dari nyeri, ekspresi wajah rileks, tidak merintih.

Rencana Tindakan :
1. Pertahankan tirah baring sampai tindakan operasi.
2. Pertahankan bidai pada posisi yang sudah ditetapkan.
3. Dengarkan keluhan pasien.
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik.
Diagnosa Keperawatan 2.
Kurang pengetahuan mengenai tindakan pre dan pasca operasi berhubungan dengan
kurang informasi.
Hasil yang diharapkan :

Pasien mengetahui persiapan operasi dan pasca operasi yang harus dilakukan.

Pasien mengungkapkan pengertiannya mengenai operasi yang akan dilakukan.

Pasien kooperatif dalam melakukan persiapan operasi serta latihan pasca operasi.

Rencana Tindakan :
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien mengenai persiapan dan pasca operasi.
2. Jalin hubungan saling percaya.
3. Berikan penyuluhan pra dan pasca operasi.
4. Ajarkan pernafasan yang efektif.
5. Anjurkan pasien untuk mempraktekkan pernapasan yang efektif.
V.

IMPLIKASI KEPERAWATAN
A. Pemeriksaan Diagnostik.

Tonografi scanning
Diagnosa Keperawatan :
-

Kurang pengetahuan sehubungan dengan prosedur CT.

Kecemasan berhubungan dengan prosedur pemeriksaan CT dan kemungkinan


hasil pemeriksaan.

Implikasi Keperawatan :
-

Jelaskan prosedur pemeriksaan kepada pasien.

Kaji riwayat alergi terhadap zat kontras.

Observasi reaksi alergi.

22

Dukung pasien dan keluarga.

Sinar X Tulang.
Foto rangka.
Diagnosa keperawatan :
-

Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perubahan struktur dan jaringan.

Implikasi Keperawatan :
-

Jelaskan pada pasien bahwa pemeriksaan sinar X biasanya 10-15 menit.

Jelaskan bahwa alat-alat dan foto sinar X saat ini kualitasnya baik dan mengurangi
kontaminasi radiasi.

B. Pemeriksaan Laboratorium.

Hemoglobin darah menurun.


Diagnosa Keperawatan :
-

Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan hemoglobin yang rendah dan


nutrisi tidak adekuat.

Implikasi Keperawatan :
-

Observasi tanda-tanda dan gejala anemia.

Periksa hematokrit jika hemoglobin rendah.

Lekositosis.
Diagnosa Keperawatan :
-

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan proses penyakit infeksi.

Resiko tinggi cedera dengan infeksi akut dan nekrosis jaringan.

Implikasi Keperawatan :
-

Observasi tanda vital, tanda serta gejala dari peradangan dan infeksi.

Anjurkan pasien leukopenia untuk menghindar dari orang yang menderita penyakit
menular.

Kolaborasi dengan dokter tentang perubahan kondisi pasien seperti panas,


peningkatan denyut nadi dan leukositosis.

Masa Perdarahan.
Diagnosa Keperawatan :
-

Kecemasan berhubungan dengan prosedur pemeriksaan.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tindakan pengambilan darah.

Implementasi Keperawatan :
-

Jelaskan prosedur pemeriksaan.

Beri waktu kepeda pasien untuk bertanya.

Observasi keadaan luka tusukan karena pengambilan darah.

23

Masa Pembekuan :
Diagnosa Keperawatan :
-

Potensial perubahan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan perdarahan akibat


masa pembekuan yang memanjang.

Implikasi Keperawatan :
-

Informasikan ke dokter masa pembekuan pasien.

Observasi tanda-tanda perdarahan.

Beri vitamin K sesuai pesanan dokter bila terjadi perdarahan.

C. Obat- Obatan.
1. Anti Infeksi
Pemakaian Umum.
Untuk pengobatan dan pencegahan berbagai infeksi oleh bakteri.
Cara Kerja :
Anti infeksi membunuh atau menghambat pertumbuhan (bakteri ostatik) bakteri
patogen yang rentan, tidak menghambat aktivitas virus atau jamur. Anti infeksi dibagi
dalam kategori-kategori tergantung pada susunan kimia yang sama dan spektrum anti
mikrobial.
Kontra Indikasi :
Individu yang telah diketahui sangat sensitif terhadap antibiotik.
Perhatian :
Perlu dilakukan modifikasi dosis untuk pasien yang menderita insufisiensi ginjal dan
hepar. Penggunaan anti infeksi spektrum luas dalam waktu lama dapat menyebabkan
jamur menjadi ganas dan resisten.
Implikasi Keperawatan :

Pengkajian
-

Kaji tanda-tanda dan gejala infeksi sebelum dan selama terapi.

Menentukan hipersensitivitas

pada pasien yang mendapat penisilin atau

cephalosperin.
-

Pemeriksaan kultur dan sensitifitas dari bahan (darah, urine, feses) sebelum
mulai dengan pengobatan sesuai program medik.

Potensial Diagnosa Keperawatan :


-

Potensial infeksi.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan aturan atau cara pengobatan.

Ketidak taatan menjalankan pengobatan.

24

Implementasi.
-

Hampir semua anti infeksi harus diberikan dalam interval waktu yang sama
selama 24 jam, sampai habis walaupun sudah merasa lebih baik.

Ingatkan pasien untuk meneruskan minum obat dalam interval waktu yang
sama selama 24 jam, sampai habis walaupun sudah merasa lebih baik.

Menganjurkan pasien untuk berobat kedokter bila mengalami peningkatan


suhu tubuh, dan diare, khususnya bila feses mengandung pus, darah atau
lendir.

2. Analgetik Narkotik
Pemakaian Umum
Untuk nyeri atau sakit yang tidak teratasi dengan obat non narkotik.
Cara Kerja :
Narkotik mempengaruhi susunan saraf pusat yang mengakibatkan perubahan persepsi dan
respon nyeri.
Kontra Indikasi : Riwayat Alergi
Pencegahan :
-

Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan nyeri abdomen, trauma kepala,
penyakit hati, atau mempunyai riwayat kecanduan.

Gunakan dosis kecil pada loncin atau penyakit pernafasan.

Penggunaan yang kronis menyebabkan toleransi dan membutuhkan dosis yang lebih
besar untuk mengurangi sakit.

Implikasi Keperawatan :

Pengkajian
-

Kaji jenis, lokasi dan intensitas nyeri sebelum pemberian obat.

Kaji tensi, nadi, pernapasan sebelum dan sesudah pemberian.

Penggunaan yang lama menyebabkan ketagihan. Penggunaan dosis yang tinggi


sering diperlukan untuk membebaskan nyeri pada terapi lama.

Kaji fungsi defekasi secara teratur.

Tingkatkan pemasukan cairan, pemakaian laksansia untuk mengurangi efek


konstipasi.

Pantau pemasukkan dan pengeluaran cairan, kaji retensi urin yang dapat terjadi.

Pantau dengan ketat bila dosis perlu diulang, bila terjadi dosis yang berlebihan,
pantau pasien secara ketat.

25

Potensial diagnosa keperawatan :


-

Perubahan rasa nyaman : Nyeri.

Perubahan persepsi sensorik, penglihatan dan pendengaran.

Potensial terjadi perlukaan.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan program pengobatan.

Implementasi :
-

Pemberian secara teratur lebih efektif dari pemberian sewaktu-waktu dan lebih
efektif diberikan bila sakit belum menjadi hebat.

Pemberian bersama dengan non narkotik dapat mempengaruhi ketagihan


analgetik, diijinkan untuk dosis rendah.

Obat harus dihentikan secara bertahap setelah pengguaan dalam waktu lama.

Penyuluhan pasien atau keluarga :


-

Beritahu pasien bagaimana dan kapan minta obat pengurang sakit.

Obat dapat menyebabkan ngantuk, pusing, maka beritahu untuk minta bantuan
bila ambulasi.

Anjurkan pasien untuk alih baring, batuk nafas dalam setiap 2 jam untuk
mencegah atelektasis.

Evaluasi
Menurunnya rasa nyeri tanpa ada perubahan pada tingkat kesadaran status pernafasan
atan tekanan darah.

VI. PENYULUHAN.
Hasil yang ingin dicapai.
Pasien dan keluarga dapat menjelaskan dan mendemonstrasikan ;

Kondisi dan prosedur.

Diet.

Obat-obatan dan terapi.

Aktivitas dan perawatan diri.

Metode :

Ceramah.

Diskusi.

Materi :
1. Kondisi dan prosedur
Pasien dan keluarga diberitahu tentang kondisi pasien saat itu sesuai dengan hasil
wawancara dan pemeriksaan fisik.

26

Penjelasan tentang prosedur persiapan operasi, situasi kamar bedah, aktivitas yang
dilakukan setelah operasi, perawatan dirumah dan tindak lanjut yang dibutuhkan.
2. Diet
Pasien yang akan segera dilakukan operasi dipuaskan, dapat mulai minum setelah sesudah
operasi sadar. Untuk penyembuhan luka operasi perlu pemberian makanan yang adekuat
dan mengkonsumsi makanan tinggi kalsium.
3. Obat-obatan dan terapi.
Menjelaskan nama dan cara pemberian, kegunaan, efek samping obat dan keluhankeluhan yang harus dilaporkan.
Mengajarkan cara merawat luka dengan prinsip steril.
4. Aktivitas atau perawatan diri.
-

Menjelaskan aktivitas yang perlu untuk mengembalikan tulang ke fungsi yang normal.

Menjaga keseimbangan tidur dan istirahat dengan melakukan aktivitas yang sesuai
untuk mempercepat proses penyembuhan.

Menganjurkan untuk melakukan perawatan dan dan aktivitas dirumah yaitu :

Merawat balutan pada luka agar tetap bersih dan kering.

Menginformasikan ke dokter bila terjadi gejala-gejala infeksi.

Menghindari aktivitas yang berat.

Kontrol kembali ke dokter.

DAFTAR PUSTAKA
Kee, JLF (1997). Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dengan Implikasi Keperawatan
Edisi 2.
Tucker, SM, Canabbio, M.M. Paquette, G.V Wells, Majories Fype (1998). Standar Perawatan
Pasien Edisi V.
MD. John. Gibson (1995). Anatomi dan Fisiologi Modern Untuk Perawat. Edisi Kedua Alih
Bahasa Niluh Gede Jasmin Asih.
Price, Sylvia Anderson dan Larraine MC. Carty Willson. Patofisiologi Konsep Klinik Prosesproses Penyakit Edisi 2.

27