Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN

PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISITEM

Di susun oleh
Kelomok V
ARIF BUDIMAN
DOSEN
Drs.Zelhendri Zen, M.Pd
FAKULTAS ILMU SOSIAL(FIS)
UNIVERSITAS NEGRI PADANG

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar belakang
Pendidikan adalah usaha untuk memanusiakan manusia. Subyek, obyek

atau sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu


manusia untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Oleh
karena keberadaan manusia yang tidak dapat terlepas dari lingkungannya maka
berlangsungnya proses pendidikan itu selamanya akan berkaitan erat dengan
lingkungan dan akan saling mempengaruhi secara timbal balik.
Potensi-potensi manusia dapat dikembangkan melalui pengalaman.
Pengalaman itu terjadi karena adanya interaksi secara efektif dan efisien antara
manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial
manusia. Interaksi manusia dengan lingkungannya secara efektif dan efisien yang
memberikan

pengalaman

yang

dapat

mengembangkan

potensi-petensi

kemanusiaan itulah yang disebut pendidikan.


Interaksi manusia dengan lingkungannya dalam ruang lingkup pendidikan
mengandung banyak aspek atau elemen-elemen yang sifatnya sangat kompleks.
Kompleksitas elemen-elemen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi
dalam ruang lingkup pendidikan itu membentuk suatu sistem yang disebut sistem
pendidikan.

B. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan di bahas di dalam makalah ini adalah
1. Apa yang di makasud dengan pendidikan sebagai suatu system
2. Apa saja yang termasuk komponen pendidikan

C.

Tujuan
Adapun tujuan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk Mengetahui Bagaimana Definisi pendidikan sebagai suatu system.


2. Untuk Mengetahui apa saja yang termasuk komponen-komponen pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pendidikan sebagai suatu system


Sebelum

menjelaskan

pengertian

pendidikan

sebagi

suatu system, ada baikanya kita terlebih dahulu mengetahuai


apa itu pengertian dari system. Sistem berasal bari bahasa Yunani, yakni
systema yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saling
berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan. Istilah sistem
merupakan suatu konsep yang bersifat abstrak.
Zahara Idris (1987) mengemukakan bahwa sistem adalah kesatuan yang
terdiri atas komponen-komponen atau elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai
sumber-sumber yang mempunyai hubungan fungsional yang teratur, tidak acak,
dan saling membantu untuk mencapai suatu hasil (produk). Sistem dapat pula
diartikan sebagai suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang
membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh (Amirin:
1992).
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan, sistem merupakan
suatu himpunan atau kesatuan yang terdiri atas komponen-komponen atau
elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai sumber-sumber yang mempunyai
hubungan fungsional yang teratur, tersusun secara sistematis (tidak acak), dan
saling membantu untuk mencapai suatu tujuan, dimana masing-masing
mempunyai tujuan sendiri yang semuanya berkaitan terurut dalam bentuk yang
logis.
Jadi dapat di simpulkan bahawa Pendidikan sebagai suatu sistem
yaitu komponen yang saling berhubungan secara teratur dan
merupakan

suatu

keseluruhan,

dengan

tujuan

untuk

memberikan pelayanan pendidikan kapada yang membutuhkan.

2. Komponen-komponen pendidikan

Agar menjadi suatu system maka Pendidkikan harus terdapat beberpa


komponen. Komponen-komponen pendidikan terdiri dari:
a. Tujuan (Zalhendri Zen,dkk, 2012 : 62)
Tujuan merupakan faktor pendidikan yang memiliki posisi penting dalam
proses pendidikan. Bermacam-macam tujuan pendidikan yang diinginkan oleh
pendidik supaya dapat dicapai oleh pendidik supaya dapat dicapai oleh subjek
didik. Semua tujuan-tujuan itu harus normatif baik, artinya tidak bertentangan
dengan hakekat perkembangn peserta didik dan dapat diterima sebagai nilai
hidup yang baik.
Tujuan pendidikan ada yang sifatnya ideal dan ada pula yang sifatnya
nyata. Tujuan yang sifatnya ideal biasanya dirumuskan dalam bentuk tujuan
pendidikan yang sifatnya umum, sedangkan tujuan yang sifatnya nyata
dirumuskan dalam bentuk tujuan khusus.
Dalam sistem pendidikan nasional, tujuan umum pendidikan dijabarkan
dari falsafah bangsa, yakni pancasila. Makna tujuan pendidikan nasioanal itu
adalah membentuk manusia Indonesia yang bisa mandiri dalam konteks
kehidupan pribadinya, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta
berkehidupan sebagai makhluk yang beragama (Ketuhanan Yang Maha Esa).
Manusia Indonesia yang dicita-citakan dan harus diupayakan melalui pendidikan
adalah manusia yang bermora, berilmu, berkepribadian dan beramal bagi
kepentingan manusia, masyarakat, bangsa dan negara.
Untuk

mencapai

tujuan

umum,

ada

beberapa

tujuan

yang

mengantarkannya ke tujuan umum, ada beberapa tujuan yang mengantarkannya


ke tujuan umum tersebut, disebut dengan tujuan antara yaitu perhentian
sementara untuk mencapai tujuan umum. Pencapaian tujuan umum ini selalu
dilaksanakan dalam bentuk-bentuk pengkhususan karena mengingat keadankeadan yang terdapat pada subjek didik, lingkungan serta diri pendidik sendiri.
Hal-hal yang menyebabkan terjadinya pengkhususa tujuan umum itu antara lain
adalah :

1) Karakteristik anak didik; tingkat kemampuan; tingkat perkembangan kognitif;


bakat; minat; jenis; kelamin; dsb

2) Tuntutan persyaratan pekerjaan di lapangan yang merupakan pencapaian tujuan


anak didik.
3) Perbedaan pandangan hidup masing-masing bangsa menunjukan perlunya
pengkhususan tujuan ini.
4) Perbedaan tujuan yang ingin dicapai masing-masing lembaga atau jalur
pendidikan sekolah, jalur pendidikan luar sekolah termasuk pendidian keluarga
yang mempunya fungsi yang berbeda.
5) kemempuan-kemampuan yang ada pada pendidik sendiri.

Tujuan umum yang akan dicapai di lingkungan sekolah biasanya kita


jabarkan dalam tujuan-tujuan yang lebih kecil. Tujuan yang berfungsi sebagai
perantara untuk mencapai tujuan umum dinamakan tujuan intermedier atau tujuan
sementara. Kesementaraan tujuan khusus/intermedier ini terletak didalam
kenyataan bahwa apabila tujuan khusus itu telah tercapai, maka tuan itu menjadi
alat untuk mencapai tu aun khusus kainnya dan seterusnya.
Kita mengenal empat jenjang tujuan pendidikan , yaitu :

1) tujuan umum pendidikan, yakni manusia Pancasila


2) tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan, misalnya tujuan sekolah dasar,
tujuan Universitas Negeri Padang)
3) tujuan kurikuler(tujuan standar kompetensi bidang studi atau mata pelajaran)
misalnya tujuan IPA,IPS, Agama

Tujuan intruksional merupakan tujuan terbawah dari jenis tujuan di atas.


Tujuan intruksional kompetensi dasar adalah yang paling kecil dari keseluruhan
yang ada. Tujuan inilah yang secara nyata dicapai dalam proses belajar dan
mengajar dikelas yang harus dijabarkan lagi oleh guru secara operasional menjadi
tujuan pembelajaran khusus yang sekarang dikena dengan indikator.
Jadi dengan demikian untuk mencapai tujuan yang paling tinggi yaitu
tujuan paling bawah. Oleh sebab itu tingkatan perumusan tujuan yang ada bawah,
menunjang pencapaian tujuan paling atas(tujuan umu) dapat dicapai.

b. Pendidik (Zalhendri Zen,dkk, 2012 : 64)


Pendidik ialah orang yang mempunyai tanggung jawab dalam
melaksanakan pendidikan. Orang tua biasanya disebut pendidik menurut kodrat,
sedangkan guru dan tenaga tenaga lainnya yang sejenis disebut pendidik menurut
jabatan.
Orang tua sebagai pendidik menurut kodrata adalah pendidik pertama dan
utama. Hubungan orang tua dengan anaknya dalam hubungan edukatif
mengandung 2 unsur dasar, yaitu :

Unsur kasih sayang orang tua terhadap anak

Unsur kesadaran akan tanggung jawab dari pendidik untuk menuntun


perkembangan anak.

Guru sebagai pendidik menurut jabatan menerima tanggung jawab


mendidim dari tiga pihak, yaitu orang tua, masyarakat negara. Seyogianyalah
kepada guru diharapkan sikap-sikap dan sifat yang normatif baik sebagai
kelanjutan dari sikap orang tua pada umumnya, antara lain :

Kasih sayang kepada subjek didik

Tanggung jawab kepada tugas mendidik

Sehubung dengan tanggung jawab di atas Prayitno(2000:9) mengemukakan :


Kewajiban pendidik ialah menyelenggarakan praktek pendidikan
terhadap anak yang menjadi tanggung jawabnya untuk memperkembangkan
semua potensi yag dikaruniakan ALLAH kepada anak secara optimal.

Untuk itu pendidik harus :


1) Memahami potensi anak untuk diperkembangkan secara optimal

2) Memahami kondisi anak untuk mengadakan penyesuaian program-program


pendidik bagi anak
3) Melakuka kegiatan dan memberikan pelayanan pendidikan sesuai dengan
potensi dan kondisi anak untuk memperkembangkan potensi anak secara
optimal
4) Memberikan laporan dan pertanggung jawabkan tentang perkembangan dan
hasik-hasil pendidikan anak kepada orang ua dan pihak-pihak lain yang berhak
memperoleh laporan
5) Bekerjasama dengan orang tua anak dan pihak-pihak lain yang terkait dengan
pendidikan anak demi menyelenggarakan pendidikan anak seoptimal mungkin
6) Memahami dan menjalankan dengan sebaik-bainya segenap peraturan dan
kebijakan

yang

dikeluarkan

oleh

pihak-pihak

berwenang

dalam

penyelenggarakan pendidikan anak


7) Menyelenggaraka praktek pendidikan secara profesional sesuai dengan
penugasan yang diberikan oleh pihak-pihak yang berwenang.

Tugas pendidik karena jabatan adalah berat, maka sebagai pendidik


karena jabatan ini harus diadakan persiapan-persiapan yang cucukp. Bakata
merupakan ersyaratan penting untuk itu. Keadaan jasmani calon harus sehat.
Pendidik juga dituntut untuk menggunakan bahasa

yang sopan, harus

mempunyai kepribadian yang kuat. Sebagai pendidik harus disenangi dan


disegani oleh peserta didik. Ini berarti ia harus mempunyai kewibaan, punya
emosi yang stabil untuk menghadapi bermacam-macam peserta didik.

c. Peserta didik (Zalhendri Zen,dkk, 2012 : 67)


Peserta didik ialah manusia yang memiliki potensi yang selalu mengalami
perkembangan sejak terciptanya sampai meningal dunia dan perubahan-perubaha
terjadi secara bertahap, tetapi secara wajar.

Perbedaan individu dapat terjadi akibat irama dan tempo perkembangan


yang beraga dan oleh adanya faktor perkembangan, yaitu faktor-faktor yang
mempengaruhi peserta didik. Faktor perkembangan umumnya dapat dibedakan
menjadi: faktor kemampuan dasar, faktor lingkungan, dan faktor kepriadian.
Semua faktor perkembangan datas masing-masing peserta didk dalam
intensitas dan kualiats yang beragam dan dapat mengalami perubahan dalam
perkembangannya. Pendidik harus mengetahui berbagai perbedaan individual ini
sehingga dapat mengatur kondisi dan strategi yang relavan dengan kebutuan
peserta didik secara bulat dan optimal.
Untuk mengembangakn kemandirian anak didik interaksi antara pendidik
dengan anak didik hendaklah berlangsung secara manusiawi. Pada situasi
pendidikan dimana pendidik yang lebih memegang peranan atau pemusatan
aktifitas

pada

pendidik,

kemandirian

yang

dimaksud

tidak

mungin

dikembangkan.
Disamping

itu

pendidik

hendaknya

menyiapkan

dan

mengatur

lingkungan, sehingga menunjang terhadap perkembangan potensi anak didik.


Bagi anak didik yang lingkungannya kurang baik dan kurang terarur, pembinaan
individual sukar untuk dilakukan. Hal tersebut juga didukung leh pendapat
Prayitno (2000) yang menyaakan :hak anak ialah memperoleh pendidikan yang
layak memperkembangkan segenap potensi yang dikaruniai ALLAH kepadanya
secara optimal.
Untuk itu harus dimungkinkan agar anak:
(1) Memperoleh kesempatan, fasilitas, dan pelayanan pendidikan dari orang tua,
pendidik negara
(2) Terhindar dari pemaksaan kehendak dari orang tua atau pihak lain yang
menganggu penyeleggaran pendidikan anak
(3) Terhindar dari hambatan yang menghalangi penyelenggaran pendidikan anak
(4) Terhindar dari perlakuan yang merugikan penyelenggaraan pendidikan
(5) Terhindar dari peraturan dan/atau merugikan pendidikan anak

d. Materi (Zalhendri Zen,dkk, 2012 : 89)

Guru harus dapat memberi penafsiran yang tepat mengenai jenis dan funsi
tujuan yang akan dicapainya secara konkret, sehingga dapat memilih
bahan/materi yang tepat sesuai dengan tujuan tersebut. Pendidikan bertujuan
untuk mengembangkan berkenaan dengan aspek kognitif,afektif, dan psikomotor.
Untuk mencapai tujuan tersebut isi/bahan yang tepat harus dipilih.
Kriteria/ syarat utama yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan itu
adalah

Bahan/materi harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan

Bahan/materi harus sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta


didik

Bahan/ materi tersebut juga perlu diorganisasikan dari yang sederhana


kepada yang komplek, dari yang konkret meuju yang abstrak, sehingga dapat
menuntu para pelajar secara runtun/sistematis, sehingga memudahkan untuk
mempelajarinya melahirkan kurikulum.
Berdasarkan hal diatas, guru harus memilih bahan/ materi yang perlu
diberikan, dan bahan mana yang tidak perlu. Untuk itu guru harus
mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
1) Bahan/materi

harus

sesuai

dan

menunjang

tercapainya

tujuan.hanya

bahan/materi yang sesuai dan menunjang tujuan yang perlu diberikan


2) Urgensi bahan, yaitu bahan/materi itu penting untuk diketahui oleh peserta
didik. Disamping itu sifat bahan tersebut merupakan landasan untuk
mempelajari bahan berikutnya.
3) Nilai praktis atau kegunaannya diartikan sebagai makna bahan itu bagi
kehidupan nya sehari-hari
4) Bahan tersebut merupakan bahan wajib, sesuai dengan tuntutan kurikulum
5) Bahan yang susah diperole sumbernya, perlu diupayakan untuk diberikan oleh
guru. Untuk bahan yang mudah diperoleh seaiknya ditugaskan untuk
mempelajari, sedangkan guru hanya membicarakan pokok-pokoknya saja.

e. Metode Pendidikan dan alat pendidikan

Pengertian Metode Pendidikan secara bahasa metode berasal dari dua kata
yaitu meta dan hodos. Meta berarti melalui. Sedangkan hodos berarti jalan
atau cara, bila ditambah logi sehingga menjadi metodologi berarti ilmu
pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan,
oleh karena kata logi yang berasal dari kata Yunani (Greek) logos berarti akal
atau ilmu. Secara umum metode adalah cara untuk mencapai sebuah tujuan
dengan jalan yang sudah ditentukan, dalam metode pendidikan dapat diartikan
sebagai cara.
Proses belajar-mengajar yang baik adalah jika anak berinteraksi dengan
pendidik, yaitu orangtua dan guru. Maka pendidik harus pandai menciptakan
situasi yang nyaman, membangkitkan semangat belajar, dan anak antusias belajar
dengan memberikan metode pengajaran yang tepat. Jika tipe belajar anak lebih
aktif melalui alat pendengarannya (auditif), maka anak diajarkan dengan
mendengarkan

kaset

yang

diselingi

dengan

menunjukkan

gambarnya

(demonstrasi). dapat juga dengan memutarkan video agar anak dapat melihat
(visual) dengan jelas apa yang terjadi. Dengan harapan, tujuan pembelajaran akan
lebih mudah tercapai
Pada dasarnya media pembelajaran dipakai oleh guru berguna untuk:
1.

Memperjelas informasi atau pesan pengajaran.

2.

Memberi tekanan pada bagian-bagian yang penting.

3.

Memberi variasi pengajaran.

4.

Memperjelas struktur pengajaran.

5.

Memotivasi proses belajar siswa.

Manfaat penggunaan media bagi siswa adalah:


1.

Dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman.

2.

Membuat siswa tertarik.

3.

Memudahkan siswa menafsirkan data.

4.

Siswa mendapatkan informasi yang jelas.

alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai


tujuan pendidikan. Dalam praktek pendidikan, istilah alat pendidikan sering
diidentikkan dengan media pendidikan, walaupun sebenarnya pengertian alat
lebih luas dari pada media. Media pendidikan adalah alat, metode dan teknik
yang digunakan dalam rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi
edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di
sekolah.
Dalam dunia pendidikan terdapat bermacam alat pendidikan sebagai
sarana untuk mencapai tujuan, Ahmad D. Marimba membagi alat pendidikan ke
dalam tiga bagian :
1) Alat-alat yang memberikan perlengkapan berupa kecakapan berbuat dan
pengertian hafalan. Alat-alat ini dapat pula disebut alat-alat pembiasaan.
2) Alat-alat untuk memberi pengertian, membentuk sikap, minat dan cara
berfikir.
3) Alat-alat yang membawa ke arah keheningan batin, kepercayaan dan
pengarahan diri sepenuhnya kepada-Nya.
f. Lingkungan Pendidikan
Lingkungan secara umum diartikan sebagai kesatuan ruang dengan segala
benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakungya,
yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia
serta mehluk hidup lainnya. Lingkungan dibedakan menjadi lingkungan alam
hayati, lingkungan alam non hayati, lingkungan buatan dan lingkungan sosial.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencan untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik scara aktif
dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spritual
keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Jadi, lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai faktor


lingkungan yang berpengaruh terhadap praktek pendidikan. Lingkungan
pendidikan sebagai berbagai lingkungan tempat berlangsungnya proses
pendidikan, yang merupakan bagian dari lingkungan sosial.
Fungsi Lingkungan Pendidikan Terhadap Proses Pendidikan Manusia.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta
didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai
sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan
yang optimal. Terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara
lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
sistem merupakan suatu himpunan atau kesatuan yang terdiri atas
komponen-komponen atau elemen-elemen atau unsur-unsur sebagai sumbersumber yang mempunyai hubungan fungsional yang teratur, tersusun secara
sistematis (tidak acak), dan saling membantu untuk mencapai suatu tujuan,
dimana masing-masing mempunyai tujuan sendiri yang semuanya berkaitan
terurut dalam bentuk yang logis.
Pendidikan sebagai suatu sistem yaitu komponen yang
saling berhubungan secara

teratur dan merupakan suatu

keseluruhan, dengan tujuan untuk

memberikan pelayanan

pendidikan kapada yang membutuhkan


Komponen pendidikan terdiri dari tujuan, pendidik, peserta
didik,

materi,

metode,

alat

pendidikan,

dan

lingkungan

pendidikan. Yang di mana komponen-komponen tersebut sangat


di buthkan untuk menjadikan pndiddikan sebagai suatu sitem.

B.
Dari

Saran
makalah

ini,penulis

berharap

pembaca

bisa

mengetahui apa itu konsep dari system pendidikan dan apa saja
yang termasuk ke dalam komponen-komponen pendidikan.
Tak lepas dari itu semua, kami sebagai penulis juga
mengharapkan saran-saran yang membangun guna hasil yang
jauh lebih baik kedepannya.

Daftar pustaka
Emodjeh, http://emodjeh.blogspot.co.id/2014/01/pendidikan-sebagaisuatu-sistem.html
Suyono & Hariyanto. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
http://dayanmaulana.blogspot.com/2010/06/empat-pilar-pendidikan-menurut unesco.html.
Syafril, Zen Zelhendri. 2009. Pengantar pendidikan. Padang: sukabina pres.