Anda di halaman 1dari 14

Kelompok 2

Suhu Tubuh dan Labirin Sebagai Reseptor Keseimbangan


Amalia (3415122197), Ayu Indraswary (3415122171), Bagus Tito Wibisono (3415120260)
, Rizka Anugrahyanti (3415122189), Yuli Sartika (3415122167)
Fisiologi Hewan
Pendidikan Biologi Reguler
Universitas Negeri Jakarta
2015
ABSTRACT
The aim of this practicum was to know how poiciloterm animal regulate their body
temperature, subjectivity of temperature reseptor, how labirin works as balance receptor, and
the influence of brain damage on frogs balance. This practicum was held on Monday, April
6th, 2015 at the Laboratory of Physiology Campus B, State University of Jakarta. Results
showed that frog was classified as poiciloterm, animals which have body temperature
changed based on their environment, subjectivity of temperature receptor in human shows
reverse of sensation, labirin roled as receptor in dynamic balance, and brain damage has
some effect on frogs balance.
Keywords : balance receptor, labirin, temperature regulation.
PENDAHULUAN
Suhu Tubuh
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen
pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan
saraf eferen serta termoregulasi (Swenson, 1997). Pengaruh suhu pada lingkungan, hewan
dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya
dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan
suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Dan hewan
homoiterm sering disebut hewan berdarah panas (Dukes, 1985). Dalam termoregulasi,
dikenal istilah eksoterm dan endoterm yang mendasarkan pada sumber panas yang diperoleh
oleh tubuh. Manusia mendapatkan sumber panas yang berasal dari dalam tubuh sehingga
disebut sebagai endoterm.
Area preoptik hipotalamus anterior mengandung sejumlah besar neuron yang sensitif
terhadap panas yang jumlahnya kira-kira sepertiga neuron yang sensitif terhadap dingin.
Neuron-neuron ini diyakini berfungsi sebagai sensor suhu untuk mengatur suhu tubuh.
Neuron-neuron yang sensitif terhadap panas ini meningkatkan kecepatan kerjanya sesuai
dengan peningkatan suhu, kecepatannya kadang meningkat 2 sampai 10 kali lipat pada
kenaikan suhu tubuh sebesar 100C. Neuron yang sensitive terhadap dingin, sebaliknya,

meningkatkan kecepatan kerjanya saat suhu tubuh menurun. Apabila area preoptik
dipanaskan, kulit di seluruh tubuh dengan segera mengeluarkan banyak keringat,sementara
pada waktu yang sama pembuluh darah kulit di seluruh tubuh menjadi sangat berdilatasi. Jadi
hal ini merupakan reaski yang cepat untuk menyebabkan tubuh kehilangan panas, dengan
demikian membantu mengembalikan suhu tubuh kembali normal.
Prinsip pengaturan suhu tubuh Konsep Core temperature yaitu dianggap merupakan
dua bagian dalam soal pengaturan suhu yaitu : (1) Bagian dalam inti suhu tubuh, yang benarbenar mempunyai suhu ratarata 37oC, yaitu diukur pada daerah (mulut, otot, membrane
tympani, vag ina,esophagus, (2) Bagian luar adalah temperature kulit + 1/3 massa tubuh yaitu
penukaran kulit sampai+ 2 cm kedalam.
Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan equilibrium baik statis
maupun dinamis tubuh ketika di tempatkan pada berbagai posisi (Delitto, 2003).
Keseimbangan merupakan integrasi yang kompleks dari system somatosensorik (visual,
vestibular, proprioceptive) dan motorik (musculoskeletal, otot, sendi jaringan lunak) yang
keseluruhan kerjanya diatur oleh otak terhadap respon atau pengaruh internal dan eksternal
tubuh. Bagian otak yang mengatur meliputi, basal ganglia, Cerebellum, area assosiasi
(Batson, 2009). Equilibrium adalah sebuah bagian penting dari pergerakan tubuh dalam
menjaga tubuh tetap stabil sehingga manusia tidak jatuh walaupun tubuh berubah posisi.
a. Fisiologi Keseimbangan
Proprioception dihasilkan melalui respon secara simultan, visual, vestibular, dan
sistem sensorimotor, yang masing-masing memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas
postural. Paling diperhatikan dalam meningkatkan proprioception adalah fungsi dari sistem
sensorimotor. Meliputi integrasi sensorik, motorik, dan komponen pengolahan yang terlibat
dalam mempertahankan homeostasis bersama selama tubuh bergerak, sistem sensorimotor
mencakup informasi yang diterima melalui reseptor saraf yang terletak di ligamen, kapsul
sendi, tulang rawan, dan geometri tulang yang terlibat 11 dalam struktur setiap sendi.
Mechanoreceptors sensorik khusus bertanggung jawab secara kuantitatif terhadap peristiwa
hantaran mekanis yang terjadi dalam jaringan menjadi impuls saraf (Riemann et al., 2002b).
Keseimbangan tubuh dipengaruhi oleh system indera yang terdapat di tubuh manusia bekerja
secara bersamaan jika salah satu system mengalami gangguan maka akan terjadi gangguan

keseimbangan pada tubuh (imbalance), system indera yang mengatur/mengontrol


keseimbangan seperti visual, vestibular, dan somatosensoris (tactile & proprioceptive).
b. Sistem Vestibular
Sistem vestibular berperan penting dalam keseimbangan, gerakan kepala, dan gerak
bola mata. Sistem vestibular meliputi organ-organ di dalam telinga bagian dalam.
Berhubungan dengan sistem visual dan pendengaran untuk merasakan arah dan kecepatan
gerakan kepala. Sebuah cairan yang disebut endolymph mengalir melalui tiga kanal telinga
bagian dalam sebagai reseptor saat kepala bergerak miring dan bergeser. Gangguan fungsi
vestibular dapat

menyebabkan vertigo atau gangguan keseimbangan. Alergi makanan,

Dehidrasi, dan trauma kepala / leher dapat menyebabkan disfungsi vestibular. Melalui refleks
vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat obyek yang
bergerak. kemudian pesan diteruskan melalui saraf kranialis VIII ke nukleus vestibular yang
berlokasi di batang otak (brain stem). Beberapa stimulus tidak menuju langsung ke nukleus
vestibular tetapi ke cerebelum, formatio retikularis, thalamus dan korteks serebri. Nukleus
vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth, formasi (gabungan reticular),
dan cerebelum. Hasil dari nukleus vestibular menuju ke motor neuron melalui medula
spinalis, terutama ke motor neuron yang menginervasi otot-otot proksimal, kumparan otot
pada leher dan otot-otot punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular bereaksi sangat
cepat sehingga membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otototot postural (Watson et al., 2008).
METODE PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum dilakukan pada hari Senin, tanggal 6 April 2015 di Laboratorium Fisiologi,
Kampus Timur, UNJ.
Regulasi Suhu Tubuh Hewan Poikiloterm

c
h
w
b
g
f
o
5
M
0
4
(
p
r
i
l
d
t
n
k
u
s
a
m
e
.
y
,
0
5
3
y
p
h
P
O
m
b
c
s
u
d
k
a
g
n
e
M
j
Subjektivitas Reseptor Suhu

Keseimbangan Pada Manusia

Kerja Canalis Semisirkularis lateral

Kerja Canalis Anterior dan Posterior

b
j
0
2
1
P
l
p
m
u
t
h
M
O
r
d
g
i
s
k
y
a
n
e
.
f
w
o
5
c
Keseimbangan Pada Katak

HASIL DAN PEMBAHASAN

Regulasi Suhu Tubuh Hewan Poikiloterm

Tabel 1. Hasil Pengamatan Suhu Tubuh Pada Katak

Adapun hasil praktikum thermoregulasi pada katak ialah sebagai berikut, pada
keadaan normal, suhu katak adalah 300 C, dengan rangsang air es berubah menjadi 270C dan
dengan air hangat berubah kembali menjadi 370C. Dari hasil pengamatan dapat diketahui
bahwa untuk pengukuran suhu pada katak, saat diberi perlakuan dengan air panas suhu tubuh
naik dan pada saat diberi perlakuan es suhu tubuh turun. Hal ini sesuai dengan teori bahwa
katak merupakan poikiloterm atau suhu tubuh berubah-ubah sesuai lingkungan.
Pada regulasi suhu tubuh katak impuls akan diantarkan sampai tingkat presepsi, lalu
setting point di hipotalamus akan mengubah suhu tubuh (akan beradaptasi dengan
lingkungan, hipotalamus berfungsi sebagai termostat). Pada hewan poikiloterm saraf
pengatur suhu tubuh di hipotalamus belum berkembang, hal inilah yang membuat katak tidak
pernah menggigil. Namun katak tetap memiliki ambang batas toleransi suhu yang bisa
diterima tubuhnya.
Batas toleransi suhu tubuh katak yaitu 10-400C. Jika suhu melewati ambang batas
toleransi tersebut akan terjadi kerusakan enzim dan dapat menyebabkan kematian pada katak.
Jika suhu melewati ambang toleransi suhu terendah, maka akan terjadi defek enzim yaitu
penurunan sungsi pada enzim. Sedangkan, jika suhu melewati ambang batas suhu tertinggi
akan terjadi denaturasi enzim yaitu enzim akan sulit berikatan dengan substratnya.
Saat katak berada di lingkungan yang panas hewan ini beradaptasi secara morfologi
dengan cara menguapkan panas dari dalam tubuhnya. Secara tingkah laku yang dilakukan
katak adalah bersembunyi pada bongkahan tanah yang dianggap lebih rendah suhunya.
Namun jika suhu lingkungan ekstrim panas katak menggunakannya untuk memaksimalkan
reproduksinya. Dengan tujuan melestarikan spesiesnya. Telur yang dihasilkan ditempelkan
pada daun atau ranting pohon. Ketika lingkungan sudah memungkinkan seperti pada saat

musim penghujan, Maka telur tersebut akan berkembang menjadi berudu yang akhirnya akan
menjadi katak dewasa yang baru.
Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan transfer panas ke dalam
atau ke luar tubuh hewan yaitu luas permukaan dimana semakin kecil permukaan tubuh
semakin cepat aliran panasnya; perbedaan suhu dimana semakin besar perbedaan suhu tubuh
dengan suhu lingkungan semakin cepat aliran panasnya; dan konduktansi panas spesifik
permukaan tubuh dimana konduktansi panas hewan poikiloterm lebih tinggi daripada hewan
homeoterm.
Subjektivitas Reseptor Suhu
Tabel 2. Hasil Pengamatan Subjektivitas Reseptor Suhu
Kondisi
1

Hasil Praktikum
Tangan Kanan

Tangan Kiri

Tangan tidak terasa

Tangan terasa nyeri,

dimasukkan ke air hangat

apa-apa, hanya terasa

seakan mati rasa,tangan

Tangan kiri dimasukkan

hangat dan tangan

menjadi memucat.

ke air dingin
Kedua tangan

menjadi memerah.
Tangan terasa dingin,

Tangan terasa panas, rasa

dimasukkan ke air ledeng

warna tangan menjadi

nyeri menjadi hilang,

normal.

tangan menjadi memerah.

Posisi Tangan
Tangan Kanan

Pada percobaan kedua yaitu merasakan perubahan suhu lingkungan dengan


memasukkan tangan kanan ke dalam air panas (40 0C) dan memasukkan tangan kiri ke dalam
air dingin (50C) masing-masing selama 3 menit, kemudian memasukkan kedua tangan ke
dalam air ledeng.
Pada dasarnya kulit yang telanjang dapat menyerap hampir semua energi

yang

mengenainya, contohnya energi panas dan dingin yang berasal dari air.Pada saat tangan kiri
praktikan dimasukkan ke dalam air yang dingin (5 0C) selama 3 menit, akan terjadi sensasi
dingin, maka suhu inti akan sedikit lebih turun akibat peningkatan pengeluaran panas karena
gradien suhu kulit ke udara lebih besar daripada normal. Respon-respon vasomotor kulit
dikoordinasikan oleh hipotalamus melalui keluaran sistem saraf simpatis. Peningkatan
aktivitas simpatis ke pembuluh darah di kulit menghasilkan vasokonstriksi sebagai respon
terhadap lingkungan yang dingin. Hal ini menyebabkan penurunan aliran darah ke kulit,
sehingga kulit yang kekurangan aliran darah ini akan pucat dan jika tangan terlalu lama
berada pada kondisi air yang dingin maka akan semakin sedikit pula aliran darah yang
mengalir ke kulit ini. Namun karena kemampuan tubuh untuk mengurangi suhu kulit melalui

vasokonstriksi terbatas, bahkan vasokonstriksi yang maksimum kurang mampu mencegah


pengurangan panas jika suhu terlalu rendah.
Dengan demikian, berkurangnya panas lebih lanjut dapat dicegah hanya oleh adaptasi
perilaku, misalnya mengurangi sebanyak mungkin luas permukaan tempat panas keluar atau
dengan mengepalkan tangan.
Sebaliknya, ketika tangan kanan praktikan dimasukkan ke dalam air yang panas
(400C) selama 3 menit, akan timbul sensasi panas.terjadi penurunan aktivitas simpatis
sehingga menimbulkan vasodilatasi pada pembuluh darah di kulit, sehingga akan lebih
banyak darah yang mengalir ke pembuluh darah di kulit sebagai respon terhadap panas.
Apabila vasodilatasi kulit kulit sudah maksimal gagal mengurangi kelebihan panas, maka
mekanisme berkeringat akan diaktifkan sehingga panas akan terus keluar melalui evaporasi.
Bila tubuh merasa panas, ada kecendrungan tubuh meningkatkan kehilangan panas ke
lingkungan; bila tubuh merasa dingin, maka kecendrungannya menurunkan kehilangan panas.
Jumlah panas yang hilang ke lingkungan melalui radiasi dan konduksi konveksi sangat di
tentukan oleh perbadaan suhu antara kilit dan lingkungan eksterna. Bagian pusat tubuh
merupakan ruang yang memiliki suhu yang di jaga tetap sekitar 37 derajat
selsius.Mengelilingi pusat tubuh adalah lapisan kulit dimana terjadi pertukaran panas antara
tubuh dan lingkungan luar. Dalam usaha memelihara kekonstanan suhu pusat tubuh, kapasitas
insulatif dan suhu kulit dapat di atur ke berbagai gradient suhu antara kulit dan lingkungan
eksterna, dengan cara demikian mempengaruhi tingkat kehilangan panas.
Saat percobaan kedua tangan secara bersama-sama dimasukkan ke dalam air ledeng
maka kini terjadi sensasi yang berlawanan dari yang sebelumnya. Pada saat tangan kanan
yang tadinya dimasukkan ke dalam air panas dan kini di masukkan ke dalam air ledeng akan
terasa sensasi dingin sedangkan pada tangan kiri yang semula di masukkan ke dalam air
dingin dan kini di masukkan ke dalam air ledeng akan terasa sensasi panas. Karena memang
suhu di air ledeng lebih rendah dibandingkan dengan air panas dan lebih tinggi dibandingkan
dengan air dingin. Hipotalamus secara serentak mengkoordinasikan mekanisme pembentukan
panas serta mekanisme pengeluaran panas. Pada tangan kanan aktivitas simpatis meningkat
ke pembuluh darah di kulit untuk menstabilkan pembuluh darah ke keadaan normal,
demikian pula pada tangan kiri yang terjadi penurunan aktivitas simpatis. (Sherwood, 2001)
Kapasitas insulatif kulit dapat di ubah-ubah dengan mengontrol jumlah darah yang
mengalir melalui kulit. Darah yang mengalir ke kulit melayani 2 fungsi. Pertama,
menyediakan pasok makanan ke kulit. Kedua, karena darah di pompa ke kulit dari jantung,
maka darah membawa panas dari pusat tubuh ke kulit. Aliran darah ke kulit terutama

berfungsi meregulasi suhu. Pada suhu kamar yang normal, 20-30 lebih darah mengalir
melaluikulit untuk keperluan nutrisi.
Pada proses termoregulasi, aliran darah kulit dapat sangat berubah-ubah, dari 400 ml
sampaI 2.500 ml/menit. Lebih banyak darah mencapai kulit dari pusat tubuh yang panas,
maka suhu kulit lebih dekat ke suhu pusat. Pembuluh darah kutaneus menghadapi
keefektivan kulit sebagai suatu insulator dengan membawa panas ke permukaan, dimana suhu
ini dapat hilang dari tubuh melalui radiasi dan konduksi konveksi. Jadi, vasodilatasi
pembuluh darah kulit, yang memungkinkan peningkatan peningkatan aliran darah panas ke
kulit, akan meningkatkan kehilangan panas. Sebaliknya vasokontriksi pembuluh darah kulit
mengurangi aliran darah ke kulit, dengan demikian menjaga suhu pusat tubuh
konstan,dimana darah diinsulasi dari lingkungan eksternal, jadi menurunkan kehilangan
panas.
Kulit bukan merupakan insulator yang sempurna, bahkan dengan vasokonstriksi yang
maksimum. Meskipun aliran darah ke kulit minimal, sebagian panas tetap di transfer melalui
konduksi dari organ lebih dalam ke permukaan kulit dan kemudian di lepaskan dari kulit ke
lingkungan.Respon-respon vasomotor kulit ini dikoordinasi oleh hipotalamus melalui jalur
system saraf simpatik. Aktifitas simpatik yang di tingkatkan ke pembuluh kutaneus
menghasilkan penghematan panas vasokonstiksi untuk merespon suhu dingin,sedangkan
penurunan aktivitas simpatetik menghasilkan kehilangan panas vasodilatasi pembuluh darah
kulit sebagai respon terhadap suhu panas.
Kulit sebagai orga pengatur panas. Suhu tubuh seseorang adalah tetap, meskipun
terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini dipertahankan karena penyusaian antara panas
yang hilang dan panas yang dihasilkan, yang diatur oleh pusat pengatur panas. Pusat ini
segera menyadari bila ada perubahan pada panas tubuh, karena suhu darah yang mengalir
melalui medulla oblongata. Suhu normal ( sebelah dalam ) tubuh, yaiti suhu visera dan otak
adalah 36-37C. Suhu kulit sedikit lebih rendah.
Persyarafan vaso-motortik mengendalikan anterior kutan dengan 2 cara, yaitu vasodilatasi dan vaso-kontriksi. Pada vas -dilatasi anteriol memekar, kulit menjadi lebih panas,
dan kelebihan panas cepat terpancar dan hilang, dan juga hilang karena kelenjar keringat
bertambah aktif, dan karena itu terjadi penguapan cairan dari permukaan tubuh. Pada vasokontriksi pembuluh darah dalam kulit mengerut, kulit menjadi pucat dan dingin, keringat
hampir dihentikan, dan hilangnya panas dibatasi. Dengan pengendalian ini pelepasan panas
ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan tubuh.
Saat suhu tubuh meningkat, mekanisme tubuh yang terjadi :

a. Vasodilatasi
Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi
ini disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang
menyebabkan vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang
memungkinkan percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat
lebih banyak.
b. Berkeringat
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas
kritis, yaitu 37C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas
melalui evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C akan menyebabkan pengeluaran
keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari
metabolisme basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan salh satu mekanisme
tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang kritis. Pengeluaran keringat dirangsang oleh
pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke
seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar
keringat, yang merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan
keringat karena rangsangan dari epinefrin dan norefineprin.
Penurunan Pembentukan Panas
Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia dan menggigil
dihambat dengan kuat.
Saat suhu tubuh menurun, mekanisme tubuh yang terjadi :
a. Vasokontriksi Kulit di Seluruh Tubuh
Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.
b. Piloereksi
Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri.
Mekanisme ini tidak penting pada manusia, tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya
bulu ini akan berfungsi sebagai isolator panas terhadap lingkungan.
c. Peningkatan Pembentukan Panas
Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil,
pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.
Keseimbangan Pada Manusia

Pada pengujian labirin terhadap operator yang diputar menggunakan kursi putar,
menyebabkan sensasi berputar bahkan berguling sehingga Op memberi respon dengan
berteriak dan terjatuh. Namun, ketka OP membuka mata, perlahan sensasi tersebut
menghilang dan OP kembali dalam keadaan normal. Sensasi berputar yang dirasakan oleh OP
secara fisiologis diatur oleh kanal semisirkularis yang terdapat pada telinga. Kanal semi
sirkularis terdiri dari 3 bagian yaitu bagian anterior, posterior, dan lateral.
Di
dalam
kanal
semisirkularis ini mengandung
endolymph. Keetika OP diberikan
putaran menggunakan kursi putar,
maka kanal semisirkularis ini akan
ikut
berputar,
namun
tidak
demikian
dengan
endolymph.
Endolymph
cenderung
diam
walaupun sebenarnya berputar
sedikit, fenomena ini yang disebut dengan kelembaman cairan (Sherwood, 2007), sama
seperti kita memutar gelas yang berisi air. Namun, setelah kecepatan sudut yang diberikan
dihentikan, maka endolymph tersebut akan bergerak sesuai dengan arah putaran sebelumnya.
Ketika OP menundukan kepala dan diputaran ke kanan menyebabkan endolymph
membengkok ke arah kiri, dan setelah dihilangkan percepatan sudutnya, maka giliran
endolymph yang berputar, menyebabkan sel rambut membengkok ke arah yang berlawanan
sehingga OP merasakan sensasi berputar ke kiri setelah kepala di tegakan. Sensasi berputar
dalm tahap ini diatur oleh kanal semisirkulris posterior, sehingga ketika kepala di tegakan
maka sensai yang timbul adalah OP merasa berputar ke arah kiri secara vertikal.

Ketika kepala OP dimiringkan kemudian diputar, maka endolymph yang berputar


adalah endolymph pada kanal semisirkularis anterior. Sensasi yang dirasakan ketika diputar
ke kanan lalu kepala ditegakan ialah berputar ke arah depan secara vertikal, dengan
mekanisme fisiologis yang sama. Keadaan ini akan tetap dirasakan oleh OP selama ia
menutup matanya. Hal ini terjadi karena persepsi yang timbul pda area 5,7 di otak murni dari
saraf cockleovestibular. Jika OP membuka mata, maka akan ada jalur informasi dari mata
menuju ke otak yang menimbuklkan persepsi bahwa tubuh diam melalui saraf optikal yang
berujung pada bagian otak nomor 17,18 (Ganong, 2005). Hal ini yang menyebabkan OP
perlahn menuju keadaan normal ketika membuk mata.

Keseimbangan Katak
Tabel Pengamatan 3. Hasil Pengamatan Keseimbangan Pada Katak
No
Perlakuan
Arah/Bagian
Respon Katak
Papan
Memutar ke segala arah dan Naik
1
Berenang lurus (Normal)
Digerakkan
Turun
Tubuh bagian kiri masih aktif,
Otak Kanan
berenang ke kanan
2
Otak ditusuk
Sudah kehilangan
Otak Kiri
keseimbangan
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa dalam keadaan papan
digerakkan ke segala arah (kanan-kiri) dan dinaikturunkan, katak memperlihatkan gerakan
yang selalu mengikuti arah gerakan dari papan. Hal ini disebabkan karena pada struktur
telinga dalam terdapat macula akustika (organ keseimbangan statis) dan krista akustika
(organ eseimbangan dinamis) melakukan koordinasi penyampain impuls sarafnya masingmasing. Sel resptor pada macula akustika yang berupa sel-sel rambut dan se-sel penunjang
melekat pada membran yang mengandung butiran-butiran kecil kalsium karbonat (CaCO 3)
yang disebut otolith. Macula di sakulus dan utrikulus peka terhadap gaya berat otolith ini.
Pada saat dibiarkan berenang di dalam baskom kondisi berenang katak masih normal,
berenang lurus. Ketika diberikan perlakuan kedua yaitu menusuk otak katak. Otak yang
ditusuk pertama kali adalah bagian kanan, respon yang diberikan adalah katak berenang
berbelok ke kanan. Hal ini disebabkan karena bagian tubuh kiri katak masih dapat berfungsi
sehingga katak menggunakan bagian kiri tersebut untuk berenang, sehingga katak berenang
berbelok ke kanan. Namun ketika bagian kiri juga ditusuk atau dirusak, katak berenang tidak
teratur, agak sedikit oleng ke kanan atau ke kiri lalu selebihnya diam. Hal ini disebabkan
karena terjadi gangguan fungsi pada otak katak.

Pada otak katak terdapat bagian yang disebut cerebrum yang berfungsi sebagai pusat
penglihatan dan pengendali gerak tubuh khusunya gerak sadar, sehingga apabila otak dirusak,
maka kemungkinan besar dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan keseimbangan
tubuhnya. Selain itu, di bagian batang otak di otak belakang yang terdiri dari medulla, pons
dan otak tenagh merupakan organ penghubung penting bagi otak lainnya dengan medulla
spinalis. Apabila terjadi kerusakan pada bagian tersebut, mengakibatkan sistem spinal tidak
berfungsi lagi dan mengakibatkan terjadinya disorentasi posisi katak dan komplikasi lain
seperti terganggunya mekanisme denyut jantung dan pernapasan, sehingga dapat
mengakibatkan kematian.
KESIMPULAN
Katak termasuk kedalam jenis hewan poikiloterm, yaitu hewan yang suhu tubuhnya
dapat berubah sesuai dengan lingkungannya, namun masih memiliki batas ambang suhu yang
dapat ditolerir. Subjektivitas reseptor suhu pada manusia menunjukkan sensasi rasa yang
terbalik, hal ini pada dasarnya terjadi karena suhu tubuh manusia akan menyesuaikan dengan
lingkungan, jika suhu meningkat maka akan lebih banyak panas yang dikeluarkan tubuh
untuk menurunkan suhu begitu juga sebaliknya.
Labirin pada manusia berfungsi sebagai pengatur keseimbangan pada saat bergerak.
Adanya berbagai sensasi pada percobaan disebabkan oleh bergeraknya cairan endolimfe pada
kanal semisirkularis disertai dengan membengkoknya sel rambut pada membrane basalis.
Pada katak, kerusakan otak kanan akan mengacaukan keseimbangan pada ekstremitas kiri,
begitu pula sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Eka Novita. 2007. Adaptasi Fisiologi Tubuh Terhadap Latihan Di Suhu Lingkungan Panas
Dan Dingin. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Eka%20Novita
%20Indra,%20M.Kes./proceeding%20nas0001.pdf. (Di akses pada tanggal 11 April
2015 pukul 15.35)
Guyton, Arthur C, Hall, John E. 2007. Fisiologi Kedokteran edisi 11. Jakarta: EGC
Keseimbangan. http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-786-1413682297-bab
%20ii.pdf. (Di akses pada tanggal 11 April 2015 pukul 15.24)

Neviaty Putri Zamani. 2012. PENGARUH PENINGKATAN SUHU TERHADAP


ADAPTASI FISIOLOGI ANEMON PASIR (Heteractis malu): SKALA
LABORATORIUM. http://www.itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt41/jurnal/72%20Stress
%20Respose.pdf. (Di akses pada tanggal 11 April 2015 pukul 15.40)
Setiadi. 2007. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sherwood, lauralee. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem edisi 2. Jakarta: EGC