Anda di halaman 1dari 7

TUGAS 3

PEMILIHAN MATERIAL

OLEH :
Nama

: Agista Karmelia

NIM

: 21050113120024

Jurusan Teknik Mesin


Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
2016

1. Penggolongan dan penamaan paduan (wrought dan cast alloys)


Dibuat dengan proses
rolling,forming,drawing,fo
rging
dan press working
Wrought
Alloys

Alumunium wrought alloy yang


Alumunium wrought alloy yang
bisa di heat treatment
tempa
sistem
penamaan
Aluminium jenis tempa
jenis tempa yang tidak
yang dapat diperlaku-panaskan
diperlaku-panaskan meliputi
adalah seri 2xxx, 6xxx, 7xxx, dan
3xxx, 4xxx, dan 5xxx
8xxx.
1100,3003,5052.
Contoh pada ASN 2024,6061 dan
Number A91100, A93003 dan
7075.
UNS Number A92024, A96061 dan
A97075.

tidak bisa di
sistem
penamaan
Aluminium
dapat
seri 1xxx,
Contoh pada ASN
UNS
A95052.

Paduan tempa (wrought alloys) menggunakan sistem penamaan empat


angka juga tetapi penamaannya berbeda dengan penamaan pada paduan jenis cor.
Angka pertama menyatakan kelompok paduan atau kandungan elemen spesifik
paduan, angka kedua menunjukkan perlakuan dari paduan asli atau batas
kemurnian. Sedangkan dua angka terakhir menunjukkan paduan aluminium atau
kemurnian aluminium.

Pada aluminium tempa, seri 1xxx digunakan untuk aluminium murni. Digit
kedua dari seri tersebut menunjukkan komposisi aluminium dengan limit pengotor
alamiahnya, sedangkan dua digit terakhir menunjukkan persentase minimum dari
aluminium tsb. Digit pertama pada seri 2xxx sampai 7xxx menunjukkan kelompok
paduannya berdasarkan unsur yang memiliki persentase komposisi terbesar dalam
paduan.

Cast

Heat-treatable alloy

Alloys

Non-heat-

treatable alloy
[mengalami fully treating]

[mengalami

strain hardening]

Paduan cor (casting alloys) digunakan sistem penamaan empat angka. Angka
pertama menunjukkan kandungan utama paduannya. Dua angka selanjutnya
menunjukkan penandaan dari paduannya. Angka terakhir yang di pisahkan dengan
tanda desimal merupakan bentuk dari hasil pengecoran, misalnya casting (0) atau
ingot (1,2).
Untuk paduan aluminium jenis cor yang dapat diperlaku-panaskan meliputi
seri 2xx.x, 3xx.x, 7xx.x, dan 8xx.x sedangkan yang tidak dapat diperlaku-panaskan
meliputi seri 1xx.x, 4xx.x, dan 5xx.x .
Contoh material standar yang tergolong ialah : Heat-treatable , Alumunium
Association Number 295,0 dan 356,0 dan UNS Number A02950 dan A03560.
2. Mekanisme Penguatan :
a. Presipitation Hardening.
Presipitation Hardening ialah kekuatan dan kekerasan dari beberapa paduan
aluminium disebabkan karena terbentuknya partikel-pertikel atau endapan
halus (precipitate) yang tersebar merata pada matriks aluminium sebagai
akibat dari perlakuan panas. Dengan syarat merupakan logam paduan dan
batas kelarutan padat harus berkurang dengan turunnya temperatur.
Proses precipitation hardening atau hardening dapat dibagi menjadi
beberapa tahap yaitu:
1) Solution treatment, yaitu memanaskan paduan hingga diatas solvus line.

2) Mendinginkan kembali dengan cepat (quenching) .


3) Aging, yaitu menahan pada suatu temperatur tertentu (temperatur kamar
atau temperatur dibawah solvus line) selang waktu tertentu.
b. Cold working
Cold working adalah fenomena dimana logam ulet berubah sifatnya
menjadi lebih keras dan lebih kuat dan proses hardening dilakukan pada
temperature kamar yang relatif lebih rendah dibanding temperatur leburnya
yang tinggi. Penguatan ini terjadi karena dislokasi gerakan dalam struktur
kristal dari material.
3. Heat-treatable alloys adalah paduan aluminium yang dapat diperkeras
dengan penuaan (aging).
Non-heat-treatable alloys adalah paduan aluminium yang tidak dapat
diperkuat dengan penuaan melainkan dengan penguatan larutan-padat (solid
solution

strengthening),

pengerasan

butir

(strain

pengerasan dispersi (dispersion strengthening).


4. Struktur mikro pada Aluminium :

Struktur mikro dari aluminium murni

hardening),

atau

Struktur mikro dari paduan aluminium-silikon.


Struktur mikro dari paduan aluminium-silikon.
Gambar (a) merupakan paduan Al-Si tanpa perlakuan khusus. Gambar (b)
merupakan paduan Al-Si dengan perlakuan termal. Gambar (c) adalah
paduan Al-Si dengan perlakuan termal dan penempaan. Perhatikan bahwa
semakin ke kanan, struktur mikro semakin baik.
Sifat Mekanik dari Aluminium :
Sifat Mekanik Aluminium Adapun sifat-sifat mekanik dari aluminium adalah
sebagai berikut:
1. Kekuatan tarik .
Kekuatan tarik adalah besar tegangan yang didapatkan ketika dilakukan
pengujian tarik. Kekuatan tarik ditunjukkan oleh nilai tertinggi dari tegangan
pada kurva tegangan-regangan hasil pengujian, dan biasanya terjadi ketika
terjadinya

necking.

Kekuatan

tarik

bukanlah

ukuran

kekuatan

yang

sebenarnya dapat terjadi di lapangan, namun dapat dijadikan sebagai suatu


acuan terhadap kekuatan bahan. Kekuatan tarik pada aluminium murni pada
berbagai perlakuan umumnya sangat rendah, yaitu sekitar 90 MPa, sehingga
untuk penggunaan yang memerlukan kekuatan tarik yang tinggi, aluminium
perlu dipadukan. Dengan dipadukan dengan logam lain, ditambah dengan
berbagai perlakuan termal, aluminium paduan akan memiliki kekuatan tarik
hingga 600 Mpa (paduan 7075).
2. Kekerasan
Kekerasan gabungan dari berbagai sifat yang terdapat dalam suatu bahan
yang mencegah terjadinya suatu deformasi terhadap bahan tersebut ketika
diaplikasikan suatu gaya. Kekerasan suatu bahan dipengaruhi oleh elastisitas,

plastisitas,

viskoelastisitas,

kekuatan

tarik,

ductility,

dan

sebagainya.

Kekerasan dapat diuji dan diukur dengan berbagai metode. Yang paling
umum adalah metode Brinnel, Vickers, Mohs, dan Rockwell. Kekerasan bahan
aluminium murni sangatlah kecil, yaitu sekitar 20 skala Brinnel, sehingga
dengan sedikit gaya saja dapat mengubah bentuk logam. Untuk kebutuhan
aplikasi yang membutuhkan kekerasan, aluminium perlu dipadukan dengan
logam lain dan/atau diberi perlakuan termal atau fisik. Aluminium dengan
4,4% Cu dan diperlakukan quenching, lalu disimpan pada temperatur tinggi
dapat memiliki tingkat kekerasan Brinnel sebesar 160.
3. Ductility (kelenturan)
Ductility didefinisikan sebagai sifat mekanis dari suatu bahan untuk
menerangkan seberapa jauh bahan dapat diubah bentuknya secara plastis
tanpa terjadinya retakan. Dalam suatu pengujian tarik, ductility ditunjukkan
dengan bentuk neckingnya; material dengan ductility yang tinggi akan
mengalami necking yang sangat sempit, sedangkan bahan yang memiliki
ductility rendah, hampir tidak mengalami necking. Sedangkan dalam hasil
pengujian tarik, ductility diukur dengan skala yang disebut elongasi. Elongasi
adalah seberapa besar pertambahan panjang suatu bahan ketika dilakukan
uji kekuatan tarik. Elongasi ditulis dalam persentase pertambahan panjang
per panjang awal bahan yang diujikan.
4. Recyclability (daya untuk didaur ulang)
Aluminium adalah 100% bahan yang dapat didaur ulang tanpa penurunan
dari kualitas awalnya, peleburannya memerlukan sedikit energi, hanya
sekitar 5% dari energi yang diperlukan untuk memproduksi logam utama
yang pada awalnya diperlukan dalam proses daur ulang.
5. Reflectivity (daya pemantulan)
Aluminium adalah reflektor yang baik dari cahaya serta panas, dan dengan
bobot yang ringan, membuatnya ideal untuk bahan reflektor misalnya atap.