Anda di halaman 1dari 29

CHAPTER ONE : Central Case Studies

HALAMAN INI TIDAK DICETAK

Modul Sosialisasi RTBL merupakan suatu dokumen pelengkap dan menjadi salah satu runutan penjelasan dari
Pedoman Umum RTBL (Permen PU Nomor 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan). Modul ini diharapkan dapat membantu dan memandu setiap pelaku (pemerintah, pemerintah
daerah, praktisi, akademisi, dan masyarakat) di dalam menyusun dokumen pada suatu kawasan, mulai dari
tahap awal hingga implementasinya.
Modul terdiri dari 3 bagian, yaitu: i) buku satu: Panduan Sosialisasi RTBL; ii) buku dua: Panduan Pemilihan
Kawasan RTBL; iii) buku tiga: Tata Cara Penyusunan Dokumen RTBL.
Buku satu menitikberatkan pada pengertian dan pemahaman RTBL serta metodologi dalam penyelenggaraan
(mulai perencanaan sampai dengan pengendalian pelaksanaan) RTBL yang partisipatoris. Dokumen RTBL
yang akan disusun diharapkan menjadi suatu dokumen milik bersama antarpemangku kepentingan, sehingga
sosialisasi dilakukan secara simultan dan berkelanjutan.
Buku dua merupakan panduan dalam pemilihan lokasi kawasan RTBL. Penetapan lokasi memiliki arti penting
dalam keberlanjutan suatu program RTBL. Secara umum, lokasi terpilih hendaknya terintegrasi terhadap jejaring pengembangan kota dalam skala yang lebih besar, sehingga manfaat program RTBL dapat dirasakan oleh
berbagai pihak.
Buku tiga menjadi panduan praktis dalam penyusunan dokumen RTBL. Bagian ini menjelaskan pentahapan dari
skenario penyusunan dokumen RTBL dari kegiatan pendataan, penyusunan kerangka analisis, penyusunan
konsep, penyusunan rencana umum dan panduan rancangan, penyusunan rencana investasi, penyusunan
ketentuan pengendalian rencana, hingga penyusunan pengendalian pelaksanaan.
Semoga Modul Sosialisasi RTBL ini dapat memperkaya khasanah dan wawasan pemahaman terhadap suatu
program penataan bangunan dan lingkungan, sehingga dapat menjadi pemicu bagi perwujudan kawasan perkotaan yang layak huni, nyaman, produktif, berkualitas, dan berkelanjutan.

MODUL SOSIALISASI RTBL (RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN)

Abstraksi

Penyusun :
Pengarah :
1. Ir. Budi Yuwono, Dipl.SE (Direktur Jenderal Cipta Karya)
2. Ir. Joessair Lubis, CES (Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan)
3. Ir. Adjar Prayudi, MSc, MCM (Kasubdit Penataan Lingkungan Wilayah I)

Teknis :
1. Ir.J.Wahyu Kusumosusanto, MUM.
2. Dr.Ir.Danang Priatmodjo, M.Arch
3. Nina Carina, ST., MT
4. Wahyu Kartika Adi, ST., MT
5. Aminudin Yani, SE.,AMd

Penyelaras Akhir
Studio PBL 2007
Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan
Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen P.U.
Jl. Pattimura No.20 (Gedung Menteri Lantai 5)
Kebayoran Baru, Jakarta 12110 Indonesia
Telepon: 021 7226220
Faksimile: 021 7226220

DI REKT ORAT J ENDERAL CI PT A KARYA


J a l a n

P a t t i m u r a

N o .

D E: P A R T E M E N
Nomor

DIR
KT
O
Lampiran
: 1E
(satu)
buku
J a l a n

2 0

K e b a y o r a n

B a r u

J a k a r t a

P E K E R J A A NJakarta,
U 2MFebruari
U M2009

RAT J ENDERAL CIPTA KARYA

P a t t i m u r a

N o .

2 0

K e b a y o r a n

B a r u

J a k a r t a

Kepada Yth.:
Nomor
:
Jakarta, 2 Februari 2009
1. Sekretaris
Jenderal Departemen Pekerjaan Umum
Lampiran : 1 (satu) buku
2. Direktur Jenderal Penataan Ruang
3.Yth.:
Sekretaris Menteri Perumahan Rakyat
Kepada
4. Sekretaris
Jenderal
Departemen
DalamUmum
Negeri
1. Sekretaris
Jenderal
Departemen
Pekerjaan
5. Para
Gubernur
di seluruh
Indonesia
2. Direktur
Jenderal
Penataan
Ruang
6. Para Menteri
Bupati diPerumahan
seluruh Indonesia
3. Sekretaris
Rakyat
4. Sekretaris
Dalam Negeri
7. Para Jenderal
Walikota Departemen
di seluruh Indonesia
5. Para
di seluruh
8. Gubernur
Para Pejabat
Eselon Indonesia
II di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya
6. Para
di seluruh
Indonesia
9. Bupati
Para Pejabat
Eselon
II di Lingkungan Direktorat Jenderal Penataan Ruang
7. Para
di seluruh
IndonesiaKarya Provinsi di seluruh Indonesia
10.Walikota
Para Kepala
Dinas PU/Cipta
8. Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya
11. Para Kepala Dinas PU/Cipta Karya Kabupaten di seluruh Indonesia
9. Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Direktorat Jenderal Penataan Ruang
12.Kepala
Para Kepala
PU/Cipta
Kotadidiseluruh
seluruhIndonesia
Indonesia
10. Para
Dinas Dinas
PU/Cipta
KaryaKarya
Provinsi
13.Kepala
Para Ketua
Provinsi
seluruh Indonesia
11. Para
DinasBapeda
PU/Cipta
KaryadiKabupaten
di seluruh Indonesia
14.Kepala
Para Ketua
Kabupaten
di seluruh
Indonesia
12. Para
DinasBapeda
PU/Cipta
Karya Kota
di seluruh
Indonesia
15.Ketua
Para Ketua
Bapeko
Kota
seluruhIndonesia
Indonesia
13. Para
Bapeda
Provinsi
di di
seluruh
14. Para Ketua Bapeda Kabupaten di seluruh Indonesia
15. Para Ketua Bapeko Kota di seluruh Indonesia

Perihal : Modul Sosialisasi Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan


Perihal : Modul Sosialisasi Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan

S U R A T ED AR A N

S U RNomor:
A T E01/SE/DC/2009
D ARA N
Nomor: 01/SE/DC/2009

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana
Peraturan
Menteri
Pekerjaan Umum
Nomor 06/PRT/M/2007
tentang
Pedoman
Umum dari
Rencana
Tata Bangunan
dan Lingkungan
telah diberlakukan
sejak Maret 2007
sebagai
implementasi
amanat
Tata Bangunan
dan Lingkungan
diberlakukan
sejakBangunan
Maret 2007
sebagaiRencana
implementasi
amanatdan
Undang-undang
Nomor 28telah
tahun
2002 tentang
Gedung.
Tata dari
Bangunan
Undang-undang
28 tahun
2002rancang
tentang
Bangunan
Gedung. Rencana Tata
Bangunan dan
LingkunganNomor
(RTBL) adalah
panduan
bangun
suatu lingkungan/kawasan
yang dimaksudkan
untuk
Lingkungan
(RTBL) adalah
panduan ruang,
rancang
bangun suatu
lingkungan/kawasan
yang dimaksudkan
untuk
mengendalikan
pemanfaatan
penataan
bangunan
dan lingkungan, serta
memuat materi
pokok
mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok
ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana
ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana
investasi,
ketentuan
pengendalian
rencana,
dan pedoman
pengendalian
pelaksanaan
pengembangan
investasi,
ketentuan
pengendalian
rencana,
dan pedoman
pengendalian
pelaksanaan
pengembangan
lingkungan/kawasan.
lingkungan/kawasan.
Peraturan
tersebut
disosialisasikan
terus-menerus
digunakan
sebagai
landasan
Peraturan
tersebut
telah telah
disosialisasikan
terus-menerus
dan dan
digunakan
sebagai
landasan
penyusunan
di daerah,
namun
hingga
ini belum
memberikan
dampak
positif
terhadap
penyusunan
RTBL RTBL
di daerah,
namun
hingga
saat saat
ini belum
memberikan
dampak
positif
terhadap
hasil/produk
dokumen
RTBL yang
disusun.
hasil/produk
dokumen
RTBL yang
disusun.
DalamDalam
rangkarangka
pembinaan
teknisteknis
dan fasilitasi
penyusunan
RTBL,
melalui
Surat
Edaran
ini ini
kami
pembinaan
dan fasilitasi
penyusunan
RTBL,
melalui
Surat
Edaran
kami
sampaikan
ModulModul
Sosialisasi
Rencana
Tata Tata
Bangunan
dan dan
Lingkungan
sebagai
dokumen
komplementer
sampaikan
Sosialisasi
Rencana
Bangunan
Lingkungan
sebagai
dokumen
komplementer
Peraturan
Menteri
PU Nomor
06/PRT/M/2007
tentang
Pedoman
Umum
RTBL,
yang
terdiri
dari:
i) i)
Peraturan
Menteri
PU Nomor
06/PRT/M/2007
tentang
Pedoman
Umum
RTBL,
yang
terdiri
dari:
Panduan Sosialisasi RTBL, ii) Panduan Pemilihan Kawasan, dan iii) Tata Cara Penyusunan RTBL. Modul
Panduan
Sosialisasi
RTBL,
ii)
Panduan
Pemilihan
Kawasan,
dan
iii)
Tata
Cara
Penyusunan
RTBL.
Modul
Sosialisasi ini diharapkan dapat digunakan oleh pemerintah Provinsi, pemerintah Kabupaten/Kota dan
Sosialisasi
inidalam
diharapkan
dapat
digunakan
oleh pemerintah Provinsi, pemerintah Kabupaten/Kota dan
para pihak
terkait
menyusun
dokumen
RTBL.
para pihak terkait dalam menyusun dokumen RTBL.
Mohon kiranya Bapak/Ibu/Saudara dapat mendorong pemanfaatan Modul ini sebagai acuan dalam
kiranya
mendorong
Modul ini sebagai acuan dalam
penyusunan Mohon
dokumen
RTBL.Bapak/Ibu/Saudara
Atas perhatiannyadapat
diucapkan
terimapemanfaatan
kasih.
penyusunan dokumen RTBL. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
Direktur Jenderal Cipta Karya,

Direktur Jenderal Cipta Karya,

B u di Y u w o n o
N IP. 110020173
Tembusan kepada Yth:
1. Menteri Pekerjaan Umum;
2. Menteri
Perumahan
Tembusan
kepada Rakyat.
Yth:
3. Menteri
DalamPekerjaan
Negeri. Umum;
1. Menteri

2. Menteri Perumahan Rakyat.


3. Menteri Dalam Negeri.

B u di Y u w o n o
NIP. 110020173

Pengantar
Penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan akan mendapatkan hasil yang optimal tentunya tidak
terlepas dari telah dilaksanakannya secara tertib segala ketentuan teknis maupun administrasi sebagaimana
yang telah ditetapkan dan diamantakan oleh Undang-undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Penyelenggaraan yang tertib ini menjadi landasan pokok untuk dapat mencapai suatu hasil pembangunan yang optimal. Di lain pihak, konsep pembangunan yang berkelanjutan haruslah merupakan landasan
dari keseluruhan upaya penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan yang menuntut keterlibatan
secara aktif peran pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan telah diberlakukan sejak Maret 2007 sebagai implementasi dari amanat Undangundang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/ kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian
rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.
Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum memandang perlu untuk menyusun dan menyampaikan modul ini sebagai dokumen komplementer dari Peraturan Menteri PU Nomor 06/PRT/M/2007
tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan), dengan harapan dapat meningkatkan
pemahaman dan kapasitas aparat pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan terhadap RTBL
dan proses penyusunannya.
Semoga Modul ini dapat dimanfaatkan sebagai materi pembelajaran dan pelatihan pemahaman, serta penyusunan Dokumen RTBL bagi aparat pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan terkait, yang pada
akhirnya diharapkan dapat mengarahkan penyelenggaraan Penataan Bangunan dan Lingkungan di daerah.

Penyusun

CHAPTER ONE : Central Case Studies

BAGIAN SATU : PENGERTIAN RTBL


1. Pengertian RTBL........................................................................................ 02
2. Sejarah RTBL............................................................................................. 02
3. Tujuan Penyusunan RTBL............................................................................03
4. Ruang Lingkup Produk Rancang Kawasan.................................................. 04
BAGIAN DUA : PENGERTIAN SOSIALISASI RTBL
1. Pengertian Sosialisasi.................................................................................06
2. Maksud & Tujuan Sosialisasi..................................................................... 07
3. Hasil Yang Diharapkan............................................................................... 07
4. Jenjang Sosialisasi.....................................................................................08
5. Pelaku Sosialisasi...................................................................................... 08
6. Proses Sosialisasi ..................................................................................... 08
7. Jenis Sosialisasi ....................................................................................... 09
8. Tipe Sosialisasi.......................................................................................... 09
9. Pola Sosialisasi.......................................................................................... 10
10.Agen Sosialisasi........................................................................................ 10
11.Media Sosialisasi...................................................................................... 11
12.Teknologi Sosialisasi ............................................................................... 11
BAGIAN TIGA : SUBSTANSI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM

BAGIAN EMPAT
BAGIAN LIMA

: KETENTUAN LAIN-LAIN............................................................
: BAHAN BACAAN WAJIB............................................................

17
18

BUKU SATU

1. Ketentuan Umum....................................................................................... 12
2. Program Bangunan dan Lingkungan.......................................................... 13
3. Rencana Umum dan Panduan Rancangan................................................. 14
4. Rencana Investasi..................................................................................... 14
5. Ketentuan Pengendalian Rencana............................................................. 14
6. Ketentuan Pengendalian Pelaksanaan ...................................................... 15
7. Pembinaan Pelaksanaan ........................................................................... 15
8. Ketentuan Penutup.................................................................................... 15

: DAFTAR ISI

No.06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan

1. PENGERTIAN RTBL
Guna menghindari kecenderungan hasil pembangunan yang tidak seimbang, beberapa upaya penyembuhan dan perbaikan lingkungan
telah dilakukan dalam skala besar, sedang, maupun skala kecil. Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) adalah perangkat untuk
meminimalisasi kondisi-kondisi tak terduga dari pengembangan atau
pembangunan kawasan tertentu yang merupakan regulasi/ peraturan
tentang tata bangunan dan lingkungan berbasis pada DESAIN TERPADU
antara tataguna lahan, berbagai elemen rancang lingkungan, serta
sarana-prasarana lingkungan.

2. SEJARAH RTBL

BAGIAN SATU

: PENGERTIAN RTBL

khir tahun 80-an (tahun 1989), Departemen


Pekerjaan Umum melalui Direktorat Tata Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya merintis
kegiatan-kegiatan penataan bangunan dan lingkungan
yang pada awalnya sebagai bagian dari program perumahan pada bidang keciptakaryaan. Kegiatannya
dilakukan melalui Proyek Penataan Bangunan berupa
penyiapan Rencana Penataan Bangunan untuk beberapa kota Indonesia.

Pada awal 1994 mulai dikembangkan paradigma baru


adanya konsep penataan bangunan dan lingkungan
berupa Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
yang kemudian didiseminasikan kepada seluruh Pemerintah Daerah (Propinsi maupun Kabupaten). Kepentingan ini lahir ketika disadari bahwa untuk dapat mengendalikan pemanfaatan ruang, suatu rencana tata ruang
seyogyanya ditindaklanjuti pula dengan pengaturan di
bidang tata bangunan secara memadai, diantaranya
melalui perangkat peraturan bangunan setempat.

Kegiatan tersebut setidaknya telah memberikan banyak


masukan bagi pemerintah daerah tentang perlunya panduan/pedoman rancang kawasan, rancang kota (urban
design) sebagai bagian penting dalam upaya pengendalian
pertumbuhan kota. Kegiatan penataan bangunan ini dilaksanakan bertahap melalui beberapa paket kegiatan yaitu:
(a) kegiatan Identifikasi (untuk daerah yang belum menyiapkan daftar prioritas kawasan yang akan ditangani),
(b) kegiatan penyusunan Rencana Penataan Bangunan,
(c) kegiatan penyusunan Pedoman Penataan Bangunan,
dan
(d) kegiatan pembangunan Fisik Percontohan.

Setelah suatu kebijakan pengembangan/pembangunan


fisik ditetapkan, diperlukan beberapa ketentuan teknis
pelaksanaan fisik secara lebih rinci. Untuk itu proses yang
harus dilakukan adalah tahap kegiatan perancangan.
Hal ini sangat perlu dipahami agar tiap elemen yang telah
direncanakan dapat dinyatakan dalam wujud fisik sesuai
dengan yang diinginkan.
Pada pembangunan lingkungan, terutama terhadap
sarananya, proses perancangan tiap elemen fisiknya di-

lakukan oleh berbagai pihak khususnya oleh pihak pemilik (perorangan maupun lembaga) sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing. Keragaman pihak yang terlibat sebagai
pelaku pembangunan menghasilkan keragaman wujud fisik yang
terjadi. Untuk memperolah kualitas lingkungan sesuai dengan
yang dikehendaki, umumnya dilakukan melalui pendekatan rancang kawasan yang dalam konteks perkotaan dikenal sebagai
rancang kota (urban design).

BAGIAN SATU

Dokumen RTBL bagi suatu kawasan memiliki nilai penting yang


antara lain juga telah ditegaskan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Namun agar dapat membumi, dapat dikatakan bahwa perlunya dokumen RTBL
antara lain adalah:
1. Fenomena pertumbuhan kawasan yang cepat, tidak terarah,
dan tidak terkendali yang mendorong ke arah KESERAGAMAN
WAJAH/RUPA KOTA;
2. Timbul tuntutan untuk mempertahankan keunggulan spesifik
suatu kawasan sebagai kawasan yang berjati diri;
3. Kebutuhan INTEGRASI atas berbagai konflik kepentingan
dalam PENATAAN:
o antar bangunan
o bangunan dengan lingkungannya
o bangunan dengan prasarana kota
o lingkungan dengan konteks regional/kota
o bangunan dan lingkungan dengan aktivitas publik
o lingkungan dengan pemangku kepentingan (stakeholders)
4. Kebutuhan TINDAK LANJUT atas rencana tata ruang yang ada
sekaligus MANIFESTASI atas pemanfaatan ruang;
5. Kebutuhan untuk MEREALISASIKAN, MELENGKAPI, dan MENGINTEGRASIKAN berbagai peraturan yang ada pada suatu kawasan, ataupun persyaratan teknis lain yang berlaku;
6. Kebutuhan ALTERNATIF PERANGKAT PENGENDALI yang mampu dilaksanakan langsung di lapangan.

: PENGERTIAN RTBL

3. TUJUAN PENYUSUNAN RTBL

4. RUANG LINGKUP PRODUK RANCANG KAWASAN

Aspek

a). Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)


Adalah panduan rancang bangun suatu kawasan untuk mengendalikan
pemanfaatan ruang yang memuat rencana program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan
(urban design and development guidelines); RTBL memberi arahan kualitas wujud kawasan perencanaan ke dalam matra tiga dimensi menurut
kaidah-kaidah perancangan arsitektural bangunan dan lingkungan.

Kandungan Materi

b). Rencana Teknik Ruang Kawasan (RTRK)


Adalah rencana rinci tata ruang yang menggambarkan antara lain: rencana tapak atau tata letak (site plan) dan tata bangunan (building layout)
beserta prasarana dan sarana lingkungan serta utilitas umum. Rencana
Teknik Ruang Kawasan menggunakan peta-peta dengan skala besar.

Panduan bagi perencanaan kawasan yang memuat uraian teknis secara


terinci tentang kriteria, ketentuan-ketentuan, persyaratan-persyaratan,
standar dimensi, standar kualitas yang memberikan arahan bagi pembangunan suatu kawasan yang ditetapkan mengenai fungsi, fisik bangunan prasarana dan fasilitas umum, fasilitas sosial, utilitas maupun
sarana lingkungan
Detil yang lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut :

BAGIAN SATU

: PENGERTIAN RTBL

c). Panduan Rancang Kota/PRK (Urban Design Guidelines)

Jangka Waktu Perencanaan

Pembahasan Materi

RTRW Kabupaten
RTRW berisikan rumusan :

Apresiasi konteks dan nilai lingkungan


Program peran masyarakat (community participation)
Rencana umum desain (design plan)
- Konsep perancangan komprehensif
- Konsep peruntukan lahan
- Konsep intensitas pemanfaatan jalan
- Konsep tata bangunan
- Konsep sistem sirkulasi
- Konsep RTH
- Konsep kualitas lingkungan
- Konsep identitas dan orientasi lingkungan
- Konsep prasarana dan utilitas
- Konsep preservasi-konservasi bangunan dan lingkungan
Panduan pengembangan rancangan (design guidelines) dan detail rencana rancangan (detailed design
plan)
Program investasi
Panduan administrasi untuk pengendalian masa
pelaksanaan (administration guidelines)
Panduan arahan pengendalian pada masa pelaksanaan (development guidelines)
Program pengelolaan pemanfaatan asset property
pasca pelaksanaan (estate management program)

Tujuan pembangunan massa bangunan dan lingkungan

Pedoman pengendalian pelaksanaan


pembangunan lingkungan (administrasi, perizinan, pengaturan operasional insentif, manajemen pelaksanaan
bangunan, mekanise pelaporan

Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang


- Hirarki pusat pelayanan wilayah
- Letak, ukuran, dan fungsi kawasan lindung dan kawasan budidaya
Rencana pengelolaan kawasan lindung dan budidaya
- Pengaturan kelembagaan
- Program pemanfaatan
- Pengawasan thd kesesuain rencana
- Penertiban thd pelanggaran pemanfaatan ruang
Rencana pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan,
dan tertentu (Kelembagaan, program pemanfaatan,
pengawasan, penertiban)
Rencana sistem prasarana wilayah
- Transportasi
- Pengairan
- Telekomunikasi
- Energy
- Pengelolaan lingkungan
Rencana penatagunaan tanah, air, udara, hutan dan
sumber daya alam lain
Rencana sistem kegiatan pembangunan
- Indikasi kawasan prioritas pembangunan (kawasan strategis, terbelakang, rawan bencana, perbatasan, lindung)
- Indikasi program pembangunan

5 Tahun

10 Tahun

10 tahun

Pengendalian elemen rancang secara komprehensif (peruntukan lahan, intensitas pemanfaatan lahan, tata bangunan, sistem linkage,
RTH, kualitas lingkungan, prasarana dan utilitas,
preservasi-konservasi)
Mempertimbangkan berbagai penerapan konsep
desain arsitektural pada bangunan dan lingkungan
Mempertimbangkan penggalian konteks dan nilai
lokal pembentuk karakter lingkungan
Mempertimbangkan aspek non fisik dalam program penataan ruang
Mempertimbangkan pengendalian ekspresi langgam arsitektural bangunan dan lingkungan
Mempertimbangkan pembentukan kualitas ruang
dan karakter dan citra (image) lingkungan
Mempertimbangkan penggalian potensi penumbuh
karakter dan identitas ruang kawasan
Mempertimbangkan aspek preservasi-konservasi
elemen lingkungan
P anduan kawasan terintegrasi antar seluruh
elemen, membentuk karakter khas

Pengendalian tentang rencana perpetakan, tata bangunan, sirkulasi, utilitas


Tidak mempertimbangkan berbagai penerapan konsep desain arsitektural pada
bangunan dan lingkungan
Tidak mempertimbangkan penggalian
konteks dan nilai lokal pembentuk karakter lingkungan
Hanya mempertimbangkan aspek fisik
dalam program penataan ruang
Tidak mempertimbangkan pengendalian
ekspresi langgam arsitektural bangunan
dan lingkungan
Tidak mempertimbangkan penggalian
potensi penumbuh karakter dan identitas
ruang kawasan
Tidak
mempertimbangkan
aspek
preservasi-konservasi elemen lingkungan
Panduan hanya terkonsentrasi pada per
bagian persil/blok, antar elemen tidak terintegrasi

Pengendalian struktur dan pola pemanfaatan


ruang, pengelolaan kawasan lindung dan budidaya, serta perkotaan dan perdesaan
T idak mempertimbangkan berbagai penerapan
konsep desain arsitektural pada bangunan dan
lingkungan
T idak mempertimbangkan penggalian konteks
dan nilai lokal pembentuk karakter lingkungan
H anya mempertimbangkan aspek fisik dalam program penataan ruang, terutama konsep struktur
dan pola ruang
T idak mempertimbangkan pengendalian ekspresi
langgam arsitektural bangunan dan lingkungan
T idak mempertimbangkan penggalian potensi penumbuh karakter dan identitas ruang kawasan
T idak mempertimbangkan aspek preservasi-konservasi elemen lingkungan
T idak mempertimbangkan elemen rancang yang
terintegrasi pada setiap bagian persil/blok

Rencana tapak pemanfaatan ruang


lingkungan (perpetakan bangunan,
tata letak, sempadan, KLB, KDB, KDH,
alokasi guna bangunan, jaringan sirkulasi dan utilitas)
Arahan letak dan penampang bangunan (penampang 3D, selubung, arsitektur, signage)
Arahan letak dan penampang jalan
(penampang 3D, elevasi, letak koordinat, damija, damaja, dawasja)
Arahan letak dan penampang utilitas

: PENGERTIAN RTBL

RTR Kawasan
RTRK berisikan rumusan :

BAGIAN SATU

RTBL Kawasan
RTBL berisikan rumusan :

Pengertian Sosialisasi RTBL


Sosialisasi RTBL adalah sebuah proses penyampaian peraturan dan
materi muatan peraturan tentang RTBL dan penerimaan umpan balik
dari pemerintah kepada pemerintahan daerah (provinsi dan kabupaten/
kota) serta dari pemerintahan daerah kepada masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholder) di daerah bersangkutan.

BAGIAN DUA

: PENGERTIAN SOSIALISASI RTBL

1. PENGERTIAN SOSIALISASI
Pengirim atau Komunikator (Sender) yaitu pihak yang
mengirimkan pesan kepada pihak lain, dalam hal ini
pihak yang memberikan sosialisasi RTBL kepada pihak
menerima sosialisasi RTBL.
Pesan (Message) yaitu isi atau maksud yang akan disampaikan dalam hal ini adalah aturan dan materi muatan mengenai RTBL yang sudah ditetapkan di pusat
agar dilaksanakan di daerah.
Saluran (Channel) yaitu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai RTBL dari
pemberi pesan (komunikator) kepada penerima pesan
(komunikan).
Penerima atau Komunikate atau Komunikan (Receiver) yaitu
pihak yang menerima pesan tentang aturan dan materi muatan dari pihak lain dalam hal ini pihak yang menerima sosialisasi dari pihak yang memberikan sosialisasi.
Umpan Balik (Feedback) yaitu tanggapan dari penerimaan pesan oleh penerima pesan (komunikan) atas
isi pesan yang disampaikan oleh pemberi pesan (komunikator). Pesan dimaksud adalah aturan dan materi
muatan mengenai RTBL.

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau


transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok
atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory)
karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran
yang harus dijalankan.
Pemerintah (Pusat) memberikan sosialisasi mengenai
RTBL kepada pemerintahan daerah agar daerah dapat
menjalankan peran-peran yang harus dijalankan.
Pemerintahan Daerah melakukan sosialisasi kepada
pemangku kepentingan (stakeholder) di daerahnya
dalam rangka persiapan, penyusunan, pelaksanaan,
dan pengendalian RTBL yang ada di daerahnya.
Substansi Pokok Sosialisasi adalah Komunikasi. Dalam
Komunikasi, dikenal istilah:

2. Maksud & Tujuan Sosialisasi

Persiapan penyusunan RTBL


Penyusunan RTBL
Sosialisasi RTBL
Penetapan RTBL
Pelaksanaan RTBL, dan
Pengendalian pelaksanaan RTBL

3. Hasil Yang Diharapkan


Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan sosialisasi RTBL dapat dijabarkan sebagai berikut:
Dalam bentuk Keluaran (Output) adalah pengertian dan pemahaman aparatur pemerintahan daerah mengenai aturan RTBL.
Dalam bentuk Hasil (Outcome) adalah pemerintahan daerah
daerah kabupaten/kota segera menyusun, menetapkan, melaksanakan, dan mengendalikan pelaksanaan RTBL di daerah

BAGIAN DUA

Tujuan disusunnya panduan sosialisasi RTBL ini adalah agar


pemerintahan daerah, konsultan, dan pihak lain yang terkait penataan bangunan dan lingkungan dapat mengerti, memahami,
serta melaksanakan aturan/materi muatan RTBL di daerahnya
dimulai dengan kegiatan:

: PENGERTIAN SOSIALISASI RTBL

Maksud disusunnya panduan sosialisasi RTBL ini adalah agar Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 tentang
Pedoman Umum RTBL dapat dilaksanakan di daerah. Lebih lanjut
hal ini sejalan dengan PP No. 38/2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintah Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dimana pekerjaan umum
termasuk RTBL menjadi urusan wajib pemerintahan daerah dan
Pedoman Umum RTBL yang disusun merupakan bagian NSPK
(Norma, Standar, Prosedur, Kriteria).

men pemerintahan daerah, stakeholder, dan masyarakat pada umumnya.

kabupaten/kota serta pemerintahan provinsi berperan


melakukan koordinasi dan sinkronisasi persiapan,
penyusunan, penetapan, pelaksanaan, pengendalian
pelaksanaan RTBL di daerah kabupaten/kota.
Dalam bentuk Manfaat (Benefit) tercipta aspek-aspek
bangunan dan lingkungan yang tertata secara fisik yang
dapat mempengaruhi watak penghuni dan pengelolanya dan berorientasi konstruktif.
Dalam bentuk Dampak (Impact) diharapkan tercipta
dan tercapai tata bangunan dan lingkungan berikut watak penghuni dan pranata yang ada didalamnya sesuai
jati diri masyarakat dan daerah setempat.

5. Pelaku Sosialisasi
A. Pemerintah, sebagai pihak yang berwenang:
a. Pemerintah Pusat, dilakukan oleh:
Menteri
Direktur Jenderal
Direktur dan unsur pelaksana di bawahnya
b. Pemerintahan Daerah Provinsi, dilakukan oleh:
Gubernur
Sekretaris Daerah Provinsi dan unsur pelaksana
di bawahnya
Kepala Dinas dan/atau unsur pelaksana di bawahnya yang menangani bangunan dan lingkungan
DPRD Provinsi khususnya oleh Komisi yang menangani bidang PU/Cipta Karya
c. Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, dilakukan
oleh:
Bupati/Walikota
Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dan unsur
pelaksana di bawahnya
Kepala Dinas dan unsur pelaksana yang
menangani bangunan dan lingkungan
DPRD Kabupaten/Kota khususnya oleh Komisi
yang menangani bidang PU/Cipta Karya

BAGIAN DUA

: PENGERTIAN SOSIALISASI RTBL

4. Jenjang Sosialisasi
Sosialisasi Tingkat Nasional yaitu sosialisasi yang disampaikan kepada pemangku kepentingan tingkat
pusat. Sosialisasi seperti ini diperlukan dalam rangka
menghimpun masukan-masukan tingkat nasional.
Sosialisasi Tingkat Regional/Wilayah yaitu sosialisasi
yang disampaikan kepada pemangku kepentingan pada
tingkat regional/wilayah yang dapat terdiri beberapa
provinsi atau satu provinsi dalam rangka menghimpun
masukan-masukan pada tingkat regional/wilayah misalnya Wilayah Sumatera, Wilayah Jawa, Wilayah Kalimantan, Wilayah Sulawesi, Wilayah Bali dan Nusa Tenggara,
Wilayah Indonesia Bagian Timur lainnya.

Pihak Lain yang memperoleh penugasan dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah

Sosialisasi Tingkat Kabupaten/Kota yaitu sosialisasi


yang disampaikan oleh pemerintahan kabupaten/kota
kepada pemangku kepentingan dan warga masyarakat
pada umumnya dalam rangka persiapan penyusunan,
penyusunan, penetapan, pelaksanaan, dan pengendalian pelaksanaannya yang melibatkan seluruh ele-

6. Proses Sosialisasi
Tahap Persiapan (Preparation Stage) yaitu tahap dimana pihak yang membuat atau mengerti/memahami

Tahap Siap Bertindak (Game Stage) yaitu proses


yang lebih baik dari sekedar meniru atau mencontoh dalam hal ini disertai dengan kesa-daran penuh untuk menetapkan aturan RTBL dan melaksanakannya. Contoh pada tahap ini misalnya
adalah daerah sudah mengalokasikan anggaran,
melakukan sosialisasi pada masyarakat umum,
dan menetapkan lokasi RTBL.
Tahap Penerimaan (Generalized Stage) yaitu
tahap hasil sosialisasi dimana para pemangku
kepentingan (stakeholder) termasuk masyarakat
pada umumnya telah mampu menempatkan diri
dalam rangka implementasi aturan RTBL. Tahap
ini dapat dicontohkan bahwa pemerintahan suatu
kabupaten/kota didukung pihak-pihak terkait dan
masyarakat di lokasi yang telah dibuat RTBL untuk
bersama-sama menerapkan dokumen RTBL dan
melaksanakannya.

Sosialisasi Primer (Dalam Lingkungan) yaitu sosialisasi pertama


yang dilakukan oleh pihak yang berwenang, yaitu dapat berupa:
Sosialisasi Pedoman Umum RTBL oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintahan Daerah.
Sosialisasi oleh Pemerintah Pusat kepada para pemangku
kepentingan (stakeholder) seperti pakar, peneliti, pemerhati,
dan lembaga asosiasi (IAI, IAP, dan lain-lain) dalam rangka
memperoleh masukan- masukan perbaikan dan penyempurnaan konsep peraturan mengenai RTBL.
Sosialisasi Sekunder (Luar Lingkungan) yaitu sosialisasi lanjutan yang diberikan pihak yang telah menerima sosialisasi kepada
pihak lainnya, misalnya sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah kepada masyarakat mengenai RTBL. Dalam sosialisasi
sekunder dikenal juga istilah:
Resosialisasi yaitu untuk memberi identitas/tekanan pada aspek tertentu dalam RTBL.
Desosialisasi yaitu pencabutan atau penyesuaian identitas/
tekanan pada aspek tertentu guna menghindari hal-hal yang
ber sifat destruktif.

8. Tipe Sosialisasi
Sosialisasi Formal yaitu sosialisasi yang diberikan berkaitan dengan
kewenangan yang dimiliki institusi/lembaga dan pejabat atau tempat dimana sosialisasi dilakukan, misalnya:
Sosialisasi RTBL oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya kepada
Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Sosialisasi RTBL dari Dinas Cipta Karya Kabupaten/Kota kepada masyarakat di kawasan yang akan ditetapkan dengan RTBL
dan sosialisasi dilakukan di kantor kecamatan.

: PENGERTIAN SOSIALISASI RTBL

Tahap Meniru (Play Stage) yaitu tahap dimana


pihak yang belum mengerti/memahami meniru
atau mencontoh seluruh atau sebagian aspek
dari pihak yang mengerti/memahami dan/atau
memiliki yang juga disebut sebagai pihak yang
amat berarti. Contoh tahap ini adalah kabupaten/
kota yang sudah menerima sosialisasi mulai meniru atau mencontoh dari kabupaten/kota lain
yang sudah membuat dan melaksanakan sesuai
aturan-aturan RTBL.

7. Jenis Sosialisasi

BAGIAN DUA

RTBL melakukan sosialisasi kepada pihak yang


belum mengerti/memahami dan sebaliknya. Contoh sosialisasi pada tahap ini adalah sosialisasi
tingkat nasional, regional/wilayah dan sosialisasi
tingkat kabupaten/kota.

Sosialisasi Informal yaitu sosialisasi yang diberikan langsung dan tidak langsung oleh pihak berwenang dalam suasana atau tempat yang tidak resmi, misalnya:

BAGIAN DUA

: PENGERTIAN SOSIALISASI RTBL

Diskusi informal tentang RTBL antara pejabat Pemerintah Pusat dengan Pejabat Pemerintah Daerah.
Diskusi atau sarasehan antar masyarakat mengenai
aspek dan hal-hal keadaan nyata lapangan yang
merupakan materi substansi RTBL.
Pemasyarakatan hasil-hasil atau pengumuman tidak
resmi mengenai RTBL di tempat-tempat umum.

9. Pola Sosialisasi
Sosialisasi Represif (Repressive Socialization) yaitu sosialisasi yang menggunakan penegakan hukum terhadap
adanya kesalahan. Ciri dari sosialisasi represif misalnya:
a. Penekanannya pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan.
b. Penekanan pada kepatuhan daerah melaksanakan
Pedoman Umum RTBL.
c. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah,
nonverbal dan berisi perintah, dan lainnya.
Sosialisasi Partisipatoris (Participatory Socialization)
yaitu proses sosialisasi dimana penekanan pada interaksi dan komunikasi antara pihak yang memberikan
sosialisasi dengan pihak yang menerima sosialisasi. Contoh dari sosialisasi partisipasi adalah:
a.Pemerintah Pusat memberi keleluasaan kepada Pemerintah Daerah untuk memberikan apresiasi mengenai
Pedoman Umum RTBL sesuai konteks daerah masingmasing sepanjang tidak lepas dari konteks Pedoman
Umum RTBL.
b.Pemerintah Daerah dapat memberikan keleluasaan
kepada masyarakat yang bermukim di lokasi sasaran
penetapan RTBL untuk memberi masukan-masukan
RTBL sesuai aspirasi, kepentingan, dan kompetensi
masing-masing.

Jenjang Sosialisasi
a. Sosialisasi tingkat nasional
b. Sosialisasi tingkat regional/wilayah
c. Sosialisasi tingkat kabupaten/kota
Pelaku Sosialisasi
a. Pemerintah
pemerintah pusat
pemerintah daerah
b. Pihak lain
Proses Sosialisasi
a. Tahap persiapan
b. Tahap meniru
c. Tahap siap bertindak
d. Tahap penerimaan
Jenis Sosialisasi
a. Sosialisasi Primer
b. Sosialisasi Sekunder
Tipe Sosialisasi
a. Sosialisasi Formal
b. Sosialisasi Informal

Pola Sosialisasi Partisipatoris


Sosialisasi partisipatoris merupakan pola yang tepat dilakukan kepada pemerintah daerah, masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholder) yang memiliki pemahaman memadai mengenai RTBL.

10

Agen sosialisasi adalah pihak yang menyampaikan sosialisasi. Agen sosialisasi terdiri atas:
A. Lembaga pemerintah, meliputi:
a. Pemerintah Pusat
b. Pemerintahan Daerah, meliputi:
Pemerintahan Daerah Provinsi
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
B. Lembaga Non Pemerintah, seperti:
a. Pakar
b. Peneliti (perorangan/institusi)
c. Pemerhati (LSM), dan lainnya
C. Pihak lainnya yang kompeten seperti lembaga
asosiasi profesi (IAI, IAP, dan lainnya), asosiasi
konsultan, dan lainnya.
D. Forum atau kelompok diskusi
E. Lembaga perguruan tinggi
F. Media informasi dan komunikasi, seperti:
a. Dokumen resmi ketetapan mengenai RTBL
b. Media massa, seperti televisi, radio, koran,
majalah, buletin, jurnal, dan yang lainnya
yang memuat atau membahas materi RTBL
c. Bahan cetakan untuk sebaran/pengumuan
seperti booklet, leaflet, pamflet, brosur, dan
lainnya
d. Bahan tayangan atau materi presentasi
mengenati RTBL atau terkait dengan RTBL
e. Buku-buku tulisan ilmiah, karya tulis, tugas
akhir, dan lainnya
f. Buku-buku peraturan perundangan mulai
dari lingkup internasional, nasional, regional/wilayah, dan lokal
G. A gen lainnya termasuk tokoh masyarakat,
tokoh agama, tokoh adat, dan sejenisnya.

Media sosialisasi yang efektif termasuk yang dapat dimanfaatkan


untuk sosialisasi mengenai berbagai program dan kegiatan terkait
dengan RTBL, dinataranya adalah:
A.Buku-buku atau dokumen tertulis, seperti:
a.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum RTBL
b.Buku-buku peraturan perundangan terkait baik yang berlaku
di tingkat nasional maupun lokal
c.Buku-buku tulisan ilmiah, karya tulis, tugas akhir, dan lainnya
yang dapat memperkaya wawasan/pemahaman
B.Media massa cetak, seperti:
a.Koran
b.Buletin
c.Jurnal
d.Media ilmiah lainnya
C.Media massa elektronik, seperti:
a.Siaran radio yang mengupas tanya jawab RTBL
b.Siaran televisi yang membahas masalah RTBL
D.Pemutaran film, seperti:
a.Pemutaran film populer
b.Pemutaran film dokumenter, dan lainnya
E.Media berbasis computer, seperti:
a.Internet dan intranet
b.Website atau hompage
c.E-mail, dan lainnya.
F.Dokumen Digital (CD)

12. Teknologi Sosialisasi


Sosialisasi RTBL dapat menggunakan teknologi yang dapat diakses oleh pihak-pihak yang diyakini berkepentingan atau terkait
dengan RTBL sejak dilakukan penjajagan, proses perencanaan,

11

11

: PENGERTIAN SOSIALISASI RTBL

11. Media Sosialisasi

BAGIAN DUA

10. Agen Sosialisasi

BAGIAN TIGA :

SUBSTANSI PERATURAN
SOSIALISASI
PERATURANMENTERI
MENTERIPEKERJAAN
PEKERJAANUMUM
UMUM
NO.
06/PRT/M/2007
TENTANG
PEDOMAN
UMUM
RTBL
NO. 06/PRT/M/2007 TENTANG PEDOMAN UMUM RTBL

SUBSTANSI PERATURAN
MENTERI PEKERJAAN UMUM
NO. 06/PRT/M/2007
TENTANG PEDOMAN UMUM RTBL
Berikut ini disajikan materi ringkas/ intisari materi Peraturan menteri Pekerjaan Umum No.06/PRT/M/2007 guna memudahkan membaca dan memahami Buku Pedoman Umum RTBL seutuhnya.

1. Ketentuan Umum

(b). Maksud

(a). Pengertian
Pedoman umum adalah suatu acuan yang bersifat
umum dan dapat dipakai sebagai panduan untuk
melakukan suatu rangkaian kegiatan.
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
adalah panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan
dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana
investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan
pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingku-ngan/kawasan.
Dokumen RTBL adalah dokumen yang memuat materi pokok RTBL sebagai hasil proses identifikasi,
perencanaan dan perancangan suatu lingkungan/
kawasan, termasuk didalamnya adalah identifikasi
dan apresiasi konteks lingkungan, program peran
masyarakat dan pengelolaan serta pemanfaatan
aset properti kawasan.

12

Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan adalah sebagai panduan bagi semua pihak
dalam penyusunan dan pelaksanaan Dokumen RTBL.

(c). Tujuan

Tujuan penyusunan Pedoman Umum Rencana Tata


Bangunan dan Lingkungan adalah menjadikannya
sebagai acuan dalam menghasilkan Dokumen RTBL
yang berkua-litas, memenuhi syarat dan dapat diimplementasikan dalam mewujudkan tata bangunan
dan lingkungan yang layak huni, berjati diri, produktif,
dan berkelanjutan.

(d). Lingkup

Lingkup Pedoman Umum ini meliputi seluruh materi


RTBL, pengaturan pelaksanaan di daerah, dan pembinaan teknis.

2. Program Bangunan dan


Lingkungan
Bagian ini mengatur tentang analisis yang diperlukan
pada awal penyajian Dokumen RTBL sebagai penjabaran

13

NO. 06/PRT/M/2007 TENTANG PEDOMAN UMUM RTBL

Bagian ini mengatur rencana umum dan panduan rancan- gan didalam
Dokumen RTBL.
Pokok-pokok yang dijelaskan adalah (1) pengertian, (2) manfaat, (3) komponen rancangan, dan (4) prinsip-prinsip penataan, atas:
Struktur peruntukan lahan
Intensitas pemanfaatan lahan
Tata bangunan
Sistem sirkulasi dan jalur penghubung
Sistem ruang terbuka dan tata hijau
Tata kualitas lingkungan
Sistem prasarana dan utilitas lingkungan
Seluruh bagian komponen rancangan diatas harus dipenuhi dalam proses
perencanaan umum. Perencanaan umum harus mengikuti panduan perancangan yang telah disediakan.

SUBSTANSI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM

3. Rencana Umum dan Panduan Rancangan

BAGIAN TIGA :

lebih lanjut dari perencanaan dan pe- runtukan lahan yang memberikan
jastifikasi sekaligus legitimasi program bangunan dan lingkungan.
Proses analisis yang diperlukan, diantaranya:
Analisis kawasan dan wilayah perencanaan
Analisis sosial, ekonomi, budaya
Analisis fisik lingkungan, pertanahan, dan penataan ruang
Analisis aspek historis (bagan kecenderungan atau kalender musim)
Alat analisis yang digunakan, misalnya SWOT atau alat analisis lainnya
Analisis pengembangan pembangunan berbasis masyarakat
Prinsip utama pembangunan berbasis masyarakat yaitu aspirasi-kebutuhan-kemampuan-upaya masyarakat
Tahapan, bentuk, proses partisipasi, dan sebagainya
Konsep dasar perancangan tata bangunan dan lingkungan
Visi dan Isi (contents), kriteria yang digunakan, dan sebagainya.

4. Rencana Investasi

BAGIAN TIGA :

SUBSTANSI
SOSIALISASIPERATURAN
PERATURANMENTERI
MENTERIPEKERJAAN
PEKERJAANUMUM
UMUM
NO.
06/PRT/M/2007
TENTANG
PEDOMAN
UMUM
RTBL
NO. 06/PRT/M/2007 TENTANG PEDOMAN UMUM RTBL

Bagian ini mengatur dan menjelaskan bagaimana rencana


investasi disusun berdasarkan Dokumen RTBL yang memperhitungkan kebutuhan nyata para pemangku kepentingan (stakeholder).
Materi pokok rencana investasi meliputi:

(a) Skenario Strategi Rencana Investasi


Berdasarkan aspek-aspek perencanaan ditetapkan jangka waktu minimal investasi adalah 5 (lima)
tahun dengan pelaku investasi pemerintah pusat
dan daerah dari berbagai sektor, dunia usaha, dan
masyarakat.
Pola-pola penggalangan dana dan tata cara investasi.
Analisis kelayakan proyek untuk jenis proyek cost
recovery dan non-cost recovery.
Strategi investasi yang disusun berdasarkan langkah-langkah penyiapan paket, perencanaan biaya,
pemasaran paket, dan penyiapan detil investasi.

(b) Pola Kerja Sama Operasional (KSO)


Investasi:

A. Strategi Pengendalian Rencana, dalam bentuk:


Aspek administratif, misalnya melalui mekanisme IMB,
dan lainnya.
Aspek arahan rencana, misalnya rencana harus dapat
menampung aspirasi masyarakat.
B. Arahan Pengendalian Rencana, yaitu seperti:
Penetapan rencana dan indikasi program pelak-sanaan
dan pengendalian pelaksanaan, ter-masuk kesepakatan wewenang dan kelembagaan.
Penetapan paket kegiatan pelaksanaan dan pengendalian jangka menengah.
Penyiapan pelibatan dan pemasaran paket pembangunan untuk pemangku kepentingan (stakeholder).

6. Ketentuan Pengendalian
Pelaksanaan
Bagian ini mengatur tentang pedoman bagaimana pengendalian pelaksanaan atas program bangunan dan lingkungan dilakukan. Ketentuan pengendalian mencakup
pokok-pokok dibawah ini:

(a) Pengendalian Pelaksanaan, yaitu pada:

Pola Build Operate and Transfer (BOT)


Pola Build Own Operate and Transfer (BOOT)
Pola Build Own and Operate (BOO)
Alternatif KSO lainnya

5. Ketentuan Pengendalian Rencana


Bagian ini mengatur pengendalian rencana kerja, program
kerja, kelembagaan kerja, masa pember-lakuan aturan
didalam RTBL, akuntabilitas, dan lain-lain. Secara umum
pengendalian rencana didalam RTBL dilakukan melalui:

14

Aspek-aspek pengendalian
Kriteria dan pertimbangan pengendalian
(b) Pengendalian Kawasan, yaitu diarahkan agar
sesuai dengan:
Tujuan pengelolaan kawasan
Lingkup pengelolaan
Aset properti yang dikelola
Pelaku pengelolaan
Aspek-aspek pengelolaan, dan
Sistematika pedoman pengelolaan

(a) Pemerintah, antara lain dalam bentuk:


Melakukan identifikasi lokasi potensial dan
menetapkan diliniasi lingkungan di kawasan
strategis nasional melalui penyusunan
RTBL.
Bersama pemerintah daerah menyusun
RTBL.
Memberikan advis dan fasilitasi yang dibutuhkan daerah
Melaksanakan kegiatan fisik dan melakukan pengawasan, dan lain-lain.
(b) Pemerintah Daerah, melalui:
Melakukan identifikasi lokasi potensial
yang memerlukan RTBL.
Menyusun RTBL pada kawasan prioritas.
Memberikan advis dan fasilitasi yang dibutuhkan.
Menetapkan Dokumen RTBL melalui Peraturan Gubernur dan Peraturan Bupati/
Walikota.
Menyebarluaskan Peraturan Gubernur/
Bupati/Walikota diatas.
Melaksanakan kegiatan fisik dan melakukan pengawasan.
Mengendalikan pelaksanaan Peraturan
Gubernur dan Peraturan Bupati/Walikota,
dan lain-lain.

Pokok-pokok ketentuan penutup meliputi:


Pedoman Umum RTBL ini bersifat umum untuk memandu
penyusunan RTBL dan pelaksanaan penataan bangunan
dan lingkungan baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan.
Spesifikasi dan persyaratan teknis yang bersifat lebih rinci
tentang penataan bangunan dan lingkungan mengikuti ketentuan dalam peraturan perundang-undangan, standar, dan
pedoman teknis yang berlaku.
Dengan pertimbangan efektivitas pelaksanaan dan kontekstuali-tas permasalahan, pemerintah daerah dapat menyusun pedoman pelaksanaan yang bersifat lebih spesifik
dalam menjabarkan Pedoman Umum RTBL ini.

15

NO. 06/PRT/M/2007 TENTANG PEDOMAN UMUM RTBL

Bagian ini berisikan pokok-pokok ketentuan penutup atas Pedoman


Umum RTBL.

Bagian ini mengatur aspek bagaimana pembinaan pelaksanaan RTBL dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Pembinaan pelaksanaan di-lakukan oleh:

SUBSTANSI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM

8. Ketentuan Penutup

BAGIAN TIGA :

7. Pembinaan Pelaksanaan

Penyusunan RTBL oleh Pemerintahan Kabupaten/


Kota meru-pakan amanat PP No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002
tentang Bangunan Gedung yang selaras dengan RTRW
dan/atau RDTRKP dan/atau RP4D.

2.

Penyusunan RTBL dipertegas dengan PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi,
dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dimana
penyusunan RTBL merupakan bagian lingkup kegiatan
pekerjaan umum cipta karya yang merupakan urusan
wajib pemerintahan daerah khususnya oleh pemerintahan kabupaten/kota.

3.

Penetapan Dokumen RTBL dilakukan berdasarkan


Peraturan Bupati/Walikota atau Peraturan Gubernur
untuk DKI Jakarta sejalan dengan UU No. 10 Tahun
2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan.

4.

Penyusunan RTBL memperkuat peran daerah sebagai


bagian dari pelaksanaan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

17

BAGIAN EMPAT

1.

: KETENTUAN LAIN-LAIN

KETENTUAN LAIN-LAIN

: BAHAN BACAAN WAJIB


BAGIAN LIMA

BAHAN BACAAN
Dalam rangka meningkatkan pemahaman peraturan tentang RTBL maka kepada pihak-pihak yang tugas pokok dan
fungsinya terkait dengan RTBL diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang aspek legal dengan cara membaca dan memahami peraturan peundang-undangan seperti tersebut dibawah ini.

(a) Bahan Bacaan Wajib:

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan (RTBL)
Peraturan yang ditetapkan daerah bersangkutan terkait dengan pelaksanaan RTBL.

(b) Bahan Bacaan Pendukung:


UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung beserta PP No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang beserta peraturan-peraturan turunannya di pusat dan daerah
PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan antara Pemerintah dengan Pemerintahan Daerah Provinsi
dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

18