Anda di halaman 1dari 5

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Data World Health Organization (WHO) yang diterbitkan tahun 2008

menyebutkan bahwa 7,6 juta jiwa penduduk dunia meninggal karena kanker, 70%

kasus kematian karena kanker terjadi di negara-negara berkembang dan hanya

30% yang berhasil ditangani. Jumlah kasus kanker di Asia diperkirakan akan

melonjak dari 4,5 juta pada tahun 2002 menjadi 7,1 juta pada tahun 2020 jika

tidak dilakukan peningkatan usaha pencegahan maupun penanganan. Berdasarkan

data

Riset

Kesehatan

Dasar

(Riskesda)

tahun

2007

yang

diterbitkan

oleh

Departemen Kesehatan (2008) dinyatakan bahwa tingkat kematian karena kanker

di Indonesia adalah sebesar 4% dari setiap 1000 penduduk. Kasus kematian

karena kanker di Indonesia pada tahun 2008 pada laki-laki berkisar pada angka

136.000 jiwa dan perempuan 109.000 jiwa. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat

644.000 kasus kanker kepala dan leher, dimana dua pertiga dari kasus tersebut

terjadi di negara berkembang. Di negara berkembang, kejadian kanker kepala dan

leher lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan rasio 2

banding 1, sementara di negara maju rasionya mencapai 3 banding 1 (Marur &

Forastiere, 2008; Brown et al., 2010).

Data registrasi kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais dari tahun 1993

- 2007 menunjukkan bahwa kanker nasofarings yang merupakan salah satu contoh

kanker kepala dan leher menduduki urutan kedua keganasan terbanyak (14,66%)

1

2

pada laki-laki antara tahun 1993 - 1998 setelah kanker trakea, bronkus dan paru-

paru (18,4%) sedangkan pada perempuan nasofarings (3,76%) berada di urutan ke

empat setelah kanker payudara (31,24%), leher rahim (28,23%) dan ovarium

(5,75%). Tahun 1998-2002 pada laki-laki nasofarings (13,66%) tetap berada di

urutan ke dua setelah trakea, bronkus dan paru (16,96%), sedangkan pada tahun

2002-2007 kanker nasofarings menduduki urutan pertama dari semua keganasan

terbanyak pada laki-laki (Suzanna et al., 2012).

Kanker kepala dan leher disebabkan oleh banyak faktor diantaranya

karena merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, infeksi virus dan faktor

genetis (Sankaranarayan et al., 1992; Kabat et al.,1994; Blot et al., 1998; McKaig

et al., 1998; Shen et al., 2002). Walaupun merokok dan mengkonsumsi alkohol

merupakan faktor utama penyebab terjadinya kanker kepala dan leher, tetapi hal

ini tidak terlepas dari adanya perubahan genetis karena adanya mutasi gen. Gen

p53 merupakan gen penting yang mengekspresikan Tumor Protein 53 (TP53)

yang berperan dalam mengontrol siklus sel, diferensiasi sel,

memfasilitasi

perbaikan DNA jika terjadi kerusakan, modulator untuk respon sel terhadap stress,

menekan tumor dengan apoptosis, dan sebagai modulator untuk aktivitas agen anti

kanker (Shen, 2002; Gasco et al., 2003; Chin, 2004).

Perubahan pada p53 baik karena mutasi, metilasi atau sekuestrasi pada

sitoplasma dan inaktivasi pada TP53 merupakan penyebab terjadinya sejumlah

kasus kanker pada manusia terutama kanker kepala dan leher (Partridge et al.,

2007). Sejumlah peneliti telah menganalisis secara molekular dan melaporkan

3

hingga 9 dengan frekuensi kejadian mutasi yang berbeda. Kodon 238-248 pada

ekson 7 dan kodon 278-281 pada ekson 8 merupakan hotspot mutasi yang sering

terjadi pada pasien kanker kepala dan leher. Misalnya mutasi pada kodon 248 p53

yang bersama dengan apoptotic stimulating protein of p53 (ASPP) mengatur

tentang apoptosis menyebabkan penghambatan pada pro-apoptotic protein akan

memicu

aktivitas

sel

yang

(Partridge et al., 2007).

tidak

terkendali

sehingga

menyebabkan

kanker

Penelitian yang lain juga membuktikan bahwa TP53 menjadi tidak

fungsional

disebabkan

karena

adanya

pengikatan

protein

oleh

Human

Papillomavirus (HPV) (Partridge et al., 2007). Paradigma baru menjelaskan

bahwa pasien kanker kepala dan leher pada laki-laki bukan perokok dan tidak

mengkonsumsi alkohol dengan rentang usia antara 40 hingga 60 tahun adalah

positif HPV. Sebanyak 70% HPV 16 ditemukan di orofarings pada kanker kepala

dan leher. Pada saluran sinonasal, HPV 16 ditemukan 20% pada Squamosa-Cell

Carsinoma (SCC) (Leemans et al., 2011).

Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai Pusat Kanker Nasional sudah

memiliki sistem untuk typing HPV baik secara genotyping maupun serotyping

pada kejadian kanker serviks, tetapi adanya infeksi HPV pada kanker kepala dan

leher belum dilakukan penelitian. Selain itu, penegakan diagnosa kanker kepala

dan

leher

secara

molekular

terkait

kejadian

mutasi

pada

p53

juga

belum

dilakukan, sehingga penelitian ini akan mempelajari secara molekular infeksi

HPV 16/18 dan kejadian mutasi p53 ekson 8 pada pasien kanker kepala dan leher

dengan metode PCR dan sequencing.

4

B. Permasalahan

Permasalahan pada penelitian ini antara lain:

1. Apakah dapat dikembangkan genotyping HPV 16/18 pada kasus kanker

kepala dan leher?

2. Apakah terjadi mutasi p53 ekson 8 pada kasus kanker kepala dan leher?

3. Apakah terdapat perbedaan kejadian dan jenis mutasi p53 ekson 8 pada

jaringan tumor segar, jaringan tumor FFPE dan darah tepi pada kanker

kepala dan leher dengan status HPV 16/18 positif dan negatif?

4. Bagaimana konformasi protein TP53 ekson 8 yang termutasi?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk:

1. Mengembangkan genotyping HPV 16/18 pada kasus kanker kepala dan

leher.

2. Mendeteksi mutasi p53 ekson 8 pada kasus kanker kepala dan leher.

3. Mempelajari perbedaan kejadian dan jenis mutasi p53 ekson 8 pada

jaringan tumor segar, jaringan tumor FFPE dan darah tepi pada kanker

kepala dan leher dengan status HPV 16/18 positif dan negatif.

4. Mempelajari konformasi TP53 ekson 8 yang termutasi.

5

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini antara lain:

1. Memberikan

informasi

baru

kepada

peneliti,

praktisi

medis

klinis,

maupun masyarakat pada umumnya tentang adanya infeksi HPV 16/18

pada

kanker

kepala

dan

leher,

sehingga

upaya

pencegahan

dan

pengobatan dapat dilakukan berbasis pengetahuan ini.

2. Memberikan informasi tentang kemungkinan adanya mutasi p53 yang

terkait

dengan

kanker

kepala

dan

leher

sehingga

dapat

menjadi

penelitian pendahuluan yang menjadi dasar penelitian penanganan atau

pengobatan kanker secara tepat misalnya melalui terapi gen.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini yaitu:

1. Subyek penelitian merupakan pasien kanker kepala dan leher di

Rumah Sakit Kanker Dharmais yang telah ditegakkan diagnosisnya

dengan pemeriksaan klinis dan histopatologis.

2. Sampel yang akan diteliti berupa darah perifer dan jaringan tumor

baik

jaringan

segar

maupun

jaringan

Formalin

Fixed

Paraffin

Embedded (FFPE) dari pasien kanker kepala dan leher di Rumah

Sakit Kanker Dharmais.