Anda di halaman 1dari 10

680-681-682

OBAT ANALGESIK NON-OPIOID


Obat antiinflamasi non-steroid
Prostaglandin memiliki peran dalam persepsi nyeri. NSAID menmblok sintesis
prostaglandin dengan menghambat enzim siklooksigenase. NSAID mengurangi respon
inflamasi pada trauma operasi, memiliki sebuah efek analgesik non-prostaglandin
perifer dan bekerja secara sentral dengan menghambat sintesis prostaglandin ditulang
belakang. Efek samping NSAID

seperti yang sudah diketahui meliputi kerusakan

lapisan mukosa gastrointestinal, tubular ginjal dan disfungsi platelet. Tergantung


jumlahnya, Belum ditetapkan jika ada NSAID yang memediasi peningkatan perdarahan
setelah torakotomi. Meskipun beberapa penelitian setelah tonsilektomi menyebutkan
bahwa peningkatan perdarahan mungkin minimal. Gagal ginjal adalah faktor risiko
tertentu pada pasien usia lanjut yang menjalani operasi mayor. Pasien dengan gagal
ginjal yang sebelumnya telah ada dan pasien dengan hipovolemik. Ini adalah faktor
risiko yang sering muncul pada pasien yang telah dijadwalkan untuk operasi thorak.
Ada kekhawatiran bahwa NSAID yang memediasi pengurangan inflamasi dapat
menurunkan efikasi dari pembedahan yang melakukan pleurodesis. Selama lebih dari 25
tahun, NSAID telah digunakan untuk mengontrol nyeri setelah torakotomi. NSAID
telah terbukti secara signifikan meningkatkan kontrol nyeri pada pasien yang menerima
opioid sistemik setelah torakotomi. NSAID belum terbukti secara signifikan
mengurangi skor rasa sakit pada pasien yang menerima analgesik thorak epidura;
setelah torakotomi. NSAID mungkin efektif dalam mengendalikan nyeri bahu ipsilateral
setelah torakotomi pada pasien yang menerima analgesik thorak epidural. Walaupun
penelitian pada daerah ini masih terbatas.
Penghambat COX-2
Isoenzim yang berbeda dari enzim siklooksigenase yang ada termasuk COX-1
dan COX-2 [77]. Isoenzim COX-1memiliki fungsi fisiologis sedangkan isoenzim COX2 diinduksi selama inflamasi. NSAID bervariasi dalam selektivitas mereka untuk
menghambat

isoenzim

siklooksigenase

ini.

Beberapa

selektif

menghambat

siklooksigenase 2 dan disebut Penghambat COX-2. Agen ini memiliki risiko yang lebih

rendah untuk menyebabkan efek samping pada saluran cerna atas dan menyebabkan
kurangnya penghambatan trombosit dibandingkan pada NSAID yang non-selektif.
Terdapat beberapa bukti bahwa penghambat COX-2 dapat membatasi perngembangan
toleransi opioid akut [78]. Terdapat kekhawatiran tentang efek yang merugikan dari
penghambat COX-2 (dan NSAID) pada pertumbuhan tulang [79, 80]. Tahun 2004/2005,
dua penghambat COX-2 (rofecoxib dan valdecoxib) ditarik karena kekhawatiran bahwa
terdapat peningkatan risiko komplikasi trombosis kardiovaskular

ketika agen ini

diambil setiap hari untuk waktu yang lama. Penelitian selanjutnya mendukung temuan
ini sebagai sebuah efek dari kelas COX-2 (dan non-selektif NSAID) [81, 82].
Peringatan dibutuhkan jika obat-obat ini di berikan secara rutin untuk waktu yang lama.
Keamanan dari penghambat COX-2 dalam keadaan peri-operasi masih kontroversi.
Untuk pasien yang menjalani CABG pada kardiopulmonari bypass terdapat peningkatan
risiko kejadian trombotik kardiovaskular pada pasien yang menerima penghambat
COX-2 selektif parecoxib / valdecoxib [83, 84]. Sebuah studi dari berbagai prosedur
bedah non-jantung termasuk pembedahan dada tidak menunjukkan peningkatan insiden
kejadian trombotik kardiovaskular pada pasien yang menerima penghambat COX-2
slelektif parecoxib / valdecoxib [85]. Tingkat risiko kardiovaskular yang terkait dengan
penggunaan jangka pendek peri-operatif COX-2 dan NSAID masih kontroversial. Pada
setiap pasien, faktor risiko kardiovaskular mereka dan risiko dari obat alternatif atau
teknik analgesik perlu dipertimbangkan. Risiko kardiovaskular antara agen bervariasi,
misalnya NSAID naproxen memiliki faktor risiko kardiovaskular yang lebih rendah
daripada diklofenak [86].
Asetaminofen
Asetaminofen mungkin, agen analgesik non-opioid teraman, bekerja secara
sentral dengan menghambat sintesis prostaglandin dan [87] dan mungkin melalui sistem
serotoninergik [88]. Asetaminofen juga mungkin memiliki perangkat tindakan antiinflamasi[89]. Sebuah meta-analisis terbaru menemukan bahwa setelah operasi mayor
penambahan asetaminofen dengan morfin PCA mengurangi konsumsi morfin sampai
dengan 20% tetapi tidak menurunkan insiden efek samping morfin yang terkait [90]
(lihat Gambar. 46,5).

Ada beberapa bukti bahwa efek asetaminofen dan NSAID adalah additif [91,
92]. Pemberian secara teratur asetaminofen rektal telah terbukti mengurangi keparahan
nyeri bahu ipsilateral pasca-torakotomi [93]. Ketika diberikan secara rektal dosis harus
melebihi dosis oral sebesar 50%, dan akun harus diambil dari onset yang lambat [94].
Propacetomol, sebuah prodrug yang dihidrolisis untuk asetaminofen dengan plasma
esterases, dapat diberikan secara intravena. Propacetomol telah terbukti mengurangi
konsumsi morfin setelah bedah tulang belakang [95] dan bedah jantung [96] meskipun
pengurangan konsumsi morfin setelah operasi jantung tidak ditampilkan dalam studi
sebelumnya, yang mungkin disebabkan metodologi [97]. Tidak seperti NSAID dan
penghambat COX-2, asetaminofen pada dosis klinis memiliki beberapa kontraindikasi
atau efek samping. Ini dianggap aman untuk pasien berisiko gagal ginjal [94].
Asetaminofen sering diberikan pasca-torakotomi [3].
Antagonis NMDA
Ketamine, obat anastesi dengan sifat analgesik, adalah antagonis nonkompetitif
dari situs phensiklidin dari reseptor NMDA. Ketamine sekarang jarang digunakan untuk
induksi atau pemeliharaan anestesi karena efek sampingnya terutama adalah efek
psikomimetik. Saat ini sudah ada, namun, minat baru dalam penggunaan dosis kecil
ketamin sebagai adjuvant untuk analgesik pasca-operasi. Aktivasi reseptor spinal
NMDA memainkan peran penting dalam pengembangan sensitisasi saraf pusat yang
menyebabkan manifestasi nyeri [98]. Antagonis reseptor NMDA meningkatkan opioidinduksi analgesik dan dapat membatasi pengembangan toleransi opioid [98, 99]. Dosis
kecil ketamin telah terbukti memiliki efek kecil opioid setelah operasi perut[100].
Dalam penelitian buta dua arah pada pasien yang melakukan operasi thorak
menambahkan ketamin pada morfin melalui sebuah sistem IV-PCA mengurangi
konsumsi morfin dan meningkatkan FEV1 pada awal paska-operasi. Pada studi yang
lain, menambahkan ketamin dosis rendah intravena melalui infus untuk analgesik
epidural thorak meningkatkan analgesik pada awal paska-torakotomi. Penggunaan
ketamin paska-operasi harus dipertimbangkan untuk beberapa pasien, sebagai contoh
pada pasien kronis yang menerima opioid dosis tinggi.
Gabapentin

Gabapentin,

1-

(aminometil)

asam

asetat

sikloheksana,

adalah

obat

antikonvulsan yang efektif dalam mengobati nyeri neuropati [103] post herpetic
neuralgia [104]. Gabapentin mungkin bertindak melalui sejumlah mekanisme. Lokasi
yang paling mungkin untuk efek anti-nosiseptornya dengan mengikat subunit a2d dari
subunit saluran kalsium tegangan-dependent [105]. Penyerapan gabapentin adalah
tergantung dosis. Di Amerika gabapentin memiliki lisensi produk untuk pengobatan
nyeri neuropatik. Karena mekanisme kerjanya dan efektivitasnya dalam mengobati
neuropatik, keefektivitasannya dalam mencegah nyeri kronis pasca operasi telah diteliti.
Belum terdapat bukti klinis bahwa ini dapat mengurangi nyeri kronis paska-operasi.
Penggunaan gabapentin untuk nyeri akut peri-operatif adalah "off-label". Terdapat bukti
yang baik bahwa gabapentin mengurangi skor nyeri pasca operasi awal dan mengurangi
konsumsi opioid pada 24 jam awal pada pasien yang akan menjalani berbagai prosedur
operasi. Gabapentin telah diberikan sebagai dosis oral tunggal pra-operasi mulai dari
300 sampai 1.200 mg dan sebagai dosis multipel peri-operatif. Tidak ada pengurangan
nyeri tambahan atau efek sparing opioid yang terdeteksi ketika beberapa dosis multipel
perioperatif diberikan dan karena itu untuk tujuan yang praktis dosis tunggal pre-operasi
1,200mg atau lebih rendah direkomendasikan. Gabapentin adalah obat penenang dan
anxiolitik, dan dosis untuk obat premedikasi lain harus disesuaikan. Pada penelitiak
plasebo-kontrol, gabapentin tidak menurunkan nyeri bahu ipsilateral pada pasien yang
menerima nalgesik thorak epidural. Penggunaan gabapentin pre-operasi dapat
dipertimbangkan pada pasien yang diantisipasi memiliki kesulitan mengontrol nyeri
paska-operasi , sebagai contoh pasien yang akan melakukan torakotomi dimana anastesi
blok lokal tidak dijadwalkan dan pada pasien dengan toleran opioid.
Glukokortikoid
Glukokortikoid ( deksamethasone ) memiliki banyak efek yaitu sebagai
analgesik,

ant-emetik,

anti-piretik

dan

anti-inflamasi.

Pengurangan

produksi

prostaglandin melalui penghambatan fosfolipase dan isoenzyme COX-2 dipercaya


menjadi jalur utama untuk efek analgesik. Deksamethasone telah terbukti untuk
menghasilkan efek hemat opioid tergantung dosisnya pada bedah umum, dan telah
efektif dalam mengurangi skor nyeri dengan pergerakan dinamik. Onset dari
analgesiknya lebih lambat dibandingkan analgesik tradisional tetapi dapat bertahan lama

dan telah dilaporkan bertahan sampai dengan 7 hari. Efek ini telah diproduksi dengan
dosis tunggal deksamethasone dalam jangkauan 10-40 mg dengan beberapa dilaporkan
adanya efek samping yang serius. Resiko pemakaian glukortikoid antara lain iritasi
lambung, penyembuhan luka yang terganggu, homeostasi glukosa yang terganggu dan
retensi sodium. Dosis optimal untuk menyeimbangkan ini dan faktor risiko lainnya,
belum diteliti dan membutuhkan penelitian lebih lanjut, terkait dengan operasi thorak.
Kesulitan kontrol nyerti pasca-torakotomi harus diantisipasi dan tidak ada
kontraindikasi pemakaian glukokortikoid, beberapa pasien mungkin sudah mendapatkan
manfaat dengan dosis tunggal deksamaethasone 10-16 mg sebagai bagian dari regimen
multimodal analgesik.
TEKHNIK NON-FARMAKOLOGI
Stimulasi Saraf Transkutaneus (TENS)
Stimulasi saraf transkutaneus telah dikembangkan menggunakan teori gerbang
untuk mengurangi nyeri. Sebuah penelitan meta-analisis di publikasikan pada tahun
1996 tentang keefektivan TENS dalam nyeri akut paska-operasi ditemukan sedikit bukti
untuk keefektivannya dalam penelitian random yang adekuat. Sebaliknya, TENS
dianggap oleh penulis aslinya lebih efektif dalam sebagian besar studi non-acak yang
dianalisis [115]. Tujuh studi telah meneliti keefektivan menambahkan TENS paskatorakotomi sebagai rejimen analgesia [116-122]. Beberapa penelitian tidak secara
adekuat diacak dan yang lain tidak cukup untuk membutakannya. Ketika dianalisis
secara tepat, sebagian besar dari studi yang tersisa tidak menunjukkan manfaat yang
signifikan [118-120]. Meskipun tidak dianjurkan, TENS mungkin memiliki beberapa
manfaat setelah operasi VVT [120].
Krioanalgesia
Sementara dada terbuka saraf interkostal dapat diblok sampai dengan 6 bulan
dengan pemakaian dari krioprob. Analgesia terletak lebih rendah dari fentanil thorak
epidural dan tekhnik ini dikaitkan dengan peningkatan insidens nyeri kronik paskatorakotomi. Krioanalgesia sekatang jarang digunakan untuk memberikan analgesia
paska-torakotomi dan tidak direkomendasikan.

TEKHNIK SPESIFIK
Kateter Kontinus Infilrasi Luka
Studi acak telah menunjukkan bahwa memberikan anestesi lokal ke dalam luka melalui
kateter yang ditempatkan sebelum penutupan dapat mengurangi penggunaan opioid
pasca operasi [125] dan dapat mengurangi edema pada luka [126]. Untuk pasien yang
menerima infus paravertebral terus menerus, potensi toksisitas anestesi lokal biasanya
membuat teknik ini tidak pantas. untuk pasien yang menerima analgesia epidural
thoraks, teknik ini biasanya tidak perlu. Ini harus, bagaimanapun, dipertimbangkan
untuk pasien yang tidak dijadwalkan untuk menerima infus anestesi lokal dengan rute
lainnya untuk mengontrol rasa sakit pasca operasi.
Blok Saraf Interkostal
Saraf tulang belakang membagi menjadi ramus dorsal dan ventral. Terdapat
sebelas ramus dada atas ventral membentuk saraf interkostal yang berjalan ke depan
antara tulang rusuk di ruang interkostal. Setiap saraf interkostal memberikan cabang
kutaneus lateralis yang menembus otot interkostal proksimal ke garis posterior untuk
memasok aspek lateral dinding dada. Ini penting karena saraf interkostal diblokir pada
bagian proksimalnua ke garis aksilaris posterior untuk memastikan bahwa cabang
lateralis kulit dan dengan demikian aspek lateral dinding dada diblokir. Dorsal rami
dada melalui belakang mendekati vertebra untuk memasok persarafan kulit ke belakang.
Dorsal rami tidak terhalang oleh blok saraf interkostal. Ini membatasi efektivitas blok
interkostal saraf untuk thoracotomies posterolateral (lihat Gambar. 46,6).
694-695
Nyeri bahu paska-torakotomi. Nervus Phrenicus menyediakan oercabangan sensorik ke
pleura mediastinum, perikardium fibrosa, lapisan parietal dari perikardium serosa dan
pleura yang berhubungan dengan bagian tengah diafragma. Pada sebagian besar pasien,
penjelasan yang paling mungkin dari nyeri bahu ipsilateral aska-torakotomi adalah
iritasi pada perikardium, mediastinum dan permukaan pleura diafragma yang
mengakibatkan rasa sakit yang menjalar ke bahu melalui nervus phrenicus. Pada

beberapa pasien dengan nyeri bahu ipsilateral paska-torakotomi dan adanya saluran
pada apikal dada yang diperluas sampai ke puncak rongga dada, penarikan saluran
beberapa sentimeter dari dada dapat mengurangi rasa sakit. Ini menjelaskan adanya
iritasi pleura apikal oleh saluran dada merupakan penyebab lain dari nyeri bahu
ipsilateral paska-torakotomi.
Studi terbaru telah membantu memandu pengobatan nyeri bahu ipsilateral
paska-torakotomi. Nyeri ini tahan terhadap bolus epidural [76] dan opioid intravena
[19]. Gabapentin pra-operasi [109] juga sama tidak efektif. Pengobatan yang efektif
untuk pengobatan nyeri bahu ipsilateral paska-torakotomi meliput asetaminofen,anti
inflamsi non-steroid, blok saraf frenikus intra-operasi langsung, blok saraf frenikus
paska-operasi tidak langsung, Asetaminofen rectal adalah aman dan cukup efektif
walaupun pada pengalaman menunujukkan intravena asetamniofen lebih efektif.
Penggunaan asetaminofen secara oral, rektal ataupun intravena untuk mengobati nyeri
bahu ipsilateran paska-torakotomi direkomendasikam. Antiinflamasi non-steroid adalah
efektif untuk mengontrol nyeri bahu ipsilateral paska torakotomi dan pada pengalaman
pribadi menunjukkan bahwa mereka lebih efektif daripada asetaminofen. Efek samping
NSAID yang telah diketahui bagaimanapun merupakan kekhwatiran yang sering pada
pasien yang tua dan lemah yang telah menjalani operasi thorak dan resiko perlu dinilai
sebelum penggunaannya. Intra-operative blok saraf frenikus adalah efektif. Efek durasi
yang pendek dengan lidokain dapat diperpanjang menggunakan ropivacaine akan tetapi
pemilihan pasien adalah penting karena yang dihasikan unilateral paresis diafragma
dapat merusak ventilasi. Blok saraf frenikus harus dipertimbangkan pada pasien paskaoperasi paru dengan fungsi yang tidak mengkhawatirkan dan pada pasien yang akan
melakukan pneumonektomi. Pada pasien paska-pneumonektomi, hilangnya fungsi
digrafragma unilateral memiliki efek terbatas pada ventilasi dan dapat memiliki manfaat
tambahan untuk mengurangi ruang pneumonektomi. Paska-operasi interscalene blok
pleksus brakialis telah terbukti efektif dalam mengobati nyeri bahu ipsilateral pascatorakotomi pada laporan kasus sebuah studi prospektif. Blok saraf frenikus merupakan
efek samping dari blok interscalene pleksus brakialis hampir pasti menjelaskan
efektivitas blok. Karena komplikasi yang potensial yang terkait dnegan blok ini kami
merekomendasikan blok interscalene pleksus brakialis dipertimbangkan hanya untuk
pasien dengan nyeri bahu ipsilateral paska-torakotomi yang berat dan cadangan paru

yang memadai. Meskipun, blok ganglion stellata mungkin efektif dalam mengobati
nyeri bahu ipsilateral paska-torakotomi, penggunaannya untuk tujuan ini tidak
direkomendasikan.
TEKHNIK UNTUK PROSEDUR SPESIFIK
Sternotomi
Sebuah sternotomy dapat digunakan untuk menyediakan akses untuk berbagai
Bedah prosedur termasuk reseksi tumor anterior mediastinum. Pada penutupan sternum
yang terbagi biasanyadiperbaiki secara internal degan kawat. Fiksasi ini membatasi
gerakan tulang dan mengurangi rasa sakit. Analgesik pasca-sternotomy yang adekeuat
biasanya dapat dicapai dengan ditambah sistem IV-PCA morfin jika sesuai dengan
analgesik non-opioid. Anestesi lokal infiltrasi luka dapat mengurangi konsumsi opioid
dan seharusnya dipertimbangkan. Infiltrasi luka terus menerus melalui dan / atau kateter
subkutan mungkin lebih efektif tetapi bukti efektivitasnya terbatas, dengan beberapa
penelitian yang menunjukkan terdapat manfaat. Analgesia epidural Thoracic dapat
memberikan hasil yang sangat efektif paska-sternotomi. Kateter harus diletakkan di
tingkat yang lebih tinggi (T3 / T4) daripada untuk torakotomi (T6 / T7) dan setiap
parestesia dari permukaan medial lengan terdeteksi dini, untuk memungkinkan
pengurangan tepat waktu di tingkat infus epidural untuk membatasi risiko blok bilateral
nervus frenikus (C4-C5) pada dada. Analgesia epidural harus dipertimbangkan untuk
pasien dengan fungsi paru-paru jelek yang menjalani prosedur paru bilateral melalui
sternotomi (mis operasi pengurangan volume). Sebuah anastesi lokal blok parasternal
dapat mengurangi kebutuhan opioid dan harus dipertimbangkan pada pasien dengan
fungsi paru-paru yang buruk di antaranya anestesi epidural merupakan kontraindikasi.
Operasi dengan bantuan video
Sayatan terbatas dapat membatasi rasa sakit pasca operasi. Analgesik yang
sesuai tergantung dari operasi yang dilakukan. Analgesik thorak epidural biasanya
disediakan untuk pasien yang menjalani VAT operasi pengurangan volume paru dan
mungkin bermanfaat bagi pasien yang melakukan esofagektomi minimal invasif. Blok
paravertebral dan/atau sebuah sistem IV-PCA mungkin menguntungkan bagi pasien

yang menjalani reseksi paru VAT. Analgesik minimal mungkin diperlukan setelah biopsi
plural VAT atau simpatektomi.
Torakotomi Terbuka
Sejumlah besar teknik manajemen nyeri telah dijelaskan untuk pasien
torakotomi terbuka. Hal ini termasuk administrasi anestesi lokal, opioid dan lainnya
obat untuk menyediakan blok saraf interkostal [128-130], interpleural blok [136-139],
blok paravertebral [162, 251, 252], lumbar epidural analgesia [253-255], dada analgesia
epidural [1, 2, 178, 185, 186], intratekal analgesia [166-172] dan analgesia sistemik
[10]. Selain itu, non-farmakologis adalah teknik krioanalgesia [123, 124] dan TENS
[116-122] telah digunakan. Kontrol nyeri yang baik paska-torakotomi sulit dicapai tanpa
anastase regional ( atau blok saraf multipel ) dan ini direkomendasikan bahwa tekhnik
anastesi regional dapat dipakai sendiri atau dengan kombinasi analgesik sistemik untuk
memberikan efek analgesia paska-torakotomi. Karena selain blok paravertebral semua
tekhnik analgesik regional lainnya lebih rendah untuk analgesia epidural thoraks [10].
Pemilihan teknik anestesi regional biasanya antara analgesia toraks epidural dan blok
paravertebral.
Epidural Thoracic biasanya menyediakan analgesia pasca-torakotomi dengan
campuran epidural opioid dan anestesi lokal. Pasien biasanya tidak menerima analgesik
sistemik terpisah dari mungkin acetaminophen atau NSAID untuk nyeri bahu.
Sebaliknya, blok paravertebral biasanya dilengkapi dengan morfin sistemik , NSAID
dan analgesik sistemik lainnya untuk setidaknya pada awal periode paska-operasi.
Perbedaan ini penting dalam interpretasi studi yang telah membandingkan toraks
analgesia epidural dan blok paravertebral. Sebuah meta analisis yang diterbitkan pada
tahun 2006 termasuk 10 percobaan dengan 520 pasien yang terdaftar.
Pada enam percobaan, kelompok epidural menerima konsentrasi yang lebih
tinggi

dari

anestesi

lokal

epidural

dari

yang

umumnya

digunakan

atau

direkomendasikan. Hal ini juga diketahui bahwa kejadian hipotensi paska-operasi


meningkat ketika konsentrasi yang lebih tinggi dari anestesi lokal epidural digunakan.
Demikian pula, hanya terdapat empat percobaan dimana anestesi lokal epidural
dilengkapi dengan penggunaan opioid dianjurkan pada praktek yang biasa [14].
Meskipun dengan keterbatasan ini, dapat disimpulkan bahwa dua teknik tersedia yang

membandingkan analgesik dan komplikasi paru lebih rendah pada kelompok


paravertebral. Demikian pula, Ulasan pada tahun 2008 tekhnik regional untuk analgesia
paska-torakotomi meneukan bahwa anastesi lokal dan opioid melalui infus thorak
epidural secara terus-menerus memberikan analgesia yang paling konsisten effektif.
Bagaimanapun, ketika dibandingkan dengan analgesik sistemik, blok thorak
paravertebral tetapi bukan analgesik thorak epidural mengurangi kejadian komplikasi
pulmonar. Pada praktekm kedua tekhnik memiliki keuntungan pada pasien tertentu dan
akuisisi keahlian pada kedua tekhnik dianjurkan. Untuk pasien dengan perkiraan fungsi
paru diambang batas paska-operasi, analgesik awal yang baik dan kemampuan untuk
kerjasama dengan perekrutan manuver paru-paru paska-operasi mungkin penting.
Lokasi thorak yang tepat dapat memberikan analgesik awal yang baik terpercaya
dengan sedasi minimal dan penggunaan mereka pada skenario ini dianjurkan. Sebuah
analisis retrospektif pada sebuah data institut menunjukkan bahwa FEV1 pre-operasi
yang turun dibawah 60%

diprediksi sebagai faktor risiko independen untuk

perkembangan komplikasi pulmonar paska operasi. Penggunaan analgesik thorak


epidural dihubungkan dengan penguran resiko komplikasi pulmonar dan mengurangi
mortalitas pada pasien dengan FEV1 <60% , meskipun tidak ada pasien yang kabarkan
menerima blok paravertebral. Sebuah studi prospektif dengan observasi 1 tahun dari
pneumonektomi di Amerika Serikat menemukan bahwa analgesia epidural secara
signifikan berhubungan dengan hasil akhir yang buruk.
Pada pasien dengan fungsi pulmonar baik yang melalukan reseksi paru terbatas,
pemberian analgesik awal mungkin kurang gawat dan analgesik paravertebral
memungkinkan mobilisasi sebelumnya dan memperpendek rawat inap di rumah sakit.
Pada sebagian besar pasien, keputusan harus dibuat jelas dengan mempertimbangkan
faktor risiko terkait dan manfaat dari kedua tekhnik harus dibuat pada pasien tertentu.
Untuk pasien yang tidak melakukan baik blok thorak epidural atau blok paravertebral ,
ini dapat dipertimbangkan untuk penggunaan blok saraf interkostal atau intrathecal
opioid pre-operasi.