Anda di halaman 1dari 3

Hemostasis adalah kemampuan alami untuk menghentikan perdarahan pada lokasi luka

oleh spasme pembuluh darah, adhesi trombosit dan keterlibatan aktif faktor koagulasi, adanya
koordinasi dari endotel pembuluh darah, agregasi trombosit dan aktivasi jalur koagulasi.
Pemeriksaan faal hemosatasis adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui faal
hemostatis serta kelainan yang terjadi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari riwayat
perdarahan abnormal, mencari kelainan yang mengganggu faal hemostatis, riwayat pemakaian
obat, riwayat perdarahan dalam keluarga.
Pada Praktek Kerja Lapangan (PKL) di RSUD Sanjiwani Gianyar dilakukan pemeriksaan
faal hemostasis yaitu pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT) dan Activated Partial
Tromboplastin Time (APTT). Pemeriksaan faal hemostasis ini dilakukan dengan dengan
menggunakan instrumen Sysmex CA-104 metode turbodensitometry. Secara sederhana metode
dari alat ini adalah adanya reaksi antara reagen koagulasi dengan analit pada sampel akan
membentuk bekuan yang memiliki intensitas kekeruhan yg khas , cahaya pada alat akan
melewati sampel yang telah terbentuk bekuan dan menyesuaikan intensitasnya sesuai dengan
tingkat kekeruhan bekuan dan diteruskan menuju photodetector untuk dirubah menjadi sinyal
electrik dan output berupa angka.
Pada proses pengerjaan sampel, terbagi menjadi tiga tahap yaitu pre-analitik, analitik dan
post-analitik. Pada tahap pre-analitik dilakukan pelabelan tabung sesuai identitas pasien,
penampungan sampel darah dengan tabung antikoagulan Na-sitrat serta pemisahan plasma.
Alasan penggunaan antikoagulan Na-sitrat dikarenakan, Na-sitrat ( 1 bagian citrat + 9 bagian
darah) dapat menghambat aktivitas faktor pembekuan dengan mengikat kalsium menjadi
kompleks kalsium sitrat, sehingga menghambat aktifitas fibrinogen menjadi fribrin (bekuan).
Sampel harus segera dicampur segera setelah pengambilan untuk mencegah aktivasi proses
koagulasi dan pembentukan bekuan darah yang menyebabkan hasil tidak valid. Pencampuran

dilakukan dengan membolak-balikkan tabung sebanyak 4-5 kali secara perlahan, karena
pencampuran yang terlalu kuat dan berkali-kali (lebih dari 5 kali) dapat mengaktifkan
penggumpalan platelet dan mempersingkat waktu pembekuan. Untuk mendapatkan plasma sitrat,
maka darah dalam tabung biru harus segera dicentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 3000
rpm dan dianalisa maksimal 2 jam setelah sampling. Karena apabila analisa dilakukan lebih dari
2 jam, dapat mempengaruhi hasil yang disebabkan oleh telah terbentuknya fibrinogen dalam
darah.
Proses analitik masih sebagian besar melibatkan peran serta analis, hal ini dikarenakan alat
Sysmex CA-104 bukan merupakan alat full automated analyzer sehingga untuk pencampuran
dan penentuan waktu inkubasi masih dilakukan secara manual. Untuk pemeriksaan PTT (Plasma
Protombin Time) adalah uji yang dilakukan untuk menilai kemampuan faktor koagulasi jalur
ekstrinsik dan jalur bersama, yaitu : faktor I (fibrinogen), faktor II (prothrombin), faktor V
(proakselerin), faktor VII (prokonvertin), dan faktor X (faktor Stuart), reagen yang digunakan
untuk pemeriksaan PTT adalah Dade Inovin, dimana reagen ini memiliki kandungan terpenting
yaitu tromboplastin jaringan, terbentuknya bekuan dapat terjadi bila ke dalam plasma yang telah
diinkubasi (diambil 50L) ditambahkan campuran tromboplastin jaringan yang terdapat pada
reagen dade inovin sebanyak 100 L reagen dade inovin.
Pemeriksaan APTT (Activated Partial Thromboplastin Time) merupakan uji laboratorium
untuk menilai aktifitas faktor koagulasi jalur intrinsik dan jalur bersama, yaitu faktor XII (faktor
Hagemen), pre-kalikrein, kininogen, faktor XI (plasma tromboplastin antecendent, PTA), faktor
IX (factor Christmas), faktor VIII (antihemophilic factor, AHF), faktor X (faktor Stuart), faktor V
(proakselerin), faktor II (protrombin) dan faktor I (fibrinogen). Reagen yang digunakan untuk
pemeriksaan APTT adalah Dade Actin FS dan CaCl 2, actin FS memiliki kandungan utama
tromboplastin parsial (fosfolipid) dengan bahan pengaktif ( ellagic acid). Terbentuknya bekuan

disebabkan pencampuran 50L plasma sitrat dengan 50L reagen actin FS yang mengandung
tromboplastin parsial (fosfolipid) dan ellagic acid, dan penambahan ion kalsium (50L CaCl2)
yang memicu terbentuknya bekuan. Pada tahap post-analitik adalah pencatatan hasil pemeriksaan
PTT dan APTT yang dikeluarkan oleh alat, karena pencatatan dilakukan secara manual maka
sangat diperlukan ketelitian dan kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan pencatatan hasil.
Dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan di RSUD Sanjiwani Gianyar selama
satu bulan terdapat sekitar 1 permintaan pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT) dan
Activated Partial Tromboplastin Time (APTT). Adapun permasalahan yang dialami pada
pemeriksaan APTT dan PPT ini adalah nilai dari PPT/APTT tidak terbaca oleh alat. Hal ini dapat
disebakan karena penetesan volume reagen yang kurang tepat. Penetesan reagen setelah
pengikubasian pada waktu tertentu, dilakukan saat pada layar monitor muncul perintah aktif.
Untuk pemecahan masalah dilakukan pengulangan pengerjaan dan dipastikan prosedur yang
dilakukan telah benar, apabila telah dilakukan pengulangan pengerjaan dengan prosedur yang
telah sesuai dan masih menunjukkan hasil yang sama, maka hal tersebut bisa terjadi karena nilai
PPT/APTT dari sampel darah pasien memang memanjang sehingga tidak dapat diukur oleh alat.
Selain itu perlu diperhatikan penggunaan obat oleh pasien, dimana pasien dengan obat
heparinisasi atau pengencer darah dapat memberikan hasil yang memanjang.