Anda di halaman 1dari 151

EVALUASI DAMPAK PROGRAM SANITASI BERBASIS MASYARAKAT (SANIMAS) DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (Studi di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kota Medan)

S K R I P S I Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S1) Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Administrasi Negara

OLEH :

ZUDIKA DM MANULLANG 1 0 0 9 0 3 0 2 2

Negara OLEH : ZUDIKA DM MANULLANG 1 0 0 9 0 3 0 2 2 DEPARTEMEN

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2014

1
1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas setiap berkat dan

penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi Dampak Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi di Kelurahan Bagan Deli Kecamtan Medan Belawan Kota Medan)”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sosial dari Departemen Ilmu Administrasi Negara di Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tua, Ayahanda Sudirman Manullang dan Ibunda Elisabeth Juniar Simanjuntak, yang dengan kasih sayang dan rela hati memberikan doa serta restu bagi penulis selama menempuh masa pendidikan. Terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus karena senantiasa memberkati orang tua dan seluruh keluarga penulis. Selama pengerjaan skripsi ini, penulis mendapat banyak sekali arahan, bimbingan, motivasi, saran serta kritik dari semua pihak yang turut membantu penulis dalam menyelesaikannya. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan FISIP USU.

2. Bapak Drs. M. Husni Thamrin Nasution, M.Si selaku Ketua Departemen Ilmu Administrasi Negara.

3. Ibu Dra. Elita Dewi, M.SP selaku Sekretaris Departemen Ilmu Administrasi Negara.

4. Ibu Dra. Nurlela Ketaren, M.SP selaku dosen pembimbing akademik selama masa perkuliahan.

5. Bapak Drs. M. Ridwan Rangkuti, M.S selaku dosen pembimbing skripsi yang begitu tulus dan murah hati dalam membimbing dan memotivasi penulis selama pengerjaan skripsi ini .

6. Ibu Dra. Asima Yanti Siahaan, P.hD selaku dosen penguji yang juga turut memberikan arahan dan bimbingan untuk skripsi ini.

7. Ibu Ir. Hj. Ritha Lisda Lubis, M.Hum selaku Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara yang telah memberi izin penelitian.

8. Ibu Dra. Siti Mahrani Hasibuan selaku Sekretaris Balitbang Kota Medan yang juga memberikan izin penelitian.

9. Bapak Saut Sinaga selaku Kepala Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan yang telah memberi izin melakukan penelitian di Kelurahan Bagan Deli.

10. Bapak Ir. Herianto selaku Pejabat Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan dan Permukiman yang bersedia sebagai informan penelitian.

11. Seluruh Bapak dan Ibu dosen dan staf pengajar di Departemen Ilmu Administrasi Negara yang menambahkan kepada penulis pengajaran dan pengalaman hidup.

12. Seluruh staf pegawai administrasi di Departemen Ilmu Administrasi Negara, khususnya Kak Mega dan Kak Dian yang turut meringankan langkah penulis selama masa pendidikan.

13. Adik-adik penulis (Daniel, Ruth dan Debora), saudara (khususnya Kak Maya) dan keluarga (Tulang, Pak Tua dan Maktua, Oppung dan Bou) yang banyak mendukung dan mendoakan penulis selama pendidikan, serta teman dekat penulis yang turut menyemangati dan mendoakan kebersamaan ini, Jerri Sanjaya Nababan.

14. Saudara di Kelompok Gita Lee-El (Bang Daniely Aroz Daely dan Ira Purba) yang selalu berbagi kasih, penguatan, dan doa. Juga saudara di Kelompok Diadema (Kak Rascel, Marisi dan Devi).

15. Adik-adik Kelompok Naomi Latisha (Apritania, Debby, Irene, Jesika) dan Nehemia (Dian, Soezono, Sondang, Andi). Terima kasih untuk semangat dan doa kalian.

16. Sahabat terbaik “Batokers” (Ira Purba, Ade Auristha Manurung, Mariance Hasibuan, Susanti Lona Silalahi, Petra Rosjuwita Telaumbana, Christine

Anne Dearni Batubara, David Saputra, Maulana All Ravi dan Bobby Trimart Gea), terima kasih untuk kasih sayang sebagai anggota keluarga baru dan pengalaman hidup bersama kalian.

17. Teman-teman Kelompok Magang Desa Sei Musam Kendit (Anya, Ira, Ance, Chyntia, Nurhayati, Dewi, Deddy, Dion, Fritz, Yanan, Imam dan Farid).

18. Dan, seluruh teman-teman angkatan 2010.

Demikian yang dapat penulis sampaikan. Meski begitu, penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dari segi penulisan dan isi, mohon saran dan kritik yang dapat membangun kebaikan skripsi ini. Akhir kata, kiranya setiap pembaca dapat menemukan hal bermanfaat didalam skripsi ini. Sekian dan terima kasih.

Medan,

Juli 2014

Zudika DM Manullang

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………

i

DAFTAR ISI………………………………………………………

iii

DAFTAR TABEL…………………………………………………

vii

DAFTAR BAGAN…………………………………………………

ix

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………

x

DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………

xi

ABSTRAK…………………………………………………………… xii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………………

1

1.2 Fokus Masalah…………………………………………………

8

1.3 Rumusan Masalah……………………………………………

8

1.4 Tujuan Penelitian………………………………………………

9

1.5 Manfaat Penelitian…………………………………………….

9

1.6 Kerangka Teori………………………………………………

9

1.6.1 Kebijakan Publik………………………………………

10

1.6.1.1 Pengertian Kebijakan Publik…………………

10

1.6.1.2 Tahapan Kebijakan Publik…………………….

13

1.6.2 Implementasi Kebijakan………………………………

15

1.6.3 Evaluasi Kebijakan……………………………………

17

1.6.3.1 Tujuan Evaluasi Kebijakan……………………

18

1.6.3.2 Langkah-Langkah Evaluasi Kebijakan……….

19

1.6.3.3 Pendekatan Evaluasi………………………….

20

1.6.3.4 Model Evaluasi Kebijakan……………………

23

1.6.3.5 Kriteria Evaluasi………………………………

24

1.6.3.6 Metode Evaluasi………………………………

31

1.6.3.7 Evaluasi Dampak Kebijakan…………………

32

1.6.3.8 Model Evaluasi Yang Digunakan Peneliti……

35

1.6.4

Pemberdayaan Masyarakat……………………………

35

1.6.4.1 Tahap-tahap Pemberdayaan…………………

38

1.7 Definisi Konsep……………………………………………….

39

1.8 Definisi Operasional…………………………………………

40

1.9 Sistematika Penulisan ………………………………………

41

BAB II METODE PENELITIAN

2.1 Bentuk Penelitian……………………………………………

43

2.2 Lokasi Penelitian……………………………………………

43

2.3 Informan Penelitian……………………………………….…

44

2.4 Teknik Pengumpulan Data……………………………………

44

2.5 Teknik Analisis Data…………………………………………

46

BAB III DESKRIPSI UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1 Gambaran Umum Kota Medan………………………………

48

3.1.1 Letak Geografis………………………………………

48

3.1.2 Pemerintahan………………………………………… 49

3.1.3 Demografi……………………………………………. 52

3.2 Gambaran Umum Kecamatan Medan Belawan………………

55

3.2.1 Letak Geografis……………………………………….

55

3.2.2 Pemerintahan………………………………………… 57

3.2.3 Demografi……………………………………………. 59

3.3 Gambaran Umum Kelurahan Bagan Deli…………………….

60

3.3.1 Letak Geografis……………………………………….

60

3.3.2 Pemerintahan…………………………………………. 63

3.3.3 Demografi……………………………………………

66

3.4 Gambaran Umum Distarukim Provsu………………………….

69

3.4.1 Tugas dan Fungsi Distarukim………………………….

69

3.4.2 Visi dan Misi Distarukim………………………………

71

3.4.3 Satker PPLP……………………………………………

74

3.4.3.1 Program dan Kegiatan……………………….

75

3.5 Gambaran Umum Program SANIMAS……………………

77

3.5.1 Program Sanitasi Berbasis Masyarakat………………

77

3.5.2 Visi dan Misi Program Sanimas……………………

80

3.6 Gambaran Umum Permen No. 15/PRT/M/2010……………

80

BAB IV PENYAJIAN DATA

4.1 Karakteristik Informan………………………………………

82

4.2 Deskripsi Hasil Wawancara…………………………………

85

4.2.1 Indikator Efektivitas……………………………….

86

4.2.2 Indikator Efisiensi…………………………………

91

4.2.3 Indikator Kecukupan………………………………

93

4.2.4 Indikator Pemerataan………………………………

96

4.2.5 Indikator Responsivitas……………………………

98

4.2.6 Indikator Ketepatan…………………………………

101

4.3 Pelaksanaan Program SANIMAS di Kelurahan Bagan Deli

105

BAB V ANALISIS DATA

5.1 Analisis Evaluasi Program Sanitasi Berbasis Masyarakat

(SANIMAS)………………………………………………

110

5.2 Analisis Evaluasi Dampak Program SANIMAS dalam Pemberdayaan Masyarakat………………………………….

124

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan…………………………………………………

131

6.2 Saran………………………………………………………

.

134

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………… LAMPIRAN

135

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1

Lokasi Sanimas Tahun 2012 Propinsi Sumatera Utara…… 6

Tabel 1.2

Pendekatan Evaluasi………………………………………. 22

Tabel 1.3

Kriteria Evaluasi…………………………………………

25

Tabel 1.4

Metodologi Untuk Evaluasi Program…………………….

32

Tabel 3.5

Banyaknya Kelurahan dan Lingkungan Menurut

Kecamatan di Kota Medan Tahun 2007-2011……………

51

Tabel 3.6

Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin

Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2009………………

53

Tabel 3.7

Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin

Tahun 2011……………………………………………….

55

Tabel 3.8

Data Umum Mengenai Kecamatan Medan Belawan…….

56

Tabel 3.9

Luas Wilayah Dirinci per Kelurahan Tahun 2012……….

57

Tabel 3.10

Banyaknya Pegawai Negeri Kantor Camat dan Instansi

Pemerintah Di Kecamatan Medan Belawan Tahun 2012… 58

Tabel 3.11

Komposisi Penduduk Berdasarkan Etnis di Kelurahan

Bagan Deli………………………………………………… 66

Tabel 3.12

Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama di Kelurahan

Bagan Deli………………………………………………… 67

Tabel 3.13

Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

dan Usia di Kelurahan Bagan Deli………………………… 68

Tabel 3.14

Penduduk Menurut Pemakaian MCK di Kelurahan

 

Bagan Deli……………………………………………….

69

Tabel 3.15

Penduduk Menurut Pemakaian Air di Kelurahan

Bagan Deli………………………………………………

69

Tabel 4.16

Pengklasifikasian Informan Berdasarkan Jenis Kelamin…

84

Tabel 4.17

Pengklasifikasian Informan Berdasarkan Tingkat

Pendidikan………………………………………………

85

Tabel 4.18

Pengklasifikasian Informan Berdasarkan Jenis Pekerjaan… 86

Tabel 5.19

Nama Pengurus KSM Bunga Tanjung……………………. 107

DAFTAR BAGAN

Bagan 3.1

Struktur Organisasi Pemerintah Kota Medan ………….

49

Bagan 3.2

Peta Kecamatan Medan Belawan………………………

56

Bagan 3.3

Jumlah Penduduk Per Kelurahan se-Kecamatan

Medan Belawan Tahun 2012 …………………………

59

Bagan 3.4

Struktur Organisasi Kelurahan Bagan Deli…………….

64

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1

Kantor Kecamatan Medan Belawan…………………

58

Gambar 3.2

Kelurahan Bagan Deli……………………………….

62

Gambar 3.3

Kantor Kelurahan Bagan Deli……………………….

65

Gambar 4.1

Bangunan MCK+ di Lorong Ujung Tanjung I………

89

Gambar 4.2

Ketua KSM Bunga Tanjung di depan Bangunan MCK+

Di Lorong Ujung Tanjung…………………………

109

Gambar 4.3

Bangunan MCK++ Tahun 2013 di Lingkungan IV….

109

Gambar 5.1

Tiga Kamar Mandi Tampak Depan…………………

114

Gambar 5.2

Tiga Kamar Mandi Dari Dalam MCK+……………

114

Gambar 5.3

Tempat Khusus Cuci…………………………………

114

Gambar 5.4

Tempat Khusus Mandi……………………………….

115

Gambar 5.5

Kamar Mandi Dilengkapi Dengan Kakus……………

115

DAFTAR LAMPIRAN

1. Pedoman Wawancara Untuk Pelaksana Program (Kelompok Swadaya Masyarakat)

2. Pedoman Wawancara Untuk Pegawai PPLP Dinas Tarukim Sumut

3. Transkrip Wawancara Untuk PPK PI PLP Distarukim Provsu

4. Transkrip Wawancara Untuk Pelaksana Program (KSM)

5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 15/PRT/M/2010 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur

6. Surat Keterangan Pengajuan Judul Skripsi

7. Surat Permohonan Persetujuan Judul

8. Surat Undangan Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi

9. Jadwal Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi

10. Daftar Hadir Peserta Seminar Proposal

11. Berita Acara Seminar Proposal

12. Surat Penunjukan Dosen Pembimbing

13. Surat Izin Penelitian

14. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Balitbang Pemprovsu

15. Surat Rekomendasi Penelitian dari Balitbang Pemko Medan

16. Surat Keterangan Selesai Melakukan Penelitian dari Kelurahan Bagan Deli

ABSTRAK

EVALUASI DAMPAK PROGRAM SANITASI BERBASIS

MASYARAKAT (SANIMAS) DALAM PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT DI KELURAHAN BAGAN DELI KECAMATAN MEDAN

BELAWAN KOTA MEDAN

Nama : Zudika DM Manullang

Departemen : Ilmu Administrasi Negara

Dosen Pembimbing : Drs. M. Ridwan Rangkuti, M.Si

Persoalan sanitasi di Sumatera Utara relatif masih tertinggal. Banyak penduduk yang belum mendapatkan akses sanitasi layak. Program sanitasi berbasis masyarakat (SANIMAS) adalah bentuk kebijakan pemerintah yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum terkait perbaikan sanitasi di lingkungan permukiman padat, kumuh dan miskin di perkotaan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 15/PRT/M/2010, program ini dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur. Pelaksanaan kegiatan DAK SANIMAS diselenggarakan secara swakelola melalui proses pemberdayaan masyarakat, mulai dari tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan konstruksi dan pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program dan melihat dampak SANIMAS dalam pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Bagan Deli. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan deksriptif dan model evaluasi Single Program Before-After. Informan penelitian yaitu Pejabat Pembuat Komitmen Pengembangan Infrastruktur Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) Dinas Tarukim Sumut dan Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bunga Tanjung sebagai informan kunci. Sementara itu, masyarakat Lorong Ujung Tanjung I Lingkungann V Kelurahan Bagan Deli merupakan informan utama penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 2012 program SANIMAS telah terlaksana dengan baik. Program SANIMAS memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat yaitu meningkatkan derajat martabat masyarakat, meningkatkan derajat kesehatan dan meningkatan derajat martabat keluarga. Oleh karenanya, sebaiknya program ini tetap dilanjutkan dan perlu diperluas cakupannya serta harus ada pemeliharaan bersama oleh masyarakat. Akan tetapi, dalam hal pemberdayaan, masyarakat belum seluruhnya dapat diberdayakan karena masih kurangnya pembinaan dari pemerintah daerah bagi masyarakat sasaran.

Kata Kunci (Keywords): Evaluasi Dampak, Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS), Kelurahan Bagan Deli

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Akses terhadap air bersih dan layanan sanitasi bersih adalah hak azasi

manusia

dan

juga

kebutuhan

mutlak

setiap

orang.

Sama

halnya

dengan

pendidikan, kesehatan merupakan kebutuhan mendasar yang penting bagi setiap

manusia. Manusia tidak hanya cukup berinvestasi bagi pendidikan, tetapi juga

kesehatan. Pemeliharaan kesehatan khususnya terhadap sanitasi seperti akses air

bersih dan jamban sangat perlu untuk dibudayakan. Sebab, sanitasi yang sehat

merupakan kunci untuk menciptakan masyarakat yang sehat.

Kesehatan lingkungan adalah salah satu bagian dari kesehatan masyarakat.

Upaya menyehatkan lingkungan berarti juga sebagai salah satu usaha untuk

menyehatkan masyarakat. Lingkungan yang sehat akan meningkatkan peluang

pengembangan ekonomi, kesempatan sekolah bagi anak-anak,

meningkatkan

produktivitas manusia, dan mengurangi polusi terhadap air. Secara umum, tujuan

kesehatan lingkungan menurut Budiman Chandra (2005:4) adalah melakukan

koreksi atau perbaikan terhadap segala bahaya dan ancaman pada kesehatan dan

kesejahteraan hidup manusia, melakukan usaha pencegahan dengan cara mengatur

sumber-sumber lingkungan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan

kesejahteraan

hidup

manusia,

dan

melakukan

kerja sama

serta menerapkan

program terpadu di antara masyarakat dan institusi pemerintah serta lembaga

nonpemerintah dalam menghadapi bencana alam atau wabah penyakit menular.

Permukiman

kumuh

masih

menjadi

masalah

klasik

yang

dihadapi

Indonesia

sebagai

negara

dengan

populasi

masyarakat

terbesar

di

dunia.

Pertumbuhan penduduk kota di Indonesia yang begitu cepat telah memberikan

dampak sangat serius terhadap penurunan daya dukung lingkungan. Ada banyak

penduduk yang bertempat tinggal secara tidak manusiawi di berbagai kota besar

dan kota kecil. Turunan dari masalah pemukiman kumuh ini tidak lain yaitu

keterbatasan akses air dan sanitasi bersih. Inilah akibat minimnya kesadaran

masyarakat yang menyebabkan berkembangnya perilaku tidak sehat.

Masyarakat Indonesia di daerah kumuh padat perkotaan belum menyadari

pentingnya perilaku hidup sehat dengan menjaga kesehatan lingkungan. Slamet

(2009:2) berpendapat orang sadar bahwa penyakit itu banyak sekali ditentukan

oleh berbagai faktor, antara lain perilaku masyarakat sendiri. Norma serta budaya

yang menentukan gaya hidup masyarakat akan menciptakan keadaaan lingkungan

yang sesuai dengannya dan menimbulkan penyakit yang sesuai dengan gaya

hidupnya tadi. Jadi, menurutnya, untuk menjadi sehat tidak cukup hanya dengan

pencegahan penyakit secara perseorangan, tetapi harus melihat dan mengelola

masyarakat

sebagai

satu

kesatuan

bersama

lingkungan

hidupnya.

Peran

masyarakat pertama-tama disini adalah menyadari pentingnya mengubah perilaku

hidup sehat dengan pengelolaan sanitasi.

Permasalahan sanitasi buruk merupakan masalah publik. Dalam kondisi

inilah peran pemerintah sebagai alat negara hadir dan terlibat menangani masalah

tersebut.

Apapun

pilihan

pemerintah

terhadap

masalah

publik,

baik

untuk

melakukan sesuatu maupun tidak, itulah kebijakan pemerintah. Sebagai suatu

proses seperti dikatakan Graycar dalam Kaban (2008:59), kebijakan menunjuk

pada cara dimana melalui cara tersebut pemerintah dapat mengetahui apa yang

diharapkan darinya, seperti program dan mekanisme dalam mencapai produknya

(tujuannya).

Dengan

sebuah

program,

untuk mencapai tujuan publik.

pemerintah

menetapkan

kebijakannya

Persoalan sanitasi di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara (Sumut)

dinilai masih relatif tertinggal. Banyak penduduk yang belum mendapatkan akses

sanitasi layak (Harian Medan Bisnis, 10 Nopember 2013). Pemerintah berasumsi

perlunya pendekatan paradigma baru untuk mengejar ketertinggalan sanitasi

dengan kelestarian lingkungan sebagai prinsip utama. Paradigma baru yang

diterapkan untuk masing-masing sektor yaitu, sektor air limbah, persampahan dan

sektor drainase perkotaan.

Pendekatan program sanitasi berbasis masyarakat (SANIMAS) sebagai

bentuk kebijakan pemerintah terkait perbaikan sanitasi bagi masyarakat yang

tinggal di kawasan padat kumuh miskin perkotaan. SANIMAS adalah program

nasional yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum sejak tahun 2006

dan dirancang untuk memberdayakan masyarakat di lingkungan permukiman

padat, kumuh dan miskin di perkotaan. SANIMAS menempatkan masyarakat

sebagai pelaku, pengambil keputusan, dan penanggung jawab kegiatan mulai dari

identifikasi, perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan dan pengawasan.

Program SANIMAS menggunakan prinsip Demand Responsive Approach

(DRA)

atau

kabupaten/kota

Pendekatan

yang

Tanggap

harus

menyampaikan

minat

Terhadap

Kebutuhan.

terlebih

dahulu,

apabila

Pihak

tidak

menyampaikan minat maka mereka tidak akan difasilitasi. Salah satu bentuk

minat tersebut adalah dengan kemauan mengalokasikan dana APBD. Hal ini

sesuai dengan prinsip pendanaan SANIMAS yaitu multi sumber (multisource of

fund). Selain itu, SANIMAS juga menggunakan prinsip seleksi-sendiri (self

selection),

opsi

teknologi

sanitasi,

partisipatif

dan

pemberdayaan

(http://www.ampl.or.id/old/ampl/sekilassanimas.php diakses pada 10 Nopember

2013 pukul 16.30 WIB ).

Pola penyelenggaraan SANIMAS dilakukan oleh Kelompok Swadaya

Masyarakat (KSM) dengan difasiitasi oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL)

yang

memiliki

kemampuan

teknis

dan

sosial

kemasyarakatan,

mulai

dari

perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Jadi pada

prinsipnya keseluruhan tahapan mulai dari perencanaan, implementasi konstruksi,

pengawasan hingga operasi pemeliharaan semuanya dilakukan oleh masyarakat.

Satuan Kerja Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (Satker

PPLP)

Dinas

Tata

Ruang

dan

Permukiman

Provinsi

Sumut

merupakan

penyambung tangan Kementerian Pekerjaan Umum dalam melaksanakan program

Sanimas yang didasarkan pada Peraturan Presiden (PP) Republik Indonesia No.

70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Didalam Peraturan

Menteri Pekerjaan

Umum

Nomor

15/PRT/M/2010

tentang

Petunjuk

Teknis

Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur bahwa Satuan Kerja

Perangkat Daerah Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur (SKPD DAK)

merupakan organisasi/lembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab

kepada Gubernur/BupatiWalikota yang menyelenggarakan kegiatan yang dibiayai

dari Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur (BAB I, Pasal 1, ayat 7).

Program

Sanitasi

Berbasis

Masyarakat

(Sanimas)

yang

dilakukan

Kementerian PU mengambil enam kabupaten kota di wilayah Sumut. Keenam

daerah tersebut adalah Karo, Deli Serdang, Tebingtinggi, Medan, Pematang

Siantar, dan Binjai, yang masuk dalam projek yang ditujukan untuk perbaikan

sanitasi

masyarakat.

Kementerian

Pekerjaan

Umum

menetapkan

300

lokasi

sanitasi di enam kabupaten/kota di Sumut. Sebanyak 149 lokasi di antaranya

dialokasikan di Medan (http://liputanbisnis.com/2013/02/20/300-lokasi-sanitasi-

disiapkan-kementerian-pu-di-sumut/ diakses 10

WIB).

Nopember 2013 pukul 16.58

Tabel 1.1 : Lokasi Sanimas Tahun 2012 Propinsi Sumatera Utara

N

Tah

Prop

Ka

Lokasi

Syste

Kondisi

Jumlah

Peggun

Pegguna

o

un

insi

b

m

Prasarana

Pendudu

 

a

Realisas

.

/

 

k

Rencan

 

i

Ko

   

a

 

ta

MCK

Perpip

K

JIW

K

JIW

KK

JIWA

aan

K

A

K

A

1

2012

SUMATERA

Kota

Lorong Ujung

MCK +

Belum

Belum dimonev

0

0

60

300

0

0

UTARA

Medan

Tanjung 1,

dimonev

Lingkungan 5,

Kel. Bagan

Deli, Kec.

Medan Belawan

2

2012

SUMATERA

Kota

Lorong

MCK +

Belum

 

0

0

60

300

0

0

UTARA

Medan

Promis,

dimonev

Lingkungan

15, Kel.

Bagan Deli,

Kec. Medan

Belawan

Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum

(http://ciptakarya.pu.go.id/sanimas/semua-lokasi-(20120210).html)

Medan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia belum terlepas dari

kawasan perkumuhan padat kota. Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan

Belawan adalah salah satu kawasan yang dimaksud. Kelurahan Bagan Deli berada

disekitar Pelabuhan Belawan dan pabrik-pabrik minyak. Kelurahan ini memiliki

jumlah penduduk yang cukup padat. Akan tetapi, dari banyaknya penduduk,

hanya sedikit penduduk yang tinggal di rumah dengan memiliki kamar mandi dan

jamban. Keterbatasan air menjadi masalah bagi penduduk di Kelurahan Bagan

Deli yang hidup di pinggiran laut.

Melihat

keberadaan

Kelurahan

Bagan

Deli

dengan

permukiman

kumuhnya, pemerintah provinsi melalui Dinas Tata Ruang dan Permukiman

Sumatera Utara mengalokasikan bantuan pengelolaan sanitasi bagi kelurahan

tersebut.

Kelurahan

Bagan

Deli

memperoleh

program

Sanitasi

Berbasis

Masyarakat pada tahun 2012. Pelaksanaan program SANIMAS di Kelurahan

6

Bagan Deli diwujudnyatakan dengan pembangunan fasilitas kamar mandi, cuci

dan kakus (MCK) di lokasi atau lingkungan yang telah disepakati Satker PPLP

dengan pemerintah daerah dan masyarakat kelurahan. Program SANIMAS tidak

hanya ditujukan untuk membantu masyarakat dalam pengelolaan sanitasi, tetapi

juga sekaligus memberdayakan masyarakat sehingga masyarakat dapat merasakan

manfaat yang berkelanjutan.

Suatu

kebijakan untuk

dapat

diketahui apakah

kebijakan

yang

telah

dijalankan

meraih

dampak

yang

diinginkan

memerlukan

tindakan

evaluasi.

Evaluasi kebijakan berupa pemeriksaan yang objektif, sistematis, dan empiris

terhadap efek dari kebijakan dan program publik terhadap targetnya dari segi

tujuan yang ingin dicapai. Salah satu akibat dari output kebijakan adalah akibat

yang dihasilkan oleh intervensi program pada kelompok sasaran dan akibat

tersebut

mampu

menimbulkan

pola

perilaku

baru

pada

kelompok

sasaran

(impact).

Sebuah program berbasis masyarakat dan dirancang dengan pendekatan

yang tanggap terhadap kebutuhan adalah sesuatu yang akan sangat bermanfaat

bagi kelompok sasaran. Dengan melihat tujuan pokok dari program SANIMAS

berupa pemberdayaan masyarakat dan berusaha untuk meningkatkan kualitas

kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, penulis tertarik

melakukan penelitian terhadap program ini. Penulis ingin mengevaluasi program

SANIMAS dan melihat apakah program ini telah benar-benar memberdayakan

masyarakat akan pentingnya sanitasi yang sehat. Berdasarkan uraian diatas,

peneliti hendak melakukan penelitian dengan judul “Evaluasi Dampak Program

Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) Dalam Pemberdayan Masyarakat (Studi

Kasus di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kota Medan)”.

1.2 Fokus Masalah

Dalam penelitian kualitatif, batasan masalah penelitian disebut

fokus

masalah.

Fokus

masalah

ditentukan

agar

ada

batasan

yang

jelas

didalam

melaksanakan penelitian. Adapun yang menjadi fokus masalah dalam penelitian

ini adalah untuk melihat dampak program SANIMAS yang telah diimplentasikan

dalam pemberdayaan masyarakat secara khusus bagi masyarakat di Lorong Ujung

Tanjung I Lingkungan V Kelurahan Bagan Deli.

1.3 Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Bagaimana dampak Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) dalam

pemberdayaan masyarakat (Studi Kasus di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan

Medan Belawan Kota Medan)?

1.4

Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

dampak Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas) dalam pemberdayaan

masyarakat di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan Kota Medan.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Secara Subjektif, untuk mengembangkan pengetahuan dan wawasan dalam

melatih kemampuan berpikir ilmiah dalam pembuatan karya ilmiah.

2. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmiah, referensi

bacaan dan tambahan informasi bagi para pembaca mengenai Program

Sanitasi Berbasis Masyarakat.

3. Manfaat Praktis

Dengan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi

pemerintah dan masyarakat dalam rangka peningkatan upaya pencapaian

program Sanitasi Berbasis Masyarakat.

1.6 Kerangka teori

Kerangka teori merupakan model konseptual tentang bagaimana teori

berhubungan dengan berbagai faktor yang telah didefinisikan sebagai masalah

yang penting. Kerangka teori diharapkan memberi pemahaman yang jelas dan

tepat bagi peneliti dalam memahami masalah yang diteliti. Oleh karena itu,

penulis akan mengemukakan beberapa teori, pendapat ataupun gagasan yang akan

dijadikan sebagai landasan berpikir dalam penelitian ini.

1.6.1 Kebijakan Publik

1.6.1.1 Pengertian Kebijakan Publik

Secara etimologi, Kebijakan Publik terdiri dari dua kata yaitu kebijakan

dan

publik.

Kebijakan oleh

Graycar

(Donovan dan Jackson dalam

Kaban,

2008:59) dapat dipandang dari perspektif filosofis, produk, proses, dan kerangka

kerja. Sebagai suatu konsep filosofis, kebijakan dipandang sebagai serangkaian

prinsip atau kondisi yang diinginkan. Sebagai suatu produk, kebijakan diartikan

sebagai

serangkaian

kesimpulan

atau

rekomendasi.

Sebagai

suatu

proses,

kebijakan menunjuk pada cara dimana melalui cara tersebut suatu organisasi dapat

mengetahui apa yang diharapkan darinya yaitu program dan mekanisme dalam

mencapai produknya. Dan sebagai suatu kerangka kerja, kebijakan merupakan

suatu proses tawar-menawar dan negosiasi untuk merumuskan isu-isu dan metode

implementasinya.

Pengertian lain menurut Anderson dalam Winarno (2002) lebih jelas lagi

bahwa istilah “kebijakan” atau “policy” dipergunakan untuk menunjuk perilaku

seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok, maupun suatu lembaga

pemerintah)

atau

sejumlah

aktor

dalam

suatu

bidang

kegiatan

tertentu.

Menurutnya, perilaku para aktor berperan penting dalam merumusakan dan

menjalankan kebijakan yang ditentukan.

Charles O. Jones (1994) melihat kata kebijakan sering digunakan dan

dipertukarkan maknanya dengan tujuan, program, keputusan, hukum, proposal,

patokan, dan maksud besar tertentu. Pergantian makna tersebut menurut Jones

memang bukanlah masalah, hanya saja biasanya dalam hubungan atau kaitan

teknis atau administratif tertentu kata ini mempunyai acuan khusus yang hanya

dimengerti oleh kelompok tertentu.

Menurut Heinz Eulau dan Kenneth Prewitt dalam Jones (1994), kebijakan

adalah

“keputusan

tetap”

yang

dicirikan

oleh

konsistensi

dan

pengulangan

(repetitiveness) tingkah laku dari mereka yang membuat dan dari mereka yang

mematuhi

keputusan

tersebut.

Eulau

dan

Prewitt

juga

mengamati

bahwa

“kebijakan

dibedakan

dari

tujuan-tujuan

kebijakan,

niat-niat

kebijakan

dan

pilihan-pilihan kebijakan”. Berikut ini merupakan definisi menurut mereka untuk

membedakan beberapa komponen kebijakan umum:

Niat (Intentions)

Yaitu tujuan-tujuan sebenarnya dari sebuah tindakan

Tujuan (Goals)

Yaitu keadaan akhir yang hendak dicapai

Rencana atau usulan (Plans or proposals)

Yaitu cara yang ditetapkan untuk mencapai tujuan

Program

Yaitu cara yang disahkan untuk mencapai tujuan

Keputusan atau pilihan (Decisions or choices)

Yaitu

tindakan-tindakan

yang

diambil

untuk

mencapai

tujuan,

mengembangkan rencana, melaksanakan dan mengevalusi program

Pengaruh (Effects)

Yaitu dampak program yang dapat diukur (yang diharapkan dan yang

tidak diharapkan; yang bersifat primer atau yang bersifat sekunder)

Sementara itu, gagasan tentang publik berasal dari bahasa Inggris yaitu

public

yang

berarti (masyarakat)

umum dan

juga rakyat.

Menurut

Parsons

(2008:3), publik itu sendiri berisi aktivitas manusia yang dipandang perlu untuk

diatur atau diintervensi oleh pemerintah atau aturan sosial, atau setidaknya oleh

tindakan bersama.

Rumusan kebijakan publik yang dikemukakan oleh Thomas R. Dye adalah

apapun

yang

dipilih

oleh

pemerintah

untuk

dilakukan dan

tidak

dilakukan

(Winarno, 2002:15). Sementara itu, Wildavsky dalam Kusumanegara (2010)

mendefinisikan kebijakan publik merupakan suatu hipotesis yang mengandung

kondisi-kondisi

awal dari aktivitas

pemerintah

dan

akibat-akibat

yang

bisa

diramalkan. Sifat kebijakan publik sebagai arah tindakan dapat dipahami secara

lebih baik bila konsep ini dirinci menjadi beberapa kategori, seperti tuntutan-

tuntutan kebijakan

(policy demands),

keputusan-keputusan

kebijakan (policy

decisions),

pernyataan-pernyataan

kebijakan

(policy

statements),

hasil-hasil

kebijakan (policy outputs), dan dampak-dampak kebijakan (outcomes) (Anderson

dalam Winarno, 2002).

Dari beberapa pengertian tersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa

kebijakan publik merupakan suatu bentuk keputusan yang telah dipilih dan

ditetapkan

pemerintah

untuk

dilaksanakan

menyangkut kepentingan orang banyak.

1.6.1.2 Tahapan Kebijakan Publik

maupun

tidak

dilaksanakan

dan

Proses analisis kebijakan adalah serangkaian aktivitas intelektual yang

dilakukan di dalam proses kegiatan yang pada dasarnya bersifat politis. Aktivitas

politis

tersebut

dijelaskan

sebagai

proses

pembuatan

kebijakan

dan

divisualisasikan sebagai serangkaian tahap yang saling bergantung yang diatur

menurut

urutan

waktu:

penyusunan

agenda,

formulasi

kebijakan,

adopsi

kebijakan,

implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan (William Dunn,

2003:22).

Sedangkan

aktivitas

perumusan

masalah,

peramalan

(forecasting),

rekomendasi kebijakan, pemantauan (monitoring), dan evaluasi kebijakan adalah

aktivitas yang lebih bersifat intelektual.

Dalam

memecahkan

masalah

yang

dihadapi kebijakan

publik,

Dunn

mengemukakan beberapa tahap analisis yang harus dilakukan yaitu:

1. Penetapan agenda kebijakan (agenda setting)

Perumusan masalah dapat memasok pengetahuan yang relevan dengan

kebijakan yang mempersoalkan asumsi-asumsi yang mendasari definisi

masalah dan memasuki proses pembuatan kebijakan melalui penyusunan

agenda. Perumusan masalah dapat membantu menemukan asumsi-asumsi

yang

tersembunyi,

mendiagnosis

penyebab-penyebabnya,

memetakan

tujuan-tujuan yang memungkinkan, memadukan pandangan-pandangan

yang bertentangan, dan merancang peluang-peluang kebijakan yang baru.

Perumus kebijakan harus difasilitasi berupa dukungan sosial, dukungan

politik, dukungan budaya.

2. Formulasi kebijakan

Dalam

tahap

formulasi

kebijakan,

peramalan

dapat

menyediakan

pengetahuan yang relevan dengan kebijakan tentang masalah yang akan

terjadi di masa mendatang sebagai akibat

termasuk tidak melakukan sesuatu.

3. Adopsi kebijakan

dari diambilnya alternatif,

Pada

tahap

adopsi

kebijakan,

pengambil

kebijakan

terbantu

dalam

rekomendasi

yang

membuahkan

pengetahuan

yang

relevan

dengan

kebijakan

tentang

manfaat

atau

biaya

dari

berbagai

alternatif

yang

akibatnya di masa mendatang telah diestimasikan melalui peramalan.

4. Implementasi kebijakan

Pemantauan (monitoring) menyediakan pengetahuan yang relevan dengan

kebijakan tentang akibat dari kebijakan yang diambil sebelumnya terhadap

pengambil kebijakan pada tahap implementasi kebijakan. Pemantauan

membantu menilai tingkat kepatuhan, menemukan akibat-akibat

yang

tidak diinginkan dari kebijakan dan program, mengidentifikasi hambatan

dan rintangan implementasi, dan menemukan letak pihak-pihak yang

bertanggung jawab pada setiap tahap kebijakan. Proses implementasi

membutuhkan fasilitasi seperti tim, lembaga, peraturan, sumber daya.

5. Evaluasi kebijakan

Evaluasi

membuahkan

pengetahuan

yang

relevan

dengan

kebijakan

tentang ketidaksesuaian antara kinerja kebijakan yang diharapkan dengan

yang benar-benar dihasilkan.

1.6.2 Implementasi Kebijakan

Hal

yang

paling

penting

dalam

proses

kebijakan

adalah

pengimplementasiannya.

Secara etimologi,

implementasi

berasal dari

bahasa

Inggris yaitu to implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means

for carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu) dan to give

practical effect to (untuk menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). Sesuatu

yang

dimaksud

dilakukan

untuk

menimbulkan

dampak

atau

akibat

berupa

undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan dan kebijakan yang

dibuat oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam kehidupan kenegaraan.

Menurut Patton dan Sawicki dalam Hessel Nogi S. Tangkilisan (2003:9),

implementasi

berkaitan

dengan

berbagai

kegiatan

yang

diarahkan

untuk

merealisasikan program, dimana pada posisi ini eksekutif mengatur cara untuk

mengorganisir,

menginterpretasikan

dan

menerapkan

kebijakan

yang

telah

diseleksi. Program dan atau kebijakan yang telah diambil sebagai alternatif

pemecahan

masalah

harus diimplementasikan oleh

badan-badan administrasi

maupun agen-agen pemerintah di tingkat bawah.

Seorang eksekutif mampu mengatur secara efektif dan efisien sumber

daya, unit-unit dan teknik yang dapat mendukung pelaksanaan program, serta

melakukan interpretasi terhadap perencanaan yang telah dibuat, dan petunjuk

yang dapat diikuti dengan mudah bagi realisasi program yang dilaksanakan. Dunn

mengistilahkan

implementasi

dengan

lebih

khusus

dengan

menyebutnya

implementasi kebijakan (policy implementation) adalah pelaksanaan pengendalian

aksi-aksi kebijakan di dalam kurun waktu tertentu (Dunn, 2003:132).

Implementasi kebijakan berarti berusaha untuk memahami “apa yang

senyatanya terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan, yakni

peristiwa-peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses pengesahan

atau

legislasi

kebijakan

publik,

baik

itu

menyangkut

usaha-usaha

untuk

mengadministrasikannya

maupun

usaha-usaha

untuk

memberikan

dampak

tertentu pada masyarakat ataupun peristiwa-peristiwa (Mazmanian dan Sabatier

dalam Solichin Abdul Wahab, 2008:176).

Tahap implementasi kebijakan merupakan tahap dimana alternatif yang

telah

ditetapkan

diwujudkan

dalam

tindakan

yang

nyata.

Tahap

tersebut

dilaksanakan oleh unit-unit administratif dengan memobilisasi sumber daya yang

ada. Tanpa implementasi, suatu kebijakan akan sia-sia dan hanya berupa konsep

semata.

Implementasi

kebijakan

merupakan

rantai

yang

menghubungkan

formulasi kebijakan dengan hasil (outcome) kebijakan yang diharapkan. Sehingga

dapat

disimpulkan bahwa

implementasi berupa

penerapan,

penyelenggaraan,

pelaksanaan, atau pengeksekusian suatu kebijakan yang telah disahkan.

1.6.3 Evaluasi Kebijakan

Evaluasi

merupakan tahap

terakhir

didalam proses kebijakan publik.

Evaluasi adalah suatu cara untuk menilai apakah suatu kebijakan atau program itu

berjalan dengan baik atau tidak. Lester dan Stewart dalam Kusumanegara (2010)

menyatakan

evaluasi

kebijakan

pada

hakekatnya

mempelajari

konsekuensi-

konsekuensi kebijakan publik. Evaluasi kebijakan ditujukan untuk melihat sebab-

sebab kegagalan suatu kebijakan atau untuk mengetahui apakah kebijakan publik

yang telah dijalankan meraih dampak yang diinginkan.

Thomas R. Dye dalam Parsons (2008:547) menyatakan bahwa evaluasi

kebijakan adalah “pembelajaran tentang konsekuensi dari kebijakan publik”.

Tepatnya ia mencatat evaluasi kebijakan adalah pemeriksaan yang objektif,

sistematis, dan empiris terhadap efek dari kebijakan dan program publik terhadap

targetnya dari segi tujuan yang ingin dicapai.

Sementara

itu,

Anderson

(1979)

berpendapat

evaluasi

kebijakan

memusatkan

perhatiannya

pada

estimasi,

penilaian,

dan

taksiran

terhadap

implementasi (proses) dan akibat-akibat (dampak) kebijakan. Dalam hal ini,

evaluasi kebijakan dipandang sebagai suatu kegiatan fungsional. Artinya, evaluasi

kebijakan tidak hanya dilakukan pada tahap akhir saja, melainkan dilakukan

dalam

seluruh proses kebijakan.

Dengan demikian,

evaluasi kebijakan

bisa

meliputi

perumusan

masalah-masalah

kebijakan,

program-program

yang

diusulkan

untuk

menyelesaikan

masalah

kebijakan,

implementasi,

maupun

dampak kebijakan.

1.6.3.1 Tujuan Evaluasi Kebijakan

Dalam

mengevaluasi

kebijakan,

ada

fokus

yang

ingin

dicapai

oleh

pengevaluasi. Evaluasi kebijakan memiliki tujuan yang dapat dirinci

sebagai

berikut (Subarsono, 2005:120-121) :

a. menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan

Melalui evaluasi maka dapat diketahui derajat pencapaian tujuan dan

sasaran kebijakan.

b. mengukur tingkat efisiensi suatu kebijakan

Dengan evaluasi juga dapat diketahui berapa biaya dan manfaat dari suatu

kebijakan

c. mengukur tingkat keluaran (outcome) suatu kebijakan

Salah satu tujuan evaluasi adalah mengukur berapa besar dan kualitas

pengeluaran atau output dari suatu kebijakan.

d. mengukur dampak suatu kebijakan

Pada tahap lebih lanjut, evaluasi ditujukan untuk melihat dampak dari

suatu kebijakan, baik dampak positif maupun negatif.

e. untuk mengetahui apabila ada penyimpangan

Evaluasi

juga

bertujuan

untuk

mengetahui

adanya

penyimpangan

penyimpangan yang mungkin terjadi, dengan cara membandingkan antara

tujuan dan sasaran dengan pencapaian target

f. sebagai bahan melakukan (input) untuk kebijakan yang akan datang

Tujuan akhir dari evaluasi adalah untuk memberikan masukan bagi proses

kebijakan kedepan agar dihasilkan kebijakan yang lebih baik.

1.6.3.2 Langkah-Langkah Evaluasi Kebijakan

Agar

suatu

kebijakan

dapat

dievaluasi

dengan

baik,

para

ahli

mengembangkan langkah-langkah dalam evaluasi kebijakan. Edward Suchman

dalam

Winarno

kebijakan yaitu:

(2004:169)

mengemukakan

enam

langkah

dalam

evaluasi

1. Mengidentifikasi tujuan program yang akan dievaluasi

2. Analisis terhadap masalah

3. Deskripsi dan standardisasi kegiatan

4. Pengukuran terhadap tingkatan perubahan yang terjadi

5. Menentukan

apakah

perubahan

yang

diamati

merupakan

akibat

dari

kegiatan tersebut atau karena penyebab lain

6. Beberapa indikator untuk menentukan keberadaan suatu dampak

Menurut Suchman, mendefinisikan masalah merupakan tahap yang paling

penting dalam evaluasi kebijakan. Setelah masalah didefinisikan dengan jelas

maka tujuan-tujuan dapat disusun dengan jelas pula. Oleh karena itu, ia juga

mengidentifikasi

evaluasi seperti:

beberapa

pertanyaan

operasional

untuk

menjalankan

riset

(1) Apakah yang menjadi isi dari tujuan program?

(2) Siapa yang menjadi target program?

(3) Kapan perubahan yang diharapkan terjadi?

(4) Apakah tujuan yang ditetapkan satu atau banyak (unitary or multiple)?

(5) Apakah dampak yang diharapkan besar?

(6) Bagaimanakah tujuan-tujuan tersebut dicapai?

1.6.3.3 Pendekatan Evaluasi

Menurut

William

N.

Dunn

(2003:611-612),

evaluasi

kebijakan

mempunyai dua aspek yang saling berhubungan: penggunaan berbagai macam

metode

untuk

memantau

hasil

kebijakan

publik

dan

program

dan

aplikasi

serangkaian nilai untuk kegunaan hasil terhadap beberapa orang, kelompok atau

masyarakat secara keseluruhan. Dunn membedakan tiga jenis pendekatan dalam

evaluasi antara lain:

1. Evaluasi semu (pseudo evaluation) adalah pendekatan yang menggunakan

metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan

dapat

dipercaya

mengenai

hasil

kebijakan,

tanpa

berusaha

untuk

menanyakan tentang manfaat atau nilai dari hasil-hasil tersebut terhadap

individu,

kelompok

atau

masyarakat

secara

keseluruhan.

Asumsi

utamanya adalah bahwa ukuran tentang manfaat atau nilai merupakan

sesuatu yang dapat terbukti sendiri atau tidak kontoversial.

2. Evaluasi

formal

(formal

evaluation)

merupakan

pendekatan

yang

menggunakan metode dekriptif untuk menghasikan informasi yang valid

dan cepat dipercaya mengenai hasil-hasil kebijakan tetapi mengevaluasi

hasil tersebut atas dasar tujuan program kebijakan yang telah diumumkan

secara formal oleh pembuat kebijakan dan administrator program. Asumsi

utamanya bahwa tujuan dan target diumumkan secara formal adalah

merupakan ukuran yang tepat untuk manfaat atau nilai kebijakan program.

3. Evaluasi

keputusan

teoritis

(decision-theoretic

evaluation)

adalah

pendekatan

yang

menggunakan

metode-metode

dekriptif

untuk

menghasilkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan valid

mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai

macam pelaku kebijakan. Perbedaan pokok evaluasi ini dengan dua jenis

pendekatan di atas adalah bahwa evaluasi keputusan teoritis berusaha

untuk memunculkan dan membuat eksplisit tujuan dan target dari pelaku

kebijakan baik yang tersembunyi atau dinyatakan.

Tabel 1.2 : Pendekatan Evaluasi Menurut William Dunn

PENDEKATAN

TUJUAN

ASUMSI

BENTUK-

BENTUK UTAMA

Evaluasi Semu

Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid tentang hasil kebijakan

Ukuran manfaat atau nilai terbukti dengan sendirinya atau tidak controversial

Eksperimentasi

sosial

Akuntansi

sistem sosial

Pemeriksaan

sosial

 

riset

Sintesis

 

dan praktik

Evaluasi Formal

Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan secara formal diumumkan sebagai tujuan

Tujuan dan

Evaluasi

sasaran dari

perkembangan

pengambil

Evaluasi

kebijakan dan

eksperimental

administrator

Evaluasi proses

yang secara

retrospektif

resmi

Evaluasi hasil

diumumkan

retrospektif

merupakan

ukuran yang

 

tepat dari

program-

manfaat atau

kebijakan

nilai

Evaluasi Keputusan Teoritis

Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan yang secara eksplisit diinginkan oleh berbagai pelaku kebijakan

Tujuan dan sasaran dari berbagai pelaku yang diumumkan secara formal ataupun diam- diam merupakan ukuran yang tepat dari manfaat atau nilai

Penilaian

tentang dapat

 

tidaknya

evaluasi

Analisis utilitas

multiatribut

Sumber: Dunn (2003:612)

1.6.3.4 Model Evaluasi Kebijakan

Menurut Wayne Parsons (2008:549-552), ada dua macam model evaluasi

kebijakan yang digunakan yaitu:

1. Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan ketika kebijakan atau

program

yang

sedang

diimplementasikan

merupakan

analisis

tentang

“seberapa jauh sebuah program diimplementasikan dan apa kondisi yang

bisa meningkatkan keberhasilan implementasi”. Pada fase implementasi

memerlukan evaluasi “formatif” yang akan memonitor cara dimana sebuah

program dikelola atau diatur untuk menghasilkan umpan balik yang bisa

berfungsi untuk meningkatkan proses implementasi.

Rossi dan Freeman dalam buku Parsons mendeskripsikan model evaluasi

ini sebagai evaluasi pada tiga persoalan:

Sejauh mana sebuah program mencapai target populasi yang tepat

Apakah penyampaian pelayanannya konsisten degan spesifikasi

desain program atau tidak

Sumber daya apa yang dikeluarkan dalam melakukan program

2. Evaluasi Sumatif

Evaluasi

sumatif

adalah

evaluasi

yang

dilakukan

untuk

mengukur

bagaimana kebijakan atau program secara aktual berdampak pada problem

yang

ditanganinya.

Model evaluasi

ini pada

dasarnya

adalah model

penelitian komparatif yang mengukur beberapa persoalan yaitu:

membandingkan sebelum dan sesudah program diimplentasikan

membandingkan

dampak

intervensi

terhadap

satu

kelompok

dengan kelompok lain atau antara satu kelompok yang menjadi

subjek

intervensi

kontrol);

dan

kelompok

lain

yang

tidak

(kelompok

membandingkan apa yang terjadi dengan yang apa yang mungkin

terjadi tanpa intervensi.

atau membandingkan bagaiamana bagian – bagian yang berbeda

dalam satu wilayah mengalami dampak yang berbeda – beda akibat

dari kebijakan yang sama.

1.6.3.5 Kriteria Evaluasi

Suatu

kebijakan

yang

telah

diimplementasikan

harus

menghasilkan

informasi

mengenai

kinerja

kebijakan.

William

N.

Dunn

(2003:610)

mengemukakan

beberapa

kriteria

dalam

menilai

kinerja

kebijakan,

sebagai

berikut:

Tabel 1.3 : Kriteria Evaluasi

TIPE KRITERIA

 

PERTANYAAN

 

ILUSTRASI

Efektivitas

Apakah

hasil

yang

diinginkan

Unit pelayanan

telah dicapai?

Efisiensi

Seberapa banyak usaha diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan?

Unit biaya Manfaat bersih Rasio biaya-manfaat

Kecukupan

Seberapa jauh pencapaian hasil yang diinginkan memecahkan masalah?

Biaya tetap (masalah tipe I) Efektivitas tetap (masalah tipe II)

Perataan

Apakah

biaya

dan

manfaat

Kriteria Pareto Kriteria kaldor-Hicks Kriteria Rawls

didistribusikan

dengan

merata

kepada

kelompok-kelompok

tertentu?

 

Resposivitas

Apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok-kelompok tertentu?

Konsistensi dengan survai warga negara

Ketepatan

Apakah hasil (tujuan) yang diinginkan benar-benar berguna atau bernilai?

Program publik harus merata dan efisien

Sumber: Dunn (2003:610)

Kriteria-kriteria di atas merupakan tolak ukur atau indikator dari evaluasi

kebijakan publik. Karena penelitian ini menggunakan metode kualitatif maka

pembahasan

dalam

penelitian

ini

berhubungan

dengan

pertanyaan

yang

dirumuskan oleh William N. Dunn untuk setiap kriterianya. Untuk lebih jelasnya

setiap indikator tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

1)

Efektivitas

Efektivitas

berasal

dari

kata

efektif

yang

mengandung

pengertian

dicapainya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas

disebut juga hasil guna. Efektivitas selalu terkait dengan hubungan antara hasil

yang diharapkan dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Apabila pencapaian

tujuan-tujuan organisasi semakin besar, maka semakin besar pula efektivitasnya.

Adanya pencapaian tujuan yang besar daripada organisasi, maka makin besar pula

hasil yang akan dicapai dari tujuan-tujuan tersebut.

William N.

Dunn dalam

bukunya

yang

berjudul Pengantar

Analisis

Kebijakan Publik: Edisi Kedua, menyatakan bahwa:

“Efektivitas (effectiveness) berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil (akibat) yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan. Yang secara dekat berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu diukur dari unit produk atau layanan atau nilai moneternya” (Dunn, 2003:429).

Apabila setelah pelaksanaan kegiatan kebijakan publik ternyata dampaknya tidak

mampu memecahkan permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat, maka dapat

dikatakan bahwa suatu kegiatan kebijakan tersebut telah gagal, tetapi adakalanya

suatu kebijakan publik hasilnya tidak langsung efektif dalam jangka pendek, akan

tetapi setelah melalui proses tertentu.

Menurut pendapat Cambell yang dikutip oleh Richard M. Steers dalam

bukunya

Efektivitas

Organisasi

menyebutkan

beberapa

ukuran

daripada

efektivitas, yaitu:

 

1. Kualitas artinya kualitas yang dihasilkan oleh organisasi;

 

2. Produktivitas artinya kuantitas dari jasa yang dihasilkan;

3. Kesiagaan

yaitu

penilaian

menyeluruh

sehubungan

dengan

kemungkinan dalam hal penyelesaian suatu tugas khusus dengan baik;

4. Efisiensi merupakan perbandingan beberapa aspek prestasi terhadap

biaya untuk menghasilkan prestasi tersebut;

5.

Penghasilan yaitu jumlah sumber daya yang masih tersisa setelah

semua biaya dan kewajiban dipenuhi;

6. Pertumbuhan adalah suatu perbandingan mengenai eksistensi sekarang

7.

dan masa lalunya;

Stabilitas

yaitu

sepanjang waktu;

pemeliharaan

struktur,

fungsi

dan

sumber

daya

8. Kecelakaan yaitu frekuensi dalam hal perbaikan yang berakibat pada

kerugian waktu;

9. Semangat kerja yaitu adanya perasaan terikat dalam hal pencapaian

tujuan, yang melibatkan usaha tambahan, kebersamaan tujuan dan

perasaan memiliki;

10. Motivasi artinya adanya kekuatan yang muncul dari setiap individu

untuk mencapai tujuan;

11. Kepaduan yaitu fakta bahwa para anggota organisasi saling menyukai

satu sama lain, artinya bekerja sama dengan baik, berkomunikasi dan

mengkoordinasikan;

12. Keluwesan Adaptasi artinya adanya suatu rangsangan baru untuk

mengubah

prosedur

standar

operasinya,

yang

bertujuan

untuk

mencegah keterbekuan terhadap rangsangan lingkungan;

(Dalam Steers, 1985:46-48).

Sehubungan dengan hal-hal yang dikemukakan di atas, maka ukuran efektivitas

merupakan suatu standar akan terpenuhinya mengenai sasaran dan tujuan yang

akan dicapai.

2) Efisiensi

Apabila kita berbicara tentang efisiensi bilamana kita membayangkan hal

penggunaan sumber daya (resources) kita secara optimum untuk mencapai suatu

tujuan tertentu. Maksudnya adalah efisiensi akan terjadi jika penggunaan sumber

daya diberdayakan secara optimum sehingga suatu tujuan akan tercapai.

William N. Dunn berpendapat bahwa:

“Efisiensi (efficiency) berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. Efisiensi yang merupakan sinonim dari rasionalitas ekonomi, adalah merupakan hubungan antara efektivitas dan usaha, yang terakhir umumnya diukur dari ongkos moneter. Efisiensi biasanya ditentukan melalui perhitungan biaya per unit produk atau layanan. Kebijakan yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya terkecil dinamakan efisien” (Dunn, 2003:430).

Apabila sasaran yang ingin dicapai oleh suatu kebijakan publik ternyata sangat

sederhana sedangkan biaya yang dikeluarkan melalui proses kebijakan terlampau

besar dibandingkan dengan hasil yang dicapai. Ini berarti kegiatan kebijakan telah

melakukan pemborosan dan tidak layak untuk dilaksanakan.

3) Kecukupan

Kecukupan dalam kebijakan publik dapat dikatakan tujuan yang telah

dicapai

sudah dirasakan

mencukupi dalam

berbagai

hal.

William N.

Dunn

mengemukakan bahwa kecukupan (adequacy) berkenaan dengan seberapa jauh

suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang

menumbuhkan adanya masalah (Dunn, 2003:430).

Dari pengertian

di

atas

dapat

disimpulkan

bahwa

kecukupan

masih

berhubungan dengan efektivitas dengan mengukur atau memprediksi seberapa

jauh alternatif yang ada dapat memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan

dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Hal ini, dalam kriteria kecukupan

menekankan pada kuatnya hubungan antara alternatif kebijakan dan hasil yang

diharapkan.

3) Perataan

Perataan dalam kebijakan publik dapat dikatakan mempunyai arti dengan

keadilan yang diberikan dan diperoleh sasaran kebijakan publik. William N. Dunn

menyatakan

bahwa

kriteria

kesamaan

(equity)

erat

berhubungan

dengan

rasionalitas legal dan sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara

kelompok-kelompok yang berbeda dalam masyarakat (Dunn, 2003:434).

Kebijakan

yang

berorientasi

pada

perataan

adalah

kebijakan

yang

akibatnya atau usaha secara adil didistribusikan. Suatu program tertentu mungkin

dapat efektif, efisien, dan mencukupi apabila biaya-manfaat merata. Kunci dari

perataan yaitu keadilan atau kewajaran.

5) Responsivitas

Responsivitas dalam kebijakan publik dapat diartikan sebagai tanggapan

sasaran kebijakan publik atas penerapan suatu kebijakan. Menurut William N.

Dunn, responsivitas (responsiveness) berkenaan dengan seberapa jauh suatu

kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, preferensi, atau nilai kelompok-kelompok

masyarakat tertentu (Dunn, 2003:437). Suatu keberhasilan kebijakan dapat dilihat

melalui tanggapan masyarakat yang menanggapi pelaksanaan setelah terlebih

dahulu

memprediksi pengaruh

yang akan terjadi jika suatu kebijakan akan

dilaksanakan, juga tanggapan masyarakat setelah dampak kebijakan sudah mulai

dapat dirasakan dalam bentuk yang positif berupa dukungan ataupun wujud yang

negatif berupa penolakan.

Dunn pun mengemukakan bahwa:

“Kriteria responsivitas adalah penting karena analisis yang dapat memuaskan semua kriteria lainnya (efektivitas, efisiensi, kecukupan, kesamaan) masih gagal jika belum menanggapi kebutuhan aktual dari kelompok yang semestinya diuntungkan dari adanya suatu kebijakan” (Dunn, 2003:437).

Oleh karena itu, kriteria responsivitas cerminan nyata kebutuhan, preferensi, dan

nilai dari kelompok-kelompok tertentu terhadap kriteria efektivitas, efisiensi,

kecukupan, dan kesamaan.

6)

Ketepatan

Ketepatan merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program dan pada

kuatnya

asumsi

yang

melandasi

tujuan-tujuan

tersebut.

William

N.

Dunn

menyatakan bahwa kelayakan (Appropriateness) adalah:

“Kriteria yang dipakai untuk menseleksi sejumlah alternatif untuk dijadikan rekomendasi dengan menilai apakah hasil dari alternatif yang direkomendasikan tersebut merupakan pilihan tujuan yang layak. Kriteria kelayakan dihubungkan dengan rasionalitas substantif, karena kriteria ini menyangkut substansi tujuan bukan cara atau instrumen untuk merealisasikan tujuan tersebut” (Dunn, 2003:499).

Artinya ketepatan dapat diisi oleh indikator keberhasilan kebijakan lainnya (bila

ada). Misalnya dampak lain yang tidak mampu diprediksi sebelumnya baik

dampak tak terduga secara positif maupun negatif atau dimungkinkan alternatif

lain

yang

dirasakan

lebih

baik

dari

suatu

pelaksanaan

kebijakan

sehingga

kebijakan bisa lebih dapat bergerak secara lebih dinamis.

1.6.3.6 Metode Evaluasi

Menurut

Finsterbusch dan Motz dalam Subarsono (2005:128), untuk

melakukan

evaluasi

terhadap

program

yang

telah

diimplementasikan,

ada

beberapa metode evaluasi yang dapat dipilih yakni:

a. Single program after – only yaitu informasi diperoleh berdasarkan keadaan

kelompok sasaran sesudah program dijalankan

b. Single program before – after yaitu informasi yang diperoleh berdasarkan

perubahaan keadaan sasaran sebelum dan sesudah program dijalankan

c.

Comparative after – only yaitu informasi yang diperoleh berdasarkan keadaan

sasaran dan bukan sasaran program dijalankan

d. Comparative before – after yaitu informasi yang diperoleh berdasarkan efek

program terhadap kelompok sasaran sebelum dan sesudah program dijalankan.

Tabel 1.4 : Metodologi untuk Evaluasi Program

Jenis Evaluasi

 

Pengukuran kondisi kelompok sasaran

Kelompok

Informasi yang

 

Sebelum

Sesudah

Kontrol

diperoleh

Single Program After – Only

Tidak

Ya

Tidak Ada

Keadaan kelompok sasaran

Single Program Before – After

Ya

Ya

Tidak Ada

Perubahan kelompok sasaran

Comparative

After

-

Tidak

Ya

Ada

Keadaan kelompok sasaran dan kelompok kontrol

Only

Comparative

Before

Ya

Ya

Ada

Efek program terhadap kelompok sasaran dan kelompok kontrol

After

Sumber : Subarsono (2005:130)

1.6.3.7 Evaluasi Dampak

Sebelumnya telah disebutkan bahwa evaluasi kebijakan adalah usaha

untuk menentukan dampak dari kebijakan pada kondisi-kondisi kehidupan nyata.

Dampak adalah perubahan kondisi fisik maupun sosial sebagai akibat dari output

kebijakan. Akibat dari output kebijakan ada dua macam yakni:

Akibat yang dihasilkan oleh suatu intervensi program pada kelompok

sasaran (baik akibat yang diharapkan atau tidak diharapkan) dan akibat

32

tersebut mampu menimbulkan pola perilaku baru pada kelompok sasaran

(impact).

Akibat yang dihasilkan oleh suatu intervensi program pada kelompok

sasaran, baik yang sesuai dengan yg diharapkan

atau tidak dan akibat

tersebut tidak mampu menimbulkan perilaku baru pada kelompok sasaran

(effects).

Evaluasi

dampak

merupakan

usaha

menentukan

dampak

atas

implementasi

kebijakan yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan pada keadaan-keadaan atau

kelompok-kelompok di luar sasaran atau tujuan kebijakan.

Menurut Lester dan Stewart dalam Winarno (2002: 170-171), setidaknya

ada tiga hal yang dapat dilakukan oleh seorang evaluator didalam melakukan

evaluasi

kebijakan

publik,

yaitu:

Pertama,

evaluasi

kebijakan

mungkin

menjelaskan keluaran-keluaran kebijakan, misalnya pekerjaan, uang, materi yang

diproduksi, dan pelayanan yang disediakan. Keluaran ini merupakan hasil yang

nyata dari adanya kebijakan, namun tidak memberi makna sama sekali bagi

seorang evaluator.

Kedua, evaluasi kebijakan barangkali mengenai kemampuan kebijakan

dalam memperbaiki masalah-masalah sosial, misalanya usaha untuk mengurangi

kemacetan lalu lintas atau tingkat kriminalitas. Dan ketiga, evaluasi kebijakan

barangkali menyangkut konsekuensi-konsekuensi kebijakan dalam bentuk policy

feedback, termasuk didalamnya adalah reaksi dari tindakan-tindakan pemerintah

atau pernyataan dalam sistem pembuatan kebijakan atau dalam beberapa pembuat

keputusan.

Pada sisi yang lain, Thomas R. Dye dalam Winarno (2002:

171-173)

menyatakan dampak dari suatu kebijakan mempunyai beberapa dimensi dan

semuanya harus diperhitungkan dalam membicarakan evaluasi.

1)

Dampak kebijakan pada masalah-masalah publik dan dampak kebijakan

pada orang-orang yang terlibat.

 

2)

Kebijakan-kebijakan mungkin mempunyai dampak pada keadaan-keadaan

atau kelompok-kelompok di luar sasaran atau tujuan kebijakan.

3)

Kebijakan

mungkin

akan

mempunyai dampak

pada keadaan-keadaan

sekarang dan keadaan di masa yang akan datang.

4)

Evaluasi juga menyangkut unsur yang lain, yakni biaya langsung yang

dikeluarkan untuk membiayai program-program kebijakan publik.

5)

Dimensi yang terakhir dari evaluasi kebijakan adalah menyangkut biaya-

biaya tidak langsung yang ditanggung oleh masyarakat atau beberapa

anggota masyarakat akibat adanya kebijakan publik.

Sekalipun dampak yang sebenarnya dari suatu kebijakan mungkin sangat

jauh

dari

yang

diharapkan

atau

diinginkan,

tetapi

kebijakan

tersebut

pada

dasarnya mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang penting bagi masyarakat.

1.6.3.8 Model Evaluasi Yang Digunakan Peneliti

Didalam penelitian ini, peneliti akan melakukan evaluasi dampak dengan

menggunakan model

Single Program Before-After. Peneliti hendak melihat

perubahan keadaan kelompok sasaran sebelum dan sesudah program Sanitasi

Berbasis Masyarakat (Sanimas) diimplementasikan.

1.6.4 Pemberdayaan Masyarakat

Konsep pemberdayaan dapat

dikatakan sebagai jawaban atas realitas

ketidakberdayaan (disempowerment). Mereka yang tidak berdaya adalah pihak

yang tidak memiliki daya atau kehilangan daya.

adalah mereka yang kehilangan kekuatannya.

Mereka yang tidak berdaya

Definisi pemberdayaan dalam arti sempit, yang berkaitan dengan sistem

pengajaran antara lain dikemukakan oleh Merriam Webster dan Oxford English

Dictionary kata”empower” mengandung dua arti. Pengertian pertama adalah to

give power of authority dan pengertian kedua berarti to give ability to or enable.

Dalam pengertian pertama diartikan sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan

kekuasaan,

atau

mendelegasikan

otoritas

ke

pihak

lain.

Sedangkan

dalam

pengertian kedua, diartikan sebagai upaya untuk memberikan kemampuan atau

keberdayaan.

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi

yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru

pembangunan, yakni yang bersifat “people centred, participatory, empowering,

and sustainable” (Chambers, 1995). Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata

memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyediakan mekanisme untuk

mencegah

proses

pemiskinan

lebih

lanjut

(safety

net),

yang

pemikirannya

belakangan ini banyak dikembangkan sebagai upaya mencari alternatif terhadap

konsep-konsep pertumbuhan di masa yang lalu (Ginanjar K., “Pembangunan

Sosial dan Pemberdayaan : Teori, Kebijaksanaan, dan Penerapan”, 1997:55).

Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk meningkatkan harkat

dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk

melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakanan. Dengan kata lain,

pemberdayaan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat. Dalam upaya

memberdayakan

masyarakat

menciptakan

suasana

atau

dapat

iklim

dilihat

dari

tiga

sisi,

yaitu

yang

memungkinkan

potensi

;

pertama,

masyarakat

berkembang. Disini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap

masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Artinya, tidak ada

masyarakat yang sama sekali tanpa daya. Pemberdayaan adalah upaya untuk

membangun daya itu, dengan mendorong, memotivasikan, dan membangkitkan

kesadaran

akan

potensi

mengembangkannya.

Kedua,

memperkuat

yang

potensi

dimilikinya

atau

daya

serta

yang

berupaya

untuk

dimiliki

masyarakat

(empowering). Dalam rangka ini diperlukan langkah-langkah lebih positif, selain

dari hanya menciptakan iklim dan suasana. Penguatan ini meliputi langkah-

langkah nyata, dan menyangkut penyediaan berbagai masukan (input), serta

pembukaan akses ke dalam berbagai peluang (opportunities) yang akan membuat

masyarakat menjadi berdaya. Upaya yang amat pokok adalah peningkatan taraf

pendidikan, dan derajat kesehatan, serta akses ke dalam sumber-sumber kemajuan

ekonomi seperti modal, teknologi, informasi, lapangan kerja, dan pasar.

Masukan berupa pemberdayaan ini menyangkut pembangunan prasarana

dan sarana dasar fisik, seperti irigasi, jalan, listrik, maupun sosial seperti sekolah

dan fasilitas pelayanan kesehatan, yang dapat dijangkau oleh masyarakat pada

lapisan paling bawah, serta ketersediaan lembaga-lembaga pendanaan, pelatihan,

dan

pemasaran

di

perdesaan,

dimana

terkonsentrasi

penduduk

yang

keberdayaannya

amat

kurang.

Untuk

itu,

perlu

ada

program

khusus

bagi

masyarakat yang kurang berdaya, karena program-program umum yang berlaku

tidak selalu dapat menyentuh lapisan masyarakat ini.

Pemberdayaan

bukan

hanya

meliputi

penguatan

individu

anggota

masyarakat,

tetapi

juga

pranata-pranatanya.

Menanamkan

nilai-nilai

budaya

modern, seperti kerja keras, hemat, keterbukaan, dan kebertanggungjawaban

adalah bagian pokok dari upaya pemberdayaan ini. Demikian pula pembaharuan

institusi-institusi sosial dan pengintegrasiannya ke dalam kegiatan pembangunan

serta peranan masyarakat didalamnya. Yang terpenting disini adalah peningkatan

partisipasi rakyat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri dan

masyarakatnya. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya

dengan pemantapan, pembudayaan, pengamalan demokrasi.

Ketiga, memberdayakan mengandung pula arti melindungi. Dalam proses

pemberdayaan, harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah karena

kekurangberdayaan dalam menghadapi yang kuat. Perlindungan dan pemihakan

kepada

yang

lemah

amat

mendasar

sifatnya

dalam

konsep

pemberdayaan

masyarakat. Melindungi tidak berarti mengisolasi atau menutupi dari interaksi,

karena hal itu justru akan mengerdilkan yang kecil dan melunglaikan yang lemah.

Melindungi harus dilihat sebagai upaya untuk mencegah terjadinya persaingan

yang tidak seimbang, serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah.

Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi makin

tergantung pada berbagai program pemberian (charity). Karena pada dasarnya

setiap apa yang dinikmati harus dihasilkan atas usaha sendiri (yang hasilnya dapat

dipertukarkan dengan pihak lain). Dengan demikian tujuan akhirnya adalah

memandirikan masyarakat, memampukan, dan membangun kemampuan untuk

memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara berkesinambungan

(Bahan Kuliah PPS SP ITB, “Konsepsi Pemberdayaan Masyarakat”, hlm 2-3).

1.6.4.1 Tahap-tahap Pemberdayaan

Tujuan yang ingin dicapai dalam pemberdayaan masyarakat adalah untuk

membentuk individu masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi

kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan

tersebut. Dengan demikian untuk menjadi mandiri perlu dukungan kemampuan

berupa sumberdaya manusia yang utuh dengan kondisi kognitif, psikomotorik

afektif dan sumberdaya lain yang bersifat fisik dan material (Khausar, 2012).

Agar

pemberdayaan

dapat

dilakukan

sesuai

dengan

target,

perlu

memperhatikan tahap-tahap yang harus dilalui meliputi:

1)

Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan

peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.

 

2)

Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan

keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar

sehingga dapat mengambil peran di dalam pembangunan.

 

3)

Tahap

peningkatan

intelektual,

kecakapan

keterampilan

sehingga

terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif untuk menghantarkan pada

kemandirian. (Ambar Teguh S, 2004:82-83)

1.7 Definisi Konsep

Defenisi konsep memberi batasan terhadap pembahasan dari permasalahan

yang ditentukan oleh peneliti. Adapun defenisi konsep dari penelitian ini adalah :

a. Evaluasi dampak

kebijakan Program SANIMAS

adalah usaha untuk

menentukan dampak atas implementasi kebijakan program SANIMAS

yang dilakukan oleh pelaksana kebijakan pada kelompok sasaran atau

tujuan kebijakan.

b. Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk meningkatkan harkat

dan martabat

lapisan masyarakat

yang dalam kondisi sekarang tidak

mampu

untuk

melepaskan

diri

dari

perangkap

kemiskinan

dan

keterbelakangan serta berusaha untuk memampukan dan memandirikan

masyarakat.

1.8 Definisi Operasional

Singarimbun (1989:46) menyatakan definisi operasional adalah unsur

penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu variabel.

Definisi

operasional

ini

semacam

petunjuk

pelaksanaan

bagaimana

caranya

mengukur suatu variabel. Adapun definisi operasional dari variabel evaluasi

dampak kebijakan adalah sebagai berikut:

1. Efektivitas, yaitu pencapaian hasil yang diinginkan:

- Kualitas yang dihasilkan dari program

- Produktivitas (kuantitas dari jasa yang dihasilkan)

- Motivasi (adanya kekuatan yang muncul dari setiap individu untuk

mencapai tujuan)

2. Efisiensi, yaitu usaha-usaha untuk mencapai hasil yang diinginkan:

- Adanya target pencapaian waktu

- Tersedianya sumber daya manusia

- Adanya sumber daya modal

3. Kecukupan, yaitu adanya pemecahan masalah dari hasil yang diinginkan:

- Kecukupan produktivitas

- Solusi yang dilakukan atas usulan masyarakat

4.

Pemerataan, yaitu pendistribusian biaya dan manfaat yang merata:

- Distribusi hasil yang merata

- Kesamaan manfaat program yang dirasakan masyarakat

5. Responsivitas, yaitu dampak kebijakan terhadap pemuasan kebutuhan

preferensi atau kelompok tertentu

- Adanya tanggapan positif

- Adanya kritik

- Adanya saran

6. Ketepatan, yaitu manfaat atau kegunaan hasil yang diinginkan

- Program ditujukan kepada masyarakat PAKUMIS

- Kesesuaian hasil program dengan tujuan yang diharapkan

- Adanya perubahan yang dialami masyarakat

1.9 Sistematika Penulisan

BAB I

: PENDAHULUAN

 

Bab

ini

terdiri dari

latar

belakang

masalah,

fokus

masalah,

perumusan

masalah,

tujuan

penelitian,

manfaat

penelitian,

kerangka

teori,

definisi

konsep,

definisi

operasional

dan

sistematika penulisan.

 

BAB II

: METODE PENELITIAN

 

Bab ini terdiri dari bentuk penelitian, lokasi penelitian, informan

penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

BAB III

: DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Bab ini berisikan data tentang gambaran umum dan karakteristik

lokasi penelitian yang relevan dengan topik penelitian.