Anda di halaman 1dari 4

Contoh Ekstraksi

1. Metode Maserasi
2. Metode Perkolasi
3. Metode Refluks
5. Metode Soxhlet
6. Metode Digesti
7. Metode Infus
8. Metode Dekok

Definisi Maserasi
Maserasi merupakan proses penyarian yang sederhana yaitu dengan cara merendam
sampel dalam pelarut yang sesuai selama 3 - 5 hari.

Prinsip Kerja Maserasi


Pelarut akan menembus ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, sehingga akan
larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan
yang di luar sel, maka senyawa kimia yang terpekat didesak ke luar. Peristiwa tersebut
berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam
sel. Kecuali dinyatakan lain, dilakukan dengan merendam 10 bagian simplisia atau
campuran simplisia dengan derajat kehalusan tertentu, dimasukkan kedalam bejana.
Tambahkan pelarut sebanyak 70 bagian sebagai penyari, tutup dan biarkan 3-5 hari pada
tempat yang terlindung cahaya. Diaduk berulang- ulang serta diperas, cuci ampas dengan
cairan penyari secukupnya, hingga didapatkan hasil maserasi sbyk 100 bagian. Pindahkan
kedalam bejana tertutup dan biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya selama 2 hari.

Keuntungan Maserasi
Teknik pengerjaan dan alat yang digunakan sederhana serta dapat digunakan untuk
mengekstraksi senyawa yang bersifat termolabil.

Kerugian Maserasi
Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar
50% saja dan prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.

Ekstrak Kental
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, yang dimaksud dengan ekstrak adalah:
Sediaan kental yang diperoleh dengan menyari senyawa aktif dari simplisia nabati atau
hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut
diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi
baku yang telah ditetapkan.
Ekstrak cair biasanya masih mengandung sejumlah pelarut tertentu (kadar air > 20%,
ekstrak kental, merupakan ekstrak yang pelarutnya telah diuapkan sampai batas tertentu
(kadar air > 10-20%, bahkan 30%), sedangkan ekstrak kering adalah ekstrak yang
ditambahkan serbuk pengisi, seperti, laktosa, avicel, maltodekstrin, amilum atau bahan
pengisi lain yang inert dengan perbandingan tertentu, kemudian dikeringkan dalam lemari
pengering (oven).

G. Evaporasi
Evaporasi secara umum dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu:
(1) evaporasi yang berarti proses penguapan yang terjadi secara alami
(2) evaporasi yang dimaknai dengan proses penguapan yang timbul akibat diberikan uap
panas (steam) dalam suatu peralatan.
Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan daripada liquid (cairan) dengan
penambahan panas atau dapat juga didefinisikan sebagai evaporasi adalah peristiwa
menguapnya pelarut dari campuran yang terdiri atas zat terlarut yang tidak mudah

menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan proses evaporasi,
pelarutnya adalah air. Tujuan dari evaporasi adalah memekatkan konsentrasi larutan
sehingga didapatkan larutan dengan konsentrasi yang lebih tinggi. . Panas dapat disuplai
dengan berbagai cara, diantaranya secara alami dan penambahan steam.
Evaporasi diadasarkan pada proses pendidihan secara intensif yaitu;
(1) pemberian panas ke dalam cairan,
(2) pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap,
(3) pemisahan uap dari cairan, dan
(4) mengkondensasikan uapnya.
Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam
zat cair mendidih. Evaporasi dilaksanakan dengan cara menguapkan sebagian dari pelarut
pada titik didihnya, sehingga diperoleh larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih
tinggi. Uap yang terbentuk pada evaporasi biasanya hanya terdiri dari satu komponen, dan
jika uapnya berupa campuran umumnya tidak diadakan usaha untuk memisahkan
komponen-komponennya.
Dalam evaporasi zat cair pekat merupakan produk yang dipentingkan, sedangkan
uapnya biasanya dikondensasikan dan dibuang. Disinilah letak perbedaan antara evaporasi
dan distilasi. Perlu diperhatikan, bahwa penguapan dapat terjadi karena adanya pemanasan
menggunakan hot plate yang dibantu dengan penurunan tekanan pada labu alas bulat
sampel yang dipercepat dengan pemutaran pada labu alas bulat sampel. Dengan
bantuan pompa vakum yang mengalirkan air dingin (es) dari suatu wadah kedalam
kondensor dan dikeluarkan lagi oleh kondensor kepada wadahnya lagi dan dimasukkan
lagi dan seterusnya, karena proses ini berjalan secara kontinyu. sehingga ketika uap dari
pelarut mengenai dinding-dinding kondensor, maka pelarut ini akan mengalami yang
proses yg dinamakan proses kondensasi, yaitu proses yang mengalami perubahan fasa dari
fasa gas ke fasa cair. Adapun demikian, proses penguapan ini dilakukan hingga diperoleh
pelarut yang sudah tidak menetes lagi pada labu alas bulat penampung dan juga bisa
dilihat dengan semakin kentalnya zat yang ada pada labu alas bulat sampel dan terbentuk
gelembung-gelembung pecah pada permukaan zatnya.