Anda di halaman 1dari 5

Laporan Praktikum

Hari / Tanggal : Rabu / 09 Maret 2016

Teknologi Bioindustri

Dosen : Dr. Ir. Mulyorini Rahayuningsih


Asisten : 1. Haryati Widyastuti

F34120018

2. Andik Cahayani

PRODUKSI BIOETANOL

Oleh :
Safriyana

F34130002

Siti Rahmi Putri Nuabdi

F34130018

Anan Purwaditama

F34130020

Agung Surya Pratama

F34130030

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TENOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

F34120119

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebutuhan masyarakat akan energi mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun. Namun, ketersediaan energi yang digunakan sebagai bahan bakar sangat
terbatas ketersediannya, karena merupakan hasil dari olahan minyak bumi yang
terbentuk ribuan tahun dan tidak mudah untuk diperbaharui. Hal inilah yang
menyebabkan seluruh negara di dunia termasuk Indonesia mengalami krisis energi.
Menjawab masalah masyarkat tersebut, telah banyak dilakukan penelitian mengenai
sumber energi pengganti yang mudah untuk dibuat dan ketersediaan melimpah.
Untuk menjawab permasalah tersebut, telah dilakukan pengembangan etanol dari
tiga macam proses, yaitu sintesis dari ethylene, fermentasi langsung karbohidrat
(gula, nira, molasses, buah) atau bahan lain yang harus diubah menjadi bahan yang
dapat difermentasi seperti starch(jagung, ketela dan kentang) dan sellulosa (jerami
dan kayu) selain itu dapat juga diperoleh dari hasil samping industri tertentu.
Bioetanol merupakan sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak
yang terbuat dari proses fermentasi bahan-bahan alami oleh mikroorganisme
Efisiensi produksi bioetanol diperoleh melalui ketepatan pemilihan jenis
mikroorganisme, bahan baku, dan kontrol proses fermentasi. Bahan baku pembuatan
bioetanol yang banyak digunakan di Indonesia adalah Molases. Molasses merupakan
sisa dari proses pengkristalan gula pasir yang masih mengandung gula dan asamasam organik sehingga merupakan bahan baku yang baik untuk pembuatan etanol.
Melalui proses fermentasi maka molasses dapat diubah menjadi ethanol dan
selanjutnya dapat dimurnikan sampai pada spesifikasi tertentu. Bahan baku berpati
dan berserat dapat diolah dengan hirolisis asam encer, hidrolisis enzimatis atau
menggabungkan keduanya. Hidrolisis asam encer biasanya menggunakan asam
seperti H2SO4 dan HCl untuk menghasilkan gula, sedangkan hidrolisis enzim dapat
menggunakan enzim -amilase dan amiloglukosidase. Dibandingkan bahan baku
lain, molases mempunyai keunggulan yaitu selain harganya murah juga mengandung
50% gula sederhana yang dapat difermentasi langsung oleh yeast menjadi etanol
tanpa pretreatment.
Tujuan
Praktikum produksi bioetanol bertujuan untuk mengukur pembentukan
bietanol melalui jumlah gas dan biomassa yang terbentuk dengan menggunakan
mikroorganisme Saccharomyces cereviseae.
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum produksi bioetanol antara lain
erlenmeyer, wadah kecil, otoklaf, buret, lup inokulasi, leher angsa, dan
spektrofotometer. Sedangkan, bahan yang digunakan antara lain mikroorganisme
Saccharomyces cereviseae, molases, air, alkohol, larutan urea, dan asam sulfat.

Metode
Molases dan aquades (1:4) 450 ml

50 ml larutan urea 1 g/L


Atur pH 4.5 dengan H2SO4 encer, bagi menjadi 4 bagian

Sterilkan dalam otoklaf 1210C selama 15 menit, lalu dinginkan


Inkubasi pada suhu kamar, diambil pada 0, 24, 48, 72, dan 96 jam
Campurkan kedua bahan, lalu inokulasikan 1 lup biakan

ukan pengamatan jumlah gas yang terbentuk, pH, OD 660nm, dan biomasaa kering
Biakan ditutup dengan leher angsa yang diberi lar. H2SO4 10%

Data hasil pengamatan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
[Terlampir]
Pembahasan
Saccharomyces sp. sering disebut juga khamir (yeast), tubuhnya terdiri atas
satu sel. Jamur ini berkembang biak secara aseksual dengan cara membentuk tunas
(budding). sedangkan secara seksual dengan cara konjugasi. Saccharomyces
cerevisiae menghasilkan enzim zimase dan invertase. Enzim zimase berperan sebagai
pemecah sukrosa menjadi monosakarida, sedangkan enzim invertase mengubah
monosakarida tersebut menjadi etanol dan karbondioksida. Saccahromyces
cerevisiae mengkarboksilase piruvat menjadi asetaldehid yang kemudian diubah
menjadi etanol oleh alkohol dehidrogenase dengan bantuan koenzim nikotinamid
adenin dinukletida (NAD). Saccharomyces cerevisiae termasuk top yeast tumbuh
cepat dan sangat aktif memfermentasi pada suhu 20C.
Proses fermentasi dalam pembuatan bioetanol merupakan proses yang
penting dalam menghasilkan banyaknya bioetanol yang terbentuk. Fermentasi oleh
Saccharomyces cereviceae ini dapat menghasilkan etil alkohol (etanol) dan CO 2
melalui reaksi sebagai berikut:
C6H12O6

C2H5OH

+ 2 CO2 + Energi

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah energi yang dihasilkan dari


fermentasi adalah mikroorganisme dan media yang digunakan, adanya komponen
media yang menghambat pertumbuhan serta kemampuan fermentasi mikroorganisme
dan kondisi selama fermentasi (Astuty 1991).
PENUTUP
Simpulan
Jawaban dari tujuan ya mi, SEMANGAT! Semoga langgeng sama teman
bintangku
Saran
Sarannya buat praktikum, ini saran yg kemaren
Selama melakukan percobaan ini sebaiknya kondisi substrat dan enzim
diperhatikan dengan baik. Keduanya tidak boleh terkena kontaminasi dari
lingkungan karena dapat menyebabkan kegagalan pada percobaan. Selain itu,
kebersihan peralatan yang digunakan juga harus diperhatikan karena bila alat yang
digunakan terkena kontaminasi maka dapat merusak substrat dan hasil percobaan
secara keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA

Astuty ED. 1991. Fermentasi alkohol kulit buah pisang dengan berbagai jenis
inokulum [Tesis]. Yogyakarta (ID): Universitas Yogyakarta