Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum

Teknologi Bioindustri

Hari / Tanggal : Rabu / 23 Maret 2016


Dosen : Dr. Ir. Mulyorini Rahayuningsih
Asisten : 1. Haryati Widyastuti
F34120018
2. Andik Cahayani
F34120119

PRODUKSI ASAM ORGANIK (ASAM SITRAT) DENGAN KULTIVASI


CAIR DAN SUBSTRAT PADAT

Oleh :
Safriyana
Siti Rahmi Putri Nuabdi
Anan Purwaditama
Agung Surya Pratama

F34130002
F34130018
F34130020
F34130030

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TENOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Asam sitrat digunakan dalam berbagai industri sebagai pengawet alami dan
meningkatkan rasa/flavor (asam) pada makanan dan minuman. Dalam biokimia,
asam sitrat bersama basa konjugasinya berperan dalam metabolisme siklus asam
sitrat. Mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan luasnya kebutuhan asam
sitrat pada berbagai sektor, maka pengetahuan dasar agroindustri terhadap proses
produksi asam sitrat dibutuhkan guna pemanfaatannya di dalam bidang. Proses
produksi asam sitrat dengan menggunakan mikroorganisme secara luas dilakukan
karena peningkatan akan kebutuhan asam sitrat yang semakin tinggi tidak
berbanding lurus dengan hasil perolehan asam sitrat dari bahan alami, sehingga
dibutuhkan alternatif produksi asam sitrat yang mudah dan murah sehingga tercapai
efektivitas dalam produksi asam sitrat
Proses produksi asam sitrat secara sintetis dapat dilakukan dengan
menggunakan mikroorganisme khusus penghasil asam sitrat pada medium yang
sesuai. Mikroorganisme yang sering digunakan dalam produksi asam sitrat adalah
Aspergillus niger karena penanganannya yang mudah, kemampuannya yang luas
untuk fermentasi berbagai bahan baku/substrat, serta rendemen yang tinggi. Proses
produksi asam sitrat dapat dilakukan pada medium cair dan medium padat,
penggunaan medium masing-masing memiliki keuntungan dalam proses produksi.
Selain itu, produksi asam sitrat juga bergantung pada sumber nutrisi (karbon,
nitrogen, dan fosfat) dan kondisi lingkungan. Pembentukan asam sitrat dapat diukur
melalui kondisi pH, kandungan gula sisa, biomassa, dan total asam yang terbentuk.
Tujuan
Praktikum produksi asam sitrat menggunakan kultivasi cair dan substrat
padat bertujuan untuk mengukur pembentukan asam sitrat pada kondisi waktu
kultivasi yang berbeda dengan menggunakan mikroorganisme Aspergillus niger.
METODOLOGI
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum produksi asam sitrat antara lain
mikropipet, otoklaf, pipet, erlenmeyer, corong, pH meter, nerasa, pipet tetes, labu
titrasi, kertas saring whatman, dan penangas. Sedangkan, bahan yang digunakan
antara lain mikroorganisme Aspergillus niger, gula pasir, (NH4)2SO4, KH2PO4,
indikator PP, ekstrak tauge 20% b/v, NaOH 0,1 N, dedak halus, serta onggok.

Metode
1. Prosedur Percobaan Kultivasi Cair
Media propagasi Aspergillus niger

Sterilkan dalam otoklaf 1210C selama 15 menit, lalu dinginkan

Inokulasi A niger 2% v/v, inkubasi pada inkubator goyang

Medium fermentasi disiapkan, sterilkan pada pada otoklaf

Inokulum diinokulasikan, diambil pada 0-5 hari

Amati setiap sampel melalui pengukuran pH, biomassa, gula sisa, dan total asam

er, biomassa diukur dengan bobot kering hasil peengeringan, total gula diukur menggunakan metod

Data hasil pengamatan

2. Prosedur Percobaan Kultivasi Padat

Onggok dan dedak halus

Direndam dalam aquades, lalu ditutup dengan kapas dan alufo

Sterilkan dalam otoklaf 1210C selama 15 menit, lalu dinginkan

Inokulasikan Aspergillus niger dan inkubasi pada suhu kamar

Diambil pada 0-5 hari, lalu diuji pembentukan asam sitrat

n dengan 10 gram sampel + aquades 200 ml, dipanaskan hingga mendidih, disaring, filtrat sebanya

Data hasil total asam

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
[Terlampir]
Pembahasan
Asam sitrat merupakan produk metabolit primer dari fermentasi substrat
yang mengandung unsur karbon oleh jamur Aspergillus niger. Suatu galur yang
memberikan hasil optimum pada media yang mengandung sumber karbon tertentu,
umumnya akan menurunkan produktivitas bila ditumbuhkan pada media yang
mengandung sumber karbon lain. Dalam metabolismenya, Aspergillus niger dapat

menghasilkan asam sitrat sehinga fungi ini banyak digunakan sebagai model
fermentasi karena fungi ini tidak menghasilkan mikotoksin sehingga tidak
membahayakan. Aspergillus niger dapat tumbuh dengan cepat, sehingga banyak
digunakan secara komersial dalam produksi asam sitrat, asam glukonat, dan
pembuatan beberapa enzim seperti amilase, pektinase, amiloglukosidase, dan
selulase. Aspergillus niger dalam pertumbuhannya berhubungan langsung dengan zat
makanan yang terdapat dalam substrat, molekul sederhana yang terdapat disekeliling
hifa dapat langsung diserap sedangkan molekul yang lebih kompleks harus dipecah
dahulu sebelum diserap ke dalam sel, dengan menghasilkan beberapa enzim ekstra
seluler seperti protease, amilase, mananase, dan -glaktosidase. Bahan organik dari
substrat digunakan oleh Aspergillus niger untuk aktivitas transport molekul,
pemeliharaan struktur sel, dan mobilitas sel (Schlegel 1972).
Aspergillus niger dapat tumbuh pada suhu 35C-37C (optimum), 6C-8C
(minimum), 45C-47C (maksimum) dan memerlukan oksigen yang cukup
(aerobik). Produktivitas sel akan meningkatkan hasil, maka ditentukan waktu
optimum pertumbuahan sel, sehingga jumlah spora mencapai 105-108/ml media,
yang didapatkan pada 7 hari inokulasi dalam media PDA. Dalam media PDB, waktu
pertumbuhan fase eksponensial dicapai selama 1 hari 12 jam dan 1 hari 16,5 jam.
Produktivitas sel pada waktu pertumbuhan optimum memberikan hasil yang baik,
dilihat dari jumlah spora pada hari ke 7 mencapai 14,7 x 107 spora/ml media,
selanjutnya kondisi optimum ini digunakan untuk memproduksi asam sitrat (Rintis
2011).
Proses produksi asam sitrat dapat dilakukan dengan menggunakan media
fermentasi padat dan media fermentasi cair. Fermentasi menggunakan media
fermentasi padat dilakukan pada limbah pengolahan hasil pertanian, misalnya
molasses, onggok, dedak padi atau gandum, limbah pengolahan kopi, dan limbah
pengolahan nanas. Sedangkan, fermentasi menggunakan media cair dilakukan
dengan pembuatan medium berupa ekstrak tauge sebagai sumber karbon karena
merupakan karbohodrat, pepton sebagai penyedia mineral, FeSO 4 sebagai penyedia
zat besi dan belerang, serta NH4NO3 sebagai penyedia nitrogen atau asam amino di
dalam pembuatan media. Penggunaan medium yang berbeda untuk fermentasi
substrat padat dan kultivasi cair pada intinya membutuhkan ketersediaan gula atau
sukrosa sebagai sumber karbon dan bahan baku, sukrosa tersebut akan dipecah
menjadi glukosa dan digunakan oleh Aspergillus niger untuk pembentukan asam
sitrat (Kubicek dan Rhr 1989). Pada proses fermentasi yang menghasilkan produk
asam sitrat ini, sel Aspergillus niger ikut mengalami pertumbuhan atau penggandaan
diri sehingga biomassa juga mengalami peningkatan jumlah. Pertumbuhan biomassa
mengikuti pertumbuhan sel, yaitu didasarkan pada tahapan yang dilalui sel untuk
kelangsungan hidupnya. Tahapan ini terdiri dari empat fase yaitu fase lag, fase
eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Semakin banyak jumlah sel yang
terbentuk maka jumlah biomassa yang dihasilkan juga akan semakin meningkat
(Papagianni 2007).

Pada pelaksanaan praktikum, terdapat beberapa aspek yang diamati terkait


hasil produksi asam sitrat, di antaranya adalah biomassa sel. Pengamatan biomassa
sel dilakukan pada asam sitrat yang dihasilkan pada kultivasi cair. Tujuan dilakukan
uji biomassa adalah untuk mengetahui besar biomassa yang tersisa dari bobot residu
kering hasil penyaringan. Prinsip uji ini adalah biomassa sel akan semakin meningkat
seiring dengan bertambahnya waktu fermentasi. Biomassa pada awalnya akan
meningkat, lalu turun pada hari tertentu, hal ini disebabkan karena makanan yang
terkandung di dalam substrat sudah habis sehingga kebutuhan sel tidak tercukupi
sehingga mengalami kematian dan jumlah biomassa mengalami penurunan (Kubicek
dan Rhr 1989). Pada praktikum kali ini adalah produksi asam organik (asam sitrat
sintesis) melalui proses fermentasi oleh mikroba Aspergillus niger. Produksi asam
sitrat secara sintetis dapat dilakukan pada dua media yang berbeda, yaitu produksi
asam sitrat dengan kultivasi cair dan produksi asam sitrat dengan kultivasi media
padat.
Pengamatan selanjutnya dilakukan dengan pengukuran pH, hasil uji pH
yang diperoleh pada kultivasi cair adalah nilai pH naik di awal lalu kembali turun
hingga hari ke-5. Berdasarkan hasil, diketahui bahwa pada kelompok 1 hingga
kelompok 5 pH yang diperoleh secara berturut adalah 5.1, 4.8, 3.9, 3.7, 3.3.
Penurunan pH menunjukkan pembentukan produk asam sitrat, dengan demikian, pH
yang menurun menunjukkan peningkatan sesuai dengan lamanya fermentasi.
Menurut (Papagianni 2007), semakin lama waktu fermentasi maka semakin banyak
produk yang terbentuk dan pH yang diperoleh semakin asam. Hal ini berpengaruh
pada hasil asam sitrat sebagai produk akhir yang diinginkan. Selanjutnya, dilakukan
pengamatan terhadap kadar gula atau substrat pada media fermentasi dengan waktu
yang berbeda. Gula sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan sel mikroba akan
menurun seiring waktu kultivasi, hal ini menunjukkan bahwa terdapat sel mikroba
yang menggunakan nutrisi dari gula. Pengujian total gula sisa dilakukan dengan
metode DNS dengan pembacaan absorbansi pada spektrofotometer pada panjang
gelombang 550 nm pada beberapa tingkat konsentrasi. Hasil pengujian lalu diplotkan
dalam kurva standar, sehingga kadar gula sisa dapat diukur. Berdasarkan hasil
praktikum, menunjukkan bahwa berturut-turut terjadi penurunan kadar gula sisa
yaitu 14.97, 14.85, 16.46, 15.43, dan 9.21 mg/l. Menurut Sastrohamidjojo (2005),
semakin lama waktu fermentasi, maka kadar gula sisa pada media akan semakin
menurun. Penurunan konsentrasi kadar gula sisa ini disebabkan oleh gula sebagai
sumber karbon dikonsumsi oleh sel mikroba, sehingga semakin lama konsentrasinya
akan menurun karena substrat telah dikonsumsi.
Total asam yang diukur dalam praktikum merupakan jumlah ml NaOH yang
terukur digunakan dalam titrasi. Titrasi dilakukan dengan indikator penolphtalen.
Titrasi dihentikan saat warna larutan yang dititrasi berubah menjadi warna merah
muda. Warna merah muda tersebut adalah tanda atau indikator larutan tersebut telah
mencapai pH netral. Oleh karena itu ml NaOH yang digunakan saat titrasi hingga
mencapai warna merah muda merupakan indikator tingkat atau total keasaman suatu

larutan yang dititrasi. Maka semakin banyak ml NaOH yang digunakan dalam titrasi
menandakan semakin asam sifat dari larutan tersebut, begitu pun sebaliknya. Proses
titrasi menunjukkan bahwa semakin banyak ml NaOH yang digunakan maka larutan
tersebut sifatnya semakin asam dan memiliki pH yang semakin kecil. Hal ini
berkaitan dengan korelasi antara nilai pH dengan total asam. Nilai pH merupakan
eksponen negatif dari konsentrasi ion hidronium. Bila pH berkurang, konsentrasi ion
hidronium akan meningkat, dan konsentrasi ion hidroksida berkurang. Pada setiap
unit penurunan pH sama dengan peningkatan faktor 10 untuk konsentrasi ion
hidronium (Azizah 2010). Produksi asam sitrat akan terus meningkat sampai nutrisi
yang terkandung dalam media habis, jika nutrisi yang terkandung dalam media habis
maka mikroba akan menghentikan fase eksponensialnya dan akan berubah menjadi
fase stastioner hingga fase kematian. Pengujian total asam dilakukan pada media
kultivasi cair dan substrat padat, hasil pada pengujian total asampada media substrat
padat bahwa seiring bertambahnya jumlah waktu kultivasi, kandungan total asam
mengalami peningkatan walaupun terdapat fase yang stationer pada hari ke-1 hingga
ke-3 kultivasi, lalu peningkatan total asam terlihat pada hari ke-4 dan stationer pada
hari ke-5. Pengujian total asam pada kultiavasi menunjukkan bahwa terjadi fluktuasi
kandungan total asam sejak hari ke-0 hingga ke-5, kandungan total asam pada hari
ke-3 menunjukkan penurunan bila dibandingkan dengan hari sebelumnya. Terlihat
bahwa terjadi kebiasan data pada hari ke-3, hal ini mungkin disebabkan oleh
penurunan aktivitas mikroba dalam memproduksi asam sitrat, dikarenakan kondisi
lingkungan yang tidak mendukung dan sumber nutrisi dari media fermentasi telah
dikonversi seluruhnya oleh mikroba dalam pembentukan produk dan biomassa.
Media pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri atas
campuran nutrisi (nutrient) yang digunakan oleh suatu mikroorganisme untuk
tumbuh dan berkembangbiak pada media tersebut. Mikroorganisme memanfaatkan
nutrisi pada media berupa molekul-molekul kecil yang dirakit untuk menyusun
komponen selnya. Media pertumbuhan bisa digunakan untuk mengisolasi
mikroorganisme, identifikasi dan membuat kultur murni. Komposisi media
pertumbuhan dapat dimanipulasi untuk tujuan isolasi dan identifikasi
mikroorganisme tertentu sesuai dengan tujuan masing-masing pembuatan suatu
media. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat
yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan
mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunannya dengan
kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme
dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung
garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula, sedangkan
mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu
berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Volk dan
Wheeler 1993).
Bentuk media terbagi menjadi tiga, yaitu, media padat, media semi padat
dan, media cair. Dalam praktikum produksi asam sitrat, digunakan dua media yaitu

media padat dan media cair. Medium padat digunakan untuk fermentasi substrat
padat yang tidak memperhatikan fermentasi slurry yaitu cairan dengan kandungan
padat yang tinggi. Substrat yang digunakan pada fermentasi substrat padat adalah
biji-bijian serealia., kacang-kacangan, sekam gum, dan bahan yang mengandung
lignoselulosa. Senyawa tersebut selalu berupa molekul primer, tak larut atau sedikit
larut dalam air. Keuntungan dari fermentasi media padat yaitu media yang digunakan
relatif sederhana, kondisi medium mendekati kondisi habitat alamnya, aerasi
dihasilkan dengan mudah, dan produk dapat dipanen dengan mudah. Sedangkan,
medium cair merupakan medium yang bersifat cair, komposisi nutrisi yang ada pada
medium cair untuk fermentasi terbagi menjadi sumber karbon, sumber nitrogen dan
sumber fosfor. Media yang sering digunakan sebagai sumber karbon adalah berbagai
karbohidrat, limbah selulosa, inulin, kurma, molases tebu, sukrosa, methanol, dan
whey keju. Media cair yang digunakan dalam praktikum menggunakan gula pasir
sebagai sumber karbon. Selain gula pasir, bahan lain yang digunakan sebagai bahan
media adalah ekstrak tauge, (NH4)2SO4, KH2PO4. Ekstrak tauge berfungsi sebagai
sumber nitrogen, nitrogen berpengaruh dalam pembentukan asam sitrat karena
nitrogen tidak hanya penting untuk laju metabolit dalam sel tetapi juga pembentukan
protein sel. Ekstrak tauge yang dipanaskan mengakibatkan terjadinya hidrolisis
karbohidrat, protein dan lemak menjadi molekul yang lebih sederhana sehingga
mudah dicerna. Medium (NH4)2SO4 memiliki manfaat sebagai sumber nitrogen dan
membuat kondisi asam yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba, sedangkan
medium KH2PO4 berfungsi sebagai sumber fosfat. Keuntungan dari fermentasi
medium cair adalah hampir di semua bagian tempat menampung medium terjadi
fermentasi dan kontak antara reaktan dan bakteri semakin besar (Rusdi 2010).
Penggunaan asam sitrat dilakukan karena alasan keamanan secara umum,
dapat memberikan rasa asam yang memuaskan, kelarutannya yang tinggi didalam air
dan sebagai buffering dan chelating agent. Berikut ini adalah penggunaan asam sitrat
dalam industry. Penggunaan di dalam industri makanan, asam sitrat digunakan secara
ekstensif dalam industri minuman untuk memberikan rasa asam pada minuman dan
sebagai komplemen pada rasa berry pada minuman; pada minuman yang tidak
berkarbonisasi asam sitrat dapat memberikan pH yang beragam pada minuman,
selain itu asam sitrat pada minuman jus buah merupakan komponen alami yang
tercampur secara baik dengan aroma dari minuman tersebut; untuk minuman
berkarbonisasi asam sitrat digunakan sebagai adiculant atau penguat rasa. Asam sitrat
juga digunakan sebagai pemberi rasa asam pada selai serta digunakan untuk
menyesuaikan pH. Pada produksi kembang gula, asam sitrat digunakan untuk
memberikan rasa asam dan meminimalkan inversi sukrosa pada produk kembang
gula. Asam sitrat juga dapat digunakan pada makanan beku sebagai chelating agent
dan pengatur pH sehingga memungkinkan pengoptimalan kestabilan dari makanan
beku dengan meniadakan aktivitas antioksidan dan menonaktifkan enzim.
Penggunaan pada industri farmasi, kosmetik dan pewangi; asam sitrat dimanfaatkan
sebagai bahan dasar tablet effervescence, dimana asam sitrat bila bereaksi dengan zat

yang mengandung bikarbonat atau karbonat dalam air akan membentuk gas
karbondioksida dan garam dari asam tersebut, serta digunakan sebagai buffering
agent dan pemberi rasa asam pada obat-obatan, sebagai pengatur pH, dan sebagai
antioxidan pada metallic-ion chelator. Pada industri-industri lainnya asam sitrat
digunakan untuk industri detergen, agrikultur, fotografi, tekstil, kertas dan lain
sebagainya. Selain itu, dalam industri asam sitrat dapat digunakan sebagai pembersih
metal dan pengabsorbsi sulfur dioksida dan dapat digunakan pula dalam proses
treatment pada limbah. Penggunaan asam sitrat secara umum digunakan industri
makanan dan minuman sebanyak 75%, farmasi sebanyak 10%, dan ndustri lainnya
sebanyak 15% (Kirk dan Othmer 1978).
PENUTUP
Simpulan
Asam sitrat merupakan produk metabolit primer yang dapat dimanfaatkan
dalam berbagai industri, seperti industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik,
pewangi, dan lainnya. Produksi asam sitrat dilakukan dengan mikroorganisme
Aspergillus niger pada medium padat dan medium cair yang memiliki kandungan
nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan sel dan membentuk asam sitrat. Proses
produksi asam sitrat dapat diketahui melalui nilai pH yang terukur, biomassa yang
terbentuk, kandungan gula sisa, dan kandungan total asam. Semakin rendah nilai pH,
maka kandungan asam sitrat semakin tinggi dikarenakan kondisi asam sitrat yang
terakumulasi. Biomassa menunjukkan jumlah sel yang terbentuk sebagai hasil proses
reaksi pembentukan asam sitrat, sehingga semakin tinggi nilai biomassa maka
diketahui bahwa asam sitrat yang terbentuk juga tinggi. Kandungan gula sisa yang
terdapat dalam medium dapat dijadikan tolak ukur terbentuknya asam sitrat,
dikarenakan semakin sedikit kandungan gula sisa maka gula telah dikonsumsi oleh
mikroorganisme untuk pembentukan asam sitrat. Pengujian yang menunjukkan
proses pembentukan asam sitrat secara langsung adalah total asam yang terbentuk.
Semakin lama waktu kultivasi, maka total asam akan semakin tinggi pada fase
eksponensial hingga pada waktu tertentu produksi asam sitrat akan berhenti akibat
kehabisan subtrat dan terjadi akumulasi biomassa. Hasil praktikum menunjukkan
bahwa pengujian pH, kandungan gula sisa, dan total asam telah sesuai dengan teori
mengenai pembentukan asam sitrat dan kaitannya terhadap uji yang dilakukan.
Saran
Selama melakukan percobaan produksi asam sitrat menggunakan kultivasi
cair dan substrat padat sebaiknya kondisi mikroorganisme dan lingkungan lebih
diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi kontaminasi dari lingkungan karena dapat
menyebabkan kegagalan pada percobaan. Selain itu, kebersihan peralatan yang
digunakan juga harus diperhatikan karena bila alat yang digunakan terkena
kontaminasi maka dapat mempengaruhi kondisi kultivasi dan hasil percobaan secara
keseluruhan. Selain itu, perlu dijelaskan mengenai prosedur kerja secara terintegrasi
agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam melaksanakan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Kirk RE and Othmer DF. 1978. Encyclopedia of Chemical Technology Volume 1.
New York (US): The Interscience Encyclopedia Inc.
Kubicek CP, Rhr M. 1989. Citric acid fermentation. Crit Rev Biotechnol. 4: 33173.
Papagianni M. 2007. Advances in citric acid fermentation by Aspergillus niger:
Biochemical aspects, membrane transport and modeling. Biotechnology
Advances. 25: 244263.
Rintis M. 2011. Pengaruh komposisi media fermentasi terhadap produksi asam sitrat.
Jurnal Fluida. 7 (1): 23-27.
Rusdi M. 2010. Media Kultivasi Mikroba. Yogyakarta (ID) : Kanisius.
Sastrohamidjojo H. 2005. Kimia Organik, Sterokimia, Lemak, dan Protein.
Yogyakarta (ID) : Gadjah Mada University Press.
Schlegel. 1972. Mikrobiologi Umum.Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University
Press.
Volk, Wheeler. 1993. Dasar- Dasar Mikrobiologi. Erlangga. Jakarta.

LAMPIRAN
Har
i
0
1
2
3
4
5

pH

Kultivasi Cair
Gula Sisa
Biomassa
(ppm)

5.
1
4.
8
4.
1
3.
9
3.
7
3.
3

Konsentrasi
(y)
0,35
0,3
0,25
0,2
0,15
0,1
0,05

Substrat Padat
Total Asam (mg/L) Total Asam (mg/L)

14.97

3.84

3.84

14.85

5.38

7.68

16.46

7.68

7.68

15.43

5.57

7.68

10.59

7.68

15.36

9.21

8.04

15.36

Absorbansi
(x)
1,26
1,243
1,107
0,91
0,564
0,33
0,113

ppm
spektrofoto
meter
0,02994
0,02971
0,032933
0,030861
0,021193
0,01843

Absorbansi
0,051
0,05
0,064
0,055
0,013
0,001

Keterangan

Kurva Standar Glukosa

ppm
(pengencera
n 500x)
14,9701
14,855
16,4664
15,4305
10,5963
9,2151

Absorban
0.4
0.35
0.3

f(x) = 0.23x + 0.02


R = 0.96

0.25

Absorban
Linear (Absorban)

0.2
0.15
0.1
0.05
0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

1.4