Anda di halaman 1dari 29

PENGEMBANGAN SURAKARTA CYBERCITY

Kajian tentang Arah Kebijakan TIK Pemerintah Kota Surakarta

Oleh:
Daru Nupikso1
Abstrak
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan dampak positif
dan negatif yang ditimbulkannya merupakan realitas yang harus dihadapi berbagai pihak,
termasuk pemerintah daerah. Tanpa mengabaikan sisi negatifnya, kehadiran TIK dewasa
ini menjadi pilihan bagi pemerintah daerah guna mengoptimalkan pelayanannya.
Keberhasilan suatu pemerintah daerah mengimplementasikan TIK dengan manfaat yang
diperolehnya menjadi inspirator bagi daerah lain untuk melakukan hal yang sama.

Latar Belakang
Pemanfaatan TIK di kalangan pemerintah atau dikenal dengan electronic
government (e-govt) pada dasarnya mempunyai dua tujuan, yaitu pemanfaatan untuk
internal birokrasi dan untuk pelayanan publik. Kebijakan pemanfaatan TIK selain
mempertimbangkan tujuan juga harus mempertimbangkan faktor lain terutama
infrastruktur. Di samping untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan publik, pemerintah
daerah, terutama di kawasan perkotaan dewasa ini sedang giat-giatnya mengembangkan
cybercity.
Pengertian cybercity secara umum adalah 'kota' di mana orang bertemu di ruang
virtual menggunakan komputer jaringan dengan fungsi metafor kota sebagai interface.
1 Peneliti pada Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika
(BPPKI) Yogyakarta
1

Dalam implementasinya, konsep Cybercity di Indonesia yang ada saat ini dipahami
sebagai kebijakan pembangunan atau penyediaan infrastruktur komunikasi dan informasi
guna dipergunakan sebagai sarana kegiatan sosial dan komersil bagi warganya. Dalam
prakteknya fasilitas yang disediakan antara lain pemasangan hot spot Wi-Fi (wireless
fidelity) di berbagai titik yang dinilai strategis. Pengembangan Cybercity bukan hanya
terletak pada pembangunan infrastruktur secara fisik, namun banyak faktor yang harus
dilakukan dengan perencanaan dan pengembangan yang terarah dan melalui prosedur
yang sistematis.
Kebijakan yang diambil Pemerintah Kota Surakarta dalam rangka memanfaatkan
TIK lebih fokus pada penyediaan infrastruktur dan fasilitas bagi masyarakat. Meskipun
pemanfaatan TIK untuk mendukung kinerja pemerintahan juga dilakukan, tetapi bukan
menjadi prioritas. Aplikasi TIK yang dipergunakan oleh Satuan Kerja di lingkungan
Pemerintah Kota Surakarta bukan ditujukan untuk mendukung pelayanan publik secara
langsung, tetapi merupakan aplikasi internal yang konektivitasnya terbatas antar satuan
kerja.
Pengembangan Cybercity di Kota Surakarta tidak berbeda dengan kota lain di
Indonesia yang sedang melakukan hal yang sama. Konsep Cybercity saat ini merupakan
tahap awal dan masih jauh dari suatu bangunan Cybercity yang sesungguhnya. Kebijakan
Pemerintah Kota Surakarta ini menarik untuk dikaji mengingat kota lain di samping
mengembangkan Cybercity juga mengembangkan dan memanfaatkan keunggulan TIK
untuk meningkatkan pelayanan publik di samping untuk meningkatkan kinerja internal.
Pada hakekatnya kebijakan pengembangan Cybercity perlu mempertimbangkan
beberapa faktor pendukung yang diawali dengan tumbuhnya sebuah knowledge society,
kemudian tersedianya infrastruktur teknologi informasi, pemberlakuan enabling policy
serta pembangunan dan pengembangan e-government (Indrajit 2006:47). Pengembangan
cybercity tanpa melihat kondisi masyarakat dan lingkungan akan mengakibatkan
kebijakan tersebut menjadi sia-sia karena tidak mempunyai manfaat apapun.

Pemerintah Kota Surakarta mengambil kebijakan pengembangan TIK lebih


diarahkan pada masyarakat. Berpijak dari hal tersebut kajian ini selanjutnya akan melihat
secara umum kebijakan TIK apa saja yang telah, sedang dan akan diambil oleh
Pemerintah Kota Surakarta dengan telaah mengenai kondisi dan potensi masyarakat serta
pembangunan infrastruktur TIK guna melihat pengembangan Surakarta sebagai cybercity.

Permasalahan
Berpijak dari latar belakang yang telah diurai di atas, maka tulisan ini akan
mengkaji lebih jauh mengenai arah kebijakan Pemerintah Kota Surakarta dalam
memanfaatkan dan mengembangkan TIK menuju terwujudnya Surakarta cybercity.
Sehingga permasalahan yang diangkat adalah:
Bagaimana arah kebijakan TIK di Kota Surakarta dalam rangka mewujudkan
Surakarta cybercity

Tujuan dan Manfaat


Tulisan ini merupakan kajian mengenai Pengembangan cybercity di Kota Surakarta yang
sesuai

dengan

permasalahannya

bertujuan

untuk

mengetahui

arah

kebijakan

pengembangan TIK Pemerintah Kota Surakarta dalam mewujudkan Surakarta Cybercity,


yaitu apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan Pemkot Surakarta terkait dengan
kebijakan TIK.
Adapun manfaatnya adalah :
1. Bagi Pemerintah Kota Surakarta:
Sebagai bahan masukan dan evaluasi kebijakan TIK guna meningkatkan peran
pemerintah daerah dalam mewujudkan cybercity.

2. Bagi Kementerian Komunikasi dan Informatika


Dipergunakan sebagai bahan masukan dan atau mengevaluasi kebijakan bidang
TIK yang ada maupun mengambil kebijakan nasional tentang TIK di masa
mendatang.

Sifat dan Data


Tulisan ini merupakan suatu kajian yang bersifat deskriptif kualitatif dan data
diperoleh melalui wawancara dan observasi di lapangan. Wawancara dilakukan kepada
narasumber yang mempunyai kompetensi di bidang kebijakan TIK di Kota Surakarta,
yaitu:
1. Pejabat Kantor Kominfo Surakarta
2. Pejabat Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) Surakarta
Di samping data hasil wawancara, kajian ini juga mengacu pada data sekunder
yaitu dokumen tertulis yang terkait dengan kebijakan TIK Pemerintah Kota Surakarta.
Kemudian data catatan lapangan yang diperoleh melalui observasi lapangan, yaitu
dengan melihat infrastruktur TIK yang terpasang dan melakukan uji coba wilayah
hotspot dan penelusuran melalui akses website resmi Pemerintah Kota Surakarta.

Profil Kota Surakarta


Surakarta, juga disebut Solo atau Sala, adalah kota yang terletak di provinsi Jawa
Tengah, Indonesia yang berpenduduk 503.421 jiwa (sensus penduduk 2010) dan
kepadatan penduduk 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2 ini berbatasan dengan
Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten
Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten

Sukoharjo di sebelah selatan.

Nama Surakarta digunakan dalam konteks formal,

sedangkan nama Solo untuk konteks informal.


Surakarta dan kota-kota satelitnya (Kartasura, Solo Baru, Palur, Colomadu, Baki,
Ngemplak) adalah kawasan yang saling berintegrasi satu sama lain. Kawasan Solo Raya
ini unik karena dengan luas kota Surakarta sendiri yang hanya 44 km persegi dan
dikelilingi kota-kota penyangganya yang masing-masing luasnya kurang lebih setengah
dari luas kota Surakarta dan berbatasan langsung membentuk satu kesatuan kawasan kota
besar yang terpusat.
Solo Baru (Soba) merupakan kawasan yang dimekarkan, selain sebagai salah satu
kota satelit dari Kota Surakarta juga merupakan kawasan pemukiman bagi para pekerja
atau pelaku kegiatan ekonomi di kawasan Kota Surakarta. Di Solo Baru banyak terdapat
perumahan sedang dan mewah, maka dari itu Solo Baru juga merupakan kawasan
pemukiman elit. Jika dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, kota Surakarta
merupakan kota terpadat di Jawa Tengah dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas
wilayah ke-13 terkecil, dan populasi terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota
administratif di Indonesia.

a. Perekonomian
Solo juga memiliki banyak pasar tradisional, di antaranya Pasar Klewer, Pasar
Gedhe (Pasar Besar), Pasar Legi, dan Pasar Kembang. Pasar Klewer merupakan salah
satu pasar tekstil terbesar di Indonesia. Pasar-pasar tradisional yang lain menggunakan
nama-nama dalam bahasa Jawa, antara lain nama pasaran (hari) dalam bahasa Jawa:
Pasar Pon, Pasar Legi, sementara Pasar Kliwon saat ini menjadi nama kecamatan dan
nama pasarnya sendiri berubah menjadi Pasar Sangkrah. Selain itu ada pula pasar barang
antik yang menjadi tujuan wisata, yaitu Pasar Triwindu (Pasar Windujenar) serta Pasar
Keris dan Cenderamata Alun-Alun Utara Keraton Solo.

Pusat bisnis kota Solo terletak di sepanjang jalan Slamet Riyadi. Beberapa bank,
hotel, pusat perbelanjaan, restoran internasional, hingga tujuan wisata dan hiburan
terletak di sepanjang jalan protokol ini.

b. Industri dan Perdagangan


Solo memiliki beberapa pabrik yang mempekerjakan karyawan dalam jumlah
yang besar. Selain itu masih ada banyak pabrik-pabrik lain di zona industri Palur. Industri
batik juga menjadi salah satu industri khas Solo.
c. Media
Ada beberapa surat kabar yang beroperasi di daerah Solo, antara lain Solo Pos,
Radar Solo (grup Jawapos), dan Joglosemar (surat kabar Jogja, Solo, Semarang). Selain
itu ada pula puluhan stasiun radio di Solo dan sebuah televisi lokal yang beroperasi di
Solo, yaitu TA TV (Terang Abadi Televisi).

Konsep Cybercity
Berdasarkan asalnya, cybercity mengandung dua makna yaitu sibernetika dan
konsep dunia maya (cyber) atau internet. Konsep sibernetika (cybernetics) pertama kali
diperkenalkan oleh Norbert Wiener pada tahun 19482. Sibernetika merupakan studi
kontrol dan komunikasi pada hewan dan mesin. Teori ini membandingkan komunikasi
mesin layaknya komunikasi antar manusia. Meskipun teori ini dikembangkan pada waktu
internet belum dikenal, tetapi konsep sibernetika meluas dan tetap relevan dengan
perkembangan teori komunikasi pada saat ini.
Robert T Craig dalam bukunya Communication Theory as a Field3 menulis bahwa
teori cybernetic sebagai pengolahan informasi menjelaskan bagaimana kompleksnya
segala macam sistem, apakah itu hidup atau tak hidup, makro maupun mikro, mampu
2 Sumber: http://www.colorado.edu/communication/meta-discourses/Papers/App_Papers/McGarry.htm
3 Robert T Craig Communication Theory as a Field
6

berfungsi, dan juga mengapa sering tidak berfungsi. Terkait dengan itu, pada
perkembangannya, konsep Cybercity tidak lepas dari konsep dunia maya atau internet.
Dalam pemahaman ini, Cybercity merupakan lokus komunikasi dengan komputer sebagai
mediasi dan interaksi sosial yang terjadi.
Dalam sebuah Cybercity, maka elemen yang membentuk adalah sistem dalam
masyarakat, sistem dalam pemerintah dan sistem dalam dunia usaha/swasta. Ketiga
sistem tersebut saling berinteraksi dan saling memengaruhi dan tetap menjaga
keseimbangan agar sistem tetap berjalan stabil. Disamping itu ada elemen penting yang
mendukung terwujudnya Cybercity yaitu peran perguruan tinggi. Inovasi dan hasil
penelitian yang dilakukan perguruan tinggi terkait dengan pemanfaatan TIK akan
menjadi masukan penting untuk mewujudkan Cybercity yang berwawasan lingkungan.
Artinya, Cybercity yang dikembangkan tidak menimbulkan permasalahan sosial, budaya
dan adat-istiadat.
Pada bagian lain, arti pentingnya konsep dunia maya terletak pada medium yang
dipergunakan. Meskipun penggunaan perangkat TI tidak selalu berhubungan dengan
internet dalam arti antar muka dengan komputer, misalnya ATM, namun secara hakiki
pengembangan Cybercity menuntut seluruh elemen yang terlibat mempergunakan TIK
sebagai sarana pendukung aktivitas.
Salah satu elemen dasar Cybercity yang sudah mapan dalam pemanfaatan TIK
adalah kalangan perbankan. Hampir semua bank saat ini sudah memanfaatkan TIK dalam
setiap transaksi maupun kegiatannya. Sebagai industri yang padat modal, dunia
perbankan tidak terlalu sulit untuk menginvestasikan modalnya membangun infrastruktur
berbasis TIK. Kondisi itu tentunya berbeda bila melihat kenyataan yang terjadi di
masyarakat maupun lingkungan pemerintahan.
Cybercity dalam banyak hal dapat disejajarkan dengan konsep kluster industri atau
kawasan berikat, yaitu suatu tempat atau kawasan dengan batas-batas tertentu yang
didalamnya dilakukan kegiatan usaha industri pengolahan barang dan bahan, kegiatan
rancang bangun, perekayasaan akhir, dan pengepakan atas barang dan bahan asal impor
7

atau barang dan bahan dari dalam Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL) yang
hasilnya terutama untuk tujuan ekspor4.
Keuntungan yang didapat dengan klusterisasi antara lain punya prospek yang lebih baik
untuk meningkatkan produktivitas karena kebutuhan akan sumber daya tersedia dekat,
sehingga berbagai kebutuhan perusahaan dapat dipenuhi secara cepat, mudah dan lebih
murah. Pengelompokan usaha akan mempersempit jurang kesenjangan karena berbagai
informasi akan lebih cepat tersebar, termasuk informasi tentang inovasi dan produkproduk baru sehingga konsentrasi terhadap produk akan lebih intens. Berbagai kelebihan
tersebut akan mengurangi cost yang berarti akan meningkatkan value perusahaan.
Dalam cybercity pemanfaatan IT akan menjadi tulangpunggung aktivitas
masyarakat. Kebutuhan yang tinggi akan kebutuhan aplikasi dan infrastruktur IT akan
menarik investor. Berkembangnya dunia usaha di suatu kawasan akan meningkatkan
perekonomian kawasan tersebut.

Kota Berbasis TIK (Cybercity)


Pada dasarnya cybercity merupakan pengembangan suatu wilayah yang umumnya
berada di perkotaan menjadi suatu kota berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Pengembangan Cybercity bukan semata-mata tanggungjawab pemerintah daerah. Tetapi
pemerintah mempunyai peran penting dan strategis sehingga arah pengembangan
Cybercity tetap memperhatikan faktor lingkungan dan mempertimbangan tingkat
pemanfaatan dan penetrasi TIK di masyarakat.
Inti dari Cybercity adalah hubungan yang terpadu antara masyarakat, swasta dan
pemerintah serta perguruan tinggi yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Infrastruktur TIK bagi masyarakat dapat disediakan oleh pemerintah maupun kalangan
swasta. Kepentingan antara masyarakat, swasta dan pemerintah disatukan dalam suatu
wadah virtual dengan menggunakan sistem jaringan komputer yang terintegrasi.
Kepentingan masyarakat akan layanan publik, bisnis dan kepentingan swasta akan
4 http://www.beacukai.go.id/library/data/kaber2.pdf
8

layanan perijinan promosi dan bisnis bertemu dengan kewajiban pemerintah daerah
sebagai pemberi layanan publik. Pengembangan Cybercity mempunyai prospek yang
jelas bila karateristik masyarakat dan kalangan swasta sudah berbasis TIK.
Sampai saat belum ada kota di Indonesia yang dapat disebut sebagai cybercity
dalam arti yang sesungguhnya. Secara parsial beberapa kota dan kabupaten sudah
mengarah menjadi cybercity, seperti Kabupaten Jembrana (Provinsi Bali) dan Kota
Yogyakarta.
Banyak faktor yang menjadi kendala untuk mewujudkan cybercity, antara lain
infrastruktur TIK yang belum dibangun, literasi TIK di masyarakat yang rendah,
komitmen pemerintah daerah dan anggaran. Hingga April 2010, dari 523 pemerintah
daerah di Indonesia 440 telah mempunyai website atau 84,13 persen 5. Meskipun secara
kuantitas dapat dikatakan bahwa sebagian besar pemerintah daerah telah memanfaatkan
TIK dalam mendukung tugas-tugasnya, namun pengembangan website milik pemerintah
daerah selama ini berjalan sendiri-sendiri sehingga kurang mendukung pengembangan egovernment secara nasional.
Dikaitkan dengan cybercity, pengembangan website pemerintah daerah yang
merupakan bagian dari implementasi e-government menjadi sangat penting. Selain
berperan sebagai fasilitator bagi masyarakat, pemerintah mengambil peran sebagai
leading system dalam Cybercity. Pemerintah mempunyai wewenang di bidang regulasi
peraturan dan perijinan yang sangat diperlukan agar pengembangan Cybercity tidak
menimbulkan permasalahan hukum.
Cybercity umumnya dikembangkan di perkotaan mengingat wilayah tersebut
mempunyai fasilitas TIK relatif lebih lengkap dibanding wilayah pedesaan atau
pinggiran. Pusat bisnis, pendidikan dan hiburan juga banyak berkembang di perkotaan,
sehingga infrastruktur untuk mendukung berbagai kegiatan masyarakat dan dunia usaha
akan

dikembangkan. Basis

bagi

pengembangan

Cybercity adalah masyarakat

pengetahuan, bisnis dan pelayanan publik. Masyarakat perkotaan relative lebih tinggi
5 Sumber: pusdatinkomtel kemendagri
9

tingkat pendidikannya dan mempunyai tingkat sosial dan ekonomi lebih baik dibanding
masyarakat perdesaan.
Struktur sosial dan ekonomi masyarakat merupakan pertimbangan utama dalam
investasi dunia usaha, apa core bisnis, seberapa besar market yang mampu dikuasai
adalah faktor yang diperoleh setelah melihat struktur sosial-ekonomi masyarakat. Bisnis
yang memanfaatkan TIK merupakan elemen penting dalam Cybercity. Di samping
infrastruktur TIK dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat, daya tarik lain yang mampu
mendorong investor adalah stabilitas dan regulasi. Stabilitas bukan hanya pada bidang
politik, tetapi kondisi masyarakat yang terkait erat dengan budaya dan adat istiadat.
Pemerintahan yang stabil merupakan prasyarat penting guna menghasilkan kebijakan
yang mampu mendorong pertumbuhan investasi.
Cybercity dalam taraf tertentu akan memberi kesempatan pada dunia usaha untuk
lebih banyak bertransaksi melalui internet atau pemanfaatan TIK yang lain. Strategi
bisnis melalui internet entry barrier-nya sangat rendah, sehingga medium ini semakin
banyak dilirik sebagai sarana pemasaran dan penjualan produk. Di samping itu bisnis
melalui internet menjanjikan keberhasilan. Network effect6) adalah konsep yang dapat
menjelaskan kenapa bisnis melalui internet lebih menjanjikan dan entry barrier-nya
sangat rendah. Network effect adalah konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh
Robert Metcalfe lewat dalil yang dikenal dengan Metcalfes Law, dia mengatakan bahwa
nilai suatu jaringan akan bertambah secara eksponensial dengan bertambahnya anggota
jaringan. Artinya, setiap penambahan satu anggota dalam jaringan, semua anggota akan
mendapatkan manfaat.
Keterlibatan unsur perguruan tinggi dalam pengembangan Cybercity akan menjadi
unsur penyelaras. Melalui kegiatan riset akan dapat diketahui tingkat literasi masyarakat
terhadap TIK, aplikasi yang dibutuhkan dengan segera, jenis konseksitas yang akan
dipergunakan, ruang publik strategis dan faktor lain yang dibutuhkan. Keberadaan
perguruan tinggi, terutama yang mempunyai program studi TIK dalam suatu kawasan
Cybercity menjadi elemen penting dan tidak dapat ditinggalkan.
6 http://www.itpin.com/blog/ebay-amazon-google/
10

Kajian Surakarta Menuju Cybercity


Berdasarkan konsep yang banyak dipraktekan, maka pengembangan Cybercity harus
mengedepankan kebijakan pengelolaan TIK secara menyeluruh. Artinya TIK menjadi
bagian yang tidak terpisahkan di pemerintah daerah dalam mendukung tugas
pemerintahan dan pelayanan publik. Prioritas penguatan pemanfaatan TIK harus
seimbang antara lingkungan pemerintah dan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur di kalangan swasta selama ini sudah berjalan dan
pemerintah berperan sebagai fasilitator. Meskipun demikian kemudahan yang diberikan
pemerintah untuk mendukung pengembangan infrastruktur TIK swasta sangat penting.
Misalnya melalui transparansi perijinan, hal itu merupakan salah satu point penting guna
mendorong minat dan peran aktif sektor swasta.

a. Kesiapan Pemerintah Kota Surakarta


Kebijakan Pemerintah Kota Surakarta dibidang TIK selama ini memberi porsi
lebih besar kepada kepentingan masyarakat, artinya masyarakat

diberi peran dan

merupakan subyek dalam pemanfaatan TIK. Kemandirian masyarakat dibidang TIK


difasilitasi oleh pemerintah dengan membangun sarana akses internet (hotspot) dan
mendirikan Taman Cerdas di sejumlah lokasi. Melalui program tersebut diharapkan
literasi masyarakat terhadap TIK akan semakin meningkat. Fasilitas TIK yang disediakan
dan telah dibangun oleh Pemerintah Kota Surakarta adalah hot-spot diseluruh kelurahan
dan beberapa kawasan publik kemudian pembangunan Taman Pintar disejumlah kawasan
yang mayoritas penduduknya kurang mampu secara ekonomi.

Tabel 1
Lokasi Hot-Spot di Kota Surakata
11

No.

Lokasi Hotspot Kecamatan

No.

Lokasi Hotspot Ruang Publik

1.

Laweyan di 11 kelurahan

1.

Kawasan Ngarsopuro

2.

Serengan di 7 kelurahan

2.

GOR Manahan

3.

Pasar Kliwon di 9 kelurahan

3.

Plaza Sri Wedari

4.

Jebres di 11 kelurahan

4.

Taman Balekambang

5.

Banjarsari di 13 kelurahan

Sumber: Dinas Kominfo Kota Surakarta (2010)

Pembangunan hot-spot disemua kelurahan di Kota Surakarta dimaksudkan untuk


mendekatkan TIK kepada masyarakat dan aparat pemerintah di kelurahan. Aparat
pemerintah di tingkat kelurahan secara bertahap dikondisikan memahami fasilitas TIK.
Pemerintah sebagai leading system dalam pengembangan Cybercity dituntut mempunyai
aparat yang familier terhadap TIK.
Di samping fasilitas bagi masyarakat umum, beberapa aplikasi TIK telah
diimplementasikan dan mendukung kinerja Pemkot Surakarta di beberapa instansi.

Tabel 2
12

Aplikasi yang terpasang di lingkungan Pemkot Surakarta

Instansi
Dinas Kesehatan
(DKK)

Dinas
Pendapatan,Pengelolaa
n Keuangan dan Aset
(DPPKA)
Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil
(Dispendukcapil)
Badan Perencanaan
Daerah (Bapeda)

Aplikasi
Sistem Informasi
Kesehatan
Sistem Informasi Tenaga
Kesehatan

Deskripsi
digunakan seluruh
Puskesmas
digunakan seluruh
Puskesmas

Sistem informasi
Kesehatan Nasional

digunakan DKK dan


Departemen Kesehatan

Sistem Informasi
Keuangan Daerah
Manual Pendapatan
Daerah
Sistem Informasi Barang
Daerah

Digunakan seluruh
instansi Pemkot
Digunakan seluruh
cabang DPPKA
Digunakan seluruh
instansi Pemkot

Sistem Administrasi
Kependudukan

Digunakan seluruh
kecamatan

Rencana Kerja Daerah


Aplikasi Data Kemiskinan

Kantor Pelayanan
Terpadu (KPT)

Sistem informasi
Pelayanan
Verifikasi Bantuan
Pendidikan (BPM)
Verifikasi Bantuan
Kesehatan(PKMS)

Digunakan seluruh
instansi Pemkot
Digunakan oleh Dinas
Pendidikan,
Dinas Kesehatan,
Dispendukcapil, KPT
Digunakan KPT
digunakan KPT dan
Dinas Pendidikan
digunakan KPT dan
DKK

Status
connect via WIFI ke
DKK
connect via WIFI ke
DKK
Connect via Internet
Ke Departemen
Kesehatan
tidak terkoneksi
connect via WIFI Ke
DPPKA
tidak terkoneksi
Connect via WIFI ke
Dispendukcapil
tidak terkoneksi
connect via WIFI Ke
Bapeda
Connect Via LAN
KPT
tidak terkoneksi
connect via LAN

Sumber: Dinas Kominfo Kota Surakarta (2010)

Aplikasi TIK di instansi Pemkot Surakarta bukan di titik beratkan pada pelayanan
publik, tetapi lebih bersifat ke dalam. Hal ini dapat dilihat pada pengguna aplikasi yang
seluruhnya merupakan instansi di lingkungan pemerintahan. Kebijakan pengembangan
aplikasi yang digunakan secara internal pada satu sisi memang dapat mendukung kinerja
pemerintah, namun pada sisi yang lain kurang mendukung peningkatan pelayanan publik.

13

Table 3
Lokasi Taman Pintar di Kota Surakarta

No.

Kelurahan

Kecamatan

1.

Pajang

Laweyan

2.

Kadipiro

Banjarsari

3.

Sumber

Banjarsari

4.

Mojosongo

Jebres

5.

Gandekan

Jebres

6.

Joyotakan

Serengan

Sumber: Dinas Kominfo Kota Surakarta (2010)

Pembangunan Taman Pintar merupakan upaya Pemerintah Kota Surakarta


mendekatkan TIK kepada masyarakat. Kebijakan ini merupakan langkah nyata penetrasi
TIK ke masyarakat. Selama ini masyarakat kurang mampu (pra-sejahtera) dinilai masih
14

sangat kurang akses informasinya. Masyarakat ini belum tersentuh teknologi internet,
hanya mengandalkan siaran televisi atau radio sebagai media informasi dan hiburan di
samping surat kabar. Dalam banyak hal informasi melalui media televisi, radio atau surat
kabar sering mengalami distorsi karena adanya kebijakan redaksional dimasing-masing
pengelola media. Internet merupakan media alternative yang berisi informasi dari
berbagai sumber sehingga masyarakat akan memperoleh informasi secara berimbang dan
luas.
Taman Pintar merupakan sarana pembelajaran TIK di samping tempat akses
internet bagi masyarakat. Program Taman Pintar menunjukkan kepedulian Pemerintah
Kota Surakarta kepada masyarakat yang selama ini terpinggirkan. Literasi masyarakat
terhadap TIK menjadi semakin penting dalam rangka pengembangan Cybercity. Bagi
sebagian besar masyarakat prasejahtera kepemilikan fasilitas untuk mengakses internet
bukan suatu prioritas, namun peluang untuk mengakses dan memahami cara berselancar
di internet tidak berbeda dengan masyarakat lainnya. Tujuan Taman Pintar adalah agar
masyarakat prasejahtera paham internet dan menggunakannya untuk mendukung
kegiatannya.
Pemerintah Kota Surakarta juga membangun titik-titik hotspot disejumlah lokasi
strategis. Melalui kebijakan ini diharapkan masyarakat memperoleh kemudahan
mengakses internet. Fasilitas hotspot diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah ke
atas yang membawa perangkat komputer/laptop sendiri untuk mengaksesnya.
b. Keberadaan Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi merupakan elemen penting dalam rangka pengembangan
cybercity. Di Kota Surakarta terdapat sekitar 13 perguruan tinggi/akademi yang
mempunyai program studi bidang komunikasi dan informatika.
Table 4
Perguruan Tinggi Jurusan Komunikasi Informatika
di Surakarta
15

No
.

Nama PT dan Alamat

1.

Akademi Manajemen Informasi dan


Komunikasi/ Jl. A. Yani 181 Solo

Jurusan

Manajemen Komunikasi

Ilmu Komunikasi
2.

Universitas Sebelas Maret / Jl Ir Sutami No.


36 Kentingan, Solo

Desain komunikasi Visul


Teknik Informatika

3.

4.

Universitas Boyolali/ Jl adisucipto No. 170,


Solo

Politeknik Pratama Mulia / Jl. Harjo Panular


No. 18 Surakarta

Teknik Informatika
Ilmu Komunikasi

Teknik Komputer
Manajemen Informatika

Ilmu Komunikasi
5.

Universitas Sahid Surakarta / Jl. Adisucipto


No. 154

Desain komunikasi Visul


Teknik Informatika

6.

STMIK Duta Bangsa / Jl. Bhayangkara No.


55 Surakarta

Universitas Slamet Riyadi / Jl. Sumpah


Pemuda No. 18 Banjarsari, Surakarta

8.

STMIK AUB Surakarta / Jl. MW. Maramis


No. 29 Cengklik Surakarta

Sistem Infomasi
Manajemen Informas
Teknik Informatika

Ilmu Komunikasi

Sistem Komputer
Sistem Komunikasi
Teknik Komputer

16

9.

Universitas Kristen Surakarta / Jl RW


Monginsidi No. 36-38 Surakarta

Teknik Informatika

Universitas Surakarta / Jl. Raya Palur Km 5


Surakarta

Teknik Informatika
Sistem Komunukasi
Ilmu Komunikasi
Teknik Informatika
Teknik Komputer

11.

Politeknik Indonusa Surkarta / Jl. KH.


Samanhudi No. 31 Surakarta

Manajemen Informatika
Komunikasi Massa

12.

Akademi Seni dan Desain Indonesia / Jl.


Slamet Riyadi No. 158 Surakarta

Desain komunikasi visual

13.

Amik Harapan Bangsa Surakarta / Jl. Pakel


Sumber, Surakarta

Manajemen Informatika

10.

Sumber: website dikti go id dan observasi langsung

Keberadaan perguruan tinggi/akademi yang membuka jurusan komunikasi dan


informatika menunjukkan minat masyarakat kota Surakarta terhadap program studi ini
cukup tinggi. Kekayaan kaum intelektual bidang TIK yang ada di masyarakat Surakarta
merupakan modal penting guna mendukung pengembangan Cybercity. Kerjasama
pemerintah dengan perguruan tinggi dibidang riset dan pengembangan TIK merupakan
potensi yang harus dipelihara dan ditingkatkan, sehingga ke depan akan muncul inovasi
dan ide kreatif yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan bersama, khususnya bagi
pengembangan Kota Surakarta.
Disamping lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga-tenaga pengembang
TIK, maka komunitas yang concern terhadap perkembangan dan manfaat TIK sangat
penting. Komunitas TIK merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai minat
modifikasi dan pengembangan software dan inovasi aplikasi TIK. Perkembangan TIK
perlu diantisipasi agar pengembangan Cybercity selalu selaras dan tidak mengalami
17

hambatan dikemudian hari. Pemerintah mempunyai peran penting untuk menyatukan


berbagai tenaga potensial TIK agar keberadaan komunitas ini mempunyai nilai tambah
bagi pengembangan Cybercity maupun komunitas itu sendiri.
Pada dasarnya inovasi dan perkembangan bidang TIK tidak dapat lepas dari
persaingan perusahaan penghasil perangkat TIK, baik software maupun hardware-nya.
Inovasi yang dilakukan satu perusahaan akan mengakibatkan reaksi dari perusahaan
lainnya untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik lagi. Persaingan yang sangat
ketat mengakibatkan aplikasi TIK rentan terhadap ketertinggalan (out of date). Hal inilah
yang menjadi salah satu sebab implementasi TIK menjadi mahal, karena harus sering
diperbaharui atau disesuaikan.
Pemerintah Kota Surakarta dalam upaya menekan biaya telah menjalin kerjasama
dengan kalangan swasta. Hal itu direalisir pada pengembangan Taman Pintar yang
berkerjasama dengan salah satu provider. Kerjasama ini menguntungkan kedua belah
pihak (Pemkot Surakarta dan Swasta). Secara ekonomis pemerintah tidak perlu
mengeluarkan biaya yang cukup besar, sedangkan pihak swasta mengambil manfaat dari
promosi produknya.

c. Peran serta Swasta


Swasta merupakan elemen yang tidak boleh diabaikan dalam pengembangan
Cybercity. Peran swasta di sini tidak selalu berorientasi komersil, tetapi peran nonkomersil dewasa ini justru menjadi faktor yang penting. Keberhasilan swasta
mengambangkan bisnis harus tetap disertai dengan tanggung jawab terhadap lingkungan
dan masyarakat atau yang dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR) atau
tanggung jawab sosial perusahaan.
Pengertian CSR itu sendiri adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya
(namun bukan hanya) perusahaan memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen,
karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional

18

perusahaan7. Konsep CSR sejalan dengan arah dan tujuan Cybercity, terutama dalam
aspek orientasi perusahaan. Tanggung jawab sosial perusahaan dalam wujudnya
merupakan perobahan orientasi dari semata-mata keuntungan perusahaan atau pemilik
modal menjadi keuntungan yang dinikmati oleh stakeholders atau pemangku
kepentingan.
Keterkaitan antara Cybercity dengan program CSR dapat dilihat dari arti pentingnya
kehadiran dunia usaha bagi masyarakat dan lingkungan sosial. Cybercity menawarkan
keterbukaan dan akses informasi yang luas, hal ini merupakan faktor penting bagi
perusahaan untuk lebih memahami lingkungan, sehingga program kegiatan perusahaan
dapat diselaraskan dengan tujuan yang memberi manfaat tidak hanya bagi perusahaan
tetapi juga lingkungan sosialnya. Salah satu contoh pelaksanaan CSR di Indonesia adalah
program air bersih di Nusa Tenggara Timur yang disponsori oleh perusahaan penghasil
air minum mineral.
Informasi terhadap kegiatan perusahaan yang terkait dengan CSR dapat
disampaikan lewat internet melalui website, sehingga masyarakat dapat mengetahui apa
yang telah dilakukan dunia usaha. Lebih dari itu, melalui website juga dapat dilakukan
komunikasi dua arah. Kelebihan website sebagai medium komunikasi perusahaan antara
lain, tepat waktu (timely), artinya perusahaan dapat mengatur kapan informasi dan
komunikasi mengenai program CSR perusahaan akan dilakukan.
Informasi segera tersedia (realtime), yaitu tidak perlu menunggu publikasi secara
manual seperti laporan bulanan, semester atau tahunan untuk dapat diketahui masyarakat.
Komunikasi bersifat massal dan global dapat menjangkau berbagai stakeholdres,
kelebihan ini bagi perusahaan akan menghemat waktu dan biaya, sebab informasi yang
dibutuhkan stakeholders dapat secara lengkap dilihat ataupun diunduh (download).
Komunikasi dua arah (email, forum diskusi, mai- list dan buletin boards), melalui
komunikasi dua arah akan terjalin hubungan yang intens untuk meningkatkan kerjasama
bisnis maupun hubungan lain yang saling menguntungkan antara perusahaan dengan
7 http://id.wikipedia.org/wiki/Tanggung_jawab_sosial_perusahaan (akses 2/6/2011)
19

stkaeholders. Di samping itu, website juga mempunyai kelebihan dalam penampilan dan
penyajian data melalui image yang lebih menarik. Fasilitas pencarian atau search engine
dan tautan (hyperlink) menjadikan website sangat efektif untuk mencari informasi tentang
program SCR perusahaan.
Sebagai kota perdagangan dan industri, eksistensi swasta mutlak diperlukan.
Pemerintah Kota Surakarta telah menjalin kerjasama dengan kalangan swasta, salah
satunya dalam program pengembangan Taman Pintar. Kalangan swasta, seperti
perbankan, perhotelan telah mengembangkan dan memanfaatkan TIK dalam mendukung
kegiatannya. Beberapa hotel berbintang sebagian besar telah memasang fasilitas hotspot
yang dapat diakses disetiap kamar atau tempat tertentu. Demikian juga beberapa restoran
atau caf menyediakan fasilitas hotspot bagi pengunjungnya. Meskipun masih dikatakan
embrio, tetapi kesiapan yang dilakukan kalangan swasta untuk mendukung Cybercity
sangat penting artinya.
Keterbatasan yang dimiliki pemerintah baik anggaran, SDM dan fasilitas
menuntut peran serta swasta yang lebih besar. Pada

negara maju pengembangan

Cybercity dimulai dengan membangun suatu kawasan yang secara khusus diperuntukan
untuk menampilkan, memeragakan dan mengkomersilkan teknologi, atau yang populer
disebut technopark. Pengembangan technopark umumnya dilakukan oleh swasta,
misalnya yang ada di Silicon Valley dekat Universitas Stanford California AS. Silicon
Valley merupakan kawasan yang memiliki perusahaan berteknologi tinggi (high tech)
dengan ratusan ribu pekerja dan omzet jutaan dollar perhari8.
Inisiatif pembangunan technopark di negara-negara berkembang, seperti Indonesia lebih
banyak datang dari pemerintah (daerah). Komitmen pemimpin daerah menjadi begitu
penting dalam pengembangan TIK termasuk pembangunan technopark. Pemerintah Kota
Surakarta saat ini sudah mengembangkan technopark dengan nama Solo Technopark
(STP) meski pembangunannya belum sepenuhnya selesai. Melalui Solo Technopark akan
terwujud triple helix, yaitu suatu hubungan sinergis antara swasta, pemerintah dan
akademisi. STP merupakan kawasan pendidikan, pelatihan dan promosi berbagai industri,
8 http://openstudy.wikispaces.com/techno+park
20

termasuk unit IT dan elektronik. Keberadaan STP menjadi nilai tambah bagi
perkembangan Cybercity mengingat potensi munculnya inovasi dalam pengembangan
aplikasi TIK semakin terbuka. Ke depan Solo Technopark sebagai pusat fasilitas IT,
vokasi dan inovasi diharapkan segera terwujud, dengan dukungan dan sinergi antara
pemerintah pusat dan daerah, industri, dan akademis9.
Solo Technopark dengan visinya Memberikan pelayanan superior dengan kualitas
terjamin sesuai standar internasional dalam bidang pendidikan dan industri, untuk
mendorong terwujudnya pembangunan daerah berbasis inovasi dan ekonomi
berkelanjutan. Menjadi pusat interaksi terkini antara budaya, teknologi dan pendidikan
vokasi di Indonesia. Menciptakan dan menjalin hubungan strategis nasional dan
internasional dalam peluang kerjasama di masa depan tidak hanya fokus pada kegiatan
pelatihan dan pendidikan, tetapi sesuai dengan konsep technopark yaitu sebagai kawasan
industri teknologi masa depan. Untuk itu fasilitas dan infrastruktur perlu dipersiapkan dan
dibangun. Dalam kaitan ini peran pemerintah sebagai fasilitator menjadi sangat penting
dan strategis karena daya tarik investor untuk masuk ke STP salah satunya ditentukan
oleh kelengkapan fasilitas dan infrastrukturnya.

d. Masyarakat Berbasis Pengetahuan


Membangun Cybercity adalah mewujudkan masyarakat berpengetahuan, artinya
tujuan akhir yang akan dicapai melalui Cybercity adalah masyarakat yang sejahtera dan
tujuan itu akan dapat tercapai bila masyarakat menguasai pengetahuan. Merujuk pada era
yang saat ini sedang berlangsung, maka informasi menjadi sesuatu yang sangat penting,
siapa menguasai informasi akan menguasai pengetahuan dan memenangkan persaingan.
Integrasi TIK dalam setiap sendi kehidupan masyarakat, pemerintahan dan
kegiatan dunia usaha merupakan cara yang tepat untuk membudayakan penggunaan TIK
di seluruh lapisan masyarakat. Melalui cara ini akan terwujud suatu masyarakat yang
berbasis pengetahuan sebagai langkah menuju ke persaingan global. Mengembangkan
9 http://www.solotechnopark.com
21

Cybercity berarti secara sistematis membangun masyarakat informasi menuju masyarakat


berbasis pengetahuan.
Masyarakat yang berbasis pengetahuan hanya dapat terwujud melalui
pemberdayaan informasi. Artinya, informasi menjadi salah satu sumberdaya penting yang
dapat mendukung kegiatan manusia serta untuk meningkatkan kualitas hidup. Untuk itu
pemanfaatan teknologi merupakan salah satu cara yang tepat, agar informasi lebih
berdaya guna dan berhasil guna.
Tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah masih rendahnya
penetrasi TIK di masyarakat. Sebagai gambaran kepemilikan komputer dan akses internet
keluarga di Indonesia masih tergolong rendah, meskipun dilihat dari sisi pertumbuhannya
cukup signifikan. Hingga tahun 2011 berbagai data menunjukkan perusahaan peranti
lunak masih sejumlah 300, pengembang profesional sebanyak 47 ribu, penetrasi PC ke
penduduk baru 5%, tingkat pembajakan software mencapai 85% dan belanja TIK negara
dibandingkan PDB masih 0,08%. Namun pada sisi yang lain jumlah kepemilikan ponsel
sudah mencapai 66 persen dari populasi penduduk Indonesia. Bahkan pada tahun 2015
diprediksi akan mencapai 105 persen atau melebihi populasi penduduk.10
Penggunaan handphone yang sangat tinggi di masyarakat dapat menjadi langkah awal
yang baik bagi pengembangan Cybercity ke depan. Perangkat handphone berkembang
secara pesat tidak hanya dipergunakan sebagai alat komunikasi (telepon dan sms), tetapi
juga untuk akses internet dengan berbagai fitur yang tersedia. Meskipun diakui bahwa
dampak negatif dari handphone yang dilengkapi fitur multi media

masih menjadi

kekuatiran seluruh pihak.


Dari perannya, TIK dapat diklasifikasikan menjadi 4 tahap, yaitu11:

10 Ananta Gondomono, Academic Manager Microsoft Indonesia,http://managementfile.com/journal.php?


id=1361&sub=journal&awal=650&page=ict

11 Modul E-Government Bimtek Sertifikasi Kompetensi Dasar CIO Kemkominfo,


UI, ITB, UGM dan ITS
22

Gambar 1
Pentahapan Peran TIK

Pada awalnya peran TIK sebatas automasi tugas-tugas, yaitu perobahan dari cara
manual menjadi digital atau otomatisasi. Pada tahap ini TIK dipergunakan untuk
pembuatan dokumen kerja, surat menyurat, pembuatan data base. Pembuatan grafis dan
visual untuk presentasi, desain, gambar kerja dll. Juga untuk transfer dan pengiriman
data secara elektronik. Automasi di lingkungan Pemkot Surakarta sudah berjalan,
pemanfaatan komputer dan perangkat pendukungnya sudah menjadi alat kerja sehari-hari.
Demikian juga sebagian masyarakat sudah familier dengan perangkat komputer untuk
membantu aktivitasnya. Saat ini keberadaan komputer bukan lagi barang asing bagi
masyarakat Surakarta juga masyarakat di kota besar lainnya.
Tahap berikut adalah integrasi, dalam hal ini menggabungkan beberapa proses dan
mekanisme beserta SDM pendukungnya dalam sebuah kesatuan utuh. Tujuan integrasi
adalah membangun atau mewujudkan layanan baru, meningkatkan efisiensi, dan
menyediakan secara cepat informasi yang dibutuhkan untuk dipergunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan. Dalam lingkungan pemerintahan integrasi dapat dilihat dalam
Sistem Pelayanan Satu Pintu.

Kota Surakarta sejak tanggal 5 Desember 2005

mengoperasikan Pelayanan Satu Pintu (one stop service). Pelayanan ini diselenggarakan
23

di Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT). Jenis ijin yang dilayani terdiri dari 21
macam, yaitu:

Tabel 5
Jenis Ijin Kantor Pelayanan Terpadu Kota Surakarta

1. Ijin Mendirikan / Merubah /


Merobohkan Bangunan (IMB)

11. Ijin Pemasangan Reklame


12. Ijin Jasa Biro Perjalanan Wisata

2. Ijin Penggunaan Bangunan


13. Ijin Jasa Pemandu Wisata
3. Keterangan Rencana Peta(AP)
Advice Planning

14. Ijin Jasa Impresariat

4. Ijin Lokasi

15. Ijin Jasa Informasi Pariwisata

5. Ijin Rekomendasi Lokasi

16. Ijin Jasa konvensi

6. Ijin Usaha Perdagangan (IUP)

17. Ijin Hotel

7. Ijin Usaha Industri (IUI)

18. Ijin Pondok Wisata

8. Tanda Daftar Gudang (TDG)

19. Ijin Restoran

9. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

20. Ijin Rumah Makan

10. Ijin Gangguan Usaha (HO)

21. Ijin Gedung Pertemuan Umum

Pelayanan satu pintu merupakan perobahan bentuk pelayanan yang semula


tersebar di banyak SKPD dijadikan satu pintu pelayanan. Secara teknis pelayanan satu
pintu bukan fokus pada pemanfaatan TIK, tapi penyederhanaan mekanisme pelayanan.
Tahap berikut adalah Enabler yaitu mewujudkan sesuatu yang sebelumnya belum
pernah ada atau menciptakan hal baru. Pada tahap ini TIK dimanfaatkan untuk
24

menciptakan inovasi, sehingga menghasilkan cara, mekanisme atau metode baru dalam
berbagai aktivitas manusia.

Misalnya penggantian KTP menjadi e-KTP merupakan

bentuk enabler karena KTP model baru ini tidak hanya sekedar bukti identitas, tetapi
mempunyai chip yang menyimpan data lengkap pemegangnya. e-KTP belum
diimplementasikan di Surakarta dan pengurusan KTP selama ini masih manual dengan
proses berjenjang dari tingkat RW hingga kecamatan.
Pada tahap akhir atau transformer, TIK sudah menjadi budaya dan dipergunakan
dalam seluruh aktivitas manusia dimanapun, kapanpun dan siapapun. Dalam tahap ini
seluruh tatanan yang berhubungan dengan pemerintahan, sosial-kemasyarakatan,
ekonomi, hukum dan lain lain sudah terhubung (terkoneksi).
Pentahapan peran TIK dalam implementasinya akan selaras dengan penetrasi

dan

pemahaman masyarakat terhadap TIK. Peningkatan penetrasi TIK harus diimbangi


dengan literasi masyarakat terhadap TIK, artinya masyarakat harus dikondisikan menjadi
melek TIK. Hal ini bukan sesuatu yang mudah, murah dan instan. Pembangunan
infrastruktur yang lengkap akan sia-sia bila masyarakat belum siap menerimanya. Melek
TIK di sini bukan saja mampu mengopersikan perangkat TIK, tetapi harus memahami
pemanfaatannya dan menjadikan TIK sebagai bagian dari kegiatan masyarakat yang
memberi nilai tambah (value added) dalam berbagai aspek kehidupan.
Menurut UNESCO pemanfaatan TIK dapat diklasifikasikan menjadi empat
tahap12, yaitu:
Gambar 2
Pentahapan Pemanfaatan TIK

EMERGING

APPLYING

INTEGRATING

TRANFORMING

12 http://www.wtvi.com/teks/integrate/tcea2001/powerpointoutline.pdf
25

Tahap emerging merupakan tahap pengenalan dan penyadaran akan pentingnya


TIK, tapi belum ada upaya untuk menggunakannya. Applying selangkah lebih maju, yaitu
TIK telah dipergunakan tapi hanya sebatas alat bantu. Tahap integrating adalah suatu
tahap integrasi TIK dalam berbagai kegiatan, dalam hal ini TIK menjadi bagian penting
dalam berbagai aktivitas. Adapun transforming merupakan tahap ideal dimana TIK telah
menjadi faktor penentu bagi keberhasilan suatu aktivitas atau eksistensi suatu
organisasi/masyarakat.
Menuju masyarakat berbasis pengetahuan diawali dengan munculnya masyarakat
informasi, yaitu masyarakat yang menjadikan informasi sebagai faktor penting dalam
mendukung aktivitas keseharian. Cybercity merupakan konsep yang salah satu tujuan
utamanya adalah mewujudkan masyarakat informasi menuju masyarakat berbasis
pengetahuan.
Permasalahan yang mengemuka saat ini dan juga dihadapi oleh masyarakat Kota
Surakarta adalah tingkat literasi informasi masyarakat yang relatif masih rendah. Tingkat
penetrasi TIK yang tinggi tidak serta merta menjadikan literasi informasi masyarakat juga
tinggi. Secara umum penetrasi TIK masyarakat Indonesia baru tahap applying, yaitu
perangkat TIK (handphone, komputer) baru digunakan sebatas alat bantu untuk
berkomunikasi dan bekerja. Pemanfaatan TIK untuk mendukung akses informasi seluasluasnya merupakan salah satu faktor penting dalam Cybercity, dan hal itu perlu
dimasyarakatkan sehingga melek informasi dapat terwujud dalam arti sebenarnya.
Terdapat beberapa definisi literasi informasi, dalam kajian ini digunakan
pengertian dari American Library Association (ALA) yaitu sebagai kemampuan untuk
mengakses, mengevaluasi, mengatur, dan menggunakan informasi dari berbagai
sumber13. Dalam konteks ini pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana dan di
mana untuk menemukan informasi, kemampuan untuk menilai apakah informasi itu
13 http://www.libraryinstruction.com/infolit.html
26

bermakna atau tidak, dan akhirnya memilih cara terbaik agar informasi dapat
dipergunakan sebagai bahan pengambilan keputusan dan dimanfaatkan untuk membantu
mengatasi permasalahan.
Pemahaman literasi informasi tersebut menyiratkan bahwa memperoleh informasi seluasluasnya merupakan hak setiap warga, tetapi belum tentu seluruh informasi yang ada
bermanfaat. Kearifan masyarakat dalam mengakses, menyikapi dan menggunakan
informasi sangat esensial mengingat saat ini masyarakat dikelilingi oleh arus informasi
yang sangat banyak, dan tidak sedikit informasi yang bias dan menyesatkan.
Literasi informasi juga berarti masyarakat memahami kedudukannya sebagai
warga yang ikut bertanggung jawab dan ikut secara aktif memberi masukan kepada
pemerintah melalui saluran yang ada, sehingga kebijakan yang dikeluarkan pemerintah
merupakan kebijakan yang pro- masyarakat. Dalam Cybercity dengan fasilitas TIK yang
sudah memadai, mewujudkan masyarakat yang melek informasi semakin mudah.
Kota Surakarta mempunyai 13 universitas/perguruaan tinggi yang membuka
program yang terkait dengan TIK, hal ini dapat mengindikasikan masyarakat yang sudah
mengenal TIK secara kuantitatif sudah cukup memadai atau paling tidak dapat dikatakan
bahwa minat masyarakat terhadap bidang TIK relative cukup tinggi. Kebijakan TIK
Pemkot Surakarta yang membangun infrastruktur berupa fasilitas

hotspot gratis di

beberapa titik strategis menggambarkan bahwa fasilitas tersebut memang dinilai perlu
dan akan diapresiasi oleh masyarakat. Kemudian pengembangan Taman Pintar di wilayah
kantong miskin dapat diasumsikan bahwa masyarakat yang kurang mampu secara
ekonomi dinilai dapat diberdayakan sehingga mampu dan mau menggunakan TIK untuk
meningkatkan kehidupan mereka.

Penutup

27

Secara konseptual pengembangan Cybercity di Surakarta sudah mulai nampak


meskipun masih merupakan titik awal. Ke depan keberlanjutan pengembangannya akan
sangat tergantung pada komitmen Pemerintah Kota Surakarta selaku leading system.
Keberhasilan Pemerintah Kota Surakarta mengintegrasikan layanan pemerintah dengan
aktivitas dunia usaha, kepentingan masyarakat dan dukungan sektor akademisi
merupakan kunci sukses Cybercity.
Pengembangan Cybercity merupakan konsekuensi dari meningkatnya kebutuhan
masyarakat akan akses informasi dan perkembangan cara berkomunikasi yang didukung
oleh teknologi. Selain itu perkembangan global yang menuntut transparansi dan
kecepatan dalam berbagai aktivitas manusia juga menjadi faktor yang sangat mendasar
bagi terwujudnya Cybercity. Cybercity didukung oleh 4 elemen dasar, yaitu pemerintah,
dunia usaha, masyarakat dan akademisi. Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan
penggerak utama melalui instrument yang dimilikinya. Pada bagaian lain, dunia usaha,
masyarakat dan akademisi sesuai perannya masing-masing aktif mendukung dan
melakukan upaya yang bersifat konstruktif, produktif dan inovatif.
Peran pemerintah sebagai penggerak utama bukan berarti bahwa pengembangan
Cybercity hanya bersifat top-down, tetapi elemen diluar pemerintah dituntut aktif agar
pengembangan berjalan secara serasi. Artinya Cybercity akan dapat berkembang dengan
baik apabila terjalin kerjasama top-down dengan bottom-up, antara pemerintah dengan ke
3 elemen yang lain.
Pemerintah Kota Surakarta sudah memulai dengan mengeluarkan kebijakan dan
pembangunan fisik infrastruktur TIK, masyarakat sudah mulai aktif memanfaatkannya,
dunia usaha di Surakarta banyak yang memanfaatkan TIK untuk mendukung usahanya
dan dunia pendidikan mulai menghasilkan SDM yang mempunyai basic TIK.
Kesemuanya merupakan modal penting guna mewujudkan Cybercity ke depan guna
kesejahteraan masyarakat Kota Surakarta.

10. Daftar Bacaan


28

Ananta Gondomono, Academic Manager Microsoft Indonesia


Robert T Craig, Communication Theory as a Field
http://www.colorado.edu/communication/meta-discourses/Papers/App_Papers/
McGarry.htm
http://www.beacukai.go.id/library/data/kaber2.pdf
__________________ pusdatinkomtel kemendagri
http://www.itpin.com/blog/ebay-amazon-google/
http://id.wikipedia.org/wiki/Tanggung_jawab_sosial_perusahaan (akses 2/6/2011)
http://openstudy.wikispaces.com/techno+park
http://www.solotechnopark.com
http://managementfile.com/journal.php?id=1361&sub=journal&awal=650&page=ict
Modul E-Government Bimtek Sertifikasi Kompetensi Dasar CIO
Kemkominfo, UI, ITB, UGM dan ITS
http://www.wtvi.com/teks/integrate/tcea2001/powerpointoutline.pdf
http://www.libraryinstruction.com/infolit.html

29