Anda di halaman 1dari 12

Analisis Film "Dead Poet's Society" Menurut Teori Erikson

I. RESENSI CERITA
Akademi Welton, sekolah swasta yang terkurung di kaki kaki bukit terpencil di Vermont,
Inggris. Sekolah dengan tradisi yang kolot dan otoriter. Welton merupakan sekolah persiapan
unggulan ke perguran tinggi yang sangat terkenal akan empat prinsip utama mereka, yaitu
Tradisi, Kehormatan, Disiplin, dan Kecerdasan. Tradisi, kehormatan, disiplin, dan
kecerdasan dijadikan sebagai semboyan dan merupakan hal yang mendasari kehidupan, maka
dari itu setiap siswa Welton harus memahami dan melaksanakan prinsip prinsip tersebut.
Tradisi adalah kecintaan terhadap sekolah, bangsa, dan keluarga dan tradisi di Welton adalah
menjadi yang terbaik. Kehormatan adalah martabat dan memenuhi kewajiban. Disiplin adalah
penghargaan kepada guru dan kepala sekolah, disiplin datang dari diri sendiri. Sedangkan
kecerdasan adalah hasil kerja keras dan merupakan kunci dari segala kesuksesan disekolah
dan dimana saja.
Dead Poets Society (DPS) merupakan suatu komunitas remaja yang menjadikan puisi
sebagai pengungkapan ekspresi dan indentitas mereka, dimana para anggotanya dibukakan
matanya, pemikirannya akan kebebasan oleh kata kata yang menyengat dari para penyair.
Perkumpulan rahasia ini beranggotakan sekelompok remaja yang berasal dari sekolah
Welton. DPS oleh kepala sekolah Welton dianggap sebagai perkumpulan yang terlarang,
dimana cara yang digunakan komunitas ini dalam mengekspresikan seni dan metode belajar
yang mereka gunakan merupakan suatu hal yang dianggap tabu dalam lingkungan sekolah
Welton.

John Keating (Pak Keating) yang merupakan pendiri awal dari DPS adalah salah satu siswa
lulusan terbaik dari welton. Seiring dengan lulusnya para pendiri DPS maka eksistensi dari
DPS pun menghilang dan mati. Setelah beberapa puluh tahun kemudian seorang siswa baru,
yang merasa penasaran terhadap seorang guru pengajar puisi mereka, mencoba menggali
informasi tentang pengajar tersebut dan menemukan sebuah buku tahunan yang didalamnya
terdapat photo guru pengajar mereka dan disamping photo tersebut tertera sebuah kalimat
yang masih asing bagi mereka yaitu Dead Poets Society. Sejak saat itu DPS keluar dari
kuburnya dan gemanya kembali bergaung di sekolah Welton.
Pak Keating adalah guru pengganti yang mengajar kelas bahasa Inggris di Welton Akademi,
yang sebelumnya pernah mengajar di sekolah Chester, London. Dia juga merupakan salah
satu siswa lulusan kehormatan terbaik dari Welton. Pak Keating merupakan satu satunya guru
yang menerapkan metode belajar yang unik. Ia lebih senang mengajar anak muridnya dengan
cara mengarahkan siswanya agar bisa lebih mengeksplorasi kedalam diri mereka sendiri dan
mengekspresikan ide ide mereka. Dan dalam proses mengarahkan tersebut Pak Keating
menggunakan permainan permainan outdoor sebagai medianya. Dan seringkali cara yang
digunakan Pak Keating ini menarik perhatian siswa siswa dan guru guru yang lain. Mereka
melihat bahwa cara pengajaran keating tidak etis dan menyalahi aturan yang ditetapkan di
Welton. Seperti contoh sewaktu Pak Keating menyuruh siswanya untuk merobek halaman
pendahuluan dari sebuah buku puisi yang terkenal karangan Pritchard, dimana pada halaman
tersebut terdapat beberapa bait mengenai pemahaman puisi yang menurut Pak Keating
merupakan suatu kesalahan pemikiran dan ditakutkan nantinya akan diikuti oleh siswanya.
Merobek sebagian halaman dari buku merupakan suatu hal yang sangat diharamkan di
Welton dengan alasan bahwa merobek buku adalah suatu perbuatan yang tidak menghargai
ilmu pengetahuan.
Peran utama yang lain adalah Neil Perry. Neil berasal dari keluarga yang pas-pasan secara
ekonomi. Bagi keluarga Neil sekolah di Welton adalah suatu hal yang luar biasa dan mereka
berjuang keras agar Neil bisa masuk ke Welton. Perry adalah seorang ayah yang
berkepribadian keras dan otoriter yang sangat menggantungkan harapannya pada anak satu
satunya yaitu Neil. Karena tipikal seorang ayah yang keras dan otoriter maka istilah
demokrasi, menentang, atau bahkan mempertanyakan tidak ada dalam keluarga Neil. Hal itu
terbukti ketika neil mencoba untuk mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang
pemeran utama dalam pertunjukan teater. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Neil memiliki

kegiatan lain diluar sekolah, ayahnya langsung memberi ultimatum bahwa jika ia tetap
meneruskan untuk bermain teater maka ia akan ditarik dari Welton. Tetapi karena
keinginannya yang sangat tinggi untuk menjadi seorang aktor ia memutuskan untuk tetap
bermain teater meskipun ia harus mati karenanya.

II. ANALISIS TOKOH


A. John Keating (Pak Keating)
Guru-guru di sekolah itu umumnya mengajar sesuai tradisi yang nampak membosankan
siswa, yaitu para siswa belajar dalam ruang kelas dan duduk di kursi masing-masing. Siswa
belajar dengan cara mengulang-ulang atau mengungkapkan secara lisan berulang-ulang suatu
materi pelajaran hingga hafal di bawah bimbingan guru. Lain halnya dengan Pak Keating, ia
mengajar dengan cara yang berbeda. Pertama kali, ia masuk ruang kelas dengan berjalan
santai, tangan kanan memegang buku dan tangan kiri masuk ke dalam saku celananya sambil
bersiul-siul. Ia tidak berhenti dan berdiri di depan kelas melainkan berjalan terus melewati
para siswa ke belakang kelas dan menghilang di balik pintu menuju ruang lain. Para siswa
memandangi Pak Keating dengan penuh keheranan. Sambil melongokkan kembali kepalanya,
Pak Keating mengajak para siswa untuk mengikutinya. Para siswa yang semula bingung dan
ragu-ragu akhirnya mengikuti Pak Keating ke luar ruang kelas menuju lorong ruang
pertemuan yang besar yang dindingnya penuh dengan foto-foto para siswa terdahulu. Di
situlah Pak Keating memberikan pelajarannya dengan cara dialog dengan para siswa sambil
berdiri karena tidak ada bangku di situ. Pak Keating meminta para siswa memandangi fotofoto tersebut dan mendengarkan suara-suara atau seruan yang dibisikkan oleh orang-orang
dalam foto tersebut. Saat para siswa memandangi foto-foto tersebut, Pak Keating
membisikkan kata-kata: carpe diem dari belakang telinga para siswa, yang menimbulkan
keheranan mereka dari mana asalnya bisikan tersebut.
Dalam rangka memperkenalkan dirinya kepada para siswa, Pak Keating membacakan puisi
karya penyair terkenal berjudul: O..Capten, My Capten dan menganjurkan para siswa
memanggil dirinya dengan sebutan Kapten. Pada pertemuan berikutnya di ruang kelas, Pak
Keating meminta salah seorang siswa membuka buku pegangan dan membacakan bab awal
tentang pengantar puisi. Dalam buku itu diungkapkan bahwa cara menilai suatu puisi adalah

seberapa jauh puisi tersebut banyak pembacanya. Makin banyak pembacanya berarti puisi
tersebut bagus. Di luar dugaan para siswa, Pak Keating menyuruh para siswa merobek
halaman tersebut, bahkan meminta merobek satu pasal tentang pengantar puisi tersebut
seluruhnya. Para siswa terheran-heran dan termangu saja tanpa berbuat apa-apa. Dengan
dorongan dari Pak Keating, akhirnya para siswa tersebut satu per satu berani merobek seluruh
pasal itu. Suasana kelas menjadi riuh oleh teriakan-teriakan gembira para siswa menjalani
pelajaran yang luar biasa ini. Sedangkan Pak Keating ke luar ruangan untuk mengambil
tempat sampah.
Saat suasana kelas gaduh seperti itu, lewat dan masuklah seorang guru lain untuk mengetahui
apa gerangan yang terjadi. Hal ini di luar kebiasaan. Tak lama kemudian muncullah Pak
Keating berjalan mengelilingi kelas sambil membawa tempat sampah untuk menampung
hasil robekan buku tersebut. Melihat ada Pak Keating, guru lain tersebut meminta maaf dan
permisi meninggalkan ruangan sambil sebelumnya memberi komentar bahwa cara-cara Pak
Keating mengajar adalah di luar kebiasaan dan akan melaporkan hal ini kepada Kepala
Sekolah. Kemudian Pak Keating kembali melanjutkan pelajarannya bahwa puisi merupakan
cetusan suara hati nurani pribadi dan meminta para siswa membuat puisi sendiri sesuai
dengan hati nurani masing-masing. Dalam pelajarannya, Pak Keating menekankan perlunya
seseorang berani memanfaatkan kesempatan hari ini dengan semboyannya Seize the day!
yang merupakan terjemahan dari salah satu bait dari karya penyair terkenal, yaitu carpe
diem.
Pada pertemuan berikutnya, Pak Keating meminta masing-masing siswa membacakan hasil
karya puisinya. Namun ada salah seorang siswa yang enggan tampil ke depan kelas untuk
membacakan puisinya karena merasa tidak bisa membuat puisi. Pak Keating memberi
dorongan dan membimbingnya, sambil meminta siswa tersebut mengutarakan apa saja
keinginannya dan apa-apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Sambil terbata-bata siswa
tersebut mengutarakan keinginan dan isi pikirannya dan Pak Keating mengiringinya dengan
gaya bahasa pembacaan puisi sambil memberi dorongan. Setelah siswa tersebut selesai
membacakan isi pikirannya, Pak Keating menegaskan kembali bahwa itulah puisi, yang
merupakan cerminan isi hati dan pikiran.
Untuk lebih meyakinkan para siswa akan pentingnya keberanian untuk memandang sesuatu
masalah dari sudut pandang yang berbeda, Pak Keating mengajak para siswa berdiri naik ke

atas meja masing-masing, kemudian melihat ke sekeliling ruangan. Para siswa masih raguragu untuk menuruti perintah yang tak lazim ini. Namun dengan dorongan dari Pak Keating,
akhirnya para siswa satu per satu berdiri di atas meja masing-masing dan merasakan betapa
beda melihat dari posisi yang baru. Para siswa merasa senang mendapat pengalaman baru ini.
Pada suatu saat, ketika para siswa sedang melihat-lihat foto-foto buku para lulusan sekolah
yang terdahulu, terlihat foto Pak Keating dan keterangan bahwa Pak Keating dahulu semasa
menjadi siswa mengikuti kegiatan kelompok Dead Poets Society yang akhirnya pada waktu
itu dilarang pihak sekolah dan kegiatan tersebut ditutup serta kelompok tersebut dibubarkan.
Para siswa menanyakan mengenai hal ini kepada Pak Keating, dan Pak Keating bersedia
menceritakannya asalkan para siswa mau menjaga rahasia ini. Dead Poets Society
merupakan sekumpulan siswa yang kegiatannya di malam hari untuk berkumpul di suatu
tempat di gua persembunyian di pinggir sungai. Saat berkumpul di gua tersebut, masingmasing anggota perkumpulan membacakan puisi secara

bergantian. Hal ini menarik

perhatian para siswa tersebut dan akhirnya mereka membentuk

perkumpulan untuk

mempraktekkan kegiatan serupa. Pada malam hari mereka mengendap-endap ke luar asrama
untuk pergi ke gua di pinggir sungai yang ada di hutan di lingkungan sekolah. Mereka sangat
menikmati kegiatan sembunyi-sembunyi ini dan merasakan kebebasan untuk mencurahkan isi
hati.
Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, Pak Keating tetap mengajar dengan cara berbeda,
yaitu tidak di ruang kelas, misalnya memberi pelajaran puisi di lapangan. Para siswa
membacakan bait puisi masing-masing sambil menendang bola di lapangan tersebut. Pada
kesempatan lain, Pak Keating mengajar di halaman sambil meminta para murid
memperagakan gaya berjalan masing-masing dan menyimpulkan bahwa tiap orang punya
gaya berjalan masing-masing yang mengisyaratkan bahwa tiap orang punya jalan hidup
masing-masing, bakat dan minat yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya.
Oleh karena itu, Pak Keating menganjurkan para siswanya untuk mengejar impian masingmasing, jangan terpaku pada tradisi yang tidak cocok dengan pribadi atau sekedar mengikuti
kemauan orang lain. Sementara itu, di saat Pak Keating mengajar dengan cara yang tidak
lazim tersebut, guru lain mengawasinya dan mengancam akan melaporkannya kepada Kepala
Sekolah.

Dari cerita ini dapat disimpulkan bahwa Pak Keating seorang yang sangat mendukung siswa
untuk belajar tentang kehidupan dengan cara-cara yang tidak membosankan. Pak Keating
mengajarkan siswa untuk berani mengejar impian, mengutarakan pendapat dan melihat
kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
B. Knox
Knox, salah seorang dari siswa sekolah tersebut, di sela-sela hari sekolah pernah berkunjung
ke sebuah rumah. Kebetulan yang membuka pintu adalah seorang gadis yang cantik. Knox
jatuh cinta kepadanya. Hal ini membuat hatinya gundah. Teman-temannya menanyakan
kepada Knox ada apa gerangan yang membuatnya gundah dan nampak sering melamun.
Teman-teman Knox memberikan dukungan kepada Knox untuk mendekati gadis pujaannya
itu dengan mengingatkannya dengan semboyan Seize the day, yaitu ambillah kesempatan
hari ini atau akan kehilangan kesempatan untuk selamanya.
Knox berusaha mendekati dan menarik perhatian gadis itu, namun tidak mendapat tanggapan
karena ternyata gadis itu sudah mempunyai pacar. Gadis itu menyatakan tidak ada perasaan
apa-apa terhadap Knox dan dia setia kepada pacarnya. Namun Knox tidak putus asa, selalu
mencari kesempatan untuk mendekati gadis itu sambil menyatakan bahwa ia benar-benar
jatuh cinta kepada gadis itu, tidak dapat hidup tanpanya. Bahkan Knox pernah dihajar habishabisan oleh pacar gadis itu yang diberi tahu oleh teman-temannya bahwa gadis itu dicium
Knox saat gadis itu tertidur karena mabuk saat pesta.
Pada hari selanjutnya, Gadis itu menemui Knox untuk protes mengapa Knox mengganggu
kehidupannya dan meminta Knox untuk tidak mendekatinya lagi. Namun Knox dengan
meminta belas kasihan kepada gadis itu, untuk memberikan kesempatan sekali lagi kepada
Knox untuk membuktikan bahwa Knox benar-benar mencintainya. Gadis itu memenuhi
permintaan Knox dengan menonton drama bersama-sama. Gadis itu kagum kepada Knox
yang tidak kenal menyerah dalam mencapai keinginannya. Sambil bergandengan tangan
mereka pergi menonton drama. Sambil menonton drama, Knox meraih tangan gadis itu dan
menggenggamnya dengan erat sebagai tanda ia menyayanginya.
Dari cerita ini, dapat disimpulkan bahwa Knox merupakan pemuda yang ulet dalam mengejar
impiannya dan tidak kenal menyerah terhadap berbagai rintangan yang menghadapinya.

Akhirnya keinginan Knox tercapai yaitu mendapat tanggapan positif dari gadis pujaannya.
Nampaknya Knox terinspirasi dengan semangat yang diberikan oleh Pak Keating, guru
puisinya, yaitu untuk berani mengejar impian dan mengambil kesempatan hari ini atau
kesempatan itu akan hilang sama sekali serta pantang menyerah terhadap rintangan-rintangan
yang menghadang.
C. Neil
Di saat-saat mengikuti pelajaran Pak Keating, ia menyadari bahwa impiannya adalah untuk
menjadi aktor drama. Menjadi aktor merupakan kehidupannya. Ia tidak dapat membayangkan
hidup tanpa menjadi aktor. Namun hal ini tidak disetujui ayahnya. Ayahnya menentang
keinginan anaknya tersebut dengan keras. Ia sudah membayar mahal sekolah Neil agar
menjadi orang yang sukses dalam kehidupan, bukannya menjadi aktor yang tidak
menjanjikan apa-apa.
Neil menjadi bingung, tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Di sela-sela kebingungannya,
ia menemui Pak Keating untuk meminta nasehat. Nasehat Pak Keating adalah kejarlah
impian, dan menyarankan Neil untuk menceritakan keinginan ini kepada orang tuanya dan
memohon kepada orang tuanya agar mau memahami Neil.
Neil memohon belas kasihan ayahnya untuk mengijinkan Neil mengejar cita-citanya sebagai
aktor drama dan mengijinkan Neil untuk ikut dalam pertunjukan drama yang segera akan
berlangsung. Ayahnya mengijinkan Neil dengan syarat ini permintaan terakhir kali. Setelah
itu, Neil harus memusatkan perhatian pada sekolahnya dan melupakan cita-cita sebagai aktor
untuk selamanya.
Saat menjadi bintang utama dalam suatu pertunjukan drama berlangsung, Neil mendapat
sambutan yang meriah dari para penonton dan teman-temannya. Pak Keating memberi
komentar kepada Neil bahwa ia sangat berbakat sebagai aktor drama. Namun ayah Neil
langsung mengajak pulang Neil, tidak memberi kesempatan kepada Neil untuk merayakan
prestasinya di antara teman-teman yang semuanya simpati dan mendukung Neil.
Di rumah, ayahnya marah besar kepada Neil dan mengancam akan menghentikan
pembiayaan sekolah dan mengusirnya dari rumah bila Neil tetap tidak bisa melupakan

impiannya sebagai aktor. Di tengah malam, saat orang tuanya tidur, Neil gelisah. Di tengahtengah rasa kebingungan dan putus asa, Neil berjalan ke ruang kerja ayahnya. Sesampainya
di sana, ia membuka laci meja kerja ayahnya dan mengambil pistol dan menembakkan pistol
itu di kepalanya sehingga Neil tewas.
Ayahnya kaget mendengar suara tembakan dan bergegas mencari Neil yang ternyata tidak ada
di kamarnya. Kemudian ia pergi menuju ruang kerjanya dan melihat anaknya yang terkapar
di lantai ruang kerjanya sudah tak bernyawa. Sang Ayah sangat menyesali kejadian ini dan
menuntut pihak sekolah untuk mengusut sebab-sebab kematian anaknya dengan dugaan
bahwa anaknya mengambil tindakan bunuh diri karena terpengaruh oleh ajaran Pak Keating.
Dari cerita ini dapat disimpulkan bahwa Neil memiliki cita-cita yang demikian mendalam
sehingga seolah-olah ia tidak dapat hidup bila tidak mencapai impiannya sebagai aktor.
Pikiran Neil sudah buntu saat ayahnya menentang keras dan tidak mau kompromi. Pribadi
Neil yang rapuh tidak kuat menghadapi rintangan tersebut sehingga ia mengambil jalan pintas
untuk mengakhiri hidupnya. Dapat diambil pelajaran pula bahwa orang tua sebaiknya jangan
memaksakan kehendak atau keinginan kepada sang anak yang memiliki minat atau impian
hidup yang berbeda dengan orang tua.
D. Kepala Sekolah
Menanggapi permintaan ayah Neil, Kepala Sekolah segera rapat dan memutuskan bahwa
sumber masalah yang akhirnya menewaskan Neil adalah Pak Keating. Oleh karena itu, Pak
Keating mendapat sangsi dikeluarkan dari sekolah. Para siswa satu per satu dimintai
keterangan tentang Dead Poets Society dan diminta untuk membubarkan diri atau kalau tidak
akan dikeluarkan dari sekolah. Masing-masing siswa diminta menanda-tangani surat
perjanjian bahwa ia tidak terlibat lagi dengan perkumpulan Dead Poets Society.
Guru pengajar puisi untuk sementara digantikan oleh Kepala Sekolah sampai mendapat guru
baru pengganti Pak Keating. Pada saat mengajar, Kepala Sekolah meminta salah seorang
siswa untuk membacakan artikel tentang pengantar puisi di buku.

Tetapi siswa itu

mengatakan bahwa ia tidak memiliki halaman-halaman itu di bukunya. Kepala Sekolah


meminta siswa itu untuk meminjam buku teman sebelahnya, yang ternyata juga tidak
memiliki halaman tersebut karena telah disobek dan dibuang ke tempat sampah ketika

mengikuti pelajaran Pak Keating. Akhirnya Kepala Sekolah memberikan bukunya sendiri
untuk dibacakan halaman-halaman pengantar puisi tersebut.
Saat pelajaran berlangsung, Pak Keating masuk ke ruang kelas itu untuk mengambil barangbarangnya. Salah seorang siswa mengatakan kepada Kepala Sekolah bahwa Pak Keating
tidak bersalah, yang salah adalah sistem pendidikan di sekolah ini yang telah lama
membelenggu kebebasan berpikir para siswa. Kepala Sekolah menyuruh siswa tersebut diam
dan tetap duduk di bangkunya. Namun siswa tersebut menolak bahkan berdiri di meja guru,
yang diikuti oleh siswa-siswa lainnya berdiri di atas meja masing-masing. Kepala Sekolah
kewalahan untuk menyuruh siswa duduk kembali ke bangku masing-masing dan ia
mengancam akan mengeluarkan dari sekolah bagi siswa yang tidak menurut. Perintah Kepala
Sekolah sama sekali tidak digubris oleh para siswa. Mereka secara serentak dan kompak
memberikan penghormatan terakhir kepada Pak Keating sambil mengucapkan: Oo.. Capten,
My Capten.
Dari cerita ini dapat disimpulkan bahwa Kepala Sekolah sangat keras menjaga tradisi, tidak
mengijinkan seorang pun mengubah tradisi itu. Bagi orang-orang yang potensial akan
mengganggu kelangsungan tradisi akan diusir atau dikeluarkan dari lingkungan sekolah itu.
Sebaliknya para siswa masih muda dan memiliki semangat baru serta menginginkan
kebebasan mereka tidak terbelenggu. Para siswa mendukung semangat pembaruan dari Pak
Keating.

III. ANALISIS PEBENTUKAN IDENTITAS MENURUT ERIKSON PADA TOKOH NEIL,


MEEKS, TODD, CHARLIE DAN KNOX
Masa remaja merupakan periode transisi antara masa anak anak dan masa dewasa dan batas
usianya kira kira berawal dari 12 sampai akhir usia belasan saat pertumbuhan fisik hampir
lengkap. Pada masa ini proses pembentukan identitas diri remaja sangat kental. Identitas
remaja berkembang secara perlahan-lahan dari berbagai identifikasi pada masa anak anak.
Saat remaja mulai masuk kedunia yang lebih luas, seperti sekolah, standar nilai teman sebaya
menjadi semakin penting, demikian pula penghargaan guru dan orang dewasa lain. Didalam
masyarakat yang kompleks proses identifikasi diri menjadi suatu tugas yang sulit bagi
remaja. Mereka menghadapi beberapa alternatif pilihan bagaimana harus bertindak dan apa

yang seharusnya dilakukan dalam lingkungan sosialnya. Dan efek dari hal tersebut adalah
adanya perbedaan besar antar remaja mengenai bagaimana perkembangan identitas mereka
berjalan.
Neil, Meeks, Todd, Charlie, dan Knox pada saat ini mereka masih dalam proses pencarian
identitas. Masa remaja merupakan waktu dimana perkembangan utamanya adalah
pembentukan suatu identitas diri. Menurut Erikson, masa remaja merupakan periode
eksperimentasi peran dimana remaja dapat melakukan eksplorasi perilaku, minat, dan
ideologi alternatif. Banyak keyakinan, peran, dan cara perilaku mungkin dicoba,
dimodifikasi, atau dibuang sebagai upaya pembentukan konsep diri yang terintegrasi. Dan
dalam kasus film DPS tersebut figur Pak Keating disini adalah sebagai salah satu stimulan
utama eksperimentasi peran bagi Neil dan teman-temannya.
Gagasan Erikson tersebut di atas digali oleh James Marcia, yang menyatakan bahwa terdapat
empat status identitas atau posisi pada rangkaian pembentukan identitas: Pencapaian Identity
Achievement, Foreclosure, Moratorium, dan Identity Difussion.
Pencapaian Identitas
Remaja pada status ini telah melalui krisis identitas, suatu periode pertanyaan dan penetapan
diri yang aktif. Mereka telah berkomitmen terhadap posisi ideologis yang mereka cari bagi
dirinya sendiri dan memutuskan suatu harapan tertentu (cita-cita). Mereka telah mempelajari
identitas keluarganya dan membuang yang tidak cocok dengan identitas mereka.
Kasus Neil merupakan contoh yang paling tepat untuk menggambarkan proses seseorang
dalam pembentukan identitas. Latar belakang kehidupan Neil yang merupakan anak tunggal
dan dari tingkat ekonomi yang biasa aja sehingga ayahnya dengan susah payah memasukkan
Neil ke Welton, Neil dalam tahap ini mempunyai beban yang berat antara ingin menentukan
hidupnya dan berada dalam posisi yang sulit untuk menentang ayahnya yang otoriter.
Namun ketika ia bertemu dengan Pak Keating, ia seperti telah menemukan model yang tepat
untuk mendeskripsikan seperti apa seharusnya ia. Dia lah yang pertama kali mencetuskan
kembali untuk membangkitkan kembali komunitas Dead Poets Society sebagai media untuk
melepaskan diri dari keterkukungan sistem sekolah dan tuntutan orang tua. Didalam
komunitas tersembunyi inilah lambat laun ia mengerti bahwa ia telah menemukan peran yang

tepat bagi dirinya yaitu sebagai aktor dan ia berhasil. Didalam tahapan ini Neil telah berada
dalam proses pencapaian posisi Identity Achievement.
Ketika ayah Neil mengetahui keterlibatannya kembali dalam kegiatan yang tidak bermanfaat,
dan mengultimatum untuk kembali konsentrasi pada sekolahnya sebenarnya Neil sudah
punya kekuatan untuk menolak dengan mempertahankan perannya yaitu melakukan secara
sembunyi-sembunyi. Hanya saja ketakutan pada ayahnya ketika ketahuan untuk kedua
kalinya dan medapatkan peringatan yang lebih keras untuk pindah sekolah, ia mengalami
kondisi Moratorium dimana komitmen Neil untuk bertahan pada keputusan menjadi aktor
menjadi lemah.
Akhirnya ia menyadari setelah ada tekanan bertubi-tubi dan ia sudah tidak mempunyai
kemampuan untuk menolak arahan ayahnya, ia terpengaruh akan puisi pembukaan dari
komunitas Dead Poets Society :
Aku masuk ke hutan untuk hidup dengan sengaja
Untuk menghisap semua sumsum kehidupan
Aku mendukung untuk mengusir yang tidak hidup
Dan jika tidak, jika mati aku tahu bahwa aku tak pernah hidup.
Sepenggal puisi tersebut secara tersirat mengandung arti bahwa ketika Neil tidak mampu
mengaktualisasikan dirinya untuk hidupnya dan selalu berada dalam bayang-bayang system
sekolah dan orang tua seperti layaknya mayat hidup, maka bila ia mati itu adalah pilihan
terbaik untuk merasa bebas. Sehingga tahap ini Neil berada dalam tahap Identity Difusion.
Keinginan ayah Neil ternyata ditentang oleh Neil sendiri dan akhirnya ia tetap memutuskan
untuk menjadi seorang aktor dan hal ini juga terjadi pada saat ia memutuskan untuk
membuka kembali Dead Poets Society dengan segala resiko yang mungkin akan mereka
terima nantinya.
Foreclosure
Remaja dalam status ini sudah memiliki komitmen dalam vokasional tetapi mereka tidak
melewati krisis identitas. Mereka telah menerima nilai keluarganya tanpa banyak bertanya.
Dalam proses ini ada ketakutan terhadap sesuatu hal yang baru dan asing bagi mereka. Dalam
kondisi inilah mulanya Neil, Meeks, Todd, Pitt, Cameron, Charlie, dan Knox. Tetapi karena

adanya figur Pak Keating yang mereka pikir bertanggung jawab akhirnya mereka menerima
metode pengajaran Pak Keating.
Penundaan
Remaja yang berada di pertengahan krisis identitas. Mereka secara aktif mencari jawaban
tetapi masih menemukan konflik diantara rencana orang tua bagi mereka dan keinginan
mereka sendiri. Kondisi inilah yang terjadi pada diri Neil sebelum akhirnya ia memutuskan
untuk jadi aktor.
Difusi Identitas
Sebagian dari para remaja dalam kategori ini sebelumnya telah mengalami krisis identitas,
dan sebagian lagi belum mengalami krisis identitas seperti yang dialami remaja lainnya.
Pengalaman mereka dalam krisis identitas dapat berbeda-beda.
IV. KESIMPULAN
Kesimpulan dari analisis ini adalah bahwa perkembangan identitas tidak berakhir dengan
adanya pencapaian kematangan secara fisik, tetapi perkembangan tersebut merupakan proses
yang terus menerus terjadi yang dimulai dari ia lahir sampai lanjut usia. Perubahan tubuh
yang akan mempengaruhi sikap individu, proses kognitif dan perilaku, akan terus terjadi
sepanjang hidup. Jenis masalah yang akan ditemuipun akan semakin kompleks. Dalam tahap
remaja pertengahan ini seharusnya Identity Achievement sudah terlihat, akan tetapi ternyata
tidak. Terlihat bahwa Todd, Meeks, Pitts, Knox, Cameron, Charlie masih dalam tahap
pencarian identitas, sedangkan Neil Perry sebaliknya memutuskan untuk mengakhiri
hidupnya dengan cara bunuh diri.

Sumber:
Makalah

Tugas

Kuliah,

Program

Pascasarjana

Fakultas

Psikologi

Universitas

Indonesia, Tahun 2004 (Adil Kurnia, Tulus Budi Radikun, dan Widjajanti Puspojudo)