Anda di halaman 1dari 6

ADAB GURU-MURID

Dalam Ihy Ulm-i l-Dn, juga kupasan mengenai sopan-santun orang yang
mengajar dan belajar (guru-murid). Di sini kita sering sekali mendengar tentang etika
hubungan antara guru dengan murid di pesantren, yang dalam beberapa hal membuat
mati ilmu pengetahuan. Ada sebuah buku yang sangat terkenal di pesantren, yaitu Talmu 'l-Mutaallim, yang mengajarkan bahwa murid pantang membantah guru. Kalau murid
membantah bisa dikutuk guru, dan ilmunya tidak akan bermanfaat. Talm-u 'lMutaallim, oleh Prof. Mukti Ali pernah diangkat sebagai persoalan pembahasan untuk
mengerti hubungan guru-murid, yang di pesantren menimbulkan ekses tidak produktif. Di
kalangan pesantren, perkataan yang paling mengerikan dari seorang guru adalah,
"ilmumu tidak bermanfaat!" Itu berarti "kutukan". Ini salah satu ekses dari al-Ghazali.
Ekses, sebab al-Ghazali sendiri tidak bermaksud demikian.
Bahkan al-Ghazali sendiri sangat kreatif sebagai murid, sehingga sering terkesan
seperti menentang gurunya. Sampai-sampai terjadi 6.000 perbedaan pendapat dengan
gurunya--seperti yang terjadi antara Imam Syafii dengan Imam Malik. Sementara itu
Abu Hanifah lebih mementingkan penalaran. Maka dengan mudah sekali dibayangkan
perbedaan antara mazhab Maliki dengan mazhab Hanafi. Menurut Kiai Hasyim Asyari,
perbedaan antara kedua mazhab itu menyangkut 14.000 bidang masalah. Kemudian
tentang Ibn Hanbal, ia adalah murid Imam Syafii, tetapi kemudian mendirikan mazhab
sendiri, yaitu mazhab Hanbali. Banyak sekali perbedaan mazhab Hanbali dengan mazhab
Syafii. Kendati begitu, menurut Kiai Hasyim, keduanya tidak pernah saling bermusuhan,
tidak pernah saling menyalahkan, dan tidak pernah saling mencerca, apalagi saling
mengutuk.
Ketika Abu Hanifah ditanya mengenai polemik dan serangan-serangan yang
ditujukan kepadanya, dia dengan tenang mengatakan, ternyata kita benar tetapi masih
ada kemungkinan salah, pendapat orang lain salah, tetapi ada kemungkinan benar".
Begitulah, dulu orang Islam menyikapi perbedaan pendapat. Karena itu sampai sekarang
warisannya masih ada di kalangan para ulama, yaitu bahwa di ujung setiap persoalan
selalu diucapkan wa l-Lh-u alam-u bi l-shawb (hanya Allah yang mengetahui yang
benar), dan kita tidak tahu apa-apa.

ADAB PERANG DALAM ISLAM


Suatu hal yang perlu direkonstruksi atau dibangun kembali ialah pengertian tentang bagaimana para
sahabat dulu berperang. Abu Bakar atau Umar ibn Khaththab, misalnya, setiap kali mengirimkan ekspedisi
selalu berpesan bahwa kalau nanti mereka bertemu dengan orang tua, perempuan, anak-anak, gerejagereja, sinagog-sinagog dengan orang-orang yang sedang beribadat di situ, hendaknya jangan sekali-kali
diganggu. Itulah sebabnya kenapa orang-orang Islam dulu tidak pernah menggunakan istilah-istilah
penaklukan (qahr) akan tetapi pembebasan (fath). Karena itu dalam sejarah Islam, tidak ada qahr-u Mishr,
akan tetapi fath-u Mishr.

ADAM: NASIB ANAK TURUNANNYA


Di dalam surat Yasin disebutkan, Bukankah sudah Aku pesankan kepada kamu,
wahai anak-anak Adam, janganlah menyembah setan, sebab bagimua dia musuh yang
nyata?, (Q. 36:60). Ini adalah semacam perjanjian primordial antara kita dengan Tuhan,

di samping perjanjian primordial tentang pengakuan Tuhan sebagai Rabb kita. Sebagai
akibat dari kedua perjanjian primordial tersebut, selain membawa fitrah kecenderungan
kepada kebaikan (hanf), sejak lahir manusia juga memiliki bakat alami untuk menolak
yang tidak baik.
Kejahatan disebut munkar, diingkari, yaitu diingkari oleh hati nurani. Sedang
kebaikan disebut marf, diakui, yaitu diakui oleh hati nurani. Oleh karena itu dalam
sebuah hadits disebutkan bahwa Yang dinamakan kebaikan itu adalah budi pekerti yang
luhur. Dan dosa ialah sesuatu yang terbetik di dalam hatimu dan kamu tidak suka orang
lain tahu.
Perjanjian primordial yang sudah mengendap di bawah sadar kita yang paling
mendalam melahirkan hati nurani. Perjanjian kita dengan Tuhan itu tidak hanya berada di
bawah permukaan kesadaran dalam dunia psikologis tetapi sudah dalam dunia spiritual,
dan banyak mempengaruhi hidup kita. Bahagia dan sengsara sangat terpengaruhi oleh ini.
Misalnya, adanya perjanjian dengan Tuhan untuk mengakui-Nya sebagai Rabb maka
wujudnya antara lain adalah dorongan untuk menyembah, bahwa manusia mempunyai
dorongan untuk menyembah. Sebaliknya, adanya perjanjian dengan Tuhan untuk kita
tidak menyembah setan maka manusia mempunyai naluri menolak hal yang tidak baik,
sehingga dosa dirumuskan sebagai segala sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani.
Karena itu kesengsaraan sebenarnya dimulai dengan perasaan tidak cocok dengan hati
nurani. Maka setelah Adam melanggar larangan Tuhan, Tuhan mengingatkan mereka,
Bukankah sudah Kularang kamu dari pohon itu, dan Kukatakan kepadamu bahwa setan
adalah musuhmu yang nyata, (Q. 7: 22). Ini referensinya kepada perjanjian itu, bahwa
Adam sudah menyadari setan sebagai musuh tetapi masih tergoda juga. Mendengar
peringatan Tuhan Adam kemudian berdoa, Mereka menjawab, Tuhan! Kami telah
menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami pastilah
kami termasuk orang yang merugi rugi, (Q. 7: 23). Doa ini merupakan doa yang
paling banyak dibaca orang naik haji, karena memang salah satu tujuan haji di Arafah
adalah seolah-olah napak tilas pengalaman spiritual Adam.
Kemudian, (Tuhan) berfirman, Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan.
Bumi itulah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu tertentu, (Q. 7:24), yaitu
hidup duniawi. Ia berfirman, Di situ kamu hidup, di situ kamu akan mati, dan dari situ
kamu akan dibangkitkan, (Q. 7:25).
Firman bahwa anak turun Adam akan bermusuhan sudah terbukti pada anaknya
sendiri, yaitu antara Qabil dan Habil yang berakhir dengan terbunuhnya Habil. Itulah
pembunuhan pertama yang terdapat dalam kitab suci dan kasusnya iri hati. Maka
sebenarnya iri hati merupakan dosa makhluk yang ketiga setelah yang pertama adalah
sombongnya iblis yang rasialis, merasa unggul tanpa alasan, dan yang kedua adalah
serakah, khirs, nafsu memiliki sesuatu yang tidak menjadi haknya, yang dalam bahasa alQuran disebut hal yang terlarang.

AGAMA ADALAH JALAN


Shirth, sabl, syarah, tharqah, minhj, mansak atau mansik (jamak), dan maslak atau sulk,
semuanya berarti jalan, cara, metode dan semacamnya. Karena agama itu berarti jalan, maka kita harus
dinamis. Kalau ada sesuatu yang berhenti di jalan, itu menyalahi sifat jalan itu sendiri. Karena itu, agama
kita tidak mengajari bagaimana cara sampai kepada Tuhan atau mengetahui Tuhan. Sebab itu sangat
mustahil. Sebenarnya gnostisisme tidak diakui dalam Islam, meski konon perkataan makrifat itu digunakan

dalam pengaruh konsep gnostisisme Yunani. Tetapi itu berbeda. Makrifat dalam tasawuf paling jauh bisa
ditafsirkan sebagai suatu teori tentang pengalaman teofanik, pengalaman penyingkapan kebenaran pada
seseorang yang sangat pribadi.
Pengalaman kita dalam beragama ialah pengalaman mendekati Tuhan yang tidak pernah hadir.
Karena itu, dalam menempuh perjalanan keagamaan, kita mempunyai pengalaman yang bermacam-macam,
yang berbeda-beda. Ada cerita menarik begini. Ada seorang wanita tua datang kepada Nabi. Wanita itu
ditanya Nabi, Kalau kamu beriman kepada Allah, di mana adanya Tuhan itu? Wanita tua itu menunjuk
ke langit. Kemudian Nabi berkata dengan rileks, Wanita ini benar. Para sahabat lalu memprotes Nabi,
Al-Qur'an menyebut bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Mengapa Nabi membenarkan wanita yang
berpendapat bahwa Tuhan hanya berada di langit? Nabi menjawab, Itulah yang dipahami wanita tua itu.
Kamu tidak usah mengganggu."
Itulah yang namanya idiom, yang banyak sekali macamnya dalam masyarakat kita. Oleh karena itu,
para ulama dulu kemudian membagi manusia itu bermacam-macam tingkatannya (maqm). Ada sebuah
hadis yang sering juga kita dengar, Bicaralah pada manusia sesuai dengan tingkat kecerdasan akalnya.
Kalau kita bicara kepada orang yang buta huruf dengan bahasa-bahasa akademis, pasti tidak mengena.
Sebaliknya, kalau kita menggunakan idiom-idiom orang buta huruf untuk kalangan akademis, pasti ditolak.
Jadi, implikasi kebenaran itu banyak sekali. Seolah-olah ada garis besar kebenaran berupa lingkaran, yang
di dalamnya orang bisa berkiprah apa saja, bisa ke mana-mana, asal tidak keluar dari lingkaran itu.
AGAMA BEBAS MITOS

Di balik hijrah, terdapat nilai-nilai yang luar biasa luhurnya yang menjadi bekal
bagi kebangkitan Islam. Memang pada abad sekarang ini, yaitu pada abad ke-15 Hijriah
atau menjelang abad ke-21 Masehi, seluruh dunia ditandai oleh kebangkitan Islam. Tidak
hanya di negeri-negeri Muslim, akan tetapi di negeri-negeri non-Muslim. Di Prancis,
misalnya, agama Islam sudah menjadi agama nomor dua dan mengalahkan agama
Protestan, nomor satu adalah agama Katholik. Dan gejala itu ada di mana-mana termasuk
di Amerika.
Kenapa itu bisa terjadi? Karena dalam agama Islam, secara negatifnya, tidak ada mitologi atau bebas
dari misteri-misteri atau mitologi misteri. Dalam Islam jelas bahwa, Dan janganlah kauikut apa yang
tidak kauketahui, (Q. 17: 36). Artinya, tidak ada mitologi dalam Islam, semuanya harus dipikir.
Ini yang menyebabkan mengapa agama Islam diramalkan akan menjadi agama masa depan. Ada
sebuah buku karya Emile Dermenghem, Muhammad and the Religious Tradition in Islam, yang
menguraikan bahwa kalau umat manusia ingin tetap modern, namun tetap beragama, maka agama yang
harus dipilih ialah Islam, karena di dalam Islam tidak ada mitologi, tidak ada mitos. Dan salah satu yang
akan sangat besar pengaruhnya kepada kebangkitan Islam ialah ilmu pengetahuan. Ini sesuai dengan
pernyataan Nabi dalam sebuah hadis, Barang siapa menginginkan keunggulan di dunia, dia harus
mempunyai ilmu, barang siapa menginginkan keunggulan di akhirat dia harus mempunyai ilmu, dan
barang siapa menginginkan keunggulan di dunia dan akhirat dia harus berilmu.
Dan permulaan dari ilmu pengetahuan itu, sesuai dengan etos al-Quran, ialah membaca. Sebelum
Allah swt memerintahkan manusia untuk salat, puasa, zakat, dan haji, yang diperintahkan pertama kali
ialah iqra (bacalah!). Atas dasar ini, lahir salah satu nama baik Islam di mata para ahli ialah agama melek
huruf atau The Religion of Literacy. Artinya, ke mana-mana Islam itu mengajarkan orang untuk bisa
membaca, sehingga di Jawa orang Islam disebut santri yang menurut para ahli sebetulnya itu berasal dari
perkataan Sanskerta sastri, yang berarti orang yang tahu baca-tulis.

AGAMA KONTINUITAS
Surat Nabi kepada Muqaqis, pemimpin Mesir, berisi ajakan untuk masuk Islam
dengan janji ia akan selamat. Isi surat itu adalah kutipan dari firman Allah, Katakanlah,
Wahai Ahli Kitab! Marilah menggunakan istilah yang sama (kalimat persamaanNM)
antara kami dan kamu; bahwa kita tak kan menyembah siapa pun selain Allah; bahwa
kita tak kan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Dia; bahwa kita tak kan saling

mempertuhankan (arbb) selain Allah. Jika mereka berpaling katakanlah, Saksikan


bahkan kami orang-orang muslim (tunduk sujud pada kehendak Allah), (Q. 3: 64).
Yang dimaksud arbb pada ayat di atas adalah orang yang mempunyai otoritas
mutlak. Referensi ungkapan ini sebenarnya adalah sistem kependetaan, sistem kerahiban,
yang menempatkan manusia (pendeta, rahib) mempunyai wewenang suci, misalnya untuk
menyatakan seseorang telah diampuni dosanya.
Adanya ayat di atas adalah karena orang telah bertengkar berkaitan dengan umat
Nabi Musa dan Nabi Isa apakah mereka muslim atau tidak. Menurut Ibn Taimiyah, itu
semata pertengkaran dari segi bahasa yang mestinya tidak perlu terjadi kalau kita
membedakan antara Islam khusus dan Islam umum. Yang dimaksud dengan Islam khusus
adalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad yang ajarannya meliputi syariat al-Quran.
Perkataan Islam di sini hanya berlaku untuk umat Nabi Muhammad. Relevansinya Nabi
mengajak Muqaqis untuk masuk Islam adalah Islam dalam arti khusus. Sedangkan Islam
umum mencakup semua syariat yang dibawa seorang Nabi, karena itu ia mencakup
Islamnya setiap umat yang mengikuti seorang Nabi dari kalangan para nabi. Maka
kemudian, pernyataan bahwa pengikut Nabi Isa dan Nabi Musa adalah muslim adalah
dalam pengertian Islam Umum.
Pangkal dari semua Islam adalah syahadat l ilh-a ill- l-Lh, karena ini
merupakan kalmah saw, seperti yang dimaksud ayat di atas. Dan untuk masuk kepada
Islam khusus, harus ditambah dengan wa anna Muhammad-an Raslullh. Inilah yang
membedakan Islam khusus dari Islam umum. Dengan begitu, Nabi Muhammad dan
umatnya telah dilebihkan oleh Allah atas Nabi dan umat yang lain tanpa boleh menghina
satu sama lain. Jadi sebenarnya kita dilarang menghina agama lain dan dilarang
berpolemik dengan Ahli Kitab kecuali kalau mereka agresif. Janganlah kamu berbanth
dengan Ahli Kitab, kecuali dengan cara yang lebih baik (dari sekadar bertengkar),
kecuali dengan mereka yang zalim, (Q. 29: 46). Kalau mereka yang memulai, kita harus
menjawab. Makanya ketika dulu ada sebuah tabloid di Jakarta menghina Nabi
Muhammad, kita bertindak; kita tidak bisa memaafkan itu.
Menyembah berhala, atau menyembah selain Allah yang tidak masuk akal, bagi
penyembahnya adalah baik. Karena itu, meluruskan mereka harus melalui dakwah
persuasif atau bi al-hikmah. Dinyatakan dalam al-Quran, Janganlah kaunista mereka
yang berdoa kepada yang salian Allah lalu mereka akan menista Allah melebihi batas
tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah bagi setiap golongan Kami buat menarik
perbuatannya, kemudian kepada Tuhan juga meeka kembali. Ketika itu diberitahukan
kepada mereka apa yang mereka kerjakan, (Q. 6: 108).
Jadi nanti Allah yang akan menerangkan bahwa perlakuan mereka itu palsu. Karena
sudah tahu bahwa menyembah berhala itu palsu, kita wajib mendakwahi mereka. Hal ini
seperti yang dilakukan Nabi ketika berkirim surat ke mana-mana mendakwahi mereka
dengan tanpa menghina.
Dalam al-Quran banyak ayat yang mengatakan bahwa seluruh pengikut Nabi adalah
Muslim, yang berarti bahwa agama berkesinambungan (kontinuitas). Tetapi selain
kontinuitas, ada perkembangan yang membuat agama semakin baik dan akhirnya menjadi
sempurna. Sampai akhirnya Islam yang kita peluk itulah yang merupakan akhir dari
perkembangan agama Allah.
Menurut Ibn Rusyd, kewajiban manusia adalah memilih agama dalam bentuk
perkembangan terakhirnya yang sempurna, yaitu Islam khusus. Tetapi karena Ahli Kitab

memiliki unsur-unsur semula yang berasal dari Allah maka mereka tidak boleh dipaksa
masuk Islam. Yang harus dipaksa adalah kaum Pagan atau kaum Animis.
AGAMA PERJANJIAN
Penyebutan kitab Yahudi dengan Perjanjian Lama sebenarnya problematis, karena
hal itu mengisyaratkan sudah tidak berlaku lagi, sudah dihapus oleh Perjanjian Baru,
yaitu Injil. Orang-orang Yahudi sendiri menyebutnya dengan Taurat yang terdiri dari
Nebazim (cerita tentang nabi-nabi) dan Khetubim (cerita tentang kitab-kitab suci). Orang
Islam tidak dibenarkan menyebutnya Perjanjian Lama; tidak ada Perjanjian Lama
ataupun Perjanjian Baru. Karena perjanjian antara Tuhan dengan manusia bersifat
perennial, abadi. Memang ada perjanjian primordial antara manusia dengan Tuhan yang
merupakan pangkal tolak konsep mengenai manusia. Dalam al-Quran ada gambaran
bahwa sebelum lahir, di alam ruhani, kita dipanggil oleh Tuhan untuk dimintai persaksian
mengenai Allah sebagai Tuhan kita, dan waktu itu kita menjawab, Ya, kami bersaksi
(Engkau adalah Tuhan kamiNM), (Q. 7: 172). Karena itu, tidak ada bakat yang lebih
mendasar pada manusia selain bakat menyembah. Begitu lahir kita mempunyai naluri
untuk menyembah, sebagai suatu bentuk dorongan gerak kembali kepada Tuhan.
Perjanjian primordial antara manusia dengan Tuhan terjadi pada level spiritual,
karenanya tidak disadari. Ini analog dengan psikologi yang sebagian besar konstruksinya
adalah bawah sadar, tetapi banyak mempengaruhi hidup kita. Apalagi yang spiritual,
sangat banyak mempengaruhi hidup kita, terutama yang menyangkut masalah
pengalaman-penagalaman sejati tentang kebagahagiaan dan kesengsaraan. Ini kemudian
dikaitkan dengan perjanjian dengan Tuhan, yang karena perjanjian itu, maka manusia
selalu mempunyai dorongan batin untuk kembali, ada dorongan gerak untuk kembali.
Dan setiap keberhasilan kembali akan menimbulkan kebahagiaan.
Kemudian semua orang ingin kembali ke rumah, maka ada ungkapan Rumahku
adalah surgaku. Karena itu, kalau tidak berhasil kembali ke rumah berarti sesat, yang
identik dengan kesengsaraan. Dorongan kembali kepada Tuhan yang mewarnai hidup
kita, yang karena menyangkut kesucian, maka bakat manusia itu disebut hanf. Maka
agama sebenarnya merupakan wujud dari perjanjian dengan Tuhan yang dalam bahasa
Arab disebut mtsq. Karena itu perjanjian seperti The Ten Commandements dan
sebagainya, sebenarnya merupakan pewujudan kembali dari sesuatu yang secara
potensial ada dalam diri manusia. Kalau perjanjian dengan Tuhan diejawantahkan dalam
kehidupan sehari-hari, ia menjadi etika dan moral. Tema inilah yang terdapat dalam
keseluruhan isi The Ten Commendements, yang dimulai dengan imperatif, kemudian
negatif, dan sedikit yang positif.
AGAMA SEBAGAI SUMBER IDEOLOGI
Tanpa mengabaikan segala kebaikan pemerintah sekarang, kita harus mengakui bahwa kita
menemukan kesulitan, yakni kita kehilangan orientasi pada nilai-nilai universalitas. Misalnya kebebasan
hak asasi, dan nilai-nilai yang mestinya sudah kita serap dengan baik setelah sekian lama merdeka, namun
tercecer. Demikian juga conflict of interest yang tak ada di dalam nativisme. Di samping kurangnya
kesadaran bahwa mengorbankan untuk kepentingan keluarga di atas kepentingan nasional adalah tindakan
yang tak sesuai dengan etika demokrasi modern.

Natsir melihat agama dengan total yang menunjukkan ketulusannya. Tetapi


ada sedikit perbedaan dengan saya ketika Natsir mengatakan bahwa agama
adalah ideologi. Menurut saya, agama adalah sesuatu yang lebih tinggi dari
ideologi, tetapi bisa menjadi sumber ideologi. Bahkan harus menjadi sumber
ideologi bagi pemeluk agama. Tetapi agama sendiri tidak boleh didegradasi
sebagai ideologi. Memang ini masalah rumusan apa yang dimaksud ideologi.
Karena itu, seorang Muslim harus berideologi berdasarkan Islam. Tetapi bukan
Islam itu yang ideologi. Karena di sini ada masalah interpretasi, maka dalam
ruang lingkup Islam yang besar, masih ada kemungkinan timbulnya berbagai
ideologi. Bahkan, kadangkala bertentangan.
Pemahaman Islam seseorang, diwarnai situasi konkret pengalamannya
dalam konteks sosial dan ekonomi. Meskipun secara sosial mungkin dibenarkan
menurut kenyataannya. Sebab sebetulnya pemahaman kita tentang agama
didikte oleh masyarakat. Justru karena itu kita harus mampu mengangkat diri kita
di atas situasi. Oleh sebab itu, jangan sampai karena kita merasa beruntung,
maka agama kita adalah jenis agama yang mendukung keberuntungan kita.
Sebab kenyataannya, sepanjang sejarah memang begitu. Lihat saja paham
Jabariah yang didukung habis-habisan oleh rezim Bani Umayah, karena
Jabariah menolelir kekuasaan rezim Umayah. Menjawab oposisi Hasan al-Bisri,
Umayyah mengatakan, Apa pun yang kami lakukan adalah atas kehendak
Tuhan.
AGAMA UNIVERSAL
Tesis yang sangat umum adalah bahwa Tuhan mengutus utusan kepada setiap
umat, Pada setiap umat ada seorang rasul, (Q. 10:47). Artinya, bahwa setiap ada
sekumpulan manusia di mana pun pasti pernah ada muncul seorang guru besar. Karena
itu, kalau melihat adanya hikmah dalam suatu ungkapan bahasa mana pun ada potensi
untuk benar, karena Nabi sendiri pernah berkumpul dengan siapa saja. Bahkan al-Quran
mengajarkan kepada kita agar percaya kepada semua nabi. Menurut sebagian ulama, nabi
yang wajib untuk dipercayai berjumlah 25. Tetapi di dalam al-Quran sendiri tidak
dikatakan bahwa nabi berjumlah 25, sehingga di kalangan ulama masih ada perselisihan
pendapat apakah Zulkarnain yang disebut dalam surat al-Kahfi dan Lukman dalam surat
Luqmn kedudukannya sebagai nabi atau bukan. Perselisihan demikian dikarenakan
adanya pernyataan dalam al-Quran bahwa, Ada beberapa rasul yang Kami kisahkan
kepadamu sebelumnya dan beberap rasul yang tidak Kami kisahkan kepadamu, (Q.
4:164). Menurut para ulama, nabi yang tidak disebutkan justru jumlahnya lebih banyak
jumlahnya, yang diduga al-Ghazali kira-kira berjumlah 113. Sebagian diceritakan dalam
al-Quran dan sebagian lagi diceritakan dalam Bibel, tetapi banyak sekali yang tidak
diceritakan dalam keduanya. Maka tidak mengherankan kalau Kong Hu Cu dipandang
sebagai nabi oleh Hamka, atau Budha Gautama mungkin juga nabi. Malah sementara
pendapat mengatakan bahwa Budha Gautama adalah Zulkifli, karena Budha dari
Kapilawastu dan Zalkifli berarti orang dari Kapilawastu. Selalu terbuka kemungkinan.
Dan penyebutan Islam sebagai agama universal bisa dalam pengetian ini, bahwa dari
Islam bisa dibawa ke mana-mana dan yang dari mana-mana bisa dibawa ke Islam.