Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Demam Berdarah adalah adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
infeksi virus Dengue tipe 1-4, & ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
Aegypti betina (dominan) & beberapa spesies Aedes lainnya. Aedes aegypti
merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit
demam berdarah. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, lebih
dari 80% dari mereka yang terinfeksi virus dengue diam-diam akan menularkan
penyakit tanpa gejala atau hanya sakit ringan. Namun, ada risiko 5% dari
kematian untuk pasien-pasien yang penyakitnya semakin berkembang dalam
tubuh (mungkin karena tidak dirawat intensif) atau dikenal sebagai dengue shock
syndrome (DSS).
Hampir setiap tahunnya di Indonesia ada saja orang yang terjangkit
penyakit DBD . Hal ini membuktikan bahwa sebagian masyarakat masih kurang
sadar terhadap kebersihan lingkungan serta lambatnya pemerintah dalam
mengantisipasi dan merespon terhadap merebaknya kasus DBD ini.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah
umum kesehatan masarakat di Indonesia, dari tahun ke tahun jumlah kasusnya
cenderung meningkat dan menyebarannya bertambah luas. Keadaan ini erat
kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin
lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus Dengue dan nyamuk
penularnya di berbagai wilayah di Indonesia (Depkes RI, 2005: 1). Penyakit ini
termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah, maka
sesuai dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit
menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 1989, setiap penderita
termasuk tersangka DBD harus segera dilaporkan selambat-lambatnya dalam
jangka waktu 24 jam oleh unit pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas,
poliklinik, balai pengobatan, dokter praktik swasta, dan lain-lain) (Depkes
RI,2005).

Indonesia mempunyai resiko besar untuk terjangkit penyakit demam berdarah


dengue karena virus Dengue dan nyamuk penularnya yaitu Aedes aegypti tersebar
luas di seluruh daerah-daerah pedesaan maupun perkotaan, baik di rumah-rumah
maupun di tempat-tempat umum, kecuali daerah yang ketinggiannya lebih dari
1.000 meter dari permukaan air laut. Iklim tropis juga mendukung
berkembangnya penyakit ini, lingkungan fisik (curah hujan) yang menyebabkan
tingkat kelembaban tinggi, merupakan tepat potensial berkembangnya penyakit ini
Nyamuk ini berkembangbiak di tempat-tempat penampungan air atau tandon,
seperti bak kamar mandi, drum, tempayan dan barang bekas yang dapat
menampung air hujan baik di rumah, sekolah, dan tempat umum lainnya (Depkes
RI, 1999).
Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang
mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat (Soekidjo
Notoatmodjo, 2003). Dari pengalaman bertahun-tahun pelaksanaan pendidikan
ini, baik di negara maju maupun negara berkembang mengalami berbagai
hambatan dalam rangka pencapaian tujuannya, yakni mewujudkan perilaku hidup
sehat bagi masyarakatnya. hambatan yang paling besar dirasakan adalah faktor
pendukungnya (enabling factor). Dari penelitian-penelitian yang ada terungkap,
meskipun kesadaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang kesehatan,
namun praktek (practice) tentang kesehatan atau perilaku hidup sehat masyarakat
masih rendah (Soekidjo Notoatmodjo, 200).
1.2 TUJUAN :
1.2.1 Tujuan Umum
Dilakukannya penyuluhan tentang Demam berdarah ini diharapkan dapat
memberikan informasi dan meningkatkan pengetahuan tentang penyakit Demam
Berdarah kepada anggota PKK di jalan Bylira Road RT 03 Saxophone Malang .

1.2.2 Tujuan Khusus


Tujuan dilakukan penyuluhan ini adalah :
- Meningkatkan pengetahuan bagi anggota PKK tentang pengertian Demam
Berdarah
2

- Meningkatkan pengetahuan anggota PKK tentang gejala-gejala Demam


Berdarah
- Meningkatkan pengetahuan anggota PKK tentang prinsip penatalaksanaan
Demam Berdarah
- Meningkatkan pengetahuan anggota PKK tentang pencegahan Demam
Berdarah

BAB II
PERSIAPAN PENYULUHAN

2.1. Panitia Kegiatan


Susunan Kepanitiaan:
Pembimbing
Ketua
Sekretaris
Moderator
Penyaji
Perlengkapan
Dokumentasi

: dr. Gita Prihanti, MPKed


: Farizky jati A
: Alfien Rusdiana
: Fajar Yanuar F
: Fifa Yuniarmi
: Ridya Damayanti
: Krida Asta Yulia

2.2. Koordinasi dengan Petugas Setempat


Koordinasi dilaksankan pada :
Hari, Tanggal : Minggu, 26 April 2015
Tempat
: Rumah warga RT 03 Bylira Road Saxophone
Jam
: 16.30 WIB
Telah dilakukan koordinasi mengenai penyuluhan tentang pentingnya
pengetahuan Penyakit Demam Berdarah. Hal-hal yang dibahas antara lain :
a. Menjelaskan singkat mengenai latar belakang dan tujuan dari
penyuluhan yang akan dilaksanakan
b. Menentukan tempat dan waktu penyuluhan
c. Menyiapkan sarana dan prasarana yang akan digunakan untuk
mendukung kelancaran proses penyuluhan.
2.3. Persiapan Tempat Penyuluhan
Atas persetujuan Ketua RT 03 Bylira Road Saxophone, maka
penyuluhan akan diselenggarakan di Rumah warga RT 03 Bylira Road
Saxophone.
2.4. Persiapan Materi penyuluhan
a.
Mencari materi di buku dan internet tentang penyakit Demam
b.

Berdarah
Membuat materi penyuluhan dalam bentuk leaflet dan poster

c.

dikerjakan langsung oleh penyaji.


Menyiapkan doorprize oleh tim perlengkapan.

BAB III
SASARAN, METODE, DAN MATERI PENYULUHAN

3.1. Sasaran
Sasaran penyuluhan kesehatan ini adalah Seluruh anggota PKK RT 03
Bylira Road Saxophone Malang.
3.2. Metode
a.
Ceramah
Ceramah dilakukan dalam waktu
b.

15 menit, untuk menjelaskan topik

penyuluhan
Tanya Jawab dan Pembagian Doorprize
Tanya jawab dilakukan dalam waktu kurang lebih 5 menit tentang materi
tersebut. Pembagian doorprize diberikan kepada 3 peserta penyuluhan yang
bertanya.

3.3. Materi Penyuluhan


3.3.1 Definisi Demam Berdarah
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang
disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypty dan Aedes albopictus serta memenuhi kriteria WHO untuk DBD.
Merupakan penyakit yang ditandai oleh empat manifestasi klinis
utama berupa demam tinggi, fenomena hemoragik, sering dengan hepatomegali,
dan pada kasus berat terdapat tanda-tanda kegagalan sirkulasi.

3.3.2 Etiologi
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus dengue yang
termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang
dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis
serotipe, yaitu ; DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Keempat serotipe ditemukan
di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak.

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi


virus dengue, yaitu manusia, virus, dan vektor perantara. Virus dengue
ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk
Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies yang lain dapat
juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor yang kurang berperan.
Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit
manusia yang sedang mengalami viremia. Virus kemudian berkembangbiak
dalam tubuh nyamuk yang terutama ditemukan pada kelenjar liurnya dalam
waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan
kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Sekali virus dapat
masuk dan berkembang biak dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan
dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif) pada manusia. Virus
memerlukan

waktu

4-6

hari

(intrinsic

incubation

period)

sebelum

menimbulkan sakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat


terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu
2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.

3.3.3 Klasifikasi
Menurut WHO (1997) Demam berdarah dengue dapat dibagi menjadi
4, yaitu:
1. Derajat I

: Demam disertai gejala konstitusional yang tidak khas

dan uji torniquet (+)


2. Derajat II

: Demam dengan perdarahan spontan, pada umumnya

di kulit dan atau perdarahan di tempat lain.


3. Derajat III

: Ditemukan

kegagalan

sirkulasi

yang

ditandai

dengan nadi cepat dan lembut, tekanan nadi (beda antara tekanan
sistolik dan diastolik) menurun

menjadi 20 mmHg

atau kurang,

atau hipotensi dengan kulit dingin, lembab dan gelisah.


4. Derajat IV

: Renjatan berat dengan nadi tidak teraba dan

tensi

yang tidak dapat diukur.

3.3.4 Patogenesis
Virus merupakan mikroorganisme yang hanya dapat hidup di dalam sel
hidup. Maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel
manusia sebagai pejamu (host) terutama dalam mencukupi kebutuhan akan
protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan pejamu, bila
daya tahan baik maka akan terjadi penyembuhan dan timbul antibodi, namun
bila daya tahan rendah maka perjalanan penyakit menjadi makin berat dan
bahkan dapat menimbulkan kematian. Patogenesis DBD dan SSD (Sindrom
syok dengue) masih merupakan masalah yang kontroversial.
Dua teori yang banyak dianut pada DBD dan SSD adalah hipotesis
infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection) atau hipotesis immune
enhancement. Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien
yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang
heterolog mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD/Berat.
7

Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang
akan menginfeksi dan kemudian membentuk kompleks antigen antibodi yang
kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leokosit terutama
makrofag. Oleh karena antibodi heterolog maka virus tidak dinetralisasikan
oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan replikasi dalam sel makrofag.
Antibodi dependent enhancement (ADE) merupakan suatu proses yang
akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue di dalam sel mononuklear.
Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif
yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah,
sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok.

Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan
pada seorang pasien, respons antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam
waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan
menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti dengue. Disamping itu, replikasi
virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat
terdapatnya virus dalam jumlah banyak Hal ini akan mengakibatkan
terbentuknya virus kompleks antigen-antibodi (virus antibody complex) yang
selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a
dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas

dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke


ruang ekstravaskular. Pada pasien dengan syok berat, volume plasma dapat
berkurang sampai lebih dari 30 % dan berlangsung selarna 24-48 jam.
Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya peningkatan kadar hematokrit,
penurunan kadar natrium. dan terdapatnya cairan di dalam rongga serosa (efusi
pleura, asites). Syok yang tidak ditanggulangi secara adekuat, akan menyebabkan
asidosis dan anoksia, yang dapat berakhir fatal, oleh karena itu, pengobatan syok
sangat penting guna mencegah kematian.

Hipotesis kedua, menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus


binatang lain dapat mengalami perubahan genetik akibat tekanan sewaktu virus
mengadakan replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk.
Ekspresi fenotipik dari perubahan genetik dalam genom virus dapat
menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia, peningkatan virulensi
dan mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah. Selain itu beberapa strain
virus mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah yang besar. Kedua
hipotesis tersebut didukung oleh data epidemiologis dan laboratoris.
Trombositopeni pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme :

Supresi sumsum tulang

Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit

Gambaran sumsum tulang pada fase awal infeksi (<5 hari) menunjukkan
keadaan hiposeluler dan supresi megakariosit. Setelah keadaan nadir tecapai akan
terjadi peningkatan proses hematopoisis

termasuk megakariopoisis. Kadar

trombopoitin dalam darah saat terjadi trombositopeni justru meningkat, hal ini
menunjukkan stimilasi trombopoisis sebagai mekanisme kompensasi terhadap
keadaan trombositopeni. Destruksi trombosit terjadi melalui pengikatan fragmen
C3g, terdapatnya antibodi VD, konsumsi trombosit selama proses koagulopati dan
sekuesttasi di perifer. Ganggu an fungsi trombosit terjadi melalui mekanisme
gangguan pelepasan ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin dan PF4 yang
merupakan petanda degranulasi trombosit.

Koagulopati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan endotel yang


menyebabkan disfungsi endotel. Aktivasi koagulasi pada DBD terjadi melalui
aktivasi jalur ekstrinsik (tissue factor pathway). Jalur intrinsik juga berperan
melalui aktivator faktor Xia namun tidak melalui aktivasi kontak (kalikrein C1inhibitor complex).

3.3.5 Kriteria diagnosis


Kasus khas Demam berdarah dengue ditandai oleh empat manifestasi
klinis mayor, yaitu demam tinggi, fenomena hemoragis, dan sering hepatomegali
dan kegagalan sirkulasi. Trombositopenia sedang sampai nyata dengan
hemokonsentrasi secara bersaman adalah temuan laboratorium klinis khusus dari
demam berdarah dengue.perubahan patofisiologis utama yang menentukan
keparahan penyakit pada DBD-dan membedakannya dari dengue fever adalah
rembesan plasma, seperti dimanifestasikan oleh peningkatan hematokrit (misalnya
hemokonsentrasi), efusi serosa atau hipoproteinemia. Kriteria diagnosis WHO
1997 untuk DBD harus memenuhi :
1. Demam akut 2-7 hari, biasanya bersifat bifasik.
2. terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berupa :
uji tourniquet positif ( > 20 ptekie dalam 2,54 cm2)
petekia, ekimosis, atau purpura
Perdarahan mukosa, saluran cerna, dan tempat bekas suntikan
Hematemesis atau melena
3. Trombositopenia 100.000/mm3
4. terdapat minimal satu tanda kebocoran plasma :
Peningkatan nilai hematrokrit 20 % dari nilai baku sesuai umur
dan jenis kelamin.
Penurunan nilai hematokrit 20 % setelah pemberian cairan
yang adekuat Nilai Ht normal diasumsikan sesuai nilai setelah
pemberian cairan
Efusi pleura, asites, efusi pericard, hipoproteinemi
10

3.3.6 Penatalaksanaan
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi
kehilangan cairan sebagai akibat dari kebocoran plasma dan perdarahan. Obatobatan yang diberikan bersifat simtomatik (mengobati gejala) bila demam
diberikan antipiretik (penurun demam), mual diberikan antiemetik dst. Rasa haus
dan keadaan kekurangan cairan dapat timbul sebagai akibat demam tinggi,
anoreksia dan muntah. Jenis minuman yang dianjurkan adalah jus buah, teh
manis, sirup, susu, serta larutan oralit. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan
maka sebaiknya pasien dirawat untuk diberikan cairan infus. Pasien diharapkan
tirah baring selama masih demam maupun fase syok dan selalu di monitor kadar
trombosit serta kadar hematokrit sampai normal kembali.
3.3.7 Pencegahan
Pemberantasan DBD seperti juga penyakit menular lain, didasarkan atas
pemutusan rantai penularan. Dalam hal DBD, komponen penularan terdiri dari
virus, aedes aegypti dan manusia. Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin
yang efektif terhadap virus itu, maka pemberantasan ditujukan pada menusia dan
terutama pada vektornya dengan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk
DBD (PSN-DBD). Tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti adalah
penampungan air bersih yang tidak langsung berhubungan dengan tanah seperti :
bak mandi/wc, minuman burung, air tandon, air tempayan/gentong, kaleng, ban
bekas, talang air, dll.

3.3.8 Indikasi pemulangan pasien rawat inap


Kriteria berikut harus dipenuhi sebelum pasien yang pulih dari DBD/DSS
dipulangkan :

Tidak ada demam sedikitnya selama 24 jam tanpa penggunaan terapi anti
demam (krioterapi atau antipiretik)

11

Kembalinya nafsu makan

Perbaikan klinis yang dapat terlihat

Keluaran urin baik

Hematokrit stabil

Melewati setidaknya 2 hari setelah pemulihan syok

Tidak ada distres nafas dari efusi pleura atau asites

Jumlah trombosit > 50.000 mm3

3.3 Alat Bantu Penyuluhan


Alat / media peraga yang digunakan adalah presentasi dengan layar LCD,
serta pembagian leaflet kepada para peserta penyuluhan dan pembarian poster
kepada ketua RT 03.

12

BAB IV
PELAKSANAAN PENYULUHAN

4.1. Waktu Pelaksaan Penyuluhan


Hari, Tanggal : Minggu, 26 April 2015
Waktu
: Pukul 16.30-17.00 WIB
4.2. Tempat Penyuluhan
Rumah warga RT 03 jalan Bylira Saxophone Malang.
4.3. Sasaran dan Jumlah Peserta
Seluruh Anggota PKK yang hadir sejumlah 15 orang
4.4. Susunan Acara
Jam
16.30
16.35
16.40
16.55
17.00

Acara
Pembukaan
Perkenalan
Penyuluhan
Tanya Jawab dan Doorprize
Penutupan

13

BAB V
HASIL KEGIATAN

Kegiatan penyuluhan ini diikuti oleh anggota PKK RT03 jalan Bylira
Saxophone Malang. Acara dibuka dengan perkenalan anggota penyuluhan.
Penyuluhan dibagi dalam 2 sesi, dimulai dengan pelaksanaan penyuluhan
menggunakan bantuan leaflet berisi materi penyuluhan dan presentasi serta
gambar-gambar sehingga dapat menarik perhatian peserta dan peserta tanpak
cukup antusias merespon materi yang diberikan. Setelah pemberian materi,
dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam sesi ini, dibatasi hanya 3 orang yang
boleh bertanya sekaligus pemberian door prize.
Setelah itu acara diakhiri dengan penutupan dari pihak panitia.

14

BAB VI
PENUTUP

Kami berharap kegiatan ini dapat memberi manfaat dan menambah


pengetahuan kepada seluruh Anggota PKK jalan Bylira RT 03 Saxophone Malang
sehingga lebih memahami dan mengerti mengenai penyakit Demam Berdarah.
Tidak lupa kami sampaikan ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya
kepada anggota PKK dan Ketua RT 03 Bylira Saxophone atas kerjasamanya dan
partisipasinya demi terselenggaranya kegiatan penyuluhan ini.
Sebagai pelaksana kegiatan, kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam kegiatan penyuluhan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran
sangat kami harapkan untuk meningkatkan kegiatan di masa yang akan datang.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan yang secara
sengaja maupun tidak sengaja kami lakukan.

15

LAMPIRAN

16

17