Anda di halaman 1dari 2

AGAMA KONTINUITAS

Surat Nabi kepada Muqaqis, pemimpin Mesir, berisi ajakan untuk masuk Islam
dengan janji ia akan selamat. Isi surat itu adalah kutipan dari firman Allah,
Katakanlah, Wahai Ahli Kitab! Marilah menggunakan istilah yang sama (kalimat
persamaanNM) antara kami dan kamu; bahwa kita tak kan menyembah siapa pun
selain Allah; bahwa kita tak kan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Dia;
bahwa kita tak kan saling mempertuhankan (arbb) selain Allah. Jika mereka
berpaling katakanlah, Saksikan bahkan kami orang-orang muslim (tunduk sujud
pada kehendak Allah), (Q. 3: 64).
Yang dimaksud arbb pada ayat di atas adalah orang yang mempunyai otoritas
mutlak. Referensi ungkapan ini sebenarnya adalah sistem kependetaan, sistem
kerahiban, yang menempatkan manusia (pendeta, rahib) mempunyai wewenang suci,
misalnya untuk menyatakan seseorang telah diampuni dosanya.
Adanya ayat di atas adalah karena orang telah bertengkar berkaitan dengan
umat Nabi Musa dan Nabi Isa apakah mereka muslim atau tidak. Menurut Ibn
Taimiyah, itu semata pertengkaran dari segi bahasa yang mestinya tidak perlu terjadi
kalau kita membedakan antara Islam khusus dan Islam umum. Yang dimaksud dengan
Islam khusus adalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad yang ajarannya meliputi
syariat al-Quran. Perkataan Islam di sini hanya berlaku untuk umat Nabi
Muhammad. Relevansinya Nabi mengajak Muqaqis untuk masuk Islam adalah Islam
dalam arti khusus. Sedangkan Islam umum mencakup semua syariat yang dibawa
seorang Nabi, karena itu ia mencakup Islamnya setiap umat yang mengikuti seorang
Nabi dari kalangan para nabi. Maka kemudian, pernyataan bahwa pengikut Nabi Isa
dan Nabi Musa adalah muslim adalah dalam pengertian Islam Umum.
Pangkal dari semua Islam adalah syahadat l ilh-a ill- l-Lh, karena ini
merupakan kalmah saw, seperti yang dimaksud ayat di atas. Dan untuk masuk
kepada Islam khusus, harus ditambah dengan wa anna Muhammad-an Raslullh.
Inilah yang membedakan Islam khusus dari Islam umum. Dengan begitu, Nabi
Muhammad dan umatnya telah dilebihkan oleh Allah atas Nabi dan umat yang lain
tanpa boleh menghina satu sama lain. Jadi sebenarnya kita dilarang menghina agama
lain dan dilarang berpolemik dengan Ahli Kitab kecuali kalau mereka agresif.
Janganlah kamu berbanth dengan Ahli Kitab, kecuali dengan cara yang lebih baik
(dari sekadar bertengkar), kecuali dengan mereka yang zalim, (Q. 29: 46). Kalau
mereka yang memulai, kita harus menjawab. Makanya ketika dulu ada sebuah tabloid
di Jakarta menghina Nabi Muhammad, kita bertindak; kita tidak bisa memaafkan itu.
Menyembah berhala, atau menyembah selain Allah yang tidak masuk akal, bagi
penyembahnya adalah baik. Karena itu, meluruskan mereka harus melalui dakwah
persuasif atau bi al-hikmah. Dinyatakan dalam al-Quran, Janganlah kaunista
mereka yang berdoa kepada yang salian Allah lalu mereka akan menista Allah
melebihi batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah bagi setiap golongan Kami
buat menarik perbuatannya, kemudian kepada Tuhan juga meeka kembali. Ketika itu
diberitahukan kepada mereka apa yang mereka kerjakan, (Q. 6: 108).
Jadi nanti Allah yang akan menerangkan bahwa perlakuan mereka itu palsu.
Karena sudah tahu bahwa menyembah berhala itu palsu, kita wajib mendakwahi
mereka. Hal ini seperti yang dilakukan Nabi ketika berkirim surat ke mana-mana
mendakwahi mereka dengan tanpa menghina.
Dalam al-Quran banyak ayat yang mengatakan bahwa seluruh pengikut Nabi
adalah Muslim, yang berarti bahwa agama berkesinambungan (kontinuitas). Tetapi
selain kontinuitas, ada perkembangan yang membuat agama semakin baik dan

akhirnya menjadi sempurna. Sampai akhirnya Islam yang kita peluk itulah yang
merupakan akhir dari perkembangan agama Allah.
Menurut Ibn Rusyd, kewajiban manusia adalah memilih agama dalam bentuk
perkembangan terakhirnya yang sempurna, yaitu Islam khusus. Tetapi karena Ahli
Kitab memiliki unsur-unsur semula yang berasal dari Allah maka mereka tidak boleh
dipaksa masuk Islam. Yang harus dipaksa adalah kaum Pagan atau kaum Animis.