Anda di halaman 1dari 9

BANGUNAN PRODUKSI TERNAK: PERENCANAAN dan

KONSTRUKSI KANDANG

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Nama Kelompok :
Kresnanto Herlambang
Divia Repgiani Faraniti
Yopi Reynaldy Harahap
Khansa Maulana Fadilah
Fernando Manurung
Riski Sudarmaji
Priyatmoko Rizky
Dzaki Abdurahman

F14110039
F14110040
F14130049
F14130050
F14130051
F14130058
F14130059
F14130064

Nama Asisten :
1. Farah Virginia
F14110051
2. Anggun Puspita
F14110073
3. Antoni Wijaya
F14110084

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bangunan pertanian digunakan dan di aplikasikan untuk proses produksi
di bidang pertanian meliputi bangunan untuk produksi tanaman pertanian (rumah
kaca, hidroponik), produksi ternak (kandang), bangunan untuk penyimpanan dan
penanganan pasca panen (gudang pertanian), bangunan untuk menyimpan alat dan
mesin pertanian, perbengkelan. Dalam suatu bangunan pertanian, perlu
diperhatikan aspek-aspek lingkungan mikro dan pengendaliannya yang diperlukan
untuk memaksimalkan fungsi dari bangunan tersebut sesuai dengan tujuan
dibangunnya. Aspek lingkungan tersebut meliputi temperatur, kelembapan,
cahaya, kualitas dan aliran udara, bau, hama dan penyakit, dan sebagainya.
Hubungan antara hewan ternak dan faktor lingkungannya sangat
kompleks. Pemahaman terhadap hubungan ini sangat penting guna menciptakan
lingkungan mikro hewan yang memenuhi syarat bagi pertumbuhan dan
perkembangan hewan ternak yang baik dalam lingkungan yang optimal. Pada
gilirannya, pemenuhan lingkungan yang optimal adalah tercapainya sistem
produksi ternak yang memenuhu syarat. Seperti halnya pada manusia, lingkungan
mikro yang baik bagi hewan ternak jug akan meningkatkan produktifitasnya.
Peranan suhu udara terhadap hewan ternak dilukiskan dalam sebuah
konsep termonetralistis. Suhu udara dalam sebuah kandang ternak dapat
dikendalikan dengan beberapa macam cara seperti ventilasi alamiah (natural
ventilation), ventilasi paksa (forced or mechanized ventilation, serta
pengkondisian air (air conditioning).
Tujuan
Praktikum ini bertujuan menganalisis kandang sapi yang terdapat di
Fakultas Peternakan.

TINJAUAN PUSTAKA

Bangunan ternak yang dimaksud adalah bangunan untuk ternak besar,


ternak kecil, dan unggas. Di Indonesia, pada umumnya sudah digunakan dalam
skala luas kadang ayam yang dibangun dalam skala besar untuk tujuan komersial,
dilengkapi dengan peralatan-peralatan mekanis. Usaha ternak sapi belum mampu
berkembang sebesar usaha peternakan ayam, karena umumnya usaha ternak sapi
masih diusahakan petani baik secara individu maupun berkelompok. Sistem

perkandangannya pun masih sederhana dan hanya mampu menampung dua


hingga lima ekor sapi. Peternakan besar sudah ada, namun jumlahnya terbatas
sehingga masih berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia.
Usaha di bidang peternakan memerlukan fasilitas perkandangan yang baik
agar produksinya baik. Untuk itu, diperlukan perancangan dan desain yang baik
pula, dan disesuaikan dengan jenis ternak dan skala usaha yang ada. Yang paling
utama adalah kandang tersebut berfungsi dengan baik, menyediakan perlindungan
dan lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan dan kenyamanan hewan ternak.
(Hasbullah, 2009)
Menurut Stewart (1988) peranan suhu udara terhadap ternak dilukiskan dalam
sebuah konsep termonetralitas. Ini adalah sebuah konsep dimana mekanisme
homeotermis tubuh hewan terjaga dengan keseimbangan antara produksi dan
kehilangan panas tanpa menimbulkan cekaman (stress) pada hewan ternak.

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum Lingkungan Bangunan Pertanian dengan materi Bangunan
Produksi Ternak: Perencanaan dan konstruksi kandang. Bertempat di kandang sapi
Fakultas Peternakan. Praktikum tersebut di laksanakan pada hari Rabu, 18
November 2015.
Alat dan Bahan
1.
2.
3.
4.

Meteran
Termometer bola basah dan termometer bola kering
Pengukur intensitas cahaya
Pengukur kecepatan angin

Prosedur Praktikum

Mulai

Persiapan alat

Penempatan alat
pengukuran

Mengukur
Dimensi
kandang
Melakukan 3 kali
pengulanganMerapikan
alat
Pengukuran,
pembacaan dan
pencatatan data

Merapikan alat

selesai

HASIL dan PEMBAHASAN


Hasil Pengamatan
Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Kandang
waktu
Intensitas
(menit suhu depan
suhu
suhu
Cahaya
Kecepatan
)
(c)
tengah (c) belakang (c) (lux/meter)
Udara
Tbb
Tbk
Tbb
Tbk Tbb Tbk
1
2
28,
0 28,5 31,5
28
31
5
31,5
257
346
0
28,
2 28,5 31,5
28
31
5
31,5
336
546
0
28,
4
28
31 28,5
31
5
32
398
240
0
28,
6
28
31 28,5
31
5
31,5
268
354
0
28,2 31,2
28,
314,7 317,
Rerata
5
5 28,25
31
5 31,625
5
5
0
RH
79,8%
81,3%
76,1%
Tabel 2. Hasil Deskripsi Kandang
Kondisi
Dinding
Atap
Lantai
Terbuat
Terbuat dari
Terbuat dari
dari
asbes
beton

Kepadatan
Peralatan Kandang
Ternak
28 ekor ternak Sapu, selang, pompa air,
/ kandang
ember, bak air, sekup paralon,
tempat pembuangan
kontoran, baskom, tong air

Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, kandang sapi Fakultas peternakan
mempunyai atap yang terbuat dari asbes, sehingga kondisi di dalam kandang
sedikit panas , namun kondisi tersebut masih bisa diatasi karena ventilasi yang
lebar. Dalam kandang terdapat 28 ternak yang setiap harinya di perah dan
menghasilkan susu. Peralatan kandang terbilang lengkap karena terlihat dengan
adanya alat kebersihan, tempat pembuangan, tempat untuk pakan. Kemudian
kondisi lantai kandang terbuat dari beton dan tidak terlalu licin. Pertimbangan
pada lantai diberikan mengingatlanatai merupakan interface antara tubuh sapi dan
kandang. Lantai juga merupakan komponen penting dari sebuah kandang dimana

1.
2.
3.
4.

1.
2.

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.
4.

1.
2.

1.

hewan akan berhubungan secara kontinu dengan lantai kandang. Untuk itu lantai
kandang harus cukup kuat menahan beban hewan yang ada diatasnya. Permukaan
lantai kandang juga perlu dipertimbangkan dari sisi kualitasnya. Lantai yang
terlalu keras akan menyebabkan abrasi pada kaki. Secara umum, lantai kandang
perlu dirancang sesuai dengan peruntukan fungsionalnya yang khas. Persyaratan
struktural lantai berkaitan dengan faktor-faktor berikut :
Pembebanan karena hewan dan peralatan
Permukaan lantai yang anti-slip
Metoda pembersihan yang akan diterapkan
Ketersediaan bedding material
Guna mengantisipasi adanya keperluan khusus terhadap struktur lantai
yang bersifat khas maka beberapa negara maju telah menyusun standar nasional
yang berisi spesifikasi lantai kandang untuk sapi perah maupun sapi pedaging.
Lantai kandang berpengaruh langsung terhadap produktifitas sapi melalui :
Sifat-sifat fisiknya, seperti drainase. Drainase yang kurang bagus akan
menyebabkan lantai menjadi sarang vektor bagi penyakit.
Pada sapi penyakit yang sering muncul adalah penyakit kuku (hoof disoder).
Penyakit ini berhubungan dengan frekuensi kontak antara kuku dengaan feses dan
urine.
Sifat-sifat lantai perlu memenuhi pertimbangan dari aspek berikut :
Friction (gesekan)
Hardness (or softness)
Abrasiveness
Surface texture (roughness)
Surface profile (slope)
Semua material yang digunakan dalam konstruksi lantai harus non-toxic
bagi sapi dan resisten terhadap atau terlindungi dari :
Serangan bahan kimia dan pelapukan
Kondisi iklim, seperti temperatur ekstrem, beku atau faktor cahaya matahari
Pengaruh hewan lain seperti pengerat, hewan penggali atau tingkah laku hewan
pengganggu lainnya
Pengaruh tekanan air pencuci (pressure washers)
Material lantai (flooring materials) dapat juga dibagi kedalam dua golongan
berikut :
Solid concrete floord, yaitu lantai dengan bahan konstruksi bahan beton yang
pejal (solid)
Slatted floors, yaitu lantai kandang yang tidak pejal (solid), melainkan berongga
diantara balok-balok kayu lantai.
Fasilitas atau kontruksi kandang untuk sapi perlu mempertimbangkan
aspek tingkah laku dan aspek kesehatan. Contoh pertimbangan aspek tingkah laku
adalah sebagai berikut :
Kebutuhan fisik dasar (basic physical needs) untuk perkandangan

2. Riset diperlukan untuk klarifikasi kebutuhan berdasarkan tingkah laku


3. Sapi termotivasi sangat kuat untuk istirahat, makan, minum, dan bergerak keliling
(move around)
Sedangkan pertimbangan pada aspek kesehatan sapi dibutuhkan
mengingat bahwa pemenuhan kebutuhan fisik saja tidak cukup untuk menuju
produktifitas yang diinginkan. Untuk itu masih diperlukan pertimbangan pada
aspek kesehatannya. Sebuah contoh kebutuhan tempat yang berhubungan dengan
aspek tingkah laku dapat dilihat pada berbagai posisi istirahat sapi yang berbeda.
Pada bangunan peternakan, hal yang paling penting dalam pemilihan bahan
konstruksi adalah produktivitas. Produk yang berbahan dasar logam dengan
karakteristik terhadap suara, panas dan dingin sangat memperngaruhi
produktivitas pembiakan ternak. (Yuwono, Hasbullah, dan Chadirin 2014).
Untuk mencapai produksi yang optimal sapi perah sebaiknya dipelihara di
tempat yang bersuhu rendah. Suhu lingkungan yang optimum untuk sapi perah
dewasa berkisar antara 5--21 C, sedangkan kelembaban udara yang baik untuk
pemeliharaan sapi perah adalah sebesar 60% dengan kisaran 50%--75%.
Hubungan besaran suhu dan kelembaban udara atau biasa disebut Temperature
Humidity Index (THI) yang dapat mempengaruhi tingkat stres sapi perah.. Sapi
perah akan nyaman pada nilai THI di bawah 72. Jika nilai THI melebihi 72, maka
sapi perah akan mengalami stres ringan (72THI79), stres sedang (80THI 89)
dan stres berat ( 90 THI 97) (Wierema, 1990). Dengan data suhu dan
kelembapan relatif yang diukur. Berdasarkan kriteria tersebut sapi akan
mengalami stress ringan hingga stress sedang. Sehingga pertumbuhan dan
perkembangan sapi dalam kandang kurang optimal karena syarat-syarat
lingkungan untuk tumbuh kembang sapi yang optimum belum terpenuhi.
Pada kandang yang di amati terdapat kelengkapan kadang seperti tempat
makan untuk memberi makan sapi, pompa air sebagai alat memompa ke toren air,
bak air sebagai tempat minum sapi, saluran pembuangan kotoran sebagai saluran
pembuangan kotoran sapi, dan sebagainya.

SIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, praktikan telah dapat


mempelajari karakterisitik bangunan produksi ternak khususnya kandang sapi.
Selain itu, praktikan telah mengetahui pengaruh lingkungan bangunan produksi
ternak terhadap hewan ternak yaitu suhu, angin, kelembaban, hujan, hewan buas,
ketersediaan bahan pakan dan air yang memadai bagi terciptanya bangunan ternak
yang baik dan sesuai namun beberapa aspek kondisi belum terpenuhi secara
maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Hasbullah, R. 2009. Pengendalian Lingkungan Dalam Bangunan Pertanian.
Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Institut Pertanian Bogor.
Yuwono AS, Hasbullah R dan Chadirin Y.2014. Lingkungan dan Bangunan
Pertanian (Farm Structures and Environment). Bogor : IPB Press.
Wierema. 1990. Feeding Strategies to Combat Heat Stress. Ontario Ministry of
Agriculture and Food. Ontario.ca. Francais. 65
http://www.omafra.gov.on.ca/english/livestock/dairy/facts/heatstress.htm.
(Diakses: 22 November 2015)

PEMBAGIAN TUGAS
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kresnanto Herlambang
Divia Repgiani Faraniti
Yopi Reynaldy Harahap
Khansa Maulana Fadilah
Fernando Manurung
Riski Sudarmaji
Priyatmoko Rizky
Dzaki Abdurahman

: Pembahasan data suhu


; pembahasan kelengkapan kandang
: pembahasan karakteristik kandang :
: pembahasan kelengkapan kandang
: pembahasan kelengkapan kandang
: Gambar teknik
: editing
: Gambar teknik

LAMPIRAN

Gambar 1. Sketsa AutoCad kandang