Anda di halaman 1dari 28

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian


Desain penelitian adalah rancangan, pedoman,
ataupun

acuan

(Burhan,2008).

penelitian

yang

akan

dilaksanakan

Rancangan penelitian merupakan bentuk

rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur


penelitian (Burhan,2008). Desain penelitian pada esensinya
merupakan wadah untuk menjawab pertanyaan penelitian
atau

untuk

menguji

kesahihan

hipotesis

(Sastroasmoro,2011).
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan
jenis korelasi. Correlational research is a research study
that involves collecting data in order to determine whether
and to what degree a relationship existz between two or
more quantifiable variables (Gay,1983). Adanya hubungan
dan tingkat variabel penting karena dengan mengetahui
tingkat

hubungan

yang

mengembangkannya
(Burhan,2008).

Sejak

ada,

sesuai
awal

peneliti
tujuan

penelitian,

akan

dapat

penelitian
peneliti

harus

menentukan apakah akan melakukan intervensi yaitu studi


eksperimental

atau

hanya
32

akan

melaksanakan

33

pengamatan saja tanpa intervensi yaitu studi observasional


(Sastroasmoro,2011).
Didalam penelitian ini pengukuran variabel analitik
observasional dengan desain penelitian cross sectional,
dimana rancangan atau desain yang digunakan dengan
cara observasi pada semua variabel

(dependen dan

independen) yang diteliti dan dilakukan pada waktu yang


sama (point time approach). Studi cross sectional hanya
merupakan salah satu jenis studi observasional untuk
menentukan hubungan antara faktor resiko dan penyakit
(Sastroasmoro,2011). Begitu pula apabila dihubungkan
dengan cara pengambilan data secara terus menerus,
penelitian cross sectional merupakan kompromi antara one
shot

method

(menembak

satu

kali

terhadap

kasus)

(Burhan,2008).
Dalam penelitian cross sectional peneliti melakukan
observasi

atau

pengukuran

variabel

pada

satu

saat

tertentu. Kata satu saat bukan berarti semua subyek


diamati tepat pada satu saat yang sama, tetapi artinya tiap
subyek hanya diobservasi satu kali dan pengukuran
variabel subyek dilakukan pada saat pemeriksaan tersebut.
Dengan demikian maka pada studi cross sectional peneliti

34

tidak melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang


dilakukan (Sastroasmoro,2011).
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Januari
sampai Juni 2016 di SMPN 27 Semarang.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Menurut (Ary,1985) population is all members of
well defined class of people, events or objects. Populasi
dalam penelitian adalah sejumlah besar subyek yang
mempunyai karakteristik tertentu (Sastroasmoro,2011).
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/subjek

yang

mempunyai

kuantitas

dan

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti


untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
(Sugiyono,2006).
menjadi

dua,

Populasi

yakni

penelitian

populasi

target

dapat
dan

dibagi
populasi

terjangkau (Sastroasmoro,2011).
Populasi target adalah populasi yang merupakan
sasaran akhir penerapan hasil penelitian sedangkan

35

populasi terjangkau adalah bagian dari populasi target


yang dapat dijangkau oleh peneliti, dibatasi oleh
tempat dan waktu (Sastroasmoro,2011). Dari populasi
terjangkau ini dipilih sampel yang terdiri atas subyek
yang akan langsung diteliti. Batasan subjek penelitian
yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah
siswa-siswi

kelas

VIII

SMPN

27

Semarang

yang

berjumlah 240.

2. Sampel
Sampel adalah bagian (subset) dari populasi yang
dipih dengan cara tertentu hingga dianggap dapat
mewakili populasinya (Sastroasmoro,2011).

Sampel

merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau


sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh
populasi (Hidayat,2007). Sebagian dari jumlah populasi
dipilih untuk sumber data tersebut disebut sampel atau
cuplikan

(Burhan,2008).

Untuk

dapat

memperoleh

sampel yang representatif (mewakili populasi) terdapat


banyak cara, dengan kelebihan dan kekurangannya.

36

Menurut

Rumus

(Sugiyono,2011)

Issac

dan

dipenentuan

Michael

teknik

didalam

pengambilan

sampel apabila populasi sudah diketahui menggunakan


rumus minimal simple size yaitu :

n =

Z2.N.P.Q
d2 (N-1)+Z2.P.Q

n =

0,1962.240.0,5.0,5

37

0,12 (240-1)+0,1962.0,5.0,5
= 0,9604.240
2, 39+ 0,9604
= 230, 496
3,3504
n = 68,8 (69)
Keterangan :
n

: jumlah sampel

: Standar skor dengan tingkat konfident ( a:5%,

Z:
1,96%)
N

: Jumlah populasi (240)

:dugaan proporsi/insiden kasus dalam populasi


(P:0,5)

: 0,5

: derajat keterkaitan (0,1)

38

Syarat yang paling penting untuk diperhatikan


dalam mengambil sampel ada dua macam yaitu
jumlah sampel yang mencukupi dan profil sampel
yang dipilih harus mewakili (Burhan,2008). Cara
pemilihan sampel, menunjuk atau menarik sampel
yang

representatif

tersebut

dapat

digolongkan

menjadi dua yaitu pemilihan probability sampling dan


non-probability sampling (Sastroasmoro,2011).
Dalam penelitian ini teknik memilih sampel
yang digunakan adalah
yaitu

memilih

sampel

non-probability sampling
dengan

dasar

bertujuan

disebut juga purposive sampling. Dalam purposive


sampling ini peneliti memilih responden berdasarkan
pada pertimbangan subyektif dan praktis, bahwa
responden tersebut dapat memberikan informasi
yang

memadai

penelitian

untuk

menjawab

(Sastroasmoro,2011).

pertanyaan

Jumlah

sampel

dalam penilitian ini adalah 69, pengambilan sampel


dilakukan pada bulan Mei 2016.
Sampel

penelitian

ditentukan

dengan

memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria


inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian

39

pada

populasi

target

(Sastroasmoro,2011).

dan
Kriteria

populasi

terjangkau

eksklusi

adalah

sebagian subyek yang memenuhi kriteria inklusi


harus dikeluarkan dari studi oleh karena berbagai
sebab. Menurut Sastroasmoro (2011) keadaan yang
biasanya menjadi kriteria eksklusi pada studi klinis
yaitu

subyek

menolak

berpartisipasi,

terdapat

keadaan atau penyakit lain yang dapat menggangu


pengukuran atau interpretasi dan terdapat keadaan
yang mengganggu kemampulaksanaan.
a. Kriteria inklusi yang telah ditetapkan antara lain :
1).Remaja atau siswa siswi kelas VIII SMPN 27
Semarang yang bersedia menjadi responden
penelitian
2).Remaja

atau

memberikan

siswa-siswi
informasi

yang

dapat

memadai

untuk

menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti.


b. Kriteria ekslusi yang telah ditetapkan antara lain :
1).Remaja atau siswa-siswi yang sedang sakit.

40

2).Remaja atau siswa-siswi yang tidak bersedia


menjadi responden penelitian
D. Variabel Penelitian
Variabel adalah sebuah konsep yang dapat
dibedakan menjadi dua yakni yang bersifat kuantitatif dan
kualitatif (Hidayat,2007). Jenis variabel penelitian dalam
keperawatan
variable

terdapat

beberapa

independent

(Hidayat,2007).

dan

jenis

variabel

variable

Menurut

yaitu

dependent

(Sastroasmoro,2002)

mengemukakan bahwa variabel merupakan karakteristik


subjek penelitian yang berubah dari satu subjek ke subjek
lainnya. Perlu ingat kembali bahwa variabel dapat berskala
kategorikal

(yang

dibagi

menjadi

skala

nominal

dan

ordinal) dan skala numerik (yang dapat dibedakan menjadi


skala interval dan rasio) (Sastroasmoro, 2011).
1. Menurut

(Hidayat,2007)

variabel

independent

adalah variabel yang menjadi sebuah sebab perubahan


atau timbulnya variabel dependent (terikat). Variabel ini
juga dikenal sebagai nama variabel bebas artinya bebas
dalam

memengaruhi

variabel

lain.

Variabel

ini

mempunyai nama lain seperti variabel prediktor, risiko

41

atau kausa. Dalam penelitian ini yang menjadi variable


independent adalah religiusitas.
2. Menurut (Hidayat,2007)

variabel dependent adalah

variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena


variabel bebas. Variabel ini tergantung dari variabel
bebas terhadap perubahan. Variabel ini juga disebut
sebagai variabel efek hasil outcame. Dalam penelitian
ini

yang

menjadi

variable

dependent

adalah

kecenderungan kenakalan remaja.


E. Definisi Operasional
Definisi Operasional adalah definisi berdasarkan
karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan
tersebut yang memungkinkan penulis melakukan observasi
atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau
fenomena

yang

dapat

diulang

lagi

oleh

orang

lain

(Hidayat,2007). Definisi operasional adalah mengubah


konsep dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku
atau

gejala

yang

dapat

diamati

dan

dapat

diuji

kebenarannya oleh orang lain (Sukardi,2003). Definisi


operasional
dijadikan

ditentukan

ukuran

dalam

berdasarkan
penelitian,

parameter

yang

sedangkan

cara

42

pengukuran merupakan cara dimana variabel dapat diukur


dan ditentukan karakteristiknya (Hidayat, 2007).
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel
Penelitian
Sumber:(Ancok dan Suroso,2010 )

Variab

Definisi

el

Operasional

Religiu
sitas

Instrumen

Hasil Ukur

Kemampuan

Kuesioner skala

Memiliki

remaja untuk

religiusitas

tingkat

mengetahui

a.

dengan skor

sesuai etika

Sangat baik =

yang baik,

94- 124 , Baik

melalui

= 63-93, Tidak

penghayatan

baik = 32-62,

terhadap nilai-

Sangat Tidak

nilai agama

Baik = 1-31

yang dianutnya
meliputi
dimensi
keyakinan
(akhlak),dimens
dimensi
pengalaman

Ordi-

religiusitas

dan berperilaku

i pengamalan,

Skal

nal

43

dan dimensi

Kecend
erunga
n
Kenakal
an
remaja

praktek agama.
Kecenderungan

Angket

Hasi skoring

kenakalan

kecenderungan

angket

remaja adalah

kenakalan remja

kecenderungan

Ordi

perilaku atau

kenakalan

tindakan yang

remaja

dilakukan oleh

dikatakan

siswa- siswi

Cenderung

kelas VIII SMP N

sangat nakal =

27 Semarang

85-126,

yang melanggar

Cenderung

aturan-aturan

nakal = 43-84,

dan tata tertib

Cenderung

sekolah

tidak nakal= 142, Cenderung


sangat tidak
nakal = 0

F. Instrumen Penelitian
Instrumen

adalah

alat

yang

digunakan

untuk

memperoleh data sesuai dengan tujuan penelitian. Suatu


instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan
dapat mengukur apa yang hendak diukur (Gay,1983).
Instrumen penelitian yang baik adalah memenuhi tiga
syarat

penting

yaitu

valid,

reliabel

dan

objektif

nal

44

(Burhan,2008). Secara fungsional kegunaan instrumen


penelitian

adalah

untuk

memperoleh

data

yang

diperlukan ketika peneliti sudah menginjak pada langkah


pengumpulan

informasi

dilapangan

(Sukardi,2003).

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah :


1. Skala Religiusitas
Skala religiusitas disusun berdasarkan dimensi-dimensi
religiusitas yang dikemukakan oleh Glock dan Stark
(Ancok & Suroso 2010: 77-78) yang terbagi menjadi
lima. Dimana kelima dimensi tersebut menurut Ancok
dan Suroso (2010: 80) memiliki kesesuaian dengan
Islam. Kelima aspek atau dimensi tersebut yaitu :
dimensi keyakinan (akidah islam), dimensi praktik
agama (syariah), dimensi pengalaman (penghayatan),
dimensi

pengetahuan

pengamalan

atau

agama

konsekuensi

(ilmu)

dan

(akhlak).

dimensi
Kemudian

kelima dimensi tersebut diturunkan menjadi empat


karena dimensi pengetahuan (ilmu) dianggap tidak bisa
menggambarkan
seseorang.

tingkat

religiusitas

pada

diri

45

Tabel 3.2 Sebaran item nomor pertanyaan sklala Religiusitas


No Dimensi /Indikator

Nomor Item
Favorable
Jml

1.
a.
b.
c.
d.

Keyakinan (akidah)
Yakin dengan adanya Allah
Yakin kepada para malaikat
Yakin kepada Nabi/Rosul
Yakin kepada Kitab-Kitab Allah
4
e. Yakin akan adanya Surga dan Neraka
f. Yakin akan adanya qadha dan qadar
2 Pengalaman
a. merasa dekat/akrab dengan Allah
b. merasa doa-doanya sering terkabul
c. merasa tentram dan bahagia kerena
menuhankan Allah
d. pasrah diri secara positif
e. perasaan bersyukur kepada Allah
f. perasaan mendapat peringatan atau
pertolongan dari Allah
3 Praktek agama (syariah)
a. Melakukan sholat
b. Melakukan puasa
c. Melakukan zakat
11

Unfavorable

5, 7, 11

1 ,4 ,6, 8, 10 2, 9,12

13, 15, 19,21,


25, 28

17, 20, 23,


26, 29

46

d. Membaca Al-Quran
e. Melakukan zikir.
f. membaca doa
4 Pengamalan (akhlak)
a. suka menolong
b. berlaku jujur
c. menjaga amanat orang lain
d. menjaga lingkungan hidup
8
e.
f.
g.
h.

berderma
mematuhi norma-norma
islam dalam perilaku seksual
memaafkan
Jumlah

16, 18, 22,

14, 24, 30, 31

27

18

13

31

2. Angket Kecenderungan kenakalan Remaja


Angket kecenderungan kenakalan remaja terdari
dari 8 indikator, yaitu sebagai berikut :
a. Terlambat masuk sekolah
b. Membolos
c. Tidak masuk sekolah tanpa keterangan
d. Merokok dilingkungan sekolah
e. Memakai seragam tidak lengkap
f. Tidak mengerjakan tugas

47

g. Mengompas/memalak
h. Berkata tidak sopan kepada guru
Angket
pertanyaan

dalam
yang

penelitian

mengungkap

ini

terdiri

frekuensi

atas

perilaku

kenakalan remaja yang dilakukan oleh siswa-siswi SMP


N 27 Semarang.
Tabel 3.3 Sebaran item pertanyaan angket kecenderungan
kenakalan remaja
No/Indikator

Pertanyaan

1 Terlambat masuk sekolah

Jml

6, 8, 19, 24, 30, 34

6
2 Membolos

1, 15, 18, 29, 39, 42

6
3 Tidak masuk sekolah tanpa keterangan

2, 10 , 22, 26, 35, 40

6
4 Merokok dilingkungan sekolah

5, 9, 16, 20, 31, 38

6
5 Memakai seragam tidak lengkap
/ tidak sesuai aturan

14, 21, 25

3
6 Tidak mengerjakan tugas

3, 11, 23, 27, 32, 36

6
7 Mengompas/ memalak
8 Berkata tidak sopan kepada guru

4, 13, 28, 41

7, 12, 17, 33, 37

5
Total

42

48

Kedua Kuesioner meliputi angket kecenderungan


kenakalan remaja dan skala relligiusitas

terdapat

beberapa macam pertanyaan yang berhubungan erat


dengan masalah penelitian yang hendak dipecahkan,
disususun

dan

disebarkan

ke

responden

untuk

memperoleh informasi dilapangan (Burhan,2008).


Dalam

penelitian

kuantitatif,

penggunaan

kuisioner adalah yang paling sering ditemui karena jika


dibuat secara intensif dan teliti, kuesioner mempunyai
keunggulan jika dibanding dengan alat pengumpul
lainnya

(Burhan,2008).

Kuisioner

kecenderungan

kenakalan remaja memiliki konsistensi internal dan


koefisien keandalan (Cronbach's alpha) = 0,964 dan
skala religiusitas = 0,889 untuk keseluruhan komponen
(Atiqa, 2013).
Alfa Cronbach digunakan ketika pengukuran tes
sikap yang mempunyai item standar yaitu pilihan ganda
atau dalam bentuk esai, jika item tes heterogen maka
tes tersebut akan mengukur lebih dari satu karakteristik
dan menyebabkan keofisien Alfa rendah (Burhan,2008).
Beberapa

studi

telah

menggunakan

instrumen

49

kuisioner kenakalan remaja dan skala religiusitas ini


yang memiliki tingkat ketepatan tinggi dan telah
didukung validitas dan reliabilitas (Smyth,2012). Dalam
penelitian ini tidak dilakukan uji validitas dan reabilitas
lagi, mengingat kuesioner kecenderungan kenakalan
remaja dan skala religiusitas ini diadop dari instumen
penelitian yang sudah baku.
G. Teknik Pengumpulan Data
Merupakan cara peneliti untuk mengumpulkan data
dalam penelitian dan sebelum melakukan pengumpulan
data, perlu dilihat alat ukur pengumpulan data agar dapat
memperkuat hasil penelitian (Hidayat,2007). Teradapat
empat media untuk mengumpulkan data dalam proses
penelitian

yaitu

kuesioner,wawancara,

observasi

dan

dokumentasi (Sukardi,2003). Teknik pengumpulan data


dalam penelitian ini yang akan dilakukan adalah dengan
teknik sebagai berikut :
1. Peneliti meminta ijin secara tertulis kepada Kepala
Sekolah

SMPN

27

Semarang

untuk

melakukan

penelitian terhadap siswa siswinya kelas VIII.

50

2. Setelah

mendapatkan

ijin

untuk

melakukan

penelitian, peneliti menunjukkan surat ijin dari Kepala


sekolah

dan

menjelaskan

maksud

penelitian kepada guru kelas

dan

tujuan

serta meminta ijin

untuk melakukan penelitian.


3. Menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada
semua responden.
4. Mengadakan kontrak waktu pelaksanaan pengisian
kuisioner. Waktu pelaksaaan di jam pelajaran BK
yaitu hari jumat jam 10.00 wib.
5. Memberikan angket skala religiusitas dan angket
kecenderungan

kenakalan

remaja

untuk

menilai

tingkat religiusitas dan tingkat kenakalan responden.


6. Responden

diajak

berdoa,

kemudian

peneliti

mengajak responden untuk mengisi angket.


7. Peneliti memberikan dan menjelaskan tata cara
pengisian kepada responden mengenai kuisoner yang
didistribusikan.

51

8. Mengumpulkan

hasil

kuisoner

dan

melakukan

tabulasi secara global skor yang terdapat dalam


kuisoner.
H. Pengolahan dan Analisa Data
Setelah observasi selesai, maka selanjutnya melakukan
pengolahan data. Dalam melakukan analisis, data terlebih
dahulu

harus

menjadi
diperoleh

diolah

informasi.

dengan
Dalam

dipergunakan

tujuan

statistik,

untuk

mengubah

data

informasi

yang

proses

pengambilan

keputusan, terutama dalam pengujian hipotesis. Menurut


(Hidayat,2007) dalam proses pengolahan data terdapat
langkah langkah yang harus ditempuh diantaranya ada
empat langkah yang meliputi :
1. Pengolahan Data
a. Editing Data
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali
kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan.
Editing data yang dilakukan untuk meneliti setiap
daftar

pertanyaan

dilakukan

meliputi

yang

sudah

kelengkapan

diisi.

Editing

pengisian

dan

52

keakuratan hasil observasi. Editing dapat dilakukan


pada tahap pengumpulan data atau setelah data
terkumpul.
b. Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode
numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas
beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat
penting

bila

pengolahan

menggunakan

komputer.

dan

analisis

Biasanya

data
dalam

pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya


dalam satu buku untuk memudahkan melihat lokasi
dan arti suatu kode dari suatu variabel. Didalam
penelitian ini peneliti mengklasifikasikan jawabanjawaban yang ada menurut jenisnya. Klasifikasi
dilakukan dengan cara menandai masing-masing
jawaban yang ada dengan kode berupa angka
kemudian dimasukkan ke dalam lembar tabel kerja
guna

memudahkan

pembacaannya.

Peneliti

mengklasifikasikan jawaban yang ada menurut


macamnya. Klasifikasi dilakukan dengan menandai
masing masing jawaban yang ada dengan kode

53

berupa

angka,

kemudian

dimasukkan

kedalam

tabel sehingga mudah untuk dibaca..


c. Entry data
Entry data adalah proses memasukkan data
kedalam master tabel atau database komputer
melalui program SPSS 16,
distribusi

frekuensi

dengan
dilakukan

kemudian membuat

sederhana

atau

bisa

juga

membuat

tabel

kontigensi.

Sebelum

analisa

dengan

komputer

dilakukan

pengecekan ulang terhadap data.


2. Analisa Data
a. Analisa Univariat
Dimana analisa univariat adalah analisis yang
dilakukan dengan melihat suatu data saja, misalnya
distribusi, rata-rata, keseragaman atau gejala dari
perubahan suatu nilai/data (Subagyo, 2004). Analisa
univariat

berfungsi

untuk

meringkas

data

hasil

pengukuran sedemikian rupa sehingga kumpulan


data

tersebut

berguna.

berubah

menjadi

Dalam penelitian ini

informasi
analisis

yang

univariat

54

dilakukan untuk analisa setiap variabel dependen


maupun

variabel

univariat

ini

independen.

digunakan

juga

Dengan

analisa

untuk

analisis

karakteristik responden meliputi jenis kelamin, umur,


agama dan tingkat kenakalan remaja.
b. Analisa Bivariat
Dalam penelitian ini analisa bivariat digunakan
untuk

mengetahui

hubungan

antara

religiusitas

dengan kecenderungan kenakalan remaja. Peneliti


melakukan

uji

normalitas

data

terlebih

dahulu.

Kemudian dilakukan Uji parametrik dengan syarat


skala pengukuran variabel harus variabel numerik,
data distribusi harus normal sehingga menggunakan
uji Pearson, namun apabila tidak berdistribusi normal
menggunakan

alternatif

lain

yaitu

Uji

non

parametrik dengan syarat skala pengukuran adalah


kategorik (ordinal dan nominal), jika data dengan
masalah skala pengukuran numerik tetapi tidak
memenuhi syarat uji parametrik (misalnya distribusi
data

tidak

normal),

maka

dilakukan

uji

non

parametrik yaitu rank Spearman yang merupakan


alternatif dari uji parametriknya.

55

Tabel 3.4 Uji Hipotesis Bivariat


Sumber : Sopiyudin (2008)
Masalah skala
pengukuran
Numerik

Jenis Hipotesis
Komparatif
Tidak berpasangan
Berpasangan
2
>2
2
>2

Korelatif

kelompok

Pearson

kelomp

kelompok

kelomp

ok
Uji t tidak One

ok
t Repeate

Uji

berpasang

way

berpasang

an

ANOVA

an

ANOVA

Kategorik

Mann

Kruskal

Wilcoxon

Friedma

Spearma

(Ordinal)

Whitney

Wallis

n
Somersd

Kategorik
(Nominal/Ordin
al)

Chi- Square
Fisher
Kolmogorov-Smirnov
(tabel BxK)

McNemar, Cochran

Gamma
Koefisien

Marginal

kontinge

Homogenity

nsi

Wilcoxon, Friedman

Lambda

56

(prinsip PxK)

Keterangan :
1) Uji dengan Pearson merupakan uji parametrik
2) Tanda panah kebawah menunjukkan uji alternatif jika
syarat uji parametrik tidak terpenuhi
3) Untuk

hipotesis

komparatif

numerik,

perlu

kategorik

tidak

diperhatikan banyaknya kelompok


4) Untuk

hipotesis

komparatif

berpasangan, pemilihan uji menggunakan tabel BxK


5) Untuk hipotesis komparatif kategorik berpasangan,
pemilihan uji menggunakan prinsip PxK
Dengan

demikian

hipotesis bivariat

dapat

menentukan

uji

dengan berpedoman pada tabel

3.2.b dengan syarat harus memahami beberapa


istilah :
1) Skala pengukuran

: kategorik atau numerik

57

2) Jenis hipotesis

komparatif

atau

numerik

atau

korelatif
3) Masalah sakala pengukuran
kategorik
4) Pasangan

berpasangan

atau

tidak

berpasangan
5) Jumlah kelompok

kelompok

atau

>2

kelompok
6) Syarat uji parametrik dan non parametrik
a) Uji parametrik : skala pengukuran variabel harus
variabel numerik, data distribusi harus normal.
b) Uji non parametrik : skala pengukuran adalah
kategorik
dengan

(ordinal
masalah

dan
skala

nominal),

jika

pengukuran

data

numerik

tetapi tidak memenuhi syarat uji parametrik


(misalnya distribusi data tidak normal), maka
dilakukan uji non parametrik yang merupakan
alternatif dari uji parametriknya.
7. Prinsip tabel BxK dan PxK
I. Etika Penelitian
Penelitian
dilaksanakan

ini

tidak

sesuai

melanggar
dengan

etika

petunjuk

karena
dan

58

aturan yang telah ditetapkan serta mendapat rekomendasi


dari tim skripsi program Diploma IV Politeknik Kesehatan
Kemenkes

Semarang.

Kemudian

dalam

melakukan

penelitian, peneliti mengajukan permohonan ijin penelitian


kepada pihak SMPN 27 Semarang. Setelah mengajukan
surat

permohonan

memberikan

ijin

ijin

dan

penelitian,

tidak

pihak

keberatan

Sekolah

dilakukannya

penelitian ini. Menurut (Hidayat,2007) masalah etika yang


harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Informed Consent merupakan betuk persetujuan antara
peneliti

dengan

responden

penelitian

dengan

memberikan lembar persetujuan. Informed consent


tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan
memberikan

lembar

persetujuan

untuk

menjadi

responden. Tujuan informed consent afalah agar subjek


mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui
dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus
menandatangani lembar persetujuan dan jika responden
tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak
pasien. Beberapa informasi yang harus ada dalam
informed consent tersebut antara lain partisipasipasien,
tujuan

dilakukannya

tindakan,

jenis

data

yang

59

dibutuhkan, komitmen prosedur pelaksanaan, potensial


masalah yang akan terjadi, manfaat, kerahasiaan.
2. Anonimity

(tanpa

nama),

yaitu

untuk

menjaga

kerahasiaan identitas subjjek penelitian, peneliti tidak


mencantumkan nama subjek pada lembar checklist
pengumpulan data.
3. Confidentiality yaitu kerahasiaan tentang data yang

diperoleh dari subjek penelitian dijamin oleh peneliti.


Jika setelah 2 tahun tidak digunakan untuk kepentingan
penelitian,
peneliti,

data

dengan

tersebut akan
cara

dimusnahkan

membakar

hasil

dari

oleh
data

kuesioner dan hasil observasi agar tidak terbaca oleh


pihak lain.