Anda di halaman 1dari 18

FISH BORNE DISEASE : IKAN

BERFORMALIN

Disusun Oleh:
Meliana Latifah
6411413079
Titik Sugiarti
6411413084
Jiyan Dwi Septia Atikah
6411413101
Nur Lissa Utami
6411413136
Berta Grasiananda P
6411413146
Alfina Dewi Nugrahany
6411413180
Epidemiologi dan Biostatistika
Rombel 02

A.

Tanpa makanan, makhluk hidup tidak bisa bertahan


untuk menjalankan kegiatan sehari-hari
Keamanan pangan ditentukan oleh ada tidaknya
komponen
yang berbahaya baik secara fisik, kimia
LATAR
BELAKANG
maupun mikrobiologi.

FISIKIAWI, pangan yang aman dapat ditentukan oleh ada tidaknya kontaminasi dari
bahanbahan yang tidak dapat dicerna seperti plastik, logam, maupun bahan yang dapat
mengganggu pencernaan manusia
KIMIAWI dapat berasal dari zat-zat kimia berbahaya yang tidak boleh digunakan sebagai
bahan pangan seperti formalin, boraks dan insektisida serta bahan tambahan makanan yang
dibatasi penggunaannya seperti asam benzoat, askorbat, laktat, sitrat dan bahan tambahan
pangan lainnya sesuai dengan SNI 01-0222-1995.

Ikan sebagai salah satu sumber protein merupakan


bahan
makanan
yang
dikonsumsi
masyarakat.
MIKROBIOLOGIS
berasal dari
adanya banyak
bakteri-bakteri
patogen maupun racun
yang
terkandung pada pangan
Ikan memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan
makanan lain sebagai sumber protein hewani, antara
lain ikan kaya akan protein, vitamin, mineral dan
berkalori rendah, sehingga sangat efektif bagi mereka
yang ingin tetap menjaga atau mempertahankan
kesehatannya.

FORMALIN

Formalin merupakan bahan kimia berbahaya yang


digunakan sebagai jalan pintas bagi pengolah untuk
mengurangi kerugian. Bahan-bahan yang berbahaya bagi
kesehatan ini digunakan sebagai pengawet tambahan
untuk mencegah pembusukan. Formalin juga mencegah
pengurangan bobot ikan yang berlebihan akibat
menguapnya cairan tubuh ikan yang diasinkan.

B. Kasus-kasus Ikan Berformalin


Tahu Dan Ikan Segar Pun Mengandung
Formalin di Pasar Jatinegara, Pasar Ampera,
Pasar Rawamangun, Pasar Palmeriem, dan
Pasar Kebon Kosong Jakarta Timur (30 Maret
2016)

Ikan Berformalin ditemukan di Pasar Perumnas


Klender, Jakarta Timur (31 Maret 2016)

C. Ciri ciri Ikan Berformalin


Mata yang suram sampai putih keruh apabila
Mata sudah lama direndam.
Insangnya akan berwarna coklat sampai putih,
Insan tergantung banyaknya formalin dan lamanya
g
larutan formalin penetrasi ke dalam insang.
Apabila ikan sudah tidak cerah mengkilat tetapi
tekstur dagingnya keras dan kaku, maka ikan
Warn tersebut patut dicurigai.
a
Daging berwarna keputihan
Tekst
ur

Insang sudah berwarna coklat, mata sudah suram,


tetapi teksturnya keras.

Tidak berbau amis, jarang terdapat lalat yang


Bau
mendekat.

D. Undang Undang Yang Berkaitan Dengan


Penggunaan Formalin

UU No 8/1999 tentang
Perlindungan Konsumen.
UU no.7/1996 tentang Pangan yaitu
pasal 1 dan pasal 53
Permenkes no. 722/1998 tentang
Bahan Tambahan yang Dilarang
Digunakan dalam Pangan.

E. Patofisiologis Keracunan
Oleh Formalin

Formalin bereaksi cepat dengan lapisan


lendir saluran pencernaan dan saluran
pernafasan. Formalin bersifat hidrokopis
yaitu menghisap air di dalam tubuh
sehingga kadar air di dalam sel akan
mengecil.

F. Dampak formalin bagi Kesehatan

Keracunan akut
Efek pada kesehatan manusia langsung terlihat: seperti iritasi, alergi, kemerahan, mata
berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing.
Keracunan Kronik
Efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan
berulang: iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal,
pankreas, sistem saraf pusat, menstruasi dan pada hewan percobaan dapat menyebabkan
kanker sedangkan pada manusia diduga bersifat karsinogen (menyebabkan kanker).

G. Gejala Klinis Keracunan


Ikan berformalin

muntah, mual, dan diare.


mulut dan tenggorokan terasa terbakar.
sakit kepala.
kejang.
hipotensi
sakit perut yang hebat
perdarahan
tidak sadar hingga koma

H. Cara Pemeriksaan Formalin


pada Ikan
NO

ALAT

NO

BAHAN

Ikan asin

Beaker glass

Asam kromatofat

Pengaduk

Aquades

Kompor

Formalin 37%

Tabung reaksi

Erlenmeyer

Spektrofotometer

Lanjutan.

Pengujian secara kualitatif:


Timbang bahan sebanyak 5 gram masukkan aquades
dalam beaker glass sebanyak 50 mlkemudian didihkan.
Masukkan bahan yang diuji ke dalam erlenmeyerlalu
direndam dengan aquades yang mendidihmasukkan
asam kromatofatlalu aduk.
Produk yang mengandung formalin akan ditunjukkan
dengan berubahnya warna air dari bening menjadi merah
muda hingga ungu. Semakin ungu berarti kadar formalin
semakin tinggi. Jika perlakuan diatas belum menghasilkan
uji yang positif, pasang kembali panci ke atas kompor,
rebus aquades yang barumasukkan gelas yang berisi
campuran produk, aquades lama dan asam kromatofat ke
dalam panci. Waktu perebusan selama 20 menit dihitung

Lanjutan.

Pengujian secara kuantitatif:


Pembuatan larutan standar, Formalin 37% diambil sebanyak
0,027 mltambahkan aquades sebanyak 500 ml atau 20 ppm,
buat konsentrasi yang berbeda yaitu 0; 0,05; 0,1; 0,5; 0,75;
1,0; 1,5; dan 2kemudian dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang sudah diberi label (8 tabung reaksi)tambahkan
asam kromatofat sebanyak 5 ml pada tiap konsentrasi yang
berbedapanaskan tabung reaksi selama 30 menit dengan
kompor pada suhu 100oC, terbentuklah larutan standar.

I. Penyelidikan Epidemiologi

Mengumpulkan dan pengolahan data


Analisa
Menarik Kesimpulan
Mengidentifikasi info tambahan
menguji kesimpulan
Penanggulangan
Laporan

J. PIHAK YANG TERKAIT


Waliko
ta/Pe
merint
ah
Dinas
Keseh
atan
Dinas
Pasar
Kepoli
sian
BPOM
dan
labora
toriu

Walkot : setelah melakukan inspeksi dan menemukan


formalin dalam bahan makanan di pasar seperti ikan maka
dengan segera walikota mengeluarkan sanksi baik pidana
maupun perdata terhadap penjual yang telah menjual
produk pangan yang mengandung formalin.
Dinkes : fungsi sebagai pelaksana pengawasan terhadap
peredaran makanan di masyarakat.
Dinpas:
melakukan
inspeksi
secara
berkala
dan
bekerjasama dengan pihak terkait seperti Dinas Kesehatan,
Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sebagainya
Kepolisisan : membantu menertibkan kegiatan inspeksi
tersebut dan menjalankan tugasnya untuk melakukan hukum
yang telah diberikan kepada pedagang dari walikota atau
pejabat setempat.
BPOM : untuk mengawasi makanan yang beredar di
mayarakat. BPOM memiliki kewenangan untuk melakukan
penetapan persyaratan penggunaan bahan tambahan (zat
aditif) tertentu untuk makanan dan penetapan pedoman
peredaran Obat dan Makanan.
Laboratorium: pemeriksaan dari sampel

K. Pencegahan
Memberikan penyuluhan dan himbauan kepada
pedagang mengenai bahaya formalin
Memberikan penyuluhan dan himbauan kepada
masyarakat agar dapat lebih selektif dalam
memilih ikan segar
Melakukan penyelidikan secara rutin
Melakukan kebijakan Keamanan Produk Perikanan
(KPP), dapat dilakukan dengan langkah (Riyadi dkk,
2007): pengembangan BTP alternatif, kampanye
makan ikan, penyadaran masyarakat, pengembangan
SDM, pengembangan dan penerapan standar mutu,
pengembangan kelembagaan dll.

Melakukan sertifikasi produk makanan. Dalam hal ini


adalah produk makanan yang berasal dari ikan.

L. Penanggulangan

Melakukan pemeriksaan kandungan


formalin pada beberapa ikan di pedagang
ikan
Melakukan penyitaan terhadap ikan yang
terbukti berformalin
Memberikan sanksi dan himbauan kepada
pedagang yang melakukan kecurangan
memberikan formalin pada ikan.

M. Edukasi Warga

Memberikan edukasi melalui penyuluhan


kepada warga baik konsumen maupun
produsen ikan tentang bahaya
penggunaan formalin.
Pembuatan brosur dan poster tentang ciriciri ikan yang mengandung formalin.
Pelaporan kepada Dinas Kesehatan dan
Dinas Pasar apabila warga menemukan
penjual yang menjual ikan berformalin.