Anda di halaman 1dari 22

MENGELOLA ADMINISTRASI PAJAK

Disusun Oleh :

Nama

: Yunida Embarsari

Kelas

: XII - 1

Jurusan

: Akuntansi

SMK NUSA JAYA


JL. Nusa Dua IV No.48
Perumnas II Karawaci Tangerang Banten

LEMBAR PENGESAHAN ( I )

SMK NUSA JAYA TANGERANG


Jl. Nusa Dua No. 48
LAPORAN AKHIR SEKOLAH TELAH DISETUJUI KEPADA:
Hari/Tanggal

: Rabu, 3 April 2013

Tempat

: SMK Nusa Jaya Tangerang

Nama Pemeriksa

Nama Pembimbing

Nia Kurniawati S.pd

Bpk Benny Logho

Kepala Sekolah

DRS. Daong Salman

KATA PENGANTAR ( II )

Assalamualaikum Wr.Wb
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan Semesta Alam yang telah
memberikan sedikit Ilmu dari Bpk Benny logho dengan maksud
Untuk membantu kami dari segi dalam Bentuk Pembahasan
Tentang Mengelola Administrasi .
Pajak yang Terkait Sebagai Berikut :

Persiapan Pengelolaan Perhitungan Fisik


Identifikasi data transaksi
Perhitungan Jumlah Pajak yang harus dibayar
SPT dan
SSP
Untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada Bpk Benny logho dan Ibu

Nia yang telah terlibat langsung dalam proses pembelajaran disekolah dan
Kami menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak Kekurangannya
Terutama dengan adanya Peraturan Peraturan Perpajakan yang selalu
berkembang di Indonesia. Oleh , karena itu kami mengharapkan saran dan
kritik dari Bpk Benny logho dan Ibu Nia yang bersifat membangun penyusun
dari skripsi Tersebut .

DAFTAR ISI ( III )

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

BAB I

: PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.

BAB II

Alasan Memilih Judul Mengelola Pajak


LatarBelakang Masalah
Tujuan Dari Penulisan
Metode Pengumpulan

1
2
3
4

: TINJUAN PUSAKA
A. Pengertian Bahan Skripsi

B. Fungsi Pajak
1. Fungsi Budgetair
2. Fungsi Mengatur ( Regulerend )
3. Fungsi Demokrasi
4. Fungsi Distribusi

6
7
8
9
10

C. Jenis Jenis Pajak

11

4
BAB III

: TINJUAN UMUM
A. Pemahaman Pajak
B. Visi dan Misi Pajak
C. Bentuk Struktual

12
13
14

BAB IV

BAB V

: PROSEDUR
A. Kesulitan Pada Pajak

15

B. Prosedur Pajak
1. Stesel nyata ( riel stesel )
2. Stesel Anggapan ( fictieve stesel )
3. Stesel Campuran

16
17
18
19

: PENUTUP
A. Hambatan yang Dihadapi
1. Perlawanan Aktif
2. Perlawanan Pasif

20
21
22

B. Pemecahan Masalah
1. Penggelapan Pajak
2. Money Laundry
3. Harta dan Hasil Korupsi

23
24
25
26

C. Kesimpulan

27

D. Saran

28

E. Daftar Pusaka

29

F. Daftar Riwayat Hidup

30

Bab I
Pendahuluan
1. Alasan Memilih Judul
Karena diperlukan untuk menciptakan sistem Pengelolaan Perpajakan yang
baru dan Kelangsungan Peningkatan Peranannya Nasional dalam
Perpajakan maupun menggerakkan peran dari semua lapisan subjek pajak
yang besar dalam menghasilkan penerimaan dalam negeri /pemerintah.
2. Tujuan dari Penulisan Pajak

1. Untuk mengetahui apakah perlakuan perpajakan atas PPh Pasal 21,


23 , 24 dan 25 telah sesuai dengan aturan perpajakan yang berlaku ,
2. Untuk Mengetahui persamaan yang terbentuk antara variabel tidak
3.
4.
5.
6.

bebas (royalti) dengan variabel bebas laba sebelum pajak


Untuk Mengetahui Data Transaksi yang telah di identifikasi
Untuk Penghitungan Jumlah Pajak yang Terutang
Untuk Pengisian SPT
Untuk Pengisian SSP .

3. Metode Pengumpulan Data


1. Mempersiapkan Pengelolaan Penghitungan Pajak adalah Self
Assessment System dimana otoritas pajak memberikan kewenangan
sepenuhnya kepada Wajib Pajak untuk menuntukan sendiri besarnya
Pajak yang terutang.
2. Mengidentifikasi Data Transaksi adalah Wajib Pajak dalam kondisi
transaksi yang dilakukan antara Wajib Pajak dengan pihak yang
mempunyai Hubungan Istimewa untuk diperbandingkan dengan
kondisi dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang tidak
mempunyai Hubungan Istimewa yang berupa data pembanding
internal dan eksternal..

3. Menghitung Jumlah Pajak yang harus dibayar adalah penghasilan


yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak (WP), baik yang berasal dari Indonesia maupun
dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan.

4. Mengisi Surat Pemberitahuan Pajak ( SPT ) adalah surat yang oleh


Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau
pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau
harta perpajakan.dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
5. Mengisi Surat Setoran Pajak ( SSP ) adalah bukti pembayaran atau
penyetoran pajak yang telah dilakukan oleh Wajib Pajak dengan
menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas
negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri
Keuangan .
6. Mengisi SPT dan SSP yang telah diisi secara lengkap dan benar
adalah Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPT dalam bahasa Indonesia
dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang
Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor

Direktorat Jenderal Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau


dikukuhkan.

Bab II
Tinjuan Pusaka
1. Pengertian pajak
PPh Pasal 21 adalah Pajak yang dikenakan atas penghasilan wajib
pajak orang pribadi dalam negeri , Berupa : gaji , upah , honorarium atau
Tunjangan .
PPh Pasal 23 adalah Pembayaran pajak penghasilan dalam tahun
berjalan yang dipotong atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib
pajak dalam negeri , Berasal dari : modal , penyerahan jasa , atau
penyelenggaraan kegiatan yang telah dipotong pajak .

PPh Pasal 24 adalah Pajak penghasilan kredit luar negeri yang


dilakukan dalam tahun atau digabungkan penghasilan dari luar negeri dengan
penghasilan di Indonesia .
PPh Pasal 25 adalah Pajak penghasilan dikenakan terhadap wajib
pajak dalam satu periode tertentu yang dinamakan tahun pajak .

9
2. Fungsi Pajak
1. Fungsi Budgetair
Adalah pajak sebagai suatu alat sumber untuk memasukan
uang ke kas negara sebanyaknya yang nantinya akan dipergunakan
untuk membiayai pengeluaran rutin negara .
2. Fungsi Mengatur ( regulerend )
Adalah pajak sebagai suatu alat untuk mengatur atau mencapai
tujuan tujuan tertentu yang bersifat mengatur dalam bidang sosial ,
ekonomi , budaya .
3. Fungsi Demokrasi
Adalah salah satu penjelmaan / wujud dari sistem gotong
royong merupakan kegiatan pemerintah dan pembangunan yang
bertujuan untuk menciptakan ketentraman & kedamaian pada manusia
4. Fungsi Distribusi
Adalah fungsi yang lebih menekankan pada unsur pemerataan
dan keadilan dalam masyarakat .
5. Fungsi Redistribusi Pendapatan

Adalah pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan


untuk membiayai semua kepentingan umum , termasuk juga untuk
membiayai pembangunan
10
3. Jenis Jenis Pajak
1. Pajak langsung adalah pajak yang pembayarannya dimana harus
bertanggung sendiri oleh wajib pajak dan tidak dapat atau tidak bisa dialihkan
kepada pihak lain , contoh : PPh , PBB .
2. Pajak tidak langsung adalah pajak yang pembayarannya dapat
dialihkan kepada pihak lain , contoh : pajak penjualan , PPN ( Pajak
pertambahan nilai ) , PPn BM ( Pajak penjualan atas barang mewah .
3. Pajak Negara adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat ,
contoh : PPh / pajak penghasilan , PPn / pajak pertambahan nilai , Bea
materai / pajak penjualan atas barang mewah .
4. Pajak daerah adalah pajak dipungut oleh pemerintah daerah yang
bersumber salah satu pada penerimaan pemerintah daerah yang
bersangkutan ,
contoh : pajak tontonan , pajak reklame , PKB ( Pajak kendaraan bermotor ) ,
PBB / Pajak Bumi dan Bangunan .
5. Pajak subjektif adalah pajak yang memperhatikan kondisi keadaan
wajib pajak itu sendiri dalam penentuan besarnya pajak harus ada alasan
subjektif yang berhubungan erat dalam kemampuan membayar wajib pajak /
si pembayar pajak , contoh : PPh / Pajak penghasilan .
6. Pajak objektif adalah pajak yang bernilai berdasarkan objektifitasnya
dan tanpa diperhatikannya keadaan diri sang wajib pajak , contoh : PPn /
Pajak pertambahan nilai , PBB / Pajak Bumi dan bangunan .
11

Bab III

Tinjuan umum
1. Pemahaman Pajak
Hukum pajak adalah suatu kumpulan peraturan yang mengatur
antara pemerintah sebagai pemungut pajak dan rakyat sebagai
pembayaran pajak .
Hukum pajak juga disebut hukum fisikal adalah keseluruhan
peraturan peraturan yang meliputi wewenang pemerintah untuk
mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya kepada rakyat
melalui kas negara .
Hukum pajak merupakan bagian dari hokum publik yang mengatur
hubungan hubungan hukum antara Negara dan orang orang / badan
badan ( hukum ) yang berkewajiban untuk membayar pajak tersebut .
2. Visi dan Misi Pajak
1. Visi

1. Menjadi institusi pemerintah penghimpun pajak Negara yang


terbaik di wilayah asia tenggara.
2. Menjadi lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang perpajakan
yang terdepan dalam menghasilkan SDM yang berintegritas tinggi
dan bertanggung jawab.
12

Ada dua macam Misi adalah sebagai berikut:


1. MISI UMUM
Melaksanakan pengembangan SDM pengelola di bidang perpajakan
melalui pendidikan dan pelatihan untuk mewujudkan SDM yang amanah,
profesional, berintegritas tinggi, dan bertanggung jawab.

2. MISI KHUSUS

Meningkatkan kegiatan penelitian di bidang perpajakan.


Turut serta menuntaskan reformasi birokrasi BPPK dan menjadi
lembaga pendidikan dan pelatihan dengan tata kelola yang baik.

3. Bentuk Struktual

Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak yang perlakuan


perpajakannya dipersamakan dengan subjek pajak badan ,

Negara domisili dari Wajib Pajak luar negeri selain yang menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan usaha melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia, adalah Negara tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib
Pajak luar negeri yang sebenarnya menerima manfaat dari penghasilan
tersebut (beneficial owner) ,

Pembetulan SPT menyebabkan penghasilan atas terutangnya diluar


negeri menjadi lebih kecil daripada yang dilaporkan dalam SPT tahunan ,

Perubahan besarnya penghasilan menyebabkan adanya tambahan


penghasilan yang mengakibatkan pajak yang terutangnya diluar negeri .

13

Bab IV
Prosedur
A.

Kesulitan Pajak

Wajib pajak baru menyadari kekeliruan pengisian SPT pada saat


pemeriksaan perundang undangan perpajakan , dalam penulisan dan
sesuai dengan keadaan yang sehubungan dengan kesulitan kesulitan dalam
penyampaian SPT nya .
Agar pungutan pajak dirasakan oleh masyarakat ( Wajib pajak )
maka hal hal yang seharusnya diperhatikan dalam menerapkan kebijakan
perpajakan seharusnya fiscus pajak dalam hal ini Dirjend pajak ( DJP )
memperhatikan hal hal sebagai berikut :

GOVERNMENT ( PEMERINTAH )
TAX POLICY ( KEBIJAKAN PERPAJAKAN )
TAX LAW ( UNDANG UNDANG PERPAJAKAN )
TAX ADMINISTRATION ( ADMINISTRASI PERPAJAKAN ) .

14

B. Prosedur Pajak
a. Stesel nyata ( riel stelsel )
Pengenaan pajak berdasarkan pada objek ( penghasilan
yang nyata ) , sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan
pada akhir tahun pajak , yakni setelah penghasilan yang
sesungguhnya diketahui .
b. Stesel anggapan ( fictieve stesel )

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang


diatur oleh undang undang . misalnya , penghasilan suatu
tahun dianggap sama dengan tahun sebelumnya , sehingga
pada awal tahun pajak dapat ditetapkan besarnya pajak yang
terutang untuk tahun pajak berjalan .

15
c. Stelsel campuran
Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan
stelsel anggapan . pada awal tahun , besarnya pajak dihitung
berdasarkan suatu anggapan , kemudian pada akhir tahun
besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya .
bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar dari
pada pihak menurut maka wajib pajak harus menambah .
sebaliknya , jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali .

16

Bab V
Penutup
A. Hambatan
1. Perlawanan Pasif
Masyarakat enggan ( pasif ) membayar pajak , yang dapat
disebabkan antara lain :
a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat
b. Sistem perpajakan yang ( mungkin ) sulit dipahami
masyarakat
c. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan
dengan baik .
2. Perlawanan aktif
Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang
secara langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk
menghindari pajak .
Bentuknya antara lain :
a. Tax avoidance , usaha meringankan beban pajak dengan
tidak melanggar undang undang .

b. Tax evasion , usaha meringankan beban pajak dengan cara


yang melanggar undang undang ( menggelapkan pajak ) .
17

B. Pemecahan masalah
1. Penggelapan pajak
Tindakan secara sengaja tidak melaporkan penghasilan kena pajak
dengan benar merupakan penggelapan pajak dan dan dapat diganjar
dengan sanksi perpajakan berupa sanksi pidana penjara maksimal
selama 6 tahun dan denda maksimal 4 kali jumlah pajak terutang yang
tidak atau kurang dibayar sesuai pasal 39 UU Ketentuan Umum
Perpajakan (KUP.)
Penggelapan pajak dapat dilakukan oleh orang pribadi serta
perusahaan sehingga tuduhan penyelewengan pajak perusahaan
dapat dibuktikan dan bagi orang pribadi, informasi pajak juga dapat
digunakan untuk menguji kebenaran tuduhan money laundry hingga
korupsi.

18

2. Money Laundry
Di luar negeri, pelaku tindak pidana, termasuk pelaku kejahatan pajak,
berusaha untuk mencegah agar kejahatan merereka tidak diketahui
oleh penegak hukum dan otoritas pajak. Jika seseorang ditangkap atau
dikenakan pajak atas hasil kejahatannya maka ia akan berusaha agar
hasil kejahatan tidak terlacak asal-usulnya. Demikian juga jika ia mau
menggunakan uang hasil kejahatannya, akan terdapat dilema tentang
bagaimana menggunakan sejumlah besar uang tanpa menarik
perhatian otoritas pajak.
Permasalahan inilah yang mendasari OECD di tahun 2009
menerbitkan laporan Money Laundering Awareness Handbook for Tax
Examiners and Tax Auditors yang dapat diterapkan di Indonesia

19

3. Harta dan hasil korupsi


Korupsi merupakan tindakan memperkaya diri sendiri sehingga

menambah kekayaan dari penyelenggara negara sesuai pasal 2 UU


Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Terlepas dari sanksi pidana UU
Tipikor, UU Pajak sesungguhnya mengatur sanksi atas tindak pidana
korupsi.
Berdasarkan UU Pajak Penghasilan (PPh) semua wajib pajak,
termasuk pejabat negara, wajib melaporkan seluruh penghasilan,
sesuai pasal 4 UU PPh. Penghasilan yang didapat secara tidak legal
seperti korupsi juga harus dilaporkan dan dikenakan PPh. Namun
dapat diperkirakan bahwa pelaku korupsi akan tidak melaporkan
penghasilan dari korupsi dalam SPT Tahunan PPh OP.

20

4. Tax Information Exchange Agreement


Penghasilan dan harta wajib pajak dapat disembunyikan di luar
negeri dengan menggunakan offshore bank dan kepemilikan aset.
Pemerintah Indonesia bahkan telah menandatangani Tax
Information Exchange Agreement (TIEA) yakni perjanjian perpajakan
yang dibuat berbagai negara untuk melakukan pertukaran informasi
perpajakan dengan negara lokasi pusat keuangan dimana offshore
bank banyak berada. TIEA dapat digunakan sebagai dasar untuk
membuka rekening bank tempat wajib pajak menyembunyikan

penghasilan. Selain dengan TIEA yang telah dibuat dengan Guernsey,


Isle of Man dan Bermuda, pemerintah masih dapat menggunakan
menggunakan ketentuan pertukaran informasi pajak pada Tax Treaty
untuk menghindari penggelapan pajak.

21
C. Kesimpulan
Sistem perpajakan yang lama belum dapat menggerakkan peran dari
semua lapisan subjek pajak yang besar peranannya dalam menghasilkan
penerimaan dalam negeri , yang sangat diperlukan untuk mewujudkan
pembangunan nasional . oleh karena itu , pemerintah menciptakan system
perpajakan yang baru yaitu dengan lahirnya undang undang perpajakan
baru , yang terdiri atas :

UU No. 7 tahun 1983 tentang PPh ,


UU No. 8 tahun 1983 tentang PPn dan PPn BM ,
UU No.12 tahun 1985 tentang PBB , dan
UU No.13 tahun 1985 tentang Bea materai .

22
D. Saran

1.

Agar setiap perusahaan (wajib pajak) baik yang bergerak

dibidang usaha perdagangan maupun di bidang-bidang usaha lainnya untuk


menerapkan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
ini dengan lebih baik sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas
perusahaan sekaligus membuat tax planning yang lebih baik sehingga
seluruh kewajiban perpajakan dapat dilakukan tanpa harus melanggar
ketentuan Undang-Undang Perpajakan.
2.

Terbatasnya jumlah sampel yang digunakan sangat

berpengaruh terhadap hasil penelitian dalam perusahaan (wajib pajak)


perdagangan yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak untuk periode
berikutnya . Penelitian berikutnya diharapkan dapat mengkaji dengan
menggunakan sampel sektor-sektor lain seperti sektor industry manufaktur,
sektor jasa maupun sektor perbankani sehingga diperoleh sampel yang lebih
banyak dan menghasilkan hasil penelitian yang lebih akurat.
3.

Perubahan Undang-Undang Perpajakan yang dibuat oleh

Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak diharapkan memiliki


dampak langsung pada peningkatan penerimaan pajak dan kepatuhan wajib
pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Peningkatan
penerimaan pajak ini nantinya dapat mengisi pundi-pundi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

23

E. Daftar Pustaka
Mardiasmo, Drs. MBA, Akt, 2003. Perpajakan. Edisi Revisi, Yogyakarta,
Penerbit ANDI
Sumardi, Drs., dkk, 2005, Akuntansi Biaya dan pajak. Edisi 1999, Yudistira

24

F. Daftar Riwayat Hidup


Nama Lengkap

: Yunida Embarsari

Tempat / Tanggal Lahir

: Jakarta, 30 Juni 1995

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat Lengkap

: JL. Perumahan bencongan indah

Agama

: Islam

Telepon

: 08967890105

25