Anda di halaman 1dari 3

Anak ayam yang cerdik

Di sebuah hutan, hiduplah seekor ayam betina dengan 10 ekor anaknya. dari ke10 anaknya itu, salah satunya yaitu si bungsu lahir dalam keadaan tidak normal,
dia tidak memiliki bulu di badannya. sehingga membuatnya tidak bisa terbang,
layaknya saudara-saudaranya yang lain. meski dia harus hidup cacat, namun dia
tetap disayang oleh induknya.
pada suatu hari, disaat induknya ingin pergi mencari makan ke dalam hutan.
tidak lupa dia mengajak anak-anaknya, kecuali si bungsu. karena ibu nya takut
jika dalam bahaya besar, si bungsu akan sulit untuk melarikan diri. maka dari itu
dia ditinggal dirumah. tapi, si bungsu memaksa untuk tetap ikut pergi. ibu nya
pun tak kuasa menahan keinginan anaknya. dan hingga akhirnya dia pun
diijinkan untuk ikut seperti saudara-saudaranya yang lain.
dalam perjalanan menuju hutan, banyak hal-hal aneh yang mereka rasakan.
seperti suara-suara binatang buas dari kejauhan yang seakan-akan tau
perjalanan induk ayam dan anak-anaknya tersebut. namun, mereka tetap
melanjutkan perjalanan demi mencari makanan.

"nahhhhhhhhh, sekarang kita harus melewati sungai ini". kata induknya


ketika mereka sudah sampai disebuah pinggiran sungai.
"syukurlah, sungainya dangkal dan kita semua bisa melewatinya". sambung si
sulung dengan gembiranya.
setelah melewati sungai, akhirnya mereka sampai di hutan yang begitu banyak
makanan dan buah-buahan. dengan cepat mereka memetik satu demi satu buah
apa saja yang terlihat. lamanya dihutan membuat mereka tak sadar sang
mentari sudah mulai menyembunyikan sinarnya yang kemilauan. langit berubah
gelap, tiba-tiba gemuruh mulai memamerkan keganasannya. seakan-akan
sedang mengusir sinar kemilauan sang mentari agar tidak menyaingi suara
kerasnya. hujan pun turun dengan sangat deras. segera induk ayam meminta
agar anak-anaknya berhenti dalam kesibukannya dan bergegas kembali pulang.
sesampainya dipinggiran sungai, induk ayam mulai cemas, karna dia tau air
sungai pasti akan meluap. dan ternyata dugaan nya tidak salah. air sungai
meluap dengan cepat, induk ayam dan anak-anaknya segera bersiap-siap untuk
menyeberangi sungai itu. namun, tiba-tiba tatapannya tertuju pada si bungsu,
yang tidak bisa terbang. mungkinkah dia harus ditinggal di hutan sendirian?.
"nak....terpaksa ibu tinggalkan kau dihutan dan besok ibu akan
menjemputmu kesini". pinta induk ayam dengan suara berat.
"baiklah bu, jika itu memang harus aku lakukan". jawab si bungsu. maafkan
aku bu....karna aku tidak menuruti kata ibu tadi". sambungnya dengan nada
menyesal.
"tidak apa-apa nak, ibu akan menutupi badan mu dengan bongkahan kayukayu besar itu. agar kau tidak terlihat oleh siapapun, termasuk para binatang
buas yang berkeliaran di malam hari".

setelah sibungsu ditutupi dengan bongkahan kayu-kayu besar itu. maka induk
ayam pun mengajak ke-9 anaknya untuk terbang menyeberangi sungai satu per
satu. hingga akhirnya mereka sampai dirumah.
pagi pun tiba, sang mentari kembali menyinari jagat. si bungsu masih berada di
dalam bongkahan kayu besar itu. dia kedinginan, karna semalaman dia harus
kehujanan. lewatlah seorang lelaki tua yang sedang mencari kayu bakar. tibatiba dia mendengar seperti suara seekor anak ayam yang sedang merintih.
kemudian di bukanya bongkahan kayu itu. dilihatnya seekor anak ayam yang
kurus dan tanpa bulu badan.
"beruntungnya aku, pagi hari sudah ku dapatkan ayam dihutan, ini untuk
santapan pagi ku". katanya seraya mengambil sibungsu yang kedinginan.
"tenang ayam, kau tidak akan kedinginan lagi. pagi ini aku akan membuatmu
merasa hangat didalam sebuah panci yang berisi bumbu-bumbu". sambungnya
dengan nada angkuh.
sampai dirumahnya, dia pun segera menyiapkan bahan untuk memasak.
diambilnya pisau yang akan dipakainya untuk memotong si bungsu. namun
buru-buru si bungsu berkata:
"hay pak tua, janganlah kau makan aku sekarang, apa kau tidak lihat
badanku yang kurus ini. apa tidak sebaiknya kau memotongku jika aku sudah
besar dan kau pasti akan puas dengan dagingku". pinta si bungsu merayu.
"iya...benar juga apa yang kau katakan, aku akan membesarkanmu hingga
badanmu tumbuh besar dan gemuk". jawabnya sembari menaruh kembali
sibungsu kedalam kandangnya.
setelah beberapa hari sibungsu dipelihara oleh pak tua itu, maka tiba saatnya
pak tua meminta untuk memotongnya. karna dia merasa si bungsu sudah cukup
gemuk dan layak untuk dipotong. namun ketika si bungsu akan dipotong,
kembali dia berkata: "hay pak tua, apa kau tidak lihat, meski badanku sudah
gemuk dan besar tapi aku tidak bisa terbang dengan baik. aku berharap kau
dapat mengajarkanku cara terbang dengan baik sebelum ajal menjemputku. ini
permintaanku yang terakhir pak tua, tolonglah".pintanya memelas.
"baiklah, aku akan mengajarimu, tapi ini karna aku merasa iba padamu".
maka diturutilah keinginan si bungsu, dia diajarkan bagaimana cara terbang
yang baik. hinggaa akhirnya beberapa hari kemudian si bungsu bisa terbang dan
sudah memiliki sayap yang normal seperti ayam-ayam lainnya. tiba saatnya pak
tua menagih untuk memotong si bungsu.
"kau sudah ku besarkan, dan ku ajarkan cara terbang. hingga sekarang kau
bisa terbang. sudah saatnya aku memotongmu dan menyantap daging mu yang
lezat itu".
"hay pak tua, aku berterima kasih padamu, atas semuanya. tapi apa kau
sudah puas dengan apa yang ku miliki. meski sudah berbadan gemuk dan besar,
tapi apa kau yakin jika badanku berisi penuh. menurutku hendaknya kau
melempar-lempar dulu badan ku ke atas, hingga kau merasakan beratnya
badanku".

"sungguh tidak ku tau apa yang kau katakan itu, apa memang aku harus
melemparmu dulu ke atas untuk ku tahu berat badanmu". tanya pak tua dengan
amat begonya.
"benar pak tua, kau harus mencobanya sebelum kau menyesal".
maka tanpa pikir panjang, si bungsu pun dilempar-lempar ke atas. pada
lemparan yang ke-3 dan tanpa diketahui oleh pak tua, si bungsu sudah siap
mengepakkan sayapnya. dan tanpa menoleh lagi terbanglah dia nan jauh. pak
tua hanya bisa bengong keheranan melihat si bungsu sudah berada dikejauhan,
dan sudah tak terlihat lagi. dia tidak dapat melakukan apa-apa, hilang sudah
impiannya untuk makan daging ayam yang lezat. betapa begonya pak tua itu,
merasa dikibuli oleh seekor anak ayam.
kembali pada si bungsu, dia sudah jauh dan kembali pulang menuju rumahnya.
hingga akhirnya bertemu dengan ibu dan saudara-saudaranya. tak lupa dia
bersyukur dan berterima kasih pada Hyang Widhi, karna dapat meloloskan diri.
akalnya yang cerdik, membuatnya jauh menemui ajal.