Anda di halaman 1dari 12

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

ASPEK LEGAL DAN ETIK KEPERAWATAN CRITICAL CARE


V. Nurhayati
HIPERCCI JATENG/ RS Panti Wilasa Dr Cipto

DESKRIPSI SINGKAT
Kode

etik

merupakan

persyaratan

profesi

yang

memberikan

penentuan

dalam

mempertahankan dan meningkatkan standar profesi. Kode etik menunjukan bahwa tanggung
jawab terhadap kepercayaan masyarakat telah diterima oleh profesi (Kelly, 1987). Jika
anggota profesi melakukan suatu pelanggaran terhadap kode etik tersebut, maka pihak
organisasi berhak memberikan sanksi bahkan bisa mengeluarkan pihak tersebut dari
organisasi tersebut. Dalam keperawatan kode etik tersebut bertujuan sebagai penghubung
antara perawat dengan tenaga medis, klien, dan tenaga kesehatan lainnya, sehingga tercipta
kolaborasi yang maksimal.
Perawat professional tentu saja memahami kode etik atau aturan yang harus dilakukan,
sehingga dalam melakukan suatu tindakan keperawatan mampu berpikir kritis untuk
memberikan pelayanan asuhan keperawatan sesuai prosedur yang benar tanpa ada kelalaian.
Namun mengapa masih banyak terjadi berbagai bentuk kelalaian tanpa tanggung jawab dan
tanggung gugat? Hal ini dikarenakan oleh kurangnya pengetahuan perawat dalam memahami
kode etik itu sendiri. Sehingga tindakan yang dilakukan adakalanya akan berdampak pada
keselamatan pasien. Oleh sebab itu, banyak perawat dimata masyarakat di anggap kurang
berpotensi dalam melakukan asuhan keperawatan yang pada akhirnya berdampak pada
persepsi masyarakat pada seluruh tenaga keperawatan. Oleh karena itu, sebagai calon perawat
maupun para perawat harus mampu memahami dengan baik dan benar tentang kode etik dan
salah satu kuncinya yaitu banyak membaca dan memahami pentingnya keselamatan pasien
sehingga keinginan untuk mempelajari kode etik sebagai landasan tindakan bisa lebih
bermanfaat.

KONSEP LEGAL
1. Pengertian Legal
Aspek aturan Keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup
wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan pelayanan, termasuk hak dan
kewajibannya yang diatur dalam undang-undang keperawatan.
47

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

Keterkaitan dengan legal formal dalam memberikan pelayanan keperawatan kritis


Keterkaitan dengan kebijakan yang memberikan jaminan hukum terhadap pelayanan
keperawatan kritis, seperti: UU Kes, PERMENKES dan peraturan lainnya

2. Maksud dan Tujuan


a. Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang sesuai
dengan hukum
b. Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain
c. Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri
d. Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan posisi
perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.
e. Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang, perawat berwenang
melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan yang ditujukan untuk
penyelamatan jiwa.

3. Penerapan legal dalam area critical care


Aspek legal Keperawatan pada kewenangan formalnya adalah izin yang memberikan
kewenangan kepada penerimanya untuk melakukan praktik profesi perawat yaitu Surat
Tanda Registrasi (STR) bila bekerja di dalam suatu institusi.
Kewenangan itu, hanya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan, namun
memiliki kemampuan tidak berarti memiliki kewenangan. Seperti juga kemampuan yang
didapat secara berjenjang, kewenangan yang diberikan juga berjenjang.
Kompetensi dalam keperawatan berarti kemampuan khusus perawat dalam bidang
tertentu yang memiliki tingkat minimal yang harus dilampaui.
Dalam profesi kesehatan hanya kewenangan yang bersifat umum saja yang diatur oleh
Departemen Kesehatan sebagai penguasa segala keprofesian di bidang kesehatan dan
kedokteran.
Sementara itu, kewenangan yang bersifat khusus dalam arti tindakan kedokteran atau
kesehatan tertentu diserahkan kepada profesi masing-masing.
a. Fungsi Hukum dalm Praktik Perawat

Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan mana yang


sesuai dengan hukum

Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain


48

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan keperawatan mandiri

Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan meletakkan


posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.

b. Kepmenkes 1239/2001 Tentang Praktik Keperawatan pasal 15 dan 16

Melakukan asuhan keperawatan meliputi Pengkajian, penetapan diagnosa


keperawatan, perencanaan, melaksanakan tindakan dan evaluasi.

Pelayanan tindakan medik hanya dapat dilakukan atas permintaan tertulis dokter

Dalam melaksanakan kewenangan perawat berkewajiban :


Menghormati hak pasien
Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
Menyimpan rahasia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku
Memberikan informasi
Meminta persetujuan tindakan yang dilakukan
Melakukan catatan perawatan dengan baik

c. Larangan

Perawat dilarang menjalankan praktik selain yang tercantum dalam izin dan
melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi

d. Sanksi: sesuai dengan kebijakan pimpinan rumah sakit

e. Hak dan Kewajiban Perawat


Aspek Legal Keperawatan juga meliputu Kewajiban dan hak Perawat :
1) Kewajiban:
Setiap perawat wajib mempunyai:
- Sertifikat kompetensi
- Surat Tanda Registrasi
- Surat ijin Praktek (SIP)
- Memperbaharui sertifikat kompetensi
Menghormati hak pasien
Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani
49

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

Menyimpan

rahasia

pasien

sesuai

dengan

aturan undang-undang

keperawatan
Wajib memberikan informasi kepada pasien sesuai dengan kewenangan
Meminta persetujuan setiap tindakan yg akan dilakukan perawat sesuai dgn
kondisi pasien baik secara tertulis.
Mencatat semua tindakan keperawatan secara akurat sesuai peraturan dan SOP
yang berlaku
Memakai

standar

profesi

dan kode

etik

perawat Indonesia

dalam

melaksanakan praktik
Meningkatkan pengetahuan berdasarkan IPTEK
Melakukan pertolongan darurat yang mengancam jiwa sesuai dengan
kewenangan
Melaksanakan program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat
Mentaati semua peraturan perundang-undangan
Menjaga hubungan kerja yang baik antara sesama perawat maupun dgn
anggota tim kesehatan lainnya.

2) Hak-Hak Perawat
Hak mengendalikan praktik keperawatan sesuai yang diatur oleh hukum.
Hak mendapat upah yang layak.
Hak bekerja di lingkungan yang baik
Hak terhadap pengembangan profesional.
Hak menyusun standar praktik dan pendidikan keperawatan.

KONSEP ETIK

1. Pengertian Etik
Etik adalah sistem nilai pribadi yang digunakan untuk memutuskan apa yang benar atau
apa yang paling tepat, memutuskan apa yang konsisten dengan sistem nilai yang ada
dalam organisasi dan diri pribadi.
50

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

Etik merupakan prinsip yang menyangkut benar atau salah dan tindakan apa yang akan
dilakukan. Etika Keperawatan merefleksikan bagaimana seharusnya perawat berprilaku,
apa yang harus dilakukan perawat terhadap kliennya dalam memberikan pelayanan
keperawatan kritis.

2. Maksud dan Tujuan Aspek Etik dalam Crritical Care


Secara umum, tujuan kode etik keperawatan adalah sebagai berikut (kozier, Erb. 1990):
a. Sebagai aturan dasar terhadap hubungan perawat dengan perawat, pasien, dan anggota
tenaga kesehatan lainnya.
b. Sebagai standar dasar untuk mengeluarkan perawat jika terdapat perawat yang
melakukan pelanggaran berkaitan kode etik dan untuk membantu perawat yang
tertuduh suatu permasalahan secara tidak adil.
c. Sebagai dasar pengembangan kurikulum pendidikan keperawatan dan untuk
mengorientasikan lulusan keperawatan dalam memasuki jajaran praktik keperawatan
profesional.
d. Membantu masyarakat dalam memahami perilaku keperawatan profesional

3. Penerapan pengetahuan etik di area critical care


Terdapat delapan asas etik dalam keperawatan yaitu
a. Autonomi (otonomy)
Yaitu menghormati keputusan pasien untuk menentukan nasibnya, dalam hal ini
setiap keputusan medis ataupun keperawatan harus memperoleh persetujuan dari
pasien atau keluarga terdekat. Dengan mengikuti prinsip autonomi berarti menghargai
pasien untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan keunikan individu secara
holistik.
b. Non maleficence (tidak merugikan)
yaitu keharusan untuk menghindari berbuat yang merugikan pasien, setiap tindakan
medis dan keperawatan tidak boleh memperburuk keadaan pasien. Berarti tindakan
yang dilakukan tidak menyebabkan bahaya bagi pasien, bahaya disini dapat berarti
dengan sengaja membahayakan, resiko membahayakan dan bahaya yang tidak
disengaja

51

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

c. Beneficence ( kemurahan hati)


yaitu keharusan untuk berbuat baik kepada pasien, setiap tindakan medis dan
keperawatan harus ditujukan untuk kebaikan pasien. Berarti melakukan yang baik
yaitu mengimplementasikan tindakan yang menguntungkan pasien dan keluarga
d. Justice (perlakuan adil)
yaitu sikap dan tindakan medis dan keperawatan harus bersifat adil, dokter dan
perawat harus menggunakan rasa keadilan apabila akan melakukan tindakan kepada
pasien
e. Fidelity (setia, menepati janji ),
Berarti setia terhadap kesepakatan dan tanggung jawab yang dimiliki oleh
seseorang.Kesetiaan berkaitan dengan kewajiban untuk selalu setia pada kesepakatan
dan tanggung jawab yang telah dibuat . Setiap tenaga keperawatan mempunyai
tanggung jawab asuhan keperawatan kepada individu, pemberi kerja, pemerintah dan
masyarakat.
Apabila terdapat konflik diantara berbagai tanggungjawab, maka diperlukan
penentuan prioritas sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
f.

Veracity (kebenaran, kejujuran),


Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban perawat untuk mengatakan suatu kebenaran,
tidak berbohong atau menipu orang lain. Kejujuran adalah landasan untuk informed
concent yang baik. Perawat

harus dapat menyingkap semua informasi yang

diperlukan oleh pasien maupun keluarganya sebelum mereka membuat keputusan.


g. Confidenciality ( kerahasiahan )
Prinsip ini berkaitan dengan penghargaan perawat terhadap semua informasi tentang
pasien/klien yang dirawatnya. Pasien/klien harus dapat menerima bahwa informasi
yang diberikan kepada tenaga profesional kesehatan akan dihargai dan tidak
disampaikan/ diberbagikan kepada pihak lain secara tidak tepat.

Perlu dipahami

bahwa berbagi informasi tentang pasien/klien dengan anggota kesehatan lain yang
ikut merawat pasien tersebut bukan merupakan pembeberan rahasia selama informasi
tersebut relevan dengan kasus yang ditangani
h. Accountability ( akuntabilitas )
Dalam menerapkan prinsip etik, apakah keputusan ini mencegah konsekwensi bahaya,
apakah tindakan ini bermanfaat, apakah keputusan ini adil, karena dalam pelayanan
kesehatan petugas dalam hal ini dokter dan perawat tidak boleh membeda-bedakan
52

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

pasien dari status sosialnya, tetapi melihat dari penting atau tidaknya pemberian
tindakan tersebut pada pasien.
Hak-hak pasien haruslah dihargai dan dilindungi, hak-hak tersebut menyangkut
kehidupan, kebahagiaan, kebebasan, privacy, self determination, perlakuan adil dan
integritas diri. Dilema moral masih mungkin terjadi apabila prinsip moral otonomi
dihadapkan dengan prinsip moral lainnya, atau apabila prinsip beneficence
dihadapkan dengan non maleficence, misalnya apabila keinginan pasien (otonomi)
ternyata bertentangan dengan dengan beneficence atau non maleficence, atau bisa saja
apabila sesuatu tindakan mengandung beneficence dan nonmaleficence terjadi secara
bersamaan sepeti Rule of Double Effect (RDE) yaitu apabila suatu tindakan untuk
memberikan kenyamanan berdasarkan prinsip beneficence tetapi sekaligus memiliki
resiko terjadinya perburukan sehingga berlawanan dengan prinsip nonmaleficence.
Contoh: pemberian morphin sulfat untuk mengendalikan rasa nyeri hebat yang terjadi
pada pasien penderita cancer stadium akhir yang beresiko akan memberikan efek
depresan yang dapat menekan pusat pernafasan pasien.

Dalam keadaan RDE biasanya dikenal 4 elemen yang harus dipenuhi yaitu:
1. Sifat tindakan haruslah baik atau setidaknya netral
2. Niat tindakan adalah untuk tujuan baik, dampak buruk boleh saja telah dapat
dibayangkan tetapi harus bukan diniatkan.
3. Dampak buruk haruslah bukan cara untuk mencapai tujuan baik
4. Dampak baik harus melebihi dampak buruk

INFORMED CONSENT
Definisi : informed consent adalah pernyataan sepihak dari orang yang berhak (pasien,
keluarga atau walinya) yang isinya berup ijin atau persetujuan kepada dokter untuk
melakukan tindakan medis sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya.
Informed consent adalah suatu proses komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien dan
bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap
pasien. Bila dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua fihak,
melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290 / MENKES / PER / IX /2008
tentang Persetujuan Tindakan Medis.
53

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

Informed consent perlu diberikan karena tidak semua kejadian dalam pengobatan
berlangsung seperti yang diharapakan, tidak ada kepastian dan jaminan yang pasti dalam
dunia kedokteran karena setiap kasus bagaikan teori permutasi kombinasi, latar belakang
setiap orang tidak sama, riwayat kesehatan berbeda, derajat pengobatan yang diberikan juga
tidak sama serta reaksi tubuh terhadap respon pengobatan juga bebeda

Tiga Element Informed Consent


1. Threshold Element
Elemen ini sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang
kompeten (mampu). Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat
keputusan medis. Kompetensi manusia untuk membuat keputusan sebenarnya
merupakan suatu

kontinuum, dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga

memiliki kompetensi yang penuh. Diantaranya terdapat berbagai tingkat kompetensi


membuat keputusan tertent. Secara hukum seseorang dianggap kompeten apabila
memenuhi kriteria antara lain telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang
tidak di bawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun atau
telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah
apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa sehingga kemampuan membuat
keputusan menjadi terganggu.
2. Information Elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, disclosure (pengungkapan) dan understanding
(pemahaman). Dalam hal ini, seberapa baik informasi harus diberikan kepada
pasien,dapat dilihat dari 3 standar yaitu :
a. Standar Praktik Profesi.
Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria ke-adekuat-an informasi
ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas tenaga keperawatan.
Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut di atas tidak sesuai
dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya resiko yang tidak bermakna (menurut
medis) tidak diinformasikan, padahal mungkin bermakna dari sisi sosial pasien.
b. Standar Subyektif
Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut oleh pasien secara
pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut
dalam

membuat

keputusan.

Kesulitannya
54

adalah

mustahil

(dalam

hal

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

waktu/kesempatan) bagi profesional medis memahami nilai-nilai yang secara


individual dianut oleh pasien.
c. Standar pada reasonable person
Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu
dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan
umumnya orang awam.
3. Consent Elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu, voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan
authorization

(persetujuan).

Kesukarelaan

mengharuskan

tidak

ada

tipuan,

misrepresentasi ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang dilakukan
tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan dibiarkan apabila tidak menyetujui
tawarannya.
Informed consent harus meliputi :
1. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai diagnosa, tindakan, terapi dan
penyakitnya
2. Pasien harus diberitahu tentang hasil terapi yang diharapkan dan seberapa besar
kemungkinan keberhasilannya
3. Pasien harus diberitahu mengenai beberapa alternatif yang ada dan akibat apabila
penyakit tidak diobati
4. Pasien harus diberitahu mengenai risiko apabila menerima atau menolak terapi,
disertai upaya antisipasi yang dilakukan untuk menghindari resiko tersebut. Risiko
yang harus disampaikan meliputi efek samping yang mungkin terjadi dalam
penggunaan obat atau tindakan pemeriksaan dan operasi yang dilakukan.
5. Biaya yang menyangkut tindakan tersebut walaupun tidak selalu diutamakan
Pasien juga berhak untuk mengetahui semua prognosa, komplikasi, sekuele, ketidak
nyamanan, kesulitan yang mungkin dalami dengan adanya tindakan tersebut.

Masalah yang ditemukan dalam proses informed consent


1. Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis
2. Perilaku dokter yang terburu-buru atau tidak perhatian atau tidak ada waktu untuk
tanya-jawab
3. Pasien sedang dalam keadaan stres emosional sehingga tidak mampu mencerna
informasi
55

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

4. Pasien dalam keadaan tidak sadar/ mengamuk

DILEMA ETIK
a. Pulang Paksa
Pulang paksa adalah istilah yang digunakan apabila pasien tidak mau lagi melanjutkan
/menjalani rawat inap lebih lama dan minta dipulangkan , tetapi secara medis belum
cukup stabil untuk menjalani perawatan dirumah
Penyebab pulang paksa antara lain:
1.

Pasien tidak mengerti kmengapa walaupun dirinya sudah menjalani perawatan


tetapi belum juga sembuh atau merasa belum ada perbaikan sehingga merasa
tidak menjaani perawatanpun tidak ada pengaruhnya, dalam hal ini ada beberapa
faktor yang mempengaruhi antara lain: penjelasan dokter yang tidak jelas
sehingga tidak dipahami pasien, tingkat pendidikan, budaya (sebagian masih
menganggap pengobatan alternatif lebih baik)

2.

Pasien tidak merasa nyaman dirawat yang dapat dipengaruhi oleh suasana,
keadaan ruangan, makanan, teman satu ruangan (pasien lain).

3.

Pelayanan dinilai kurang baik, perlakuan tenaga kesehatan dalam hal ini dokter
dan perawat yang dianggap kurang simpatik.

4.

Keterbatasan finansial (biaya) atau keinginan dirawat ditempat yang lebih


bergengsi (pada pasien golongan atas)

5.

Ada kepentingan pribadi yang dinilai lebih berharga daripada menjalani rawat
inap

b. DO NOT RESUSCITATE (DNR): WITH HOLDING/ WITH DRAWAL


With holding adalah menunda terapi atau bantuan hidup pada pasien yang dianggap
sudah tidak punya harapan hidup lagi, sedangkan with drawal artinya menghentikan
bantuan hidup pada pasien yang biasanya terpasang alat bantu penunjang kehidupan
seperti ventilasi mekanik, alat pacu jantung, dll. Baik with holding maupun with drawing
dilakukan pada pasien yang secara medis tidak punya harapan hidup lagi. Keputusan
melakukan ini harus dikomunikasikan dengan keluarga setelah team medis
mendiskusikannya dengan team lain.

56

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

c. EUTHANASIA
Kematian pada umumnya disepakati sebagai berhentinya kehidupan, meninggal dunia
adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli kedokteran yang berwenang bahwa fungsi
otak, pernafasan dan atau denyut jantung seseorang telah berhenti
Kematian sebenarnya bukanlah suatu titik waktu, melainkan merupakan suatu tahapan
waktu, dimulai dari kematian klinis, kemudian kematian otak, kematian biologis dan
akhirnya kematian seluler. Pada kematian klinis ditemukan berhentinya fungsi
kardiovaskuler dan pernafasan, yang kemudian akan diikuti oleh kematian otak, kecuali
apabila dilakukan resusitasi dan berhasil. Otak tidak dapat hidup lagi dalam waktu 6
sampai 10 menit tanpa oksigen. Kematian otak juga bertahap, biasanya dimulai pada
korteks serebri, kemudian disusul oleh serebelum (otak kecil) dan diakhiri dengan
kematian batang otak. Apabila terjadi kematian korteks serebri tanpa kematian pusat
sirkulasi dan pernafasan, maka terjadilah keadaan ketidaksadaran yang permanen, tetapi
kardiovaskuler dan pernafasan masih tetap berfungsi (persistent vegetative state).
Setelah semua bagian otak berhenti bekerja maka terjadilah kematian biologis, suatu
kematian yang permanen. Selanjutnya dimulailah kematian seluler, yang berbeda-beda
waktunya bagi masing-masing jenis jaringan.
kapankah seseorang dapat dinyatakan mati, apa kriterianya dan bagaimana prosedur
penentuannya. Ketika pasien belum dapat dinyatakan mati, dokter melakukan tindakan
secara aktif menghentikan kehidupannya, maka ia dapat dinyatakan sebagai melakukan
pembunuhan. Sebaliknya apabila pasien sudah dapat dinyatakan mati, tetapi dokter
masih melakukan tindakan terapetik maka ia dapat dinyatakan melanggar profesi karena
melakukan tindakan medik pada mayat.
Pengakuan atas hak otonomi pasien sedemikian kuat, sehingga tidak hanya hak hidup,
hak atas informasi dan hak memperoleh layanan yang layak saja yang dituntut,
melainkan juga hak untuk mati secara bermartabat.

57

Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Intensif Komprehensif

DAFTAR PUSTAKA

Hegner, Barbara R.2003. Nursing Assistant: a Nursing Proses Approach. Jakarta: EGC.
http://ppnikabupatenbanjar.wordpress.com/2011/03/30/kode-etik-dalam-keperawatanindonesia_/20/12/2011_09.01
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1239/MENKES/SK/XI/2001
Tentang Praktik Keperawatan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290 / MENKES / PER / IX /2008
tentang Persetujuan Tindakan Medis.

58