Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kemiskinan seakan menjadi sebuah kata yang akrab di telinga bangsa
Indonesia. Lahir dan hidup menjadi miskin pasti bukan mimpi siapapun.
Kebutuhan yang semakin banyak, harga-harga yang semakin melambung
tinggi serta sulitnya mendapat pekerjaan dan upah yang tidak sesuai dengan
pekerjaan menjelma menjadi permasalahan utama yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari. Kondisi yang sulit khususnya bagi mereka yang tidak
memiliki kemampuan untuk berkembang dikarenakan tidak adanya dukungan
keahlian. Ironisnya tidak hanya orang dewasa yang merasakan dampak dari
kemiskinan ini, anak-anak pun ikut merasakan dampaknya dalam hal
pemenuhan kebutuhan dasar di keluarga mereka. Kemiskinan yang melanda
orang tua mereka akan berpengaruh besar pada kehidupan anak-anak, dan
hak-hak mereka menjadi terampas. Mereka yang seharusnya mendapatkan
pendidikan dan kehidupan yang layak serta masa kecil yang bahagia, terpaksa
harus berkorban demi satu alasan, yaitu ekonomi. Jika melihat lebih jauh
fenomena kemiskinan di depan mata, kita dapat melihat bahwa semakin
banyak anak usia sekolah atau bahkan pada tingkatan usia balita yang sudah
harus berjuang hidup di jalanan sebagai dampak dari kemiskinan akhir-akhir
ini. Juga hampir bisa dipastikan, masa depan mereka akan terenggut
karenanya.
Kemiskinan yang terjadi di Indonesia lebih mengacu kepada keadaan
berupa kekurangan hal-hal yang berkaitan terhadap pemenuhan kebutuhan
yang bersifat primer, seperti sandang, pangan dan papan pada lingkungan
keluarga. Masalah kemiskinan ini mempengaruhi banyak hal, diantaranya
pengangguran, tingkat kesejahteraan masyarakat dan perilaku social pada
remaja. Bukan hal baru lagi jika kita melihat anak-anak usia sekolah atau
bahkan usia prasekolah harus berjuang hidup di jalan-jalan lalu lintas di
Indonesia. Tidak jarang diantara anak-anak tersebut terpaksa putus sekolah.
Semua itu mereka lakukan atas alasan ekonomi, demi membantu orang tua
1

mereka atau dengan alasan lingkungan keluarga yang tidak harmonis (broken
home). Hal ini sangatlah memprihatinkan, karena kemiskinan yang menimpa
anak-anak

akan

perkembangan

menyebabkan
anak-anak

itu

kerusakan
sendiri

jangka

baik

panjang

secara

fisik

terhadap
maupun

psikis(kejiwaan). Keadaan ini lah yang terkadang menjadikan remaja enggan


untuk tinggal di rumah dan menggelandang di jalanan yang dampak buruknya
adalah pergaulan yang melenceng dari norma-norma yang berlaku sehingga
memungkinkan remaja-remaja tersebut untuk melakukan tindak kejahatan
seperti mencuri, merampok, memeras bahkan membunuh. Berdasarkan latar
belakang tersebut dapat diketahui bahwa remaja dapat melakukan kenakalan
bahkan melakukan tindakan kriminal yang merugikan orang lain bahkan
menimbulkan korban jiwa. Salah satu alasan mendasar terjadinya hal tersebut
karena masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju ke
masa dewasa. Dalam masa ini, remaja mulai memiliki interaksi secara aktif
dan mulai mencerna nilai-nilai yang berasal dari luar lingkungan keluarganya.
Dapat dikatakan bahwa ketika seseorang mendapatkan nilai yang berasal dari
lingkungan keluarga dan mulai mendapatkan nilai-nilai baru yang berasal dari
lingkungan luar seperti sekolah, teman sebaya dan lingkungan sosial, maka
seseorang tersebut akan mengalami kondisi yang tidak seimbang. Kondisi
yang tidak seimbang tersebut mengakibatkan remaja mengalami kebingungan
tentang seperti apa perilaku, sikap, nilai, aturan dan aspek lainnya yang
seharusnya dilakukan oleh dirinya, atau yang biasa disebut sebagai proses
pencarian jati diri. Sehingga masa remaja menjadi masa yang penting dalam
perkembangan individu serta melibatkan banyak pihak dalam proses tersebut.
Sebagai makhluk sosial, manusia sangatlah bergantung dengan orang lain.
Oleh karena itu kemampuan adaptasi remaja dalam menginternalisasi nilainilai yang didapatnya dari lingkungan sosial, dan lingkungan keluarga
menjadi sebuah nilai dirinya sendiri sangatlah diperlukan untuk dapat
diterima dalam masyarakat. Namun pada kenyataannya, banyak remaja yang
justru melakukan kenakalan dan tindak kriminalitas dimana hal tersebut
melanggar norma sosial dan norma hukum yang berlaku. Hal tersebut
dibuktikan dengan meningkatnya angka kasus kriminalitas oleh remaja tiap

tahunnya menurut data badan pusat statistik Indonesia. Data tersebut


menunjukkan peningkatan dari segi kuantitas dari tahun 2007 yang tercatat
sekitar 3100 orang remaja yang terlibat dalam kasus kriminalitas, serta pada
tahun 2008 dan 2009 yang meningkat menjadi 3.300 dan sekitar 4.200
remaja. (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2010).
Banyaknya perilaku kenakalan dan kriminalitas remaja tersebut tentunya
membuat banyak pihak yang menyayangkan hal tersebut karena masa depan
bangsa ada di tangan generasi muda. Sehingga dalam hal ini sangat penting
untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebab perilaku kenakalan
dan kriminalitas remaja agar dapat dilakukan tindakan preventif yang dapat
dilakukan untuk meminimalisir kenakalan dan tindakan kriminal yang
dilakukan oleh remaja. Karena sangat disayangkan apabila generasi muda
yang seharusnya meneruskan perjuangan bangsa Indonesia justru melakukan
kenakalan dan terlibat dalam tindakan kriminal yang merugikan dirinya
sendiri dan orang lain.
Dengan memperhatikan uraian tersebut di atas, penulis bermaksud
melakukan penelitian tentang Analisa Kriminalitas Pengamen dan
Kaitannya dengan Kenakalan Remaja.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar Belakang Masalah tersebut diatas, maka penulis
mengemukakan Rumusan Masalah di dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya tindakan kriminal
pada remaja, dalam hal ini pengamen?
2. Bagaimanakah upaya penanggulangan tindakan kriminal pada remaja?

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Kriminologi


Kriminologi

merupakan

ilmu

pengatahuan

yang

mempelajari

kejahatan dari berbagai aspek. Nama kriminologi pertama kali dikemukakan


oleh P. Topinard (1830-1911), seorang ahli antropologi perancis.
Kriminologi terdiri dari dua kata yakni kata crime yang berarti
kejahatan dan logos yang berarti ilmu pengetahuan, maka kriminologi
adalah ilmu tentang kejahatan (A.S.Alam dan Amir Ilyas 2010:1).
Pengertian kriminologi (Hari Saherodji, 1980:9) yaitu:
Mengandung pengertian yang sangat luas, dikatakan demikian, karena
dalam mempelajari kejahatan tidak dapat lepas dari pengaruh dan sudut
pandang. Ada yang memandang kriminologi dari sudut perilaku yang
menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Beberapa sarjana memberikan pengertian yang berbeda mengenai
kriminologi ini. Diantaranya adalah:
Bonger (Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, 2010 : 10),
memberikan definisi kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan
menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya. Melalui definisi ini, Bonger
membagi kriminologi ini menjadi kriminologi murni yang mencakup :
4

1.

Antropologi kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang manusia yang


jahat dilihat dari segi biologisnya yang merupakan bagian dari ilmu
alam,

2.

Sosiologi criminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang kejahatan sebagai


gejala sosial. Pokok perhatiannya adalah seberapa jauh pengaruh
sosial bagi timbulnya kejahatan (etiologi sosial),

3.

Psikologi kriminal, yaitu ilmu pengetahuan tentang kejahatan


dipandang dari aspek psikologis. Penelitian tentang aspek kejiwaan
dari

pelaku

kejahatan

antara

lain

ditujukan

pada

aspek

kepribadiannya,
4.

Psipatologi

criminal

dan

neuropatologi

kriminal,

yaitu

ilmu

pengetahuan tentang kejahatan yang sakit jiwa atau sakit sarafnya,


atau lebih dikenal dengan istilah psikiatri, dan
5.

Penologi, yaitu ilmu pengetahuan tentang tumbuh berkembangnya


penghukuman, arti penghukuman, dan manfaat penghukuman. Di
samping itu terdapat kriminologi terapan berupa :
a.

Hygiene kriminal, yaitu usaha yang bertujuan untuk mencengah


terjadinya kejahatan.

b.

Politik criminal, yaitu usaha penanggulangan kejahatan dimana


suatu kejahatan telah terjadi.

c.

Kriminalistik (policie scientific), yaitu ilmu tentang pelaksanaan


penyidikan teknik kejahatan dan pengusutan kejahatan.

Bonger, dalam analisanya terhadap masalah kejahatan, lebih


mempergunakan pendekatan sosiologis, misalnya analisa tentang hubungan
antara kejahatan dengan kemiskinan.
Sutherland (Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, 2010:11)
merumuskan kriminologi sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan yang
bertalian dengan perbuatan jahat sebagai gejala sosial (The body of
knowledge regarding crime as a sosial phenomenon). Menurut Sutherland,

kriminologi mencakup proses-proses pembuatan hukum, pelanggaran


hukum dan reaksi atas pelanggaran hukum. Kriminologi olehnya dibagi
menjadi tiga cabang ilmu utama yaitu :
1.

Sosiologi hukum
Kejahatan itu adalah perbuatan yang oleh hukum dilarang dan
diancam dengan suatu sanksi. Jadi yang menentukan bahwa suatu
perbuatan itu adalah kejahatan adalah hukum. Di sini menyelidiki
faktor-faktor

apa

yang

menyebabkan

perkembangan

hukum

(khususnya hukum pidana).


2.

Etiologi kejahatan
Merupakan cabang ilmu kriminologis yang mencari sebab
musabab dari kejahatan. Dalam kriminologis, etiologi kejahatan
merupakan kejahatan paling utama.

3.

Penology
Pada dasarnya ilmu tentang hukuman, akan tetapi Sutherland
memasukkan hak-hak yang berhubungan dengan usaha pengendalian
kejahatan represif maupun preventif.
Menurut Edwin H. Sutherland (A.S. Alam Amir 2010) kriminologi

adalah criminology is the body of knowledge regarding delinquency and


crime as social phenomena (kriminologi adalah kumpulan pengetahuan
yang membahas kenakalan remaja dan kejahatan sebagai gejala sosial)
Moeljatno (1986 : 3) mengemukakan bahwa kriminlogi adalah
sebagai suatu istilah global atau umum suatu lapangan ilmu pengetahuan
yang sedemikian rupa dan beraneka ragam, sehingga tidak mungkin
dikuasai oleh seorang ahli saja
Sedangkan menurut Wilhelm Saver (Moeljatno, 1986 :3) bahwa :

Kriminologi merupakan ilmu pengetahuan tentang kejahatan yang


dilakukan oleh individu dan bangsa-bangsa yang berbudaya, sehingga objek
penelitian kriminologi ada dua, yaitu :1. Perbuatan individu (Tat Und Tater),
2.Perbuatan kejahatan.
Van bammelen (Moeljatno 1986: 3) mengatakan bahwa Kriminologi
mempelajari interaksi yang ada antara kejahatan dengan perwujudan lain
dari kehidupan masyarakat, maka kriminologi merupakan bagian dari ilmu
tentang kehidupan masyarakat, yaitu ilmu sosiologi dan ilmu biologi, karena
manusia adalah mahluk hidup.
Menurut ahli U.S.A: Thorsten Sellin (Moeljatno, 1986:3), istilah
criminology di U.S.A dipakai untuk menggambarkan ilmu tentang penjahat
dan cara penanggulanginya (treatment).
Kita melihat pendapat ahli U.S.A lain Sutherland (Moeljatno 1986:4)
yang beranggapan bahwa kriminologi sebagai keseluruhan ilmu-ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan kejahatan sebagai suatu gejala
masyarakat (social). Ilmu meliputi:
1.

Cara proses pembuatan undang-undang,

2.

Pelanggaran terhadap undang-undang dan

3.

Reaksi

terhadap

pelanggaran-pelanggaran

ini,

hal-hal

mana

merupakan 3 segi pandangan (aspek) dari suatu rangkaian hubungan


timbal balik yang sedikit banyak merupakan suatu kesatuan.
Menurut Moeljatno, (1986:6) menyatakan bahwa kriminologi
merupakan ilmu pengetahuan tentang kejahatan dan kelakuan jelek dan
tentang orangnya yang tersangkut pada kejahatan dan kelakuan jelek itu.
Berdasarkan uraian singkat di atas ditarik suatu pemikiran, bahwa
kriminologi adalah bidang ilmu yang cukup penting dipelajari karena
dengan adanya kriminologi, dapat dipergunakan sebagai kontrol sosial
terhadap kebijakan dan pelaksanaan hukum pidana. Munculnya lembagalembaga kriminologi di beberapa perguruan tinggi sangat diharapkan dapat

memberikan sumbangan-sumbangan dan ide-ide yang dapat dipergunakan


untuk mengembangkan kriminologi sebagai science for welfare of society.
Dengan kata lain, kriminologi adalah salah satu cabang ilmu yang
diajarkan dalam bidang ilmu hukum. Jika diklasifikasikan, kriminologi
merupakan bagian dari ilmu sosial, akan tetapi kriminologi tidak bisa
dipisahkan dengan bidang ilmu hukum, khsususnya hukum pidana.
Kriminologi merupakan bagian dari kurikulum program studi ilmu
hukum Karena berdasarkan symposium international society of riminology,
kriminologi perlu diajarkan bagi sekolah tinggi hukum atau bagi aparat
penegak hukum.
Wolfgang, Savitz dan Jonhston (Topo Santoso dan Eva Achjani ulfa,
2001:12), dalam The Sociology of Crime and Delinquency memberikan
definisi kriminologi sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang kejahatan
yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengertian tentang dua
puluh gejala kejahatan dengan jalan mempelajari dan menganalisa secara
ilmiah keterangan-keterangan, keseragaman- keseragaman, pola-pola, dan
faktor-faktor kausal yang berhubungan dengan kejahatan, pelaku kejahatan
serta reaksi masyarakat terhadap keduanya. Jadi obyek studi kriminologi
melingkupi :
a.

Perbuatan yang disebut sebagai kejahatan.

b.

Pelaku kejahatan.

c.

Reaksi masyarakat yang ditujukan baik terhadap perbuatan maupun


terhadap pelakunya.

Ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan. Suatu perbuatan baru dapat


dikatakan sebagai kejahatan bila ia mendapat reaksi dari masyarakat.
Kriminologi secara spesifik mempelajari kejahatan dari segala sudut
pandang, namun lebih khusus kejahatan yang diatur dalam undang- undang
(selanjutnya UU). Pelaku kejahatan dibahas dari segi kenapa seseorang
melakukan kejahatan (motif) dan kategori pelaku kejahatan (tipetipe

penjahat). Kemudian kriminologi juga mempelajari reaksi masyarakat


terhadap kejahatan sebagai salah satu upaya kebijakan pencegahan dan
pemberantasan kejahatan.
Sebagai suatu ilmu pengetahuan yang objek kajiannya adalah
kejahatan, dimana kejahatan ini adalah gejala sosial, maka kriminologi pada
dasarnya adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat faktual. Dalam hal ini
kriminologi merupakan non legal discipline.
J. Contstant (A.S Alam dan Amir Ilyas, 2010:2) memberikan definisi
kriminologi sebagaiilmu pengetahuan yang bertujuan menentukan faktorfaktor yang menjadi sebab-musabab terjadinya kejahatan atau penjahat.
Sutherland (A. S. Alam dan Amir Ilyas, 2010:3) menambahkan bahwa
dalam mempelajari kriminologi memerlukan bantuan berbagai disiplin ilmu
pengetahuan. Dengan kata lain kriminologi merupakan disiplin ilmu yang
bersifat interdisiplin. Berbagai disiplin yang sangat erta kaitannya dengan
kriminologi antara lain hukum pidana, hukum acara pidana, antropologi
fisik, antropologi budaya, psikologi, biologi, ekonomi, kimia, statistik, dan
banyak lainnya.

2.2. Teori-teori Kriminologi tentang Sebab-sebab Kejahatan


Sesuai dengan perkembangan teori-teori yang dikembangkan oleh
mazhab-mazhab dalam bidang etiologi criminal, di bawah ini berturut-turut
akan dibicarakan teori-teori yang mencari sebab-sebab kejahatan dari
beberapa aspek yaitu:
1.

Teori-teori yang Mencari sebab Kejahatan dari Aspek Fisik (Biologis


Kriminal)
Usaha-usaha mencari sebab-sebab kejahatan dari ciri-ciri
biologis di pelopori oleh ahli-ahli frenologi, seperti Gall (1758-1828),
Spurzheim (1776-1832), yang mencoba mencari hubungan antara
bentuk tengkorak kepala

dengan

tingkah

laku.

Mereka

mendasarkan

pada pendapat Aristoteles yang menyatakan bahwa

otak merupakan organ dari akal. ajaran ahli-ahli frenologi ini


mendasarkan pada preposisi dasar:
a)

Bentuk luar tengkorak kepala sesuai dengan apa yang ada


didalamnya dan bentuk dari otak,

b)

Akal terdiri dari kemampuan atau kecakapan,dan

c)

Kemampuan atau kecakapan ini berhubungan dengan bentuk


otak dan tengkora kepala.

2.

Teori-teori yang Mencari sebab Kejahatan dari Faktor Psikologis dan


Psikiatris (Psikologi Kriminal)
Usaha untuk mencari sebab-sebab kejahatan dari faktor psikis
termasuk agak baru.seperti halnya para positivistis pada umumnya,
usaha mencari ciri-ciri psikis pada para penjahat didasarkan anggapan
bahwa penjahat merupakan orang-orang yang mempunyai ciri-ciri
psikis yang berbeda dengan orang-orang yang bukan penjahat, dan
ciri-ciri pisikis tersebut terletak pada intelegensinya yang rendah.
Mengingat konsep tentang jiwa yang sehat sangat sulit dirumuskan,
dan kalaupun, ada maka perumusannya sangat luas. Adapun bentukbentuk gangguan mental yaitu:

3.

a)

Psikoses

b)

Neoroses

c)

Cacat Mental

Teori-teori yang Mencari sebab Kerajahatan dari Faktor Sosiologi


Kultural (Sosiologi Kriminal)
Objek utama sosiologi kriminal adalah mempelajari hubungan
antara masyarakat dengan anggotanya, antara kelompok, baik karena
hubungan tempat maupun etnis dengan anggotanya, antara kelompok

10

dengan kelompok, sepanjang hubungan tersebut dapat menimbulkan


kejahatan. Secara umum dapat dikatakan setiap masyarakat memiliki
tipe kejahatan dan penjahat sesuai dengan budayanya, moralnya,
kepercayaannya serta kondisi-kondisi sosisl, politik, ekonomi, hukum
dan hankam serta struktu-struktur yang ada. Mempelajari tindak
penyimpangan sosial (kejahatan), dapat melalui 2 cara pendekatan
yaitu:
1)

Melihat penyimpangan sebagai kenyataan objektif

2)

Penyimpangan sebagai problematika subjektif

Usaha mencari sebab-sebab kejahatan dari aspek sosial sudah dimulai


jauh sebelum lahirnya kriminologi, sedangkan usaha mencari sebab-sebab
kejahatan (secara ilmiah) dari aspek sosial dipelopori oleh mazhab
lingkungan yang muncul di Prancis pada abad 19, yang merupakan reaksi
terhadap ajaran Lombroso. Mannheim membedakan teori-teori sosiologi
kriminal ke dalam:
1)

Teori yang berorientasi pada kelas sosial, yaitu teori-teori yang


mencari sebab kejahatan dari ciri-ciri kelas sosial, perbedaan di antara
kelas-kelas sosial yang ada. Termasuk dalam teori ini adalah teori
anomie dan teori-teori sub-budaya delinkuen.
Teori kelas dapat dipandang sebagai pendewasaan teori-teori
sosiologi kriminal. Berbeda dengan teori-teori sebelumnya yang
mencari sebab-sebab kejahatan dari ciri-ciri yang terdapat atau yang
melekat pada orang atau pelakunya, teori kelas mencari di luar
pelakunya, khususnya pada struktur sosial yang ada.

2)

Teori-teori yang tidak berorientasi pada kelas sosial yaitu teori- teori
yang membahas sebab-sebab kejahatan tidak dari kelas sosial, tetapi
dari aspek yang lain seperti lingkungan, kependudukan, kemiskinan,
dan sebagainya, termasuk dalam teori ini adalah teori-teori ekologis,
teori konflik kebudayaan, teori faktor ekonomi, dan differential
association.

11

Dapat dikatakan teori ini sudah agak kuno dibanding dengan teoriteori kelas sosial. Adapun teori-teori yang termasuk teori tidak berorientasi
pada kelas sosial yaitu:
1)

Teori ekologis
Teori-teori ini mencoba dan mencari sebab-sebab tertentu baik dari
lingkungan manusia maupun sosial yaitu:

2)

a.

Kepadatan penduduk

b.

Mobilitas penduduk

c.

Hubungan desa dan kota khususnya urbanisasi

d.

Daerah kejahatan dan perumahan kumuh

Teori konflik kebudayaan


Teori ini diajukan oleh T. Sellin dalam sosial, kepentingan dan normanorma. Konflik antara norma-norma dari aturan-aturan kultural yang
berbeda dapat terjadi antara lain:

3)

a.

Bertemunya dua budaya besar

b.

Budaya besar menguasai budaya kecil

c.

Apabila anggota dari suatu budaya pindah ke budaya lain.

Teori-teori faktor ekonomi


Pandangan

bahwa

kehidupan

ekonomi

merupakan

hal

yang

fundamental bagi seluruh struktur sosial dan kultural dan karenanya


menentukan semua urusan dalam struktur tersebut, merupakan
pandangan yang sejak dulu dan hingga kini masih diterima luas.
Mengenai hubungan antara faktor ekonomi dan kejahatan agaknya
perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:
a.

Teknik studi

b.

Batasan dan pengaruh dari kemiskinan dan kemakmuran

12

4)

Teori differential association


Teori ini berlandaskan pada proses belajar, yaitu perilaku kejahatan
adalah perilaku yang dipelajari. Menuru Sutherland perilaku kejahatan
adalah perilaku manusia yang sama dengan perilaku manusia pada
umumnya yang bukan kejahatan.

Menjelaskan proses terjadinya perilaku kejahatan, Sutherland mengajukan 9


proposisi sebagai berikut:
1.

Perilaku kejahatan adalah perilaku yang dipelajari secara negative


berarti perilaku kejahatan tidak diwarisi.

2.

Perilaku kejahatan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam


suatu proses komunikasi. Komunikas tersebut terutama bersifat lisan
maupun dengan menggunakan bahasa isyarat.

3.

Bagian yang terpenting dalam proses mempelajari tingkah laku


kejahatan terjadi dalam kelompok personal yang intim. Secara
negative komunikasi yang bersifat nirpersonal seperti melalui bioskop,
surat kabar, secara relative, tidak mempunyai peranan yang penting
dalam terjadinya perilaku kejahatan.

4.

Apabila perilaku kejahatan dipelajari, maka yang harus

dipelajari

teesebut meliputi: teknik melakukan kejahatan, motif- motif tertentu,


dorongan, alasan pembenaran dan sikap.
5.

Arah dari motif dan dorongan dipelajari melalui batasan (definisi)


aturan hukum baik sebagai hal yang menguntungkan maupun yang
tidak.

6.

Seseorang menjadi delinkeun karena lebih banyak

berhubungan

dengan pola-pola tingkah laku jahat dari pada tidak jahat.


7.

Differential

association

dapat

bervariasi

dalam

frekuensinya,

lamanya,prioritasnya dan intensitasnya. Hubungan dengan ini, maka


differential association bisa dimulai sejak anak-anak dan berlangsung
sepanjang hidup.

13

8.

Proses mempelajari perilaku kejahatan diperoleh melalui hubungan


dengan pola-pola kejahatan dan anti kejahatan yang menyangkut
seluruh mekanisme yang melibatkan pada setiap proses belajar pada
umumnya.

9.

Sementara perilaku kejahatan merupakan persyataan kebutuhan dan


nilai-nilai umum, akan tetapi hal tersebut tidak dijelaskan oleh
kebutuhan dan nilai-nilai, sebab perilaku yang bukan kejahatan juga
merupakan peryataan dari nilai yang sama. Pencuri umumnya mencuri
karena kebutuhan untuk memperoleh uang akan tetapi pekerja yang
jujur, dia bekerja juga dengan tujuan untuk memperoleh uang.

Dalam mengajukan teorinya tersebut, Sutherland ingin menjadikan teorinya


tersebut sebagai teori yang dapat menjelaskan semua sebab-sebab kejahatan.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Faktor Penyebab Remaja Melakukan Tindakan Kriminal


Kenakalan remaja sangat erat kaitannya dengan kriminalitas remaja.
Menurut Santrock (1995) kenakalan remaja sendiri mengacu pada rentang
perilaku yang luas mulai dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial
seperti tindakan berlebihan di sekolah, pelanggaran-pelanggaran seperti
melarikan diri dari rumah sampai pada perilaku-perilaku kriminal. Dari
penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kenakalan remaja tidak
hanya meliputi tindakan-tindakan kriminal saja, melainkan segala tindakan
yang dilakukan oleh remaja yang dianggap melanggar nilai-nilai sosial,
sekolah ataupun masyarakat. Sedangkan remaja yang dimaksud disini adalah
individu yang berusia 12 hingga 18 tahun (UU Peradilan Pidana Anak, Pasal
1 ayat 3). Ketika kita membahas masalah mengenai kenakalan atau bahkan
tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja dalam hal ini adalah pengamen

14

dan gelandangan, hal terbesar yang perlu diketahui adalah apa yang
melatarbelakangi atau faktor yang menyebabkan remaja tersebut melakukan
tindakan kriminal. Ada dua faktor yang menyebabkan remaja menjadi salah
asuhan dan akirnya hidup menggelandang dan kemungkinan besar melakukan
tindakan kriminal.
A. Faktor Internal
Menurut Jessor (1977) perilaku kenakalan yang dilakukan oleh remaja
salah satunya merupakan akibat dari aspek psikososial (Novita &
Rehulina, 2012). Dimana aspek psikososial yang dimaksud disini adalah
kondisi psikologis seorang remaja secara umum serta kaitannya dengan
kondisi sosial tempat dimana remaja tersebut berinteraksi. Kondisi
psikologis seseorang pada saat remaja memiliki karakteristik yang labil,
sulit dikendalikan, melawan dan memberontak, memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi, agresif, mudah terangsang serta memiliki loyalitas yang
tinggi (Sarwono, 2006). Seperti yang telah dijelaskan pada latar belakang
di atas, bahwa remaja mulai mengenali dan berinteraksi dengan
lingkungan selain lingkungan keluarganya. Sehingga, ada kecenderungan
bahwa remaja akan membandingkan kondisi di lingkungan keluarga,
lingkungan

sekolah,

lingkungan

teman

sebayanya

atau

bahkan

lingkungan sosial dimana masing-masing lingkungan tersebut memiliki


kondisi

yang

berbeda-beda.

Sehingga

remaja

akan

mengalami

kebingungan dan mencari tahu serta berusaha beradaptasi agar diterima


oleh masyarakat dengan kondisi psikologis remaja yang masih labil. Hal
tersebutlah yang dapat menimbulkan terbentuknya perilaku kenakalan
dan tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja. Hal ini serupa dengan
pernyataan Jessor (1977) yang menyebutkan adanya tiga aspek yang
mempengaruhi remaja dalam melakukan kenakalan. Aspek yang pertama
adalah adanya aspek kepribadian remaja. Aspek kepribadiann remaja ini
tidak hanya berupa karakter ciri khas remaja melainkan juga meliputi
nilai individual, harapan serta keyakinan yang dianut oleh remaja itu
sendiri. Kemudian aspek kedua yang mempengaruhi remaja melakukan
kenakalan adalah system lingkungan yang diterima oleh remaja tersebut.
15

Sistem lingkungan yang dimaksud disini adalah, system lingkungan


tempat remaja tersebut tinggal atau melakukan interaksi dengan orang
lain

seperti

lingkungan

keluarga,

lingkungan

sekolah,

ataupun

lingkungan teman sebaya. Kemudian aspek yang terakhir adalah aspek


sistem perilaku. Aspek yang ketiga ini meliputi cara-cara seperti apa yang
digunakan atau dipilih oleh remaja untuk berperilaku dalam aktivitas
sehari-harinya (Novita & Rehulina, 2012).
Aspek kepribadian remaja menjadi salah satu faktor penyebab
timbulnya perilaku kenakalan karena mereka masih berada dalam
tahapan perkembangan remaja yang merupakan transisi dari masa kanakkanak menuju masa dewasa. Dimana tugas perkembangan dari masa
remaja ini adalah pencarian jati diri, tentang seperti apa dan akan menjadi
apa mereka nantinya. Konsep diri adalah bagaimana individu
memandang dirinya sendiri meliputi aspek fisik dan aspek psikologis.
Aspek fisik adalah bagaimana individu memandang kondisi tubuh dan
penampilannya sendiri. Sedangkan aspek psikologi adalah bagaimana
individu tersebut memandang kemampuan-kemampuan dirinya, harga
diri serta rasa percaya diri dari individu tersebut yang dalam hal ini
adalah remaja. Dengan pendapat tersebut ditemukan bahwa remaja yang
melakukan kenakalan adalah remaja yang memiliki konsep diri yang
rendah (Yulianto, 2009). Sehingga, dari penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa aspek kepribadian yang menjadi faktor penyebab
munculnya perilaku kenakalan merupakan faktor internal dari dalam diri
remaja itu sendiri diantaranya konsep diri yang rendah, penyesuaian
sosial serta kemampuan menyelesaikan masalah yang rendah, sikap yang
berlebihan serta pengendalian diri yang rendah.

B. Faktor Eksternal
Aspek kedua yang dianggap sebagai penyebebab terbentuknya
perilaku kenakalan dan kriminalitas remaja adalah sistem lingkungan
seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan teman
16

sebaya. Dalam sebuah penelitian di Surakarta menunjukkan bahwa ada


hubungan yang signifikan antara interaksi remaja dengan teman
sebayanya, keluarga broken home, serta pola asuh orang tua (Murtiyani,
2011) dengan terbentuknya perilaku kenakalan ata bahkan tindakan
kriminal (Sujoko, 2011). Artinya, ketika remaja berinteraksi dengan
teman sebaya yang melakukan kenakalan atau kondisi teman sebaya yang
buruk, maka remaja akan cenderung mengembangkan perilaku kenakalan
dan tindak kriminal. Kemudian mengapa lingkungan keluarga memiliki
pengaruh dan menjadi faktor penyebab dari terbentuknya kenakalan atau
tindakan kriminal remaja? Karena perilaku remaja sebenarnya dapat
dikatakan sebagai sebuah produk yang dihasilkan oleh keluarga, terutama
orang tua. Keluarga adalah pihak yang memiliki intensitas kebersamaan
paling besar dengan anak sejak anak masih bayi. Selain itu, lingkungan
keluarga adalah pihak pertama yang memberikan dasar-dasar nilai bagi
anak. Sehingga dapat dikatakan bahwa pengajaran pertama mengenai
nilai-nilai kehidupan yang diterima oleh anak berasal dari keluarga dan
mereka meneruskan nilai-nilai tersebut hingga mereka remaja atau
bahkan dewasa. Dalam kaitannya dengan tindakan kriminal yang
dilakukan gelandangan berdasarkan kenakalan remaja, salah satu
penyebab utamanya adalah keadaan keluarga, kemiskinan, ketidak
kondusifan, dan kharakter dari keluarga tersebut yang salah satu
dampaknya adalah tindakan kriminalitas pada remaja, dalam hal ini
remaja yang menggelandang di jalanan. Artinya saat terdapat remaja
yang melakukan tindakan kriminal, maka remaja tersebut tidak hanya
dikatakan sebagai pelaku, melainkan dapat dikatakan sebagai korban
karena mereka tidak mampu melakukan perilaku adaptif yang dapat
diterima oleh masyarakat.
Kondisi lingkungan keluarga pada masa perkembangan anak dan
remaja telah lama dianggap memiliki hubungan dengan munculnya
perilaku antisosial dan kejahatan. Beberapa penelitian mengenai
perkembangan kenakalan dan kriminalitas pada remaja, ditemukan
bahwa tindak kriminal disebabkan adanya pengalaman pada pengasuhan

17

yang buruk, mulai dari pengasuhan yang kasar, kedisiplinan yang tidak
menentu,

perilaku

pengasuhan

yang

sembrono,

konflik

dalam

pengasuhan, kemiskinan, serta pengawasan yang teledor pada masa


kanak-kanak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wilson pada
remaja di Inggris serta penelitian oleh Snyder dan Sickmund (2006) di
Amerika Serikat menemukan bahwa remaja pelaku kejahatan dan
kekerasan adalah remaja yang berasal dari lingkungan rumah atau
keluarga yang tidak harmonis, anak-anak dari latar belakang sosioeknomi rendah, anak-anak dengan akses senjata tanpa pengawasan yang
cukup, anak-anak yang pernah mengalami kekerasan dan pengabaian,
serta yang menggunakan atau menyalahgunakan obat-obatan terlarang
(Brown & Campbell, 2010). Penelitian serupa juga menunjukkan adanya
pengaruh yang siginifikan antara sikap negatif yang ditunjukkan oleh
orang tua berupa kedisiplinan yang keras, kemarahan dan kekerasan yang
ditunjukkan orang tua dalam pengasuhan dengan perilaku antisosial
remaja (Larsson, Viding, & Rijsdijk, 2008). Sedangkan pengasuhan yang
diberikan oleh ibu memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap
munculnya perilaku kenakalan dan tindak kriminal yang dilakukan oleh
remaja (Torrente & Vazsonyi, 2008). Hal tersebut dikarenakan ibu
memiliki lebih banyak waktu dalam berinteraksi dengan anaknya, jika
dibandingkan dengan ayah. Sehingga ketika ibu tidak memberikan
pengasuhan yang tepat, tidak memberikan perhatian yang cukup pada
anak seperti tentang kegiatan di sekolah, kegiatannya dengan temannya
serta hal yang lainnya dapat memicu terbentuknya perilaku kenakalan
dan tindak kriminal pada remaja tersebut karena kurangnya perhatian dan
pengawasan oleh orangtua terutama oleh ibu. Tidak hanya itu,
kepercayaan atau pandangan orangtua terutama ibu, mengenai perilaku
anaknya seperti agresi dan perilaku antisosial juga mempengaruhi pola
pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua seperti otoriter dan permisif
(tidak mempedulikan). Dimana kemudian pola pengasuhan orangtua
tersebut mempengaruhi munculnya perilaku antisosial pada anak (Evans,
Nelson, Porter, & Nelson, 2012). Artinya, lingkungan awal yang menjadi

18

faktor resiko dalam perilaku kenakalan dan tindakan kriminal oleh


remaja adalah lingkungan keluarga. Hal tersebut dikarenakan lingkungan
keluarga-lah yang menjadi awal terbentuknya nilai yang diterima oleh
anak melalui pola pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua.
3.2. Upaya Penanggulangan Terhadap Tindakan Kriminal Pengamen dalam
Kaitannya dengan Kenakalan Remaja
A. Upaya Preventif
1. Lingkungan keluarga
Meskipun tidakl memiliki struktur kurikulum sebagaimana
lazimnya lembaga sekolah, lingkungan keluarga dipercaya menjadi
pondasi yang kuat bagi pendidikan anak. Hal ini cukup beralasan,
anak lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga. Keadaan ini
menjadi saat yang tepat untuk menenamkan nilai-nilai karakter, budi
pekerti dan tingkah laku yang baik bagi orang tua. Kedua orang tua
atau orang dewasa lainnya di rumah tangga akan menjadi pendidik
pertama. Selain itu, waktu anak lebih banyak di lingkungan keluarga
jika dibanding dengan lingkungan lainnya. Oleh sebab itu pendidikan
di lingkungan keluarga berperan sangat strategis dalam pembentukan
karakter dan budi pekerti remaja dalam pencegahan adanya kesalahan
dalam bergaul hingga masalah-masalah dalam pergaulan remaja..
2. Peningkatan taraf hidup
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang di hadapi oleh
seluruh pemerintahan yang ada di dunia ini. Ia di pengaruhi oleh
beberapa faktor yang saling berkaitan antara satu dengan yang
lainnya. Faktor tersebut salah satunya tingkat pendapatan, pendidikan
dan kondisi lingkungan. Kemiskinan merupakan kondisi dimana
seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka
menuju kehidupan yang lebih bermartabat, yang salah satu dampak
dari kemiskinan ini adalah meningkatnya kriminalitas suatu daerah
dalam hal ini sangat disayangkan bila subjeknya adalah remaja yang

19

merupakan generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, kemiskinan


wajib untuk ditanggulangi, sebab jika tidak tertanggulangi akan dapat
mengganggu pembanguan nasional.
3. Pendidikan
Pendidikan formal merupakan pendidikan di sekolah yang di
peroleh secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti
syarat-syarat yang jelas. Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah
yang lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari dan oleh
serta untuk masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban
memberikan pelayanan kepada generasi muda dalam mendidik warga
negara. Diharapkan dengan adanya mutu pendidikan yang baik, akan
berdampak pula pada penurunan jumlah gelandangan dan pengemis
usia remaja
4. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial dalam hal ini yang dikaji adalah dari sisi pergaulan,
merupakan jalinan hubungan sosial antara seseorang dengan orang
lain yang berlangsung dalam jangka relatif lama sehingga terjadi
saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Pergaulan merupakan
kelanjutan dari proses interaksi sosial yang terjalin antara individu
dalam lingkungan sosialnya. Kuat lemahnya suatu interaksi sosial
mempengaruhi erat tidaknya pergaulan yang terjalin. Seorang anak
yang selalu bertemu dan berinteraksi dengan orang lain dalam jangka
waktu relatif lama akan membentuk pergaulan yang lebih. Beda
dengan orang yang hanya sesekali bertemu atau hanya melakukan
interaksi sosial secara tidak langsung. Dalam kehidupan sosial ada
berbagai bentuk pergaulan, ada yang sehat ada pula yang
dikategorikan pergaulan yang tidak sehat. Pergaulan sehat adalah
pergaulan yang membawa pengaruh positif bagi perkembangan
kepribadian seseorang. Sebaliknya pergaulan tidak sehat mengarah
kepada pola perilaku yang merugikan bagi perkembangan dirinya
sendiri maupun dampaknya bagi orang lain. Pergaulan yang sehat
20

adalah pergaulan yang mengarah kepada pembentukan kepribadian


yang sesuai dengan nilai dan norma sosial, kesusilaan dan kesopanan
yang berlaku. Sehingga dapat di ambil kesimpulan bahwa lingkungan
yang baik akan menghasilkan manusia yang baik pula.
B. Upaya Represif
1. Lingkungan keluarga dan diri sendiri
Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi pengaruh negatif yang
terlanjur mencemari diri individu antara lain:
1. Membangkitkan kesadaran kepada yang bersangkutan bahwa apa
yang telah ia lakukan adalah menyimpang.
2. Memutuskan rantai yang menghubungkan antara individu dengan
lingkungan yang menyebab ia berperilaku menyimpang.
3. Melakukan pengawasan sebagai control secara terus menerus agar
terhindar dari perilaku yang menyimpang.
4. Melakukan kegiatan konseling atau pemberian nasehat secara
persuasif, sehingga anak tidak merasa bahwa ia di bawah proses
pembimbingan.
2. Pemerintah
Pemerintah baik pusat dan daerah wajib berkolaborasi dalam rangka
menyediakan panti sosial yang mempunyai program dalam bidang
pelayanan

rehabilitasi

dan

pemberian

bimbingan

ketrampilan

(workshop) di daerah bagi gelandangan dan pengemis sehingga


mereka dapat mandiri dan tidak kembali menggelandang dan
mengemis.

21