Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

Topik
Kelompok
Tgl. Praktikum
Pembimbing

: MANIPULASI MATERIAL CETAK ELASTOMER


: A12
: Senin, 1 Mei 2016
: Priyawan Rachmadi,drg.,PhD.

Penyusun :
No

Nama

NIM

.
1.

Lintang Maudina S

021511133052

2.

Nancy Cynthia S

021511133053

3.

I Ketut Brahma Pande

021511133054

4.

Widya Rizky R.

021511133055

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016
1. Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan manipulasi material cetak elastomer jenis
silicone addition dengan teknik double impression menggunakan metode hand mixing
dan metode Static Auto Mixing.

2. Manipulasi Material Cetak Silikon


2.1 Bahan
a. Material Cetak silicon, 2 tube pasta

Gambar 1. Tube Pasta

b. Material cetak silicon putty, 2 toples

Gambar 2. Toples Silicon Putty

c. Material cetak silicon light body dalam catridge

Gambar 3. Silicon light body dalam cartridge

2.2 Alat
a.
b.
c.
d.
e.

Paper pad dan spatula


Mixing gun
Catridge dan mixing tips
Sendok cetak sebagian
Model kerja

Gambar 4. Paper pad dan

spatula

Gambar 6. Mixing gun

Gambar 5. Cartridge dan

mixing tips

Gambar 7. Sendok cetak

sebagian

Gambar 8. Model kerja

2.3

Cara Kerja
2.3.1 Teknik Double Impression Indirect dengan Bahan Medium Body dan Very
Heavy Body
a. Mempersiapkan master model yang akan di cetak
b. Sendok cetak dicoba terlebih dahulu pada model master.
c. Mengambil base dan katalis menggunakan sendok takar. Setengah diambil
dari base, dan setengahnya diambil dari katalis silicon putty. Karena
mencetaknya menggunakan sendok cetak sebagian. Apabila sudah diambil,
base dan katalis dicampur dengan cara dilipat menggunakan tangan hingga
homogen ditandai dengan warna yang sama, selama 10-15 detik.

Gambar 9. Pengambilan base dan

Gambar 10. Base dan katalis dletakkan

katalis yang merata

di tangan dan kemudian dicampur

d. Setelah adonan menjadi homogen, adonan di aplikasikan ke sendok cetak


sebagian, kemudian di cetak di master model (gigi target pada master
model ditengah sendok cetak). Ditunggu hingga adonan setting. Setting
ditandai dengan adonan elastis dan tidak lengket. Setelah setting, sendok
cetak di lepas dari master model dan cetakan gigi yang akan direstorasi di
kurangi kira-kira 3-5 mm atau sekelilingnya
untuk tempat light body.

GambarGambar
11. Pencetakan
padagigi
master
12. Cetakan
yang akan
model
direstorasi dikurangi

e. Pasta dasar base dan katalis medium body dikeluarkan dari tube pasta dan
diletakkan diatas paperpad secara terpisah masing-masing sepanjang 2 cm

Gambar 13. Pasta


Base

dan

katalis

diletakkan di Paper pad


sepanjang 2 cm

f. Diatas paper pad pasta dasar base


dan katalis medium body diaduk
memakai spatula dengan gerakan
memutar

selama

20

detik,

dilanjutkan dengan gerakan melipat ke area lebih luas selama 25 detik


hingga homogen, ditandai dengan warnanya menjadi satu warna. Jadi
totalnya 45 detik.

Gambar 14. Pasta Base dan katalis diaduk

g. Adonan yang telah homogen dikumpulkan lalu diambil sebagian dan


diaplikasikan ke sendok cetak sebagian, sebagian diaplikasikan ke gigi
target ada master model.
h. Setelah setting, cetakan dilepas dari master model dan diamati kehalusan
permukaan dan adanya gelembung udara pada permukaan hasil cetakan.
2.3.2

Teknik Double Impression Direct dengan bahan light body dan very heavy
body
a. Menyiapkan material cetak silicon putty dan master model.
b. Mencoba sendok cetak sebagian pada gigi target
c. Mengambil base dan katalis menggunakan sendok takar. Setengah
diambil dari base, dan setengahnya diambil dari katalis. Karena mixing
gun mencetaknya menggunakan sendok cetak sebagian.
d. Menyiapkan mixing gun dengan keadaan catridge silikon light body serta
mixing tip dan intra oral tip sudah terpasang dengan baik.
5

e. Light body pada diaplikasikan ke model kerja pada gigi hingga menutupi
keseluruhan bagian yang akan direstorasi.
f. Base dan katalis segera dicampur dengan cara dilipat menggunakan
tangan hingga homogen ditandai dengan warna yang sama, selama 1015 detik.
g. Apabila adonan telah homogen, adonan tersebut dimasukkan ke dalam
sendok cetak sebagian dan dibuat cekungan yang tidak terlalu dalam
pada bagian tengah.
h. Light body yang ada pada mixing gun diaplikasikan pada sendok cetak
yang telah diberi cekungan.

Gambar 15. Light body diletakkan pada sendok cetak

i.

Sendok cetak segera dicetakkan


pada master model, dan ditunggu

hingga setting

Gambar 16. Sendok cetak yang berisi light


body dicetakkan
pada model
master model
melepaskan
cetakan dari
kerja

j. Setelah setting,
k. Mengamati kehalusan permukaan dan adanya gelembung udara pada

permukaan hasil cetakan.


3. HASIL PRAKTIKUM

Pada praktikum ini menggunakan dua teknik double impression dengan cara tidak langsung
(manual) dengan Metode Hand Mixing dan dengan cara langsung dengan Metode Static Auto Mixing.
Dalam Metode Hand Mixing ini, menggunakan master model rahang atas dengan tujuan percetakan
pada gigi premolar 1 (24). Proses pencampuran menggunakan spatula secara manual, sedangkan
Metode Static Auto Mixing menggunakan master model rahang bawah pada gigi molar 1 (46). Dalam
pencampuran secara otomatis menggunakan mixing gun. Pada pencampuran base dan katalis silicon
putty dilakukan teknik memijat dengan dua tangan hingga homogen.
Percobaan
ke

Objek
mencetak

Teknik

Permukaan hasil cetakan

Gigi rahang
bawah

Hand Mixing (ada


pengruangan pada
cetakan putty)

Gigi rahang
atas

Static Auto Mixing

Gambar 17 : Hasil praktikum


percobaan Hand mixing

Tidak ada gelembung udara


pada hasil cetakan.
Hasilnya detail dan cukup
baik.
Tidak ada gelembung udara
yang terjebak dalam objek.
Hasil cetakan detail tidak rapi
dan ada patah

Gambar 18 : Hasil praktikum


percobaan Static Auto Mixing

4. TINJAUAN PUSTAKA

4.1 Material Cetak Elastomer


Material cetak digunakan untuk membuat replika atau cetakan jaringan keras
dan jaringan lunak mulut secara akurat. Area yang ingin dicetak bisa bervariasi,
bisa satu gigi saja, seluruh rahang bergigi, hingga satu rahang tanpa gigi. Cetakan
yang dihasilkan adalah cetakan negative yang harus diisikan dengan dental stone
atau material model lain untuk menghasilkan cetakan positif yang dapat dilepas
bila dental stone atau material model sudah setting.(Sakaguchi, 2012, hal. 278).
Material cetak yang ideal haruslah material elastis yang dapat mencetak
bentuk gigi dengan akurat hingga di area undercut dan kembali ke bentuk semula
tanpa mengalami distorsi. Material cetak yang digunakan sekarang ini dapat
dikelompokkan berdasarkan komposisi, mekanisme setting, sifat mekanis, dan
aplikasinya (Anusavice, 2012, hal. 152). Material cetak berdasarkan sifat
mekanisnya, dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu material cetak
elastis dan non elastis (McCabe, 2008, hal.137).

Gambar 19. Klasifikasi Material Cetak (McCabe, 2008, hal.137)

Material cetak elastomer merupakan salah satu jenis material cetak elastis.
Material cetak ini merupakan material cetak berbasis polimer sintesis yang secara
kimiawi berikatan rantai ketika set dan dapat diregangkan, namun akan dengan
cepat kembali ke dimensi awalnya, seperti karet vulkanisir alami (karet yang
terdiri atas campuran karet dan belerang) (Anusavice, 2012, hal. 153). Material
cetak elastomer bersifat lebih kuat dan lebih stabil daripada material cetak
hidrokoloid (Manappallil, 2010, hal.191). Hal tersebut disebabkan karena material
cetak elastomer tidak dimanipulasi dengan air sehingga tidak memiliki sifat
sineresis (mengerut) seperti material cetak hidrokoloid. Hal tersebut membuat
elastomer memiliki batas waktu untuk membuat model positif lebih panjang dari
8

material cetak hidrokoloid (tahan hingga satu minggu).Secara umum, material


cetak elastomer memiliki sifat sebagai berikut:
a.

Dapat menciptakan cetakan yang sangat detail karena memiliki viskositas

b.
c.

rendah
Koefisien ekspansi termal tinggi.
Hampir semua jenis material cetak elastomer (kecuali polyether) bersifat
hydrophobic, sehingga harus berhati-hati ketika menuangkan adonan gypsum
ke dalam cetakan negative agar tidak ada udara yang terjebak, selain itu saat
akan diaplikasikan untukpencetakan jaringan di dalam rongga mulut,
permukaan yang mau dicetak harus dipastikan kering juga harus kering agar
flow elastomer baik.
Tear strength baik sehingga tahan terhadap sobekan.(Manappallil, 2010, hal.

d.

192-193)
Material cetak elastomer umumnya diformulasikan dalam beberapa
konsistensi (viskositas). Menurut viskositasnya material cetak elastomer dibagi
menjadi empat, yaitu : ( Manappallil, 2010, hal. 191)
1.
2.
3.
4.

Light body or syringe consistency


Medium or regular body
Heavy body or tray consistency
Very heavy or putty consistency
Menurut Manappallil (2010, hal. 191), secara kimiawi, material cetak

elastomer terbagi atas empat kelompok, yaitu:


1.
2.
3.
4.

Polysulphides
Addition Silicones
Condensation Silicones
Polyether
Material cetak elastomer merupakan material cetak yang memiliki akurasi
tinggi dan berkualitas mirip karet, sehingga sering disebut sebagai bahan karet.
Karena bahan cetak elastomer memiliki sifat-sifat seperti yang disebut diatas,
material cetak ini dapat digunakan untuk:
1. Sebagai material cetak untuk membuat gigi tiruan tetap
2. Sebagai material cetak untuk membuat gigi tiruan lepasan pada rahang bergigi
3. Sebagai material cetak untuk membuat gigi tiruan lengkap pada rahang yang
tidak bergigi
4. Sebagai rekam gigit
9

5. Untuk mebuat model duplikasi (tiruan)


6. Polyether digunakan sebagai ujung cetakan pada custom trays rahang tak
bergigi (Manappallil, 2010, hal. 192)
4.2 Manipulasi Material Cetak Elastomer
Pencampuran material cetak elastomer dapat dilakukan dengan beberapa
metode, antara lain adalah hand mixing, static mixing, dan dynamic mechanical
mixing (Anusavice 2012, hal. 157 - 159)

1. Hand Mixing
Metode ini dilakukan dengan mengeluarkan kedua pasta di atas mixing pad
atau glass lab dengan ukuranpanjang yang sama. Kemudian kedua pasta tersebut
diratakan melebar di atas mixing pad, kemudian diaduk secara melipat ke depan
dan ke belakang hingga homogen. Adonan sudah dikatakan homogeny apabila
kedua warna pasta telah tercampur dengan baik.
Untuk material cetak elastomer jenis silikon yang memiliki viskositas putty
metode pencampuran dilakukan dengan menakar volume kedua pasta dengan
sendok takar dan kemudian mencampur kedua pasta dengan melipat adonan
menggunakan tangan hingga warnanya menjadi homogen.
2. Static Mixing
Metode ini dilakukan dengan menggunakan gun untuk menekan material
cetak elastomer yang terdiri dari base dan katalis di dalam cartridge.
Pengaplikasian pada area yang akan dicetak dibantu oleh mixing tip yang
berbentuk silinder. Material adonan cetak dapat langsung diaplikasikan pada
tray atau langsung pada gigi yang telah disiapkan.
3. Dynamic Mechanical Mixing
Metode ini dilakukan dengan menggunakan motor untuk nenjalankan
parallel plungers, mendorong material cetak keluar menuju mixing tip dan
menuju sendok cetak.
Menurut Manappallil (2010, hal. 202) terdapat beberapa teknik dalam
membuat cetakan dengan material cetak elastomer, yaitu:
1. Single Mix Technique
Teknik ini dilakukan dengan menggunakan bahan cetak elastomer yang
viskositasnya regular dan indivudual tray. Base dan katalis dicampur,
sebagian dimasukkan ke dalam tray dan sebagian dimasukkan ke dalam
syringe. Adonan yang dimasukkan ke dalam syringe

diinjeksikan
10

langsung pada area yang akan dicetak dan tray dicetakkan juga di bagian
yang akan dicetak dan tunggu hingga material cetak mencapai fase
setting.

2.

Multiple Mix Technique(Umumnya disebut Double Impression)


Material yang digunakan adalah material cetak berviskositas heavy
bodied dan light bodied. Kedua material yang berviskositas berbeda
dicampurkan dalam pads yang berbeda. Adonan Heavy bodied
dimasukkan ke dalam tray

sedangkan material yang light bodied

dimasukkan ke dalam syringe dan diaplikasikan langsung pada area yang


akan dicetak. Kemudian, tray yang berisi adonan heavy body juga
dicetakkan ke area yang akan dicetak, dan tunggu hingga material cetak
tersebut telah mencapai fase setting.
3. Reline Technique
a. One-stage putty wash technique
Jenis material cetak elastomer yang digunakan pada teknik ini
adalah yang berviskositas putty dan light body dengan stock tray
berpori. Pertama adonan putty dibuat dan dimasukkan ke dalam stock
tray, sedangkan adonan light body dimasukkan ke dalam syringe dan
diinjeksikan langsung ke area yang akan dicetak. Setelah itu, tray yang
berisi adonan putty dicetakkan dan ditekan hingga setting. Adonan
material cetak putty akan menekan adonan light body agar mencetak
detail struktur permukaan gigi yang dicetak sehingga cetakan yang
dihasilkan lebih akurat.
b. Two-stage putty wash technique
Pada teknik ini, jenis material cetak yang digunakan adalah yang
berviskositas putty dan light body dengan stock tray berpori. Pertama
adonan putty dibuat dan dimasukkan ke dalam stock tray.Sebelum
mencetakkan stock tray ke area yang akan dicetak, plastik tipis
diletakkan diatasnya, setelah itu baru dicetakkan. Setelah setting,
lepaskan adonan putty dari cetakan dan lepaskan plastiknya. Lalu
adonan light body dimasukkan ke dalam syringe dan diinjeksikan
langsung ke area yang akan dicetak, dan sisanya dimasukkan ke dalam
adonan putty yang ada di tray. Setelah itu cetakan awal yang dibuat
11

dengan adonan putty dicetakkan juga diatas adonan yang telah


diinjeksikan dan ditunggu hingga setting.

4.3 Material Cetak Polivinyl siloxane


Bahan cetak Polyvinyl siloxane adalah elastomer polimerisasi adisi silikon
yang diperkenalkan secara luas di pasaran pada tahun 1970 dan sejak saat itu
banyak digunakan. Bahan ini mempunyai sifat-sifat fisik dan mekanis yang sangat
baik, seperti perubahan dimensi yang rendah, elastic recovery yang baik, tidak
membentuk produk sampingan pada reaksi polimerisasi, tidak terjadi shrinkage
pada bahan cetak, dan mempunyai stabilitas dimensi yang baik. Polyvinyl
siloxane digunakan pada pembuatan gigi tiruan cekat, tambalan, gigi tiruan
lepasan dan implan.
4.3.1

Komposisi Material Cetak Polivinyl siloxane


Material cetak silikon adisi sering disebut sebagai polyvinyl siloxane atau
vinyl polysiloxane. Material cetak silikon adisi umumnya diproduksi dalam dua
pasta terpisah. Satu pasta berisi liquid prepolimer dengan filler dan katalis pada
pasta lain(McCabe, 2008, hal. 168).
Material cetak ini terdiri atas pasta basis dan pasta katalis yang mengandung bentuk
vinil silikon. Pasta basis mengandung polymethyl hydrogen siloxane serta

prepolimer siloxan lain, pasta katalis mengandung divinyl polydimethyl siloxane


serta prepolimer siloxan lain. Pasta katalis mengandung aktivator garam
platinum, dan pasta yang basis mengandung hidrid silikon. Pasta basis dan pasta
katalis berisi bahan pengisi (filler) yaitu Amorphous silica atau flourcarbons
yang digunakan sebagai bahan pengisi untuk meningkatkan dan memperbaiki
sifat sifat pasta. (Annusavice, 2012, hal.154)Bahan pengisi secara normal
berguna untuk meningkatkan bond strength antara bahan pengisi dan polimer,
yang mana berfungsi sebagai cross-linker atau ikatan silang, serta untuk
mendapatkan viskositas yang diinginkan. Semakin banyak filler semakin tinggi
viskositasnya. Warna agen juga ditambahkan untuk membedakan pasta basis dan
katalis dan untuk membantu evaluasi mixing.

12

Gambar 20. Komposisi Silikon Adisi (Manappalil, 2010, hal. 198)

4.3.2

Sifat Kimia Bahan Cetak Polyvinyl siloxane


Sifat kimia bahan cetak polyvinyl siloxane berkebalikan dengan silikon
kondensasi, polimer reaksi tambahan berujung kelompok vinyl dan berikatan
dengan kelompok hidrid (silane), diaktifkan oleh katalis garam platinum (asam
chloroplatinic).
Reaksi silikon adisi adalah sebagai berikut :

Pt

Vinil siloxane + Silane siloxane


Salt
Silicone rubber
Gambar 21. Reaksi kimia polyinyl siloxane (Manappallil,2010,hal.198)

Pada bahan cetak ini tidak terdapat produk sampingan seperti alkohol
maupun gas hidrogen karena ada penambahan garam platinum untuk menyerap
hidrogen, sehingga tidak terjadi kontraksi silikon dan poreus permukaan
cetakan serta meminimalisasi perubahan dimensi yang terjadi selama
polimerisasi (Annusavice, 2012, hal.154). Biasanya waktu kerja dan
pengerasan bahan cetak silikon adisi sekitar 2 sampai 4 menit, diikuti dengan
waktu pengerasan 4 sampai 6 menit.
Faktor yang mempengaruhi waktu kerja cetakan adalah viskositas bahan
cetak. Perubahan dimensi yang paling kecil pada waktu setting (pengerasan) dari
semua bahan cetak elastomer adalah menunjukkan perubahan dimensi pada bahan
13

cetak polyvinyl siloxane. Dimana viskositas bahan yang rendah menunjukkan


perubahan dimensi yang paling tinggi (0,02-0,05 persen shrinkage) akibat bahan
pengisi yang rendah. Oleh karena itu, material cetak adisi memiliki elastisitas

bahan yang baik.


4.3.3

Sifat Fisis Material Cetak Polyvinyl siloxane


a. Viskositas
Viskositas adalah ukuran kekentalan

suatu

bahan

beserta

ketidakmampuannya untuk mengalir. Bahan dengan viskositas rendah


memiliki kemampuan untuk mengalir lebih baik daripada bahan dengan
viskositas yang tinggi. Bahan cetak polyvinyl siloxane terdiri atas beberapa
tingkat viskositas yaitu: low viscosity (light body), medium viscosity
(medium body), high viscosity (heavy body), very high viscosity (putty)
(Annusavice, 2012). Masing-masing viskositas dari bahan cetak memiliki
komposisi yang sama, perbedaan terdapat pada partikel bahan pengisi (filler)
yang ditambahkan untuk meningkatkan viskositas bahan cetak tersebut.
Viskositas bahan ini dapat meningkat sesuai dengan kandunganfiller
didalamnya. Semakin banyak filler yang ditambahkan semakin tinggi
viskositasnya yang diikuti dengan menurunnya tingkat kecairan bahan cetak.
Bahan cetak adisi silikon tipe medium body memiliki viskositas yang
cukup untuk mencegah kelebihan aliran jika dimasukkan ke dalam sendok
cetak. Bahan cetak tipe light body dapat merekam secara akurat detail
permukaan preparasi gigi. Detail permukaan adalah kemampuan bahan cetak
untuk menghasilkan keakuratan permukaan objek dan berhubungan dengan
viskositas bahan cetak. Viskositas yang rendah menghasilkan detail yang
lebih baik.
Nilai viskositas bahan cetak polyvinyl silikon berdasarkan ADA spesifikasi
no. 19

Tabel 1.
Nilai viskositas

Bahan Cetak PVS Berdasarkan

Ukuran Nilai Viskositas

Viskositas
Putty
Heavy Body

(NSM-2)
400-700
200-300

Reguler
Light Body
bahan cetak silikon adisi polyvinyl siloxane.

40-150
10-70

14

Keterangan: Nsm-2 = poise, 1 poise = 0,1 N s/m2, 1 Ns/m2= 0,102 kg s/m2.

4.3.4

Sifat Mekanis Material Cetak Polyvinyl siloxane


a. Daya alir (Flow)
Daya alir adalah sifat bahan yang memungkinkan untuk berubah
bentuknya bila diberikan suatu load walaupun load tersebut tidak diperbesar
lagi (konstan). Bahan cetak yang memiliki daya alir yang tinggi mengalir
dengan baik dan dapat mencetak detail yang baik. Daya alir pada bahan
cetak polyvinyl siloxane baik bila dibandingkan dengan bahan cetak
elastomer lainnya (Mc Cabe, 2008)
b. Elastisitas ( Elasticity )
Elastisitas adalah sifat suatu benda yang dimungkinkan untuk diubah
bentuknya dengan beban yang bila beban tersebut dihilangkan akan
kembali ke bentuk semula (Sumadhi, 2010). Sifat elastik yang baik pada
suatu bahan dapat ditunjukkan dengan melihat besarnya elastic recovery
dan perubahan dimensi bahan tersebut.
4.3.5

Keuntungan dan Kerugian Material Cetak Polyvinyl siloxane


Keuntungan menggunakan silikon adisi adalah keakuratan tinggi dan
stabilitas dimensi yang tinggi setelah setting, memiliki warna dan bau yang
aman untuk pasien, dan dapat digunakan pada custom tray atau tembaga
maupun metal plate. Sedangkan kerugiannya adalah harganya yang lebih
mahal, lebih rigid daripada silikon kondensasi, susah untuk menghilangkannya
di sekitar undercut, dan bisa menimbulkan gas hidrogen ketika setting,
menghasilkan gelembung pada permukaan die. (Obrien, 2008, hal 183 -184)
KEUNTUNGAN

KERUGIAN

Hasil cetakan akurat

Hidrofobik

Mudah dimanipulasi
Terdapat banyak jenis viskositas

Dapat terkontaminasi oleh

Setting time cepat

sarung tangan lateks


Mahal

Stabilitas dimensi yang baik


Daya tahan robekan sedang
Distorsi lebih sedikit

Pengerasan terpengaruh oleh suhu

Dapat diisi berulang kali

dan kelembaban

15

5. PEMBAHASAN
Manipulasi material cetak elastomer ini digunakan material jenis silikon adisi.
Polimer reaksi tambahan berujung kelompok vinil dan berkaitan dengan kelompok
hibrid, diaktifkan oleh katalis garam platinum. Bila proporsi tidak seimbang atau
terdapat gangguan, reaksi sampingan akan menghasilkan gas hydrogen yang akan
menjadikan hasil cetakan master model menjadi porus. Pabrik seringkali
menambahkan logam mulia, seperti platinum atau palladium, untuk bertindak sebagai
hidrogen absorber. hal ini dilakukan agar tingkat porositas dapat ditekan seminimal
mungkin.
Salah satu kerugian menggunakan bahan cetak silikon adalah sifat hidrofobik yang
dimiliki. Untuk mengatasi sifat ini pabrik biasanya membuat silikon dengan reaksi
tambahan yang lebih hidrofilik. Penambahan bahan hidrofilik ini dapat memperbesar
daya afinitas pada stone. manipulasi material cetak silikon menggunakan sarung
tangan lateks yang mengandung sulfur dimungkinkan dapat memperlambat waktu
setting dan berakibat distorsi. Karakteristik polyvinyl siloxane adalah encer dan agak
kental. Bahan basis maupun katalis dalam bahan ini memiliki kandungan kimia yang
hampir serupa dan memiliki konsistensi yang sama, sehingga cocok untuk digunakan
alat mekanis seperti mixing gun. Pada praktikum ini, terdapat dua cara yang digunakan
dalam memanipulasi material cetak silikon yaitu dengan cara hand mixing dan static
automixing.

a. Teknik Double Impression secara tidak langsung dengan Metode Hand


mixing (Bahan Putty dan pasta light body).
Pada percobaan pertama dilakukan pencampuran base dan katalis silicon putty
dengan perbandigan 1:1. Kedua bahan dicampur hingga homogeny ditandai
dengan warna yang sama. Setelah homogen, adonan dimasukkan kedalam sendok
cetak sebagian dan dicetakkan kedalam master model. Hasil cetakan negatif yang
terbentuk, dirapikan bagian samping dari sekeliling gigi target dengan
menggunakan pisau model hingga hilang batas-batasnya kira-kira sebesar 2-5 mm.
Setelah itu disiapkan pasta dasar dan katalis dari light body yang diletakkan diatas
paper pad masing-masing sepanjang 2 cm. Lalu diaduk menggunakan spatula
dengan gerakan memutar dan melipat. Setelah itu campuran tersebut diisikan pada
model cetakan negative dengan menyelubungi gigi target dan pada master model.
16

Lalu dicetakkan kembali pada master model dengan posisi yang sama, dan
ditunggu hingga setting. Ciri setting adalah apabila sisa campuran pasta dasar dan
katalis pada paper pad telah mudah dilepas dan tidak lengket.
Manipulasi dengan cara ini cenderung memerlukan waktu yang cepat dan
tepat terutama pada pencampuran base dan katalis putty dengan menggunakkan
tangan. Waktu setting yang singkat dibutuhkan gerakan yang cepat agar keduanya
tercampur homogen. Apabila kurang homogen, cetakan tidak akan bisa mengeras.
Pada penggunaan teknik hand mixing penyediaan bahan dan tempat lebih
banyak dan kurang efisiennya waktu yang terpakai. Selain itu saat mengeluarkan
pasta adisi pada mixing pad tidak selalu sama dengan takaran yang semestinya
karena penekanan pada tube setiap orang berbeda-beda, sehingga didapatkan hasil
double impression material yang kurang presisi dalam perbandingannya. Namun
dari segi ekonomi lebih terjangkau karena hanya memerlukan spatula pengaduk
dan mixing pad yang dapat dipergunakan berkali-kali.
b.

Teknik Double Impression secara langsung dengan Metode Static Auto


Mixing (Bahan Putty dan light body dalam catridge).
Pada percobaan kedua ini dilakukan perpaduan antara material silicone putty
dan light body. Langkah pertama menyiapkan mixing gun dengan memasang
cartridge silicone light body yang telah diisi dengan light body. Setelah itu
silicone light body diaplikasikan secukupnya pada gigi master model yang akan
dicetak, hingga menutupi keseluruhan gigi target yang akan direstorasi.
Selanjutnya menyiapkan hasil cetakan negatif yang telah dibuat dari silicon putty,
dengan cara mencampur adonan base dan katalis sampai homogen. Kemudian
dicetakkan ke sendok cetak. Cetakan gigi target pada master model diberi
cekungan dengan menggunakan jari kira-kira berukuran sama dengan die,
kemudian di isi sebagian dengan light body pada mixing gun dan di cetak ke
master model. Ditunggu setting dan setelahnya cetakan dilepas. Manipulasi
dengan cara ini, lebih cepat, efisien meskipun diperlukan ketelitian ketika
menyemprotkan silikon light body dengan mixing gun baik pada model yang akan
direstorasi maupun pada cetakan, karena terkadang silikon light body tidak
menutupi seluruh bagian yang akan direstorasi.
Pada penggunaan teknik static automixing memiliki beberapa keunggulan
dibanding hand mixing. Dengan menggunakan alat mekanis tersebut terdapat
keseragaman dalam membagi dan mengaduk bahan. Semakin kecil kemungkinan
17

masuknya udara kedalam adukan serta waktu pengadukan mejadi lebih singkat
dan kemungkinan kontaminasi bahan menjadi lebih sedikit (Anusavice, 2012).
Hasil kedua percobaan didapatkan bahwa hasil cetakan akan lebih halus,
detail, dan akurat dengan menggunakan metode static auto mixing. Hal itu
disebabkan karena light body silicon akan tercampur lebih homogen dengan
catridge dan dengan menggunakan mixing tips silikon bisa langsung diarahkan
dengan tepat ke arah gigi geligi yang akan dicetak dengan menggunakan mixing
gun, dibandingkan dengan metode hand mixing yang besar kemungkinan tidak
tercampur dengan homogen karena dicampur dengan manual dan tidak bisa tepat
diarahkan ke gigi geligi yang akan dicetak.
Kelebihan metode static auto mixing adalah hasil yang didapatkan akan lebih
halus, detail dan akurat, namun kekurangan metode static auto mixing adalah alat
yang digunakan lebih mahal, bahan plastik dari mixing tips yang sekali pakai
tersebut tentu akan mencemari lingkungan dan sisa bahan silikon pada mixing tips
yang tidak terpakai juga akan terbuang. Pada silikon dengan manipulasi memakai
static auto mixing dengan hand mixing, terlihat bahwa dengan static auto mixing
silikon mempunyai working time lebih cepat daripada hand mixing, sehingga
dapat segera diletakkan pada sendok cetak dan dicetakkan ke mulut pasien. Selain
itu, proses pengerasan pada mulut, auto mixing juga memiliki waktu yang lebih
cepat daripada hand mixing. Dilihat dari kekuatan tekanannya, auto mixing
memiliki 1-2,9% sedangkan hand mixing hanya 0,92%. Dapat dilihat perbedaan
dengan jelas antara manipulasi keduanya. (Sakaguchi 2012, hal. 289).
Kelebihan metode hand mixing adalah alat yang digunakan lebih terjangkau,
lebih ramah lingkungan dan sisa silikon yang terbuang lebih minimal, namun hasil
cetakan yang dihasilkan tidak sehalus dan sedetail metode static auto mixing.
Berdasarkan viskositasnya, material cetak medium/regular body memiliki
viskositas yang medium dan material cetak light body memiliki viskositas yang
rendah Perbedaan ini dapat menimbulkan masalah yakni sulitnya mendapatkan
campuran yang homogen, terkecuali bila dilakukan teknik pengadukan yang baik.
Namun pada percobaan yang dilakukan, dapat dilihat bahwa hasil cetakan
dengan static automixing kurang baik dibandingkan dengan hand mixing karena
hasil cetakan static automixing terlihat tidak rapi dan terlihat terdapat ada patahan.
Hal ini mungkin disebabkan karena pada saat pengisian light body pada master
model dengan mixing gun terjadi kesalahan, dimana seharusnya pengisiannya
menyeluruh dari cervical dan menutupi bagian gigi yang akan dicetak (merata).
18

Oleh karena itu, dapat kita ketahui bahwa faktor yang akan
memengaruhi hasil pencetakan antara lain:
1. Ratio atau perbandingan antara base dan katalis tidak sama rata.
2. Proses pencampuran base dan katalis tidak homogen.
3. Pemberian light body tidak rata.
4. Posisi cetakan pertama atau kedua berbeda atau tidak sama.

6. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mampu melakukan manipulasi material
cetak elastomer jenis silicone addition

dengan teknik double impression

menggunakan metode hand mixing dan metode Static Auto Mixing.


7. DAFTAR PUSTAKA
Anusavice KJ. 2012. Phillips Science of Dental Material. 12th ed. W.B Saunders, st.
Louis Missouri
McCabe JF, and Walls AWG. 2008. Applied Dental Materials, 9th ed. Blackwell
Publishing L.td., Australia.
Obrien W J, 2008. Dental Matrials and Their Selection. 3rd edition. Quintessence
Publishing
Sakaguchi RL, John M. Powers. 2012, Craigs Restorative dental material, 13th ed.
Philadelphia, Elsevier.

19