Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Gerontik berasal

dari

kata

gerontology

dan

geriatric. Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas atau menangani


tentang proses penuaan dan masalah yang timbul pada orang yang berusia
lanjut. Sedangkan geriatric berkaitan dengan penyakit atau kecacatan yang
terjadi pada orang yang berlanjut usia. Keperawatan gerontik adalah suatu
bentuk pelayanan professional yang didasarkan ilmu dan kiat/tekhnik
keperawatan gerontik yang berbentuk bio-psiko-sosio-kultural dan
spiritual yang komprehensif, ditujukan pada klien lanjut usia baik sehat
maupun

sakit

pada

tingkat

individu,

keluarga,

kelompok

dan

komunitas/masyarakat. Menurut undang-undang no.13/th 1998 bab i pasal


1 ayat 2 seseorang yang mencapaiusia 60 tahun keatas disebut lanjut usia.
Fungsi alat pencernaan dan kelenjar-kelenjarnya pada manula juga
sudah menurun, sehingga makanan harus yang mudah dicerna dan tidak
memberatkan fungsi kelenjar pencernaan. Makanan yang tidak banyak
mengandung lemak, pada umumnya lebih mudah dicerna, tetapi harus
cukup mengandung protein dan karbohidrat. Kadar serat yang tidak
dicerna jangan terlalu banyak, tetapi harus cukup tersedia untuk
melancarkan peristaltik dengan demikian melancarkan pula defekasi, dan
menghindarkan dari obstipasi.

Patut diingat bahwa keperluan energi pada manula sudah menurun.


Ada baiknya bila mereka dijaga jangan sampai menjadi obesitas karena
manula yang obesitas akan lebih mudah menderita berbagai kelainan atau
penyakit gizi yang berhubungan dengan kondisi obesitas. Frekuensi
penyakit diabetes mellitus, cardiovascular diseases dapat meningkat pada
kelompok manula. Yang umum sangat ditakuti ialah kemungkinan
meningkat untuk mendapat penyakit kanker.

1.2

RumusanMasalah
Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Perubahan pada
Sistem Gastrointestinal?

1.3

Tujuan
1.3.1

TujuanUmum
Untuk mengetahui gangguan sistem penceranaan pada lansia.

1.3.2

Tujuankhusus
1. Mampu memahami penyakit-penyakit yang menyerang Sistem
Gastrointestinal pada lansia.
2. Mampu memahami perubahan yang terjadi pada Sistem
Gatrointestinal
3. Mampu memahami Diagnosa Keperawatan yang muncul pada
perubahan Sistem Gastrointestinal pada lansia.
4. Mampu memahami Intervensi Keperawatan pada perubahan
Sistem Gastrointestinal pada lansia
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Dasar Lanjut Usia (Lansia)


1. Definisi lanjut usia (lansia)
Menurut Reimer et al (1999); Stanley and Beare (2007 dalam
Azizah 2011), mendefinisikan lansia berdasarkan karakteristik sosial
masyarakat yang menganggap bahwa orang telah tua jika menunjukkan
ciri fisik seperti rambut beruban, kerutan kulit dan hilangnya gigi.
Glascock dan Feinman (1981); Stanley and Beare (2007 dalam
Azizah 2011), menganalisis kriteria lanjut usia dari 57 negara di dunia
dan menemukan bahwa kriteria lansia yang paling umum adalah
gabungan antara usia kronologis dengan perubahan dalam peran sosial,
dan diikuti oleh perubahan status fungsional seseorang.
Dari beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa Lansia adalah
gabungan antara usia kronologis dengan perubahan dalam peran sosial,
dan diikuti oleh perubahan status fungsional seseorang, serta ditandai
2.

ciri fisik seperti rambut beruban, kerutan kulit dan hilangnya gigi.
Batasan Lanjut Usia
WHO (1999) menggolongkan lanjut usia berdasarkan usia
kronologis atau biologis menjadi 4 kelompok yaitu usia pertengahan
(middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly)
berusia antara 60 dan 74 tahun, lanjut usia tua (old) usia 7590 tahun,
dan usia sangat tua (Very old) di atas 90 tahun.
Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 seseorang dapat
dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang

bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak


berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya seharihari
dan menerima nafkah dari orang lain. UU No. 13 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lansia bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia
60 tahun keatas.
3.

Tipe tipe Lanjut Usia


Tipe tipe lanjut usia menurut (Azizah,2011)
a. Tipe Arif Bijaksana
Kaya dengan hikmah pengalaman menyesuaikan diri dengan
perubahan jaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah
hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi
panutan.
b. Tipe Mandiri
Mengganti kegiatan-kegiatan yang hilang dengan kegiatankegiatan baru, selektif dalam mencari pekerjaan, teman bergaul
serta memenuhi undangan.
c. Tipe Tidak Puas
Konflik lahir batin menentang proses ketuaan, yang menyebabkan
kehilangan

kecantikan,

kehilangan

daya

tarik

jasmaniah,

kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayangi, pemarah,


tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut, sulit dilayani, dan
pengkritik.
d. Tipe Pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep habis
gelap datang terang, mengikuti kegiatan beribadah, ringan kaki,
pekerjaan apa saja dilakukan.
e. Tipe Bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder,
menyesal, pasif, mental, sosial dan ekonominya.
Tipe ini antara lain :

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
4.

Tipe optimis
Tipe konstruktif
Tipe ketergantungan (dependent).
Tipe defensif
Tipe militan dan serius
Tipe marah atau frustasi (the angry man)
Tipe putus asa (benci pada diri sendiri) atau Self heating man.

Teori Proses Menua


Teori penuaan secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu
teori penuaan secara biologi dan teori penuaan psikososial.
a. Teori Biologi
1) Teori jam genetik
Menurut Hayflick (1965 dalam kutipan S. Tamher
Noorkasiani 2009), secara genetik sudah terprogram bahwa
material didalam inti sel dikatakan bagaikan memiliki jam
genetis terkait dengan frekuensi mitosis. Teori ini didasarkan
pada kenyataan bahwa spesiesspesies tertentu memiliki
harapan hidup (life span) yang tertentu pula. Manusia yang
memiliki rentang kehidupan maksimal sekitar 110 tahun, selselnya diperkirakan hanya mampu membelah sekitar 50 kali,
sesudah itu akan mengalami deteriorasi.
2) Teori interaksi seluler
Bahwa sel-sel satu sama lain salin berinteraksi dan
mempengaruhi. Keadaan tubuh akan baik-baik saja selama selsel masih berfungsi dalam suatu harmoni, akan tetapi, bila tidak
lagi demikian, maka akan terjadi kegagalan mekanisme
degenerasi.
3) Teori Mutagenesis Somatik
Bahwa begitu terjadi pembelahan sel (mitosis), akan
terjadi mutasi spontan yang terus menerus berlangsung dan
akhirnya mengarah pada kematian sel.
4) Teori eror katastrop

Bahwa eror akan terjadi pada struktur DNA, RNA, dan


sintesis protein. Masing-masing eror akan saling menambah
pada eror yang lainnya dan berkulminasi dalam eror yang
5)

bersifat katastrop.
Teori pemakaian dan keausan
Teori biologis yang paling tua adalah teori pemakaian
dan keausan (tear and wear), dimana tahun demi tahun hal ini

berlangsung dan lama kelamaan akan timbul deteriorasi.


b. Teori Psikologis
1) Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Seseorang yang dimasa mudanya aktif dan terus
memelihara keaktifannya setelah menua. Sense of integrity
yang dibangun dimasa mudanya tetap terpelihara sampai tua.
Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses
adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan
sosial. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada cara
hidup dari usia lanjut. Mempertahankan hubungan antara
sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia
pertengahan ke lanjut usia.
2) Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada
lanjut usia.

Identity pada lansia yang

sudah mantap

memudahkan dalam memelihara hubungan dengan masyarakat,


melibatkan diri dengan masalah dimasyarakat, keluarga dan
hubungan interpersonal. Pada teori ini menyatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat
dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.
3) Teori Pembebasan (Disengagement Theory)

Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat


dan kemunduran individu dengan individu lainnya. Teori ini
menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang
secara pelan tetapi pasti mulai melepaskan diri dari kehidupan
sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan
ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik
secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi
kehilangan ganda (triple loss), yakni :
a) Kehilangan peran (loss of role).
b) Hambatan kontak sosial (restriction of contacts and
relationship).
c) Berkurangnya komitmen (reduced commitment to social
mores and values).
2.2

Proses penuaan normal pada saluran gastrointestinal


Proses penuaan memberikan pengaruh pada setiap bagian dalam saluran

Gastrointestinal. Banyak masalah masalah GI yang dihadapi oleh lansia, lebih erat
di hubungkan dengan gaya hidup mereka.
1. Rongga mulut
a. Penyakit periodontal
Penyakit periodontal (gingivitis dan peridontitis) adalah
inflamasi dari struktur-struktur yang menyokong gigi, dengan hasil
akhir berupa kerusakan tulang. Kerusakan ini menyebabkan kehilangan
secara progresif dan pada akhirnya terjadi kehilangan gigi. Gingivitis
dan periodontitis (piorea) disebabkan oleh bakteri yang terdapat
didalam plak.
Gingivitis adalah infeksi gusi superisial, biasanya disebabkan
oleh hygiene gigi yang buruk. Tanda pertama gingivitis adalah gusi

yang kemerahan dan gusi bengkak yang berdarah ketika menggosok


gigi. Jika infeksi terus berkembang, bau nafas tidak sedap (halitosis),
rasa tidak enak dalam mulut, atau adanya eksudat purulen disekitar
garis gusi. Kondisi lain yang dapat memperberat penyakit periodontal
meliputi infeksi mulut, maloklusi, malnutrisi, diabetes militus dan iritasi
local seperti posisi gigi palsu yang tidak tepat.
Selain itu, gigi geligi mulai banyak yang tanggal, banyak lansia
mengalami penanggalan gigi sebagai akibat dari hilangnnya tulang
penyongkong pada permukaan periosteal dan periodontal. Hilangnya
songkongan pada tulang ini juga turut berperan terhadap kesulitankesulitan yang berkaitan dengan penyediaan songkongan gigi yang
adekuat dan stabil pada usia lebih lanjut. Gigi yang tersisa pada usia 70
tahunan sering menimbulkan perasaan ngilu pada permukaan
pengunyahan.
Mukosa mulut tampak merah dan berkilat pada lansia karena
adanya atrofi. Bibir dan gusi tampak tipis karena epitelium telah
menyusut lebih mengandung keratin. Dan gusi tampak pucat akibat
turunnya suplai darah. Aliran air liur tetap normal pada lansia yang
sehat dan mendapatkan pengobatan yang akan dapat menyebabkan
2.

mulut menjadi kering.


Faring dan esofagus
a. Disfagia
Walaupun disfagia telah dianggap konsekuensi normal akibat
penuaan, penyebab structural, vascular atau neurogenik sekarang telah
dikenali sebagai patologi yang signifikan yang mendasari. Tanpa
memperthatikan penyebabnya, mukosa esofagus biasanya mengalami
iritasi akibat makanan yang statis. Banyak lansia yang mengalami

kelemahan otot polos sehingga proses ,menelan sering sukar.


Regurgitasi dan aspirasi pulmonal sering terjadi, juga keluhan-keluhan
makanan yang menyangkut dikerongkongan dan batuk selama menelan.
b. Hernia hiatal
Refluks gastroesofagus adalah aliran balik getah lambung masuk
kedalam esofagus. Selain itu, dilatasi esofagus bagian bawah dengan
relaksasi sfingter esofagus bawah (lower esophageal sfingter) mebuat
refluks esofagus lebih cenderung terjadi. Hernia hiatal adalah masuknya
lambung dan organ-organ dalam abdomen lainnya ke dalam rongga
3.

thoraks melalui suatu pembesaran hiatus esofagus dalam diafragma.


Lambung
Terjadi atrofi mukosa. Atrofi dari sel kelenjar, sel parietal dan sel chief
akan menyebabkan sekresi asam lambung, pepsin dan faktor instristik
berkurang. Ukuran lambung pada lansia lebih kecil, sehingga daya tahan
tamping makanan menjadi berkurang. Proses perubahan protein menjadi
peptor terganggu. Karena sekresi asam lambung berkurang dan rangsangan

4.

rasa lapar berkurang.


Pankreas
Produksi enzim amylase, tripsin dan lipase akan menurun sehingga
kapasitas metabolism karbohidrat, protein dan lemak juga akan menurun.
Pada lansia sering terjadi pancreatitis yang dihubungkan dengan batu

5.

empedu.
Hati
Hati berfungsi sangat penting dalam metabolisme karbohidrat, protein
dan lemak selain itu memiliki peranan besar dalam proses detoksikasi,
sirkulasi, penyimpanan vitamin, konjugasi bilirubin dan sebagainya. Karena
terjadi perubahan atrofi sebagian sel berubah bentuk menjadi jaringan

6.

fibrous akan menyebabkan penurunan fungsi hati.


Usus halus

Mukosa usus halus juga mengalami atrofi, sehingga luas permukaan


berkurang, sehingga jumlah vili berkurang dan selanjutnya menurunkan
proses absorbsi. Daerah duodenum, enzim yang dihasilkan oleh pankreas
dan empedu juga menurun sehingga metabolisme karbohidrat, protein dan
lemak menjadi tidak sebaik waktu muda. Keadaan seperti ini juga disebut
maldigesti dan malabsorbsi.
Gangguan malabsorbsi merupakan gangguan asimilasi nutrient dari
usus halus, gangguan ini paling sering terjadi pada usus halus yang
berkaitan dengan klien lansia. Malabsorbsi ini disebabkan oleh :
a. Penurunan sekresi asam lambung, penggunaan antacid dalam waktu
lama yang dapat mendorong pertumbuhan bakteri secara berlebihan.
b. Operasi usus sebelumnya
c. Obat- obatan seperti antikolinergik, dan narkotik yang menghambat
motilitas usus sehingga meningkatakan pertumbuhan bakteri.
d. Iskemia mesenterika, bila aliran darah ke usus terganggu , efesiensi
usus mengalami penurunan, sehungga dapat menyebabkan malabsorbsi.
e. Kontaminasi usus halus oleh bakteri abdomen (syndrome blind loopl ).
Bakteri bersaing dengan vitamin B12 dan juga menyerang garamgaram empedu yang menggaggu fungsi deterjen mereka dalam
mengabsorbsi lemak.
f. Masalah malabsorbsi dapat muncul pada lansia, namun bukan akibat
yang normal dari penuaan. Tanda dan gejala malabsorbsi sering terlihat
dalam hubungannya dengan gangguan inflamasi usus. Gejala yang
7.

paling jelas seperti diare, nyeri abdomen, dan perdarahan rektum.


Usus Besar dan Rektum
Pada usus besar pembuluh darah meningkat sehingga motilitas kolon
menjadi berkurang. Keadaan ini menyebabkan absorbsi air dan elektrolit

meningkat, feses menjadi lebih keras sehingga kesulitan buang air


merupakan keluhan yang sering di dapat pada lansia. Konstipasi juga
disebabkan peristaltic kolon yang melemah gagal mengosongkan rectum.
Proses defekasi yang seharusnya dibantu oleh kontraksi dinding abdomen
sudah melemah. Gangguan yang sering terjadi pada usus besar yang
mempengaruhi lansia adalah divertikulosis, Obstruksi usus, konstipasi, dan
diare.
a.

Divertikular
Penyakit divertikular sering terjadi pada lansia. Pada usia 80
tahun, setidaknya 40% orang-orang terkena penyakit ini. Kultur barat
dan diet menyebabkan insidensi divertikulosis yang tinggi.
Pasien dapat mengalami nyeri, nyeri tekan abdomen, demam dan
sering terdapat masa yang dapat diraba. Pendarahan gastrointesninal
bagian bawah terjadi sampai 15% dari pasien dari penyakit divertikular.
Pendarahan sering terjadi tampa nyeri abdomen yang signifikan.
Gangguan

motilitas

usus

dianggap

merupakan

predisposisi

pembentukan divertikula pada lansia. Obstruksi usus dan penyakit


divertikular adalah menyebabkan kematian yang terbanyak yang
berhubungan dengan gastrointestinal pada lansia.
1) Pencegahan primer
klien lansia harus dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah
semar didalam feses setiap tahunnya. Diit yang seimbang dengan
asupan serat yang adekuat sangat dianjurkan.
2) Pencegahan sekunder
upaya-upaya untuk mengatasi nyeri harus menghindari penggunaan
obat, yang dapat

meningkatkan tekanan intralumen sigmoid

manipulasi diet adalah kebutuhan terus menerus yang secara aktif


melibatkan klien dan pemberian perawatan
b. Obstruksi usus
Obstruksi usus adalah penghentian sebagian atau keseluruan dari
majunya aliran usus, biasanya terjadi sebgai akibat dari penutupan
lumen usus yang actual. Penyebabnya adalah dari pembedahan
sebelumnya, tumor, ilieus paralitik.
Gejala yang terjadi adalah pasien mengalami mual, muntah dan
distensi abdomen. Pertukaran cairan sering terjadi dan permeabilitas
kapler menurun yang menyebabkan kebocoran isi usus, yang masuk ke
dalam rongga peritoneal.
1) Pencegahan primer
Pencegahan penyakit ini pada lansia dapat dicapai dengan,
memberikan pendidikan kepada mereka tentang tanda-tanda,
peringatan tentang cancer colon, selain itu pemeriksaan darah sama
pada feses secara periodik dan kebiasaan diet yang baik.
2) Pencegahan sekunder
Pengkajian keperawatan termasuk pengkajian riwayat nyeri pasien
secara seksama meliputi pengakajian abdomen, tekanan darah
posisi terlentang dan data laboratorium. Penatalaksanaan akan
memfokuskan pada penggantian cairan dan elektrolit yang hia\lang
c.

melalui muntah atau drainase nasogastrik secara seksama.


Konstipasi
Konstipasi adalah suatu penurunan frekuensi pergerakan usus
yang disertai dengan perpanjangan waktu dan kesulitan pergerakan
feses.
1) Pencegahan primer
Pencegahan

konstipasi

pada

lansia

dimulai

dengan

memodifikasi kepercayaan tentang eliminasi, pemberian edukasi


tentang kandungan cairan dan serat dalam diit serta menetapkan

latihan rutin yang sesuai akan membantu dalam eliminasi yang


sehat. Anjurkan klien untuk minum air putih beberapa gelas setiap
harinya.
2) Pencegahan sekunder
Pencegahah sekunder adalah rnengkaji konstipasi pada
lansia meliputi menentukan jenis konstipasi melalui suatu riwayat
BAB, mengidentifikasi faktor-faktor yang menepatkan pasien pada
resiko tinggi untuk mengalami konstipasi, dan mengisolasi atau
memodifikasi elemen-elemen yang turut berperan terhadap
masalah konstipasi. Waktu yang plaing sering untuk lansia pada
saat BAB adalah 1 jam setelah sarapan pagi, jika riwayat defekasi
klien menunjukan adanya pola eleminasi pada malam hari, 1 jam
setelah makan malam mungkin lebih produktif.
3) Tata laksana
Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan dengan
gejala mengalami pengerasan feses yang sulit untuk dibuang yang
dapat menyebabkan kesakitan pada penderitanya. Konstipasi dapat
disebabkan oleh pola makan, hormon, akibat samping obat-obatan
(Aluminium hidroksida (dalam antasid yang dijual bebas), Garam
bismuth, Garam besi, Antikolinergik, Obat darah tinggi (antihipertensi), Golongan narkotik, Beberapa obat penenang dan obat
tidur), dan juga karena kelainan anatomis. Biasanya, konstipasi
disebabkan karena defekasi yang tidak teratur sehingga feses
mengeras dan sulit dikeluarkan.
Pengobatan dan peredaan konstipasi secara alami dapat dilakukan
dengan

pengubahan pola

berolahraga,

memijat

makan menjadi

perut,

lebih

minum air putih

sehat,

rajin

sebanyaknya,

meminum minuman prebiotik dan probiotik, atau membiasakan diri


untuk buang air besar setiap hari dengan membuat jadwal buang air
besar yang disebut bowel training.
Sedangkan dengan cara sedikit dipaksa yang biasanya
untuk penderita obstipasi, yaitu dengan mengonsumsi obat
pencahar disebut

laksatif (yang

kadang

kadang

menyebabkan perut terasa melilit berlebihan, tinja berbentuk cair,


atau bahkan ketergantungan obat pencahar), penghisapan tinja atau
feses dengan alat khusus, terapi serat, dan pembedahan (walaupun
pilihan ini cukup jarang dilakukan). Agar penderita konstipasi
dapat cepat sembuh, maka penderita dilarang:
a) Menahan buang air besar
b) Mengkonsumsi makanan siap saji dan bersifat panas
c) Makan dalam porsi yang banyak
d) Meminum minuman yang berkafein dan minuman ringan
d. Diare
Diare adalah defekasi yang meningkat dalam frekuensi lebih cair
dan sulit untuk dikendalikan, disebabkan oleh bakteri dan virus,
pemberian makan melalui selang, diit yang berlebihan terutama pisang
dapat menyebabkan akut pada lansia. Diare

dapat menyebabkan

masalah serius seperti infeksi kemih atau ulkus dikubitus.


1)
Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah dengan memberikan pendidikan pada
lansia tentang penyebab pada diare dan mempertahankan diit yang
seimbang
2)
Pencegahan sekunder
Fokus utama adalah untuk memertahankan nutrisi yang adekuat
dan keseimbangan elektrolit serta untuk mencegah kerusakan kulit,
disamping itu menemukan dan menghilangkan penyebab diare.
3) Tata laksana

Diare terjadi karena adanya rangsangan yang berlebihan pada


mukosa usus sehingga gerakan otot usus meningkat dan makanan
kurang terserap secara sempurna. Faktor kebersihan juga menjadi
sebab diare. Diare yang disebabkan bakteri atau salah makan.
Pengobatannya Untuk cara mengobati Diare adalah dengan
Perawatan yang terpenting untuk mengobati diare adalah
memastikan kecukupan asupan cairan dan garam (elektrolit). Untuk
gejala ringan sampai sedang, Anda bisa menggunakan obat-obatan
ringan yang dapat mengurangi diare bahkan dapat menjadi Cara
Mengobati Diare. Pada kasus yang parah dan pada anak-anak,
wanita hamil, dan orang tua (lansia) yang bisa berbahaya bila
kehilangan

banyak

cairan,

pemberian

infus

mungkin

diperlukan. Bila penyebabnya adalah keracunan makanan, dokter


mungkin perlu memberikan obat-obatan untuk membunuh patogen
yang berada di usus dan mencegah kerusakan mukosa lebih lanjut.
Obat antispasmodik dapat membantu mengurangi nyeri kolik
abdomen dan salah satu Cara Mengobati Diare.
Penggolongan Obat Diare:
a) Kemoterapeutika untuk terapi kausal yaitu memberantas bakteri
penyebab diare seperti antibiotika, sulfonamide, kinolon dan
furazolidon.
(1) Racecordil.Anti diare yang ideal harus bekerja cepat, tidak
menyebabkan konstipasi, mempunyai indeks terapeutik
yang tinggi, tidak mempunyai efek buruk terhadap sistem
saraf pusat, dan yang tak kalah penting, tidak menyebabkan

ketergantungan. Racecordil yang pertama kali dipasarkan di


Perancis pada 1993 memenuhi semua syarat ideal tersebut.
(2) Loperamide. Loperamide merupakan golongan opioid yang
bekerja dengan cara memperlambat motilitas saluran cerna
dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus.
Obat diare ini berikatan dengan reseptor opioid sehingga
diduga

efek

konstipasinya

diakibatkan

oleh

ikatan

loperamid dengan reseptor tersebut. Efek samping yang


sering dijumpai adalah kolik abdomen (luka di bagian
perut), sedangkan toleransi terhadap efek konstipasi jarang
sekali terjadi.
(3) Nifuroxazide. Nifuroxazide adalah senyawa nitrofuran
memiliki efek bakterisidal terhadap Escherichia coli,
Shigella dysenteriae, Streptococcus, Staphylococcus dan
Pseudomonas aeruginosa. Nifuroxazide bekerja lokal pada
saluran pencernaan. Obat diare ini diindikasikan untuk dire
akut, diare yang disebabkan oleh E. coli & Staphylococcus,
kolopatis spesifik dan non spesifik, baik digunakan untuk
anak-anak maupun dewasa.
(4) Dioctahedral smectite.Dioctahedral smectite (DS), suatu
aluminosilikat nonsistemik berstruktur filitik, secara in vitro
telah terbukti dapat melindungi barrier mukosa usus dan
menyerap

toksin,

bakteri,

serta

rotavirus.

Smectite

mengubah sifat fisik mukus lambung dan melawan


mukolisis yang diakibatkan oleh bakteri. Zat ini juga dapat
memulihkan integritas mukosa usus seperti yang terlihat

dari normalisasi rasio laktulose-manitol urin pada anak


dengan diare akut.
b) Obstipansia untuk terapi simtomatis (menghilangkan gejala)
yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara:
(1) Zat penekan peristaltik, sehingga memberikan lebih banyak
waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus
seperti

derivat

petidin

(difenoksilatdan

loperamida),

antokolinergik (atropine, ekstrak belladonna)


(2) Adstringensia yang menciutkan selaput lendir usus,
misalnya asam samak (tannin) dan tannalbumin, garamgaram bismuth dan alumunium.
(3) Adsorbensia, misalnya karbo

adsorben

yanga

pada

permukaannya dapat menyerap (adsorpsi) zat-zat beracun


(toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau yang adakalanya
berasal dari makanan (udang, ikan). Termasuk di sini adalah
juga musilago zat-zat lendir yang menutupi selaput lendir
usus dan luka-lukanya dengan suatu lapisan pelindung
seperti kaolin, pektin (suatu karbohidrat yang terdapat
antara lain sdalam buah apel) dan garam-garam bismuth
serta alumunium.
c) Spasmolitik, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang
otot yang seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare
antara lain papaverin dan oksifenonium.
2.3 Kebutuhan Nutrisi pada Lansia
Nutrisi yang adekuat merupakan suatu komponen esensial pada lansia.
Secara fisiologis, kebutuhan energi lebih dikaitkan dengan tingkat aktifitas fisik
dari pada usia kronologis. Kebutuhan asupan kalori sehari-hari yang disarankan
Recommended daily allowance (RDA) pada lansia yang berusia 65-75 th adalah

2300 kkal. Untuk lansia diatas 75 th diturunkan menjadi 2050 kkal. Konsumsi
dari kabohidrat kompleks yang diharuskan sebanyak 55%-65% dan kurang dari
30%, serta porsi sisanya adalah protein.
Faktor-faktor fisiologis lainnya yang dikaitkan dengan kebutuhan nutrisi yang
unik pada lansia adalah menurunnya sensitifitas olfaktorius , perubahan persepsi
rasa dan peningkatan koleksistokinin yang dapat mempengaruhi keinginan untuk
makan dan peningkatan rasa kenyang. Perubahan-perubahan dalam kebutuhan
mineral meliputi rendahnya kebutuhan akan zat besi pada wanita lansia daripada
wanita usia produktif. Asupan kalsium sebagai salah satu mineral esensial lainnya
bagi lansia sekitar 600 mg/hari untuk wanita. Hal ini hanya menggambarkan 3040% dari tingkat kebutuhan yang disarankan. Panduan diet terbaru menyarankan
sedikitnya 1000 mg kalsium perhari untuk seluruh lansia dan 1500 mg perhari
untuk wanita lansia yang tidak menggunakan estrogen. Karena perbedaan derajat
kesamaan yang dibutuhkan absorbsi yang sesuai, kalsium sitrat malat merupakan
bentuk yang lebih dipilih untuk diberikan bagi lansia yang mengalami
hipoklorhidria atau aklorhidria. Pada proses penuaan yang normal peningkatan
jaringan adiposa secara normal dapat menyertai penurunan masa tubuh dan cairan
tubuh total. Buku penuntun diet yang baru telah menekankan tentang pentingnya
mempertahankan berat badan yang stabil dan mengikuti program diet dan
olahraga yang tepat dalam seluruh rentang waktu kehidupan.
1. Pencegahan primer
Proses penuaan mempengaruhi kebutuhan nutrisi pada 30 juta lansia, 6 juta
dari mereka beresiko tinggi terhadap malnutrisi. Selain faktor-faktor
sosioekonomi, juga penderita penyakit kronis dan polifarmasi yang aktual
atau potensial bagi lansia. Instrumen pengkajian sebagaimana yang telah
dikembangkan oleh program nutrition screening initiative untuk menentukan

status nutrisi direkomendasikan dapat digunakan oleh seluruh pemberi


pelayanan kesehatan. Suatu upaya konsisten untuk mengidentifikasi lansia
dengan gangguan nutrisi demikian juga untuk resiko gangguan nutrisi yang
seharusnya menjadi prioritas jika tujuan nasional untuk promosi kesehatan
dan pencegahan penyakit ingin dicapai.
a. Faktor-faktor sosioekonomi
Faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi isolasi sosial dan pendapatan
yang rendah. Waktu makan adalah bila seseorang lansia hidup sendiri
motivasi untuk mempersiapkan dan mengkonsumsi makanan akan
berkurang. Dalm hal ini perawat mempunyai kesempatan untuk
memberikan bimbingan dengan cara memfasilitasinya seperti menyajikan
informasi mengenai makanan yang sehat.
b. Penyakit-penyakit kronis
Banyak penyakit kronis seperti gagal jantung kongestif dan gagal ginjal
kronis membutuhkan terapi diet yang sangat ketat. Diet ini sering
menyulitkan dalam mempertahankannya dan mungkin dapat berperan
terhadap masalah defisiensi nutrisi. Perhatian yang sungguh-sungguh harus
diberikan terhadap orang yang membutuhkan terapi diet untuk meyakinkan
asupan nutrisi yang adekuat.
c. Pengobatan
Pengobatan seperti diuretik akan mempengaruhi keseimbangan cairan dan
elektrolit. Lansia dapat lebih menerima penjelasan tentang interaksi obat
nutrient yang merugikan karena adanya penurunan metabolisme dan
penggunaan berbagai obat. Efek samping lainnya adalah peningkatan atau
penurunan

nafsu

makan,

sementara

obat-obat

lainnya

dapat

meningkatkannya. Anti histamin juga turut berperan terhadap penurunan


nafsu makan. Banyak lansia juga mengalami masalah kelebihan berat

badan sehingga meningkatkan resiko untuk mengalami penyakit kronis


seperti hipertensi, penyakit arteri koroner, diabetes dan stroke. Selain itu
menambah kelemahan pada persendian dan keterbatasan gerak. Metode
yang tepat termasuk menurunkan asupan kalori, olahraga sedang dan
peningkatan asupan kalori dari sumber-sumber buah dan sayur seharuhnya
2.

3.

dianjurkan.
Kalori pada lanjut usia:
Penentuan status gizi
a. Penentuan status gizi menurut BMI (Body Mass Index)
BMI = berat badan dalam kg : (tinggi badan dalam meter)2
Keterangan :
1) Kurus
: BMI < 18,5
2) Normal
: BMI 18,5 22,9
3) Lebih
: BMI 23
4) Dengan resiko : BMI 23 24,9
5) Obesitas I
: BMI 25 29,9
6) Obesitas II
: BMI 30
b. Penentuan status gizi berdasarkan rumus Broca
Berat badan idaman (BBI) = (tinggi badan dalam cm 100) 10%
Penentuan status gizi dihitung dari:
1) Berat badan kurus
: BB < 90% BBI
2) Berat badan normal : BB 90-110% BBI
3) Berat badan lebih
: BB 110-120% BBI
4) Gemuk
: BB > 120% BBI
Penghitungan kalori sesuai kebutuhan
Kebutuhan energi kalori dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, aktivitas
fisik atau pekerjaan, dan berat badan.
a. Kebutuhan basal:
1) Laki-laki
: BBI (kg) x 30 kalori
2) Perempuan
: BBI (kg) x 25 kalori
b. Koreksi atau penyesuaian:
Dari total kalori kebutuhan basal, jumlahkan sesuai kriteria dibawah ini:
1) Umur diatas 40 tahun : -5%
2) Aktifitas ringan
: +10%
3) Aktifitas sedang
: +20%
4) Aktifitas berat
: +30%
5) Berat badan gemuk : -20%
6) Berat badan lebih
: -10%
7) Berat badan kurang : +20%
Karbohidrat, 60% dari jumlah kalori yang dibutuhkan

4.

Lemak, tidak di anjurkan karena menyebabkan hambatan pencernaan dan

5.

terjadinya penyakit, 15%-20% dari total kalori yang dibutuhkan.


Protein, untuk mengganti sel-sel yang rusak, 20-25% dari total yang

dibutuhkan
6. Vitamin dan mineral sama dengan usia muda kebutuhannya
7. Air, 6-8 gelas perhari
2.4 Masalah gizi pada lanjut usia
1. Gizi berlebih
Gizi berlebih pada lanjut usia banyak terdapat di daerah barat dan kota
besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan
berlebih, apalagi pada lanjut usia karena penggunaan kalori berkurang akibat
berkurangnya aktivitas fisik. Kegemukan merupakan salah satu pencetus
berbagai penyakit contohnya jantung, diabetes, penyempitan pembuluh darah
2.

dan hipertensi.
Gizi kurang
Sering disebabkan karena masalah ekonomi social dan juga gangguan
penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu sedikit dari yang diperlukan
mengakibatkan berat badan berkurang dari normal. Faktor yang menyebabkan

3.

malnutrisi pada lansia:


a.
Penyakit akut dan kronis
b.
Keterbatasan sumber dan penghasilan
c.
Kehilangan gigi
d.
Faktor psikologis
e.
Kesalahan dalam pola makan
f.
Kurangnya pengetahuan tentang nutrisi yang tepat
g.
Kurangnya energi untuk persiapan makanan
Kekurangan vitamin
Bila lanjut usia kurang mengkonsumsi buah dan sayur dan juga kurang
protein dalam makanan menyebabkan nafsu makan berkurang, penglihatan
kabur, kulit kering, lesu, lemah lunglai dan tidak semangat.

2.3

Diagnosa Keperawatan pada Lansia dengan Perubahan Sistem


Gastrointestinal

1.

Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

2.

dengan kurang asupan makan.


Risiko berat badan berlebih berhubungan dengan faktor yang

3.

diturunkan.
Konstipasi berhubungan

dengan

penurunan

motilitas

traktus

gastrointestinal.
2.4

Perencanaan Keperawatan pada Lansia dengan Perubahan Sistem


Gastrointestinal
1.

Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan kurang asupan makan.
a. Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
b. Kriteria hasil :
1) Asupan nutrisi adekuat
2) Berat badan ideal berdasarkan BMI
c.

Intervensi :
1) Tentukan jumlah kalori yang dibutuhkan berdasarkan BMI
(Body Mass Index).
2) Kaji kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi
3) Diskusikan dengan klien dalam perencanaan nutrisi klien yang
sesuai dengan kebutuhan nutrisi klien dan kemampuan klien.
4) Ajarkan pada klien mengenai pentingnya pemenuhan
kebutuhan nutrisi yang adekuat.
5) Berikan motivasi pada klien untuk melakukan pemenuhan
kebutuhan nutrisi.
6) Berikan penguatan positif pada klien yang telah berhasil

2.

melakukan pemenuhan kebutuhan nutrisi.


Risiko berat badan berlebih berhubungan dengan faktor yang
diturunkan.
a. Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien adekuat.
b. Kriteria hasil :

c.

1) Asupan nutrisi adekuat.


2) Berat badan ideal.
Intervensi :
1) Tentukan jumlah kalori yang dibutuhkan berdasarkan BMI
(Body Mass Index).
2) Diskusikan dengan klien dalam perencanaan nutrisi klien yang
sesuai dengan kebutuhan nutrisi klien dan kemampuan klien.
3) Diskusikan dengan klien dalam perencanaan aktivitas harian
klien.
4) Diskusikan dengan klien dalam perencanaan program latihan
fisik yang sesuai dengan kemampuan.

3.

Konstipasi

berhubungan

dengan

penurunan

motilitas

traktus

gastrointestinal.
a.
b.

c.

Tujuan : klien tidak mengalami gangguan konstipasi.


Kriteria hasil :
1) Feses lunak
2) Frekuensi BAB normal (minimal 2x/minggu)
3) Bising usus normal (6-10 x/menit)
Intervensi :
1) Catat dan kaji warna, konsistensi, jumlah dan waktu BAB
2) Kaji dan catat bising usus.
3) Berikan cairan adekuat (6-8 gelas/hari) dan makanan tinggi
serat.
4) Kaji pola makan pasien.
5) Diskusikan dengan klien dalam perencanaan program latihan
olahraga
6) Demonstrasikan dalam penentuan makanan yang tinggi serat.

BAB III
PENUTUP

I.

KESIMPULAN
Pada lansia sistem gastrointestinal mengalami perubahan seperti
kehilangan gigi, indra pengecap yang mengalami penurunan fungsi, rasa
lapar yang menurun, peristaltic yang menurun dan lain-lain. Sehingga pada
lansia pola eliminasi urine dan fekal mengalami perubahan dimana perawat
harus mampu membantu lansia dalam menghadapi perubahan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, W (2000) Keperawatan Gerontik Jakarta: Buku Kedokteran EGC, hal


51 68.
NANDA (2015) Diagnosa Keperawatan: Definis dan Klasifikasi Jakarta: Buku
Kedokteran EGC, hal 69 87.