Anda di halaman 1dari 27

Bendungan (dam) adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air

menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Seringkali bendungan juga


digunakan untuk mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Air.
Bagian-bagian bendungan
Bendungan terdiri dari beberapa komponen, yaitu :
1. Badan bendungan (body of dams)
Adalah tubuh bendungan yang berfungsi sebagai penghalang air. Bendungan
umumnya memiliki tujuan untuk menahan air, sedangkan struktur lain seperti
pintu air atau tanggul digunakan untuk mengelola atau mencegah aliran air ke
dalam daerah tanah yang spesifik. Kekuatan air memberikan listrik yang
disimpan dalam pompa air dan ini dimanfaatkan untuk menyediakan listrik bagi
jutaan konsumen.
2. Pondasi (foundation)
Adalah bagian dari bendungan yang berfungsi untuk menjaga kokohnya
bendungan.
3. Pintu air (gates)
Digunakan untuk mengatur, membuka dan menutup aliran air di saluran baik
yang terbuka maupun tertutup. Bagian yang penting dari pintu air adalah :
a. Daun pintu (gate leaf)
Adalah bagian dari pintu air yang menahan tekanan air dan dapat digerakkan
untuk membuka , mengatur dan menutup aliran air.
b. Rangka pengatur arah gerakan (guide frame)
Adalah alur dari baja atau besi yang dipasang masuk ke dalam beton yang
digunakan untuk menjaga agar gerakan dari daun pintu sesuai dengan yang
direncanakan.
c. Angker (anchorage)

Adalah baja atau besi yang ditanam di dalam beton dan digunakan untuk
menahan rangka pengatur arah gerakan agar dapat memindahkan muatan dari
pintu air ke dalam konstruksi beton.
d. Hoist
Adalah alat untuk menggerakkan daun pintu air agar dapat dibuka dan ditutup
dengan mudah.
4. Bangunan pelimpah (spill way)
Adalah bangunan beserta intalasinya untuk mengalirkan air banjir yang masuk
ke dalam waduk agar tidak membahayakan keamanan bendungan. Bagianbagian penting daribangunan pelimpah :
a. Saluran pengarah dan pengatur aliran (controle structures)
Digunakan untuk mengarahkan dan mengatur aliran air agar kecepatan alirannya
kecil tetapi debit airnya besar.
b. Saluran pengangkut debit air (saluran peluncur, chute, discharge carrier, flood
way)
Makin tinggi bendungan, makin besar perbedaan antara permukaan air tertinggi
di dalam waduk dengan permukaan air sungai di sebelah hilir bendungan.
Apabila kemiringan saluran pengangkut debit air dibuat kecil, maka ukurannya
akan sangat panjang dan berakibat bangunan menjadi mahal. Oleh karena itu,
kemiringannya terpaksa dibuat besar, dengan sendirinya disesuaikan dengan
keadaan topografi setempat.
c. Bangunan peredam energy (energy dissipator)
Digunakan untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi energi air
agar tidak merusak tebing, jembatan, jalan, bangunan dan instalasi lain di
sebelah hilir bangunan pelimpah.
5. Kanal (canal)
Digunakan untuk menampung limpahan air ketika curah hujan tinggi.
6. Reservoir
Digunakan untuk menampung/menerima limpahan air dari bendungan.
7. Stilling basin

Memiliki fungsi yang sama dengan energy dissipater.


8. Katup (kelep, valves)
Fungsinya sama dengan pintu air biasa, hanya dapat menahan tekanan yang
lebih tinggi (pipa air, pipa pesat dan terowongan tekan). Merupakan alat untuk
membuka, mengatur dan menutup aliran air dengan cara memutar,
menggerakkan kea rah melintang atau memenjang di dalam saluran airnya.
9. Drainage gallery
Digunakan sebagai alat pembangkit listrik pada bendungan
Tipe Bendungan
Bendungan juga dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :
1. Berdasarkan ukuran
a. Bendungan besar (large dams)
Menurut ICOLD definisi dari bendungan adalah :
* Bendungan yang tingginya lebih dari 15m, diukur dari bagian terbawah pondasi
sampai ke puncak bendungan.
* Bendungan yang tingginya antara 10m dan 15m dapat pula disebut dengan
bendungan besar asal memenuhi salah satu atau lebih kriteria sebagai berikut :
* Panjang puncak bendungan tidak kurang dari 500m.
* Kapasitas waduk yang terbentuk tidak kurang dari 1 juta m.
* Debit banjir maksimal yang diperhitungkan tidak kurang dari 2000 m/detik.
* Bendungan menghadapi kesulitan-kesulitan khusus pada pondasinya (had
specially difficult foundation problems).
* Bendungan di desain tidak seperti biasanya (unusual design).
b. Bendungan kecil (small dams, weir, bendung)
Semua bendungan yang tidak memenuhi syarat sebagai bendungan besar di
sebut bendungan kecil.

2. Berdasarkan tujuan pembangunannya


a. Bendungan dengan tujuan tunggal (single purpose dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu tujuan saja.
b. Bendungan serbaguna (multipurpose dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi beberapa tujuan.
3. Berdasarkan penggunaannya
a. Bendungan untuk membuat waduk (storage dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk membentuk waduk guna menyimpan air
pada waktu kelebihan agar dapat dipakai pada waktu diperlukan.
b. Bendungan penangkap/pembelok air (diversion dams)
Adalah bendungan yang dibangun agar permukaan airnya lebih tinggi sehingga
dapat mengalir masuk kedalam saluran air atau terowongan air.
c. Bendungan untuk memperlamabat jalannya air (detension dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk memperlamabat aliran air sehingga
dapat mencegah terjadinya banjir besar. Masih dapat dibagi lagi menjadi 2,
yaitu :
* Untuk menyimpan air sementara dan dialirkan ke dalam saluran air bagian hilir.
* Untuk menyimpan air selama mungkin agar dapat meresap di daerah
sekitarnya.
4. Berdasarkan konstruksinya
a. Bendungan urugan (fill dams, embankment dams)
Menurut ICOLD definisinya adalah bendungan yang dibangun dari hasil
penggalian bahan (material) tanpa tambahan bahan lain yang bersifat campuran
secara kimia, jadi betul-betul bahan pembentuk bendungan asli. Bendungan ini
masih dapat dibagi menjadi :
* Bendungan urugan serbasama (homogeneous dams)

Adalah bendungan urugan yang lapisannya sama.


* Bendungan urugan berlapis-lapis (zone dams, rockfill dams)
Adalah bendungan urugan yang terdiri atas beberapa lapisan , yaitu lapisan
kedap air (water tight layer), lapisan batu (rock zones, shell), lapisan batu teratur
(rip-rap) dan lapisan pengering (filter zones).
* Bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air di muka (impermeable face
rockfill dams, dekced rockfill dams)
Adalah bendungan urugan batu berlapis-lapis yang lapisan kedap airnya
diletakkan di sebelah hulu bendungan. Lapisan kedap air yang biasa digunakan
adalah aspal dan beton bertulang.
b. Bendungan beton (concrete dams)
Adalah bendungan yang dibuat dari konstruksi beton baik dengan tulangan
maupun tidak. Ini masih dapat dibagi lagi menjadi :
* Bendungan beton berdasar berat sendiri (concrete gravity dams)
Adalah bendungan beton yang didesain untuk menahan beban dan gaya yang
bekerja padanya hanya dengan berat sendiri saja.
* Bendungan beton dengan penyangga (concerete butress dams)
Adalah bendungan beton yang mempunyai penyangga untuk menyalurkan gayagaya yang bekerja padanya. Banyak dipakai apabila sungainya sangat lebar
sedangkan keadaan geologiya baik.

* Bendungan beton berbentuk lengkung (beton berbentuk busur atau concerete


arch dams)
Adalah bendungan beton yang didesain untuk menyalurkan gaya-gaya yang
bekerja padaya lewat abutmen kiri dan abutmen kanan bendungan.
* Bendungan beton kombinasi (combination concerete dams, mixed type
concerete dams)
Adalah merupakan kombinasi anatara lebih dari satu tipe bendungan.
c. Bendungan lainnya
Biasanya hanya untuk bendungan kecil misalnya : bendungan kayu (timber
dams), bendungan besi (steel dams), bendungan pasangan bata (brick dams),
bendungan pasangan batu (masonry dams).
5. Berdasarkan fungsinya
a. Bendungan pengelak pendahuluan (primary cofferdam, dike)
Adalah bendungan yang pertama-tama dibangun di sungai pada waktu debit air
rendah agar lokasi rencana bendungan pengelak menjadi kering yang
memungkinkan pembangunannya secara teknis.
b. Bendungan pengelak (cofferdam)
Adalah bendungan yang dibangun sesudah selesainya bendungan pengelak
pendahuluan sehingga lokasi rencana bendungan utama menjadi kering yang
memungkinkan pembangunannya secara teknis.
c. Bendungan utama (main dam)
Adalah bendungan yang dibangun untuk memenuhi satu atau lebih tujuan
tertentu.
d. Bendungan sisi ( high level dam )
Adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan sisi kanan bendungan
utama yang tinggi puncaknya juga sama. Ini dipakai untuk membuat proyek
seoptimal-optimalnya, artinya dengan menambah tinggi pada bendungan utama

diperoleh hasil yang sebesar-besarnya biarpun harus menaikkan sebelah sisi kiri
dan atau sisi kanan.
e. Bendungan di tempat rendah (saddle dam)
Adalah bendungan yang terletak di tepi waduk yang jauh dari bendungan utama
yang dibangun untuk mencegah keluarnya air dari waduk sehingga air waduk
tidak mengalir ke daerah sekitarnya.
f. Tanggul ( dyke, levee)
Adalah bendungan yang terletak di sebelah sisi kiri dan atau kanan bendungan
utama dan di tempat yang jauh dari bendungan utama yang tinngi maksimalnya
hanya 5 m dengan panjang puncaknya maksimal 5 kali tingginya.
g. Bendungan limbah industri (industrial waste dam)
Adalah bendungan yang terdiri atas timbunan secara bertahap untuk menahan
limbah yang berasal dari industri.
h. Bendungan pertambangan (mine tailing dam, tailing dam)
Adalah bendungan yang terdiri atas timbunan secara bertahap untuk menahan
hasil galian pertambangan dan bahan pembuatnya pun berasal dari hasil galian
pertambangan juga.
6. Berdasarkan jalannya air
a. Bendungan untuk dilewati air (overflow dams)
Adalah bendungan yang dibangun untuk untuk dilewati air misalnya pada
bangunan pelimpah (spillway).
b. Bendungan untuk menahan air (non overflow dams)
Adalah bendungan yang sama sekali tidak boleh di lewati air.
Kedua tipe ini biasanya dibangun berbatasan dan dibuat dari beton, pasangan
batu atau pasangan bata.
7. Berdasarkan ICOLD
a. Bendungan urugan tanah (earthfill dams)
b. Bendungan urugan batu (rockfill dams)
Adalah bendungan urugan yang kekuatan konstruksinya didasarkan pada
urugan batu dan sebagai lapisan kedap air memakai tanah liat, tanah liat

bercapur pasir/kerikil, lapisan aspal, beton bertulang atau geotextile.


c. Bendungan beton berdasar berat sendiri
d. Bendungan beton dengan penyangga
e. Bendungan beton berbentuk lengkung
f. Bendungan beton berbentuk lebih dari satu lengkung (multiple arch dams)
Adalah bendungan beton yang bentuk lengkungnya lebih dari satu dan diperkuat
dengan kolom beton bertulang.
Fungsi Bendungan
Maka dapat disimpulkan, secara umum fungsi dari bendungan adalah
berdasarkan peranannya:
1. Sebagai Pembangkit: Listrik tenaga air adalah sumber utama listrik di dunia.
banyak negara memiliki sungai dengan aliran air yang memadai, yang dapat
dibendung.
2. Sebagai Listrik: untuk keperluan pembangkit listrik
3. Untuk Menstabilkan aliran air / irigasi: Bendungan sering digunakan untuk
mengontrol dan menstabilkan aliran air, untuk pertanian tujuan dan irigasi.
Mereka dapat membantu menstabilkan atau mengembalikan tingkat air danau
dan laut pedalaman. Mereka menyimpan air untuk minum dan kebutuhan
manusia secara langsung
4. Untuk Pencegahan banjir: Bendungan diciptakan untuk pengendalian banjir
5. Untuk Reklamasi: Bendungan (sering disebut tanggul-tanggul atau tanggul)
digunakan untuk mencegah masuknya air ke suatu daerah yang seharusnya
dapat tenggelam, sehingga para reklamasi untuk digunakan oleh manusia
6. Untuk Air pengalihan: Bendungan yang digunakan untuk tujuan hiburan

IDENTIFIKASI DAMPAK

Rencana Pengelolaan Lingkungan ( RKL )


Rencana pengelolan lingkungan dimaksudkan untuk mencegah, menangggulangi dan
mengendalikan dampak penting yang bersifat negatif serta upaya untuk meningkatkan dampak
yang bersifat positif yang timbul dalam ruang dan kurun waktu tertentu.
1. Tahap Pra Konstruksi
a.

Survei dan Investigasi

Dampak penting yang akan dikelola


Keresahan masyarakat akibat informasi yang tidak jelas dan khawatir kehilangan sebagian hak
milik tanah.

Komponen yang terkena dampak


Masyarakat setempat yang tanahnya terpakai untuk pembangunan saluran irigasi.

Tujuan pengelolaan lingkungan


Mengurangi keresahan masyarakat / pemilik tanah yang terkena pembangunan saluran irigasi.

Tolok ukur
Tingkat keresahan masyarakat

Upaya Pengelolaan lingkungan


Penyuluhan kepada masyarakat mengenai rencana pembangunan irigasi.

Lokasi pengelolaan
Pemukiman penduduk yang berada di sekitar pembangunan irigasi.

b. Pembebasan lahan

Dampak penting yang dikelola


Kekhawatiran masyarakat akan kehilangan sebagian hak milik atas tanahnya dan kehilangan
pepohonan produktif akibat penebangan.

Komponen lingkungan yang terkena dampak


Masyarakat setempat yang tanahnya terkena pembebasan tanah.

Tujuan pengelolan lingkungan


Mengurangi dan mencegah keresahan masyarakat pemilik tanah yang terkena saluran irigasi.

Tolok ukur
Tingkat keresahan masyarakat.

Upaya pengelolaan lingkungan


Penduduk yang tanahnya terkena pembangunan saluran irigasi dieberi ganti rugi yang layak,
demikian pila pepohonan yang ditebang diberi pula kompensasi.

Instansi pengelolaan lingkungan


Pengelolaan ini dilakukan oleh Dinas Pengairan Departemen Pekerjaan Umum Sub Dinas
Pengairan Sumatera Barat.

Lokasi pengelolaan lingkungan


Desa-desa yang terkena pembangunan saluran irigasi.

2. Tahap Konstruksi
a.

Mobilisasi alat berat dan material bangunan

Dampak penting yang dikelola


Kemungkinan terjadinya penurunan kualitas udara di sekitar daerah jalur lintasan transportasi
kendaraan, dan gangguan pada sumber daya lahan dan sumber daya biologi.

Komponen lingkungan yang terkena dampak


Udara dan komponen biologis di sekitar pembangunan saluran irigasi.

Tolok ukur
Kualitas udara dan komponen biologis.

Tujuan pengelolaan lingkungan


Pengelolaan lingkungan ini untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas udara serta kerusakan
komponen biologis.

Upaya pengelolaan lingkungan


Mobilisasi alat berat dan material bangunan dilakukan pada waktu tertentu untuk menguragi
penurunan kualitas udara pada sepanjang jalan yang dilewati.

Lokasi pengelolaan lingkungan


Sepanjang jalan yang dilewat i kendaraan yang mengangkut material dan alat berat.

b. Mobilisasi tenaga kerja

Dampak penting yang dikelola


Adanya kesempatan kerja bagi penduduk lokal terutama untuk pengangkutan material.

Komponen lingkungan yang terkena dampak


Penduduk lokal sekitar pembangunan saluran irigasi.

Tolok ukur
Tingkat penyerapan tenaga kerja penduduk sekitar lokais (lokal).

Tujuan pengelolaan lingkungan


Mengusahakan agar penduduk lokal dapat berpartisipasi dalam kegiatan konstruksi
pembangunan saluran irigasi.

Upaya pengelolaan lingkungan


Memberikan prioritas kepada penduduk lokal untuk ikut dalam pekerjaan konstruksi tersebut.

c.

Pembersihan dan pembukaan lahan

Dampak penting yang dikelola


Gangguan pada sumber daya lahan dan sumberdaya biologi serta gangguan pada lingkungan
social ekonomi dan social budaya penduduk setempat.

Komponen lingkungan yang terkena dampak


Penduduk dan flora yang ada di daerah pembersihan dan pembukaan lahan.

Tolok ukur
Produktifitas flora dan pendapatan penduduk.

Tujuan pengelolaan lingkungan


Mencegah terjadinya erosi pada lahan yang akan dibuka dan mencegah terjadinya pengurangan
pendapatan penduduk.

Upaya pengelolaan lingkungan


Memberikan ganti rugi kepada penduduk yang pepohonannya ditebang akibat pembersihan dan
pembukaan lahan. Menganjurkan penduduk untuk menanam tanaman produkitf pengganti.

Lokasi pengelolaan lingkungan


Di daerah sekitar salura irigasi
d. Pekerjaan galian di badan sungai dan saluran

Dampak penting yang dikelola


Menurunnya kestabilan lahan terutama pada daerah bekas galian. Keadaan ini akanmenyebabkan
terjadinya erosi dan longsor pada badan sungai.

Komponen lingkungan yang terkena dampak


Sumberdaya air, flora dan hewan air sekitar bendungan.

Tolok ukur
Kualitas air, flora dan hewan air sekitar.

Tujuan pengelolaan lingkungan


Mencegah penurunan kualitas air dan rusaknya berbagai flora serta hewan air yang biasa hidup
di sungai.

Upaya pengelolaan lingkungan


Melakukan pemantauan biologis di sekitar badan sungai dan saluran.

Lokasi pengelolaan lingkungan

Di sekitar badan saluran sungai dan saluran

3. Tahap Pasca Konstruksi / Operasional


a.

Operasional dan pemeliharaan irigasi

Dampak penting yang dikelola


Meningkatnya pemakaian zat-zat kimia seperti insektisida dalam mengendalikan hama dan
penyakit tanaman.

Komponen lingkungan terkena dampak


Tanah dan sumberdaya air.

Tolok ukur
Kualitas air dan tanah.

Tujuan pengelolaan lingkungan


Untuk tetap mempertahankan umur ekonomis proyek selama 40 tahun dan optimasi irigasi
semaksimal dan seefisien mungkin.

Upaya pengelolaan lingkungan


Melakukan penyuluhan kepada masyarakat yang menggunakan air untuk pertanian tentang
penggunaan insektisida yang baik dan aman.

Rencana Pemantauan Lingkungan ( RPL )

1. Tahap Pra Konstruksi

Sumber dampak
Kegiatan tahap ini meliputi kegiatan survei investigasi dan pembebasan lahan.

Faktor lingkungan yang dipantau


-

Keresahan sosial akibat kegiatan survei dan investigasi

Pengurangan lahan pertanian dan pendapatan penduduk

Pengalihan hak milik tanah penduduk

Tolok ukur
-

Tingkat keresahan masyarakat

Tingkat pendapatan

Produktifitas lahan

Metoda pemantauan
Metoda pemantauan yang akan dilakukan adalah dengan cara survei dan wawancara kepada
penduduk yang terkena proyek.

Perioda pemantauan
-

Pemantauan sosial akibat kegiatan survei dan investigasi serta gangguan fasilitas
umum dan tanaman penduduk akan dilakukan selama kegiatan berlangsung tahap ini.

Pengurangan lahan pertanian dan pendapatan penduduk dan pengurangan tanaman


produktif dan pendapatan akan dilakukan setiap enam bulan sekali.

Pelaksana dan biaya pemantauan


Kegiatan pemantauan proyek irigasi dan penyandang dana pada tahap ini adalah Dinas Pertanian
Daerah Tk II dan Dept PU Bidang Pengairan Sumbar.

Pengawasan pemantauan
Untuk kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Daerah Tk II dan akan
mendapatkan pengawasan dari Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum.

2. Tahap Konstruksi

Sumber dampak
Kegiatan tahap ini meliputi kegiatan persiapan, mobilisasi alat berat dan material
bangunan, mobilisasi tenaga kerja, pembersihan dan pembukaan lahan, rehabilitasi jalan,
pemanfaatan bahan galian. Pada kegiatan pelaksanaan, pengeringan lokasi kegiatan,
pekerjaan galian di badan sunga dan saluran, pengerukan dan penggalian saluran
pembawa dan pembuangan tanah galian di sekitar lokasi kegiatan.

Faktor lingkungan yang dipantau


-

Penyerapan tenaga kerja lokal

Erosi dan tanah longsor

Kualitas udara dan air

Tolok ukur
-

Penyerapan tenaga kerja lokal

Potensi erosi dan tanah longsor

Penurunan kualitas udara dan air

Metoda pemantauan
Metoda yang dipakai adalah survei dan wawancara kepada masyarakat, kontraktor dan pekerja
konstruksi.

Perioda pemantauan

Pemantauan akan dilakukan setiap enam bulan sekali.

Pelaksana dan biaya pemantauan


Kegiatan pemantauan proyek irigasi dan penyandang dana pada tahap ini adalah Dinas Pertanian
Daerah Tk II dan Dept PU Bidang Pengairan Sumbar.

Pengawasan pemantauan
Untuk kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Daerah Tk II dan akan
mendapatkan pengawasan dari Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum.

3.

Tahap Pasca Konstruksi ( Operasional )

Sumber dampak
Kegiatan pengoperasian irigasi ini akan menyebabkan dampak lingkungan berupa meningkatnya
pemakaian zat-zat kimia seperti insektisida dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman,
terbuka lahan usaha bekerja bagi penduduk dalam menggarap lahan yang tersedia dan
kemungkinan terjadinya benturan / konflik dalam pemakaian air oleh sesama petani.

Komponen lingkungan yang dipantau


-

Penyerapan tenaga kerja untuk kegiatan pemeliharaan

Pemantauan kualitas air sungai dan tanah

Tolok ukur
-

Tingkat penyerapan tenaga kerja

Kualitas air dan tanah

Lokasi pemantauan

Pemantauan dilakukan di sekitar aliran irigasi dan tanah-tanah pertanian.

Perioda pemantauan
Pemantauan akan dilakukan setiap enam bulan sekali.

Pelaksana dan biaya pemantauan


Kegiatan pemantauan proyek irigasi dan penyandang dana pada tahap ini adalah Dinas Pertanian
Daerah Tk II dan Dept PU Bidang Pengairan Sumbar.

Pengawasan pemantauan
Untuk kegiatan pemantauan dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Daerah Tk II dan akan
mendapatkan pengawasan dari Direktorat Jenderal Pengairan Departemen Pekerjaan Umum.

B. URAIAN KEGIATAN
Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Tahap pra-kontruksi
Pada tahap ini dilakukan penyelidikan lapangan guna untuk menentukan kelayakan teknis
dan kelayakan ekonomis yang telah menghasilkan kerangka acuan, teknis pelaksanaan proyek
dengan anggaran pembiayaannya, penentuan lokasi, pengukuran secara detail dan penentuan
desain. Kemudian pembebasan lahan yang terkena rencana kegiatan.

2. Tahap konstruksi

a.

Persiapan
Pada tahap ini, kegiatan proyek melakukan kegiatan :
-

Mobilisasi alat-alat berat dan material bangunan

Mobilisasi tenaga kerja

Pembersihan dan pembukaan lahan

Pembuatan, pengoperasian direksi

Rehabilitasi jalan

Pemanfaatan bahan galian

b. Pelaksanaan
Kegiatan pelaksanaan konstruksi merupakan kegiatan dilokasi bendung dan saluran.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan meliputi kegiatan :
-

Dilokasi bendung
Pekerjaan dilokasi bendung meliputi pekerjaan :

Pengeringan lokasi kegiatan

Pekerjaan galian dibadan sungai dan saluran


Pembuatan bendung dan bangunan pelengkap
Mobilitas material bangunan

Disaluran pembawa dan pembuang

Pengerukan dan penggalian saluran pembawa


Penggerukan/penggalian saluran pembuang, meliputi penggerukan tanah untuk
keperluan saluran pembuang
Pembuangan tanah galian disekitar lokasi kegiatan

c.

Tahap pasca kontruksi


Kegiatan pada tahap ini adalah operasional dan pemeliharaan terhadap pembangunan
irigasi dengan saluran induk indrapura kanan dan kiri dengan panjang 15 km, panjang saluran
sekunder 45 km, panjang saluran tersier 14,173 km dan dengan saluran-saluran draenase pada
daerah irigasi indrapura yang mengalir kesungai dengan panjang 54,073 km, yang meliputi pada
11 desa dalam kecamatan pancung soal.
Untuk pengoperasian dan pemeliharaan dilaksanakan oleh instansi dan personil yang
telah ditunjuk yang dalam hal ini Dinas PU Sub Dinas Pengairan, kantor pengamat pengairan
wilayah V cab. Dinas pengairan pesisir selatan dn petani pemakai air (P3A). sarana penunjang
untuk realisasi tahap kegiatan ini, telah diatur dan ditetapkan dalam rencana anggaran biaya
tahun anggaran 1992/1993.
Sebagai tujuan dari pada pemeliharaan adalah untuk tetap mempertahankan umur
ekonomis proyek selama 40 tahun dan optimasi irigasi semaksimal dan seefisien mungkin.

C. IDENTIFIKASI DAMPAK YANG TELAH DAN AKAN TERJADI

Untuk menentukan dampak yang telah dan akan ditimbulkan dari kegiatan pembangunan
jaringan irigasi ini, maka dilakukan identifikasi dampak dengan menggunakan pendekatan studi.
Jaringan irigasi batang indrapura telah dibangun sejak tahun 1988. Proses pembangunan
jaringan ini melalui beberapa tahap penyelesaian sesuai dengan alokasi dana yang tersedia
(multy years). Saat studi dilaksanakan, jaringan ini telah mempunyai bendung sepanjang 51 m
dan saluran induk serta saluran pembagi, dan baru dapat mengairi lahan seluas 1.840 ha.
Sementara itu lahan yang dapat diairi adalah 3.330 ha. Untuk mencapai target mengairi lahan
sesuai dengan kapasitas bendung yang telah dibangun, maka akan dilakukan usaha-usaha:
-

Pembangunan jaringan tersier seluas 1.604 ha

Pembuatan saluran drainase

Penambahan bangunan pelengkap pada jaringan utama

Penambahan fasilitas penunjang

Disamping itu juga akan dibangun tanggul banjir sepanjang 10,40 km.
Berdasarkan hasil identifikasi terhadap dampak yang ditimbulkan dari
rencana kegiatan, diketahui akibat pembangunan jaringan irigasi batang
indrapura, telah dan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

1. Dampak tahap pra-kontruksi.


Komponen kegiatan pada tahap prakontruksi yang telah menimbulkan dampak terhadap
lingkungan adalah kegiatan penyelidikan lapangan, dan kegiatan-kegiatan pembebasan lahan.
Kegiatan penyelidikan telah dilakukan pada daerah peruntukan jaringan irigasi seluas 3.330 ha.
Sedangkan kegiatan pembebasan lahan dilakukan pada daerah-daerah yang terkena untuk
pembangunan bangunan dan prasarana irigasi.

Dengan adanya kegiatan penyelidikan lapangan dan kegiatan pembebasan lahan yang
telah dilakukan oleh proyek, telah menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Dampak dari
kegiatan pada tahap ini, terjadi sebagai akibat adanya usaha pembebasan lahan guna untuk
kepentingan jaringan. Dengan dibebaskan lahan milik penduduk telah menyebabkan lahan yang
diolah selama ini berubah status pemanfaatan dan pemilikannya untuk keperluan lain, kegiatan
ini merupakan dampak langsung yang terjadi pada pemilik lahan.
Proses pembebasan lahan yang dilakukan oleh pihak proyek adalah dengan jalan ganti
rugi sesuai dengan nilai dan harga yang berlaku pada waktu itu dan disepakati oleh kedua belah
pihak. Sementara itu, dampak negative kegiatan penyelidikan lapangan telah dapat diantisipasi
lebih awal, yakni dengan menginformasikan rencana kegiatan dan prospeknya untuk kegiatan
pertanian di daerah ini untuk masa yang akan datang.

2. Dampak pada tahap kontruksi

a.

Persiapan kontruksi

Kegiatan-kegiatan pada tahap persiapan kontruksi, telah dan diperkirakan akan


menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Kegiatan utama yang akan menimbulkan dampak
adalah pada saat pekerjaan mobilisasi material dan alat-alat berat, mobilisasi tenaga dan kegiatan
pembersihan lahan.
Lingkungan yang terkena dampak dari kegiatan-kegiatan pada tahap ini adalah terjadinya
penurunan kualitas udara disekitar daerah jalur lintasan transportasi kendaraan, gangguan pada
sumber daya lahan dan sumberdaya biologi serta gangguan pada lingkungan social ekonomi dan
social budaya penduduk setempat. Dampak negative yang ditimbulkan bersifat langsung dan
telah terjadi pada saat pekerjaan bendung dan saluran. Dampak yang terjadi ini hanya
berlangsung selama kegiatan persiapan konstruksi dan merupakan dampak sesaat.
Untuk pekerjaan berikutnya, sesuai dengan rencana pengembangan jaringan dan
pembangunan tanggul banjir pada daerah batang penamban dan batang muara sakai, kegiatan ini
masih akan berlangsung dan dampak yang ditimbulkan seperti pekerjaan terdahulu masih akan

terjadi. Namun lokasi terjadinya dampak berada pada daerah lain sesuai dengan tata letak dan
distribusi saluran yang akan dibangun.
b. Pelaksanaan kontruksi
Kegiatan-kegiatan pada tahap ini yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap
lingkungan adalah kegiatan pengerukan/ penggalian disaluran pembawa dan disaluran
pembuang, dan kegiatan pembuangan tanah bekas galian serta pekerjaan konstruksi saluran.
Akibat dari kegiatan ini telah menyebabkan terjadinya penurunan kualitas udara pada
lingkungan pemukiman yang dilalui jalur transportasi, menurunnya kestabilan lahan,
menurunnya kualitas lingkungan perairan, lingkungan social ekonomi dan budaya serta
terganggunya prasarana jalan umum.
Kualitas udara didaerah sekitar tapak kegiatan, akan menurun dengan telah dilakukannya
kegiatan-kegiatan pada tahap ini. Lingkungan yang telah terkena dampak adalah pada daerah
sepanjang jalur transportasi dan lingkungan pemukiman disekittar jalur transportasi tersebut.
Dampak negative yang telah ditimbulkan ini hanya terjadi selama kegiatan konstruksi masih
berlangsung. Untuk pekerjaan berikutnya, dampak pada tahap ini masih akan berlangsung,
sesuai dengan volume material bahan bangunan yang harus ditransportasikan pada tapak
kegiatan, sedangkan lokasi terjadi dampak sudah beralih kelokasi lain, sesuai dengan tata letak
dan distribusi jaringan yang akan dibangun.
Dampak pada sumberdaya lahan juga telah dan akan terjadi dengan adanya kegiatan pada
tahap ini. Kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak adalah kegiatan mobilisasi material
dan pekerjaan galian dan timbunan didaerah bangunan bendung dan saluran yang direncanakan.
Dengan adanya usaha penggalian tanah telah menyebabkan menurunnya kestabilan lahan
terutama pada daerah bekas galian. Keadaan ini menyebabkan terjadinya erosi dan longsor pada
badan sungai. Dampak negative yang ditimbulkan ini hanya terjadi selama kegiatan konstruksi.
Untuk pekerjaan berikutnya, dampak yang sama masih akan terjadi, namun lokasi terjadinya
dampak berada pada tempat lain sesuai dengan letak saluran.
Sumber daya perairan juga akan terkena dampak negative dengan adanya kegiatan pada
tahap konstruksi ini. Dampak yang telah ada dan akan terjadi disebabkan oleh kegiatan
penggalian badan sungai dan saluran serta pada saat pembuatan tanggul banjir. Dampak ini
hanya akan terjadi selama kegiatan konstruksi.

Sementara itu di lingkungan social ekonomi dan budaya penduduk disekitar tapak
kegiatan akan menerima dampak positif dan negative dengan adanya kegiatan-kegiatan pada
tahap ini dampak kegiatan pada tahap ini.
Dampak positif terjadi, dengan adanya peluang berusaha dan bekerja bagi penduduk
terutama untuk pekerjaan bangunan bendung dan jaringan irigasi. Sedangkan dampak negative
terjadi sebagai akibat menurunnya kualitas udara dan meningkatnya kebisingan serta gangguan
pada kelancaran mobilitas harian penduduk. Dampak negative yang terjadi ini, masih merupakan
dampak sesaat dan terjadi selama kegiatan konstruksi berlangsung.

3. Dampak pada tahap operasi dan pemeliharaan


Dengan telah dibangunnya jaringan irigasi batang indrapura, telah dan akan
menimbulkan dampak positif maupun dampak negative bagi penduduk disekitar tapak kegiatan.
Dampak positif yang ditimbulkan adalah, lebih terbukanya lapangan berusaha dan bekerja bagi
penduduk dalam menggarap lahan yang tersedia, meningkatnya perekonomian penduduk.
Sementara itu dengan, semakin luasnya lahan yang didapat diolah menyebabkan tuntutan
tenaga kerja untuk mengolah lahanpun akan semakin meningkat. Manakala ini tidak terpenuhi
akan menyebabkan lahan yang telah terairi tidak terolah dan akan menyebabkan munculnya
berbagai jenis tanaman pengganggu atau gulma air. Dampak negative lainnya adalah
meningkatnya pemanfaatan zat-zat kimia seperti insektisida dan jenis bahan kimia lainnya dalam
mengendalikan berbagai jenis hama dan penyakit tanaman. Usaha ini akan menimbulkan dampak
negative terhadap lingkungan perairan. Dampak pada tahap operasi dan pemeliharaan ini akan
terjadi selama jaringan irigasi ini masih dapat dimanfaatkan, sedangkan dampak lainnya adalah
kemungkinan terjadinya benturan/ konflik dalam pemakaian air oleh sesama petani.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kegiatan yang dilakukan pada pembangunan irigasi dan bendungan adalah sebagai
berikut :
Tahap pra-kontruksi
Pada tahap ini dilakukan penyelidikan lapangan guna untuk menentukan kelayakan teknis
dan kelayakan ekonomis yang telah menghasilkan kerangka acuan, teknis pelaksanaan proyek
dengan anggaran pembiayaannya, penentuan lokasi, pengukuran secara detail dan penentuan
desain. Kemudian pembebasan lahan yang terkena rencana kegiatan.

3. Tahap konstruksi

a.

Persiapan
Pada tahap ini, kegiatan proyek melakukan kegiatan :
-

Mobilisasi alat-alat berat dan material bangunan

Mobilisasi tenaga kerja

Pembersihan dan pembukaan lahan

Pembuatan, pengoperasian direksi

Rehabilitasi jalan

Pemanfaatan bahan galian

b. Pelaksanaan
Kegiatan pelaksanaan konstruksi merupakan kegiatan dilokasi bendung dan saluran.
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan meliputi kegiatan :
-

Dilokasi bendung
Pekerjaan dilokasi bendung meliputi pekerjaan :

Pengeringan lokasi kegiatan


Pekerjaan galian dibadan sungai dan saluran
Pembuatan bendung dan bangunan pelengkap
Mobilitas material bangunan

Disaluran pembawa dan pembuang

Pengerukan dan penggalian saluran pembawa


Penggerukan/penggalian saluran pembuang, meliputi penggerukan tanah untuk
keperluan saluran pembuang
Pembuangan tanah galian disekitar lokasi kegiatan

c.

Tahap pasca kontruksi

Kegiatan pada tahap ini adalah operasional dan pemeliharaan terhadap pembangunan
irigasi dengan saluran induk indrapura kanan dan kiri dengan panjang 15 km, panjang saluran
sekunder 45 km, panjang saluran tersier 14,173 km dan dengan saluran-saluran draenase pada
daerah irigasi indrapura yang mengalir kesungai dengan panjang 54,073 km, yang meliputi pada
11 desa dalam kecamatan pancung soal.
Untuk pengoperasian dan pemeliharaan dilaksanakan oleh instansi dan personil yang
telah ditunjuk yang dalam hal ini Dinas PU Sub Dinas Pengairan, kantor pengamat pengairan
wilayah V cab. Dinas pengairan pesisir selatan dn petani pemakai air (P3A). sarana penunjang
untuk realisasi tahap kegiatan ini, telah diatur dan ditetapkan dalam rencana anggaran biaya
tahun anggaran 1992/1993.
Sebagai tujuan dari pada pemeliharaan adalah untuk tetap mempertahankan umur
ekonomis proyek selama 40 tahun dan optimasi irigasi semaksimal dan seefisien mungkin.
B. SARAN
-

Lakukan identifikasi dampak yang telah terjadi maupun yang akan terjadi

Usahakan melakukan pemantauan daerah terlebih dahulu sebelum


melakukan pembangunan, apakah layak atau tidak didirikan

Usahakan dalam pembangunan tidak akan merugikan masyarakat